Refine Search

New Search

Results in Journal Gorontalo Agriculture Technology Journal: 35

(searched for: journal_id:(4142492))
Page of 1
Articles per Page
by
Show export options
  Select all
Syukrianto Syukrianto, Umarudin Umarudin
Gorontalo Agriculture Technology Journal, Volume 3, pp 45-54; doi:10.32662/gatj.v3i2.1172

Abstract:
Kandungan protein dan kadar air yang tinggi membuat tahu putih memiliki masa simpan yang pendek. Perlu adanya biomaterial alam yaitu kitosan cangkang bekicot untuk memperlama umur simpan tahu putih. Tujuan penelitian ini adalah mengaplikasikan kitosan cangkang bekicot (Achatina fulica F) pada tahu putih terhadap organoleptic, bobot susut, dan lama simpan. Metode penelitian ini dengan true experimental. Tahapan isolasi kitosan cangkang bekicot deproteinasi, demineralisasi, depigmentasi, dan deasetilasi, serta analisis mutu kitosan. Kitosan cangkang bekicot dilakukan pengenceran 1%, 1,5%, dan 2% untuk digunakan mencelupkan tahu putih dan amati nilai organoleptik, bobot susut, dan lama simpan. Analisa data yang diolah dengan cara desktiptif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bobot susut yang paling kecil pada konsentrasi 2% sebesar 44,74% jika dibandingkan dengan 1,5% dan 1%. Nilai organoleptik warna dan tekstur yang disukai oleh panelis pada kosentrasi 1,5% dan 2%. Lama simpan tahu putih lebih baik yang diberi kitosan cangkang bekicot 1,5 % dan 2% selama 4 hari. Peran kitosan cangkang bekicot dapat memperlama umur simpan tahu putih pada suhu ruang.
Tuti Rostianti Maulani, Hadi Susilo, Marlinda Indriati, A Suhaemi
Gorontalo Agriculture Technology Journal, Volume 3, pp 72-80; doi:10.32662/gatj.v3i2.1171

Abstract:
Sosis merupakan produk olahan daging yang cukup digemari di masyarakat khususnya di Kabupaten Pandeglang Provinsi Banten. Pentingnya sertifikat halal atau adanya logo halal MUI (Majelis Ulama Indonesia) untuk produk olahan daging membuat masyarakat muslim yakin untuk mengkonsumsinya. Tujuan dari penelitian ini adalah identifikasi cemaran DNA babi pada produk sosis yang beredar di 4 kecamatan di Wilayah Kabupaten Pandeglang tanpa logo halal MUI menggunakan RT-PCR (Real Time- Polymerase Chain Reaction) dan Pork Detection Kit. Metode dalam penelitan ini diawali dengan menggunakan Pork Detection Kit untuk pengujian antigen babi sebagai kontrol positif dan daging sapi sebagai kontrol negatif yang akan digunakan untuk running RT- PCR. Hasil running RT- PCR terhadap sampel DNA sosis di wilayah 4 (empat) kecamatan di Kabupaten Pandeglang (Majasari, Picung, Munjul, Cimanuk) tanpa label halal MUI menunjukkan trend DNA kontrol negatif pada kurva amplifaksi RT- PCR. Hal ini teridentifikasi bahwa sampel DNA sosis tanpa label halal MUI di 4 kecamatan di Kabupaten Pandeglang tidak tercemar DNA babi
Asniwati Zainuddin, Mariani H. Mansyur, Cocan Djibu Moha
Gorontalo Agriculture Technology Journal, Volume 3, pp 63-71; doi:10.32662/gatj.v3i2.1180

Abstract:
Susu tempe merupakan produk hasil ekstraksi tempe dengan air sehingga diperoleh larutan dengan komponen padatan terlarut. Pada proses pembuatan susu tempe, ditambahkan bahan penstabil yaitu xanthan gum. Tujuan penelitian untuk mengetahui hasil analisis stabilitas, kadar protein, dan kadar air pada susu tempe dengan penambahan xanthan gum dan mengetahui hasil analisa organoleptik pada susu tempe dengan penambahan xanthan gum. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan dan 3 kali ulangan. Hasil analisa yang diperoleh adalah kadar air P0 = 80,58%, P1 = 78,64%, P2 = 78,18%, P3 = 77,24%, dan P4 = 76,87%. Kadar protein P0 = 8,86%, P1 = 14,2%, P2 = 14,2%, P3 = 13,01%, dan P4 = 9,56%. Stabilitas P0 = 96,00%, P1 = 96,52%, P2 = 97,01%, P3 = 97,51%, dan P4 = 98%. Jumlah xanthan gum pada perlakuan P2 (0,25 g xanthan gum) lebih diterima panelis uji organoleptik baik aroma dan rasa.
Mariani Haji Mansyur, Sri Hajriani A.R
Gorontalo Agriculture Technology Journal, Volume 3, pp 81-86; doi:10.32662/gatj.v3i2.1210

Abstract:
Sambal adalah produk olahan dari cabai (Capsicum sp) yang dilumatkan dan ditambahkan bahan tambahan lainnya yang memiliki cita rasa pedas dan berfungsi sebagai pelengkap dalam menyantap makanan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui formulasi sambal ikan teri yang terbaik, berdasarkan karakteristik fisikokimia (kadar air, vitamin C, dan pH) produk sambal ikan teri yang disimpan selama 3 minggu Tahapan metodologi penelitian ini dimulai dengan melakukan formulasi produk sambal yang ditambahkan ikan teri kemudian di lakukan analisis fisikokimia. Formulasi perlakuan yang dilakukan adalah : A. Konsentrasi ikan teri 10%, B. Konsentrasi ikan teri 15%, C. Konsentrasi ikan teri 20%, D. Konsentrasi ikan teri 25%, dan E. Konsentrasi ikan teri 30%. Hasil dari penelitian Formulasi sambal ikan teri yang terbaik berdasarkan hasil analisa vitamin C, pH dan kadar air adalah pada formulasi (A) yaitu penambahan ikan teri 10% yang disimpan selama 3 minggu. Rata-rata hasil analisa karakteristik vitamin C adalah 0,12%, pH adalah 5,96 dan kadar air adalah 35,16% yang disimpan selama 3 minggu.
Nur Setiawati, Sutrisno Sutrisno, Y Aris Purwanto
Gorontalo Agriculture Technology Journal, Volume 3, pp 55-62; doi:10.32662/gatj.v3i2.1101

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk 1) mengidentifikasi rantai nilai cabai di Kabupaten Majalengka, 2) menganalisis rantai nilai yang dilakukan para pelaku dan distribusi nilai tambah diantara para pelaku tersebut di Kabupaten Majalengka dan 3) menghitung nilai tambah yang dihasilkan pengolahan cabai menjadi produk turunannya di Kabupaten Majalengka. Metode penelitian menggunakan analisis nilai tambah dan R/C rasio. Responden penelitian adalah 75 petani cabai dari kecamatan terpilih sentra pertanaman cabai di Kabupaten Majalengka, Jawa Barat yaitu 15 petani di Ligung, Banjaran, Cikijing, Talaga, dan Argapura. Adapun rincian dari pedagang pengumpul adalah 2 pengumpul kecil dari Kecamatan Argapura, 2 pengumpul besar Kecamatan Argapura, Kecamatan Banjaran, Kecamatan Ligung, 1 Koperasi dari Kecamatan Argapura dan Kecamatan Banjaran, 1 Bank dari Kecamatan Argapura, serta industri 1 dari Kecamatan Banjaran sedangkan pasar induk yang merupakan tujuan dari cabai berada di Kota Jakarta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasca panen cabai di Kabupaten Majalengka umumnya dilakukan secara manual oleh petani. Para petani menjual cabai mereka untuk skala kecil kolektor, skala besar kolektor atau mereka menjual langsung ke pasar lokal dan pasar grosir. Petani cabai di Majalengka belum dalam kemitraan dengan industri skala besar tetapi mereka telah berkumpul dalam bentuk kelompok tani dan koperasi. Kecil kolektor biasanya datang langsung ke petani untuk membeli cabai secara tunai. Tujuan dari rantai pasokan cabai di Majalengka tidak hanya pasar tradisional lokal atau pasar grosir lokal, tetapi juga pasar grosir nasional seperti Kramatjati (Jakarta), Caringin (Bandung), dan supermarket. Para aktor dalam rantai pasokan adalah petani, skala kecil kolektor, skala besar kolektor, pedagang di pasar antar-pulau, pedagang di pasar grosir, pedagang pasar tradisional setempat, dan koperasi. Biaya total produksi cabai besar adalah Rp 75.000.000 per hektar, sementara, cayenne cabai adalah Rp 70.000.000 per hektar. Rasio R / C adalah 1,33 untuk besar dan cabai rawit 1,71 untuk cabai sebagai nilai tambah cabai.
Umarudin Umarudin, Surahmaida Surahmaida, Mochammad Sulton Aziz Irawan, Anisa Rizki Amalia
Gorontalo Agriculture Technology Journal, Volume 3, pp 1-12; doi:10.32662/gatj.v0i0.955

Abstract:
Cangkang bekicot mengandung kitosan sebesar 64% yang memiliki sifat sebagai antimikroba yang dapat digunakan sebagai pengawet alami pada cabai merah. Cabai merah mudah membusuk selama 2-3 hari penyimpanan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh sifat fisik cabai merah seperti bau, warna dan bobot susut yang telah dilapisi kitosan cangkang bekicot, dan untuk mengetahui berapa lama masa simpan cabai merah dengan menggunakan kitosan cangkang bekicot. Metode penelitian dengan menggunakan true eksperimental. Kitosan dilakukan dengan empat tahapan yaitu deproteinasi, demineralisasi, depigmentasi dan deasetilasi. Pelapisan kitosan pada cabai merah dilakukan dengan konsentrasi 500 ppm, 600 ppm, 700 ppm dan kontrol tanpa kitosan cangkang bekicot selama 15 menit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cabai merah yang diberi kitosan cangkang bekicot dapat memperlama umur simpan yaitu pada konsentrasi 700 ppm selama 33 hari dengan bobot susut sebesar 90,61%, 600 ppm selama 29 hari dengan bobot susut sebesar 88,52%, 500 ppm selama 27 hari dengan bobot susut sebesar 88,64% dan kontrol selama 19 hari dengan bobot susut sebesar 88,64%. Konsentrasi 700 ppm memiliki lama umur simpan paling lama yang dilihat dari warna dan aroma.
Nurhayati Adam, Deyvie Xyzquolyna
Gorontalo Agriculture Technology Journal, Volume 3, pp 13-22; doi:10.32662/gatj.v3i1.958

Abstract:
Ilabulo merupakan salah satu makanan tradisional di Provinsi Gorontalo. Bahan dasar dalam pembuatan ilabulo adalah tepung sagu, dan biasanya ditambahkan ampela ayam dan bumbu-bumbu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui formulasi substitusi tepung kacang hijau dan tepung sagu yang terbaik pada pembuatan ilabulo, serta menentukan kadar air, kadar abu dan kadar protein dari ilabulo yang diperoleh pada formulasi terbaik. Penelitian ini menggunakan metode rancangan acak lengkap (RAL) dengan 6 perlakuan A: tepung kacang hijau 15%, tepung sagu 85%, B: tepung kacang hijau 30%, tepung sagu 70%, C: tepung kacang hijau 50%, tepung sagu 50%, D: tepung kacang hijau 65%, tepung sagu 35%, E: tepung kacang hijau 75%, tepung sagu 25%, F: tepung kacang hijau 0%, tepung sagu 100%. Tahap pertama pada penelitian ini adalah menentukan formulasi substitusi tepung kacang hijau dan tepung sagu pada pembuatan ilabulo. Penentuan formulasi terbaik berdasarkan penilaian uji organoleptik oleh 25 orang panelis. Tahap kedua adalah menganalisis kadar air, kadar abu dan kadar protein perlakuan kontrol dan satu perlakuan substitusi tepung kacang hijau dan tepung sagu pada tahap sebelumnya. Hasil penelitian menunjukkan berdasarkan uji organoleptik semakin besar penambahan tepung kacang hijau semakin berkurang tingkat kesukaan panelis terhadap uji organoleptik aroma, warna, tekstur dan rasa. Namun demikian, jika dibandingkan dengan perlakuan penambahan tepung kacang hijau lainnya, penambahan tepung kacang hijau dapat sebanyak 15% lebih disukai oleh panelis. Kadar air, kadar abu dan kadar protein ilabulo dengan penambahan tepung kacang hijau 15% berturut-turut adalah 46,45%, 3,5%, dan 11%.
I Made Widiantara, Yulianti Yulianti, Bayu Setiawan Basri
Gorontalo Agriculture Technology Journal, Volume 3, pp 38-44; doi:10.32662/gatj.v3i1.1198

Abstract:
Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui perbandingan volume heksana dan petroleum eter yang tepat untuk mengekstrak beta karoten dari buah kelapa sawit. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan tiga perlakuan dan tiga kali ulangan, perlakuan ini dilakukan dengan membedakan jumlah dari dua pelarut yang digunakan. Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa total padatan tertinggi yaitu pada perlakuan pelarut campuran antara heksana 250 ml: petroleum eter 250 ml dengan jumlah 96,28%, rendemen tertinggi diperoleh pada campuran heksana 250 ml : petroleum eter 250 ml dengan jumlah 2,73%, kandungan beta karoten tertinggi yaitu pada campuran heksana 125 ml : petroleum eter 375 ml dengan jumlah 0,71 ppm. Dan efektivitas pelarut heksana dan petroleum eter yang terbaik dalam melarutkan beta karoten adalah perlakuan ketiga dengan pencampuran heksana 125 ml : petroleum eter 375 ml menghasilkan 0,71 ppm kadar beta karoten.
, Irmansyah Irmansyah, J Juansah, M Rahmat
Gorontalo Agriculture Technology Journal, Volume 3, pp 23-30; doi:10.32662/gatj.v3i1.945

Abstract:
Susu sapi mengandung nutrisi yang sangat dibutuhkan oleh tubuh. Salah satu nutrisi yang paling dibutuhkan adalah kandungan protein dan lemak. Untuk mempertahankan kadar protein dan kadar lemak dalam susu diperlukan teknik pengolahan susu yang efektif, dan relatif murah. Pengolahan susu sapi secara termal dapat merusak kandungan protein dan lemak. Untuk itu perlu diteliti lebih lanjut tentang pengawetan susu sapi secara non thermal. Penelitian ini menerapkan medan listrik bertegangan rendah selama proses pengawetan susu sapi segar. Penerapan medan listrik dilakukan untuk mengkaji perubahan kadar protein dan lemak susu sapi segar. Besarnya medan listrik yang digunakan adalah 25 V/mm dengan frekuensi 300 kHz. Lama paparan medan listrik dilakukan selama 1 jam, 3 jam, dan 5 jam. Paparan medan listrik dilakukan dengan menggunakan satu set generator penghasil medan listrik. Kadar protein diukur dengan metode titrasi formol, dan kadar lemak dengan metode Gerber. Hasil penelitian menunjukan bahwa paparan medan listrik pada frekuensi diatas tidak merubah kadar protein dan lemak secara signifikan. Hal ini dibuktikan dengan nilai t-hitung pada kadar protein (-0.131) < dari nilai t-tabelnya (2.132) begitu juga dengan nilai t-hitung pada kadar lemak (0,525) < dari nilai t-tabelnya (2,132). Sehingga dapat disimpulkan bahwa paparan medan listrik tidak merusak kadar protein da lemak dalam susu sapi.
Wanti Dewayani, Riswita Riswita, Harti Harti, Nur Fitriani Usdyana Atahmid, Mursida Mursida
Gorontalo Agriculture Technology Journal, Volume 2, pp 88-98; doi:10.32662/gatj.v2i2.756

Abstract:
Tahu merupakan makanan favorit masyarakat sehari-hari. Namun tahu hanya bertahan satu hari saja, sehingga dibutuhkan pengawet untuk memperpanjang masa simpan. Salah satu pengawet alami yang potensial adalah daun jambu biji. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh perendaman daun jambu biji kering terhadap kadar protein, vitamin A dan sensori tahu. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April – Mei 2019, di Laboratorium pasca panen BPTP Sulawesi Selatan. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap dengan perlakuan lama perendaman selama 0 hari, 2 hari, 4 hari, 6 hari, 8 hari dan 10 hari dan masing-masing perlakuan diulang tiga kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perendaman tahu ke dalam ekstrak daun jambu biji (Psidium guava L) tidak berpengaruh nyata terhadap kandungan protein tahu. Perendaman tahu ke dalam ekstrak daun jambu biji berpengaruh nyata terhadap kandungan vitamin A dan sensori tahu. Perlakuan terbaik adalah tahu yang direndam dalam ekstrak daun jambu biji selama 4 hari dengan kadar protein 10.31 %, vitamin A 168 %, warna 2,67 (agak suka), aroma 3.4 (agak suka), rasa 3.07 (agak suka) dan tekstur 2.93 (agak suka).
, Retno Utami K, Anah Mulyanah
Gorontalo Agriculture Technology Journal, Volume 2, pp 69-78; doi:10.32662/gatj.v2i2.723

Abstract:
Pembuatan pasta makaroni dari tepung talas beneng sebagai pengisi pengganti tepung terigu dengan penambahan daun kelor merupakan salah satu alternatif produk pangan yang dapat menjadi produk biodisversifikasi pangan lokal Kabupaten Pandeglang. Menggunakan berbagai formulasi bahan dan pengaturan penggunaan daun kelor pada makaroni untuk melihat kualitas yang paling baik. Hasil uji proksimat produk makaroni tepung talas beneng dengan penambahan daun kelor adalah kadar air 10,95%, kadar abu 1,82%, lemak 1,27%, protein 23,55% dan karbohidrat 62,41%. Secara organoleptik hasil makaroni yang dihasilkan semakin banyak penggunaan daun kelor akan mempengaruhi warna dan rasa pada makaroni. Talas beneng dapat dijadikan berbagai macam produk olahan sebagai alternatif pangan.
, Isana Arum Primsari
Gorontalo Agriculture Technology Journal, Volume 2, pp 79-87; doi:10.32662/gatj.v2i2.726

Abstract:
Keberadaan hutan mangrove di pesisir selatan kota Yogyakarta, kawasan hutan Baros, Bantul turut serta meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan. Pengembangan kawasan tujuan wisata semakin digalakkan dengan menggerakkan sarana dan prasarana pendukung, seperti usaha perjalanan, hotel dan rumah makan serta industri-industri kerajinan, makanan khas dan tradisional. Sementara itu, hutan mangrove menghasilkan berbagai macam buah mangrove, salah satunya adalah buah siapi-api (Avicenna marina). Buah ini memiliki potensi untuk diolah sebagai bahan pangan seperti yang telah dilakukan oleh beberapa kawasan hutan mangrove lainnya di Indonesia. Menjawab tantangan tersebut maka dikembangkanlah produk yang memanfaatkan buah mangrove sebagai bahan brownies siapi-api sebagai produk oleh-oleh dari Baros, Bantul. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kelayakan finansial pendirian industri kecil brownies siapi-api. Metode yang digunakan adalah metode penelitian deskriptif dengan obyek Kelompok Pemuda Pemudi Baros (KP2B), melalui observasi, survey dan wawancara serta metode kuantitatif melalui perhitungan untuk mengetahui kelayakan finansial. Analisis data finansial yang digunakan menggunakan rumus Revenue Cost (R/C), Benefit Cost (B/C), dan Return On Investment (ROI). Hasilnya, analisis kelayakan finansial menunjukkan bahwa R/C sebesar 1,43 yang artinya R/C>1 layak usaha, aspek B/C sebesar 0,43 yang artinya usaha ini layak dijalankan (B/C>0). Aspek yang terakhir yaitu ROI diperoleh sebesar 43%. Dengan demikian, usaha ini layak untuk dilanjutkan.
Gorontalo Agriculture Technology Journal, Volume 2, pp 99-107; doi:10.32662/gatj.v2i2.725

Abstract:
Tahu susu dibuat dengan cara memanaskan susu segar dengan menambahkan getah pepaya. Untuk mendapatkan cita rasa yang berbeda dari tahu susu konvensional dilakukan modifikasi pada proses pembuatan tahu susu dengan cara fermentasi dan disubtitusi tahu kedelai. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses pembuatan fermentasi tahu susu yang disubtitusi sebagian dengan tahu kedelai. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap Faktorial dengan perlakuan tahu susu sapi 85% : tahu kedelai 15%, tahu susu sapi 80% : tahu kedelai 20%, tahu susu sapi 75% : tahu kedelai 25% dan difermentasi dengan penambahan Lactobacillus lactis sebanyak 2% dan disimpan selama 3 minggu dan setiap minggunya dilakukan pengamatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tahu kedelai dan proses fermentasi berpengaruh terhadap kekenyalan dan uji organeleptik tahu susu sapi yang dihasilkan.
, Asriadi Masnar
Gorontalo Agriculture Technology Journal, Volume 2, pp 51-68; doi:10.32662/gatj.v2i2.722

Abstract:
Keripik Semat Desa Tenjo merupakan Usaha Kecil Menengah (UKM) yang telah memiliki PIRT dengan nomor 2153201010561-22. Meski demikian UKM ini masih memerlukan prosedur-prosedur untuk memenuhi persyaratan-persyaratan kualitas pangan yang baik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis masalah keterbatasan UKM dalam memenuhi persyaratan-persyaratan kualitas pangan yang baik. Dalam penelitian ini permasalahan dianalisis dengan metode observasi, FGD, dan wawancara secara mendalam. Acuan GMP yang dirujuk merupakan standar yang dipakai oleh Food Safety Center of Manitoba (2018). Penerapan Good Manufacturing Practice (GMP) di UKM Keripik Tenjo telah memenuhi syarat-syarat CPPB-IRT pada level 4 (PIRT). Namun diperlukan kontrol yang lebih baik pada peralatan, peningkatan nilai praktek personal, penerapan prosedur penjagaan kebersihan bahan, kontrol lingkungan, pengontrolan penggorengan, pengemasan, dan storage.
Fatmawati Fatmawati, Zulham Zulham
Gorontalo Agriculture Technology Journal, Volume 2, pp 19-29; doi:10.32662/gatj.v2i1.488

Abstract:
Tujuan penelitian ini adalah (1) untuk mengetahui margin pemasaran jagung di Desa Suka Makmur Kecamatan Patilanggio Kabupaten Pohuwato, serta (2) untuk mengetahui efisiensi saluran pemasaran jagung di Desa Suka Makmur Kecamatan Patilanggio Kabupaten Pohuwato. Penelitian ini menggunakan pendekatan kombinasi kualitatif dan kuantitatif (mixed-method) dengan tipe sequential (kombinasi berurutan) kualitatif-kuantitatif dimana bobot kuantitatif lebih besar dibanding kualitatif (qual-QUAN). Penelitian dilaksanakan di Desa Suka Makmur, Kecamatan Patilanggio, Kabupaten Pohuwato Provinsi Gorontalo. Analisis yang digunakan adalah Analisis Miles dan Huberman, analisis biaya dan keuntungan, analisis margin pemasaran, serta analisis efisiensi saluran pemasaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Margin pemasaran jagung sebesar Rp 370 antara pedagang pengumpul dan pedagang besar. Pedagang pengumpul membeli hasil produksi jagung petani dengan harga Rp 2.330/kg kemudian dijual pada pedagang besar dengan harga Rp 2.700/kg. (2) Efisiensi saluran pemasaran jagung yaitu 13,43%. Hal ini berarti saluran pemasaran jagung sudah efisien.
Sitti Nadirah
Gorontalo Agriculture Technology Journal, Volume 2; doi:10.32662/gatj.v2i1.546

Abstract:
Makanan khas daerah merupakan jenis makanan yang biasa dinikmati di berbagai daerah. Ilabulo merupakan salah satu makanan tradisional di provinsi Gorontalo. Ilabulo sendiri dalam bahasa Gorontalo berarti sagu ati ampela, dimana bahan dasar pembuatan ilabulo adalah tepung sagu yang pada umumnya ditambahkan hati dan ampela ayam, Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kandungan gizi produk ilabulo dengan penambahan hati dan ampela ayam serta untuk mengetahui tingkat penerimaan panelis terhadap ilabulo dengan penambahan hati dan ampela ayam. Penelitian meliputi 4 perlakuan yaitu penambahan hati 0 g + ampela 0 g, penambahan hati 15 g + ampela 15 g, penambahan hati 25 g + ampela 25 gr, penambahan hati 50 gr + ampela 50 gr. Parameter yang diamati meliputi, kadar protein, kadar lemak dan uji organoleptik terhadap rasa, aroma, warna dan tekstur ilabulo. Hasil penelitian menunjukan bahwa kadar protein dan kadar lemak tertinggi terdapat pada perlakuan penambahan hati 50 g + ampela 50 g dengan nilai 8,99% pada kadar protein, dan 2,4% pada kadar lemak. Hasil uji organoleptik metode hedonik, menunjukkan tingkat penerimaan terbaik terdapat pada perlakuan penambahan hati 50 g dan ampela 50 g, dari kriteria rasa, aroma, warna, dan tekstur.
Muh Arsyad
Gorontalo Agriculture Technology Journal, Volume 2, pp 10-18; doi:10.32662/gatj.v2i1.480

Abstract:
Panen yang dilakukan sebelum atau setelah masak fisiologis akan berpengaruh terhadap kualitas fisik dan kimia biji jagung. Salah satu aspek penanganan pasca panen yaitu pemanenan pada waktu yang tepat dan dimaksudkan agar jagung yang dipanen dapat bertahan lama, tidak mengalami kerusakan serta kandungan gizi yang terdapat pada bahan pangan tidak banyak mengalami perubahan. Tujuan penelitian adalah mengetahui pengaruh umur pemanenan terhadap sifat fisikokimia jagung hibrida dari segi kadar air, berat biji jagung dan kandungan kadar abu dan mengetahui umur pemanenan yang optimal terhadap fisikokimia jagung hibrida. Penelitian dilakukan dengan mengukur kadar air, kadar abu dan berat biji jagung dengan umur panan yang berbeda yaitu 100 HST, 110 HST, dan 120 HST dan dilakukan pengolahan data dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dan apabila berbeda nyata maka dilanjutkan dengan uji lanjut BNJ. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa sifat fisikokimia jagung hibrida saat pemanenan berpengaruh sangat nyata baik terhadap kadar air dan berat jagung maupun pada kadar abu jagung hibrida. Jagung yang dipanen pada waktu lama secara umum mengalami penurunan kadar air, kadar abu dan berat biji jagung. Pemanenan 100 HST memiliki kadar abu dan berat biji yang optimum sedangkan untuk kadar air pada umur pemanenan 120 HST.
A.Khairun Mutia
Gorontalo Agriculture Technology Journal, Volume 2, pp 30-37; doi:10.32662/gatj.v2i1.538

Abstract:
Bawang merah merupakan salah satu jenis komoditas penting bagi masyarakat yang digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, sehingga perlu diimbangi dengan ketersediaan di pasaran untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Namun bawang merah sangat mudah mengalami perubahan mutu seperti susut bobot, dan penurunan tingkat kekerasan karena memiliki kandungan air yang tinggi, sehingga umur simpan bawang merah menjadi pendek. Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok dengan faktor yaitu kadar air awal penyimpanan. Kadar Air awal yang digunakan adalah 76%, 80% dan 85% dan disimpan dengan suhu 5ºC selama 12 minggu. Parameter yang diamati adalah susut bobot dan tingkat kekerasan. Hasil Penelitian menunjukkan bawah kadar air memberikan pengaruh yang nyata terhadap susut bobot dan tingkat kekerasan dari bawang merah selama penyimpanan. Kadar air awal yang mampu mempertahankan mutu bawang merah selama penyimpanan adalah 80%.
, Riswita Syamsuri, Erina Septianti
Gorontalo Agriculture Technology Journal, Volume 2, pp 38-50; doi:10.32662/gatj.v2i1.483

Abstract:
Bawang merah merupakan salah satu tanaman hortikutlra yang tidak tahan disimpan lama dan menjadi kempes seiring dengan lamanya penyimpanan. Salah satu olahan bawang merah yang baru adalah bubuk bawang merah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh varietas, jenis pengering dan bahan pengisi terhadap kualitas bubuk bawang merah. Penelitian ini dilaksanakan di laboratorium Pascapanen BPTP Sulawesi Selatan dari bulan Nopember sampai Desember 2016. Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Kelompok pola faktorial, terdiri dari 3 faktor dengan 3 kali ulangan. Faktor pertama adalah varietas bawang merah : Bima Brebes dan Maja Cipanas, faktor kedua jenis pengering adalah sinar matahari, oven manual dengan suhu 60oC, oven listrik suhu 60oC dan oven listrik suhu 100oC serta faktor ketiga adalah jenis bahan pengisi : tanpa bahan pengisi, tepung tapioka dan pati jagung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada interaksi nyata antara varietas, jenis pengering dan bahan pengisi terhadap rendemen, kadar air, kadar abu, lemak, protein, warna, aroma dan penilaian secara umum bubuk bawang merah. Bubuk bawang merah yang terbaik adalah varietas Bima brebes yang dikeringkan dengan oven manual suhu 60 oC suhu 60 oC dengan bahan pengisi tapioka degan rendemen 23%, kadar air 7,82%, kadar abu 2,21 %, kadar lemak 3,56%, protein 4,88% dengan warna, aroma, rasa, tekstur dan penilaian secara umum yang disukai
Yulianti Yulianti
Gorontalo Agriculture Technology Journal, Volume 1, pp 8-15; doi:10.32662/gatj.v1i2.411

Abstract:
Ubi jalar salah satu jenis umbi-umbian yang mengandung karbohidrat yang tinggi. Pengolahan ubi jalar menjadi mie kering sudah dilakukan namun mie kering yang dihasilkan mengandung protein yang rendah sehingga perlu ditambahkan alternatif sumber protein dari bahan lain seperti tepung ikan cakalang. Penelitian ini menggunakan metode rancangan acak lengkap dengan tiga perlakuan (A1: tepung ubi jalar 20%, tepung ikan cakalang 50%, tepung terigu 30%, A2 : tepung ubi jalar 50%, tepung ikan cakalang 30%, tepung terigu 20%, dan A3: tepung ubi jalar 70%, tepung ikan cakalang 20%, tepung terigu 10%,) dengan tiga kali ulangan. Hasil penelitian menunjukkan kadar protein mie kering yang dihasilkan berkisar antara 10-11,93% dan kadar karbohidrat 31-35%. Sedangkan uji organoleptik menunjukkan panelis agak suka pada perlakuan A1 dan A2 sedangkan perlakuan A3 disukai oleh panelis baik dari segi warna, aroma, rasa, dan tekstur.
Gorontalo Agriculture Technology Journal, Volume 1, pp 16-26; doi:10.32662/gatj.v1i2.419

Abstract:
Pengolahan gula aren merupakan bentuk usaha kecil yang dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat di pedesaan. Gula aren diolah dari nira, nira terkandung dalam beberapa tumbuhan dari suku Arecaceae, salah satunya adalah terdapat pada pohon aren (Arenga pinnata). Gula aren merupakan produk yang berpotensi menghasilkan pendapatan yang cukup besar. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan input dengan hasil produksi gula merah pada pengrajin di Desa Cammilo Kecamatan Kahu Kabupaten Bone. Metode pengolahan data dilakukan secara kuantitatif dengan menggunakan metode sensus dengan jumlah populasi sebanyak 30 produsen gula merah yang dijadikan sebagai responden penelitian di Desa Cammilo Kecamatan Kahu Kabupaten Bone.Hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa input produksi seperti nira aren, modal, tenaga kerja, bahan tambahan, dan jumlah pohon yang dimiliki ternyata memiliki hubungan input produksi yang sangat kuat pada pengrajin, sedangkan input alat-alat yang dimiliki, pengalaman dan umur pengrajin memiliki hubungan input dengan produksi pengrajin yang cukup rendah. Lain dari pada itu input lama pendidikan tidak memiliki hubungan dengan hasil produksi pengrajin.
Andi Lelanovita Sardianti
Gorontalo Agriculture Technology Journal, Volume 1, pp 16-27; doi:10.32662/gatj.v1i2.412

Abstract:
Pengolahan gula aren merupakan bentuk usaha kecil yang dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat di pedesaan. Gula aren diolah dari nira, nira terkandung dalam beberapa tumbuhan dari suku Arecaceae, salah satunya adalah terdapat pada pohon aren (Arenga pinnata). Gula aren merupakan produk yang berpotensi menghasilkan pendapatan yang cukup besar. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan input dengan hasil produksi gula merah pada pengrajin di Desa Cammilo Kecamatan Kahu Kabupaten Bone. Metode pengolahan data dilakukan secara kuantitatif dengan menggunakan metode sensus dengan jumlah populasi sebanyak 30 produsen gula merah yang dijadikan sebagai responden penelitian di Desa Cammilo Kecamatan Kahu Kabupaten Bone.Hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa input produksi seperti nira aren, modal, tenaga kerja, bahan tambahan, dan jumlah pohon yang dimiliki ternyata memiliki hubungan input produksi yang sangat kuat pada pengrajin, sedangkan input alat-alat yang dimiliki, pengalaman dan umur pengrajin memiliki hubungan input dengan produksi pengrajin yang cukup rendah. Lain dari pada itu input lama pendidikan tidak memiliki hubungan dengan hasil produksi pengrajin.
Tuti Rostianti, Dini Nur Hakiki, Ani Ariska, Sumantri Sumantri
Gorontalo Agriculture Technology Journal, Volume 1, pp 1-7; doi:10.32662/gatj.v1i2.410

Abstract:
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkarakterisasi sifat fisiko-kimia Talas Beneng yang berasal dari Pandeglang, Banten. Analisis proksimat, keputihan, pati total, dan karakteristik pasta ditentukan. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Jurusan Teknologi Pangan, Fakultas Teknik Pertanian, IPB. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar air, abu, lemak, protein, dan karbohidrat masing-masing 10,46%, 4,85%, 0,28%, 3,4%, 82,56%. Rendemen berkisar antara 20-30% dengan derajat putih 84,96%. Tepung talas beneng ditandai dengan gelatinisasi awal pada 83.35o. Kemunduran tepung talas beneng sebesar 582 cP, ini berarti kecenderungan retrogradasi yang tinggi. Tepung talas beneng dapat dibuat produk yang membutuhkan tepung protein rendah dan memiliki karakteristik tidak tahan panas
Muh Arsyad
Gorontalo Agriculture Technology Journal, Volume 1, pp 35-46; doi:10.32662/gatj.v1i2.424

Abstract:
Selai merupakan produk makanan semi basah yang berbentuk setengah padat dan dibuat dari campuran gula, buah, dan pektin. Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh konsentrasi gula yang tepat pada pembuatan selai kelapa muda dan tingkat penerimaan panelis terhadap selai kelapa muda dengan penambahan konsentrasi gula. Percobaan meliputi 4 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan yang dimaksud adalah penambahan gula yaitu 300 g, 330 g, 360 g, 390 g. Parameter yang diamati adalah kadar air, kadar protein, kadar gula, dan uji organoleptik terhadap rasa, aroma, tekstur, dan warna selai kelapa muda. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penambahan gula memberikan pengaruh sangat nyata terhadap kadar air, kadar protein, dan kadar gula selai kelapa muda. Penambahan gula 300 g menghasilkan selai kelapa muda dengan rasa manis yang cukup. Rasa khas dari buah kelapa muda masih terasa dan aroma tidak hilang serta tekstur yang lembut. Sedangkan warna selai kelapa muda panelis lebih menyukai penambahan gula 390 g dikarenakan warna yang kecoklatan sehingga menarik perhatian panelis. Untuk segi rasa, tekstur, dan aroma panelis lebih menyukai selai dengan penambahan gula 300 g, sedangkan dari segi warna panelis lebih menyukai selai dengan penambahan gula 390 g.
, Dini Hakiki, Ani Ariska, Sumantri Sumantri
Gorontalo Agriculture Technology Journal, Volume 1, pp 1-7; doi:10.32662/gatj.v1i2.417

Abstract:
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkarakterisasi sifat fisiko-kimia Talas Beneng yang berasal dari Pandeglang, Banten. Analisis proksimat, keputihan, pati total, dan karakteristik pasta ditentukan. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Jurusan Teknologi Pangan, Fakultas Teknik Pertanian, IPB. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar air, abu, lemak, protein, dan karbohidrat masing-masing 10,46%, 4,85%, 0,28%, 3,4%, 82,56%. Rendemen berkisar antara 20-30% dengan derajat putih 84,96%. Tepung talas beneng ditandai dengan gelatinisasi awal pada 83.35o. Kemunduran tepung talas beneng sebesar 582 cP, ini berarti kecenderungan retrogradasi yang tinggi. Tepung talas beneng dapat dibuat produk yang membutuhkan tepung protein rendah dan memiliki karakteristik tidak tahan panas
Wanti Dewayani, Riswita Syamsuri, Nurjanani Nurjanani, Warda Halil
Gorontalo Agriculture Technology Journal, Volume 1, pp 27-34; doi:10.32662/gatj.v1i2.420

Abstract:
Pengkajian ini dilaksanakan di lahan petani, Kabupaten Pangkajene Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan. Kemudian buah diangkut ke laboratorium BPTP untuk perlakuan dan pengamatan. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Petak Terpisah dengan 3 ulangan. Induk petak adalah perlakuan kemasan terdiri dari 2 faktor yaitu a) dos karton dan b) karung plastik (cara petani). Anak petak terdiri dari 2 faktor yaitu disekat dan tidak disekat dan anak-anak petak adalah pelilinan terdiri dari 2 faktor yaitu dililin dan tidak dililin. Pengamatan dilakukan pada saat sebelum dikirim di makassar dan setelah diangkut di Bogor. Pengamatan dilakukan terhadap berat buah, lingkar buah, kadar gula, kadar asam dan vitamin C. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan yang terbaik pada buah jeruk Pamelo setelah pengangkutan dari Makassar ke Bogor adalah kemasan dos karton yang disekat dan dililin dengan susut bobot terkecil (1,76 – 1,95%), lebar buah normal (14,5 – 19,3 cm), kandungan vitamin C paling tinggi (24,02 – 34,36%), kadar asam (65,00 – 68,74%) dan kadar gula tinggi (8,85 – 11,79 Brixo). Perlakuan yang masih disukai rasanya oleh panelis setelah pengangkutan adalah jeruk pamelo yang dikemas dalam dos, disekat tanpa pelilinan, karung disekat baik dililin maupun tanpa dililin dengan tingkat kesukaan 55%. Sedangkan aroma jeruk masih tetap baik setelah pengangkutan dan tidak berbeda nyata untuk semua perlakuan dengan tingkat kesukaan 67,5 % - 85,00 %. Penampilan yang paling disukai panelis setelah pengangkutan adalah perlakuan pelilinan yang dikemas dalam dos baik disekat maupun tidak disekat
Yulianti Yulianti
Gorontalo Agriculture Technology Journal, Volume 1, pp 8-15; doi:10.32662/gatj.v1i2.418

Abstract:
Ubi jalar salah satu jenis umbi-umbian yang mengandung karbohidrat yang tinggi. Pengolahan ubi jalar menjadi mie kering sudah dilakukan namun mie kering yang dihasilkan mengandung protein yang rendah sehingga perlu ditambahkan alternatif sumber protein dari bahan lain seperti tepung ikan cakalang. Penelitian ini menggunakan metode rancangan acak lengkap dengan tiga perlakuan (A1: tepung ubi jalar 20%, tepung ikan cakalang 50%, tepung terigu 30%, A2 : tepung ubi jalar 50%, tepung ikan cakalang 30%, tepung terigu 20%, dan A3: tepung ubi jalar 70%, tepung ikan cakalang 20%, tepung terigu 10%,) dengan tiga kali ulangan. Hasil penelitian menunjukkan kadar protein mie kering yang dihasilkan berkisar antara 10-11,93% dan kadar karbohidrat 31-35%. Sedangkan uji organoleptik menunjukkan panelis agak suka pada perlakuan A1 dan A2 sedangkan perlakuan A3 disukai oleh panelis baik dari segi warna, aroma, rasa, dan tekstur.
Gorontalo Agriculture Technology Journal, Volume 1, pp 1-9; doi:10.32662/gatj.v1i1.161

Abstract:
Expect this research can provide information about the utilization of sago flour becomes economically benilai products that can be used in the manufacture of food products and then give you information on how to manufacture of sago flour with sweet bread. This research was carried out in the laboratory of Agricultural Technology Courses in February of the year 2017. The materials used in this study was powdered sugar, instant yeast, milk powder, salt, emulsifier, fresh milk, flour and sago appropriate treatment, egg yolks, butter and water ice. While the instrument used was a knife, a plastic sink, oven, baking pans, mixers, Cain and scales. This research method using a complete randomized design (RAL) consisting of three treatment addition of sago flour with wheat flour as much as 3 times. a sweet bread in the produce in a test of water content, rate of carbohydrates and organoleptic (taste, colour, texture and aroma) of research results of research regarding the addition of hasi flour with flour in bread making sago sweet get averages – average water content (33.30%) levels of carbohydrates (61.45%) on different treatment – different. A test of the level of fondness toward color, flavor, aroma and texture the highest results contained on the A3 where a 50% wheat flour and sago flour 50% because many of the panelists liked the organoleptic. Keywords : Sago Flour, All Purpose Flour, Bread Flour, The Addition Of Sago
Gorontalo Agriculture Technology Journal, Volume 1, pp 42-48; doi:10.32662/gatj.v1i1.166

Abstract:
Jam is food products with the consistency of gel or semi solid made of pulp fruit. fruit langsat abundant in particular season, so that need to be further processed to reduce the fruit removed due to damage. the addition of sucrose expected to increase the taste and texture of jam langsat. this study aims to know obtain the formulation of the addition of sucrose (sugar) corresponding to obtain jam good. this study was conducted in the laboratory technology agricultural University gorontalo and in the laboratory Polytechnic gorontalo. this research was conducted in the form of the design of randomized complete (RAL) consisting of 3 treatment and 3 times replicates. from the results of this study, based test organoleptic treatment preferred by panelists is treatment a2 (sugar 65%) with a score of color 3,9 (like), a sense of 4 (like), aroma 3,7 (like) and texture 4,1 (like) Keywords : langsat, jam, sucrose, test organoleptic
Yulianti Yulianti, Khairun Mutia
Gorontalo Agriculture Technology Journal, Volume 1, pp 37-41; doi:10.32662/gatj.v1i1.165

Abstract:
Snakehead fish one species of freshwater having high protein content. In addition snakehead fish has a lot of meat and white so that it can be processed into products such as nuggets. The addition of carrot flour nuggets in processing aims to increase the nutritional value and reduce the use of a binder such as flour. This research uses the method developed consists of two phases, in the first making carrot flour and the second phase of making nuggets snakehead fish with formulation flour carrot (20g , 30g, 40g) , tapioca flour ( 80g , 90g, 70g) and wheat flour (50g, 30g, 40g). Data analysis using a completely randomized design (CRD) with three time test. The results snakehead fish nuggets are a high protein content from 16.03 to 24.7% and and favored by the panel both in terms of taste, color, aroma and texture. Keyword : snakehead fish, nugget, carrot
Gorontalo Agriculture Technology Journal, Volume 1, pp 59-67; doi:10.32662/gatj.v1i1.168

Abstract:
Waste oil is the result addition to the manufacture of coconut milk, coconut meat processed into coconut oil of processing way wet be procured byproduct waste oil. until now utilization is limited to feed and partly be Tempe bongkrek for food. based on the analysis of waste oil still high-value when used as the flour for food ingredients high protein. this study aims untukmengetahui the influence of waste oil terhada water content, karbohidat and organoleptic (color, taste, aroma and texture) brownies.manfaat this study is to provide information on the broad about making brownies with the addition of flour waste oil and can be applied to the product food economic value because flour waste oil has a high content protein, low fat, and gluten-free. this study using the method is composed of creation phase flour waste oil and making process brownies. engineering data processing using the design of randomized complete (RAL), which consists of three treatment and three replicates. brownies the generated then in the test of the content of water content, level of carbohydrate and test organoleptic (color, taste, aroma and texture). of research results brownies of wheat flour and flour dregs coconut obtained highest average that is in the treatment with a comparison of wheat flour 55 grams and flour dregs coconut 45 grams with water content 39,0%, comparison of wheat flour 75 grams and flour dregs coconut 25 grams grading carbohydrates 45,8% and test organoleptic each preferred by panelists terms of aroma, color, taste. Keywords : Sago Flour, All Purpose Flour, Bread Flour, The Addition Of Sago
Gorontalo Agriculture Technology Journal, Volume 1, pp 19-28; doi:10.32662/gatj.v1i1.163

Abstract:
This research is to determine the manufacture of bolu substitution basic flour banana goroho. this study using the design of randomized complete (RAL) with three treatment three times replay, a1 formulated flour banana goroho 150gr and wheat flour 50gr, a2 formulated flour banana goroho 100gr and wheat flour 100gr, a3 formulated flour banana goroho50 grams and wheat flour 150gr. parameters analyzed is water content, ash content, level of carbohydrate and test organoleptic (color, taste, aroma and texture). the results showed that the treatment a2 with the formulation of flour banana goroho 100gr and wheat flour 100gr is the best treatment which can produce bolu preferred by panelists terms, taste, aroma and texture. scent that 4,00, sense that 4,23, and texture that 4,37. and have ash content meet the standards of quality National Indonesia and has a level of carbohydrate 18,37%., water content 27,71% and ash content 1,30% Keywords : sponge, wheat flour, flour banana goroho
Gorontalo Agriculture Technology Journal, Volume 1, pp 10-18; doi:10.32662/gatj.v1i1.162

Abstract:
Skin watermelon is a waste of fruit watermelon that pemanfaatanya as food still low. this study aims to know how to take advantage of the skin watermelon be sweets and find out the influence the addition of sucrose in candied skin watermelon. benefits of this study can optimize waste skin watermelon in order to have the economic value of a high. this study using the method consists of two stages of the first stage of immersion skin watermelon by using the calcium hydroxide, the second phase of boiling skin watermelon using sucrose. engineering data processing using the design of randomized complete (RAL), which consists of three treatment and three replicates. Of the test results organoleptic treatment is best treatment A1 with water content 44,4%, sugar levels 10,27% and vitamin C is 2,41%.Keywords : sucrose, watermelon, skin watermelon
Gorontalo Agriculture Technology Journal, Volume 1, pp 29-36; doi:10.32662/gatj.v1i1.164

Abstract:
Mango (Mangifera Indica L.) cengkir known as the mango from indramayu, so often referred to as the mango indramayu or dermayu. this study aims to know the fruit juice mango indramayu instant and know the concentration of citric acid to quality organoleptic sari mango indramayu instant. step of kerjaa of this study include the preparation of materials and equipment, weighing, cutting, blanching, destruction, filtering, the addition of citric acid and egg whites, drying, in a blender, the addition of sugar, packaging. this study was conducted in the laboratory faculty of agriculture University gorontalo and laboratory polyteknik gorontalo. research methods do is the design of randomized complete with three treatment (0,7%, 0,8%, 1%) and the three times Deuteronomy so that the number of observations is 3. the analysis of the concentration of citric acid include the analysis of water content, vitamin C., and test organoleptic. the results showed that citric acid as much as 1% make water content high ie 2,07 on treatment a3, citric acid in vitamin C. the 5,74 a1. and at the test organoleptic panelists terms of color, sense, the smell like treatment on a1 ie 0,7% citric acid.Keywords : citric acid, mango, vitamin C, organoleptik
Novita Yasin
Gorontalo Agriculture Technology Journal, Volume 1, pp 49-58; doi:10.32662/gatj.v1i1.167

Abstract:
Crackers is the product dry food that has been known in Indonesia, food spread almost to all corners of Indonesia and favored by all walks of life. one of the type of banana that can be used as flour banana is banana kepok. flour banana made of bananas still raw but that was old enough. utilization of flour bananas in the substitution making food items are expected to reduce the dependence of wheat flour. the purpose of penelitin this is to obtain the formulation of the appropriate for the manufacture crackers with a basic materials flour banana kepok and to know the revenue panelists to the characteristics crackers flour banana kepok. this study was conducted in the laboratory technology agricultural University gorontalo and laboratory technology agricultural Polytechnic gorontalo. this research was conducted in the form of the design of randomized complete (RAL) consisting of 3 treatment and 3 times replicates. parameters conducted in this study is water content, ash content, level of carbohydrate and test organoleptic. treatment of research influential very real at the level of carbohydrate, ash content and water content. based test results organoleptic, treatment is best a2 (50% tapioca starch + 50% of flour banana kepok) with a score of aroma 2,9 (somewhat like), a sense of 3,0 (like), texture 2,8 (somewhat like) and the color of 2,7 (somewhat like) grading carbohydrates 8,83%, water content 8,48% and ash content 2,42%. Keywords : crackers, flour banana kepok, banana kepok, test organoleptic, test proximate
Page of 1
Articles per Page
by
Show export options
  Select all
Back to Top Top