Refine Search

New Search

Results in Journal Persona:Jurnal Psikologi Indonesia: 247

(searched for: journal_id:(4142539))
Page of 5
Articles per Page
by
Show export options
  Select all
Kenny Valentino, Grace Natasha Sunardy, Dhini Andriani, Zahrotur Rusyda Hinduan
Persona:jurnal Psikologi Indonesia, Volume 11, pp 74-85; https://doi.org/10.30996/persona.v11i1.6176

Abstract:
Adequate sleep is essential since short sleep duration can cause various adverse effects. Previous research found that college students often find it difficult and have low intentions to get enough sleep due to several factors. This study aims to see the role of adequate sleep intention factors based on the Theory of Planned Behavior in college students, namely attitude toward behavior, subjective norm, and perceived behavioral control. Participants were 600 college students at a state university in Indonesia. The data was obtained through a questionnaire adapted from the Theory of Planned Behavior Questionnaire (α=0,793) and statistically analyzed using Structural Equation Modeling and Kruskal-Wallis. The results show that attitude toward behavior, subjective norm, and perceived behavioral control had a significant role in predicting adequate sleep intention in college students. Furthermore, attitude toward behavior has the most substantial role among the other factors. Through this research, future interventions that aim college students’ sleep intention can focus on targeting students’ attitude toward sleep behavior.Keywords: adequate sleep; college students; sleep intention; structural equation modelling; theory of planned behavior AbstrakTidur cukup sangat penting bagi manusia dan kurangnya waktu tidur dapat menyebabkan berbagai dampak negatif. Pada penelitian sebelumnya, ditemukan bahwa mahasiswa sering mengalami kesulitan dan memiliki intensi yang rendah untuk tidur cukup karena berbagai faktor. Penelitian ini bertujuan untuk melihat peran faktor-faktor yang mendasari intensi tidur cukup berdasarkan Theory of Planned Behavior pada mahasiswa, yaitu attitude toward behavior, subjective norm, dan perceived behavioral control. Partisipan pada penelitian ini adalah 600 mahasiswa salah satu perguruan tinggi negeri di Indonesia. Data diperoleh dengan menggunakan kuesioner yang diadaptasi dari Theory of Planned Behavior Questionnaire (α=0,793) dan dianalisis secara statistik dengan Structural Equation Modeling serta Kruskal-Wallis. Hasil menunjukkan bahwa attitude toward behavior, subjective norm, dan perceived behavioral control berperan secara signifikan terhadap intensi tidur cukup mahasiswa. Adapun faktor yang memiliki peran terbesar dalam memprediksi intensi tidur cukup pada mahasiswa adalah attitude toward behavior. Melalui hasil penelitian ini, para praktisi dapat menyasar sikap mahasiswa terhadap perilaku tidur cukup saat hendak merancang intervensi tidur cukup pada mahasiswa.Kata kunci: intensi; mahasiswa; structural equation modelling; theory of planned behavior; tidur cukup
Endang Parahyanti, Don Ozzy Rihhandini, Afiyah Tsarwat Zharifah
Persona:jurnal Psikologi Indonesia, Volume 11, pp 41-57; https://doi.org/10.30996/persona.v11i1.6580

Abstract:
Millennial employees experience twice as much boredom at work as the previous generation. They often feel bored because lack of challenges and meaning in work and perceive their work as underloading. This study aimed to examine the mediating role of positive meaning in work in the relationship between the perception of underload work and boredom at work and to see whether that mediation relationship depends on increasing challenging job demands. The instruments used are boredom at work scale ( = 0.714), perception of underload work ( = 0.75), positive meaning in work ( = 0.87), and increasing challenging job demands ( = 0.83).  The sampling technique used was purposive sampling with the characteristic employee born from 1982 to 1999 who had already worked at their current job for a minimum of six months. Data analysis used PROCESS HAYES model 4 for the mediation model and model 14 for the moderation mediation model. Data obtained from 327 participants showed that positive meaning in work mediated the relationship between the perception of underload work and boredom at work, and increasing challenging job demands had also been found as a moderating role in the relationship between positive meaning in work and boredom at work. Keywords:  boredom at work; increasing challenging job demands; perception of underload work; positive meaning in work; millennials.Abstrak Karyawan milenial mengalami kebosanan kerja dua kali lebih sering dibandingkan generasi-generasi sebelumnya. Karyawan milenial sering merasa bosan karena kurangnya tantangan dan makna di dalam pekerjaannya, serta mempersepsikan pekerjaan mereka memiliki beban kerja yang rendah. Penelitian ini bertujuan untuk melihat peran mediasi positive meaning in work dalam hubungan antara persepsi beban kerja rendah dan kebosanan kerja, serta untuk melihat hubungan mediasi tersebut apakah tergantung dari increasingchallenging job demands. Instrumen yang digunakan adalah skala kebosanan kerja (∝ = 0.714), persepsi beban kerja rendah (∝ = 0.75), positive meaning in work (∝ = 0.87), dan increasing challenging job demands (∝ = 0.83). Teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling dengan kriteria karyawan yang lahir pada tahun 1982-1999 dan telah bekerja minimal 6 bulan pada pekerjaan saat ini. Analisis data menggunakan PROCESS HAYES model 4 untuk model mediasi dan model 14 untuk model mediasi moderasi. Data dari 327 partisipan menunjukkan bahwa positive meaning in work memediasi hubungan antara persepsi beban kerja rendah dan kebosanan kerja dan increasing challenging job demands juga ditemukan memiliki peran moderasi dalam hubungan positive meaning in work dan kebosanan kerja. Kata Kunci:  kebosanan di tempat kerja; increasing challenging job demands; persepsi beban kerja rendah; positive meaning in work; millennial.
Febi Ayu Milka Angelica,
Persona:jurnal Psikologi Indonesia, Volume 11, pp 107-122; https://doi.org/10.30996/persona.v11i1.6294

Abstract:
AbstractThe high divorce rate in Indonesia becomes a social phenomenon, especially during the COVID-19 pandemic. Pandemic situation puts tension on married life, which can reduce marital satisfaction which is one of the predictors of divorce. This quantitative study aims to explore the influence of each emotion regulation strategy, namely cognitive reappraisal and expressive suppression on marital satisfaction among married individuals in Indonesia. This study was conducted on 166 participants using Emotion Regulation Questionnaire (ERQ) (α reappraisal = 0,676, α suppression = 0,729) and Relationship Assessment Scale (RAS) (α = 0,827) to measure emotion regulation strategy and marital satisfaction of each participant. Data from a sample were analyzed with multiple hierarchy regression tests, Pearson correlation, and independent sample t-test. The results showed that cognitive reappraisal strategies contributed significantly to marital satisfaction, and expressive suppression contributed significantly only to men, while in women there was no meaningful contribution. This study is expected to provide useful findings in regulating emotions in couples, especially those that are gender sensitive, in order to increase marital satisfaction.Keywords: COVID-19 pandemic; emotion regulation strategy; marital satisfaction AbstrakTingginya angka perceraian di Indonesia menjadi fenomena sosial, khususnya di masa pandemi COVID-19. Situasi pandemi memberikan tekanan dalam kehidupan pernikahan, sehingga dapat menurunkan kepuasan pernikahan yang merupakan salah satu prediktor dari perceraian. Penelitian kuantitatif ini memiliki tujuan untuk mengeksplor pengaruh masing-masing strategi regulasi emosi, yaitu cognitive reappraisal dan expressive suppression terhadap kepuasan pernikahan pada individu menikah di Indonesia. Penelitian ini dilakukan pada 166 partisipan dengan menggunakan Emotion Regulation Questionnaire (ERQ) (α reappraisal = 0,676, α suppression = 0,729) dan Relationship Assessment Scale (RAS) (α = 0,827) untuk mengukur strategi regulasi emosi dan kepuasan pernikahan dari masing-masing partisipan. Data dari sampel dianalisis dengan uji regresi hierarki berganda, korelasi Pearson, dan independent sample t-test. Hasil studi menunjukkan bahwa strategi cognitive reappraisal memberikan kontribusi yang positif secara signifikan terhadap kepuasan pernikahan dan expressive suppression memberikan kontribusi yang signifikan hanya pada lelaki, sedangkan pada perempuan tidak ditemukan kontribusi yang berarti. Studi ini diharapkan dapat memberi temuan yang bermanfaat dalam meregulasi emosi pada pasangan, khususnya yang sensitif berdasarkan gender, demi meningkatkan kepuasan pernikahan.Kata Kunci:  kepuasan pernikahan; pandemic COVID-19; strategi regulasi emosi
Rosa Kartikarini Kartikarini, Margaretha Purwanti
Persona:jurnal Psikologi Indonesia, Volume 11, pp 20-40; https://doi.org/10.30996/persona.v11i1.6142

Abstract:
Due to the social restrictions during the covid-19 pandemic, making friends has become a challenge for students studying from home. This study aims to describe and examine the correlation between self-disclosure, social self-efficacy, and friendship status. Participants (N = 221) were freshman students of the 2021 cohort from Universities in Jabodetabek. Data was collected with convenience sampling and analysed using descriptive analysis and correlation. The measurement instrument used in this study was Self-Efficacy Scale in Personal Relationship (α=0.927), the Revised Self-Disclosure Scale (α=0.801), and the friendship status category. Results indicate that social self-efficacy and self-disclosure were fairly high among freshman students and the majority of friendship status was in the first initiation step. One-Way ANOVA showed that there is a significant difference in social self-efficacy and self-disclosure between friendship status. Spearman Correlation showed that there is a significant positive correlation between social self-efficacy, self-disclosure, and friendship status. Keywords:freshman college students; friendship status; self-disclosure; social self-efficacy AbstrakPandemi Covid-19 membuat pembentukan pertemanan semakin menantang karena interaksi mahasiswa mayoritas dilaksanakan secara daring. Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran social self-efficacy (SSE), self-disclosure, dan status pertemanan dalam membangun pertemanan pada mahasiswa baru angkatan 2021 di Jabodetabek. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif komparasi dan korelasi. Instrumen penelitian menggunakan alat ukur Self-Efficacy Scale in Personal Relationship (α=0.927), Revised Self-Disclosure Scale (α=0.801), dan Kategori Status Pertemanan yang telah melalui proses adaptasi dengan expert judgement dan face validity. Responden terdiri dari 221 mahasiswa baru dari universitas di Jabodetabek yang dipilih dengan teknik convenience sampling. Berdasarkan analisis statistik deskriptif ditemukan bahwa SSE dan self-disclosure pada kategori cukup tinggi, dan status pertemanan berada pada tahap pertama yaitu inisiasi. Uji One-Way ANOVA menunjukkan terdapat perbedaan signifikan pada SSE dan self-disclosure berdasarkan status pertemanan. Uji Korelasi Spearman ditemukan hubungan positif yang signifikan antara SSE dengan self-disclosure, SSE dengan status pertemanan, dan self-disclosure dengan status pertemanan. Keywords:mahasiswa baru; self-disclosure; social self-efficacy; status pertemanan
Agung Minto Wahyu, Fia Nurfitriana, Panji Galih Anugrah, Achmad Miftcahul 'Ilmi, Hanif Samsu Angga Risky, Aji Bagus Priyambodo
Persona:jurnal Psikologi Indonesia, Volume 11, pp 123-139; https://doi.org/10.30996/persona.v11i1.6275

Abstract:
 AbstractThe prevalence of recidivist tendencies in convicts of burglary cases in Pasuruan is still high. There needs to be a special intervention to reduce the recidivism tendency. The aims of this study were 1) to explore the recidivist behavior of the robbery case in Pasuruan; 2) to develop an effective spiritual value-based cognitive behavioral psychotherapy model for prisoners of burglary cases in Pasuruan. The method used is development research with ADDIE stages (Analysis, Design, Development, Implementation, and Evaluation). The results showed that 1) the results of the exploration of recidivist behavior that were manifested in the analysis of the S-O-R-C function showed that recidivist prisoners had low self-regulation and had a lot of irrational thoughts on cognitive aspects, and had spiritual values ​​that had not been internalized; 2) the results of developing a spiritual value-based cognitive behavioral psychotherapy model in five sessions in the form of modules have been highly validated by experts and potential users. The results of the limited group trial showed differences in self-regulation of recidivist subjects before and after being given psychotherapy (p<0.05). Thus, it can be concluded that the psychotherapeutic model developed is effective in increasing the self-regulation of delinquent recidivists.Keywords: Cognitive behavioral psychotherapy; recidivist; spiritual value; self-regulation; spoliationAbstrakPrevalensi kecenderungan residivis pada narapidana kasus pembegalan di Pasuruan masih tinggi. Perlu ada intervensi khusus untuk mengurangi kecenderungan residivis tersebut. Tujuan penelitian ini adalah 1) mengeksplorasi perilaku residivis kasus pembegalan di Pasuruan; 2) mengembangkan model psikoterapi kognitif perilaku berbasis nilai spiritual yang efektif bagi narapidana kasus pembegalan di Pasuruan. Metode yang digunakan adalah penelitian pengembangan dengan tahapan ADDIE (Analysis, Design, Development, Implementation, dan Evaluation). Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) hasil eksplorasi perilaku residivis yang diwujudkan pada analisis fungsi S-O-R-C menunjukkan bahwa narapidana residivis memiliki regulasi diri rendah dan memiliki banyak pemikiran irasional pada aspek kognitif, serta memiliki nilai spiritual yang belum terinternalisasi; 2) hasil pengembangan model psikoterapi kognitif perilaku berbasis nilai spiritual dalam lima sesi yang berwujud modul telah tervalidasi sangat tinggi oleh ahli dan calon pengguna. Hasil uji coba kelompok terbatas menunjukkan bahwa ada perbedaan regulasi diri subjek residivis sebelum dan sesudah diberikan psikoterapi (p<0,05). Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa model psikoterapi yang dikembangkan efektif dalam meningkatkan regulasi diri residivis pembegalan.Kata kunci:nilai spiritual; pembegalan; psikoterapi kognitif perilaku; regulasi diri; residivis
Luthfiasari Sekar Fatimah, Edilburga Saptandari
Persona:jurnal Psikologi Indonesia, Volume 11, pp 58-73; https://doi.org/10.30996/persona.v11i1.5773

Abstract:
Student engagement is influenced by external factors such as parental support and internal factors such as belief about the malleability of one’s own ability (growth mindset). This research examines the effect of parental support and a growth mindset on student engagement among junior high school students who conducted online learning. The data of this quantitative research were collected through an online survey of junior high school students in Indonesia (n = 434, male = 148) using three scales: (1) Student Engagement in E-learning Environment, (2) Growth mindset, and (3) Perceived Parental Academic Support Scale. The data was then analysed using multiple regression. The result showed that a growth mindset and parental support significantly affect student engagement during online learning both together or partially. This study's results positively impact the development of distance learning through parental support and a growth mindset. Parents need to pay attention to the dimensions of social support. This study also becomes recommendation for schools to provide home-based learning programs that involve interaction and discussion between students and parents. It can be a positive input for teachers to implement feedback strategies that focus on improving behaviour.Keywords: COVID-19; Growth mindset; Online learning; Parental support; Student engagement  AbstrakAdanya keterlibatan siswa dapat dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti dukungan orang tua dan faktor internal seperti keyakinan bahwa kemampuan dan potensi diri dapat dikembangkan (growth mindset). Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap peran dukungan orang tua dan growth mindset terhadap keterlibatan siswa SMP di Indonesia. Penelitian ini bersifat kuantitatif dengan metode pengumpulan data berupa survei melalui skala yang disebar secara daring pada siswa SMP di Indonesia yang menjalani pembelajaran PJJ (n = 434; laki-laki = 148).  Adapun skala yang digunakan adalah (1) student engagement in e-learning environment, (2) Skala growth mindset, dan (3) Perceived Parental Academic Support Scale. Data yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan analisis regresi berganda. Hasil menunjukkan dukungan orang tua dan growth mindset berpengaruh signifikan terhadap keterlibatan siswa SMP selama pembelajaran jarak jauh baik secara bersama-sama maupun sendiri-sendiri. Penelitian ini memiliki dampak positif pada perkembangan pembelajaran jarak jauh melalui dukungan orang tua dan growth mindset. Orang tua perlu memperhatikan dimensi-dimensi dukungan sosial. Penelitian ini juga menjadi rekomendasi bagi Pihak sekolah untuk memberikan program pembelajaran berbasis aktivitas di rumah (home based learning) yang melibatkan interaksi dan diskusi antara siswa dengan orang tua, serta dapat menjadi input bagi guru untuk menerapkan strategi pemberian umpan balik yang berfokus pada perbaikan perilaku maupun hasil pekerjaan.Kata Kunci: COVID-19; Dukungan orang tua; Growth mindset; Keterlibatan siswa; Pembelajaran daring
Sri Aryanti Kristianingsih, Maria Nugraheni Mardi Rahayu, Agung Setiyawan
Persona:jurnal Psikologi Indonesia, Volume 11, pp 86-106; https://doi.org/10.30996/persona.v11i1.6362

Abstract:
This study aims to determine whether there is a simultaneous influence of social support and cultural orientation on the stress level of correctional inmates in Rutan Class II B Salatiga. One hundred thirty-two prisoners participated in the study. This study used a quantitative approach with regression analysis to answer the research objectives. The measuring tools are the Social Support Scale (α=0,912), Cultural Orientation Scale (α=0,722), and DASS-21 (α=0,846). The results showed no significant effect between social support and cultural orientation on the stress level of WBP in Salatiga Rutan. The results of the descriptive analysis showed that most of the participants' stress and social support were moderate, and all participants had a high vertical collectivism cultural orientation. So, the detention center needs to pay attention to the condition of the inmate's stress level and minimize the factors that can affect stress. Keywords: stress, social support, culture orientation, correctional inmates, COVID-19 pandemic  Abstrak Penelitian ini bermaksud untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh dukungan sosial dan orientasi budaya secara simultan dengan tingkat stres Warga Binaan Pemasyarakatan di Rutan Klas II B Salatiga. Sebanyak 132 orang Warga Binaan Pemasyarakatan menjadi partisipan. Pendekatan kuantitatif dengan analisis regresi berganda untuk menjawab pertanyaan penelitian. Skala pengukuran yang digunakan adalah Social Support Scale (α=0,912), Cultural Orientation Scale (α=0,722), dan DASS-21 (α=0,846). Dari hasil penelitian disimpulkan tidak terdapat pengaruh yang signifikan secara simultan antara dukungan sosial dan orientasi budaya dengan tingkat stres Warga Binaan Pemasyarakatan. Hasil analisis deskriptif menunjukkan bahwa stres maupun dukungan sosial sebagian besar partisipan berada pada tingkat sedang dan seluruh partisipan memiliki orientasi budaya vertical collectivism pada taraf tinggi. Untuk itu pihak Rutan perlu memperhatikan kondisi kesehatan mental Warga Binaan Pemasyarakatan dan meminimalkan faktor-faktor yang dapat mempengaruhinya. Kata kunci: tingkat stres, dukungan sosial, orientasi budaya, warga binaan pemasyarakatan, pandemi COVID-19
Nanik Nanik, Edwin Adrianta Surijah, Lina Natalya, Mery Chrisyanti
Persona:jurnal Psikologi Indonesia, Volume 11, pp 1-19; https://doi.org/10.30996/persona.v11i1.5255

Abstract:
The number of single women in Indonesia is increasing, but single women in Indonesia are also vulnerable to negative stereotypes. Unpleasant experiences experienced by single women can have a negative impact. This study examines the association between negative stereotypes and psychological well-being and the mediating effect of fear of being single. The study participants were 196 single women aged 25 – 55 years, had completed their high school, and staying in Indonesia. Participants reported their experiences as single such as psychological well-being, happiness, negative stereotypes, fear of being single, dating experience, and desire to marry. Those experiences were measured by Ryff’s psychological well-being scale (α=0,80), Pignotti’s & Abell’s negative stereotyping of single persons scale(α=0,754-0,88) , Spielman’s fear of being scale (α=0,829), conscientiousness of BFI personality scale (α=0,821) and open questionnaire. Linear regression analysis was performed to test the relationship between variables. The results show that negative stereotypes reduce the psychological well-being of single women in Indonesia, and the fear of being single mediates the association between the two variables. Findings of this study indicate the need for social change to replace unfavourable labels received by single women in Indonesia and provide information for improving the psychological well-being of single Indonesian women.Keywords: fear of being single; negative stereotypes; psychological well-being; single womenAbstrakJumlah perempuan lajang di Indonesia semakin meningkat, namun perempuan lajang di Indonesia juga rentan mengalami stereotip negatif. Pengalaman tidak menyenangkan yang dialami perempuan lajang ini dapat membawa dampak negatif. Penelitian ini mengkaji asosiasi antara stereotip negatif dan kesejahteraan psikologis serta efek mediasi dari ketakutan menjadi lajang.  Partisipan penelitian adalah 196 perempuan lajang berusia 25 – 55 tahun, berpendidikan minimal setara dengan SMA dan berdomisili di Indonesia yang melaporkan pengalaman sebagai lajang seperti kesejahteraan psikologis, kebahagiaan, stereotip negatif, ketakutan menjadi lajang, pengalaman berpacaran, dan keinginan untuk menikah. Pengalaman partisipan diukur dengan skala kesejahteraan psikologis Ryff (α=0,80), skala  stereotip negatif  individu lajang Pignotti dan Abell (α=0,754-0,88), skala fear of being single Spielman (α=0,829),  skala BFI kepribadian conscientiousness (α=0,821).   Analisis regresi linear dilakukan untuk menguji hubungan antar variabel. Hasil menunjukkan stereotip negatif menurunkan kesejahteraan psikologis perempuan lajang di Indonesia dan ketakutan menjadi lajang memediasi asosiasi kedua variabel tersebut. Temuan penelitian ini menunjukkan perlunya perubahan sosial untuk mengganti label buruk yang diterima perempuan lajang di Indonesia serta menjadi informasi bagi peningkatan kesejahteraan psikologis perempuan lajang Indonesia.Kata kunci: ketakutan menjadi lajang; kesejahteraan psikologis; perempuan lajang; stereotip negatif
Roy Surya, Stevanny Angela, Timothy Ryan
Persona:jurnal Psikologi Indonesia, Volume 10, pp 297-317; https://doi.org/10.30996/persona.v10i2.5552

Abstract:
Various studies have been conducted to determine human personality, then there are various theories and personality scales. IPIP-BFM-50 is open source and has been used around the world. The aims of this research is to validate IPIP-BFM-50 with rasch model. The sample used was 359 students from University of Surabaya, with an age range 17-23 years. This research used simple random sampling. The outfit-infit statistic results vary from 0.5-1.5 (except C-28), person-item reliability is above 0.7, the passable dimesionality measure.. There are several items that indicate bias based on DIF measurement: EM-44, EM-14, EM-29, EM-9, E-6, E41, C-38, A-32, and I-30. There are some items on the dimensions of emotional stability, extraversion,conscientiousness, agreeableness, and intellect with less varied levels of DIFficulty. Researche proposed choice to rework this instrument in the terms for fixed its item bias and wider its variability (DIFfuculties hierarchy). This studies also implies on similar studies to use both CTT and rasch model simultaneously for gain richer psychometrics information.Keywords: IPIP-BFM-50; Personality; Rasch Model  AbstrakBerbagai penelitian telah dilakukan untuk mengetahui kepribadian manusia, yang kemudian muncul berbagai teori dan alat ukur kepribadian. IPIP-BFM-50 merupakan salah satu alat ukur kepribadian open source dan telah banyak digunakan di seluruh dunia. Penelitian ini memiliki tujuan melengkapi studi validasi IPIP BFM-50 sebelumnya, dengan menggunakan rasch model . Sampel yang digunakan yaitu 359 mahasiswa Universitas Surabaya, dengan usia 17-23 tahun. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik simple random sampling. Diperoleh hasil outfit-infit seluruh butir yang bervariasi pada 0.5 – 1.5 (kecuali C-28), reliabilitas person-item pada semua dimensi dari alat ukur ini diatas 0.7, hasil uji dimensionalitas yang cukup memuaskan. Terdapat beberapa butir yang terindikasi bias yaitu butir EM-44,  EM-14, EM-29, EM-9, E-6, E41, C-38, A-32, dan I-30. Beberapa butir pada dimensi emotional stability, extraversion, dan conscientiousness, agreeableness, dan intellect memiliki tingkat kesulitannya kurang bervariasi. Peneliti menyarankan untuk melakukan revisi dari instrumen ini apabila berkeinginan untuk memperbaiki butir yang diindikasi mengalami bias dan memperluas variasi tingkat kesulitan butir. Studi ini juga berimplimkasi pada studi serupa berikutnya terkait validasi dan adaptasi untuk menggunakan kedua paradigma CTT dan rasch model sehingga mendapatkan informasi psikometris yang lebih banyak dan sempurna.Kata kunci: IPIP-BFM-50; Kepribadian; Rasch Model
Dwi Angriyani
Persona:jurnal Psikologi Indonesia, Volume 10, pp 187-206; https://doi.org/10.30996/persona.v10i2.4844

Abstract:
Non-communicable diseases cause around 70% of deaths in the world due to health risk behaviours. Several studies reveal that health risk behaviours are associated with personality traits possessed by individuals. The purpose of this study was to determine the correlation between personality traits and health risk behaviour. This study uses a quantitative approach with a cross-sectional study design. The number of research samples was 399 first-year students who were taken using a simple random sampling technique. The research instrument used the big five personality test (α= 0.829) and the health risk behaviour inventory (α=0.784). The results of the Pearson correlation test showed that the five personality traits were negatively correlated with physical activity; neuroticism, openness, and conscientiousness traits were negatively correlated with eating and sleeping habits; extraversion and openness traits correlated with alcohol consumption; whereas smoking is correlated with conscientiousness, and use of drugs is correlated with agreeableness, both in the direction of negative correlation. Further research is needed to include other factors that can influence whether there is a correlation or the direction of correlation between variables.Keywords: five-factor model; college student; health risk behaviour; personality traits AbstrakSekitar 70% kematian di dunia diakibatkan oleh penyakit-penyakit tidak menular yang dapat terjadi karena perilaku berisiko kesehatan. Sejumlah penelitian mengungkapkan bahwa perilaku berisiko kesehatan yang dilakukan berkaitan dengan trait kepribadian yang dimiliki individu. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui korelasi antara trait kepribadian dengan perilaku berisiko kesehatan (health risk behavior). Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain studi cross-sectional. Jumlah sampel penelitian sebanyak 399 orang mahasiswa tahun pertama yang diambil menggunakan teknik simple random sampling. Instrumen penelitian menggunakan the big five personality test (α= 0.829) dan health risk behavior inventory (α=0.784). Hasil uji korelasi Pearson menunjukkan bahwa kelima trait kepribadian berkorelasi negatif dengan aktivitas fisik; trait neuroticism, openness dan conscientiousness berkorelasi negatif dengan kebiasaan/pola makan dan kebiasaan tidur; trait extraversion dan openness berkorelasi dengan konsumsi alkohol; sedangkan merokok berkorelasi dengan conscientiousness; dan penggunaan obat-obatan berkorelasi dengan agreeableness, keduanya dengan arah korelasi negatif.Penelitian secara lebih lanjut diperlukan dengan mengikutsertakan faktor-faktor lain yang memiliki kemungkinan dalam mempengaruhi ada tidaknya korelasi ataupun arah korelasi antar variabel.Kata kunci: five-factor model; mahasiswa; trait kepribadian; health risk behavior
Clement Eko Prasetio, Airin Triwahyuni
Persona:jurnal Psikologi Indonesia, Volume 10, pp 224-245; https://doi.org/10.30996/persona.v10i2.5178

Abstract:
Students face many demands, both academically and psychologically. The number of demands makes students vulnerable to psychological disorders. Psychological disorders have a negative impact on the lives of students and also the people around them. Students who have social support are thought to have a lower risk of experiencing psychological disorders. This study aims to determine the role of self-esteem as a mediator between social support and psychological disorders. Research participants were 376 students from second to fourth year in a Faculty at X University. Research measurement tools which were used in this study, consist of Perceived Social Support Friends (α =0,860) and Family (α =0,902); Rosenberg Self-Esteem's Scale (α =0,871); and Self-Report Questionnaire (α =0,860). Simple mediation analysis using SPSS, especially PROCESS were used for analyzing the results. The results of the analysis show that self-esteem can mediate the relationship between social support from friends and family with psychological disorders in undergraduate students. The implications of the research results are also discussed. Keywords: College Student; Mediation; Perceived Social Support; Psychological Problems; Self-Esteem AbstrakMahasiswa menghadapi banyak tuntutan, baik secara akademik maupun psikologis. Banyaknya tuntutan membuat mahasiswa rentan mengalami gangguan psikologis. Gangguan psikologis berdampak negatif bagi kehidupan mahasiswa dan juga orang-orang disekitarnya. Mahasiswa yang memiliki dukungan sosial diduga memiliki risiko lebih rendah untuk mengalami gangguan psikologis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran self-esteem sebagai mediator antara dukungan sosial dengan gangguan psikologis. Sebanyak 376 mahasiswa angkatan 2016-2018 pada sebuah fakultas di Universitas X menjadi partisipan penelitian. Alat ukur penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Perceived Social Support Scale Friend (α =0,860) and Family (α =0,902); Rosenberg Self-Esteem’s Scale (α =0,871); dan Self-Report Questionnaire-20 (α =0,860). Teknik analisis yang digunakan adalah analisis mediasi sederhana dengan menggunakan SPSS, khususnya PROCESS. Hasil analisis menunjukkan bahwa self-esteem dapat memediasi hubungan antara dukungan sosial teman dan keluarga dengan gangguan psikologis pada mahasiswa. Implikasi dari hasil penelitian juga ikut serta dibahas.Kata Kunci: Dukungan Sosial; Gangguan Psikologis; Self-Esteem; Mahasiswa; Mediasi
Salfira Salsabilla, Charyna Ayu Rizkyanti, Yusuf Hadi Yudha
Persona:jurnal Psikologi Indonesia, Volume 10, pp 207-223; https://doi.org/10.30996/persona.v10i2.5351

Abstract:
The pandemic COVID-19 situation has made various activities changes, particularly with the implementation of the stay-at-home policy. One of the impacts is on the relationship between parents and children, such as the increased conflict between parents and children. In this research, we investigate how empathy in adolescents may give an impact conflict between parents and children frequency through family communication patterns. By using volunteer (opt-in) panels methods, a total of 566 adolescents (Mage = 17.21, SD = 1.82) completed questionnaire of Parental Environment Questionnaire (α = .86), Basic Empathy Scale (αaffective = .78, αcognitive = 0.75), and The Revised Family Communication Patterns (αconversation = .88, αconformity = 0.78) that has been translated into Bahasa Indonesia. The result showed that family communication patterns mediate the correlation between empathy in the adolescent with parent-child conflict. This research highlights the importance of empathy by having an open conversation among family members to reduce conflict between parent and child, particularly during the stay-at-home situation.Keyword: Adolescent; empathy; family communication pattern; parent-child conflict; stay at homeAbstrakKondisi pandemi COVID-19 saat ini membuat berbagai aktifitas menjadi berubah terutama dengan diberlakukannya kebijakan stay at home. Salah satu dampak yang terjadi terkait dengan hubungan orang tua dan anak, seperti meningkatnya konflik antara orang tua dan anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pengaruh empati pada remaja dengan frekuensi konflik orang tua dan anak melalui family communication patterns yang diterapkan di dalam keluarga. Penelitian ini melibatkan 566 remaja (Musia = 17.21, SD = 1.82) yang dipilih menggunakan metode volunteer (opt-in) panels. Partisipan diminta mengisi kuesioner dengan alat ukur Parental Environment Questionnaire (α = .86), Basic Empathy Scale (αafektif = .78, αkognitif = 0.75), dan The Revised Family Communication Patterns (αconversation = .88, αconformity = 0.78) yang sudah diadaptasikan ke dalam Bahasa Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa family communication patterns dapat menjadi mediator dalam hubungan antara empati pada remaja dengan konflik orang tua-anak. Penelitian ini menyoroti pentingnya empati yang ditunjukkan melalui komunikasi terbuka antara anggota keluarga untuk menurunkan konflik anak dan orang tua, terutama pada masa stay at home. Kata kunci: Empati; family communication patterns; konflik orang tua-anak; remaja; stay at home 
Anindita Chairina, Linda Primana
Persona:jurnal Psikologi Indonesia, Volume 10, pp 278-296; https://doi.org/10.30996/persona.v10i2.5508

Abstract:
To overcome adversities during Pembelajaran Jarak Jauh or long-distance learning, students need to develop academic buoyancy, described as ‘the ability to deal with daily academic setbacks and challenges. Parents’ role during PJJ is important since students spend more time at home. This study aims to investigates the relationship between strength-based parenting and academic buoyancy through academic self-efficacy, social self-efficacy, and emotional self-efficacy. 238 high school students in Indonesia participated in this study. Strength-Based Parenting Scale(α=0,941), Self-Efficacy Questionnaire for Children[α=0,790 (akademik), α=0,774 (sosial), α=0,817 (emosional)], and Academic Buoyancy Scale(α=0,564) were used to measure the variables. The results showed that academic self-efficacy and emotional self-efficacy serve as unique mediators in the relationship between SBP and academic buoyancy. Meanwhile, the role of social self-efficacy as a mediator is not significant. When parents identify and cultivate their children’s strengths, children will believe in their ability to carry out academic tasks and deal with negative emotions, which in turn help them overcome setbacks and challenges during PJJ.Keywords: Academic buoyancy; academic self-efficacy; emotional self-efficacy; social self-efficacy; strength-based parenting AbstrakDalam menghadapi tantangan selama proses Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) dalam masa Pandemi Covid-19, peserta didik perlu mengembangkan academic buoyancy, yaitu kemampuan untuk mengatasi kemunduran dan tantangan akademis sehari-hari. Peran orang tua selama pandemi menjadi penting karena peserta didik lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah strength-based parenting, sebuah pendekatan pengasuhan yang menekankan pada identifikasi dan pengembangan kekuatan anak, dapat memprediksi academic buoyancy melalui efikasi diri akademik, efikasi diri sosial, dan efikasi diri emosional. Penelitian melibatkan 238 peserta didik tingkat SMA di Indonesia melalui teknik convenience sampling. Alat ukur yang digunakan adalah Strength-Based Parenting Scale (α=0,941), Self-Efficacy Questionnaire for Children [α=0,790 (akademik), α=0,774 (sosial), α=0,817 (emosional)], dan Academic Buoyancy Scale (α=0,564). Hasil penelitian menunjukkan bahwa efikasi diri akademik dan efikasi diri emosional masing-masing memediasi hubungan antara SBP dan academic buoyancy secara signifikan. Efikasi diri sosial tidak ditemukan memiliki peran mediasi. Ketika orang tua mengenali dan mengembangkan kekuatan yang peserta didik miliki, maka peserta didik akan yakin dengan kemampuannya untuk melakukan tugas akademis dan dapat mengatasi emosi negatifnya. Dengan demikian, peserta didik lebih mudah mengatasi kemunduran dan tantangan akademis yang dialami selama PJJ.Kata kunci: Academic buoyancy; efikasi diri akademik; efikasi diri emosional; efikasi diri sosial; strength-based parenting
Rr. Amanda Pasca Rini, Amherstia Pasca Rina, Indra Prastyo, Klaudia Mustika Wungu
Persona:jurnal Psikologi Indonesia, Volume 10, pp 246-261; https://doi.org/10.30996/persona.v10i2.5419

Abstract:
AbstractThe aggressiveness of soldiers is a phenomenon that is rife in this country. The purpose of this study is to be able to describe how the relationship between the spirit of a soldier's corps and the anxiety felt by a soldier about the aggressiveness he does so that a way out of the aggressiveness problem is carried out by a soldier. The subjects of this study were 120 soldiers of the Indonesian Army. The sampling technique used to determine the subject is a random sampling technique. The results show that the spirit of corporal and anxiety together can have a very significant influence on the aggressiveness of soldiers in the TNI AD environment. Shows that the corporal spirit and high anxiety when present in TNI AD soldiers in inappropriate conditions or situations can lead to aggressiveness which has an impact on causing unrest in the community.Keywords: Aggressiveness; Korsa Soul; Anxiety; Army SoldierAbstrakAgresivitas prajurit TNI merupakan Fenomena yang marak terjadi di negeri ini. Tujuan penelitian ini yaitu mampu menggambarkan bagaimana hubungan jiwa korsa seorang prajurit dan kecemasan yang dirasakan seorang prajurit terhadap agresivitas yang dialakukannya sehingga didapatkan jalan keluar dari permasalahan agresivitas yang dilakukan oleh seorang prajurit TNI.  Subyek penelitian ini adalah 120 prajurit TNI AD. Teknik sampling yang digunakan untuk menentukan subjek ialah teknik random sampling  Hasil penelitian  menunjukkan  bahwa  jiwa  korsa  dan  kecemasan  secara  bersama -sama  dapat memberikan pengaruh yang sangat signifikan pada agresiftas prajurit di lingkungan TNI AD. Menunjukkan bahwa jiwa korsa dan kecemasan yang tinggi bila ada dalam diri prajurit TNI AD pada kondisi atau situasi yang tidak tepat dapat menimbulkan terjadinya agresivitas yang berdampak pada menimbulkan keresahan pada msyarakat. Kata Kunci: Agresivitas; Jiwa Korsa; Kecemasan; Prajurit TNI AD
Annisa Ardi Ayuningtyas, Avin Fadilla Helmi,
Persona:jurnal Psikologi Indonesia, Volume 10, pp 262-277; https://doi.org/10.30996/persona.v10i2.5471

Abstract:
This study aims to adapt and validate the Intolerance of Uncertainty Scale-12 in a group of married individuals in Indonesia during the pandemic of Covid-19. Getting married is a significant transitional stage for individuals. Previous research has shown that married couples experience anxiety over their lives and family as a response to uncertain conditions. The Intolerance of Uncertainty Scale-12 is a scale to measure individual responses to uncertainty. However, as the best of researcher’s knowledge, there was no Indonesian version that has been culturally adapted and validated. This research used quantitative method and 203 participants participated in this study through snowball sampling. Data analysis utilized factor analysis with the exploratory factor analysis (EFA) and confirmatory factor analysis (CFA) to measure construct validity, Aiken’s V to measure content validity, and Cronbach’s Alpha to measure reliability. Results showed that model fit at the 4 factors according to χ2, RMSEA, SRMSR, CFI, and TLI scores. Those aspects are negative perception of uncertainty, desire for certainty, behavioral inhibition due to uncertainty, and helplessness toward uncertainty. Furthermore, explanation about the factors formation will be discussed.Keywords:adaptation, Indonesia, IUS-12, married individuals, validation AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengadaptasi dan memvalidasi the Intolerance of Uncertainty Scale-12 pada kelompok individu yang telah menikah di Indonesia selama pandemi Covid-19. Menikah merupakan tahap transisi yang cukup signifikan bagi individu. Penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa pasangan menikah mengalami kecemasan sebagai respon atas ketidakpastian. The Intolerance of Uncertainty Scale-12 merupakan skala untuk mengukur respon individu atas ketidakpastian namun sebatas pengetahuan peneliti, belum ada versi Bahasa Indonesia yang telah melalui proses adaptasi dan validasi. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan partisipan berjumlah 203 orang yang diperoleh dengan snowball sampling. Analisis data menggunakan analisis faktor dengan exploratory factor analysis (EFA) dan confirmatory factor analysis (CFA) untuk mengukur validitas konstruk, Aiken’s V untuk mengukur validitas isi, dan Cronbach’s Alpha untuk mengukur reliabilitas. Hasil analisis menunjukkan kesesuaian model dengan 4 faktor (aspek) didasarkan pada skor χ2, RMSEA, SRMSR, CFI, dan TLI. Aspek tersebut yaitu persepsi negatif terhadap ketidakpastian, hasrat akan kepastian, tindakan terhalangi oleh ketidakpastian, danketidakberdayaan menghadapi ketidakpastian. Lebih jauh lagi, terdapat penjelasan mengenai faktor-faktor yang terbentuk.Kata kunci: adaptasi, individu menikah, Indonesia, IUS-12, validasi
Andik Matulessy, Yuci Limanago, Mitory Ditya Rantika Elentina
Persona:jurnal Psikologi Indonesia, Volume 10, pp 318-332; https://doi.org/10.30996/persona.v10i2.5666

Abstract:
  Internal and external factors influence the tendency to corruption. This study aimed to examine the internal and external factors that cause corrupt behavior in private employees and the State Civil Apparatus. The first study involved 222 employees of private companies as research participants, while the second study involved 205 State Civil Apparatuses in East Java as research participants. The research data were taken using the corruption tendency scale (α = 0.911), Dark Triad Personality scale (α = 0.868), Organizational Culture scale (α = 0.883), Corruption behavior scale (α = 0.917), Religiosity scale (α = 0.896), and Compensation scale (α = 0.881 ) The results of the regression analysis in the first study showed that there was a significant simultaneous and partial correlation between the dark triad variables, organizational culture and corrupt behavior. The regression analysis results in the second study also showed a significant simultaneous and partial correlation between the variables of religiosity, compensation, and corrupt behavior. The practical implications of this research require that companies or institutions always minimize the dark triad personality, create positive perceptions of corporate culture, and increase religiosity to reduce the tendency to corruption. Keywords: compensation; dark triad personality; organizational culture; religiousity; tendency of corruption Abstrak  Kecenderungan untuk korupsi dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Tujuan penelitian ini untuk menguji faktor internal dan eksternal penyebab perilaku korupsi pada pegawai swasta maupun Aparatur Sipil Negara. Studi pertama melibatkan 222 pegawai perusahaan swasta sebagai partisipan penelitian, sedangkan studi kedua melibatkan 205 Aparatur Sipil Negara di Jawa Timur sebagai partisipan penelitian. Data penelitian diambil menggunakan skala kecenderungan korupsi (α=0,911), skala Dark Triad Personality (α=0,868), skala Budaya Organisasi (α=0,883), skala Perilaku Korupsi (α=0,917), skala Religiusitas (α=0,896), dan skala Kompensasi (α=0,881) Hasil analisis regresi pada studi pertama menunjukkan ada korelasi simultan dan parsial yang signifikan antara variabel dark triad, budaya organisasi dan perilaku korupsi. Hasil analisis regresi pada studi kedua juga menunjukkan ada korelasi simultan dan parsial yang signifikan antara variabel religiusitas, kompensasi dan perilaku korupsi. Implikasi praktis dari riset ini mengharuskan perusahaan atau lembaga selalu meminimalkan kepribadian dark triad, memunculkan persepsi positif pada budaya perusahaan, serta meningkatkan religiusitas untuk menurunkan kecenderungan untuk korupsi. Kata Kunci: Budaya organisasi; Dark triad personality; koMpensasi; Perilaku korupsi; Religiusitas
Igaa Noviekayati, Muhammad Farid, Lidya Nur Amana
Persona:jurnal Psikologi Indonesia, Volume 10, pp 104-118; https://doi.org/10.30996/persona.v10i1.4826

Abstract:
Inferiority feeling in adolescents who live in orphanages needs attention because if left unchecked it can cause adolescents to lose their potential. This study intends to examine the role of self-concept and social support on inferiority feelings. Participants in this study were 71 teenagers who were taken purposively from seven orphanages in Surabaya. The research data were taken using the inferiority feeling scale (?=0.874), the self-concept scale (?=0.935), and the social support scale (?=0.938) which were compiled by the researcher himself. The results of data analysis using multiple regression analysis show that self-concept and social support simultaneously have a negative effect on inferiority feeling. Partially both variables also have a significant negative effect on inferiority feeling. The implication of this research is as a basis of reference for caregivers, counsellors or the community in paying attention to the psychological needs of orphaned youth.Keywords: Inferiority Feeling; Self-concept; Social support AbstrakInferiority feeling pada remaja yang tinggal di panti asuhan perlu mendapatkan perhatian sebab jika dibiarkan dapat menyebabkan remaja kehilangan potensi dirinya. Penelitian ini bermaksud untuk menguji peranan konsep diri dan dukungan sosial terhadap inferiority feeling. Partisipan dalam penelitian ini sebanyak 71 remaja diambil dengan teknik purposive sampling dari tujuh panti asuhan di Surabaya. Data penelitian diambil menggunakan skala inferiority feeling (?=0,874), skala konsep diri (?=0,935), dan skala dukungan sosial (?=0,938) yang disusun sendiri oleh peneliti. Hasil analisis data menggunakan regresi ganda menunjukkan secara simultan konsep diri dan dukungan sosial memiliki pengaruh negatif terhadap inferiority feeling. Secara parsial kedua variabel juga memiliki pengaruh negatif yang signifikan terhadap inferiority feeling. Implikasi penelitian ini adalah sebagai dasar acuan kepada pengasuh, konselor ataupun masyarakat dalam memperhatikan kebutuhan psikologis remaja panti asuhan.Kata kunci: Dukungan sosial; Inferiority feeling; Konsep diri
Iffah Qonita, Tina Hayati Dahlan, Lira Fessia Damaianti
Persona:jurnal Psikologi Indonesia, Volume 10, pp 119-132; https://doi.org/10.30996/persona.v10i1.4531

Abstract:
Academic stress is something that is often experienced by students, especially with the change in the online learning system which is felt to put more academic pressure on students. This study aims to examine the contribution of academic self-concept to student engagement in online learning mediated by academic stress. Respondents (N = 356) students in Indonesia University of Education batch 2016 to 2019 completed questionnaire of The Academic Self-concept Scale (? = 0,74), The Online Student Engagement Scale (? = 0,90), and The Perception of Academic Stress Scale (? = 0,80). The sampling technique used is incidental sampling. The analyses technique using linear regression and multiple regression then continued with causal steps to find out whether academic stress can be a mediator in the contribution of academic self-concept to student engagement in online learning. The results of this study indicate that academic stress is not function as a mediator in contribution of academic self-concept to student engagement, because one of the requirements is not fulfilled. However, academic stress can be a predictor of academic self-concept and student engagement variables.Keywords: Online learning; Academic Self-concept; Student Engagement; Academic Stress. AbstrakStres akademik merupakan suatu hal yang sering dialami oleh mahasiswa, terlebih dengan adanya perubahan sistem perkuliahan menjadi daring yang dirasa lebih memberikan tekanan akademik kepada mahasiswa. Penelitian ini bertujuan untuk melihat kontribusi konsep diri akademik terhadap keterlibatan mahasiswa dalam perkuliahan daring yang dimediasi oleh stres akademik. Responden (N = 356) mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia dari angkatan 2016-2019 mengisi kuesioner Konsep Diri Akademik (? = 0,74), Keterlibatan Mahasiswa dalam Perkuliahan Daring (? = 0,90), dan Stres Akademik (? = 0,80). Teknik sampling yang digunakan adalah teknik incidental sampling. Teknik analisis data yang digunakan yaitu regresi sederhana dan regresi berganda kemudian dilanjut dengan analisis jalur atau causal steps untuk mengetahui apakah stres akademik dapat menjadi mediator pada kontribusi konsep diri akademik terhadap keterlibatan mahasiswa dalam perkuliahan daring. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa stres akademik tidak berperan sebagai mediator pada kontribusi konsep diri akademik terhadap keterlibatan mahasiswa, karena salah satu syarat uji mediasi tidak terpenuhi. Namun, stres akademik dapat menjadi prediktor pada masing-masing variabel yaitu variabel konsep diri akademik dan variabel keterlibatan mahasiswa. Kata kunci: Perkuliahan Daring; Konsep Diri Akademik; Keterlibatan Mahasiswa; Stres Akademik.
Freddy Freddy, Sri Lestari, Nanik Prihartanti
Persona:jurnal Psikologi Indonesia, Volume 10, pp 1-15; https://doi.org/10.30996/persona.v10i1.4321

Abstract:
Academic achievement is an important indicator of academic success. This study aims to analyze the effect of self-regulated learning in mediating the effect of parental involvement on academic achievement. Data collection for participants in this study (n = 206) was carried out using the convenience sampling technique. The validity of the items in the instrument was tested with the content validity index (CVI) and the reliability test used an internal consistency approach. The results of testing the validity of the parental involvement scale showed that the V Aiken coefficient ranged from 0.604-0.964 and Cronbach's alpha coefficient was 0.816, while the Motivated Strategy for Learning Questionnaire scale obtained the V Aiken coefficient between 0.821-0.928 with a Cronbach alpha coefficient value of 0.765 which met the validity and reliability requirements. Data analysis was performed using Structure Equation Modeling (SEM). Based on the research results that self-regulated learning mediates the effect of parental involvement on high school student academic achievement. The implication of this research is the importance of parental assistance in developing students' skills in planning and managing learning activities, not only on student achievement in academics.Keywords: academic achievement; high school students; parental involvement; self-regulated learning. Abstrak Prestasi akademik menjadi salah satu indikator penting dalam keberhasilan pendidikan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran self-regulated learning dalam memediasi pengaruh keterlibatan orang tua terhadap prestasi akademik siswa. Sebanyak 206 orang siswa SMA berpartisipasi dalam penelitian ini. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik convenience sampling. Validitas butir pernyataan dalam instrumen diuji dengan content validity index (CVI) dan uji reliabilitas menggunakan pendekatan konsistensi internal. Hasil pengujian validitas skala keterlibatan orang tua menunjukkan koefisien V Aiken berkisar 0,604-0,964 dan koefisien alfa Cronbach sebesar 0,816, sedangkan skala Motivated Strategy for Learning Questionnaire diperoleh koefisien V Aiken antara 0,821-0,928 dengan nilai koefisien alfa Cronbach sebesar 0,765 yang memenuhi persyaratan validitas dan reliabilitas. Data dianalisis dengan structure equation modelling (SEM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa self-regulated learning memediasi pengaruh keterlibatan orang tua terhadap prestasi akademik siswa SMA. Implikasi dari penelitian ini adalah pendampingan orang tua pada siswa difokuskan pada upaya mengembangkan keterampilan siswa dalam merencanakan dan mengelola kegiatan belajar, bukan hanya pada capaian akademik siswanya.Kata kunci: keterlibatan orang tua; prestasi akademik; self-regulated learning; siswa SMA
Adiyo Roebianto, Irene Guntur, Diana Lie
Persona:jurnal Psikologi Indonesia, Volume 10, pp 33-47; https://doi.org/10.30996/persona.v10i1.4622

Abstract:
Alat tes psikologi seperti tes minat umumnya dibuat berdasarkan teori-teori psikologi kontemporer. Hasil dari tes tersebut tentu perlu dilihat atau diuji secara empiris kesesuaiannya dengan kriteria yang diinginkan. Sejauh ini pengukuran tes minat di tingkatan Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) masih terbatas menggunakan tes minat penjurusan yang berbasis tes vokasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan tes minat berbasis HOLLAND yang dapat digunakan untuk pemetaan jurusan untuk siswa SMP maupun SMA. Studi ini memiliki 248 siswa SMP dan 270 siswa SMA yang mengerjakan tiga instrumen tes yaitu tes minat HOLLAND, tes penjurusan siswa SMP dan tes penjurusan siswa SMA. Uji validitas analisa faktor konfirmatorik digunakan untuk menguji validitas konstruk alat ukur dan analisa regresi model persamaan struktural digunakan untuk mengetahui prediktor yang dominan dalam menentukan pilihan jurusan seorang siswa baik di SMP maupun SMA. Beberapa trait HOLLAND ditemukan berperan secara signifikan dan konsisten dalam menentukan jurusan bidang studi yang dipilih oleh siswa SMP dan SMA. Setiap bidang studi penjurusan memiliki trait HOLLAND yang berbeda-beda sebagai prediktornya.
Shofa Dzakiah, Pratiwi Widyasari
Persona:jurnal Psikologi Indonesia, Volume 10, pp 48-62; https://doi.org/10.30996/persona.v10i1.4129

Abstract:
Academic procrastination in college students is a common phenomenon, although procrastination’s negative impacts were well known. This study aimed to examine the role of self-regulation in mediating the correlation between mindfulness and academic procrastination. Data were collected by distributing online questionnaires to college students from various universities in Indonesia (n = 305). The sampling technique used was convenience sampling. Instruments used in the research were the Mindfulness Attention and Awareness Scale, the Short form of Self-regulation Questionnaire, and the Academic Procrastination Scale. The regression and mediation analyses were held. Results showed that self-regulation partially mediated the correlation between mindfulness and academic procrastination. Increasing in dispositional mindfulness helps college students regulate themselves, thereby reducing the tendency to procrastinate. The implications and limitations of the study and suggestions for further research are discussed.Keywords: academic procrastination; college students; mindfulness; self-regulation.AbstrakProkrastinasi akademik pada mahasiswa merupakan fenomena yang umum terjadi, meskipun dampak negatif prokrastinasi telah banyak diketahui. Penelitian ini bertujuan menguji peran regulasi diri dalam memediasi hubungan antara mindfulness dan prokrastinasi akademik. Pengambilan data dilakukan melalui penyebaran kuesioner secara daring kepada mahasiswa di berbagai perguruan tinggi di Indonesia (n=305). Teknik sampling yang digunakan adalah convenience sampling. Penelitian ini menggunakan alat ukur Mindfulness Attention and Awareness Scale, Short Self-Regulation Questionnaire, dan Academic Procrastination Scale. Hasil uji regresi dan uji mediasi menunjukkan regulasi diri memediasi korelasi antara mindfulness dan prokrastinasi akademik secara parsial. Peningkatan kondisi kesadaran pada mindfulness membantu mahasiswa meregulasi dirinya, sehingga mengurangi kecenderungan untuk melakukan prokrastinasi akademik. Implikasi dan keterbatasan penelitian serta saran untuk penelitian selanjutnya didiskusikan.Kata kunci: mahasiswa; mindfulness; prokrastinasi akademik; regulasi diri.
Deasyanti Deasyanti, Fellianti Muzdalifah
Persona:jurnal Psikologi Indonesia, Volume 10, pp 147-166; https://doi.org/10.30996/persona.v10i1.4660

Abstract:
University student’s mental health has to get more attention because they are more vulnerable in suffering psychological problems compared to general population. The aim of this study is to figure out the prevalence of mental health status of students using the two continua model. Mental health symptoms were measured by the MHC-LF that comprised emotional well-being (?= 0,843), psychological well-being (?= 0,807), and social well-being (?= 0,831); whereas psychological distress was identified using the HSCL-25 that measured anxiety (?= 0,910) and depression (?= 0,890). A total of 514 undergraduate students was involved using convenience sampling. The descriptive statistics showed that students are categorised as flourishing 32,10%, moderate mentally healthy 65,95%, and languishing 1,95%. Moreover, the MANOVA test statistics found that there is a significant difference in levels of depression and anxiety between flourishing, moderate mentally healthy and languishing. This study implies that the university should provide the mental health intervention to help students in dealing with psychological distress, and to increase their mental health into flourishing.Keywords: Mental health; Psychological distress; Two continua model; University student. AbstrakIsu kesehatan mental di kalangan mahasiswa perlu mendapat perhatian karena mahasiswa merupakan kelompok populasi yang rentan mengalami masalah psikologis. Dengan menggunakan pendekatan two continua model, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi tipe kesehatan mental mahasiswa. Indikator sehat mental diukur melalui kuesioner Mental Health Continuum-Long Form yang terdiri dari 3 skala: emotional well-being (?= 0,843), psychological well-being (?= 0,807), dan social well-being (?= 0,831). Indikator psikopatologis diukur menggunakan skala Hopkins Symptom Check List-25 yang terdiri dari skala kecemasan (?= 0,910) dan skala depresi (?= 0,890). Sebanyak 514 mahasiswa menjadi responden dalam penelitian ini menggunakan teknik sampling convenience. Dengan analisis statistik deskriptif diketahui 32.10% mahasiswa termasuk dalam kategori sehat mental flourishing, 66,95% moderate mentally healthy dan 1,95% languishing. Uji statistik MANOVA menemukan perbedaan tingkat kecemasan dan depresi antara kelompok sehat mental yang berbeda. Implikasi hasil penelitian ini terkait dengan program intervensi kesehatan mental mahasiswa yang bersifat kuratif, protektif, maupun promotif untuk meningkatkan keberfungsian psikologis secara lebih optimal. Kata kunci: Distres psikologis; Mahasiswa; Sehat mental; Two Continua Model
, Dewi Kumalasari
Persona:jurnal Psikologi Indonesia, Volume 10, pp 133-146; https://doi.org/10.30996/persona.v10i1.4502

Abstract:
The learning and teaching process has been transformed into an online learning system due to COVID-19, which affected lecturer and university students. This research investigates students online learning satisfaction amid COVID-19 by focusing on online learning readiness and academic stress toward online learning satisfaction. Approximately 276 bachelor’s students (Mage = 20.36, SD = 2.47) hired using the accidental sampling technique participated in this study from public and private universities. The data was collected using Learner Readiness for Online Learning (? = .89), Student Satisfaction with Online Learning (? = .90), and Stressor Scale for College Student (? = .85) that has been modified into an online setting and translated into Bahasa. The results showed that academic stress partially mediated the relationship between online learning readiness and online learning satisfaction in bachelor students. It is shown that academic stress significantly affected online learning satisfaction, besides online learning readiness. Further theoretical and practical implications of this research are discussed.Keywords: academic stress; online learning readiness, online learning satisfaction, university students. AbstrakKondisi pandemik COVID-19 memaksa sistem pendidikan untuk beralih dari proses belajar tatap muka menjadi belajar daring (online), yang berdampak pada pengajar maupun siswa dari jenjang pendidikan dasar hingga perguruan tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana kepuasan mahasiswa terhadap proses belajar daring, dengan melihat peranan kesiapan belajar daring dan stres yang dirasakan akibat dari proses belajar tersebut. Penelitian ini melibatkan 276 mahasiswa S1 (Musia = 20.36, SD = 2.47) dari berbagai perguruan tinggi negeri dan swasta yang direkrut dengan metode accidental sampling. Data diperoleh dengan menggunakan alat ukur Learner Readiness for Online Learning (? = .89), Student Satisfaction with Online Learning (? = .90), dan Stressor Scale for College Student(? = .85) yang dimodifikasi agar sesuai dengan konteks belajar daring dan diadaptasi ke dalam Bahasa Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa stres akademik secara parsial berperan menjadi mediator dalam hubungan antara kesiapan dan kepuasan belajar daring. Hal ini menjukkan selain kesiapan belajar daring, stres akademik merupakan variabel penting yang dapat mempengaruhi kepuasan belajar daring. Implikasi teoritis dan praktis dari penelitian ini, dibahas lebih lanjut dalam diskusi hasil penelitian.Kata kunci: kepuasan belajar daring; kesiapan belajar daring; mahasiswa, stress akademik.
Afina Zahirah, Hery Susanto
Persona:jurnal Psikologi Indonesia, Volume 10, pp 63-80; https://doi.org/10.30996/persona.v10i1.5097

Abstract:
The research aims to examine the reliability and validity of a new personal fable scale in West Java adapted from Lapsley dkk. (1989). New Personal Fable Scale consists of 46 items with 3 dimensions: invulnerability, omnipotence, and personal uniqueness. The subjects of this study were 489 adolescents in West Java. The Rasch Model analysis from summary statistics, scalograms, item measure, person measure, and dimensionality map shows that this scale’s model is a good fit. The convergent validity test shows that the new personal fable scale which is adapted to Bahasa is valid. Reliability with a Cronbach Alpha method is 0,8 which means this scale is reliable. The results indicate that there are several items that need to be improved. This research provides information about the psychometric properties of egocentrism in adolescent especially personal fable in West Java.Keywords: Adolescents; Egocentrism; Personal Fable; Reliability; Validity Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk melihat reliabilitas dan validitas alat ukur personal fable adaptasi secara bahasa yang disesuaikan dengan faktor kultur budaya di Jawa Barat yang berasal dari Lapsley dkk. (1989). Alat ukur personal fable terdiri dari 46 aitem dengan 3 dimensi yaitu invulnerability, omnipotence, dan personal uniqueness. Subjek dari penelitian ini adalah 489 remaja di Jawa Barat. Hasil uji model Rasch dilihat dari analisis summary statistic, scalogram, item measure, person measure, dan dimensionality map menyatakan bahwa alat ukur fit dengan model. Alat ukur adaptasi ini dikatakan valid dilihat dari hasil uji validitas konvergen. Reliabilitas yang dianalisis dengan koefisien Alpha Cronbach sebesar 0,8 menunjukkan bahwa alat ukur adaptasi ini reliabel. Hasil analisis data menunjukkan adanya beberapa aitem yang perlu diperbaiki dalam rangka penyempurnaan alat ukur adaptasi. Penelitian ini dapat memberikan informasi dan memperkaya referensi keilmuan psikologi dan psikometri pada konstruk egosentrisme remaja khususnya personal fable di Jawa Barat.Kata kunci: Egosentrisme; Personal Fable; Remaja; Reliabilitas; Validitas
Diana Elfida, Mirra Noor Milla, Winarini Wilman D. Mansoer, Bagus Takwin
Persona:jurnal Psikologi Indonesia, Volume 10, pp 81-103; https://doi.org/10.30996/persona.v10i1.4986

Abstract:
The PERMA-Profiler is a well-being instrument which combines the hedonic and eudaimonic perspective of well-being. This instrument was developed based on well-being theory (Seligman, 2012) which explained well-being as a multidimensional construct, included positive emotion, engagement, relationship, meaning, and accomplishment (PERMA). This study aimed to adapt and examine the psychometric properties of the PERMA-Profiler in Indonesian people. The participants were 439 Indonesians, aged 17-63 years old (mean age = 30,82; SD = 10,00). Confirmatory Factor Analysis (CFA) was used to test the measurement model of PERMA. The result showed that the PERMA-Profiler met the goodness of fit criteria as a multi dimensional construct with five elements. Fourteen items have satisfactory factor loading. The PERMA-Profiler has good construct reliability as well as Cronbach’s alpha. The convergent validity was shown by the positive correlation between elements of PERMA with satisfaction with life scale (SWLS) and subjective happiness scale (SHS). In addition, the significant correlation between elements and each element with a total score proved the multidimensional nature of PERMA. The overall findings showed that the adaptation version of PERMA-Profiler have a good psychometric property and could be applied to Indonesian people.Keywords: confirmatory factor analysis; PERMA; reliability; validity; well-being AbstrakThe PERMA-Profiler merupakan instrumen kebahagiaan yang memadukan perspektif hedonik dan eudaimonik untuk mengukur kebahagiaan. Instrumen ini mengacu pada well-being theory (M. E. P. Seligman, 2012) yang menjelaskan kebahagiaan sebagai konstruk multidimensi, meliputi positive emotion, engagement, relationship, meaning, dan accomplishment (PERMA). Penelitian ini bertujuan untuk mengadaptasi dan menguji properti psikometrik the PERMA-Profiler pada orang Indonesia. Partisipan berjumlah 439 orang Indonesia (pria = 108, wanita = 331) dan berusia antara 17- 63 tahun (usia rerata = 30,82 tahun; SD = 10,00). Confirmatory Factor Analysis (CFA) digunakan untuk menguji model pengukuran. Hasil CFA memperlihatkan the PERMA-Profiler memenuhi kriteria kecocokan model sebagai konstruk multidimensi yang terdiri dari lima elemen. Terdapat 14 dari 15 aitem yang valid. Keempatbelas aitem juga yang mengukur satu konstruk tunggal yaitu well-being. The PERMA-Profiler juga memperlihatkan reliabilitas komposit dan konsistensi internal yang memuaskan. Korelasi positif yang signifikan dengan pengukuran skala kepuasan hidup dan skala kebahagiaan umum menunjukkan PERMA-Profiler memenuhi validitas konvergen. Setiap dimensi berkorelasi signifikan satu sama lain dan dengan skor total. Temuan ini memperlihatkan hasil adaptasi the PERMA-Profiler memiliki properti psikometrik yang bagus dan dapat diterapkan pada orang Indonesia.Kata Kunci: confirmatory factor analysis; kebahagiaan; PERMA; reliabilitas; validitas
Yonathan Natanael
Persona:jurnal Psikologi Indonesia, Volume 10, pp 167-186; https://doi.org/10.30996/persona.v10i1.4827

Abstract:
Indonesia Problematic Internet Use Scale (IPIUS) consists of six dimensions, namely a preference for online social interaction, escaping, negative outcomes, compulsive internet use, cognitive preoccupation, and emotional reactivity. University students in the covid-19 pandemic are constantly learning to use the internet that causes compulsive internet use. This study explores IPIUS using analysis technique rating scale model, especially the compulsive internet use dimension which consists of ten items. The quantitative research method is survey research using an online questionnaire. Participants in the research were 395 university students who do lectures online. The sampling technique used to obtain participants was convenience sampling. The results showed nine-item compulsive internet use dimension is good quality, unidimensional, and item reliability was better than previous research using confirmatory factor analysis. IPIUS is a stable instrument to measure problematic internet use for university students in Indonesia. Keywords: compulsive internet use; covid-19; problematic internet use; rating scale model, university students Abstrak Indonesia Problematic Internet Use Scale (IPIUS) terdiri dari enam dimensi, yaitu: preference for online social interaction, escaping, negative outcome, compulsive internet use, cognitive preoccupation, dan emotional reactivity. Mahasiswa di era pandemic covid-19 secara terus-menerus melakukan pembelajaran daring yang mengakibatkan menjadi compulsive internet use. Penelitian ini bertujuan mengekplorasi IPIUS dengan menggunakan teknik analisis rating scale model, khususnya dimensi compulsive internet use yang terdiri dari sepuluh item. Metode penelitian kuantitatif yang digunakan berjenis survey research menggunakan kuesioner online. Partisipan penelitian sebanyak 395 mahasiswa yang melakukan kuliah secara daring. Teknik sampling yang digunakan untuk mendapatkan partisipan adalah teknik convenience sampling. Hasil penelitian menunjukan sembilan item pada dimensi compulsive internet use merupakan item yang berkualitas baik, bersifat unidimensi, dan nilai reliabilitas item yang dihasilkan lebih baik dibandingkan penelitian sebelumnya yang menggunakan confirmatory factor analysis. IPIUS merupakan instrumen yang cocok mengukur problematic internet use pada mahasiswa di Indonesia. Kata kunci: compulsive internet use; covid-19; problematic internet use; rating scale model mahasiswa
Fatina Zahra Aurelia, Arum Etikariena
Persona:jurnal Psikologi Indonesia, Volume 10, pp 16-32; https://doi.org/10.30996/persona.v10i1.4121

Abstract:
Competition between companies relies on innovations from their employees. The potential of innovative employees could be developed since they were college students. One of the many ways to see their potential is by looking at how they perceive their capabilities, impacts, and means in academic settings, also known as learner empowerment. This study aims to look at the relationship between Learner Empowerment and Innovative Work Behavior in University of Indonesia college students. Participants of this research are 539 students above freshman year, gathered using the convenience sampling technique. The instrument used are the Innovative Work Behavior Scale by Janssen (2000) (? = 0,88) and the Learner Empowerment Scale by Frymier dkk. (1996) (? = 0,87), both instruments are adapted accordingly to suit the participants for this research. Analysis techniques used are Pearson's Correlation, Independent Sample T-Test, and One-way ANOVA. Results showed that there's a positive significant relationship between learner empowerment and innovative work behaviour. Dimensions of learner empowerment (meaningfulness, competence, impact) also have significant relationships to innovative work behaviour, with impact as the strongest determinant. Further research can explore other factors that explain the relationship between these two variables.Keywords: College Students; Correlational Research; Innovative Work Behavior; Learner Empowerment AbstrakPersaingan antar perusahaan pada masa ini membutuhkan ide inovatif dari karyawannya. Kemampuan inovatif karyawan dapat dikembangkan sejak individu masih menjadi mahasiswa. Salah satunya dengan bagaimana mahasiswa mempersepsikan kemampuan, potensi, dan peran yang dimilikinya dalam lingkungan belajar, dikenal sebagai pemberdayaan pembelajar. Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan antara pemberdayaan pembelajar dengan perilaku kerja inovatif pada mahasiswa Universitas Indonesia. Partisipan penelitian merupakan 539 mahasiswa yang berada di atas semester 3, didapatkan melalui teknik convenience sampling. Alat ukur yang digunakan merupakan Innovative Work Behavior Scale dari Janssen (2000) (? = 0,88) dan Learner Empowerment Scale dari Frymier dkk. (1996) (? = 0,87) yang diadaptasi menyesuaikan target partisipan penelitian. Teknik analisis yang digunakan adalah Pearson Correlation, Independent Sample T-Test, dan One-way ANOVA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif dan signifikan antara Pemberdayaan Pembelajar dan Perilaku Kerja Inovatif. Ketiga dimensi pemberdayaan pembelajar (meaningfulness, competence, impact) juga secara signifikan berhubungan dengan perilaku kerja inovatif, dengan dimensi impact sebagai penentu terkuat. Penelitian lanjutan dapat mencari faktor yang mampu menjelaskan hubungan kedua variabel ini.Kata kunci: Mahasiswa; Pemberdayaan Pembelajar; Penelitian Korelasional; Perilaku Kerja Inovatif
Tatik Meiyuntariningsih
Persona:jurnal Psikologi Indonesia, Volume 9; https://doi.org/10.30996/persona.v9i2.4444

F A Nurdiyanto
Persona:jurnal Psikologi Indonesia, Volume 9, pp 369-384; https://doi.org/10.30996/persona.v9i2.3995

Abstract:
Suicide is a global crisis that cannot be resolved. Trends show that suicide began mostly by adolescents and more than 51% were committed by age
Dewi Kumalasari, Sari Zakiah Akmal
Persona:jurnal Psikologi Indonesia, Volume 9, pp 353-368; https://doi.org/10.30996/persona.v9i2.4139

Abstract:
The COVID-19 pandemic accelerates the disruption in the education world to shift from face-to-face learning to online learning. Several challenges in implementing online learning potentially make online learning not run well, and later it will be affected by student’s satisfaction. This study aims to examine the effect of academic resilience on student satisfaction in online learning with the mediating role of online learning readiness. About 379 university students (aged 18-32 years (M = 20.55, SD = 1.87) whose hired by using the incidental sampling technique, participated in this study. The data were collected with three instruments: the academic resilience scale (ARS-30), Learner Readiness for Online Learning, and Student Satisfaction with Online Learning. The result showed that online learning readiness fully mediates the relationships between academic resilience and online learning satisfaction. Higher academic resilience increasing online learning readiness, then enhancing student’s online learning satisfaction. This study provides a valuable result for further research and intervention design related to academic resilience, learning readiness, and online learning satisfaction. Keywords: Academic resilience; College students; Online learning readiness; Online learning satisfaction AbstrakPandemi COVID-19 mengakselerasi distrupsi pada dunia pendidikan untuk beralih dari pembelajaran tatap muka menjadi pembelajaran daring. Sejumlah tantangan dalam mengimplementasikan pembelajaran daring berpotensi membuat pembelajaran daring tidak berjalan ideal dan nantinya berdampak pada kepuasan mahasiswa. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh resiliensi akademik terhadap kepuasan mahasiswa dalam pembelajaran daring dengan peran mediasi kesiapan belajar daring. Penelitian ini melibatkan 379 mahasiswa berusia 18-32 tahun (M=20.55, SD=1.87) yang diperoleh melalui Teknik sampling incidental. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan skala the academic resilience scale (ARS-30), Learner Readiness for Online Learning dan Student Satisfaction with Online Learning. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesiapan belajar daring menjadi mediator dalam hubungan antara resiliensi akademik dan kepuasan belajar daring pada mahasiswa. Resiliensi akademik yang baik membuat individu memiliki kesiapan belajar daring yang lebih baik yang kemudian akan meningkatkan kepuasan dalam belajar daring. Hasil penelitian ini dapat menjadi dasar bagi pengembangan penelitian dan intervensi terkait resiliensi akademik, kesiapan belajar dan kepuasan belajar daring. Kata kunci: Kesiapan belajar daring; Kepuasan belajar daring; Resiliensi akademik; Mahasiswa
Samirah Hasna Fadhillah,
Persona:jurnal Psikologi Indonesia, Volume 9, pp 229-248; https://doi.org/10.30996/persona.v9i2.3375

Abstract:
The process of making decisions about careers by students tends to make them difficult, especially for students in rural areas. The perception of social support obtained from the environment namely, parents, teachers, classmates, and close friends are the things that may help students make a career decision. This study conducted to explore the relationship between perceived social support and career decision-making difficulties junior high school students in a rural area. Two measurement instruments used namely Child and Adolescent Social Support Scale (CASSS) and Career Decision Making Difficulties Questionnaire (CDDQ). In the CASSS, there are two scales, values, and frequency. Data collected from 9th-grade junior high school students in the rural area (n= 242) with multistage cluster sampling techniques. The results of the study used the Spearman correlation test showed that the perception of social support value from parents and teachers is negatively correlated with difficulty in making career decisions. In contrast, the frequency scale of social support from classmates and close friends resulted in a positive relationship. The more frequent students get social support, the more difficult for them to make a decision. In conclusion, social support helped the student to decrease their career decision-making difficulties. However, the frequencies of the support have not higher than their expectation. Keywords: Career decision making difficulties, Junior high school students, Perceived social support, Rural AbstrakProses pengambilan keputusan karier yang dilakukan siswa cenderung membuatnya kesulitan, terutama siswa di daerah rural. Persepsi dukungan sosial dari lingkungan sekitar yaitu, orang tua, guru, teman sekelas dan teman dekat adalah salah satu hal yang dapat membantu siswa membuat keputusan karier. Penelitian dilakukan untuk melihat hubungan persepsi dukungan sosial dari keempat sumber dengan kesulitan pengambilan keputusan karier siswa kelas 9 daerah rural. Terdapat dua alat ukur yang digunakan yaitu, Child and Adolescent Social Support Scale (CASSS) dan Career Decision Making Difficulties Questionnaire (CDDQ). CASSS membagi dua skala dalam alat ukurnya, skala value dan frekuensi. Pengambilan data dilakukan pada siswa kelas 9 daerah rural (n = 242), dengan teknik multistage cluster sampling. Hasil penelitian menggunakan uji korelasi spearman menunjukkan persepsi value dukungan sosial orang tua dan guru berkorelasi negatif dengan kesulitan pengambilan keputusan karier, sedangkan skala frekuensi dukungan sosial teman sekelas dan teman dekat berkorelasi positif. Semakin sering siswa mendapatkan dukungan sosial, semakin sulit dalam membuat keputusan. Sebaliknya, jika siswa memiliki value yang lebih tinggi untuk dukungan sosial, semakin rendah kesulitan pengambilan keputusan kariernya. Secara umum dapat disimpulkan, pada dasarnya dukungan sosial dapat menurunkan kesulitan pengambilan keputusan. Hanya saja, frekuensi dukungan yang diberikan tidak boleh melebihi apa yang dibutuhkan oleh Individu.Kata kunci: Kesulitan pengambilan keputusan karier; Persepsi dukungan sosial; Rural; Siswa Sekolah Menengah Pertama
Dessi Christanti, Muhammad Ghazali Bagus Ani Putra
Persona:jurnal Psikologi Indonesia, Volume 9, pp 209-228; https://doi.org/10.30996/persona.v9i2.3333

Abstract:
There are many juvenile sex offender cases in Indonesia. This study aimed to reveal how the psychodynamics of moral disengagement on juvenile sex offenders. Through moral disengagement, juvenile sex offenders commit various rationalizations to negate the feelings of guilt. This research used the qualitative method of an instrumental case study. The participants were seven juvenile sex offenders. The collecting data through semi-structured interviews and analyzed through the stages of categorization and direct interpretation, correspondence and patterns, and naturalistic generalization. The credibility used data triangulation and asked the participants to read the interview transcript. The results showed the psychodynamic of juvenile sex offenders began by forming moral disengagement before the occurrence of sexual abuse or initiation phase. After committing fornication, adolescents could feel guilty or not feel guilty due to moral disengagement. This study showed that participants frequently used the attribution of blame, dehumanization, distortion of consequences. The theoretical implications were that moral disengagement also functions to overcome fear after moral violation and different forms of moral disengagement from theory, namely active avoidance.Keywords: Instrumental case study; Juvenile sex perpetrators; Moral disengagement AbstrakPencabulan oleh remaja masih banyak terjadi di Indonesia. Penelitian ini bertujuan mengungkap bagaimana psikodinamika moral disengagement remaja pelaku pencabulan. Melalui moral disengagement, remaja pelaku pencabulan melakukan berbagai bentuk rasionalisasi untuk meniadakan perasaan bersalah. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif studi kasus instrumental. Partisipan penelitian adalah tujuh remaja pelaku pencabulan. Pengambilan data menggunakan wawancara semi terstruktur. Analisa data melalui tahapan kategorisasi dan interpretasi langsung, korespondensi dan pola, serta generalisasi naturalistik. Kredibilitas penelitian menggunakan triangulasi data dan meminta informan membaca transkrip wawancara. Hasil penelitian menunjukkan psikodinamika remaja pelaku pencabulan diawali dengan membentuk moral disengagement sebelum terjadinya pencabulan, yaitu pada fase inisiasi. Setelah pencabulan atau fase pasca pencabulan, remaja dapat merasa bersalah namun dapat pula tetap tidak merasa bersalah karena moral disengagement. Bentuk moral disengagement yang banyak digunakan partisipan adalah atribusi menyalahkan, dehumanisasi, distorsi konsekuensi. Implikasi teoritis adalah moral disengagement juga berfungsi mengatasi perasaan takut setelah pelanggaran moral dan bentuk moral disengagement yang berbeda dengan teori yaitu penghindaran aktif.Keywords: Moral disengagement; Remaja pelaku pencabulan; Studi kasus Instrumental
, Roselina Dwi Hormansyah
Persona:jurnal Psikologi Indonesia, Volume 9, pp 319-334; https://doi.org/10.30996/persona.v9i2.3491

Abstract:
A slow learner is a child who has a delayed learning process. It affects other abilities such as adaptation, communication, and personality that can affect self-esteem. High self-esteem will make someone able to think positively about themselves and be more confident. One treatment to improve self-esteem is using Child-Centered Play Therapy (CCPT). It helps children to explore themselves through play media. This study aimed to see the effect of CCPT on the improvement of self-esteem in slow learner children. This study designed by using a quasi-experiment with a control group also pre-test and post-test. Subjects were 20 people with 9-11 years age range who were identified as slow learners. There were two groups in this study: experimental groups and the control groups that each contained 10 children. Rosenberg Self-Esteem (RSE) was used as an instrument of self-esteem (?=0,85). The data analysis method used Wilcoxon and Mann-Whitney tests. It proved that Child-Centered Play Therapy (CCPT) was effective in increasing the self-esteem of children who were slow learners. Slow learner children can increase their self-esteem through fun activities. Keyword: Child centered play therapy; Self-esteem; Slow learner AbstrakAnak dengan slow learner adalah seorang anak yang mengalami keterlambatan dalam proses belajar. Keterlambatan ini berpengaruh terhadap kemampuan lainnya seperti adaptasi, komunikasi dan pribadi yang dapat memberi dampak terhadap harga diri. Anak dengan harga diri yang tinggi membuat mereka dapat berpikir positif mengenai dirinya sendiri dan lebih percaya diri. Salah satu bentuk penanganan untuk meningkatkan harga diri adalah menggunakan Child Centered Play Therapy (CCPT). Terapi ini membantu anak mengeksplorasi diri melalui media bermain. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat pengaruh CCPT terhadap peningkatan harga diri anak slow learner. Desain penelitian menggunakan eksperimen quasi dengan kelompok kontrol serta pre-test dan post-test. Terdapat dua kelompok dalam penelitian, yaitu kelompok eksperimen yang terdiri atas 10 anak, dan kelompok kontrol juga terdiri atas 10 anak. Rosenberg Self Esteem (RSE) digunakan sebagai instrumen untuk mengukur harga diri (?=0,85). Teknik analisis data menggunakan uji Wilcoxon dan Mann Whitney. Hasil penelitian menunjukan bahwa Child Centered Play Therapy (CCPT) efektif meningkatkan harga diri anak slow learner. Anak slow learner dapat meningkat harga dirinya melalui terapi yang menyenangkan yaitu melalui bermain. Kata kunci: child centered play therapy; self-esteem; slow learner
Melok Roro Kinanthi, Novika Grasiaswaty, Yulistin Tresnawaty
Persona:jurnal Psikologi Indonesia, Volume 9, pp 249-268; https://doi.org/10.30996/persona.v9i2.3449

Abstract:
College students are prone to depression so that they need to be resilient. The aim of this study is to examine whether community resilience affects resiliency among college students in Jakarta. With a quantitative approach, this study involved 265 participants, selected by convenience sampling. We applied Community Advancing Resilience Toolkit Assessment Survey (CARTAS) and Connor Davidson Resilience Scale (CD-RISC) to gather data on the variables. Reliability coefficients for CARTAS were .656 to .806 for each dimension. While the reliability coefficient for CDRIS was .881. The regression analysis revealed community resilience has a significant positive contribution to individual resilience among participants. For each dimension, the contribution of community resilience to individual resilience was 7,9% to 12,2%. This result implied the community-based approach should be considered to develop an intervention for enhancing individual resilience.Keywords: College student; Community resilience; Resilience. AbstrakPenelitian terdahulu mengungkapkan bagaimana resiliensi memainkan peranan penting bagi mahasiswa agar dapat berdaya dengan maksimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran resiliensi komunitas terhadap resiliensi mahasiswa di Jakarta. Menggunakan pendekatan kuantitatif, penelitian ini melibatkan 265 partisipan yang dipilih melalui convenience sampling. Instrumen pengumpulan data yang digunakan adalah Community Advancing Resilience Toolkit Assessment Survey (CARTAS) and Connor Davidson Resilience Scale (CDRISC). Koefisien reliabilitas Cronbach Alpha CARTAS berkisar antara 0,656- 0,806 untuk tiap-tiap dimensinya. Sementara itu, koefisien reliabilitas Cronbach Alpha CDRISC adalah 0,881. Analisis regresi menunjukkan resiliensi komunitas berkontribusi positif secara signifikan terhadap resiliensi mahasiswa di Jakarta, dengan kontribusi sebesar 7,9% hingga 12,2%. Temuan ini mengindikasikan pendekatan berbasis masyarakat atau komunitas dapat dipertimbangkan dalam penyusunan intervensi yang dapat meningkatkan resiliensi individu.Kata kunci: Mahasiswa; Resiliensi komunitas; Resiliensi.
Darmawan Muttaqin, Taufik Akbar Rizqi Yunanto, Annisa Zaenab Nur Fitria, Amanda Meuthia Ramadhanty, Giofanny Filadelfia Lempang
Persona:jurnal Psikologi Indonesia, Volume 9, pp 189-208; https://doi.org/10.30996/persona.v9i2.3944

Abstract:
The purpose of this study was to examine the psychometric properties of Indonesian version of the Self-Compassion Scale (SCS), a measure self-compassion. Participants were 681 undergraduate students (17-22 years old) at the Faculty of Psychology University of Surabaya. The accidental sampling technique was used as a method of data collection by asking the participants' willingness to be involved in this study by filling in the research informed consent. The confirmatory factor analysis, composite reliability, and correlations were used to examine the factor structure, reliability, and criterion validity. The results found that the six-factor hierarchy model with self-compassion and self-criticism as the main dimensions are the best factor structures and have good internal consistency. The correlations between Indonesian version of the SCS with other measurements proved that Indonesian version of the SCS has a good criterion validity. The result suggests that Indonesian version of the SCS was a valid and reliable measurement tools to measure the self-compassion in Indonesian samples.Keywords: criterion validity; factor structure; reliability; SCS; self-compassion AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menguji properti psikometri dari Self-Compassion Scale (SCS) versi Indonesia yang mengukur self-compassion. Partisipan yang terlibat sebanyak 681 mahasiswa yang berusia 17-22 tahun yang sedang menempuh pendidikan di Fakultas Psikologi Universitas Surabaya. Teknik accidental sampling digunakan sebagai metode pengambilan data dengan meminta kesediaan partisipan untuk terlibat dalam penelitian ini dengan mengisi inform consent penelitian. Analisis konfirmatori faktor, reliabilitas komposit, dan korelasi dengan alat ukur lain digunakan untuk menguji struktur faktor, reliabilitas, validitas kriteria dari SCS versi Indonesia. Hasil analisis konfirmatori faktor menemukan bahwa model hierarki enam faktor dengan self-compassion dan self-criticism sebagai dimensi utama merupakan struktur faktor yang terbaik dan memiliki konsistensi internal yang baik. Adanya korelasi SCS versi Indonesia dengan alat ukur lain membuktikan SCS versi Indonesia memiliki validitas kriteria yang memuaskan. Hasil mengindikasikan bahwa SCS versi Indonesia merupakan alat ukur yang valid dan reliabel untuk mengukur self-compassion pada sampel Indonesia.Kata kunci: reliabilitas; SCS, self-compassion; struktur faktor; validitas kriteria
Endang Prastuti, Hanifah Tri Mulyani
Persona:jurnal Psikologi Indonesia, Volume 9, pp 302-318; https://doi.org/10.30996/persona.v9i2.3472

Abstract:
Adolescent girls in their development period are more vulnerable to have mental health problems, one of which is Body Dysmorphic Disorder. This is related to the condition of physical change experienced by adolescent girls. This study aims to determine how much self-esteem and body image can predict the tendency of Body Dysmorphic Disorder in adolescent girls, both partially and simultaneously. This study uses a quantitative approach to the type of correlational research. The sampling techniques used in this study were proportional stratified random sampling with the research subjects were 152 adolescent girls at SMAN 1 Purwosari. This study uses research instruments in the form of self-esteem scales, body image scales, and body dysmorphic disorder tendency scales, compiled by researchers. The results of statistical analysis conducted using multiple regression test showed that self-esteem and body image can predict the tendency of body dysmorphic disorder significantly and negatively. These results indicated that self-esteem and body image are important factors against the tendency of body dysmorphic disorder. Therefore, it is necessary for adolescent girls to understand the importance of self-esteem and the development of positive body image at the age of adolescence.Keywords: adolescent girls; body image; self esteem; tendencies to body dysmorphic disorder AbstrakRemaja perempuan dalam masa perkembangannya rentan mengalami berbagai masalah kesehatan mental, salah satunya Body Dysmorphic Disorder. Hal ini berkaitan dengan perubahan kondisi fisik yang dialami oleh remaja perempuan. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui sejauh mana harga diri dan body image dapat menjadi prediktor dari kecenderungan body dysmorphic disorder pada remaja perempuan baik secara parsial maupun stimultan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian korelasional. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini yaitu proportional stratified random sampling dengan subjek penelitian berjumlah 152 remaja perempuan di SMAN 1 Purwosari. Instrumen penelitian ini menggunakan skala harga diri, skala citra tubuh dan skala kecenderungan body dysmorphic disorder yang disusun oleh peneliti. Hasil analisis statistik menggunakan uji regresi ganda menunjukkan bahwa harga diri dan citra tubuh menjadi prediktor yang signifikan terhadap kecenderungan body dysmorphic disorder dengan arah pengaruh yang negatif. Hasil ini mengindikasikan bahwa harga diri dan citra tubuh menjadi faktor penting yang berperan sebagai prediktor kecenderungan body dysmorphic disorder. Implikasi temuan: perlu bagi remaja perempuan dalam memahami pentingnya penghargaan diri dan pengembangan citra tubuh yang positif pada usia remaja.Kata Kunci: citra tubuh; harga diri; kecenderungan body dysmorphic disorder; remaja perempuan
Firda Nur Zanah, Wahyu Rahardjo
Persona:jurnal Psikologi Indonesia, Volume 9, pp 286-301; https://doi.org/10.30996/persona.v9i2.3386

Abstract:
Addiction to social media is an issue that many people, especially college students, experienced today and it is facilitated by technological advancements. There are several things that can predict social media addiction, which is loneliness and fear of missing out. The purpose of this study was to determine the effect of loneliness and fear of missing out simultaneously on social media addiction among college students. This research was a quantitative study using the loneliness scale by Gierveld and Tilburg with a reliability score of 0,83, fear of missing out scale by Przybylski et al., with a reliability score of 0,79 and social media addiction scale by Al-Menayes with a reliability score of 0,77. The subject in this study was selected using purposive sampling with a total of 166 college students who were actively using social media. The hypothesis was analyzed using multiple regression analysis. The result of this study showed that social media addiction among college students was significantly affected by loneliness and fear of missing out. Negative antecedents such as loneliness and fear of missing out can influence students to get involved in something that is also negative, which is social media addiction.Keywords: Fear of missing out (fomo); College students; Loneliness; Social media addiction. AbstrakKecanduan media sosial merupakan masalah yang saat ini dialami oleh banyak orang, khususnya mahasiswa, dan difasilitasi oleh kemajuan teknologi. Terdapat beberapa hal yang dapat mendorong terjadinya kecanduan media sosial, salah satunya adalah kesepian dan fear of missing out. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan pengaruh kesepian dan fear of missing out secara simultan terhadap kecanduan media sosial di kalangan mahasiswa. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif menggunakan skala kesepian dari Gierveld dan Tilburg dengan reliabilitas sebesar 0,83, skala fear of missing out dari Przybylski dkk., dengan reliabilitas sebesar 0,79 dan skala kecanduan media sosial dari Al-Menayes dengan reliabilitas sebesar 0,77. Subjek dalam penelitian ini dipilih menggunakan teknik purposive sampling dengan jumlah sebanyak 166 orang mahasiswa yang aktif menggunakan media sosial. Hipotesis dianalisis menggunakan analisis regresi berganda. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kecanduan media sosial di kalangan mahasiswa dipengaruhi oleh kesepian dan fear of missing out. Anteseden yang bersifat negatif seperti kesepian dan fear of missing out dapat mempengaruhi individu untuk terlibat dalam hal yang juga bersifat negatif yaitu kecanduan media sosial.Kata kunci: Fear of missing out (FoMO); Kecanduan media sosial; Kesepian; Mahasiswa.
Tatik Meiyuntariningsih
Persona:jurnal Psikologi Indonesia, Volume 9; https://doi.org/10.30996/persona.v9i2.4443

Niken Titi Pratitis, Sabella Sacharissa Azalia
Persona:jurnal Psikologi Indonesia, Volume 9, pp 269-285; https://doi.org/10.30996/persona.v9i2.4099

Abstract:
Adolescents with non-suicidal self-injury (NSSI) are vulnerable to resilience or resilience to their problems. Resilience is an important part for adolescents to have in order to overcome their problems. One of the psychological interventions that can be done is to increase resilience by using the Neuro-Linguistic Therapy Program (NLP), in which this therapy focuses on thinking patterns and information processing so that adolescents can practice independently when the desire to hurt themselves arises. This study aims to determine the effectiveness of NLP therapy to increase the resilience of adolescents with NSSI. This research is a quantitative study using a pre-experimental design approach with one group pretest-posttest design. The data collection method used was the Self-Harm Behavior Questionnaire (SHBQ) scale to determine the NSSI behavior in adolescents, and to use a resilience scale before and after therapy to measure the results of NLP therapy treatment. Participants in this study were students with NSSI behavior consisting of three female students and two male students. The results showed that NLP therapy was effective in increasing the resilience of students with NSSI. The implications and limitations of the study are discussed.Keywords: Adolescent Resilience; Neuro Linguistic Programming Therapy; Non-Suicidal Self Injury. AbstrakRemaja dengan non-suicidal self-injury (NSSI) rentan dengan ketahanan atau resilien dalam menghadapi permasalahannya. Resilien menjadi bagian penting untuk dimiliki remaja agar dapat mengatasi permasalahannya. Salah satu Intervensi psikologi yang bisa dilakukan adalah meningkatkan resiliensi dengan menggunakan terapi Neuro Linguistic Program (NLP), yang mana terapi ini berfokus pada pola pikir dan pengolahan informasi sehingga remaja dapat mempraktikkan secara mandiri di saat keinginan untuk menyakiti diri sendiri muncul. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas terapi NLP untuk meningkatkan resiliensi remaja dengan NSSI. Penelitian ini berupa penelitian kuantitatif menggunakan pendekatan pre-experimental design dengan one group pretest posttest design. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah skala Self Harm Behaviour Questionnare (SHBQ) untuk mengetahui perilaku NSSI pada remaja, serta menggunakan skala resiliensi sebelum terapi dan sesudah terapi untuk mengukur hasil dari perlakuan terapi NLP. Partisipan dalam penelitian ini adalah siswa yang memiliki perilaku NSSI yang terdiri dari tiga siswi perempuan dan dua siswa laki-laki. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Terapi NLP efektif meningkatkan resiliensi siswa dengan NSSI. Implikasi dan keterbatasan penelitian dibahas.Kata Kunci: Non-Suicidal Self Injury; Resiliensi Remaja; Terapi Neuro Linguistic Programming
Faizah Faizah, Farica Veronica Marmer, Nadhirah Nurul Aulia, Ulifa Rahma, Yuliezar Perwira Dara
Persona:jurnal Psikologi Indonesia, Volume 9, pp 335-352; https://doi.org/10.30996/persona.v9i2.3448

Abstract:
Students who continue their education to higher education will find a variety of changes, new challenges, demands, and greater responsibilities. This transition can put pressure on new students and negative results if they cannot pass it. The purpose of this study was to determine the role of self-esteem and resilience towards the adjustment of new students. Determination of the sample using accidental sampling technique with a sample of new students in the first semester who are actively enrolled in state or private universities (N = 673). Measuring instruments used are the Rosenberg Self-esteem Scale-Revised with reliability .836, Brief Resilience Scale with reliability .747, and Inventory of New College Student Adjustments with reliability .701 that have been through the process of trans adaptation. Based on the results of multiple regression tests, self-esteem and resilience are significant predictors of the adjustment of new students in a positive direction. Self-esteem is an evaluation of core self and resilience in difficult times can be a factor that increases the adjustment of new college students.Keywords: Adjustment; New College Student; Resilience; Self-esteem AbstrakSiswa yang melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi akan menemukan berbagai perubahan, tantangan baru, tuntutan, dan tanggung jawab yang lebih besar. Transisi ini dapat memberikan tekanan bagi mahasiswa baru dan hasil yang negatif apabila tidak dapat melewatinya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui peran self-esteem dan resiliensi terhadap penyesuaian diri mahasiswa baru. Penentuan sampel menggunakan teknik accidental sampling dengan sampel mahasiswa baru di semester pertama yang terdaftar aktif di perguruan tinggi negeri ataupun swasta (N = 673). Alat ukur yang digunakan adalah skala Rosenberg Self-esteem Scale-Revised dengan reliabilitas .836, Brief Resilience Scale dengan reliabilitas .747, dan Inventory of New College Student Adjustment dengan reliabilitas .738 yang telah melalui proses transadaptasi. Berdasarkan hasil uji regresi berganda, self-esteem dan resiliensi merupakan prediktor yang signifikan terhadap penyesuaian diri mahasiswa baru dengan arah yang positif. Self-esteem sebagai evaluasi inti diri dan resiliensi sebagai ketahanan dalam masa sulit dapat menjadi faktor yang meningkatkan penyesuaian diri mahasiswa baru.Kata kunci: Mahasiswa baru; Penyesuaian diri; Resiliensi; Self-esteem
Listiyani Wahyuningsih, Dini P. Daengsari
Persona:jurnal Psikologi Indonesia, Volume 9, pp 1-16; https://doi.org/10.30996/persona.v9i1.2782

Abstract:
Children with Borderline Intellectual Functioning (BIF) are prone to experiencing social anxiety caused by cognitive distortions. Psychological interventions that emphasize the conversion of cognitive is a cognitive-behavioral modification (CBM). Research on the application of CBM for children BIF has not been carried out. The aim of this study was to examine the effectiveness of CBM to reduce social anxiety on children with BIF. Social anxiety was measured by the Social Anxiety Scale for Adolescent (SAS-A). Data in this study also were obtained through observation and interviews with subjects and parents. This research using single subject A-B-A’ design and involve one subject, 13 years old female adolescent. This intervention conducted in 6 sessions with 90-120 minutes/session. Data on this study is analyzed by comparing SAS-A scores before and after the intervention. The result shows a change in social anxiety level on the subject. Therefore, Cognitive Behavior Modification is effective to reduce the level of social anxiety on an adolescent with BIF.Keywords: Borderline Intellectual Functioning; Cognitive Behavior Modification; Social anxiety AbstrakAnak dengan borderline intellectual functioning (BIF) rentan mengalami masalah kecemasan sosial yang disebabkan oleh distorsi kognitif. Intervensi psikologis yang bisa dilakukan adalah modifikasi kognitif-perilaku. Penelitian mengenai penerapan modifikasi kognitif-perilaku untuk anak dengan BIF belum banyak dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk melihat keefektifan Modifikasi Kognitif-Perilaku untuk menurunkan kecemasan sosial pada anak dengan BIF. Kecemasan sosial diukur menggunakan kuesioner Social Anxiety Scale for Adolescent (SAS-A). Data dalam penelitian ini juga diperoleh melalui observasi dan wawancara dengan subjek dan orang tua. Design penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah single subject A-B-A’ design, penelitian ini melibatkan satu subjek yaitu seorang remaja perempuan berusia 13 tahun. Terapi ini dilakukan dalam 6 sesi, dengan durasi 90-120 menit/sesi. Teknik analisis data dilakukan dengan membandingkan skor SAS-A sebelum dan sesudah intervensi. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya perubahan tingkat kecemasan sosial pada subjek. Dengan demikian, Modifikasi Kognitif-Perilaku terbukti efektif untuk menurunkan tingkat kecemasan sosial pada remaja dengan BIF.Kata Kunci: Borderline Intellectual Functioning; Kecemasan Sosial; Modifikasi Kognitif Perilaku
Ika Fitria, Dian Putri Permatasari, Ratri Nurwanti
Persona:jurnal Psikologi Indonesia, Volume 9, pp 170-188; https://doi.org/10.30996/persona.v9i1.3230

Abstract:
Peripartum period is a term used to describe the period that lasts from the process of pregnancy to postpartum. Peripartum depression is associated with various negative impacts in various aspects of life, not only for mothers but also for children both short term and long term. This study aims to determine the role of maternal self-efficacy as a mediator of the correlation between perceived social support and peripartum depression using correlational quantitative methods. Study participants were taken using accidental sampling technique involving 84 women who were in the peripartum period as participants (M = 27, SD = 5.106). There are 3 research instruments used in this study, namely The Multidimensional Scale Perceived Social Support (MSPSS); Perceived Maternal Parental Self-Efficacy (PMP S-E); and Edinburgh Postnatal Depression Scale (EPDS). The results of the analysis using simple mediation analysis with the PROCESS macro from Hayes show that maternal self-efficacy mediates the relationship between perceived social support and peripartum depression. In addition, it is also known that perceived social support has a direct effect on peripartum depression.Keywords: Maternal Self Efficacy; Perceived Social Support; Peripartum Depression Abstrak Periode peripartum merupakan suatu istilah yang digunakan untuk menjelaskan periode yang berlangsung sejak proses kehamilan hingga pasca melahirkan. Depresi peripartum dikaitkan dengan berbagai dampak negatif dalam berbagai aspek kehidupan, tidak hanya bagi ibu, tetapi juga bagi anak baik jangka pendek, maupun jangka panjang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran maternal self-efficacy sebagai mediator korelasi antara perceived social support dan depresi peripartum menggunakan metode kuantitatif korelasional. Partisipan penelitian diambil menggunakan teknik accidental sampling dengan melibatkan 84 perempuan yang berada dalam periode peripartum sebagai partisipan (M = 27, SD = 5.106). Terdapat 3 instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu The Multidimensional Scale Perceived Social Support (MSPSS); Perceived Maternal Parental Self-Efficacy (PMP S-E); dan Edinburgh Postnatal Depression Scale (EPDS). Hasil analisis menggunakan analisis mediasi sederhana dengan makro PROCESS dari Hayes menunjukkan bahwa maternal self-efficacy memediasi hubungan antara perceived social support dan depresi peripartum. Selain itu, diketahui pula perceived social support memiliki direct effect terhadap depresi peripartum. Kata kunci: Depresi Peripartum; Maternal Self-Efficacy; Perceived Social Support
Stefanus Soejanto Sandjaja, , Lira Erwinda
Persona:jurnal Psikologi Indonesia, Volume 9, pp 105-117; https://doi.org/10.30996/persona.v9i1.3310

Abstract:
Success in a career is synonymous with the welfare of an individual's life, which needs further handling from the counselor. In determining and preparing for a future career, counselors should use a valid and reliable inventory. However, inventory that is considered valid and reliable by the counselor still raises problems in administration, namely students are confused in setting the response point in the inventory. The purpose of this study is to find a clear and unambiguous rating scale to make it easier for students to set a response point in their inventory. The research sample uses area random sampling consisting of six groups of test subjects, namely: 1, n = 75; 2, n = 61; 3, n = 47; 4, n = 146; 5, n = 85; and 6, n = 63. Data in this study were 5-point Likert scale political data collected using career planning inventory. The research data were analyzed using the Rasch model by testing the rating scale analysis through Threshold analysis between ratings. The results showed the rating scale in the Threshold analysis, the rating scale changed to a four-point Likert scale with a choice of very inappropriate, not appropriate, appropriate, and very appropriate.Keywords: Career Planning; Likert Scale; Ratting Scale; Threshold AbstrakSukses dalam karier identik dengan kesejahteraan hidup individu, yang perlu penanganan lebih lanjut dari konselor. Dalam menentukan dan mempersiapkan karier dimasa depan, konselor mestinya menggunakan inventori yang valid dan reliabel. Namun, inventori yang dianggap valid dan reliabel oleh konselor masih memunculkan permasalahan dalam pengadministrasian, yaitu siswa bingung dalam menetapkan rating scale pada inventori. Tujuan penelitian ini adalah menemukan skala penilaian yang jelas dan tidak ambigu untuk memudahkan siswa menetapkan rating scale pada inventori. Sampel penelitian menggunakan area random samplingyang terdiri dari enam kelompok subjek tes, yaitu: 1, n = 75; 2, n = 61; 3, n = 47; 4, n = 146; 5, n = 85; dan 6, n = 63. Data dalam penelitian ini berupa data politomi 5-point Likert scale yang dikumpulkan menggunakan career planning inventory. Data penelitian dianalisis menggunakan model Rasch dengan menguji rating scale analysis melalui analisis Threshold antar rating. Hasil penelitian menunjukkan rating scale pada analisis Threshold, rating scale berubah menjadi empat point Likert scale dengan pilihan sangat tidak sesuai, kurang sesuai, sesuai, dan sangat sesuai. Kata kunci: Perencanaan Karier; Ratting Scale; Skala Likert; Threshold
Putu Winda Yuliantari G.D., Pratiwi Widyasari
Persona:jurnal Psikologi Indonesia, Volume 9, pp 118-139; https://doi.org/10.30996/persona.v9i1.3373

Abstract:
The role of teachers, especially in primary school education, is something that needs to be considered as a form of anticipation of emotional fatigue that results in burnout. This study aimed to examine the effect of teacher self-efficacy in mediating the relationship of mindfulness to the domain of burnout conditions. Data collected from participants in inclusive primary school (n = 174) using convenience sampling techniques. This study used Mindfulness in Teaching Scale, Teacher Efficacy in Inclusive Practice, and Maslach Burnout Inventory-Educator Survey as measuring tools, which has been adapted to the context of inclusive education in Indonesia. The results of the regression test and the Sobel test showed that self-efficacy significantly mediates the relationship between mindfulness conditions and the domain of personal achievement in burnout conditions. The teacher's self-efficacy becomes an important thing to consider when wanting to handle mindfulness in helping to improve the domain of personal accomplishment in burnout conditions. Implications, limitations of the study, and suggestions for further research are discussed.Keywords: Burnout; Inclusive education; Mindfulness; Primary school teacher; Self-efficacy AbstrakPeran guru terutama di pendidikan sekolah dasar menjadi hal yang perlu untuk diperhatikan sebagai bentuk antisipasi terhadap kondisi kelelahan emosional yang berujung pada burnout. Penelitian ini bertujuan menguji pengaruh efikasi diri guru dalam memediasi hubungan kondisi kesadaran (mindfulness) terhadap domain kondisi burnout. Pengambilan data partisipan penelitian di sekolah dasar inklusif (n=174) dilakukan dengan teknik convenience sampling. Penelitian ini menggunakan alat ukur Mindfulness in Teaching Scale, Teacher Efficacy in Inclusive Practice, dan Maslach Burnout Inventory-Educator Survey, yang telah diadaptasi ke dalam konteks pendidikan inklusif di Indonesia. Hasil uji regresi dan uji Sobel menunjukkan efikasi diri secara signifikan memediasi hubungan antara kondisi mindfulness dengan domain pencapaian personal pada kondisi burnout. Efikasi diri guru menjadi hal yang penting untuk diperhatikan ketika ingin melakukan penanganan terhadap kondisi kesadaran (mindfulness) dalam membantu meningkatkan domain pencapaian personal pada kondisi burnout. Implikasi, keterbatasan penelitian, dan saran untuk penelitian selanjutnya didiskusikan.Kata kunci: Burnout; Efikasi diri; Guru sekolah dasar; Mindfulness; Pendidikan inklusif
Meta Silfia Novembli, Nur Azizah
Persona:jurnal Psikologi Indonesia, Volume 9, pp 51-66; https://doi.org/10.30996/persona.v9i1.2804

Abstract:
The prospective teacher must have both academic and competency readiness. Besides, they must have self-efficacy on their own ability to later teach in schools, especially inclusive schools. However, until now research that discusses how Prospective teachers’ self-efficacy in teaching students with disabilities is still very limited and unclear. The purpose of this study is to reveal the self-efficacy profile of prospective teachers in teaching students with disabilities in inclusive schools as seen in three sub-constructs namely using inclusive instruction, collaboration, and managing behavior. The type of research is a survey. The population is the students of the Elementary School Teacher Education Study Program with a sample of 234 people. The data were collected using a scale of self-efficacy for prospective teachers with alpha coefficient 0,983. The data analyzed using descriptive statistics. In general, the self-efficacy of prospective teachers is in the moderate category. Based on the three sub-constructs of self-efficacy, prospective teachers in using inclusive instructional, collaboration, and managing behavior also are in a medium category. Implications may be reviewed further by the Ministry of Higher Education and University. Key Words: Prospective Teachers; Collaboration; Managing Behavior; Self-Efficacy; Using Inclusive Instruction Abstrak Calon guru harus mempunyai kesiapan baik akademik maupun kompetensi sebelum mengajar di sekolah. Selain itu, calon guru harus mempunyai self-efficacy atas kemampuannya sendiri untuk nantinya mengajar di sekolah terutama sekolah inklusi. Namun, hingga kini penelitian mengenai bagaimana self-efficacy calon guru untuk mengajar siswa dengan disabilitas masih sangat terbatas. Tujuan dari penelitian ini adalah menjelaskan gambaran self-efficacy calon guru untuk mengajar siswa dengan disabilitas di sekolah inklusi yang dilihat pada tiga sub konstruk yaitu using inclusive instructional, collaboration, dan managing behavior. Metode penelitian adalah survei dengan pendekatan kuantitatif. Populasi penelitian adalah mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar dengan partisipan sebanyak 234 orang. Pengumpulan data menggunakan skala self-efficacy calon guru dengan koefisien alpha 0,983. Analisis data menggunakan statistik deskriptif. Secara umum self-efficacy calon guru berada pada kategori sedang. Berdasarkan ketiga sub-konstruk self-efficacy calon guru yaitu dalam using inclusive instructional, collaboration, dan managing behavior juga memiliki kategori sedang. Implikasi dapat dikaji lebih lanjut oleh Kementerian Pendidikan Tinggi dan Universitas. Kata Kunci: Calon Guru; Kerja Sama; Manajemen Perilaku; Self-Efficacy; Pembelajaran Inklusif
, Fahmy Ferdiyanto
Persona:jurnal Psikologi Indonesia, Volume 9, pp 140-156; https://doi.org/10.30996/persona.v9i1.3523

Abstract:
Academic stress is a crucial problem experienced by students. Educators and researchers pay high attention to the phenomenon of academic stress among students. This study presents the results of an empirical study of the effects of classroom climate and school well-being on academic stress. This research uses a quantitative approach and is carried out by survey methods that used 3 psychological scales as a measurement tools, namely Academic Stress Scale (? = 0.831); Classroom Climate Scale (? = 0.736); and School Well-being Scale (? = 0.868). The subjects of this study were 105 students taken by the purposive sampling technique at 2 schools. The results showed that simultaneously there was a significant negative effect between classroom climate and school well-being on academic stress. Partially the results of this study indicate that there is a significant influence between classroom climate on academic stress. While the school well-being variable has a significant negative effect on academic stress. Classroom climate and school well-being variables can be used as strong predictors of academic stress.Keywords: Academic stress; Classroom Climate; Cchool Well-Being AbstrakStres akademik menjadi permasalahan yang krusial dialami oleh siswa. Para pendidik dan peneliti menaruh perhatian yang tinggi terhadap fenomena stres akademik di kalangan siswa. Penelitian ini memaparkan hasil studi empiris tentang pengaruh iklim kelas dan school well-being terhadap stres akademik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dan dilakukan dengan metode survei yang menggunakan 3 skala psikologi sebagai alat ukur, yaitu Skala Stres Akademik (? = 0.831); Skala Iklim Kelas (? = 0.736); dan Skala School Well-being (? = 0.868). Subyek penelitian ini berjumlah 105 siswa yang diambil dengan teknik purposive sampling pada 2 sekolah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara simultan ada pengaruh negatif yang signifikan antara iklim kelas dan school well-being terhadap stres akademik. Secara parsial hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada pengaruh yang signifikan antara iklim kelas terhadap stres akademik. Sedangkan variabel school well-being memiliki pengaruh negatif yang signifikan terhadap stres akademik. Variabel iklim kelas dan school well-being dapat dijadikan prediktor yang kuat terhadap stres akademik.Kata kunci: Iklim Kelas; School Well-Being; Stres Akademik
Suhadianto Suhadianto
Persona:jurnal Psikologi Indonesia, Volume 9; https://doi.org/10.30996/persona.v9i1.3915

Dian Ekawati, Dian Kinayung, Herlina Siwi Widiana
Persona:jurnal Psikologi Indonesia, Volume 9, pp 157-169; https://doi.org/10.30996/persona.v9i1.2983

Abstract:
Grade Point Average (GPA) the cumulative value achieved by a university student, is one of the criteria in job selection. However, not all students get the minimum GPA threshold required. Aptitude is a factor that may predict the GPA. The aim of this study is to examine aptitude as a predictor of GPA in university students. The hypothesis is aptitudes in the Employee Aptitude Survey (EAS) are able to predict students’ Grade Point Average (GPA). The research participants were 380 university students chosen by incidental sampling. The EAS was used to measure aptitude, with the reliability of each subtest that was adequate and met the validity index based on confirmatory analysis. GPA was known from a self-report questionnaire. The analysis was performed using Kendall's Tau statistical analysis technique. In general, speed and visual accuracy aptitude is the only aptitude measured with EAS that is unable to predict GPA. There were different aptitude profiles between students majoring in natural and social sciences. Based on the results, nine subtests in the EAS that significantly predict GPA may be used in selecting new students in the university.Keywords: Employee Aptitude Survey (EAS); GPA; university student. AbstrakIndeks Prestasi Komulatif (IPK) yang merupakan nilai kumulatif yang dicapai oleh setiap mahasiswa di Perguruan Tinggi, sampai dengan saat ini masih menjadi salah satu kriteria dalam seleksi pekerjaan. Namun tidak semua mahasiswa memperoleh IPK sesuai dengan batas minimal yang dipersyaratkan. Penelitian ini bertujuan untuk menguji bakat-bakat sebagai prediktor IPK pada mahasiswa. Hipotesis penelitian adalah bakat-bakat yang ada dalam Employee Aptitude Survey (EAS) mampu memprediksi Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) mahasiswa. Partisipan penelitian adalah 380 mahasiswa yang dipilih dengan insidental sampling. Alat ukur yang digunakan untuk adalah EAS, dengan reliabilitas tiap subtes yang memadai serta memenuhi indeks validitas berdasar analisis faktor konfirmatori. Data IPK diperoleh dari self report questionaire. Analisis dilakukan dengan menggunakan teknik analisis statistik Kendall’s Tau. Secara umum, aspek kecepatan dan ketelitian visual menjadi satu-satunya aspek dalam EAS yang tidak mampu berperan sebagai prediktor IPK. Terdapat perbedaan profil bakat pada mahasiswa eksakta dan non eksakta. Berdasarkan hasil penelitian, sembilan subtes dalam EAS yang mampu memprediksikan IPK secara signifikan dapat digunakan sebagai alat seleksi mahasiswa baru.Kata kunci: Employee Aptitude Survey (EAS); IPK; mahasiswa
Page of 5
Articles per Page
by
Show export options
  Select all
Back to Top Top