Refine Search

New Search

Advanced search

Results in Journal Gorontalo Journal of Public Health: 29

(searched for: journal_id:(4142211))
Page of 3
Articles per Page
by
Show export options
  Select all
Ayu Ghalda, Nazhif Gifari, Nadiyah Nadiyah
Gorontalo Journal of Public Health, Volume 2, pp 170-178; doi:10.32662/gjph.v2i2.737

Abstract:
Physical fitness is the ability of a person body to do a day work without feeling significant fatigue, that the body has a reserve of energy to overcome the excessive workload. The purpose of this study was to determine the relationship between hydration knowledge, hydration status, body composition, hemoglobin level with physical fitness in gymnastics athletes. This study was design a cross sectional study at GOR Raden Inten East Jakarta. Independent variables were hydration knowledge, hydration status, body composition (percent of body fat) and hemoglobin level, while the dependent variable was physical fitness. The statistical test used in this study was the spearman correlation test, because the dependent variable in this study was abnormally distributed. The results of this study were that there was no significant relationship between hydration knowledge and physical fitness (r = 0.181; p > 0.05), there was no significant relationship between hydration status and physical fitness (r = -0,440; p = 0,052), there was no relationship significant between body composition (percent of body fat) and physical fitness (r = 0,351; p > 0.05), and there was a significant relationship between hemoglobin level and physical fitness (r = 0,600; p < 0.05). The conclusion in this study, there was a significant relationship between hemoglobin level and physical fitness.Kebugaran jasmani merupakan kemampuan tubuh seseorang untuk melakukan suatu pekerjaan sehari-hari tanpa merasakan kelelahan yang cukup berarti, sehingga tubuh itu sendiri memiliki cadangan energi untuk mengatasi beban kerja yang berlebih. Tujuanpenelitian ini untuk mengetahui hubungan pengetahuan hidrasi, status hidrasi, komposisi tubuh, kadar hemoglobin dengan kebugaran pada atlet senam. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain penelitian cross sectional yang dilakukan di GOR Raden Inten Jakarta Timur. Variabel independen yaitu pengetahuan hidrasi, status hidrasi, komposisi tubuh (persen lemak tubuh)dan kadar hemoglobin, sedangkan variabel dependen yaitu kebugaran. Uji statistik yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan uji korelasi spearman, karena variabel dependen pada penelitan berdistribusi tidak normal. Hasil dari penelitian yaitu tidak terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan hidrasi dan kebugaran (r=0,181; p>0,05), tidak terdapat hubungan yang signifikan antara status hidrasi dan kebugaran (r=-0,440; p>0,05), tidak terdapat hubungan yang signifikan antara komposisi tubuh dan kebugaran (r=0,351; p>0,05) dan terdapat hubungan yang signifikan antara kadar hemoglobin dan kebugaran (r=0,600; p
Ade Heryana, Erlina Puspitaloka Mahadewi, Iyan Ayuba
Gorontalo Journal of Public Health, Volume 2, pp 92-109; doi:10.32662/gjph.v0i0.462

Abstract:
The enhancement of patient’s visit to hospital led to the increasing of length of queue particularly at registration division. This condition made the long duration of waiting time for patients. Hospital’s management should manage the patients queue especially for the period of bottle neck condition. This operation research reviewed the patients queue at existing outpatient registration service system and proposed the optimal system based on queuing theory and trade-off analysis of cost of service and cost of waiting. Cross-sectional data applied to collect the patient’s arrival rate, service time for every server, waiting cost, and queue related behavior. Result of this study suggested that existing system was non-steady state system and not optimum based on trade-off analysis. Patients who came at least 08.00 am should serve with 2 servers of queue number service, and 6 servers of outpatient registration. Whereas patients who came after 08.00 am should serve with 1 servers of queue number service, and 2 servers of outpatient registration. This study recommended the range of patient’s arrival and service rate that the describe viability of optimum system. This study suggested hospital’s management should be focus on manage the patient arrival at early morning with applied the suitable queue management technology to controlling the registration waiting line.AbstrakPeningkatan kunjungan pasien ke rumah sakit menyebabkan antrian pasien khususnya pada pelayanan rawat jalan bertambah. Kondisi ini menyebabkan waktu tunggu pelayanan menjadi lama. Manajemen rumah sakit sebaiknya mengelola antrian pasien terutama pada pelayanan yang mengalami hambatan (bottle neck). Penelitian operasional ini bertujuan mengkaji antrian pasien pada sistem pelayanan pendaftaran rawat jalan dan merekomendasikan sistem yang optimal berdasarkan analisis dengan teori antrian dan trade-off antara biaya pelayanan dengan biaya menunggu per pasien. Pengumpulan data secara potong lintang untuk mengetahui tingkat kedatangan pasien, tingkat pelayanan tiap loket pelayanan, dan perilaku pasien saat mengantri. Hasil penelitian menunjukkan sistem pelayanan yang ada saat ini dalam kondisi tidak steady state dan tidak optimum berdasarkan analisis trade-off. Direkomendasikan untuk mengoperasikan 2 loket pengambilan nomor antrian dan 6 loket pendaftaran rawat jalan bagi pasien yang datang sebelum jam 08.00, serta mengoperasikan 1 loket pengambilan nomor antrian dan 2 loket pendaftaran rawat jalan bagi pasien yang datang setelah jam 08.00. Pada studi ini peneliti juga merekomendasikan rentang tingkat kedatangan pasien dan tingkat pelayanan yang dapat diterapkan untuk sistem yang optimal. Disarankan agar manajemen rumah sakit memfokuskan pengelolaan kedatangan pasien dan antrian pasien pada pagi hari, dengan menerapkan teknologi pengelolaan atrian yang sesuai.
Sciprofile linkYeni Paramata, Marselia Sandalayuk
Gorontalo Journal of Public Health, Volume 2, pp 120-125; doi:10.32662/gjph.v2i1.390

Abstract:
Kekurangan Energi Kronik (KEK) adalah keadaan dimana remaja putri/wanita mengalami kekurangan gizi (kalori dan protein) yang berlangsung lama atau menahun. Pada tahun 2013 berdasarkan data riset kesehatan dasar prevalensi KEK di kabupaten Gorontalo sebesar 12,5% pada wanita usia 15-49 tahun yang sedang hamil dan 15,1% pada wanita usia 15-49 tahun yang tidak hamil. Untuk mencegah risiko KEK pada ibu hamil sebelum kehamilan, wanita usia subur (WUS) sudah harus mempunyai gizi yang baik, misalnya dengan LILA tidak kurang dari 23,5 cm. Berdasarkan permasalahan diatas penelitian ini bertujuan untuk mengambarkan kejadian kurang energi kronik pada wanita usia subur (15-49 tahun) di kecamatan Limboto Kabupaten Gorontalo. Penelitian ini dilaksanakan di kelurahan Tilihuwa, dengan jumlah sampel sebanyak 162 WUS usia 15-49 tahun yang dipilih secara Accidental sampling. Penelitian ini merupakan studi deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Hasil penelitian ini didapatkan bahwa kejadian KEK terbanyak pada kelompok Wanita Usia 15-24 tahun yaitu 13 orang (81,3%), tingkat pendidikan hanya tamatan SD yaitu 7 orang (43,8%), status pekerjaan sebagai Ibu Rumah Tangga saja yaitu 10 orang (62,5%) dan seluruhnya yang menderita KEK tidak sedang hamil yaitu 16 orang (100%). Untuk mengurangi risiko KEK pada Wanita Usia Subur agar lebih memperhatikan kesehatan dan konsumsi makanan bergizi terutama pada kelompok usia remaja.
A.Meryam Susanti, Sri Darmawati, Endang Tri Wahyuni Maharani
Gorontalo Journal of Public Health, Volume 2, pp 132-138; doi:10.32662/gjph.v2i1.482

Abstract:
Meat is an important food for fulfill nutritional needs, many of meats are consumed as a source of highest quality nutrition for humans, especially as a source of protein. Papaya leaves contain the enzyme papain (a protase enzyme that can hydrolyze proteins), so that it can be used to soften meat. The purpose of this study was to look at an overview of protein profiles in five types of meat, namely goat, beef, buffalo, free-range chicken and broiler chicken which were soaked in papaya leaves. The protein profile of five types of meat was analyzed using the SDS-PAGE 12% method. The results showed that the control meat of goat, beef, buffalo, free-range chicken and broiler chicken which were not soaked in papaya leaves showed that there were many major protein bands compared to minor protein bands. Whereas in goat, beef, buffalo, free-range chicken and broiler chicken which have been soaked in papaya leaves, the results were different compared to the control, there were many minor protein bands. While the major bands only have 6 to 9 protein bands. Based on these results indicate that immersion with the enzyme papain contained in papaya leaves can break down peptide bonds, if it works on meat it can be broken down so the meat becomes tender and protein bands in the form of micromolecules.Daging merupakan bahan pangan yang penting dalam memenuhi kebutuhan gizi, banyak dikomsumsi sebagai sumber nutrisi yang berkualitas bagi manusia terutama sebagai sumber protein. Daun pepaya mengandung enzim papain (enzim protase yang dapat menghidrolisa protein), sehingga dapat digunakan untuk melunakkan daging. Tujuan penelitian ini untuk melihat gambaran profil protein pada lima jenis daging yaitu daging kambing, sapi, kerbau, ayam kampung dan ayam potong yang direndam daun pepaya. Profil protein lima macam daging dianalisis menggunakan metode SDS-PAGE 12%. Hasil penelitian menunjukkan pada daging kontrol yaitu daging kambing, sapi, kerbau, ayam kampung dan ayam potong yang tidak direndam daun pepaya menunjukkan terdapat banyak pita protein mayor dibandingkan pita protein minor. Sedangkan pada daging kambing, sapi, kerbau, ayam kampung dan ayam potong yang telah direndam daun pepaya menunjukkan hasil yang berbeda dibandingkan dengan kontrol yaitu pada semua daging terdapat banyak pita protein minor. Sedangkan pita mayor hanya terdapat 6 sampai 9 pita protein saja. Berdasarkan hasil tersebut menunjukkan bahwa perendaman dengan enzim papain yang terdapat dalam daun pepaya dapat memecah ikatan peptida, jika bekerja pada daging dapat diuraikan sehingga daging menjadi empuk, dan pita protein berbentuk mikromolekul.
Erlina Puspitaloka Mahadewi, Ade Heryana, Yatmi Kurniawati, Iyan Ayuba
Gorontalo Journal of Public Health, Volume 2, pp 110-119; doi:10.32662/gjph.v2i1.463

Abstract:
Service queue is a clasically service problem at hospital. The conotation of patient queue both positive and negative. When the patients more prefer to our services, it’s a positive matter. But when patients forced to waiting the service because the length of service time, it’s a negative matter. It’s suggested that the increasing of inpatients service affected to outpatients, because doctors who served often late to outpatient services room. This condition led to patient’s unsatisfaction due to unappropriateness of service time standards. This study aimed to analyze the determinants of length of outpatient services waiting time who served by pulmonologist at general hospital Tangerang City. Qualitative design was held to get deepest information about length of pulmologist service time. Five informants were recruited i.e outpatient service coordinator, nurse, pulmonologist, and two patients who complained to length of waiting time. Result there were conditions that affected the length of service time i.e lack of nurse skill particularly in spirometre operation, inadequately amount of chair at waiting room and trobleshooting of information system, unavailable of service procedure that led to imprecise of newly patient service, working condition wasn’t support to pulomonogist service i.e inpatient service activity. It’s suggested to complete with procedure operation standard and enhance infrastructure budget to update the information system and the addition of chairs at waiting room.pelayanan rawat jalan akibat petugas terlambat datang ke poliklinik. Hal ini berdampak pada ketidakpuasan pasien karena ketidaksesuaian dari standar yang telah ditetapkan. Atas dasar itulah maka menarik untuk diadakan penelitian tentang faktor penyebab lamanya waktu tunggu pelayanan rawat jalan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penyebab lamanya waktu tunggu pasien di Pelayanan Rawat Jalan Poliklinik Penyakit Paru RSUD Kota Tangerang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan tujuan mendapatkan informasi yang lebih aktual dan akurat mengenai faktor penyebab lamanya waktu tunggu di Pelayanan Rawat Jalan Poliklinik Paru RSUD Kota Tangerang. Informan terdiri dari informan kunci, informan utama dan informan pendukung. Gambaran penyebab lamanya waktu tunggu pelayananan di bagian Instalasi Rawat Jalan dalam pelayanan di Poliklinik Paru RSUD Kota Tangerang, yaitu: perawat masih memerlukan pelatihan dan pengembangan dalam mengoperasikan alat spirometri, fasilitas ruang tunggu yaitu kursi yang masih belum mencukupi dan program SIMRS (system infromasi manajemen Rumah Sakit) yang harus lebih baik lagi untuk menunjang kegiatan di pelayanan poliklinik paru, prosedur pemberian pelayanan masih belum lengkap, SOP (Standar Operasional Prosedur) alur pelayanan belum ditetapkan, sehingga pada pasien baru sering terjadi salah prosedur, tingginya jumlah tindakan pasien paru rawat inap menyebabkan lamanya pelayanan. Saran sebaiknya manajemen rumah sakit...
Sciprofile linkSuardi Suardi, Ana Hidayanti Mukarromah, Stalis Norma Ethica
Gorontalo Journal of Public Health, Volume 2, pp 126-131; doi:10.32662/gjph.v2i1.481

Abstract:
Fish is a potential source of animal protein, but has a weakness that is easy to rot. To avoid decay can be preserved by salting the fish. In this study wet salting was carried out to analyze the effect of salting on fish protein. The sample used was a type of gourami with 5 tails. 1 for the sample before salting and 4 for salting each salted at 10, 20, 30 and 40% b/v after that it was left to stand for 12 hours. The research method used was the Gel Electrophoresis method (SDS-PAGE) to determine molecular weight (MW), looking at the purity and damage of proteins in the sample. The samples of gouramy before salting showed 16 bands, 8 major bands and 8 minor ribbons. Samples of gouramy with a salt concentration of 10% b/v showed 16 bands, 7 major bands and 9 minor bands. Samples of gouramy with a salt concentration of 20% b/v showed 14 bands, 7 major bands and 7 minor bands. Samples of gouramy with a salt concentration of 30% b/v showed 10 bands, 3 major bands and 7 minor bands. Samples of gouramy with a salt concentration of 40% b/v showed 9 bands, 3 major bands and 6 minor bands. Thus it can be concluded that salting of fish can affect the gouramy protein, which is the higher the salt content added, the protein found in the fish will be denatured. The salting process of 10% b/v in gouramy meat is the most recommended salting process compared to the salting process of 20, 30 and 40% b/v.Ikan merupakan sumber protein hewani yang potensial, namun memiliki suatu kelemahan yaitu mudah membusuk. Untuk menghindari pembusukan dapat dilakukan pengawetan dengan penggaraman pada ikan. Pada penelitian ini dilakukan penggaraman basah untuk menganalisis pengaruh penggaraman terhadap protein ikan. Sampel yang digunakan adalah jenis ikan gurami sebanyak 5 ekor. 1 ekor untuk sampel sebelum penggaraman dan 4 ekor dilakukan penggaraman masing-masing digarami dengan kadar 10, 20, 30 dan 40% b/v setelah itu didiamkan selama 12 jam. Metode penelitian yang digunakan adalah metode Elektroforesis Gel (SDS- PAGE) untuk menentukan berat molekul (BM), melihat kemurnian dan kerusakan protein pada sampel. Pada sampel ikan gurami sebelum penggaraman menunjukkan 16 pita, 8 pita mayor dan 8 pita minor. Sampel ikan gurami dengan konsentrasi garam 10% b/v menujukkan 16 pita, 7 pita mayor dan 9 pita minor. Sampel ikan gurami dengan konsentrasi garam 20% b/v menunjukkan 14 pita, 7 pita mayor dan 7 pita minor. Sampel ikan gurami dengan konsentrasi garam 30% b/v menunjukkan 10 pita, 3 pita mayor dan 7 pita minor. Sampel ikan gurami dengan konsentrasi garam 40% b/v menunjukkan 9 pita, 3 pita mayor dan 6 pita minor. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penggaraman pada ikan dapat berpengaruh terhadap protein ikan gurami yaitu makin tinggi kadar garam yang ditambahkan maka protein yang terdapat pada ikan akan terdenaturasi. Proses penggaraman 10% b/v pada daging ikan gurami merupakan proses penggaraman yang paling disarankan dibandingkan proses penggaraman 20,30 dan 40% b/v.
Safrudin Tolinggi, Kasma Mantualangi, Nuryani Nuryani
Gorontalo Journal of Public Health, Volume 1; doi:10.32662/gjph.v1i2.320

Abstract:
One cause of maternal morbidity and mortality is preeclampsia. The purpose of this research was to determine the risk factors of preeclampsia. The type of research was observational analytic using a case control study to determine risk factors for the incidence of preeclampsia in pregnant women. The population in this study as many as 1182 people and the sample size of 168 people consisting of case and control samples. Sampling technique was used purposive sampling. Results was showed that analysis unvariate parity 1 and > 3 as many as 62,5%, the distance of pregnancy < 2 years and > 5 years as many as 35,7% and education < 9 years as many as 33,3%. Analysis bivariate with odds ratio values obtained OR = 1.052, with a lower limit value (0.563) and the upper limit (1.965) then parity was significant risk factor on the incidence of preeclampsia. Results of statistical bivariate analysis OR = 2.088, with a lower limit value (1.096) and the upper limit (3.978) then the distance pregnancy was significant risk factor on the incidence of preeclampsia. Results of statistical bivariate analysis odds ratio values obtained OR = 1.239, with a lower limit value (0.652) and the upper limit (2.354) then education was a significant risk factor on the incidence of preeclampsia. The conclusion of this study was the parity, gap of pregnancy and education were the risk factor for preeclampsia in pregnant women.Keywords; age, education, gap of pregnancy, parity, preeclampsiaAbstrakSalah satu penyebab morbiditas dan mortalitas ibu adalah preeclampsia. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor risiko kejadian preeclampsia. Jenis penelitian yang digunakan adalah observasional analitik dengan menggunakan rancangan case control study untuk mengetahui faktor risiko kejadian preeklampsia pada ibu hamil. Populasi dalam penelitian ini sebanyak 1182 orang dan jumlah sampel 168 orang yang terdiri dari sampel kasus dan kontrol. Tehnik pengambilan sampel secara purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan analisis univariat paritas 1 dan > 3 sebanyak 62,5%, jarak kehamilan < 2 tahun dan > 5 tahun sebanyak 35,7% dan pendidikan < 9 tahun sebanyak 33,3%. Analisis bivariat dengan uji odds ratio diperoleh nilai OR=1,052, dengan nilai lower limit (0,563) dan upper limit (1,965) maka paritas merupakan faktor risiko yang bermakna terhadap kejadian preeklampsia. Hasil analisis statistik bivariat dengan uji odds ratio dengan nilai OR=2,088, dengan nilai lower limit (1,096) dan upper limit (3,978) maka jarak kehamilan merupakan faktor risiko yang bermakna terhadap kejadian preeklampsia. Hasil analisis statistik bivariat dengan uji odds ratio diperoleh nilai OR=1,239, dengan nilai lower limit (0,652) dan upper limit (2,354) maka pendidikan merupakan faktor risiko yang bermakna terhadap kejadian preeklampsia. Kesimpulan dari penelitian ini adalah paritas, jarak kehamilan dan pendidikan merupakan faktor risiko kejadian preeklampsia pada ibu hamil.Kata kunci; umur,...
Sunarti Hanapi, Zul Adhayani Arda
Gorontalo Journal of Public Health, Volume 1, pp 72-77; doi:10.32662/gjph.v1i2.376

Abstract:
Populasi lanjut usia (Lansia) membawa berbagai implikasi dari aspek sosial, ekonomi, keadilan, politik terutama kesehatan. Masalah kesehatan adalah salah satu masalah utama bagi penduduk lanjut usia, karena berhubungan dengan masalah fisiologis yang terjadi secara alami serta kekhawatiran yang subsistensi. Salah satu upaya penanganan masalah kesehatan lansia adalah melalui perawatan kesehatan masyarakat lansia. Tujuan penelitian untuk menentukan faktor-faktor yang terkait dengan kunjungan lansia ke Posyandu Lansia. Jenis penelitian yang digunakan adalah observasional analitik dengan desain cross sectional study. Sampel dalam penelitian ini adalah sebagian lansia yang tinggal di wilayah kerja Puskesmas Bongomeme, Puskesmas Tibawa, Puskesmas Batudaa dan Puskesmas Limboto Barat di Kabupaten Gorontalo sebanyak 349 orang. Penelitian ini dilakukan pada bulan Desember 2017 - Februari 2018. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan (p value = 0,006) dengan kunjungan lansia ke Posyandu Lansia. Namun, tidak ada hubungan yang signifikan antara keaktifan kader (p value = 0,871), dukungan keluarga (p value = 0,642) dan jenis layanan (p value = 0,225) dengan kunjungan lansia ke Posyandu Lansia di beberapa Puskesmas di Kabupaten Gorontalo. Kepada semua penyelenggara Posyandu Lansia kiranya dapat menempatkan Posyandu pada posisi yang strategis dan tidak terlalu jauh dari rumah kelompok Lansia, untuk memudahkan akses Lansia berkunjung ke Posyandu Lansia.
Sugiarto Sugiarto, Herdianti Herdianti, Entianopa Entianopa
Gorontalo Journal of Public Health, Volume 1, pp 56-64; doi:10.32662/gjph.v1i2.274

Abstract:
Tuberkulosis (TB) adalah penyakit menular yang dapat menyerang berbagai organ, terutama paru-paru. Data Puskesmas Muara Kumpeh diketahui bahwa jumlah penderita TB paru meningkat setiap tahun, pada tahun 2016 terdapat 54 kasus dan meningkat pada tahun 2017 menjadi 68 kasus. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran pengetahuan, persepsi, efikasi diri dan pengaruh interpersonal pasien dalam mencegah penularan TB Paru di Puskesmas Muara Kumpeh Kabupaten Muaro Jambi. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain penelitian cross sectional. Sampel penelitian berjumlah 68 orang yang dikumpulkan secara total sampling. Penelitian ini dilakukan dari bulan April hingga Agustus 2018. Analisis data menggunakan analisis frekuensi yang berguna untuk memberikan gambaran umum masing- masing variabel. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan sebagian besar pasien masih rendah 58,8%, persepsi sebagian besar pasien tergolong rendah 70,6%, self efficacy dalam kategori rendah 66,2% dan sebagian besar hubungan interpersonal 51,5% dalam kategori rendah. Sebanyak 54 (79,4%) responden melakukan upaya pencegahan transmisi TB paru tergolong tidak baik. Secara umum, rata-rata penderita masih dalam kategori rendah untuk variabel pengetahuan, persepsi, self efficacy dan hubungan interpersonal dalam pencegahan penularan TB paru di lingkungan mereka. Sebagian besar responden tidak melakukan pencegahan penularan dengan benar. Disarankan bahwa petugas kesehatan membina hubungan terapeutik dengan pasien yang membuat pasien lebih nyaman dan terbuka untuk bertanya tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan TB paru.
Sciprofile linkMoh. Rivandi Dengo, Ari Suwondo, Suroto Suroto
Gorontalo Journal of Public Health, Volume 1, pp 78-84; doi:10.32662/gjph.v1i2.347

Abstract:
Air pollution from toxic materials is one of the world's health problems. The study was aimed to measure and analyze carbon monoxide (CO) exposure with oxygen saturation and work fatigue in parking attendants. The research method was quantitative research with cross sectional study approach that was the measurement of variables carried out simultaneously. The non-random sampling method of sampling with total sampling technique that all parking attendants on the Setiabudi street in Semarang City. The number of research subjects was 30 people. The results showed that as much as 26.7% with abnormal CO exposure, 70.0% abnormal oxygen saturation, 56.7% of the study subjects experienced moderate fatigue and 43.3% mild fatigue. The results of bivariate analysis showed that CO exposure not normal with abnormal oxygen saturation 75.0%, while normal CO exposure with abnormal oxygen saturation 62.8%, statistical test results obtained p value = 1,000. Analysis of abnormal CO exposure with moderate work fatigue 25.0%, while normal CO exposure with moderate work fatigue 68.2%, statistical test results obtained p value = 0.035. It was concluded that CO exposure was not associated with oxygen saturation and CO exposure had a significant associated with work fatigue.Keywords; CO exposure, work fatigue, oxygen saturationAbstrakPencemaran udara yang berasal dari bahan toksik merupakan salah satu masalah kesehatan dunia. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur dan menganalisis paparan karbon monooksida (CO) terhadap saturasi oksigen dan kelelahan kerja pada petugas parkir. Metode penelitian adalah penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional study yakni pengukuran variabel dilakukan secara bersamaan. Metode pengambilan sampel non random sampling dengan tekhnik total sampling yakni seluruh petugas parkir di jalan Setiabudi Kota Semarang. Jumlah subjek penelitian sebanyak 30 orang. Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 26,7% dengan paparan CO tidak normal, 70,0% saturasi oksigen tidak normal, 56,7% subjek penelitian mengalami kelelahan sedang dan 43,3% kelelahan ringan. Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa paparan CO tidak normal dengan saturasi oksigen tidak normal 75,0%, sementara paparan CO normal dengan saturasi oksigen tidak normal sebanyak 62,8%, hasil uji statistic diperoleh nilai p value = 1,000. Analisis paparan CO tidak normal dengan kelelahan kerja sedang 25,0%, sementara paparan CO normal dengan tingkat kelelahan kerja sedang 68,2%, hasil uji statistic diperoleh nilai p value = 0,035. Disimpulkan bahwa paparan CO tidak berhubungan dengan saturasi oksigen dan paparan CO memiliki hubungan signifikan dengan kelelahan kerja.Kata kunci; kelelahan kerja, paparan CO, saturasi oksigen
Page of 3
Articles per Page
by
Show export options
  Select all
Back to Top Top