Refine Search

New Search

Results in Journal Journal of Livestock and Animal Health: 32

(searched for: journal_id:(4165762))
Page of 1
Articles per Page
by
Show export options
  Select all
Rikardo Silaban, Angelia Utari Harahap
Journal of Livestock and Animal Health, Volume 4, pp 15-20; doi:10.32530/jlah.v4i1.317

Abstract:
Produksi limbah pelepah tanaman salak Sidimpuan (Salacca sumatrana Becc) dipandang potensial dalam penyediaan pakan alternatif untuk ternak ruminansia. Selain itu, cemaran limbah tersebut dapat menurunkan metabolisme hara tanah untuk pertumbuhan tanaman induk. Penelitian bertujuan untuk mengevaluasi produksi biomassa nutrisi limbah pelepah tanaman salak setelah difermentasi dengan menggunakan kapang pelapuk putih (Phanerochaete chrysosporium). Produksi bahan baku segar limbah diperoleh setelah menggiling pelepah salak utuh dan dilanjutkan dengan proses fermentasi dengan memanfaatkan inokulan lignin degradator dan dilanjutkan dengan analisa proksimat di Laboratorium Nutrisi Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Jambi. Kapang spesies Phanerochate chrysosporium masing-masing 0%, 10%, 15% dan 20% diinokulasikan kedalam substrtat konsentrat kasar limbah pelepah tanaman salak. Penelitian menggunakan RAL dengan 4 perlakuan dan 10 ulangan. Parameter penelitian meliputi nutrisi kadar air, bahan kering, bahan organik, protein kasar, dan fraksi serat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan inokulan sampai 20% berpengaruh nyata (P
Rajab Rajab, Bercomien J. Papilaya, Tria F. K. Dewi
Journal of Livestock and Animal Health, Volume 4, pp 21-26; doi:10.32530/jlah.v4i1.357

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui status populasi kerbau lokal didasarkan pada struktur populasi dan laju silang dalam per generasi. Survey dilakukan pada dua desa yang masih memelihara kerbau di Kecamatan Waeapo, dan pengambilan data dengan metode sensus terhadap semua peternak kerbau. Variabel yang diamati meliputi struktur populasi, populasi aktual, populasi efektif dan laju silang dalam per generasi. Hasil penelitian menunjukkan populasi kerbau yang terdapat di Kecamatan Waeapo sebanyak 374 ekor dengan komposisi berikut anak jantan 8,56% ; anak betina 7,49% (1,14 : 1), muda jantan 11,5% ; muda betina 10,96% (1,05 : 1), dan dewasa jantan 18,72% ; dewasa betina 42,78% (1 : 2,29). Ukuran populasi aktual kerbau lokal adalah 230 ekor, dengan ukuran populasi efektif sebesar 194 ekor. Laju silang dalam (inbreeding) per generasi adalah 0,26%. Mengindikasikan bahwa belum terjadinya tekanan silang.
Arief Arief, Elly Roza, Bonica Oktaviona
Journal of Livestock and Animal Health, Volume 4, pp 7-14; doi:10.32530/jlah.v4i1.316

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi aspek teknis pemeliharaan kambing Peranakan Etawa (PE) berdasarkan panduan Good Dairy Farming Practice (GDFP) di PT. Boncah Utama Kabupaten Tanah Datar. Metode yang digunakan adalah survey dan observasi langsung di Usaha Peternakan kambing PE PT Boncah Utama dan analisis laboratorium. Sebaanyak 15 ekor kambing PE diberi perlakuan dengan menerapkan Good Milking Practices (GMiP). Jenis data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Analisis data dilakukan secara deskriptif. Peubah yang diamati adalah total plate count dan evaluasi aspek teknis pemeliharaan menggunakan kuisioner yang berpedoman pada pelaksanaan GDFP modifikasi dari metode FAO/IDF (2010) dan penghitungan kandungan total bakteri susu (Total Plate Count). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan GDFP di Peternakan Kambing PE PT Boncah Utama Kabupaten Tanah Datar sudah cukup baik dan analisis keragaman terhadap TPC menunjukkan bahwa perlakuan berpengaruh nyata terhadap total plate count susu (P
Deki Zulkarnain, A Selamet Aku, Rahmatullah Rahmatullah, Laode Muh Munadi
Journal of Livestock and Animal Health, Volume 4, pp 1-6; doi:10.32530/jlah.v4i1.291

Abstract:
UPSUS SIWAB adalah program pemerintah yang bertujuan untuk meningkatkan populasi sapi melalui perbaikan manajemen pemeliharaan dan reproduksi ternak. Salah satu kendala dalam pencapaian program tersebut adalah infeksi penyakit. Infestasi parasit cacing dilaporkan mampu menurunkan produktivitas ternak seperti penurunan bobot badan, daya kerja, kualitas daging, kulit, jeroan, dan terhambatnya pertumbuhan pada sapi muda serta berpotensi sebagai penular penyakit pada manusia (agen zoonosis). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi cacing Fasciola hepatica (F. hepatica) pada sapi akseptor program UPSUS SIWAB di Kabupaten Muna. Sebanyak 270 sampel feses sapi dikoleksi dari sembilan kecamatan menggunakan metode random sampling. Variabel yang diamati, yaitu jenis telur cacing yang menginfestasi sapi akseptor menggunakan metode natif dan pembesaran mikroskop 100x (10x10). Selanjutnya, data dianalisis menggunakan persamaan prevalensi. Hasil studi menunjukkan bahwa tingkat prevalensi kejadian F. hepatica di Kabupaten Muna adalah 4,9%. Berdasarkan lokasinya, infestasi cacing F. hepatica dideteksi pada sapi akseptor yang tersebar di lima kecamatan, yaitu Kecamatan Parigi (0,74% ; 2/270), Lasapela (0,37% ; 1/270), Kabawo (2,59% ; 7/270), Watopute (0,37% ; 1/270) dan Tangkuno Selatan (0,74% ; 2/270). Faktor yang diduga berpengaruh terhadap variasi infeksi ini adalah sistem pemeliharaan ternak, keberadaan inang perantara dan tampungan air serta metode diagnose yang digunakan pada studi ini.
Delli Lefiana, Dasrul Dasrul, Sugito Sugito, Rizki Ardyes
Journal of Livestock and Animal Health, Volume 4, pp 27-32; doi:10.32530/jlah.v4i1.359

Abstract:
Hiperkolesterolemia merupakan penyebab penyakit kardovaskular yang ditandai dengan peningkatan kadar kolesterol dalam darah dan radikal bebas yang merusak sel endotel pembuluh darah. Resiko tersebut dapat diturunkan dengan pemberian vitamin, antioksidan, antikolesterol yang terkandung di dalam buah dan sayuran seperti tomat dan wortel. Tujuan dari penelitian adalah menguji pengaruh pemberian ekstrak tomat dan wortel terhadap kadar kolesterol total darah dan enzim glutation peroksidase (GPx) pada hati tikus putih hiperkolesterolemik. Penelitian ini menggunakan 24 ekor tikus putih yang dikelompokkan menjadi empat perlakuan, yaitu kelompok kontrol negatif yang diberikan pakan standar (KN), kelompok kontrol positif yang diberikan pakan tinggi kolesterol (KP), kelompok tikus diberikan pakan tinggi kolesterol dan ekstrak tomat 50 mg/kg bb (K I), dan kelompok tikus diberikan pakan tinggi kolesterol dan ekstrak wortel 50 mg/kg bb (K II). Sebelum perlakuan tikus diadaptasikan selama 1 minggu, perlakuan diberikan selama 45 hari. Pemicu terjadinya hiperkolesterolemia pada hewan coba disebabkan oleh pakan tinggi kolesterol yang diberikan sebelum perlakuan dengan ekstrak tomat dan wortel. Pada hari ke 45 dilakukan pengambilan darah melalui ekor untuk pemeriksaan kadar kolesterol total darah, selanjutnya tikus dieuthanasia dan diambil organ hati untuk pemeriksaan enzim GPx. Data yang diperoleh dilakukan uji normalitas Kolmogorov-Smirnov dan homegenitas menggunakan uji Levene. Kemudian dianalisis menggunakan ANOVA dan dilanjutkan dengan uji BNT. Hasil uji statistik menunjukkan ada perbedaan yang nyata (P0,05) antara KN dibandingkan dengan KI dan KII. Berdasarkan hal tersebut disimpulkan bahwa pemberian ekstrak tomat 50 mg/kg bb dan ekstrak wortel 50 mg/kg bb selama 45 hari dapat menghambat peningkatan kadar kolesterol total darah dan menghambat penurunan kadar enzim GPx pada hati tikus putih hiperkolesterolemik.
Yurni Sari Amir, Prima Silvia Noor, Sujatmiko Sujatmiko, Nelzi Fati, Toni Malvin
Journal of Livestock and Animal Health, Volume 3, pp 61-67; doi:10.32530/jlah.v3i2.272

Abstract:
Penelitian broiler dengan pemberian tanaman obat sebagai feed additive dalam ransum berupa tepung daun salam, daun pepaya, daun jambu biji dan tepung daun miana untuk melihat pengaruhnya terhadap performa broiler. Penelitian dilakukan selama 2 bulan yang dilakukan di Laboratorium Nutrisi dan Pakan Ternak dan di kandang broiler Laboratorium Produksi Ternak. Broiler yang digunakan 100 ekor umur satu hari. Pakan yang diberikan ransum adukan yang terdiri dari jagung, bungkil kedele, tepung ikan, tepung mie, minyak, top mix. Perlakuan yang diberikan adalah daun salam (Eugenia polyantha Wight), daun pepaya (Carica papaya Linn), daun jambu biji (Psidium Guava L) dan daun miana (Coleus scutellarioides) yang dijadikan tepung. Rancangan yang digunakan adalah RAL, dengan 5 perlakuan dan 4 ulangan, yaitu ransum adukan 100% sebagai kontrol (A), penambahan 0,5% tepung daun salam pada ransum adukan (B), penambahan 0,5% tepung daun pepaya pada ransum adukan (C), penambahan 0,5% tepung daun jambu biji pada ransum adukan (D) dan penambahan 0,5% tepung daun miana pada ransum adukan (E). Parameter penelitian adalah menghitung konsumsi ransum, pertambahan bobot badan dan konversi ransum. Hasil penelitian didapatkan bahwa tanaman obat sebagai feed additive dalam ransum memberikan pengaruh yang tidak berbeda nyata (P>0,05) terhadap konsumsi ransum, pertambahan bobot badan dan konversi ransum.
Ayu Lestari, Anwar Efendi Harahap, Wieda Nurwidada Haritsah Zain
Journal of Livestock and Animal Health, Volume 3, pp 49-53; doi:10.32530/jlah.v3i2.249

Abstract:
Limbah daun ubi kayu dapat menjadi solusi dalam persoalan penyediaan bahan pakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas nutrisi yang terkandung dalam silase daun ubi kayu dengan penambahan molases dan lama penyimpanan yang berbeda. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu rancangan acak lengkap (RAL) pola faktorial (3x3) dengan 3 ulangan. Faktor A adalah level penambahan molases 0%, 7%, dan 14%. Faktor B lama penyimpanan 0 hari, 14 hari, dan 28 hari. Parameter yang diukur adalah bahan kering (%), protein kasar (%), lemak kasar(%), serat kasar (%), abu (%) dan BETN (%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian level molases dan lama penyimpanan mampu menurunkan (P
Akhmad Rizaldi, Engki Zelpina
Journal of Livestock and Animal Health, Volume 3, pp 45-48; doi:10.32530/jlah.v3i2.273

Abstract:
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui total jumlah mikroba dan Coliform pada telur ayam yang dijual di Pasar Tamiang Layang, Kabupaten Barito Timur, Provinsi Kalimantan Tengah. Total Sampel adalah 20 butir, dari seluruh pedagang telur ayam yang berjumlah 5 pedagang. Pengujian jumlah total mikrob (TPC) dan Coliform pada telur menggunakan metode SNI: 2897:2008 tentang Metode Pengujian Cemaran Mikroba dalam Daging, Telur dan Susu serta Hasil Olahannya. Hasil penelitian menunjukkan TPC
Siska Adelia, Depison, Eko Wiyanto
Journal of Livestock and Animal Health, Volume 3, pp 54-60; doi:10.32530/jlah.v3i2.256

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik fenotipe sapi Simbal jantan dan betina di Kabupaten Merangin. Metode yang digunakan yaitu survey. Teknik pengambilan sampel secara purpossive sampling. Umur I1 dan tidak dalam keadaan bunting. Jumlah sampel sebanyak 60 ekor terdiri dari 30 ekor betina dan 30 ekor jantan. Data yang dihimpun karakteristik kualitatif meliputi warna bulu dan ada tidaknya tanduk. Karakteristik kuantitatif meliputi Bobot Badan, Pertambahan Bobot Badan, Tinggi Pundak, Panjang Badan, DalamDada, Lingkar Dada, Lebar Dada, Lingkar Kanon dan Tinggi Pinggul. Karakteristik kualitatif dianalisis secara deskriptif sedangkan karakteristik kuantitatif di analisis menggunakan uji beda rata-rata (uji-t), Analisis Komponen Utama, Analisis regresi dan korelasi. Hasil penelitian menunjukkan tidak ada perbedaan karakteristik kualitatif sapi Simbal jantan dan betina yaitu memiliki warna bulu dominan coklat belang putih dan bertanduk. Karakteristik kuantitatif sapi Simbal jantan dengan sapi Simbal betina berbeda nyata (P
Astri Dwyanti Tagueha
Journal of Livestock and Animal Health, Volume 3, pp 39-44; doi:10.32530/jlah.v3i2.261

Abstract:
Brusellosis merupakan penyakit ekonomis pada hewan yang bersifat infeksius dan mudah menyebar. Evaluasi keberadaan reaktor di titik penyebaran seperti RPH penting untuk dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi reaktor brusellosis pada sapi di RPH Kota Ambon. Variabel yang diamati yaitu asal sapi, umur, jenis kelamin, dan status kebuntingan. Besaran sampel ditentukan berdasarkan rumus deteksi penyakit dengan tingkat konfidensi 95%, asumsi prevalensi 2%, dan error 0,05. Sebanyak 175 sampel darah diambil untuk pemeriksaan Rose Bengal Test (RBT) dan dikategorikan reaktor jika muncul reaksi aglutinasi pada saat pengujian. Hasil penelitian menunjukkan 10.29% sapi adalah reaktor. Diantara sejumlah sapi yang berstatus reaktor, 55.56% berasal dari Pulau Seram, 88.89% berumur > 1,5 tahun, 66.67% adalah betina, dan 75% positif bunting. Hasil ini perlu divalidasi dengan Complement Fixation Test (CFT) sehingga dapat dipakai sebagai bahan pertimbangan dalam merumuskan program monitoring dan survailans secara berkelanjutan
Nining Suningsih, Sadjadi Sadjadi
Journal of Livestock and Animal Health, Volume 3, pp 32-38; doi:10.32530/jlah.v3i2.274

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai pH, VFA, dan NH3 ransum yang diberi penambahan tepung daun sirsak secara In Vitro. Penelitian dilakukan melalui beberapa tahapan yaitu persiapan ransum perlakuan yang dilaksanakan di Laboratorium Fakultas Pertanian dan pelaksanaan pengukuran pH, VFA, dan NH3 secara In Vitro dilakukan di Laboratorium Nutrisi Ternak Perah IPB. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan terdiri : T0 = Ransum basal, T1 = Ransum basal + Tepung daun sirsak 1%, T2 = Ransum basal + Tepung daun sirsak 2%, T3 = Ransum basal + Tepung daun sirsak 3%. Peubah yang diamati pH, VFA dan NH3. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis ragam dan uji lanjut jarak berganda Duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan penambahan tepung daun sirsak dalam ransum secara In Vitro berpengaruh nyata (P
Judo Laksono, Wasir Ibrahim
Journal of Livestock and Animal Health, Volume 3, pp 23-26; doi:10.32530/jlah.v3i1.220

Abstract:
Penelitian yang dilakukan bertujuan mengetahui pengaruh jenis dan dosis pupuk kandang terhadap pertumbuhan vegetatif rumput raja. Penelitian dilaksanakan di kebun percobaan, Fakultas Pertanian, Universitas Musi Rawas pada April 2018. Metode yang dipergunakan pada penelitian ini adalah metode eksperimental Rancangan Acak Kelompok dengan faktorial (3x3). Faktor pertama dengan jenis pupuk kandang (P1): pupuk kotoran sapi, (P2): pupuk kotoran ayam (P3): pupuk kotoran kambing. Faktor kedua dengan dosis (D) terdiri dari, (D1): 7,5 ton/ha, (D2): 10 ton/ha (D3) 12,5 ton/ha. Penelitian ini menggunakan ulangan sebanyak 27 unit percobaan. Data yang diperoleh dianalisis dengan mengunakan ANOVA kemudian dilanjutkan dengan Uji Duncan. dari hasil analisis ragam pertumbuhan vegetatif rumput raja terhadap jenis dan dosis pupuk kandang, berpengaruh sangat nyata (P
, Firmansyah Firmansyah, Fachroerrozi Hoesni
Journal of Livestock and Animal Health, Volume 3, pp 18-22; doi:10.32530/jlah.v3i1.215

Abstract:
Jumlah populasi ternak sapi di Provinsi Jambi selama dua dekade lebih mengalami naik turun, meskipun menunjukkan adanya tren kenaikan. Tidak stabilnya populasi sapi di Provinsi Jambi disebabkan pertumbuhan dinamika populasi yang selalu turun naik setiap tahun. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dinamika pertumbuhan gross dan net populasi ternak sapi di Provinsi Jambi dan perbedaan antara kabupaten/kota di Provinsi Jambi, serta faktor yang mempengaruhinya. Penelitian ini menggunakan metode analisis data sekunder dalam bentuk data tahunan/berkala (time series). Analisis data yang digunakan adalah analisis trend dan analisis uji beda serta analisis regresi linear berganda. Hasil analisis trend menunjukkan bahwa ada trend peningkatan gross populasi ternak sapi sebesar 2,96 % per tahun dan net populasi sebesar 3,70 % per tahun selama periode 2010-2017. Hasil uji beda (significant = ? ? = 0,05) menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan gross dan net populasi ternak sapi pada kelompok populasi banyak, sedang dan sedikit antara kabupaten/kota di Provinsi Jambi. Tidak terdapat pengaruh kelahiran (X1), pemasukan (X2) terhadap gross populasi ternak sapi di Provinsi Jambi. Tidak terdapat pengaruh pengeluaran (X1), pemotongan (X2), dan kematian (X3) terhadap net populasi ternak sapi di Provinsi Jambi.
Rikardo Silaban, Sutan Pulungan, Muhammad Muhaidi Sihombing
Journal of Livestock and Animal Health, Volume 3, pp 5-11; doi:10.32530/jlah.v3i1.209

Abstract:
Produksi limbah tanaman salak Sidempuan dapat mencapai 31-43% per tahun atau setara dengan 260-310 ton per tahun. Produksi biomassa limbah tersebut dapat berpotensi dijadikan sebagai sumber pakan alternatif untuk ternak rumiansia seiring dengan ketersediaan lahan untuk penyediaan hijauan makanan ternak yang semakin minim. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh perbedaan lama simpan dan jenis pengemas terhadap kualitas fisik wafer ransum komplit. Penelitian ini dilaksanakan di laboratorium Industri Makanan Ternak, Fakultas Pertanian Universitas Graha Nusantara Padang Sidempuan dan Kelompok Tani Desa Satahisaoloan. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap pola faktorial 4x3 dengan 2 faktor (bahan pengemas dan lama penyimpanan) dan 3 ulangan. Parameter penelitian meliputi kualitas fisik wafer yakni bobot wafer, kadar air, kerapatan wafer dan daya serap air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahan pengemas berbeda mempengaruhi kualitas fisik pakan wafer. Sedangkan, faktor penyimpanan tidak mempengaruhi performa fisik wafer. Dapat disimpulkan bahwa interaksi bahan pengemas kantong plastik dengan umur simpan 7 hari memberi performa fisik wafer yang lebih baik.
Hera Dwi Triani, Riza Andesca Putra, Rini Elisia
Journal of Livestock and Animal Health, Volume 3, pp 12-17; doi:10.32530/jlah.v3i1.213

Abstract:
Pengembangan peternakan berbasis ternak lokal merupakan salah satu strategi pembangunan daerah yang potensial. Ternak ayam buras merupakan salah satu ternak lokal yang berpotensi untuk dikembangkan, di negara berkembang. Berkembangknya wisata Geopark Ranah minang di Nagari Silokek dibutuhkan sumberdaya manusia yang sehat, cerdas dan berpendidikan. Pengembangan ayam buras sebagai ternak lokal dapat mempunyai peran untuk hal tersebut. Pada pengembagan ayam buras di Nagari Silolek perlu dikaji potensi pengembangannya. Penelitian ini menggunakan metode survey, dengan mengumpulkan informasi dari sebagian sampel untuk mewakili populasi. Pengambilan data menggunakan metode purposive sampling. Data yang dipakai adalah data primer dan sekunder. Data sekunder diperoleh dari BPS Kabupaten Sijunjung, Dinas Pertanian Kabupaten Sijunjung, BPP Kecamatan Sijunjung, Kantor Wali Nagari Silokek. Data primer diperoleh dengan melakukan survey dan wawancara langsung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ternak ayam buras mempunyai potensi untuk dikembangkan di Nagari Silokek sebagai kawasan Geopark Ranah Minang beberapa potensi yang ada meliputi bibit yang ada, bahan pakan lokal, pengalaman yang ada, manajemen pemeliharaan yang tidak sulit, meningkatkan kesejateran dan ketahanan pangan masyarakat, ayam, lebih tahan penyakit, warisan budaya serta adanya kelembagaan atau pasar sebagai faktor pendukung. Potensi pengembangan ayam buras di Nagari Silokek melalui perbaikan genetik, peningkatan jumlah populasi, perbaikan manajemen pemeliharaan dan pemanfaatan secara efektif sarana dan prasarana.
Solehudin Solehudin, Muhammad Syawal Hasibuan
Journal of Livestock and Animal Health, Volume 3, pp 1-4; doi:10.32530/jlah.v3i1.191

Abstract:
Kabupaten Batubara merupakan salah satu daerah di Sumatera Utara yang mendapat sasaran program pengembangan bibit sapi unggul yaitu Brahman cross. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kinerja reproduksi sapi Brahman cross di Kabupaten Batubara. Metode yang digunakan adalah survey dengan pengambilan sampel secara purposive sampling. Materi penelitian adalah 100 ekor sapi induk Brahman cross yang diambil masing-masing 25 ekor dari 4 kelompok tani di 3 kecamatan yaitu Kelompok Sentosa (Kecamatan Sei Balai), Kelompok Anugerah (Kecamatan Sei Suka), Kelompok Karya Mandiri dan Tunas Muda (Kecamatan Limapuluh). Parameter yang diukur adalah umur pertama kawin, service per conception (s/c), post partum mating (ppm) dan calving interval (ci). Data dialisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rataan umur pertama kawin adalah 36 bulan, nilai s/c adalah 3,15, post partum mating adalah 9 bulan dan lama calving interval adalah 18 bulan. Dapat disimpulkan bahwa kinerja reproduksi sapi Brahman cross di Kabupaten Batubara masih jelek. Penyebabnya adalah manajemen pemberian pakan yang buruk dan sistem perkawinan yang belum tepat. Walaupun demikian, kelompok Anugerah dapat dijadikan model pengembangan bibit sapi Brahman cross di Kabupaten Batubara karena sudah mengembangkan manajemen pemeliharaan dengan baik.
Daniyal Hanafi, Deni Novia, Aronal Arief Putra
Journal of Livestock and Animal Health, Volume 3, pp 27-31; doi:10.32530/jlah.v3i1.195

Abstract:
Penggunaan tepung talas sebagai bahan pengikat pada pembuatan patty burger yang dibuat dari daging itik telah dilakukan. Persentase tepung talas berbeda (0, 5, 10, dan 15%) digunakan sebagai perlakuan. Patty yang dihasilkan dianalisis untuk sifat fisik (kadar air, susut masak, penyusutan diameter, peningkatan ketebalan, tekstur) dan profil sensori (warna, aroma, rasa, tekstur, dan daya terima keseluruhan). Kadar air, susut masak, dan penyusutan diameter dari sampel menurun secara signifikan dengan peningkatan penggunaan tepung talas, tetapi peningkatan ketebalannya meningkat (P
Riza Andesca Putra, Vivi Hendrita
Journal of Livestock and Animal Health, Volume 2, pp 34-39; doi:10.32530/jlah.v2i2.186

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik peternak, sistem pemeliharaan, sistem pengelolaan pakan, sistem pengelolaan reproduksi, dan sistem pemasaran ternak sapi potong di Kabupaten Sijunjung. Penelitian ini dilakukan di wilayah Kabupaten Sijunjung yaitu peternak di daerah terpilih pada bulan Juni sampai Juli 2019. Penelitian ini menggunakan metode survey dengan respondennya adalah peternak sapi potong yaitu 44 orang responden. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa usaha peternakan sapi potong di Kabupaten Sijunjung masih usaha sampingan masyarakat (93,18%), jumlah ternak yang dipelihara 1-3 ekor per peternak (77,27%) dan pada umumnya merupakan sapi milik sendiri (61,36%). Sistem pemeliharaan ternak pada umumnya dengan sistem semi intensif (45,45%) dengan pakan yang diberikan adalah hijauan dengan merumput ditambah hijauan hasil pemotongan (47,73%). Sistem reproduksi menggunakan kawin alam dengan jantan pemacek (50%) dan inseminasi buatan (50%) serta pemasaran ternak masih melalui toke ternak/pedagang pengumpul (88,64%).
Hera Dwi Triani, Rini Elisia, Ibnu Qorma Siddiq
Journal of Livestock and Animal Health, Volume 2, pp 46-50; doi:10.32530/jlah.v2i2.132

Abstract:
Limbah roti cukup potensial untuk digunakan dalam ransum broiler karena mengandung gross energi yang cukup tinggi (4217 Kkal/kg). Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh pemberian tepung limbah roti sebagai pengganti jagung dalam ransum terhadap performa ayam broiler. Penelitian ini menggunakan broiler berumur sehari atau DOC sebanyak 24 ekor yang dipelihara selama 4 minggu. Pakan terdiri dari jagung, dedak, tepung limbah roti dan konsentrat. Alat yang digunakan seperti : kandang panggung sebanyak 2 petak, tiap petak berukuran 1m x 1m yang berisi 12 ekor broiler dan dilengkapi dengan tempat pakan, tempat minum dan lampu. Penelitian dilakukan secara eksperimen dengan membandingkan dua perlakuan melalui uji T yang terdiri dari 2 perlakuan dari 2 jenis ransum yaitu : ransum J : konsentrat + dedak padi + jagung dan ransum R : konsentrat + dedak padi + tepung limbah roti. Kedua jenis ransum (ransum J dan R) masing-masing diberikan kepada 2 kelompok ayam, masing-masing kelompok terdiri dari 12 ekor ayam. Parameter yang diamati adalah konsumsi ransum, pertambahan bobot badan, konversi ransum dan mortalitas. Hasil penelitian menunjukan terdapat pengaruh yang nyata lebih tinggi (P
Rahmadanisa Rahmadanisa, Aronal Arief Putra, Deni Novia
Journal of Livestock and Animal Health, Volume 2, pp 51-55; doi:10.32530/jlah.v2i2.171

Abstract:
Aplikasi penggunaan lima persen bahan pengikat bebas gluten pada pembuatan daging burger telah dilakukan. Tepung sorgum, tepung talas, dan tepung sukun telah digunakan pada formulasi daging burger sebagai representasi tepung bebas gluten dan dibandingkan dengan burger dengan bahan pengikat tepung terigu sebagai kontrol (tepung yang mengandung gluten). Kadar air, susut masak, penyusutan diameter, kekerasan, dan profil sensori (warna, aroma, rasa, tekstur, dan penerinaan keseluruhan) telah dievaluasi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang nyata pada kadar air, susut masak, penyusutan diameter, dan kekerasan sampel. Daging burger menggunakan tepung sukun memiliki daya terima yang lebih rendah dibanding perlakuan lainnya (P0.05). Dari penelitian ini disimpulkan bahwa tepung sorgung dan tepung talas dapat menjadi sumber bahan pengikat alternatif pada pembuatan burger yang umumnya menggunakan tepung yang mengandung gluten.
Muhammad Syafril Harahap, Hermanto Siregar, Erlina Erlina, Rahmanta Rahmanta
Journal of Livestock and Animal Health, Volume 2, pp 40-45; doi:10.32530/jlah.v2i2.185

Abstract:
Pembangunan Sektor peternakan di Sumatera Utara tidak terlepas dari peran pemerintah daerah mulai dari perencanaan dan pembiayan yang berasal dari Anggaran Belanja Daerah (APBD). Untuk itu perlu diketahui dampak dari pengeluaran pemerintah daerah dalam pembangunan peternakan di Sumatera Utara. Penelitian ini dilakukan pada tahun 2014, di Provinsi Sumatera Utara, dengan menggunakan pendekatan Sistem Neraca Sosial Ekonomi (Social Accounting Matriks) dan sekaligus dilakukan simulasi pengeluaran anggaran Pemerintah Provinsi Sumatera Utara pada sektor peternakan, dengan menggunakan data pegeluaran Pemerintah Provinsi Sumatera Utara tahun 2014, dan data lainnya yang berkaitan dengan penelitian. Dampak injeksi Rp. 1 Milyar pengeluaran pemerintah pada sektor peternakan akan meningkatkan output pada sektor peternakan Rp 2,8954 Milyar, pendapatan rumah tangga sebesar Rp 0,3403 Milyar, pendapatan faktor produksi modal Rp 0,3608 milyar dan tenaga kerja pertanian Rp 0,2154 milyar. Jumlah pendapatan sektor pertanian (termasuk peternakan) pada tahun 2014 di Provinsi Sumatera Utara sebesar Rp. 22.563.848 /jiwa, dengan jumlah pekerja sebesar 2.556.044 jiwa atau 43% dari total tenaga kerja.
Fahri Husaini Nasution, Yunilas Yunilas, Tri Hesti Wahyuni
Journal of Livestock and Animal Health, Volume 2, pp 25-33; doi:10.32530/jlah.v2i2.50

Abstract:
Tujuan penelitian ini adalah menguji kemampuan sinergisme fungi selulolitik asal limbah jagung untuk dikonsorsiumkan sebagai bioaktivator pakan berserat. Isolate fungi selulolitik yang dikonsorsiumkan merupakan hasil isolasi dari limbah tanaman jagung yaitu isolate JB (Aspergillus sp.), JC (Fusarium sp.), JD (Aspergillus sp), JE (Rizoctonia sp.). Parameter yang diamati adalah sinergisme fungi selulolitik yang dikonsorsiumkan pada medium padat, pola interaksi antara fungi yang dikonsorsiumkan pada medium padat dan sinergisme fungi selulolitik yang dikonsorsiumkan pada medium cair (cocktail inokulum). Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari konsorsium isolate fungi selulolitik diperoleh 5 pasangan isolat fungi selulolitik yang dapat bersinergi dan 1 pasangan tidak dapat bersinergi. Pola pertumbuhan yang terbentuk bersifat Mutual Intermingling (pasangan isolate JB vs JC dan JB vs JD), Partial Intermingling (pasangan isolate JB vs JE; JC vs JD; dan JD vs JE); dan Inhibition at touching point (pasangan isolate JC vs JE). Sinergisme fungi selulolitik yang dikonsorsiumkan pada medium cair (cocktail inokulum) menunjukkan tingkat pertumbuhan yang berfluktuatif seiring bertambahnya waktu fermentasi. Kesimpulan: dari 5 pasangan isolat fungi selulolitik yang dikonsorsiumkan diperoleh 1 pasang isolate yang tidak dapat bersinergis, dan sinegisme antara fungi membentuk pola interaksi yang bervariatif. Pertumbuhan fungi selulolitik pada medium cair berfluktuatif dan menunjukkan tingkat pertumbuhan optimum pada hari ke-3.
, Mulya Fauzia, Iskandar Sembiring
Journal of Livestock and Animal Health, Volume 2, pp 14-19; doi:10.32530/jlah.v2i1.47

Abstract:
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh silase komplit pelepah kelapa sawit dan Indigofera sp. menggunakan probiotik MOIYL (mikroorganisme indigenous YL) terhadap performa Sapi Peranakan Ongole. Metode penelitian menggunakan rancangan acak lengkap (RAL), 4 perlakuan dengan 2 ulangan. Perlakuan meliputi P1= 20% Silase Komplit dengan probiotik MOIYL + 80% Konsentrat, P2= 40% Silase Komplit dengan probiotik MOIYL + 60% Konsentrat, P3= 60% Silase Komplit dengan probiotik MOIYL + 40% Konsentrat, P4= 80% Silase Komplit dengan probiotik MOIYL + 20% Konsentrat. Parameter yang diamati adalah konsumsi ransum, pertambahan bobot badan, dan konversi ransum. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian silase komplit berbasis pelepah kepala sawit dan Indigofera sp. menggunakan probiotik MOIYL memberikan pengaruh yang sangat nyata (P
Rahmawati Rahmawati
Journal of Livestock and Animal Health, Volume 2, pp 20-24; doi:10.32530/jlah.v2i1.44

Abstract:
Padang penggembalaan saat ini terjadi alih fungsi menjadi lahan pertanian dan pemukiman, sehingga padang rumput maupun lahan untuk penanaman Hijauan Makanan Ternak (HMT) semakin berkurang. Di Kabupaten Aceh Tengah penggunaan lahan umumnya didominasi oleh perkebunan kopi dan hutan pinus, sehingga penanaman HMT dapat dilakukan di bawah naungan tanaman kopi dan hutan pinus. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh naungan terhadap kandungan nutrisi rumput ruzi yakni kandungan bahan kering, protein kasar, serat kasar dan lemak kasar. Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok non faktorial dengan perlakuan 4 level dan 3 ulangan. Perlakuan intensitas cahaya dihitung berdasarkan formula tingkat kejarangan dan warna sarlon yaitu PN0: Kontrol (tanpa naungan). PN1: Naungan menggunakan sarlon setara dengan naungan 40%. PN2: Naungan menggunakan sarlon setara dengan naungan 60%. PN3: Naungan menggunakan sarlon setara dengan naungan 80%. Kandungan BK dan PK pada naungan 0 % sampai naungan 60 % memberikan hasil yang tidak berbeda nyata. Kandungan SK perlakuan tanpa naungan dan naungan 40 % memberikan pengaruh yang sama. Hasil yang terendah didapatkan pada perlakuan naungan 40%. Kandungan lemak menurun seiring dengan kerapatan naungan tapi menunjukkan pengaruh yang tidak berbeda nyata. Pertumbuhan dan kandungan rumput ruzi masih baik ditanam pada naungan sarlon sampai 60%.
, Ramond Siregar, Ulva Mohtar Lutfi
Journal of Livestock and Animal Health, Volume 2, pp 5-9; doi:10.32530/jlah.v2i1.42

Abstract:
Penelitian ini untuk mengetahui pengaruh pemberian infusa daun bangun-bangun terhadap performa ayam pedaging. Metode yang digunakan Rancangan Acak Lengkap (RAK) dengan 5 (lima) perlakuan dan 4 (empat) ulangan, metode yang digunakan Rancangan Acak Lengkap RAL). Setiap unit percobaan ditempati oleh lima ekor ayam. Penelitian ini menggunakan lima taraf perlakuan infusa daun bangun-bangun (Coleus amboinicus, Lour) dalam air minum dan empat ulangan. Perlakuan A1 = 0% infusa daun bangun-bangun, perlakuan A2 = 0,5% infusa daun bangun-bangun, A3 = 1% infusa daun bangun-bangun, A4 = 1,5% infusa daun bangun-bangun, dan A5 = 2% infusa daun bangun-bangun. Pemberian infusa daun bangun-bangun dalam air minum tidak signifikan (P> 0,05) pada pertambahan bobot badan, konsumsi, dan konversi pakan. Disimpulkan dari penelitian ini: pemberian infusa daun bangun-bangun dapat ditoleransi hingga 2% dalam hal berat badan, konsumsi ransum dan konversi ransum. Penambahan bobot tertinggi diperoleh pada pemberian 2% infusa dalam air minum.
, P N Jefri
Journal of Livestock and Animal Health, Volume 2, pp 1-4; doi:10.32530/jlah.v2i1.45

Abstract:
Produk ternak dengan kandungan rendah Kolesterol, akan meningkatkan kualitas produk tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk melihat manfaat penggunaan talas liar sebagai salah satu bahan ransum, terhadap produksi telur itik lokal dan kandungan kolesterol darah dan telur. Sebagai perlakuan adalah level penggunaan Tepung Tangkai dan Daun Talas (TTDT) sebanyak 5 level (0%; 5%; 10%; 15% dan 20%). Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap dengan 4 kali ulangan. Perlakuan diberikan kepada 80 ekor itik masa bertelur umur 19 minggu hingga 27 minggu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa makin meningkat pemberian TTDT, akan meningkatkan berat telur, produksi telur dan menurunkan konversi ransum (P
Yannisa Pertiwi, , Aronal Arief Putra
Journal of Livestock and Animal Health, Volume 2, pp 10-13; doi:10.32530/jlah.v2i1.46

Abstract:
Pengaruh penambahan jus kulit buah naga merah (Hylocereus polyrhizus) terhadap kualitas jeli susu kambing telah diteliti. Jus tersebut disiapkan dengan menghomogenkan kulit buah naga merah dan air pada rasio 4:1. Berbagai jenis konsentrasi jus kulit buah naga merah terhadap konsentrasi susu yaitu 0, 2, 4, 6, dan 8 % telah ditambahkan pada formulasi permen jeli. Setelah dimasak, kadar air, pH, dan warna (L*, a, b*) sampel diuji. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa penambahan jus kulit buah naga merah meningkatkan kadar air sampel, sedangkan pH sampel menurun secara signifikan. Pada saat yang sama, lightness (L*) dan yellowness (b*) sampel menurun, tetapi redness (a*)–nya meningkat. Kesimpulannya, 8% kulit buah naga merah berkontribusi dalam menghasilkan redness yang lebih pekat, sehingga dapat menjadi pilihan zat pewarna untuk menghasilkan warna yang menarik pada pembuatan permen jeli susu kambing.
Jefri Asma Putra, Suliha Suliha
Journal of Livestock and Animal Health, Volume 1, pp 1-5; doi:10.32530/jlah.v1i1.13

The publisher has not yet granted permission to display this abstract.
Yora Yulia Syafrita, Elfiyani Elfiyani
Journal of Livestock and Animal Health, Volume 1, pp 6-10; doi:10.32530/jlah.v1i1.14

The publisher has not yet granted permission to display this abstract.
Yona Chintya Salma, Maisuranti Maisuranti
Journal of Livestock and Animal Health, Volume 1, pp 15-19; doi:10.32530/jlah.v1i1.28

The publisher has not yet granted permission to display this abstract.
, Ulva Mohtar Lutfi
Journal of Livestock and Animal Health, Volume 1, pp 20-24; doi:10.32530/jlah.v1i1.29

Abstract:
Produktivitas sebagian besar ditentukan oleh ketersediaan pakan. Populasi ternak terus bertambah karena itu juga dibutuhkan pakan lebih. Pemberian pakan yang berkelanjutan dan kualitas yang memadai adalah salah satu faktor penentu kesuksesan pertanian. Pemanfaatan pakan lokal secara optimal yaitu sebuah teknologi, menggunakan jerami jagung yang diolah dengan bantuan Trichoderma sp. Kambing kontrol diberi pakan jerami jagung 60% dan daun gamal 40% serta penambahan saka dan mineral sebanyak 2%. Kambing perlakuan pakan yang diberikan adalah jerami jagung yang diinokulasi Trichoderma sp. 60 %, daun gamal 40 %. Berdasarkan hasil pengamatan, dengan pemberian jerami jagung fermentasi Gliricidia daun 60% + 40% menghasilkan rata-rata PBB 95,2 g / ekor / hari sedangkan kambing kontrol menghasilkan rata-rata 35,7 gram PBB / ekor / hari. Berdasarkan pelaksanaan penelitian ini, kambing dengan fermentasi R / C ratio 1,34 dan perlakuan kambing dan kontrol 0,9. Ini berarti bahwa perlakuan ini cukup baik untuk dikembangkan dan diimplementasikan untuk menghasilkan keuntungan sebesar 34%.
Yang Etika Pribadi, Muthia Dewi
Journal of Livestock and Animal Health, Volume 1, pp 11-14; doi:10.32530/jlah.v1i1.27

Abstract:
Percobaan ini bertujuan untuk mengevaluasi efek penambahan kulit buah kakao pada rumput lapang terhadap bobot badan kambing Peranakan Etawa (PE). Perlakuan pada penelitian disusun untuk dua ekor kambing PE dengan bobot hidup awal 15 dan 18 kg digunakan selama 11 minggu. Perlakuan adalah A = 1,5 kg rumput asli dan B = 1,5 kg rumput asli dan 1,8 kg kakao. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan buah kakao dengan rumput asli mempengaruhi berat badan hidup dan efisiensi pakan kambing. Bobot badan kambing untuk perawatan A adalah 3,2 kg dan B 4,6 kg. Itu menunjukkan bahwa kulit buah kakao dapat digunakan untuk menggantikan rumput asli dalam pakan kambing.
Page of 1
Articles per Page
by
Show export options
  Select all
Back to Top Top