Refine Search

New Search

Results in Journal PINUS: Jurnal Penelitian Inovasi Pembelajaran: 39

(searched for: journal_id:(4130522))
Page of 1
Articles per Page
by
Show export options
  Select all
Kiky Zuliana Sari, Tjetjep Yusuf Afandi, Bayu Surindra
PINUS: Jurnal Penelitian Inovasi Pembelajaran, Volume 6, pp 62-69; https://doi.org/10.29407/pn.v6i2.14915

Abstract:
Basically students have a positive assumption on the way that the subject teacher uses the way in teaching and delivering materials. Based on the results of the initial research at SMK PGRI 3 Kediri, it is known that the value obtained by students is less than the maximum. Where the learning results obtained by students are still below the minimum completion criteria (KKM) of seventy-five (75). This research aims to know the influence between teacher methods in teaching and the level of independence in students' learning, as well as changes in student learning outcomes in accounting subjects at SMK PGRI 3 Kediri. The research method used in this study is quantitative method with double regression approach. Where the object is a grade X student of 25 students. The results of this study generally showed a positive influence or have a significant influence on the methods and ways used by teachers in teaching, as well as the influence between the independence carried out by students during learning on the results obtained by students in learning in school. Furthermore, students' perception of the methods used by teachers in teaching and showing self-reliance in learning, simultaneously has a positive and significant influence. Keywords: Teacher Teaching Method, Self-Reliance, Learning Outcomes
Patmisari, Sri Setyawati, Achmad Muthali’In, Wibowo Heru Prasetiyo
PINUS: Jurnal Penelitian Inovasi Pembelajaran, Volume 6, pp 29-43; https://doi.org/10.29407/pn.v6i2.14949

Abstract:
Satu persoalan yang menantang para educator ialah meningkatkan keterlibatan siswa sebagai warga muda ke dalam aktivitas pembelajaran. Dalam konteks pembelajaran kewarganegaraan, keterlibatan siswa di kelas dapat menjadi indikasi pertama dan penting yang menggambarkan kemungkinan mereka di masa depan untuk menjadi warga negara yang aktif dan bertanggung jawab dalam mengelola isu-isu bersama. Lebih dari pada itu, keterlibatan dalam pembelajaran menjadi pretensi terhadap tingkat partisipasi belajar sekaligus optimalisasi student-centered approach. Studi ini dilakukan secara kualitatif pada satu sekolah dengan setting pada pembelajaran civic education. Informan yang dilibatkan terdiri atas guru dan siswa dengan menggunakan teknik wawancara, observasi, dan dokumen. Fokus studi diarahkan kepada pengungkapan bentuk-bentuk keterlibatan siswa dalam pembelajaran civic, kendala guru dalam meningkatkan keterlibatan siswa, dan upaya-upaya untuk mengatasi beberapa kendala yang ada. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk keterlibatan siswa ditunjukkan dengan aktif mengerjakan soal yang diberikan guru, tampil di depan kelas, mengungkapkan pendapat, menanggapi pendapat siswa lain. Kendala yang ditemukan adalah tidak semua kemampuan siswa itu sama dalam berpartisipasi. Solusi yang diberikan dalam penelitian ini adalah pengelolaan kelas dengan baik. Kata Kunci: warga muda, keterlibatan siswa, civic education.
Mariyani Mariyani, Andarusni Alfansyur
PINUS: Jurnal Penelitian Inovasi Pembelajaran, Volume 6, pp 1-15; https://doi.org/10.29407/pn.v6i2.15024

Abstract:
Abstrak Tantangan besar bagi dunia pendidikan Indonesia semenjak wabah Covid-19 yang melanda saat ini. Terutama dengan adanya surat edaran belajar dari rumah oleh kementerian pendidikan dan kebudayaan dalam kondisi darurat pandemic Covid-19. Untuk mengatasi kondisi saat ini pembelajaran tatap muka menjadi pembelajaran dari rumah dengan memanfaatkan jaringan internet. Menjadi permasalahan utama ketika pembelajaran dari rumah berbasis internet tidak mampu menjangkau berbagai lokasi di Indonesia sehingga proses pembelajaran tidak berjalan dengan optimal. Oleh karena itu peran guru untuk menentukan strategi dalam pelaksanaan pembelajaran jarak jauh sangat dibutuhkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui strategi guru PPKn dalam pelaksanaan pembelajaran jarak jauh selama masa Pandemi Covid-19 di PALI, Sumatera Selatan. Metode penelitian yang digunakan ialah kualitatif deskriptif dengan narasumber 4 orang guru PPKn yang dipilih sesuai dengan tujuan penelitian (purposive sampling). Adapun hasil diperoleh bahwa 1) strategi rencana yang dilakukan guru PPKn ialah merancang pembelajaran yang sesuai dengan kondisi siswa di daerah tersebut, lalu melakukan sosialisasi mengenai pembelajaran daring melalui web sekolah, menghubungi orang tua bahkan sosialisasi kepada siswa mengenai pembelajaran daring; 2) strategi taktik yang digunakan guru PPKn ialah mempermudah siswa untuk melaksanakan pembelajaran dengan berbagai media pembelajaran yang bisa diakses oleh semua siswa seperti whatsapp atau google classroom; 3) strategi pola yang dilakukan oleh guru PPKn ialah mengolah pembelajaran dengan memanfaatkan media pembelajaran dan pendekatan yang efektif walaupun banyak kendala yang dihadapi oleh siswa dan guru. Simpulan penelitian bahwa dari ketiga strategi yang dilakukan guru PPKn di berbagai kondisi bahwa untuk strategi rencana dan taktik guru telah memaksimalkan kemampuan mengolah pembelajaran jarak jauh berbasis daring. Akan tetapi pada strategi pola agar mampu melaksanakan pembelajaran jarak jauh berbasis daring ini terdapat kendala dan tantangan mengingat berbagai kondisi ekonomi, geografis, sosial bahkan keterjangkauan teknologi dalam menunjang pembelajaran jarah jauh berbasis daring di Sumatera Selatan.
Wiyanti Maratus Sholihah
PINUS: Jurnal Penelitian Inovasi Pembelajaran, Volume 6, pp 50-61; https://doi.org/10.29407/pn.v6i2.13840

Abstract:
Educational programs for students with mental retardation emphasize the preparation of students to live independently after finishing school. One educational strategy for children and adolescents with mental retardation is to teach daily life skills. The purpose of this study is to conduct a literature review on strategies to teach daily life skills to children and adolescents with mental retardation. Literature searches were carried out on seven databases, namely ERIC, SpringerLink, ScienceDirect, SAGE, JSTOR, Emerald Insight and Google Schoolar. The keywords used in this search are "teaching daily living skills" and "mental retardation"; "Teaching daily living skills" and "intellectual disability". A total of 5 articles (N = 614) will be reviewed through a screening process based on inclusive and exclusive criteria. The results show that there are strategies to teach daily life skills to children and adolescents with mental retardation by using video prompting, video modeling, constant-time delay and most-to-least prompt. Keyword: daily living skills; mental retardation; video prompting; video modeling; constant-time delay; most-to-least prompt procedures; literature review
Laelatul Arofah, Santy Andrianie, Restu Dwi Ariyanto
PINUS: Jurnal Penelitian Inovasi Pembelajaran, Volume 6, pp 16-28; https://doi.org/10.29407/pn.v6i2.14992

Abstract:
A great nation is not determined by the natural wealth and technology possessed by a nation, but because of the strong character of the nation. Based on this statement, strengthening character education needs to be implemented to support the strengthening of the character of the nation's next generation. Based on a preliminary study conducted in vocational high schools, it is found that many students have low religious character. This is necessary to remember the importance of religious character as a balance to other characters. The final goal to be realized in this study is to develop an android application innovation to strengthen the religious character of Vocational High School students that can be accepted theoretically and practically so that it can be widely used in educational settings as one of the guidance media that aims to overcome the problem of religious character in student classes. The development model used in this study was adapted from the development research model of Borg & Gall (1983). Currently the research process is in stage 3, namely the initial development of the wrong product design, namely developing a scale instrument for religious character. The scale of religious character consists of 28 statement items whose development is based on the religious dimensions of Glock and Strak (1974), namely dimensional beliefs, dimensions of religious practice, dimensions of appreciation, and dimensions of loss and experience. In this article we will build on the validity and reliability of the statement items on the religious character scale. The validity results obtained were in the form of 24 statement items that were declared valid and the instruments were declared valid for use, as evidenced by the reliability value of 0.971 or in the very high category. Based on the results of the validity and reliability, the scale of religious character can be used to measure the religious character of vocational school students Keyword: religious character, validity, reliability
Rosalia Dewi Nawantara
PINUS: Jurnal Penelitian Inovasi Pembelajaran, Volume 6, pp 44-49; https://doi.org/10.29407/pn.v6i2.15654

Abstract:
Gifted and talented students have very distinctive characteristics, namely having high intelligence, task commitment, and creativity. Some of these points then raise questions about how their social skills are, especially regarding interpersonal conflict solving skills. Often the advantages in the intellectual field make the assumption that the social skills of gifted and talented students are lacking. This study aims to determine the profile of interpersonal conflict solving skills of gifted and talented students at SMAN Kota Malang. The research approach used a quantitative research approach with survey research techniques and total sampling techniques. The sample used was 162 students. The research instrument used a scale of interpersonal conflict solving skills that had been tested for validity and reliability. The results showed that the most gifted and talented students' interpersonal conflict solving skills at SMAN in Malang were in the high category, namely 76%. The very high category was 22%, the moderate category was 2%, and the low and very low category was 0%. The results of this study can be used by counseling teachers in planning counseling services for gifted and talented students. Keyword: interpersonal conflict resolution skills, gifted and talented students
Agus Riyanto
PINUS: Jurnal Penelitian Inovasi Pembelajaran, Volume 6, pp 70-76; https://doi.org/10.29407/pn.v6i2.14313

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelayakan aplikasi dokter sebagai media pelajaran materi rekam medis di STIKes Bhakti Husada Bengkulu. Jenis penelitian ini adalah penelitian dan pengembangan (Research and Development) dengan mengadopsi prosedur ADDIE. Pengembangan produk awal merupakan proses pembuatan media yang didasarkan pada analisis kebutuhan. Uji ahli atau validasi dilakukan oleh 2 orang ahli media dan 2 orang ahli materi untuk menilai produk awal serta merevisi produk awal sesuai saran para ahli. Uji lapangan skala kecil dilakukan oleh 8 mahasiswa dan uji lapangan skala besar dilakukan oleh 46 mahasiswa yang menempuh mata kuliah Sistem Informasi Kesehatan. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini dengan observasi, wawancara dan angket. Instrumen penelitiannya berupa panduan observasi, panduan wawancara, dan angket. Hasil penelitian pengembangan ini berupa produk media pembelajaran aplikasi dokter materi rekam medis yang telah diuji kelayakannya oleh ahli media, ahli materi dan mahasiswa sebagai pengguna media tersebut. Keseluruhan hasil uji coba menunjukkan hasil yaitu memperoleh kategori sangat layak dengan rincian: (1) uji ahli materi mendapatkan hasil 3,53 atau 88,25% sangat layak, (2) uji ahli media mendapatkan hasil 3,51 atau 87,75% sangat layak, (3) uji skala kecil oleh siswa memperoleh hasil 3,56 atau 89% sangat layak, (4) uji skala besar oleh siswa memperoleh hasil 3,59 atau 89,75% sangat layak. Berdasarkan hasil uji kelayakan media dapat disimpulkan aplikasi dokter sangat layak untuk digunakan sebagai media pembelajaran materi rekam medis di STIKes Bhakti Husada Bengkulu
Dema Yulianto, Hanggara Budi Utomo, Epritha Kurniawati
PINUS: Jurnal Penelitian Inovasi Pembelajaran, Volume 6, pp 119-126; https://doi.org/10.29407/pn.v6i1.14869

Abstract:
Mengelola emosi dapat dilakukan dengan pendekatan kognitif dan perilaku. Pendekatan kognitif menjelaskan bahwa emosi yang dirasakan individu merupakan hasil dari penilaian terhadap situasi yang dihadapinya. Tujuan penelitian adalah untuk mendeskripsikan dan mengeksplorasi pendekatan regulasi emosi secara kognitif guru dalam menghadapi perilaku anti sosial anak TK. Metode penelitian ini adalah studi pustaka dengan pendekatan kualitatif. Secara mendasar, studi pustaka terkait dengan kajian teoritis dan referensi lain yang berkaitan dengan nilai, budaya, dan norma yang berkembang pada situasi yang diteliti. Peran regulasi emosi secara kognitif yang dapat dilakukan guru, antara lain: (1) guru dapat mengajarkan regulasi emosi anak dengan cara menanggapi emosi dan mengajarkan tentang emosi; (2) guru dapat memberikan bimbingan dalam kompetensi emosional dengan cara memberikan contoh emosi yang positif dan negatif, cara menanggapi emosi anak, dan memanifestasikan emosi; (3) guru dapat berinteraksi dengan anak, sambil mengidentifikasi emosi yang sering muncul pada diri anak-anak.
Itot Bian Raharjo, Dema Yulianto
PINUS: Jurnal Penelitian Inovasi Pembelajaran, Volume 6, pp 127-138; https://doi.org/10.29407/pn.v6i1.15218

Abstract:
This study provides an overview of the management of the implementation of music extracurricular activities in early childhood education (PAUD). The background is the constraints or problems in the management system. Therefore, the implementation of music extracurricular activities in PAUD must be managed seriously. Good and suitable management of extracurricular music implementation will have a positive effect on the quality of education in PAUD. This research method is literature study. Data collection is by collecting main and supporting reference data. The data analysis technique is content analysis. The results of the assessment on the management of the implementation of music extracurricular activities in early childhood education are carried out using 4 stages, namely: 1) planning needs analysis, types, the background, implementation objectives, materials, evaluation tools, outputs, sarpras, criteria for trainers (instructors), 2) organizing in division of tasks, authorities, and responsibilities for executing extra activities, 3) implementation of activities in accordance with the implementation plan and organizing process, and 4) evaluation of activities. Keyword: management, extracurricular, music art, PAUD.
Guruh S. Hanggara, Laelatul Arofah, Santy Andrianie
PINUS: Jurnal Penelitian Inovasi Pembelajaran, Volume 6, pp 75-89; https://doi.org/10.29407/pn.v6i1.14902

Abstract:
Kesadaran gender merupakan kompetensi penting dalam perkembangan siswa SD sebagaimana terumuskan dalam SKKPD. Kasus kurangnya kesadaran gender dapat ditemukan di SD Negeri Kolomayan 2 Blitar yang belum dapat dipetakan tingkat kesadaran gendernya. Untuk dapat dijadikan sebagai landasan pemetaan maka penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan Skala Kesadaran Gender (SKG-SD) Untuk Siswa Sekolah Dasar yang valid secara konten dan konstruk. Untuk mencapai tujuan penelitian yang diinginkan, peneliti menggunakan rancangan pengembangan instrumen. Adapun hasil yang didapatkan adalah SKG-SD dengan nilai validitas isi sebesar 1,00 yang berarti sangat layak. Selanjutnya hasil analisi butir alpha croncbach berhasil menyaring item-item SKG-SD menjadi 16 item saja dengan nilai reliabilitas akhir sebesar 0,879 dalam kategori sangat baik dan andal. Kata Kunci : instrumen, skala kesadaran gender, siswa SD
Mochamad Muchson
PINUS: Jurnal Penelitian Inovasi Pembelajaran, Volume 6, pp 90-108; https://doi.org/10.29407/pn.v6i1.15222

Abstract:
Tujuan dari penelitian ini adalah upaya untuk meningkatkan motivasi, aktivitas dan prestasi belajar mahasiswa melalui penerapan pendekatan pembelajaran kontekstual (contextual teaching and learning). Metode penelitian menggunakan Penelitian Tindakan Kelas 3 siklus. Sampel penelitian adalah sampel jenuh dimana seluruh populasi menjadi anggota sampel. Instrumen penelitian menggunakan tes dan observasi. Teknik analisis data menggunakan statistik deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan:1) Siklus pertama: motivasi dan aktivitas belajar mahasiswa berkategori cukup dilihat dari hasil test secara individu 40% mahasiswa berkategori cukup dan 60% mahasiswa berkategori baik. Dilihat dari tingkat ketuntasan belajar secara individu 60% mahasiswa sudah tuntas belajarnya dan apabila dilihat dari ketuntasan kelas ternyata belum tuntas belajarnya. Hal ini disebabkan karena mahasiswa belum terbiasa dengan metode kontekstual. Mahasiswa terbiasa dengan metode ceramah dimana dosen langsung menjelaskan materi kuliah sedang dalam pendekatan kontekstual mahasiswa memahami suatu materi mata kuliah melalui keterlibatan yang tinggi dalam pembelajaran; 2) Siklus kedua: dimana dosen memberi penekanan pada mahasiswa untuk meningkatkan keterlibatan dalam proses pembelajaran menunjukkan bahwa motivasi dan aktivitas belajar 60% mahasiswa berkategori baik dan 40% mahasiswa berkategori baik sekali. Hal ini dilihat dari hasil test materi mata kuliah secara individu 60% mahasiswa berkategori baik dan 40% mahasiswa berkategori baik sekali. Dilihat dari tingkat ketuntasan belajar ternyata baik secara individu maupun secara kelas 100% mahasiswa sudah tuntas belajarnya. Hal ini disebabkan mahasiswa sudah beradaptasi dengan pembelajaran kontekstual sehingga motivasi, aktivitas dan nilai testnya meningkat; 3) Siklus ketiga dimana dosen bertindak sebagai motivator dan fasilitator dalam proses pembelajaran menunjukkan bahwa motivasi dan aktivitas belajar 20 % mahasiswa berkategori baik dan 80 % mahasiswa berkategori baik sekali. Berdasarkan hasil test materi mata kuliah secara individu 20% mahasiswa berkategori baik dan 80% mahasiswa berkategori baik sekali. Dilihat dari tingkat ketuntasan belajar ternyata baik secara individu maupun secara kelas 100% mahasiswa sudah tuntas belajarnya. Hal ini disebabkan mahasiswa sudah terbiasa dengan pembelajaran kontekstual sehingga motivasi, aktivitas dan nilai testnya tinggi. Pembelajaran kontekstual dapat meningkatkan prestasi belajar karena: 1) Mahasiswa secara aktif terlibat dalam proses pembelajaran, 2) Mahasiswa belajar dari teman melalui kerja kelompok, diskusi, dan saling mengoreksi, 3) Pembelajaran dikaitkan dengan kehidupan nyata dan atau masalah yang disimulasikan, 4) Perilaku dibangun atas kesadaran diri, 5) Ketrampilan dikembangkan atas dasar pemahaman, 6) Hadiah untuk perilaku baik adalah kepuasan diri, 7) Mahasiswa menggunakan kemampuan berpikir kritis, terlibat penuh dalam mengupayakan terjadinya proses pembelajaran yang efektif, dan membawa skema masing-masing kedalam proses pembelajaran. Kata Kunci : Pendekatan kontekstual, motivasi, aktivitas, prestasi belajar, motivator, fasilitator
Yuanita Dwi Krisphianti, Nora Yuniar Setyaputri, Galang Surya Gumilang
PINUS: Jurnal Penelitian Inovasi Pembelajaran, Volume 6, pp 57-65; https://doi.org/10.29407/pn.v6i1.14551

Abstract:
Self confidence is a beliaef that exists in individuals that is able to behave as what is needed in order to get results in accordance with what is needed in order to get results in accordance with what is expected. The form of confidence is shown by; believe in personal abilities, independent, positive self-concept, show up personal opinions. Self confidence is important in personality of SMK students, because SMK education preparing students to enter the workforce and developing professional attitudes. The purpose of this study is to increase self confidence of SMK students in Kediri by using the GURU Process. The validity and reliability is important instruments is carried out to obtain accurate and accountable data in order to determine the level of confidence of SMK students in Kediri. This article is limited just results of validity and reliability from this scale. Based on the results of the validity test distributed to 50 students, 21 valid items with a reliable coefficient of 0.814. Based on the validity and reliability test of the instrument, this scale can be used to measure the self confidence of SMK students in Kediri at the next research stage. Key Word: psychological self confident scale, self confident, GURU process
Ganes Tegar Derana
PINUS: Jurnal Penelitian Inovasi Pembelajaran, Volume 6, pp 66-74; https://doi.org/10.29407/pn.v6i1.14824

Abstract:
Penelitian ini merupakan kajian tentang pendekatan saintifik (dengan metode 5M) yangmerupakan bagian dari implementasi kurikulum KKNI yang akan diterapkan dalampembelajaran menulis karya ilmiah. Sehubungan dengan itu, maka tujuan penelitianadalah untuk melihat peningkatan kemampuan peserta Didik dalam kegiatan menuliskarya ilmiah dengan menerapkan pendekatan saintifik (metode 5M). Metode yangdigunakan adalah metode quasi eksperimen, yakni eksperimen semu dengan desain onegroup pretest-postest. Desain tersebut hanya melihat hasil belajar peserta Didik sebelumdan sesudah perlakuan dengan pendekatan saintifik (metode 5M). Sampel yang akandikenai perlakuan berjumlah 30 orang dari seluruh populasi yang ada. Hal itu diperolehdari 30% dari 103 peserta Didik tahun 2019 yang memperoleh mata kuliah TeknikPenulisan Karya Ilmiah. Sedangkan tes yang akan digunakan untuk mengukurkemampuan peserta Didik adalah tes kemampuan menulis. Tes tersebut dibuat dalambentuk uraian. Hasil belajar diuji dengan menggunakan uji normalitas Liliefors, mengujihomogenitas data dengan uji homogenitas F, dan menguji hipotesis dengan uji-T Kata Kunci : Pendekatan Saintifik; Kemampuan Menulis
Firdausi Nuzula Apriliyana
PINUS: Jurnal Penelitian Inovasi Pembelajaran, Volume 6, pp 109-118; https://doi.org/10.29407/pn.v6i1.14594

Abstract:
Children's language skills in listening and speaking activities are not optimal, children's vocabulary is still limited, so that children in conveying ideas, answering questions, repeating stories and telling stories about their experiences have not been achieved as expected. The purpose of this research is to analyze the effect of storytelling methods on the development of language skills in early childhood. This type of research is an experimental study with a nonequivalent control group design. The research was carried out in KB 'Aisyiyah Mentari Tuban with 32 children as subjects. The number of subjects was divided into 2 groups, namely the control and experimental groups as a comparison of the development of language skills. Collecting research data using observation and documentation techniques. The validity test with the Pearson correlation and the reliability test with Cronbach Alpha were carried out first then analyzed the data with the t test. The results of this study were proven by using the storytelling method to optimize early childhood language skills. Calculation using the t-test for all indicators> t critical 1.7530, it can be concluded that H0 is rejected, H1 is accepted. This means that there is an effect of storytelling methods for all indicators on children's language skills. Suggestions for educators and PAUD institutions to implement storytelling methods as a method that can stimulate children's language skills. Keywords: Storytelling Method, Language Ability
Agus Riyanto
PINUS: Jurnal Penelitian Inovasi Pembelajaran, Volume 5, pp 11-16; https://doi.org/10.29407/pn.v5i2.14283

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat efektivitas dari Aplikasi Dokter sebagai Media Tutorial pada Materi Rekam Medis yang telah dikembangkan. Jenis penelitian ini adalah penelitian pengembangan (Research and Development) dengan mengadopsi prosedur Analysis, Design, Development. Implementation, dan Evaluation (ADDIE). Penelitian dilakukan dalam tiga tahap yaitu: terdiri tahap analisis (analysis), tahap perancangan (design), dan tahap pengembangan (development). Pada tahap pengembangan dilakukan uji efektivitas. Uji efektivitas Animasi Dokter dilakukan pada mahasiswa Program Studi Keperawatan Semester I berjumlah 26 mahasiswa. Instrumen penelitian ini adalah lembar efektivitas animasi dokter. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat efektivitas animasi dokter model tutorial pada pokok bahasan rekam medis di semester I (satu) termasuk dalam kategori sangat dari aspek aktivitas mahasiswa dan dosen, respon mahasiswa dan tes hasil belajar mahasiswa dengan skor 4,24. an skor 4,24.
Rista Dwi Permata
PINUS: Jurnal Penelitian Inovasi Pembelajaran, Volume 5, pp 1-10; https://doi.org/10.29407/pn.v5i2.14230

Abstract:
Pemecahan masalah merupakan salah satu aspek yang terdapat dalam ranah kognitif. Mengingat anak usia dini masih dalam tahap belajar mengenal kondisi lingkungan di sekitarnya, termasuk segala permasalahan yang ada, maka sangat dianjurkan kegiatan pembelajaran yang diberikan mengacu pada latihan pemecahan masalah. Anak belajar melalui bermain, dengan memanfaatkan media puzzle dapat melatih kemampuan berpikir anak dalam pemecahan masalah. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh penggunaan media permainan puzzle terhadap kemampuan pemecahan masalah anak. Rancangan pada penelitian ini menggunakan one group pretest-posttest design. Penentuan kelas eksperimen dilakukan secara acak. Penelitian ini diterapkan di TK PKK Harapan Rahayu Kecamatan Soko Kabupaten Tuban dengan sampel sebanyak 34 anak, kemudian dibagi menjadi 2 kelompok (eksperimen dan kontrol). Teknik pengumpulan data dalam riset ini memakai observasi dan dokumentasi. Riset ini memanfaatkan teknik analisis data yang bersifat deskriptif kuantitatif yang artinya mendeskripsikan data yang sudah terkumpul melalui kegiatan anak dan guru selama proses pembelajaran. Pelaksanaan analisis data dengan menggunakan uji Independent Samples Test yang menunjukkan hasil sig (2-tailed) sebesar 0,000 < 0,05. Sehingga dapat disimpulkan bahwa media permainan puzzle berpengaruh dalam peningkatan kemampuan pemecahan masalah pada PAUD
Sukisno -, Suharsono, Sumarno
PINUS: Jurnal Penelitian Inovasi Pembelajaran, Volume 5, pp 30-38; https://doi.org/10.29407/pn.v5i2.14419

Abstract:
Aktivitas pembelajaran PPKN di sekolah menengah atas harus ditekankan pada nilai-nilaiyang dapat mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan analitis, tetapi di lapanganmasih banyak pembelajaran yang di dominasi dengan metode ceramah sehinggakemampuan berpikir siswa belum maksimal, terutama kemampuan berpikir kritis.Klarifikasi nilai merupakan salah satu alternatif model pembelajaran yang dapatmeningkatkan kemampuan berpikir kritis. Tujuan penelitian ini untuk menganalisiskemampuan berpikir kritis siswa melalui model pembelajaran klarifikasi nilai pada matapelajaran PPKn. Metode Penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif kualitatif.Hasil penelitian menunjukkan kemampuan berpikir kritis pada aspek yang tergolongtinggi pada aspek mengidentifikasi sebanyak 23 siswa (79,32%) dan aspek menganalisissebanyak 24 siswa (82,75%). Simpulan pembelajaran klarifikasi nilai dapatmeningkatkan kemampuan berpikir kritis.
Sumarno Sastro Slamet
PINUS: Jurnal Penelitian Inovasi Pembelajaran, Volume 5; https://doi.org/10.29407/pn.v5i2.14539

Abstract:
Gagne (1985) and Marzano (2004), state that one of the important activities in effective learning is giving feedback on the results of evaluations or assignments that students work on. This study aims to examine the effect of providing feedback on learning outcomes (understanding and application of concepts) to students who have different achievement motivations in learning Pancasila and Citizenship Education in SMK. This study uses a quasi-experimental research design (Quasi Experiment). The subjects of this study were 126 students of SMK Negeri 5 Malang. The research instrument used to collect data was an achievement motivation questionnaire and a test of understanding and applying concepts. The research data were analyzed using the MANOVA (Multivariate Analysis of Variance) method with 2x2 factorial. The research findings are: (1) there are differences in learning outcomes (understanding and application of concepts) between groups of students who are given direct (immediate) and indirect (delayed) feedback treatment; (2) there are differences in learning outcomes (understanding and application of concepts) between groups of students who are low and high achievers and (3) the interaction of feedback with achievement motivation does not have a simultaneous effect on the learning outcomes of understanding and application of concepts in teaching PPKn in SMK.
PINUS: Jurnal Penelitian Inovasi Pembelajaran, Volume 4, pp 159-165; https://doi.org/10.29407/pn.v4i2.12729

Abstract:
Karya inovatif ini merupakan hasil modifikasi media pembelajaran tolak peluru menggunakan peluru yang terbuat dari lilin. Dari hasil pelaksanaan pemnbelajaran dapat disimpulkan bahwa penggunaan media pembelajaran peluru lilin aman bagi peserta didik, menyenangkan dan mudah di duplikatkan. Dari hasil inovasi tersebut disarankan bagi guru mata pelajaran penjasorkes yang belum melaksanakan kegiatan pembelajaran tolak peluru karena kondisi lapangan yang tidak memungkinkan, maka dapat menggunakan peluru lilin sebagai media pengganti, dan ini telah dibuktikan pada siswakelas VII-C SMP Negeri 3 Kediri semester I tahun pelajaran 2015/2016 dalam pembelajaran tolak peluru menggunakan peluru lilin dapat berjalan dengan aman, lancar dan tidak merusak lingkungan.
Mochammad Chudlori
PINUS: Jurnal Penelitian Inovasi Pembelajaran, Volume 4, pp 166-172; https://doi.org/10.29407/pn.v4i2.12686

Abstract:
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas. Tempat penelitian ini adalah di kelas IX C MTsN Ngawi. Waktu penelitian adalah semester ganjil tahun ajaran 2018/2019 dimulai bulan Juli sampai September 2018. Subjek penelitian ini siswa kelas IX C MTsN 9 Ngawi. Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah pengamatan atau observasi dan tes untuk mengetahui prestasi belajar siswa. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran Discovery Learning dapat meningkatkan prestasi belajar IPA Terpadu Materi Pewarisan Sifat siswa pada materi pokok menghitung pokok barisan dan deret aritmatika. Hal ini dapat dilihat pada nilai prestasi belajar rata-rata siswa mengalami peningkatan pada siklus I, II dan siklus III. Sebelum diadakan tindakan adalah nilai rata-rata siswa adalah sebesar 65,53. Setelah diadakan tindakan siklus I menjadi 66,00 dan setelah diadakan perbaikan tindakan pada siklus II nilai rata-rata meningkat menjadi 71,00. Hasil tersebut terus meningkat pada siklus III menjadi 79,25. Sedangkan berdasarkan prsentase ketuntasan belajar siswa, hasil persentase ketuntasan belajar para siswa dari kondisi awal sebesar 50% (10 orang) meningkat menjadi 65% (13 orang) dan meningkat lagi pada siklus II menjadi 73% (15 orang). Setelah diadakan perbaikan akhirnya terjadi peningkatan lagi pada siklus III menjadi 88% (18 orang). Penerapan model pembelajaran Discovery Learning dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa. Peningkatan ini terlihat dari tiap siklus yang dimulai dari hasil keaktifan siswa pada kondisi awal sebesar 50% (10 orang) menjadi 65% (13 orang) pada siklus I selanjutnya terjadi peningkatan lagi pada siklus II menjadi 73% (15 orang), dan setelah diadakan perbaikan atas kekurangan-kekurangan pada siklus I dan II maka hasil keaktifan belajar siswa pada siklus III meningkat menjadi 88% (18 orang).
Gianto Gianto
PINUS: Jurnal Penelitian Inovasi Pembelajaran, Volume 4, pp 145-151; https://doi.org/10.29407/pn.v4i2.12728

Abstract:
Proses pembelajaran Bahasa Indonesia di Kelas VIII-F SMPN 3 Kediri mengalami beberapa kendala. Kendalanya adalah rendahnya minat dan keaktifan dalam mengikuti proses pembelajaran. Hal ini menyebabkan rendahnya hasil belajar siswa yang kurang. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar siswa VIII-F SMPN 3 Kediri dengan menggunakan model pembelajaran Artikulasi. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, tes tulis, dan dokumentasi. Penerapan model pembelajaran artikulasi dimulai dari guru memberikan materi dilanjutkan pembentukan kelompok. Setelah itu guru memberikan teks berita kepada setiap kelompok. Satu siswa dari setiap kelompok bertugas untuk membacakan teks tersebut dan siswa lainnya mencatat hal-hal yang penting. Setelah selesai membacakan teks, teks diambil kembali oleh guru. Kemudian guru memberikan daftar pertanyaan terkait dengan teks berita tersebut. Setiap kelompok harus berdiskusi untuk menjawab pertanyaan tersebut. Indikator keberhasilan dari penelitian ini adalah terdapat lebih dari 75% siswa yang tuntas KKM. Berdasarkan data penelitian dapat dilihat bahwa pada prasiklus terdapat 47% (16) siswa tuntas KKM. Kemudian, pada siklus I terdapat 62% (21) siswa tuntas KKM.Kemudian, pada siklus II terdapat 82% (28) siswa tuntas KKM.
, Indana Mardatilla
PINUS: Jurnal Penelitian Inovasi Pembelajaran, Volume 4, pp 152-158; https://doi.org/10.29407/pn.v4i2.12626

Abstract:
Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui kemampuan berbahasa Inggris mahasiswa setelah menggunakan model pembelajaran SVRK dalam pembelajaran bahasa Inggris bagi mahasiswa pertanian. Peneliti ingin mengetahui apakah model pembelajaran SVRK dapat meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Kahuripan Kediri. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 19 mahasiswa yang berasar dari Fakultas Pertanian Universitas Kahuripan Kediri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa diketahui t-value lebih tinggi dari t-critical = (7,935> 1,734). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ada peningkatan yang signifikan terhadap kemampuan berbahasa Inggris mahasiswa setelah diajar menggunakan model pembelajaran SVRK. Untuk itu, peneliti memberikan rekomendasi untuk dapat menggunakan model SVRK pada pembelajaran kelas bahasa Inggris di fakultas pertanian khususnya dan mahasiswa pada program studi yang lain pada umumnya.
PINUS: Jurnal Penelitian Inovasi Pembelajaran, Volume 4, pp 173-181; https://doi.org/10.29407/pn.v4i2.12751

Abstract:
Proses pembelajaran Bahasa Jawa di kelas VII A SMPN 3 Kediri mengalami masalah terutama dengan penggunaan metode pembelajaran. Selama ini guru hanya menggunakan metode ceramah dalam kegiatan belajar mengajar (KBM). Metode ceramah ini menempatkan guru sebagai satu-satunya sumber belajar, sehingga membuat peserta didik tidak bisa menggunakan kemampuan mereka dengan optimal. Hal ini menyebabkan rendahnya hasil belajar peserta didik yang hanya sebanyak 38% saja peserta didik yang memiliki nilai tuntas KKM.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan hasil belajar peserta didik kelas VII A SMPN 3 Kediri di Semester Ganjil Tahun Pelajaran 2018/2019 pada pelajaran Bahasa Jawa materi Profil Tokoh melalui Metode PembelajaranCooperative Integrated Reading and Composition.Untuk mencapai tujuan ini digunakan metode penelitian tindakan kelas.Hasil penelitian menunjukkan dimulai prasiklus terdapat 9 peserta didik tuntas dengan nilai rata-rata 69,6 dan persentase indikator keberhasilan sebesar 38% peserta didik tuntas KKM. Siklus 1 terdapat 13 peserta didik tuntas dengan nilai rata-rata 75,4 dan persentase indikator keberhasilan sebesar 54% peserta didik tuntas KKM. Siklus 2 menunjukkan 19 peserta didik tuntas dengan nilai rata-rata 82,5 dan indikator keberhasilan sebesar 79% peserta didik tuntas KKM. Dengan demikian metode pembelajaran Cooperative Integrated Reading and Composition dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik kelas VIIA SMPN 3 Kediri di semester ganjil tahun pelajaran 2018/2019 pada pelajaran Bahasa Jawa materi Profil Tokoh.
, , Latifah Latifah
PINUS: Jurnal Penelitian Inovasi Pembelajaran, Volume 4, pp 138-144; https://doi.org/10.29407/pn.v4i2.12614

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mengimplementasikan model pembelajaran Two Stay Two Stray (TSTS) agar dapat meningkatkan prestasi belajar siswa di kelas XI IPA 2 Madarasah Aliyah Negeri Kota Batu semester ganjil tahun pelajaran 2018/2019. Penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas (classroom action research) dengan menggunakan model John Elliot yang masing-masing siklus terdiri dari perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Subyek dalam penelitian ini adalah siswa/siswi kelas XI IPA 2 pada semester ganjil tahun pelajaran 2018/2019 yang berjumlah 32. Variabel yang diselidiki dalam penelitian ini yaitu variabel input (siswa kelas XI IPA 2), variabel proses (model Two Stay Two Stray) dan variabel output (peningkatan prestasi belajar). Teknik pengumpulan data yang digunakan berupa observasi, wawancara, studi dokumentasi dan tes. Instrumen yang digunakan adalah rubrik penilaian observasi, pedoman wawancara, pedoman studi dokumentasi dan soal tes. Sedangkan teknik analisis data yang digunakan berupa teknik analisis kualitatif dan kuantitatif. Hasil yang didapatkan dalam penelitian ini adalah penerapan model Two Stay Two STray dapat meningkatkan prestasi belajar siswa XI IPA 2 materi Hak Asasi Manusia pada semester ganjil tahun pelajaran 2018/2019 dengan nilai ketuntasan klasikal meningkat dari prasiklus sebesar 43,1% (ketuntasan klasikal 3,12%) pada siklus I meningkat menjadi 63,7% (ketuntasan klasikal 34,37%) dan siklus II meningkat menjadi 84,6% (ketuntasan klasikal 87,5 %).
Vina Gayu Buana, Siti Uswatun Kasanah
PINUS: Jurnal Penelitian Inovasi Pembelajaran, Volume 4, pp 131-137; https://doi.org/10.29407/pn.v4i2.12585

Abstract:
Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan produk model pembelajaran berbasis permainan Engklek. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan produk model pembelajaran berbasis permainan engklek guna mengembangkan karakter nasionalis dan gotong royong peserta didik yang valid dan praktis. Produk yang dikembangkan meliputi sintaks model pembelajaran berbasis permainan engklek, dilengkapi dengan jaring-jaring konsep tema, RPP, media, LKS, dan penilaian autentik.Tahapan pengembangan produk ini mengadopsi model penelitian dan pengembangan Dick & Carrey.Pembelajaran berbasis permainan Engklek merupakan salah satu pembelajaran yang mengintegrasikan permainan engklek di dalamnya.Model pembelajaran berbasis permainan engklek ini dapat mengembangkan karakter peserta didik
PINUS: Jurnal Penelitian Inovasi Pembelajaran, Volume 4, pp 121-130; https://doi.org/10.29407/pn.v4i2.12635

Abstract:
Hasil belajar siswa mengartikulasikan apa yang siswa harus tahu atau dapat lakukan setelah menyelesaikan pembeajaran. Instrumen tes yang baik dapat membantu guru dalam meningkatkan pembelajaran dan memberikan informasi secara tepat terhadap siswa mana yang belum atau sudah mencapai kompetensi berdasarkan tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk melihat sejauh mana pelaksanaan workshop pengembangan diri dapat meningkatkan kompetensi guru dalam penysunan butir soal di SMAN 1 Montong Gading. Penelitian ini adalah penelitan tindakan dengan subjek semua guru mata pelajaran yang berjumlah 24 orang. Guru dibagi pada kelompok dengan mata pelajran yang sama. Pelaksanaan workshop pengembangan diri dilakkan dalam 2 siklus dengan masing-masing tahap yakni tahap rencana, tahap pelaksanaan, tahap observasi dan tahap refleksi. Hasil penelitian menunjukan terjadi peningkatan pada masing-masing siklus jika ditinjau dari sebelum pelaksanaan workshop pengembangan diri pada semua aspek. Hail ini menunjukan kemampuan guru menyusun butir soal sebelum workshop masih pada kategori kurang dalam aspek kesesuaian dengan tujuan pembelajaran hanya 16.7%, mengalami peningkatan pada siklus I menjadi 33,3%, pada siklus II menjadi 58,3%. Pada aspek kesesuaian dengan aspek perilaku terdapat peningkatan dari sebelum diadakan workshop dengan persentase sebesar 20,8% menjadi 75% pada siklus, sedangkan pada aspek penggunaan bahwa juga mengalami peningkatan dari sebelum diadakan workshop persentasenya sebesar 45,8% menjadi 79,1% pada siklus II.
, Hasnawati Hasnawati
PINUS: Jurnal Penelitian Inovasi Pembelajaran, Volume 4, pp 110-120; https://doi.org/10.29407/pn.v4i2.12618

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan apresiasi mahasiswa terhadap tari nusantara dengan memanfaatkan youtube pada pembelajaran Konsep Dasar Seni Tari mahasiswa semester VA Prodi PGSD FKIP Universitas Bengkulu. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan yang dilakukan sebanyak dua siklus. Teknik pengumpulan data yaitu observasi dengan menggunakan instrumen lembar observasi apresiasi. Analisis data menggunakan analisis persentase. Pada siklus pertama, hasil observasi apresiasi mahasiswa terhadap tari nusantara pada langkah pengamatan 33,3% berada dalam kategori cukup dan 66,7% berada pada kategori baik, penghayatan 66,7% berada pada kategori cukup dan 33,3% berada pada kategori baik, penilaian/penghargaan 50% berada pada kegori cukup dan 50% pada kategori baik, dan empati 66,7% berada pada kategori cukup dan 33,3% berada pada kategori baik. Pada sikulus kedua, hasil observasi apresiasi mahasiswa terhadap tari nusantara pada langkah pengamatan 50% berada dalam kategori baik dan 50% berada pada kategori sangat baik, penghayatan 33,3% berada pada kategori baik dan 66,7% berada pada kategori sangat baik, penilaian/penghargaan 16,7% berada pada kegori baik dan 83,3% pada kategori sangat baik, dan empati 33,3% berada pada kategori baik dan 66,7% berada pada kategori sangat baik. Berdasarkan data tersebut, dapat dilihat bahwa apresiasi mahasiswa terhadap tari nusantara dengan memanfaatkan youtube dalam pembelajaran Konsep Dasar Seni Tari meningkat.
PINUS: Jurnal Penelitian Inovasi Pembelajaran, Volume 4, pp 99-109; https://doi.org/10.29407/pn.v4i2.12668

Abstract:
Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) hakikatnya membentuk warga negara Indonesia yang baik dan bertanggung jawab berdasarkan nilai-nilai dan dasar negara Pancasila. Hasil belajar PPKn menekankan pada cerminan perbuatan sehari-hari, nilai-nilai, pengertian-pengertian, sikap-sikap, apresiasi, dan keterampilan. Inkuiri sosial merupakan metode pembelajaran dari kelompok sosial (social family), sub kelompok konsep masyarakat (concept of society). Tahapan proses pembelajaran inkuiri sosial dapat dilaksanakan dengan mengikuti langkah-langkah yaitu tahap orintasi, tahap perumusan masalah, tahap perumusan hipotesis, tahap pengumpulan data, tahap penguji hipotesis, tahap merumuskan kesimpulan. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan penerapan metode inkuiri sosial dalam pembelajaran PPKn dan mendeskripsikan peningkatan hasil belajar menggunakan metode inkuiri sosial siswa kelas IV SDN Kamulan II. Penelitian ini merupakan jenis penelitian tindakan kelas (PTK) dengan pendekatan kualitatif deskriptif. Berdasarkan hasil observasi pada siswa kelas IV sejumlah 25 orang di SDN Kamulan II diperoleh data bahwa siswa melakukan pembelajaran secara konvensional. Siswa diskusi kelompok biasa. Saat diskusi terlihat hanya 5 siswa ] saja yang aktif mengerjakan sesuai petunjuk guru. Proses kegiatan belajar di kelas dilakukan hanya dengan mendengar penjelasan guru, mengerjakan soal pada buku teks ataupun LKS kemudian mencocokkan jawaban ditutup dengan guru merekap nilai siswa. Belum tampak siswa melakukan pembelajaran aktif, aktif bertanya, terlibat langsung dalam pembelajaran di kelas. Guru menggunakan metode ceramah dan siswapun dituntut untuk konsentrasi memperhatikan apa yang dijelaskan guru. Namun, hanya siswa yang duduk di deretan depan saja yang mampu konsentrasi mendengarkan penjelasan guru, sedangkan siswa yang duduk di bangku ketiga sampai belakang terlihat pura-pura mendengarkan penjelasan guru. Hasil penelitian siklus I nilai rata-rata secara klasikal yang diperoleh siswa pada keterampilan menyusun pertanyaan adalah 77. Nilai rata-rata keberhasilan kegiatan siklus II adalah 78. Nilai rata-rata keterampilan melakukan wawancara pada pertemuan siklus III adalah 82, nilai tersebut sudah mencapai standar ketuntasan yang direncanakan oleh peneliti
Rusidi Priyo Utomo
PINUS: Jurnal Penelitian Inovasi Pembelajaran, Volume 4, pp 67-72; https://doi.org/10.29407/pn.v4i2.12688

Abstract:
Penelitian ini dilatarbelakangi pengamatan dan pengalaman peneliti dalam mengambil hasil lompat tanpa awalan yang dilakukan oleh siswa putra kelas 3 yang ada di Sekolah Dasar bercorak Islam. Berdasarkan hasil lompatan didapatkan nilai yang jauh dari rata-rata kemampuan lompat siswa putra kelas 3 dikarenakan metode pembelajaran belum maksimal. Permasalahan pada penelitian ini adalah Adakah pengaruh permainan gobak sodor dan engklek terhadap daya ledak otot tungkai? Adakah perbedaan hasil daya ledak otot tungkai dengan menggunakan permainan gobak sodor dan engklek? Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif karena hasil penelitian berupa angka. Penelitian dengan Quasi Pre-Eksperiment Design mengunakan pretest and posttest design, instrumen penelitian menggunakan observasi pada tes Standing long jump, dan subjek siswa putra kelas 3 Sekolah Dasar Islam dengan jumlah 81 siswa dilaksanakan selama 1 bulan. Dari hasil penelitian didapatkan rata-rata hasil dari pretest permainan gobak sodor sebesar 125 cm dan permainan engklek sebesar 124 cm. Setelah diberikan perlakuan, didapatkan hasil posttest dari permainan gobak sodor sebesar 142 cm dan permainan engklek sebesar 141 cm, dari hasil tersebut didapatkan selisih hasil dari permainan gobak sodor dan engklek sebesar 17 cm. Dan dilakukan pengujian menggunakan uji simultan (uji F) didapatkan nilai Signifikansi sebesar 482,674 > 2, 72 F tabel yang menunjukkan adanya pengaruh permainan gobak sodor dan engklek terhadap daya ledak otot tungkai siswa puta kelas 3 Sekolah Dasar Islam, dari uji parsial (uji t) didaparkan hasil sebesar sebesar 11,692> 1,66515 yang menunjukkan permainan gobak sodor dan engklek memiliki pengaruh tersendiri. Untuk mengetahui perbedaan hasil dilakukan uji independent sample test sehingga didapatkan hasil sebesar t hitung untuk variabel independent sebesar 0, 342 > 0, 05 disimpulkan tidak terdapat perbedaan hasil dengan menggunakan permainan gobak sodor dan engklek. Dari hasil pengujian disimpulkan terdapat pengaruh permainan gobak sodor dan engklek terhadap daya ledak otot tungkai serta tidak terdapat perbedaan hasil daya ledak otot tungkai dengan menggunakan permainan gobak sodor dan engkelk pada siswa putra kelas 3 Sekolah Dasar Islam di Kecamatan Gurah Kabupaten Kediri Tahun Pelajaran 2017/2018.
PINUS: Jurnal Penelitian Inovasi Pembelajaran, Volume 4, pp 73-78; https://doi.org/10.29407/pn.v4i2.12607

Abstract:
Peserta didik kelas VIII F SMPN 7 Kediri merasa kesulitan dengan banyaknya hafalan dan maksud dari pembelajaran Bahasa Indonesia. Peserta didik juga tidak terlalu memperhatikan penjelasan dari guru ketika di kelas.Ditambah dengan jadwal pelajaran Bahasa Indonesia yang berada di akhir pelajaran.Hal ini membuat konsentrasi peserta didik menurun dan tidak semangat untuk belajar. Dari data yang didapat oleh peneliti, nilai rata-rata ulangan harian peserta didik kelas VIII F SMPN 7 Kediri hanya mencapai 74,4 atau masih di bawah KKM yang telah ditentukan. Peneliti memilih sebuah metode pembelajaran Survey, Question, Read, Recite and Review. Metode SQ3R merupakan suatu metode membaca yang sangat baik untuk kepentingan membaca secara intensif dan rasional. Langkah pembelajaran untuk metode SQ3R adalah guru meminta siswa untuk mengamati atau mengidentifikasi seluruh teks. Siswa diminta untuk menyusun pertanyaan-pertanyaan yang relevan dengan teks. Guru membimbing siswa mencari ide pokok dan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang telah dibuat pada langkah kedua. Siswa menyebutkan, siswa meninjau ulang seluruh pertanyaan dan jawaban secara singkat.Guru bersama siswa membuat kesimpulan bersama. Keberhasilan penelitian ini dapat dilihat dari peningkatan prestasi belajar siswa hingga 75% dengan nilai KKM minimal 78. Hasil peningkatan dapat terlihat dari data sebagai berikut: prasiklus 53%; siklus pertama 69%; siklus kedua 81%. Hasil tersebut dikatakan berhasil karena sudah melebihi indikator keberhasilan penelitian sebesar 75%.Hasil peningkatan dapat terlihat dari nilai rata-rata siswa sebagai berikut: prasiklus 74,4; siklus pertama79,1; siklus kedua82,2. Hasil tersebut dikatakan berhasil karena sudah melebihi indikator keberhasilan.
Siti Aminah, Agus Athori
PINUS: Jurnal Penelitian Inovasi Pembelajaran, Volume 4, pp 79-91; https://doi.org/10.29407/pn.v4i2.12637

Abstract:
Bela Negara adalah kewajiban bagi setiap warga negara Indonesia sebagaimana tercantum pada UUD tahun 1945 pasal 27 ayat 3 bahwa setiap warga Negara berhak dan wajib ikut serta dalam upaya pembelaan negara. UNISKA sebagai Lembaga pendidikan tinggi mengimplementasikan Tri Darma Perguruan Tinggi dalam Perspektif Bela Negara. Semenjak UNISKA dideklarasikan sebagai kampus Cinta Tanah Air berdasarkan SK Yayasan No.59/SK/YBCMP/IV/2017, UNISKA telah memberikan mata kuliah Bela Negara sebagai mata kuliah wajib Institusi bagi mahasiswa semester 1. Dalam salah satu materinya adalah tentang bahaya narkoba. Narkoba pada saat ini menjadi ancaman besar bagi generasi muda milenial. Penanganan bahaya narkoba masih di bebankan pada BNN yang dalam pelaksanaannya masih menggunakan model ceramah sehingga belum sistemik, tersetruktur dan masiv. UNISKA sebagai Lembaga Pendidikan Tinggi terpanggil untuk melaksanakan riset dengan tujuan untuk menyusun dan mengembangkan RPP P4GN untuk pekuliahan mahasiswa UNISKA yang terintregrasi dalam mata kuliah Bela Negara. Melalui kuliah ini dapat dipastikan langkah secara sistemik, terstruktur dan masiv di kalangan mahasiswa yang merupakan bagian dari generasi muda milenial. Diharapkan kegiatan perkuliahan ini dapat juga dilaksanakan oleh seluuruh perguruan Tinggi di Indonesia sebagai wujud tanggung jawab Perguruan Tinggi dalam ikut serta menanggulangi bahaya narkoba. Rancangan penelitian ini adalah penelitihan pengembangan dengan tujuan menghasilkan sebuah RPP P4GN untuk mahasiswa UNISKA. Tahapan-tahapan penelitian ini adalah (1). melaksanakan analisis kebutuhan (2). menggambarkan tujuan (3). menulis RPP. Responden dalam penelitian ini adalah 1 rektor, 5 dekan dan 7 kaprodi di lingkungan UNISKA serta BNN Kota Kediri. Intrumen dalam penelitian ini adalah kuesioner dan dokumen. Setelah dianalisis menggunakan metode diskriptif di temukan bahwa seluruh responden mendukung adanya penyusunan RPP P4GN untuk diterapkan dalam perkuliahan yang terintegrasi dalam mata kuliah Bela Negara.
PINUS: Jurnal Penelitian Inovasi Pembelajaran, Volume 4, pp 1-6; https://doi.org/10.29407/pn.v4i1.12183

Abstract:
Tujuan Penelitian ini yaitu mengetahui peningkatan Pemahaman Materi Gerak Lurus Berubah Beraturan pada mata pelajaran IPA Terpadu siswa setelah penggunaan Metode Pembelajaran Problem Solving dan mengetahui peningkatan keaktifan siswa setelah penggunaan Metode Pembelajaran Problem Solving pada mata pelajaran IPA Terpadu. Penelitian ini dilaksanakan di kelas VII B MTsN Jogorogo Kabupaten Ngawi. Penelitian menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas. Hasil penelitian ini yaitu Metode Pembelajaran Problem Solving telah dapat meningkatkan Pemahaman Materi pada siswa. Peningkatan tersebut ditunjukkan dari kenaikkan persentase ketuntasan belajar siswa dari setiap siklus. Siklus I mencapai ketuntasan belajar sebesar 71,43% dengan nilai rata-rata kelas sebesar 70,00 sedangkan pada siklus II ketuntasan belajar mencapai 85,71%, dengan nilai rata-rata kelas sebesar 77,14. Metode Pembelajaran Problem Solving juga meningkatkan keaktifan belajar siswa. Peningkatan tersebut di atas ditunjukkan dari kenaikkan persentase keaktifan belajar siswa dari setiap siklus. Siklus I mencapai 71,43% (20 orang) sedangkan pada. siklus II keaktifan belajar mencapai 85,71% (24 orang).
PINUS: Jurnal Penelitian Inovasi Pembelajaran, Volume 4, pp 44-53; https://doi.org/10.29407/pn.v4i1.12494

Abstract:
Tujuan penelitian adalah untuk meningkatkan aktivitas siswa dan hasil belajar matematika siswa dengan menerapkan model pembelajaran Realistic Mathematic Education (RME). Jenis metode penelitian adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilaksanakan dalam 2 siklus dengan tahapan setiap siklus yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Subjek penelitian tindakan kelas ini adalah guru dan siswa kelas IV SD Negeri 4 Kradenan dengan jumlah siswa 27 orang yang terdiri dari 11 orang siswa laki-laki dan 16 orang siswa perempuan.. Teknik pengumpulan data berupa teknik non tes dan teknik tes. Alat pengumpul data menggunakan lembar observasi dan tes formatif. Teknik analisis data menggunakan teknik analisis kualitatif dan analisis kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran Realistic Mathematic Education (RME) dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar matematika siswa. Hal ini dapat di lihat dari aktivitas siswa pada siklus I memperoleh nilai rata-rata sebesar 59,84 dengan kategori cukup aktif meningkat pada siklus II sebesar 7,78 menjadi 67,62 dengan kategori aktif. Persentase aktivitas siswa secara klasikal pada siklus I sebesar 57,14% dengan kategori cukup aktif meningkat 19,05% pada siklus II menjadi 76,19% dengan kategori aktif. Hasil belajar siswa pada siklus I memperoleh nilai rata-rata 63,81 dengan kategori belum tuntas, meningkat sebesar 10,24 pada siklus II menjadi 74,05 dengan kategori tuntas. Persentase ketuntasan hasil belajar siswa pada siklus I sebesar 61,90% dengan kategori cukup tinggi, meningkat 14,29% pada siklus II menjadi 76,19% dengan kategori tinggi.
Suyani Suyani
PINUS: Jurnal Penelitian Inovasi Pembelajaran, Volume 4, pp 11-16; https://doi.org/10.29407/pn.v4i1.12185

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan peningkatan hasil belajar siswa pada mata pelajaran matematika materi lingkaran metode cooperative learning tipe jigsaw di kelas VIII-A MTs N 9 Ngawi tahun pelajaran 2017/2018. Peneitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (action research) karena dilakukan untuk memecahkan masalah pemeblajaran di kelas. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif karena menjabarkan bagaimana suatu teknik pembelajaran diterapkan dan bagaimana hasil yang diinginkan dapat dicapai. Subjek penelitian adalah siswa kelas VIII-A MTsN 9 Ngawi. Prosedur penelitian dengan melakukan tahap persiapan, pelaksanaan, dan penyelesaian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model pembelajaran cooperative learning tipe Jigsaw II memiliki dampak positif dalam meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran matematika di kelas VIII A MTsN 9 Ngawi. Hal ini dapat dilihat dari perbandingan siklus I dan siklus II yaitu terjadi peningkatan. Rata-rata nilai siswa pada siklus I yaitu 69.22 kemudian pada siklus II menjadi 87.96. Rata-rata nilai kelompok pada siklus I yaitu 58.27 kemudian rata-rata nilai kelompok siklus II menjadi 93.85. Rata-rata skor akhir 1 ke siklus II meningkat 21% Jumlah siswa yang mencapai KKM pada siklus I yaitu 3% kemudian pada siklus II berkumlah 100%. Hal tersebut sudah sesuai dengan target keberhasilan yang dicapai yaitu KKM ≥ 80%.
PINUS: Jurnal Penelitian Inovasi Pembelajaran, Volume 4, pp 38-43; https://doi.org/10.29407/pn.v4i1.12368

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adakah pengaruh pembelajaran berbasis multiliterasi terhadap kemampuan berpikir kritis mahasiswa. Penelitian dilakukan dengan latar belakang rendahnya kemampuan berpikir kritis mahasiswa. Desain penelitian yang digunakan ialah kuantitatif dengan bentuk Quasi Eksperimental Design bentuk Non-Equivalent Control Group Design. Populasi dalam penelitian ini ialah seluruh mahasiswa PGSD yang memprogram mata kuliah pembelajaran Bahasa Indonesia yang terbagi dalam kelas 2016 A, B, C, D, dan E. Namun, sampel yang terpilih sesuai tujuan penelitian ialah kelas B sebagai kelas eksperimen dan kelas C sebagai kelas kontrol. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui pretest dan posttest yang berisi tentang materi pembelajaran bahasa Indonesia di SD. Tes yang diberikan sebelumnya telah melalui uji validitas dengan skor 1, uji realibilitas dengan skor 0,685. Skor tersebut menunjukkan bahwa instrumen tes telah valid, dan reliabel. Selanjutnya data yang telah didapat dianalisis dengan menggunakan teknik Test-t dengan skor 0,036 yang sebelumnya telah didahului dengan melakukan uji normalitas yang menunjukkan bahwa data telah normal. Selanjutnya dilakukan uji hipotesis yang mendapatkan hasil H0 ditolak berarti bahwa terdapat pengaruh pembelajaran berbasis multiliterasi terhadap kemampuan berpikir kritis mahasiswa.
Mujiono Mujiono
PINUS: Jurnal Penelitian Inovasi Pembelajaran, Volume 4, pp 17-20; https://doi.org/10.29407/pn.v4i1.12378

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk (1) Mendeskripsikan model pembelajaran student team dalam meningkatan pretasi belajar matematika pada materi peluang pada siswa kelas XI A MTsN 9 Ngawi semester genap tahun pelajaran 2017/2018.; dan (2) Mendesripsikan upaya guru dalam meningkatkan prestasi belajar matematika pada materi peluang siswa kelas XI A MTs Negeri 9 Ngawi semester genap tahun pelajaran 2017/2018.Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (action research) karena penelitian dilakukan untuk memecahkan masalah pembelajaran di kelas. Subjek penelitian adalah siswa kelas XI-A MTsN 9 Ngawi. Prosedur penelitian dengan melakukan perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi.Hasil penelitian menunjukkan bahwa model pembelajaran tuntas memiliki dampak positif dalam meningkatkan prestasi belajar peserta didik. Hal ini dapat dilihat dari pemahaman peserta didik terhadap model pembelajaran student team dalam materi peluang, yang menunjukkan pada siklus I adalah 21.87%, pada siklus II meningkat 81.25%. Pada siklus ke II inilah ketuntasan belajar peserta didik telah tercapai. (1) Melalui model pembelajaran student team dapat meningkatkan prestasi belajar matematika pada materi pembelajaran peluang di kelas IX-A MTsN 9 Ngawi semester genap tahun pelajaran2017/2018. (2) Upaya dalam meningkatkan prestasi belajar matematika pada materi peluang melalui model pembelajaran student team di kelas XI-A MTsN 9 Ngawi semester genap tahun pelajaran 2017/2018, guru melaksanakan langkah-langkah model pembelajaran secara sistematis.
PINUS: Jurnal Penelitian Inovasi Pembelajaran, Volume 4, pp 60-66; https://doi.org/10.29407/pn.v4i1.12465

Abstract:
Permasalahan utama adalah rendahnya hasil belajar siswa di kelas V SD Negeri 3 Banjarsari pada pembelajaran IPA materi Tumbuhan Hijau. Sehubungan dengan hal tersebut, maka peneliti menerapkan Model pembelajaran pemanfaatan lingkungan alam sekitar sekolah yang bertujuan untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa kelas V SD Negeri 3 Banjarsari pada pelajaran IPA pada materi tumbuhan Hijau. Desain yang digunakan dalam penelitian ini mengacu pada model PTK yang dikemukakan oleh Kemmis dan Mc. Targgart. jenis data yang digunakan adalah data kuantitatif dan data kualitatif. Pelaksanaan ini dilaksanakan sebanyak dua siklus dan masing-masing dua tindakan/pertemuan. Pada tindakan pertama siklus I hasil persentase aktivitas guru mencapai 60% dan tindakan ke II mencapai 66,7% berada dalam kategori cukup. Sedangkan hasil persentase aktivitas siswa pada tindakan pertama siklus I mencapai 53,3% dan tindakan ke II mencapai 60% berada dalam kategori kurang. Pada hasil evaluasi tindakan pertama siklus I nilai rata-rata mencapai 6,5 ini di kategorikan belum berhasil. Pada tindakan kedua nilai rata-rata mencapai 6,8 ini dikategorikan sudah cukup. Pada Siklus ke II pertemuan I hasil persentase aktivitas guru mencapai 80% dan pertemuan II mencapai 93,3% berada dalam kategori sangat baik. Sedangkan hasil persentase aktivitas siswa pada pertemuan kedua tindakan pertama mencapai 66,7% dan tindakan ke dua mencapai 86,7% berada dalam kategori sangat baik. Pada hasil evaluasi tindakan pertama siklus II nilai rata-rata mencapai 6,9 dan tindakan ke dua mencapai 7,5 berada dalam kategori baik. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa hasil belajar siswa SD Negeri 3 Banjarsari kelas V meningkat dengan model pembelajaran menggunakan pemanfaatan lingkungan alam sekitar sekolah.
Sulastri Sulastri
PINUS: Jurnal Penelitian Inovasi Pembelajaran, Volume 4, pp 7-10; https://doi.org/10.29407/pn.v4i1.12184

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk (1) Mengetahui hasil belajar siswa setelah diterapkannya metode discovery dalam belajar Bahasa Indonesia pada siswa kelas VII-G MTsN 9 Ngawoi tahun pelajaran 2017/2018; dan (2) Mengetahui penerapan metode discovery dalam belajar Bahasa Indonesia pada siswa kelas VII-G MTsN 9 Ngawi semester Genap Tahun Pelajaran 2017/2018. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (action research) karena penelitian dilakukan untuk memecahkan masalah pembelajaran di kelas. Subjek penelitian adalah siswa kelas VII-G MTsN 9 Ngawi di Kabupetan Ngawi. Prosedur penelitian dengan melakukan perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa; (1) tingkat keberhasilan siswa pada siklus I adalah 28 % + 4 % = 32 %. Siswa yang mampu menyimpulkan isi puisi rakyat sebanyak 8 siswa dan yang belum bisa menyimpulkan isi puisi sebanyak 17 siswa. Sedangkan, tingkat keberhasilan siswa pada siklus II adalah 56 % + 24 % = 80%. Siswa yang mampu menyimpulkan isi puisi rakyat sebanyak 20 siswa. (2) Model pembelajaran discovery memiliki dampak positif dalam meningkatkan hasil belajar siswa yang ditandai dengan peningkatan kuktasan belajar siswa dalam setiap siklus, pada siklus I (32%) dan siklus ke II (80%). Penerapan cara belajar menyimpulkan isi puisi rakyat model pembelajaran discovery berpengaruh dalam menigkatkan motivasi belajar siswa yang ditunjukkan dengan keluwesan berbicara siswa dalam menyimpulkan isi puisi rakyat.
PINUS: Jurnal Penelitian Inovasi Pembelajaran, Volume 4, pp 54-59; https://doi.org/10.29407/pn.v4i1.12431

Abstract:
Penelitian ini dilatarbelakangi hasil pengamatan dan pengalaman peneliti, bahwa pendidikan di sekolah dasar lebih cenderung menitikberatkan pada pembelajaran konvensional, sehingga siswa kurang terlibat aktif berpikir secara kritis dan kreatif dalam proses pembelajaran disekolah. Hal ini mengakibatkan motivasi belajar siswa dalam pembelajaran kurang. Permasalahan penelitian ini adalah pengaruh penggunaan media sosial sebagai sumber pembelajaran IPS terhadap kemampuan berpikir kritis, berpikir kreatif dan motivasi belajar siswa sekolah dasar. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan subyek penelitian siswa kelas V. Jenis desain penelitian ada lah non-equivalent control group design pada siswa kelas V Sekolah Dasar di Kota Kediri. Digunakan beberapa instrumen untuk mendukung penelitian ini yaitu Pengukuran motivasi belajar siswa menggunakan angket motivasi belajar, di analisis menggunakan analisis deskriptif. Pengukuran kemampuan berpikir kritis menggunakan rubrik kemampuan berpikir kritis terintegrasi dengan tes kognitif, dan pengukuran berpikir kreatif terintegrasi pada tes hasil belajar kognitif. Data ditabulasi kemudian dianalisis. Penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) terdapat perbedaan motivasi belajar siswa dari kelompok kontrol dengan kelompok perlakuan. (2) ada perbedaan kemampuan berpikir kritis kelompok kontrol dengan perlakuan, (α = 0,057>0,05). (3) ada perbedaan berpikir kreatif antara kelompok kontrol dan perlakuan (α= 0,055>0,05). Disimpulkan bahwa media sosial sebagai sumber belajar IPS dapat meningkatkan motivasi belajar, kemampuan berpikir kritis, kemampuan berpikir kreatif.
Page of 1
Articles per Page
by
Show export options
  Select all
Back to Top Top