Refine Search

New Search

Results in Journal Jurnal Riset dan Kajian Pendidikan Fisika: 106

(searched for: journal_id:(4113121))
Page of 3
Articles per Page
by
Show export options
  Select all
Yuliana Ika, Hestiningtyas Yuli Pratiwi, Chandra Sundaygara
Jurnal Riset dan Kajian Pendidikan Fisika, Volume 7, pp 93-100; doi:10.12928/jrkpf.v7i2.17093

Abstract:
Abstrak. Berpikir kritis merupakan proses berpikir untuk menganalisis apa yang dimaksud dibalik informasi yang disampaikan. Penelitian ini bertujuan mengetahui kemampuan berpikir kritis dan keterampilan argumentasi siswa melalui model pembelajaran Argument Based Science Inquiry (ABSI) dan pembelajaran berbasis inkuiri, serta mengetahui interaksi antara model pembelajaran ABSI dan keterampilan argumentasi siswa terhadap kemampuan berpikir kritis. Penelitian dilaksanakan di salah satu sekolah negeri di Kota Malang pada semester genap 2019/2020. Populasi penelitian adalah peserta didik kelas X MIPA dan jumlah sampel terdiri dari enam puluh empat peserta didik yang terbagi dalam dua kelompok kelas yakni kelas eksperimen dan kelas kontrol. Teknik pengambilan data menggunakan tes kemampuan berpikir kritis dan mengukur keterampilan argumentasi menggunakan angket. Analisis data menggunakan anova dua jalur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Kemampuan berpikir kritis siswa yang belajar melalui model pembelajaran ABSI lebih tinggi dari pada siswa yang belajar dengan pembelajaran berbasis inkuiri, (2) Kemampuan berpikir kritis siswa yang belajar melalui model pembelajaran ABSI lebih tinggi daripada siswa yang belajar dengan model pembelajaran berbasis inkuiri, (3) Tidak ada interaksi antara model pembelajaran ABSI dan keterampilan argumentasi siswa terhadap kemampuan berpikir kritis.Kata kunci: argument based science inquiry, berpikir kritis, keterampilan argumentasi Critical thinking is a thought process to analyze what is meant behind the information conveyed. This study aims to determine students 'critical thinking skills and argumentation skills through the Argument Based Science Inquiry (ABSI) learning model and inquiry-based learning and determine the interaction between the ABSI learning model and students' argumentation skills on critical thinking skills. The research was conducted at one of the public schools in Malang City in the even semester of 2019/2020. The study population was students of class X MIPA, and the sample size consisted of sixty-four students who were divided into two class groups, namely the experimental class and the control class. The data collection technique used critical thinking skills tests and measured argumentation skills using a questionnaire—data analysis using two-way ANOVA. The results showed that (1) The critical thinking ability of students who learn through the ABSI learning model is higher than students who learn with inquiry-based learning, (2) The critical thinking ability of students who learn through the ABSI learning model is higher than students who learn using the ABSI learning model. Inquiry-based learning, (3) There is no interaction between the ABSI learning model and students' argumentation skills on critical thinking skills.Keywords: argument based science inquiry, critical thinking, argumentation skills
Matsun Matsun, Ira Nofita Sari, Boisandi Boisandi
Jurnal Riset dan Kajian Pendidikan Fisika, Volume 7, pp 59-65; doi:10.12928/jrkpf.v7i2.17822

Abstract:
Abstrak. Penelitian yang dilakukan didasari oleh belum adanya buku ajar fisika SMA kelas X pada materi pengukuran yang mengaitkan antara kearifan lokal Kalimantan Barat dengan konsep fisika . Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan buku ajar fisika pada materi pengukuran berbasis kearifan lokal Kalimantan Barat. Secara khusus penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelayakan buku ajar fisika pada materi pengukuran berbasis kearifan lokal Kalimantan Barat. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode penelitian dan pengembangan (R&D) dengan menggunakan model 4-D (Four-D Models) yang terdiri dari empat tahap, yaitu tahap pendefinisian (define), tahap perancangan (design), tahap pengembangan (develop), dan tahap pendeseminasian (disseminate). Intrumen yang digunakan yaitu instrument non test berupa angket validasi menggunakan skala likert dengan rentang skor 1-4. Berdasarkan hasil analisis data diketahui bahwa buku ajar fisika pada materi pengukuran berbasis kearifan lokal Kalimantan Barat memiliki hasil validasi untuk ahli materi dengan skor rata-rata 82,5% dan validasi ahli media dengan skor rata-rata 82,25%. Buku ajar fisika pada materi pengukuran berbasis kearifan lokal Kalimantan Barat dengan kriteria sangat baik menurut ahli materi dan ahli media sehingga buku ajar yang dikembangkan dapat digunakan dalam pembelajaran fisika..Kata kunci: pengembangan, bahan ajar, pengukuran, kearifan lokal The research conducted was based on the absence of class X high school physics textbook on measurement material that linked West Kalimantan local wisdom with the concept of physics. Therefore, this study aims to develop physics textbooks on measurement materials based on the local wisdom of West Kalimantan. In particular, this study aims to determine the feasibility of physics textbooks on measurement materials based on the local wisdom of West Kalimantan. The research method used is the research and development (R&D) method using the 4-D model (Four-D Models), which consists of four stages, namely the defining stage, the design stage, the development stage, and the dissemination stage. The instrument used is a non-test instrument in the form of a validation questionnaire using a Likert scale with a score range of 1-4. Based on the results of data analysis, it is known that physics textbooks on measurement materials based on local wisdom of West Kalimantan have validation results for material experts with an average score of 82.5% and validation of media experts with an average score of 82.25%. Physics textbooks on measurement material based on local wisdom of West Kalimantan with very good criteria according to material experts and media experts so that the textbooks developed can be used in physics learning.Keywords: development, teaching materials, measurement, local wisdom
Sayahdin Alfat, Arsyad Hamid Saifudin, Hunaidah M
Jurnal Riset dan Kajian Pendidikan Fisika, Volume 7, pp 50-58; doi:10.12928/jrkpf.v7i2.17972

Abstract:
Abstrak. Penelitian ini merupakan studi yang bertujuan untuk: (1) membuat simulasi motor listrik tiga fasa dengan menggunakan Spreadsheet Excel; (2) mengetahui aplikasi Spreadsheet Excel pada media pembelajaran. Penelitian ini menggunakan VBA Spreadsheet Excel 2013 yang terdapat pada laptop. Semua tahapan penelitian dilakukan sepenuhnya di Laboratorium Komputer Pendidikan Fisika. Data hasil, terdapat beberapa hal yang menjadi catatan penting: (1) simulasi yang telah dibuat menggunakan Visual Basic for Application Spreadsheet Excel dapat menyesuaikan dengan keadaan nyata yang terjadi pada simulasi motor listrik tiga fasa dengan mengubah data parameter dan fungsi yang diasumsikan sesuai dengan keadaan yang sebenarnya, serta Macro VBA Excel sangat berguna untuk memberi tombol perintah pada cell yang datanya ingin kita ubah, sehingga dapat memberi kesan visual pada grafik yang telah dibuat; (2) berdasarkan hasil uji simulasi dapat dikatakan bahwa pembuatan simulasi motor listrik tiga fasa sebagai media pembelajaran dengan menggunakan fitur spreadsheets dan macro VBA dalam Ms. Excel dapat digunakan untuk mensimulasikan sebuah kasus yang berkaitan dengan motor listrik tiga fasa yang diberi arus akan timbul medan magnet yang dapat memutar rotor dan dapat menganalisis perubahan posisi setiap fasa pada motor listrik tiga fasa.Kata kunci: Media pembelajaran, VBA for spreadsheet excel, simulasi motor listik tiga fasa This research is a study that aims to: (1) simulate a three-phase electric motor using an Excel spreadsheet; (2) knowing the Excel Spreadsheet application on learning media. This study uses the VBA Excel 2013 Spreadsheet found on a laptop. All stages of research are carried out entirely in the Physics Education Computer Laboratory. The result data, several things are important notes: (1) simulations that have been made using the Visual Basic for Application Excel Spreadsheet can adjust to the real situation that occurs in the simulation of a three-phase electric motor by changing the parameter data and assumed functions according to the circumstances actually, as well as Excel VBA Macros are very useful for giving command buttons to cells whose data we want to change, so that it can give a visual impression to the graph that has been created; (2) based on the simulation test results it can be said that the manufacture of a three-phase electric motor simulation as a learning medium using the spreadsheets and macro VBA features in Ms. Excel can be used to simulate a case related to a three-phase electric motor that is given a current, a magnetic field will arise that can rotate the rotor and can analyze changes in the position of each phase in a three-phase electric motor.Keywords: learning media, VBA for excel spreadsheet, three phase electric motor simulation
Hani Nur Azizah, Ridwan Efendi, Saeful Karim
Jurnal Riset dan Kajian Pendidikan Fisika, Volume 7, pp 78-84; doi:10.12928/jrkpf.v7i2.17284

Abstract:
Abstrak. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh hasil studi pendahuluan yang menunjukkan bahwa masih banyaknya pendidik yang menerapkan penilaian hanya untuk mengetahui hasil belajar siswa di akhir pembelajaran. Oleh karena itu, diperlukan suatu penilaian yang dapat meningkatkan pemahaman siswa selama pembelajaran yang dikenal dengan asesmen formatif. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menunjukkan efektivitas asesmen formatif concept checks dalam meningkatkan kemampuan kognitif siswa SMA. Metode penelitian yang digunakan adalah quasi experimental design dengan desain penelitian Nonequivalent Control Group Design. Sampel pada penelitian ini terdiri dari 59 siswa kelas X di salah satu SMA Negeri di kota Bandung. Pengumpulan data dilakukan melalui tes kemampuan kognitif yang dianalisis menggunakan uji t dan effect size. Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat perbedaan peningkatan kemampuan kognitif siswa antara kelas eksperimen dengan kelas kontrol dan nilai effect size yang termasuk dalam kategori sedang. Secara keseluruhan Integrasi asesmen formatif concept checks pada pembelajaran fisika efektif terhadap peningkatan kemampuan kognitif siswa..Kata kunci: Asesmen Formatif, Concept Checks, Kemampuan Kognitif This research is motivated by the result of a preliminary study, which shows that there are many educators who apply assessment only to find out the student learning outcomes at the end of learning. Therefore, an assessment is needed that can improve students' understanding during learning, known as a formative assessment. The purpose of this study is to know the effectiveness of formative concept checks on students' cognitive abilities. The research method was used a quasi-experimental design with one group pretest-posttest design. The sample in this study was class X students senior high school in Bandung, an amount of 59 students. The data collection was conducted through a cognitive abilities test. The data were analyzed using the t-test and effect size. The results showed that there was a difference in the increased cognitive ability of students between the experimental class and the control class and the effect size value included in the medium category. This shows that the integration of formative assessment concept checks in physics learning was effective in improving the cognitive abilities of students.Keywords: Formative Assessment, Concept Checks, Cognitive Abilities
Yanti Sofi Makiyah, Nana Nana, Ifa Rifatul Mahmudah
Jurnal Riset dan Kajian Pendidikan Fisika, Volume 7, pp 85-92; doi:10.12928/jrkpf.v7i2.17798

Abstract:
Abstrak. Mahasiswa Pendidikan Fisika harus memiliki kompetensi digital dan kemampuan berpikir kreatif abad 21, sehingga kompetensi tersebut harus dilatihkan bagi Mahasiswa Pendidikan Fisika. Salah satu cara untuk melatih kompetensi dan keterampilan tersebut dengan menerapkan model pembelajaran berbasis proyek dalam pembelajaran fisika. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif non eksperimental dalam penelitian korelasional, bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kompetensi digital dan keterampilan berpikir kreatif. Subjek penelitian terdiri dari 65 Mahasiswa Pendidikan Fisika yang mengambil mata kuliah Mekanika tahun ajaran 2019/2020 dengan menggunakan instrumen penelitian yaitu lembar observasi kompetensi digital, lembar observasi keterampilan berpikir kreatif, dan wawancara yang dilakukan oleh tiga orang observer. Berdasarkan hasil analisis data dapat disimpulkan bahwa terdapat korelasi positif yang sangat tinggi antara kompetensi digital dan keterampilan berpikir kreatif dengan nilai koefisien korelasi 0,84 dan kontribusi kompetensi digital terhadap keterampilan berpikir kreatif sebesar 71%.Kata kunci: kompetenci digital, keterampilan berpikir kreatif, project based learning Physics education students must possess digital competence and creative thinking skills in the 21st century, so these competencies must be trained for Physics Education Students. One way to train these competencies and skills to apply a project-based learning model in physics learning. This research is non-experimental quantitative research in correlational research, aiming to determine the relationship between digital competence and creative thinking skills. The research subjects consisted of 65 Physics Education Students taking Mechanics courses for the 2019/2020 academic year using research instruments, namely digital competency observation sheets, creative thinking skills observation sheets, and interviews conducted by three observers. Based on the data analysis results, it is concluded that there is a very high positive correlation between digital competence and creative thinking skills with a correlation coefficient value of 0.84 and the contribution of digital competence to creative thinking skills by 71%.Keywords: digital comptence, creative thinking skills, project based learning
Ino Angga Putra, Suci Prihatiningtyas, Hendrik Siswono
Jurnal Riset dan Kajian Pendidikan Fisika, Volume 7, pp 42-49; doi:10.12928/jrkpf.v7i2.16960

Abstract:
Abstrak. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui keterampilan mahasiswa dalam mengembangkan media pembelajaran fisika. Keterampilan pengembangan media pembelajaran perlu dimiliki mahasiswa pada kegiatan belajar mengajar di kelas. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif deskriptif melalui kegiatan observasi atau pengamatan oleh 3 (tiga) observer. Sampel penelitian ini adalah mahasiswa semester V yang mengikuti mata kuliah Pengembangan Media Pembelajaran. Teknik sampling menggunakan purposive sampling. Pengumpulan data menggunakan instrumen penilaian perancangan media pembelajaran meliputi aspek ACTION dan VISUALS dengan menggunakan skala Likert. Hasil penelitian diperoleh keterampilan mahasiswa dalam mengembangkan media pembelajaran pada kategori sangat baik dengan skor 3,2. Keterampilan mahasiswa perlu ditingkatkan lagi pada aspek Organization (organisasi), Novelty (kebaruan), Accurate (dapat dipertanggungjawabkan), Legitimate (masuk akal), dan Structure (terstruktur). Keterampilan mahasiswa dalam mengembangkan media pembelajaran sudah baik namun perlu disesuaikan dengan kondisi dilapangan mencakup sarana prasrana di sekolah dan perkembangan IPTEK.Kata kunci: Keterampilan, media pembelajaran, fisika. The purpose of this study was to determine student skills in developing physics learning media. Learning media development skills need to be had by students in teaching and learning activities in class. The research method used was descriptive qualitative research through observation or observation by 3 (three) observers. The sample of this research is the fifth-semester students who take the Learning Media Development course. The sampling technique uses purposive sampling. Collecting data using learning media design assessment instruments covering aspects of ACTION and VISUALS using a Likert scale. The results were obtained by students' skills in developing learning media in the excellent category with a score of 3.2. Students' skills need to be further improved in the aspects of Organization, Novelty (novelty), Accurate (can be accounted for), Legitimate (reasonable), and Structure (structured). Students' skills in developing instructional media are good but need to be adjusted to the field's conditions, including infrastructure in schools and the development of science and technology. Keywords: Skill, learning media, physics
Resty Dwi Asry, Andri Suherman, Asep Saefullah
Jurnal Riset dan Kajian Pendidikan Fisika, Volume 7, pp 66-77; doi:10.12928/jrkpf.v7i2.17249

Abstract:
Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana kelayakan dan respon uji coba terbatas penuntun praktikum kapasitor berbasis Keterampilan Proses Sains (KPS) sebagai perangkat pembelajaran fisika. Metode yang digunakan adalah penelitian dan pengembangan (R&D) dengan model 4-D. Penuntun praktikum ini sebagai perangkat pembelajaran fisika mampu memfasilitasi beberapa kegiatan praktikum yang mana setiap langkahnya berkaitan dengan KPS, diantaranya yaitu praktikum kapasitansi kapasitor keping sejajar, susunan kapasitor (seri-paralel-gabungan) dan pengisian pengosongan kapasitor. Hasil penelitian menunjukan bahwa penuntun praktikum layak digunakan, yaitu dengan nilai kelayakan 81,235% yang dikategorikan menjadi sangat layak serta mendapatkan respon peserta didik dengan kategori sangat baik sebesar 85,2%. Berdasarkan hasil yang didapat bahwa Penuntun Praktikum Kapasitor dapat memfasilitasi KPS siswa dan layak digunakan sebagai perangkat pembelajaran fisika.Kata kunci: Keterampilan Proses Sains (KPS), perangkat pembelajaran, penuntun praktikum kapasitor This study aims to determine the feasibility and response of a limited trial of capacitor practicum guides based on Science Process Skills (SPS) as a physics learning tool. The method used is research and development (R&D) with the 4-D model. This practicum guide as a physics learning tool can facilitate several practicum activities in which each step is related to SPS, including the practicum capacitance of parallel pieces of capacitors, an arrangement of capacitors (series-parallel-combined), and charging-discharging of capacitors. The results showed that the practicum guide was feasible, namely with a feasibility value of 81.235%, which was categorized as very feasible and obtained student responses in the very good category of 85.2%. Based on the results obtained, the Capacitor Practicum Guide can facilitate students’ SPS and is suitable for use as a tool for learning physics.Keywords: Science Process Skills (SPS), learning media, capacitor practicum guide,
Lailatul Husniah, Suci Prihatiningtyas, Ino Angga Putra
Jurnal Riset dan Kajian Pendidikan Fisika, Volume 7; doi:10.12928/jrkpf.v7i1.14625

Abu Yazid Raisal, Hariyadi Putraga, Muhammad Hidayat, Rizkiyan Hadi
Jurnal Riset dan Kajian Pendidikan Fisika, Volume 7; doi:10.12928/jrkpf.v7i1.15772

Violyta Ekka Caroline, Ino Angga Putra, Suci Prihatiningtyas
Jurnal Riset dan Kajian Pendidikan Fisika, Volume 7; doi:10.12928/jrkpf.v7i1.14789

Nurzakiyah Nurzakiyah, Sitti Nurpahmi, Eka Damayanti
Jurnal Riset dan Kajian Pendidikan Fisika, Volume 7; doi:10.12928/jrkpf.v7i1.15664

Khairil - Anwar, Sparisoma Viridi, Dadi Rusdiana, Ida Kaniawati
Jurnal Riset dan Kajian Pendidikan Fisika, Volume 7; doi:10.12928/jrkpf.v7i1.15814

Artha Lumbantoruan, Didik Irawan, Harina Remalis Siregar, Dear Lumbantoruan, Neng Ria Nasih, Sofia Christine Samosir, Utari Prisma Dewi, Dodi Setiawan Putra, Orin Hidayusa Wiza
Jurnal Riset dan Kajian Pendidikan Fisika, Volume 6; doi:10.12928/jrkpf.v6i2.14185

Moh Irma Sukarelawan, Sriyanto Sriyanto
Jurnal Riset dan Kajian Pendidikan Fisika, Volume 6; doi:10.12928/jrkpf.v6i2.14556

Cicyn Riantoni, Astalini Astalini, Darmaji Darmaji
Jurnal Riset dan Kajian Pendidikan Fisika, Volume 6; doi:10.12928/jrkpf.v6i2.14202

, I Wayan Sudiarta
Jurnal Riset dan Kajian Pendidikan Fisika, Volume 6, pp 63-70; doi:10.12928/jrkpf.v6i2.14613

Abstract:
Abstrak. Metode numerik, seperti metode finite difference, finite element dan Fourier, untuk menyelesaikan persamaan Schrӧdinger telah banyak digunakan sebelumnya. Metode finite difference time domain (FDTD) telah dikembangkan oleh Sudiarta dan Geldart (2007). Metode FDTD telah berhasil diaplikasikan untuk berbagai sistem kuantum, satu partikel ataupun lebih. Salah satu kelemahan metode FDTD adalah pada kasus tertentu seperti potensial kotak dan potensial osilator harmonik ditemukan iterasi FDTD lebih lambat menuju konvergen sehingga memerlukan waktu komputasi yang lebih lama. Untuk mengatasi hal tersebut, metode relaksasi Gauss-Seidel digunakan. Pada paper ini, metode relaksasi diaplikasikan untuk menyelesaikan persamaan Schrӧdinger satu partikel pada berbagai potensial. Numerical methods, such as finite difference, finite element and Fourier methods to solve the Schrӧdinger equation have been used previously. The finite difference time domain (FDTD) method has been developed by Sudiarta and Geldart (2007). The FDTD method has been successfully applied to various quantum systems, for one particle or more. One of the weaknesses of the FDTD method is that in certain cases such as the box potential and harmonic oscillator it has been found that FDTD iterations are slower to converge and thus require longer computation time. To overcome this, the relaxation Gauss-Seidel method can be used. In this paper, the relaxation method was applied to solve the Schrӧdinger equation for one particle in various potential wells.
Eko Nursulistiyo
Jurnal Riset dan Kajian Pendidikan Fisika, Volume 6, pp 5-9; doi:10.12928/jrkpf.v6i1.13393

Abstract:
Telah dilakukan kajian mengenai pemanfaatan siter, kendang, kenong, saron, dan gender dalam gamelan sebgai media pembelajaran fisika. Tujuan dari kajian ini adalah untuk mengetahui konsep apa saja yang bisa diajarkan menggunakan media pembelajaran gamelan dan bagaimana caranya. Metode yang digunakan adalah dengan studi pustaka dan pandalaman. Hasilnya adalah a) Siter dapat digunakan untuk menjelaskan konsep getaran, tinggi rendah bunyi dan hubungan panjang tali dengan frekuensi bunyi. Frekuensi bunyi diukur menggunakan aplikasi sound analyser free, b) Kendang dapat digunakan untuk menjelaskan konsep bunyi berasal dari getaran melalui eksperimen dengan menaburkan beras diatasnya, c) Saron dan kenong dapt digunakan untuk menjelaskan tinggi-rendah dan kuat lemah bunyi dengan memukul pada nada berbeda untuk mengajarkan tinggi rendah bunyi dan mengatur tinggi rendahnya pemukul untuk mengajarkan kuat lemah bunyi, d) Gender dapat digunakan untuk menjelaskan resonansi bunyi pada pipa organa tertutup dengan mengukur kedalaman dari kolom di bawah bilah logam dan mencatat frekuensinya.Studies have been carried out regarding the use of siter, kendang, kenong, saron, and gender in gamelan as a medium for learning physics. The purpose of this study is to find out what concepts can be taught using gamelan learning media and how. The method used is by literature study. The result is a). “Siter” can be used to explain the concept of vibration, high low sound and the relationship of the length of the rope to the sound frequency. Sound frequency is measured using the sound analyzer free application, b). “Kendang” can be used to explain the concept of sound originating from vibrations through experiments with sprinkling rice on it, c). “Saron” and “kenong” can be used to explain the high and low weak sound by hitting on a different tone to teach high low sound and set the height of the paddle to teach strong weak sound, d). “Gender” can be used to explain sound resonance in a closed organ pipe by measuring the depth of the column under the metal blade and recording its frequency.
Jurnal Riset dan Kajian Pendidikan Fisika, Volume 6, pp 35-43; doi:10.12928/jrkpf.v6i1.13394

Abstract:
Pada umumnya dalam pembelajaran fisika lebih baik belajar memahami dari pada menghafal konsep-konsep karena bukan hanya teori saja akan tetapi juga ada eksperimen yang dilakukan untuk membantu siswa dalam memahami materi yang diberikan guru di kelas. Pada penelitian ini dibuat bahan ajar yang membuktikan bahwa penerapan fisika dalam kehidupan sehari-hari akan terbukti secara nyata dengan langkah-langkah eksperimen berbasis Video Based Laboratory. Langkah ini membantu siswa dalam memahami proses pembelajaran di kelas mengenai pokok bahasan mekanika gerak. Metode yang digunakan adalah Research and Development dengan model 4-D terdiri dari empat langkah yaitu pendefinisian (define), perencanaan (design), pengembangan (develop), dan penyebarluasan (Disseminate). Produk yang dikembangkan telah diujikan pada siswa kelas XI di SMA Negeri 5 Yogyakarta, dengan instrumen berupa angket kelayakan. Hasil penelitian pengembangan bahan ajar berupa buku panduan eksperimen fisika berbasis video based laboratory menggunakan wahana taman kanak-kanak dan CD sebagai bahan eksperimen mendapat penilaian dari validator ahli materi 88%, validator ahli media sebesar 83,6%, dan hasil uji lapangan terhadap siswa 83,79%. Berdasarkan hasil tersebut, bahan ajar yang dikembangkan dikategorikan sangat layak untuk digunakan sebagai bahan ajar.In most cases, it is to understand than memorize in physics learning. It is because not only a theory but also an experiment to help students understanding the subject given by the teacher. For this research, it uses a teaching content that proves the application of physics in daily life will be proven visibly through experiment steps based Video based laboratory. This step helps the student to understand the process of learning about the chapter on motion mechanics. The method of this research is RND with 4-D model. The 4-D model consists of 4 steps, those are define, design, develop, disseminate. The product that will be developed has been tested by the students in the 12 grade in SMAN 5 Yogyakarta with feasibility questionnaire. The experimental result of the developing teaching content is physics experiment guidebook based video-based laboratory using kindergarten’s playground and CD as experimental material to get a rating from the validator. It gets 88% from a content expert validator, 83,6% from a media expert validator, the field test result for student get 83,79%. Based on the result, the teaching content that has been developed is categorized as very decent to be used as a teaching content
Novi Ayu Kristiana Dewi, Riswanto Riswanto
Jurnal Riset dan Kajian Pendidikan Fisika, Volume 6, pp 17-22; doi:10.12928/jrkpf.v6i1.12643

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan dan mengungkapkan pembelajaran ekspositori terhadap prestasi belajar fisika siswa ditinjau dari gaya belajar. Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan memaparkan, menuliskan, dan melaporkan keadaan suatu objek atau peristiwa apa adanya. Data dalam penelitian diperoleh melalui kuisioner, observasi, wawancara, dokumentasi, dan pustaka yang selanjutnya dilakukan triangulasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah menurut Miles dan Hubermen, yaitu: reduksi data, penyajian, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi pemebelajaran ekspositori yang diterapkan dalam pemebelajaran fisika yang terdiri dari siswa dengan gaya belajar heterogen, yaitu: visual sebanyak 28,33% siswa, auditorial sebanyak 35% siswa, dan kinestetik sebanyak 36,67 % dinyatakan tidak berhasil karena hanya 3,33% siswa yang tuntas belajar.This study aims to describe and explore the expository learning on physics learning achievement reviewed of students’ learning styles. This type of research is descriptive qualitative by describing, writing, and reporting the state of an object or event as it is. The data in the study were obtained through questionnaires, observations, interviews, documentation, and literature review which were then triangulated. The data analysis technique have used Miles and Hubermen, namely: data reduction, presentation, and conclusion. The results showed that expository learning strategies applied in physics learning consisted of students with heterogeneous learning styles, namely: visual as much as 28.33% students, auditory as much as 35% students, and kinesthetic as much as 36.67% were declared unsuccessful because only 3.3% of students have completed learning.
Pujianti Bejahida Donuata
Jurnal Riset dan Kajian Pendidikan Fisika, Volume 6, pp 23-27; doi:10.12928/jrkpf.v6i1.11094

Abstract:
Pembelajaran dengan quantum teaching metode PQ4R didasarkan pada keragaman kecerdasan (Multiple Intelegence) siswa dapat meningkatkan hasil belajar fisika siswa. Selain itu, quantum teaching juga berpengaruh dalam membantu retensi dan transfer belajar siswa, membantu siswa dalam pemahaman diri, dan memberikan umpan balik tentang efektivitas pengajaran. Untuk melihat pengaruh penerapan quantum teaching metode PQ4R (preview, question, read, reflect, recite, review) dalam meningkatkan hasil belajar fisika siswa, maka diterapkan metode lain yang dijadikan sebagai pembanding yakni PQRST (preview, question, read, summarized, test). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan hasil belajar fisika antara siswa yang diajar dengan menggunakan quantum teaching metode PQ4R yang didasarkan pada keragaman kecerdasan dengan siswa yang diajar menggunakan metode PQRST. Sampel dalam penelitian ini terdiri dari dua kelas dengan masing-masing 27 siswa. Desain penelitian yang digunakan adalah Pretest-Postest Design. Instrumen yang digunakan adalah perangkat pembelajaran dan soal tes hasil belajar berupa soal pilihan ganda. Hipotesis penelitian ini yakni ada perbedaan hasil belajar antara siswa yang diajar menggunakan Quantum Teaching metode PQ4R berdasarkan keragaman kecerdasan (multiple intelligence) dengan menggunakan metode PQRST Analisis statistik menggunakan uji t, dengan satu pihak untuk uji hipotesis. Dari hasil analisis data diketahui bahwa hasil belajar fisika siswa yang diajar dengan Metode PQ4R berdasarkan keragaman kecerdasan lebih tinggi daripada hasil belajar fisika siswa yang diajar dengan metode PQRST.Teach by using Quantum Teaching with PQ4R method based on Multiple Intelegence can increase the study result of student’s physic learning. Except that, Quantum Teaching can help the students in retention, process of transferring, self-understanding, and responding about effectiveness of teaching. Goal of this research is to know if there are some differences of physics study result between, students given Quantum Teaching with PQ4R method based on multiple intelegence in each class meeting, with students given PQRST method. Sample of this research consists of two classes that are, kelas XA as experimental class involving 27 students and kelas XB as control class involving 27 students using Control Group Pretest-Postest Design. Instruments are syllabus, learn planning, and test of study result. Statistic analysis uses t test, by testing two groups for the first hypothesis and testing another for the next hypothesis. From the data analysis recognized that students physic study result taught by giving Quantum Teaching with PQ4R method based on multiple intelegence is higher then students physic study result taught by PQRST method.
Toni Kus Indratno
Jurnal Riset dan Kajian Pendidikan Fisika, Volume 6, pp 44-48; doi:10.12928/jrkpf.v6i1.13395

Abstract:
Telah dilakukan pengembangan berupa modul petunjuk praktikum komputasi fisika yang ditujukan khusus untuk mahasiswa jurusan kependidikan. Modul ini hadir sebagai jawaban atas rumusan capaian pembelajaran yang dilakukan oleh Physical Society of Indonesia (PSI). Selain itu, modul ini juga sebagai bahan sumber belajar khususnya untuk mata kuliah komputasi fisika pada jurusan kependidikan. Modul ini dikembangkan berdasarkan hasil adaptasi model pengembangan Borg and Gall, Dick and Carey, serta Allessi and Trollip, hanya saja tahapan yang dilakukan hanya sampai tahap keenam. Hasil validasi oleh ahli materi menempatkan modul ini dalam kategori baik, sedangkan ahli media mengkategorikan nilai untuk modul ini sangat baik. Dalam rangka melihat respon pengguna, modul ini telah diujicobakan dengan skala terbatas kepada beberapa mahasiswa menggunakan instrumen USE Questionnaire. Pengguna menilai bahwa modul ini sangat baik dan layak untuk digunakan dalam perkuliahan komputasi fisika.The development has been carried out consisting of modules on computational physics practicum intended specifically for students majoring in education. This module is present as an answer to the formulation of learning outcomes carried out by the Physical Society of Indonesia (PSI). In addition, this module is also a special learning resource for physics compatibility courses in the education department. This module was developed based on the adaptation model of Borg and Gall, Dick and Carey's development, and Allessi and Trollip, except that the development was carried out only until the sixth drunk. The results of the validation by the material expert put this module in a good category, while the media experts categorized the values for this module very well. In order to look at user responses, this module has been approved to try with a limited scale for some students using the USE Questionnaire instrument. Users consider this title very good and worthy of being used in computational physics lectures.
Rizkiani Maghfirotun Istiqomah, Eko Setyadi Kurniawan, Sriyono Sriyono
Jurnal Riset dan Kajian Pendidikan Fisika, Volume 6; doi:10.12928/jrkpf.v6i1.11366

Linda Titi Lestari, Eko Setyadi Kurniawan, Siska Desy Fatmaryanti
Jurnal Riset dan Kajian Pendidikan Fisika, Volume 6; doi:10.12928/jrkpf.v6i1.11364

Suci Prihatiningtyas, Ino Angga Putra
Jurnal Riset dan Kajian Pendidikan Fisika, Volume 5, pp 102-107; doi:10.12928/jrkpf.v5i2.10988

Abstract:
Berdasarkan hasil wawancara dan observasi langsung yang dilakukan oleh peneliti di program studi pendidikan fisika KH. A. Wahab Hasbullah, diketahui bahwa program studi tersebut belum memiliki alat peraga yang mampu membantu mahasiswa memperoleh pengalaman belajar secara langsung melalui praktikum sehingga hasil belajar yang diperoleh masih rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan efektivitas penggunaan alat peraga sederhana berbasis pendekatan sains teknologi masyarakat pada materi fluida statis. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dengan pendekatan pra-eksperimen One Group Pretest-Posttest Design pada mahasiswa pendidikan fisika semester genap tahun ajaran 2017-2018. Teknik penumpulan data berupa lembar pengamatan RPP dan aktivitas, tes hasil belajar serta angket respon mahasiswa. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dengan menggunakan alat peraga sederhana berbasis pendekatan sains teknologi dan masyarakat pada materi fluida statis dapat efektif diterapkan pada mahasiswa. Hal ini dilihat dari hasil keterlaksanaan RPP yang berkategori baik, aktivitas mahasiswa yang dominan melakukan praktikum, hasil belajar mahasiswa rata-rata memiliki nilai 82, respon mahasiswa yang sangat baik terhadap penggunaan alat peraga sederhana fluida statis. Based on the results of interviews and direct observations made by researchers in the physics education program KH. A. Wahab Hasbullah, it is known that the study program does not have visual aids that are able to help the students gain direct learning experience through practicum so that the learning result obtained is still low. This study aims to describe the effectiveness of the use of simple visual aid based on the approach of community science technology on static fluid materials. The quantitative descriptive research method is used with a pre-experimental approach of One Group Pretest-Posttest Design on a physics education student second semester of the academic year 2017-2018. Data collection techniques are RPP observation sheets and activity, a test of learning result and student response questionnaire. Based on the results of research and discussion it can be concluded that learning by using simple visual aid based on science and technology approach of society on the static fluid material can be effectively applied to students. This is seen from the results of the implementation of RPP is categorized well, the student activity is dominant in practicum, student learning outcomes on average has a value of 82, excellent student response to the use of simple static fluid visual aid.
M. Yasin Kholifudin
Jurnal Riset dan Kajian Pendidikan Fisika, Volume 5, pp 81-86; doi:10.12928/jrkpf.v5i2.10878

Abstract:
Dalam proses pembelajaran fisika tidak lepas dari fenomena alam dalam kehidupan sehari-hari. Kemampuan menghubungkan antar konsep dan daya ingat pesera didik dalam mempelajari konsep; medan gravitasi, medan listrik dan medan magnet rendah sehingga dalam menyelesaikan probelamatika fisika mengalami kendala dan berimbas pada hasil belajar fisika rendah. Untuk dapat mengatasi hal tersebut penulis memberikan solusi dalam pembelajaran yaitu menerapkan konsep berpikir metode sinkronisasi dalam pembelajaran dengan 3 tahapan berpikir; 1) analisis konsep, 2). menghubungkan antara konsep dasar secara komprehensip, dan 3) aplikatif, pada materi medan gravitasi, medan listrik dan medan magnet. Dengan konsep berpikir metode sinkronisasi dalam pembelajaran ketiga konsep tersebut peserta didik merasakan situasi belajar yang menyenangkan, mudah mengingat kembali, dan mampu menemukan hubungan berbagai hal dalam menyelesaikan problematika ketiga konsep dengan katagori soal HOTS. The Physics learning materials stated in syllabus are closely related with natural phenomena in everyday life. Those are interconnected one another. The students’ ability to connect among the materials consept; gravitational field, electric field and magnetic field is inevitably needed for their better understanding of the materials. In fact, this is lour, and this results in their low achievement. To cope with this problem the writer sets forth the so called synchronization method, a way of thingking consisting three stages i.e; analysing the concept of the materials, connecting wholly among the materials, and applying both in the learning processes. The students’ applying the syncronization method during learning processes they are eased at understanding the learning materials and easily recall the materials and funally they learn physic with fun. Besides they are able to solve physics problem in HOTS level.
, Suci Prihatiningtyas, Novia Ayu Sekar Pertiwi
Jurnal Riset dan Kajian Pendidikan Fisika, Volume 5, pp 95-101; doi:10.12928/jrkpf.v5i2.10926

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk menuntaskan hasil belajar peserta didik setelah pembelajaran melalui pendekatan saintifik berbasis scaffolding pada kerja ilmiah peserta didik kelas XI pada materi alat optik. Rancangan pada penelitian ini menggunakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan pra-eksperimen. Penelitian ini menggunakan model ujicoba One Group Pretest-Posttest Design. Subjek penelitian adalah peserta didik kelas XI IPA semester genap MA Darul ‘Ulum Sumberpenganten Jogoroto Jombang pada tahun pelajaran 2017/2018. Hasil penelitian menunjukkan bahwa validitas perangkat pembelajaran dengan menggunakan pendekatan saintifik berbasis scaffolding pada materi alat optik meliputi RPP, LKS, dan THB berkategori baik dan layak untuk digunakan dalam pembelajaran. Keterlaksanaan pembelajaran yang menggunakan pendekatan saintifik berbasis scaffolding pada materi alat optik telah berjalan dengan baik sesuai dengan RPP yang dikembangkan. Aktivitas peserta didik selama pembelajaran menunjukkan kategori baik, hampir seluruh peserta didik aktif mengikuti kegiatan belajar mengajar. Hasil belajar siswa tuntas secara klasikal. Respons siswa terhadap pembelajaran memberikan respons positif. Kendala yang dijumpai selama pembelajaran berhubungan dengan kemampuan peserta didik dalam presentasi. Berdasarkan hasil penelitian di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran melalui pendekatan saintifik berbasis Scaffolding terhadap kerja ilmiah peserta didik kelas XI pada materi alat optik efektif diterapkan di kelas dan dapat menuntaskan hasil belajar peserta didik. The study aims to complete the learning outcomes of students after learning through a scientific approach based on Scaffolding on the scientific work of class XI students on optical equipment lesson. The design in this study uses quantitative research with a pre-experimental approach. This study uses the One Group Pretest-Posttest Design test model. Research subject was XI grade students of MA. Darul ‘Ulum Sumberpenganten Jogoroto Jombang in academic year 2017/2018. The results showed that the validity of learning set using a scaffolding-based scientific approach to the material of optical devices including RPP, LKS, and THB was categorized as good and feasible to be used in learning. The implementation of learning that uses a scaffolding-based scientific approach on optical instrument material has gone well according to the developed RPP. The activities of students during learning show good categories, almost all students actively participate in teaching and learning activities. Student learning outcomes are complete classically. Students respond positively to learning process. Constraints encountered during learning relate to the ability of students in the presentation. Based on the findings above, it can be concluded that learning through the scientific approach based on Scaffolding on XI grade student’s scientific work on the optical equipment lesson is effectively applied in the classroom...
Vina Serevina, Mm Aris Santoso, Cecep Rahmat
Jurnal Riset dan Kajian Pendidikan Fisika, Volume 5, pp 87-94; doi:10.12928/jrkpf.v5i2.9951

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan instrumen penilaian kinerja berbasis pendekatan saintifik pada materi pengukuran kelas X SMA untuk mengukur kinerja yang valid dan reliabel. Penelitian ini menggunakan penelitian pengembangan Borg dan Gall. Penelitian ini dilakukan di Universitas Negeri Jakarta pada bulan Agustus – November 2017. Tahap uji coba ke peserta didik dilakukan di Kelas X SMAN 73 Jakarta. Penelitian ini menggunakan adalah jenis research and development, studi pengembangan yang dilakukan mengadopsi siklus Borg dan Gall, dengan tahapan studi literature (Research and information collecting), perencanaan (Planning), Pengembangan produk awal (Develop preliminary form of product), Uji coba lapangan skala terbatas (Preliminary field testing), revisi produk (Main product revision), Uji Coba Skala utama (Main field testing), Penyempurnaan hasil uji coba skala utama (Operational product revision). Uji validasi produk (Operational field testing), melakukan revisi akhir (Final product revision) dan Penyebarluasan produk yang dikembangkan (Dissemination and implementation ). Instrumen diujikan secara terbatas pada peserta didik kelas X SMA N 73 Jakarta, hasil uji validitas butir dari 57 butir menjadi 48 butir yang valid. Uji Reliabilitas menggunakan Alpha Crobach. Hasil r hitung 0,864 dimana r tabel 0,334, berdasarkan hasil penelitian instrumen penilaian kinerja berbasis saintifik dapat mengukur kinerja pada kegiatan pembelajaran fisika materi pengukuran. This study aims to develop student performance appraisal instruments based on the scientific approach of student performance on high school physics measurement material for a valid and reliable result. This study uses research and development of Borg and Gall. It was conducted at the Jakarta State University in August - November 2017. In the testing phase to the students conducted in X Class of 73 Jakarta Senior High School. It uses the type of research and development, the development studies were conducted using the Borg and Gall cycles, with phase of literature study research and information collecting, planning, develop preliminary form of product, preliminary field testing, main product revision, main field testing, operational product revision, operational field testing, final product revision and dissemination and implementation. The instrument is tested on a limited basis for students of grade X of 73 Jakarta Senior High School, the results of the analysis of the instrument that has been tested its validity have decreased the number of grains from 57 to 48 items valid. While the reliability test using Alpha Cronbach. From the calculation obtained r count 0,864 with r table 0,334, from the results of this study can be concluded that the instruments based on scientific performance appraisal meet the requirements and feasible to be used as an instrument of performance appraisal on the learning activity of physics measurement material.
, Dwi Agus Kurniawan, Linda Zaenati Nurfarida
Jurnal Riset dan Kajian Pendidikan Fisika, Volume 5, pp 73-80; doi:10.12928/jrkpf.v5i2.10736

Abstract:
Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan sikap siswa terhadap pelajaran fisika di SMA Kabupaten Batanghari, Beserta kendala yang dihadapi. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif kuantitatif dengan prosedur penelitian survei. Subjek penelitian ini adalah 926 siswa SMA di Kabupaten Batanghari. Instrumen yang digunakan berupa angket dan lembar wawancara. Analisis data kuantitatif menggunakan descriptive statistic sedangkan analisis data kualitatif menggunakan teknik analisis data model Miles dan Huberman. Hasil dari 4 aspek indikator sikap yang dibahas pada penelitian ini adalah pada Indikator normalitas ilmuwan sebesar 8.3 % berkategori baik. Sedangkan adopsi dari sikap ilmiah sebesar 74% berkategori baik. Kemudian pada indikator ketertarikan memperbanyak waktu belajar fisika sebesar 57.9% siswa berkategori cukup, dan pada indikator ketertarikan berkarir di bidang fisika sebanyak 45% siswa juga berkategori cukup. This study is to find out the description of students' attitudes toward physics subjects in Batanghari District High School, along with the constraints faced. This research is quantitative-qualitative research with survey research procedure. The subject of this research is 926 high school students in Batanghari District. The instruments used were questionnaires and interview sheets. Quantitative data analysis uses descriptive statistics while qualitative data analysis uses data analysis techniques modeled by Miles and Huberman. The results of the 4 aspects of attitude indicators discussed in this study are on indicators of normality of science as much as 58.3% in the good category. While the adoption of scientific attitudes as much as 74% categorized well. Then on the indicator of interest in increasing the time to study physics as much as 57.9% of students are categorized sufficiently, and on the indicator of interest in a career in the field of physics as much as 45% of students are also categorized as sufficient.
, Riva Ismawati
Jurnal Riset dan Kajian Pendidikan Fisika, Volume 5, pp 63-67; doi:10.12928/jrkpf.v5i2.10431

Abstract:
Model pembelajaran problem based learning merupakan salah satu model pembelajaran yang digunakan dalam pembelajaran abad 21. Keterlaksanaan proses pembelajaran dapat dilihat dari kesiapan guru dan peserta didik. Kesiapan peserta didik dapat dilihat dari persepsinya terhadap model pembelajaran tersebut. Artikel ini mengkaji tentang persepsi mahasiswa terhadap skenario pembelajaran menggunakan model pembelajaran problem based learning. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif. Persepsi mahasiswa dilihat dari tiga aspek yaitu kesiapan, minat, dan profil pembelajaran. Persepsi mahasiswa tentang kepercayaan diri dan partisipasi aktif mahasiswa bukan dipengaruhi oleh model pembelajaran yang digunakan tetapi lebih dipengaruhi oleh materi yang dipelajari. Persepsi minat mahasiswa terhadap pelaksanaan PBL cukup baik dan persepsi mahasiswa terhadap profil pembelajaran PBL sangat baik. Persepsi mahasiswa terhadap profil pembelajaran sudah sangat baik, hanya saja pada tahapan orientasi masalah dan evaluasi terhadap proses penyelesaian masalah perlu ditingkatkan karena tahapan ini merupakan salah satu tahapan yang penting dalam model pembelajaran problem based learning. Problem-based learning model is one of the learning models used in the 21st-century learning process. The implementation of the learning process can be seen from the readiness of the teacher and students. Readiness can be seen from their perceptions of the learning model. This article examines the students' perception of learning scenarios using problem-based learning. This research uses the quantitative descriptive method. Student perceptions showed three aspects: readiness, interest, and learning profile. Student perceptions about self-confidence and participation not only influenced by using the model but also influenced by the content of the material. The perception of student interest in PBL implementation is good and students' perception of the PBL learning profile is very good. Student perceptions of the learning profile have been very good, only at the stage of problem orientation and evaluation of the problem-solving process needs to be improved.
Nailul Khoiriyah, Abdurrahman Abdurrahman, Ismu Wahyudi
Jurnal Riset dan Kajian Pendidikan Fisika, Volume 5, pp 53-62; doi:10.12928/jrkpf.v5i2.9977

Abstract:
Kualitas sumber daya manusia yang rendah dipengaruhi oleh kualitas pendidikan di Indonesia yang masih tergolong rendah, sehingga perlu diterapkan pembelajaran yang membantu siswa dalam meningkatkan kemampuan berpikirnya. Penelitian ini bertujuan mengetahui implementasi pendekatan pembelajaran STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa. Sampel penelitian ini adalah siswa kelas XI MIPA 1 dan XI MIPA 2 SMAN 13 Bandar Lampung tahun ajaran 2017/2018. Desain penelitian ini adalah The Non-Equivalent Pretest-Posttest Control Group Design. Data kemampuan berpikir kritis siswa dikumpulkan menggunakan instrumen tes kemampuan berpikir kritis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai rata-rata N-gain pada kelas eksperimen sebesar 0,63 dan kelas kontrol sebesar 0,35 dengan kategori sedang. Secara keseluruhan implementasi pendekatan pembelajaran STEM mampu meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa.The low quality of human resources is influenced by the quality of education in Indonesia is still relatively low, so it needs to be applied learning that helps students improve their thinking ability. This study aims to determine the implementation of STEM learning approach to improve students' critical thinking skills. The sample of this research is the students of class XI MIPA 1 and XI MIPA 2 SMAN 13 Bandar Lampung academic year 2017/2018. The design of this study was The Non-Equivalent Pretest-Posttest Control Group Design. Students' critical thinking skills data were collected using critical critical thinking test instruments. The results showed that the average value of N-gain in the experimental class was 0.63 and control class was 0.35 in the medium category. Overall implementation of STEM learning approach can improve students' critical thinking ability.
, Dwi Agus Kurniawan, Ayu Lestari
Jurnal Riset dan Kajian Pendidikan Fisika, Volume 5, pp 68-72; doi:10.12928/jrkpf.v5i2.10735

Abstract:
Penelitian dilakukan untuk mendeskripsikan keterampilan proses sains mahasiswa pendidikan fisika Universitas Jambi setelah menggunakan penuntun praktikum Fisika Dasar II berbasis Keterampilan Proses Sains ada percobaan suhu dan kalor. Penelitian ini jenis kuantitatif. Penelitian ini mahasiswa yang diikutsertakan yaitu 91 orang. Lembar observasi keterampilan proses sains digunakan mengumpulkan data dan diperkuat dengan wawancara serta dokumentasi. Data dianalisis dengan statistik deskriptif. Hasil analisis memperlihatkan jika Keterampilan Proses Sains yang dapat dikuasai mahasiswa yaitu mengukur dan eksperimen. Hasil penelitian diharapkan menjadi pertimbangan bagi program studi fisika untuk melakukan studi terkait untuk mata kuliah praktikum lainnya. The research was conducted to find out the description about science process skill of physics education student of Jambi University on an experiment of temperature and heat. The research is quantitative research with the quasi-experimental method. This research takes 91 students as sample. Observation sheets are used to collect data and reinforced by interviews and documentation. Data were analyzed with descriptive statistics. The results of the analysis show that SPS that can be mastered by students is measuring and experimenting. The result of the study is expected to be the consideration to program and other faculties at Jambi University and other Universities to conduct related studies.
Ino Angga Putra, Eko Sujarwanto, Novia Ayu Sekar Pertiwi
Jurnal Riset dan Kajian Pendidikan Fisika, Volume 5, pp 10-16; doi:10.12928/jrkpf.v5i1.8923

Abstract:
Perkembangan pembelajaran pada saat ini terfokus pada pembelajaran student center. Peserta didik diberikan kesempatan untuk membangun pemahamannya terhadap konsep pelajaran yang diperoleh dari pendidik (sebagai fasilitator). Upaya mengatasi kesulitan dalam membangun pemahaman, mencapai ketuntasan dan mengurangi miskonsepsi peserta didik maka digunakan evaluasi pembelajaran melalui Tes Diagnostik. Tujuan penelitian ini yaitu a) mengetahui pemahaman konseptual mahasiswa dalam mengkaji konsep-konsep dasar kinematika partikel, dan b) mengetahui kesulitan pemahaman konseptual mahasiswa pada konsep dasar kinematika partikel. Jenis penelitian ini adalah Penelitian ini menggunakan model penelitian deskriptif eksploratif. Instrumen pengumpulan data menggunakan instrumen penilaian diagnostik ­Two-Tier. Peningkatan tersebut ditunjukkan melalui hasil rata-rata skor gain yang ternormalisasi sebesar 0,02. Hasil analisis data pemahaman konsep mahasiswa menggunakan instrumen tes diagnostik menunjukkan bahwa pemahaman konsep mahasiswa meningkat sebesar 2%. Hasil analisis data penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa mengalami miskonsepsi pada konsep kinematika partikel. Hal ini dikarenakan mahasiswa masih lemah dalam menganalisis suatu permasalahan melalui bentuk representasi. The development of learning at this time focused on student center learning. Learners are given the opportunity to build their understanding of the lesson concept learned from the educator (as the facilitator). Efforts to overcome difficulties in building understanding, achieve mastery and reduce the misconceptions of learners then used the evaluation of learning through the Diagnostic Test. The purposes of this research are: a) to know the conceptual understanding of students in studying basic concepts of particle kinematics, and b) to know the difficulties of conceptual understanding of students on the basic concept of particle kinematics. The type of this research is research use descriptive explorative research model. The data collection instrument uses a diagnostic evaluation instrument Two-Tier. The increase was shown through the average result of a normalized gain score of 0.02. The result of data analysis of student conceptual understanding using diagnostic test instrument showed that students concept comprehension increased by 2%. The results of data analysis showed that students have misconceptions on the concept of kinematics particles. This is because students are still weak in analyzing a problem through the form of representation.
Muhammad Reza Primadi, Sarwanto Sarwanto, Suparmi Suparmi
Jurnal Riset dan Kajian Pendidikan Fisika, Volume 5, pp 1-9; doi:10.12928/jrkpf.v5i1.8392

Abstract:
Penelitian ini bertujuan: (1) mengetahui desain rancangan modul pembelajaran fisika berbasis inkuiri terbimbing untuk meningkatkan kemampuan berpikir kreatif siswa, (2) mengetahui kelayakan modul pembelajaran fisika berbasis inkuiri terbimbing (3) mengetahui implementasi modul fisika berbasis inkuiri terbimbing dapat meningkatkan kemampuan berpikir kreatif siswa. Jenis penelitian ini adalah Research and Development (R&D) yang mengacu pada model 4D dengan tahap: define, design, develop, dan disseminate. Analisis hasil angket, validasi, dan observasi dianalisis dengan metode diskriptif-kualitatif berdasarkan skor kriteria, sedangkan uji coba lapangan menggunakan one group pretest-posttes design. Data kemampuan berpikir kreatif dihitung dengan gain ternormalisasi dan diuji dengan uji t dua sampel berpasangan. Hasil penelitian menunjukkan: (1) pengembangan modul pembelajaran berbasis inkuiri terbimbing didesain dengan tahapan pembelajaran: merumuskan masalah, merumuskan hipotesis, mengumpulkan data, menguji hipotesis, dan merumuskan kesimpulan untuk meningkatkan kemampuan berfikir kreatif siswa, (2) modul memenuhi kriteria layak dari hasil validasi materi, media, praktisi pendidikan dan teman sejawat, (3) implementasi modul fisika berbasis inkuiri terbimbing efektif digunakan untuk meningkatkan kemampuan berpikir kreatif siswa berdasarkan pengujian lapangan di SMA PIRI 1 Yogyakarta. These research aims are: (1) to know the design of guided inquiry-based physics module can improve students' creative thinking ability, (2) to know the feasibility of guided inquiry-based physics learning module, (3) to know the implementation of guided inquiry-based physics module can improve students' creative thinking ability. Research and Development Research Method (R & D) with reference to 4D Thiagarajan model with stages: define, design, develop, and disseminate. The questionnaire, validation, and observation analyzes were analyzed by a descriptive-qualitative method based on criteria scores, while field trials used one group pretest-posttest design. The data of creative thinking ability was calculated with normalized gain and tested by paired sample t-test. Conclusions: (1) the development of guided inquiry-based learning modules designed with learning stages: formulating problems, formulating hypotheses, collecting data, testing hypotheses, and formulating conclusions to improve students' creative thinking ability; (2) the module meets the eligible criteria of material validation results, media, education practitioners and peers, (3) the implementation of guided inquiry-based physics module effectively used to improve students' creative thinking ability based on field testing in SMA PIRI 1 Yogyakarta.
Della Apriyani Kusuma Putri, Taufik Ramlan Ramalis, Purwanto Purwanto
Jurnal Riset dan Kajian Pendidikan Fisika, Volume 5, pp 40-45; doi:10.12928/jrkpf.v5i1.9212

Abstract:
Kemampuan literasi sains adalah suatu kemampuan yang memungkinkan seseorang untuk membuat suatu keputusan dengan pengetahuan konsep dan proses sains yang dimilikinya. Berbagai macam permasalahan yang terjadi di era globalisasi ini menuntut siswa untuk tidak hanya cakap dalam aspek kognitif tapi juga mampu memberi keputusan untuk memecahkan permasalahan, sehingga dapat dikatakan bahwa kemampuan literasi sains adalah kemampuan yang penting dan harus dimiliki siswa. Oleh karena itu, dibutuhkan instrumen untuk mengukur kemampuan literasi sains. hal inilah yang mendasari peneliti mengembangkan instrumen kemampuan literasi sains. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengembangkan dan mengetahui karakteristik tes kemampuan literasi sains fisika siswa SMA pada materi momentum dan impuls berdasarkan aspek literasi sains yang dikemukakan oleh Gormally. Metode penelitian yang diterapkan adalah penelitian dan pengembangan (Research and Development) yaitu metode penelitian yang digunakan untuk menghasilkan produk tertentu, dan menguji keefektifan produk tersebut. Sebelum diuji coba tes telah divalidasi oleh tiga orang validator dan menghasilkan kesimpulan bahwa tes cukup baik dan dapat diuji coba. Hasil analisis menggunakan Item Response Theory menunjukkan bahwa model 3PL adalah model yang sesuai dengan karakteristik tes. Sedangkan karakteristik tes yang meliputi daya pembeda, tingkat kesukaran, dan faktor tebakan termasuk dalam kategori baik. Science literacy skills is an ability that allows one to make a decision with the knowledge of the concepts and processes of science has. A wide variety of problems that occur in a globalized world requires students to not only proficient in cognitive but also able to make a decision to solve the problem, so it can be said that the ability of science literacy is an important capability and must be owned by the students. Therefore, the instrument is required to measure the ability of science literacy. This problem is underlying instrument researchers develop scientific literacy capabilities. The purpose of this research is to develop scientific literacy proficiency test for high school students on the physics material of momentum and impulse based on aspects of scientific literacy proposed by Gormally. The research method applied is research and development (Research and Development) which is the research methods used to produce a particular product and test the effectiveness of the product. Before tested, the test has been validated by a validator of three people and lead to the conclusion that the test quite well and can be tested. The result using analysis Item Response Theory shows that the model 3PL is a model match to the characteristics of the test. Whereas the characteristics of the test which includes distinguishing, level of difficulty and guess factors included in good categories.
Indra Yahdi Putra, Santi Fani Sigalingging, Dandan Luhur Saraswati
Jurnal Riset dan Kajian Pendidikan Fisika, Volume 5, pp 46-52; doi:10.12928/jrkpf.v5i1.8561

Abstract:
Tujuan dari penelitian adalah untuk menentukan ketinggian dan kecepatan minimum benda pada track melingkar vertikal sehingga benda tidak terjatuh, seperti yang terjadi pada gerakan Roller Coaster. Penelitian ini menggunakan alat peraga sederhana yang dibuat semirip mungkin dengan track Roller Coaster untuk membuat simulasi gerak yang terjadi. Gerak benda yang terjadi dianalisis menggunakan software tracker, dan menggunakan perhitungan manual dengan menggunakan persamaan-persamaan yang berlaku pada gerak benda yang terjadi. Data yang diperoleh dari hasil perhitungan manual didapat bahwa agar benda dapat melintasi track tanpa terjatuh kecepatan minimal benda yang harus dicapai adalah 1,21 m/s dan ketinggian minimal benda yang harus dipenuhi menurut hasil perhitungan manual adalah 2,5 kali dari jari jari lintasan melingkar (2,5R). Untuk kasus ini karena jari-jari lintasan melingkar adalah 15 cm/0,15 m maka ketinggian minimal adalah 37,5 cm atau 0,375 m. Berdasarkan hasil percobaan menggunakan alat peraga, ketinggian benda agar tidak terjatuh dari lintasan adalah 50 cm dan analisis menggunakan software tracker didapat bahwa kecepatan benda ketika bergerak pada lintasan adalah 2,26 m/s juga hasil perhitungan manual kecepatan benda pada saat dilintasan adalah 2,31 m/s. Dari hasil kedua perhitungan tersebut dapat kita simpulkan bahwa persamaan-persamaan yang digunakan untuk mencari ketinggian dan kecepatan benda pada track melingkar vertikal sudah sesuai, karena kecepatan yang didapat dari hasil perhitungan mendukung hasil dari alat peraga. The purpose of this study is to determine the height and minimum speed of the object on the vertical circular track so that objects do not fall, as happened in the Roller Coaster movement. This study uses simple props made as closely as possible with the Roller Coaster track to make the simulation of motion taking place. The motion of objects that occur is analyzed using the tracker software and using manual calculations using equations that apply to the motion of objects that occur. The data obtained from the results of manual calculations found that for objects to cross the track without falling, the minimum speed of the object to be achieved is 1.21 m/s and the minimum height of the object according to the results of manual calculations is 2.5 times of the radius of circular trajectory (2.5R), for this case because the radius of the circular path is 15 cm / 0.15 m then the minimum height is 37.5 cm or 0.375 m. Based on experimental results using props, the height of the object in order not to fall from the track is 50 cm and analysis using the tracker software found that the velocity of objects when moving on the track is 2.26 m/s and also the result of manual calculation of the velocity of the object at that time is 2.31 m/s. From the result of both calculations can be concluded that the equations used to find the height and velocity of the object on the vertical circular track are appropriate, since the...
Lestari Widodo, Lia Yuliati, Parno Parno
Jurnal Riset dan Kajian Pendidikan Fisika, Volume 5, pp 30-33; doi:10.12928/jrkpf.v5i1.9379

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan scientific literacy siswa sebelum dan setelah pembelajaran STEM berbasis masalah pada materi fluida statis. Metode penelitian ini adalah metode dekriptif pada salah satu kelas di SMAN 8 Muaro Jambi. Subjek penelitian ini terdiri atas 27 siswa yang meliputi 19 perempuan dan 8 laki-laki. Scientific literacy siswa diukur menggunakan 5 butir soal essai. Soal tersebut telah valid dan memiliki reliabilitas yang tinggi. Hasil analisis n-gain menunjukkan bahwa terdapat peningkatan. N-gain rata-rata masing-masing soal menunjukkan n-gain soal nomor 1 sebesar 0,23 (rendah), soal nomor 2 sebesar 0,46 (sedang), soal nomor 3 sebesar 0,25 (rendah), soal nomor 4 sebesar 0,156 (rendah), dan soal nomor 5 sebesar 0,625 (tinggi). Berdasarkan jawaban post-test siswa diperoleh kriteria scientific literacy siswa . Kriteria tersebut berdasarkan kriteria PISA 2015. The purpose of this study was to describe the students' scientific literacy before and after STEM based on problem learning on static fluid. The method of this study was the descriptive method in one of class in SMAN 8 Muaro Jambi. The subjects were 27 students who consisted of 19 females and 8 males. The students' scientific literacy was measured by 5 essay questions. The instrument was valid and had the high reliability. The analyzed results of n-gain show that there is an improvement. The average of n-gain for each question shows that the n-gain of the numbers show 0,23 (low) in number 1, 0.46 (medium) in number 2, 0,25 (low) in number 3, 0,156 (low) in number 4 and 0,625 (medium) in number 5. Based on the students' post-test it gains the students' scientific literacy criteria. It's based on PISA 2015.
Widya Septyaning Virani, Supeno Supeno, B Supriadi
Jurnal Riset dan Kajian Pendidikan Fisika, Volume 5, pp 22-29; doi:10.12928/jrkpf.v5i1.9211

Abstract:
Kajian fisika real life bermanfaat dalam pembelajaran fisika karena menyediakan sumber belajar kontekstual yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Untuk memperkaya sumber-sumber belajar kontekstual maka perlu dilakukan kajian terhadap berbagai fenomena kontekstual, salah satunya adalah kajian kinematika peristiwa kecelakaan yang terjadi di daerah blackspot. Peristiwa kecelakaan merupakan peristiwa kontekstual yang dekat dengan kehidupan sehari-hari dan dapat dikaji secara kinematika gerak. Untuk itu perlu dilakukan kajian kinematika gerak tentang peristiwa kecelakaan sehingga dapat digunakan untuk memperkaya rancangan sumber belajar kontekstual. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif analitis. Penelitian diawali dengan pengumpulan data sekunder tentang kronologi kejadian kecelakaan yang ada di kepolisian dan beberapa surat kabar. Penelitian dilanjutkan dengan pengumpulan data di lapangan, yaitu data bentuk lintasan, jenis kendaraan yang lewat, dan kecepatan kendaraan yang melewati daerah blackspot. Data-data tersebut kemudian dianalisis menurut kajian kinematika gerak. Hasil kajian peristiwa kontekstual berupa kronologi kecelakaan dan besaran-besaran dinamis serta simulasi agar kecelakaan dapat dihindari. Hasil kajian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan acuan utama untuk mengembangkan sumber belajar kontekstual dan memberikan contoh nyata dalam pembelajaran fisika karena siswa dapat dengan mudah menaksirkan kejadian kontekstual tersebut. Contextual physics studies are useful in physics learning. It provides a source of contextual learning that is close to everyday life. To enrich the sources of contextual learning, it is necessary to study the various contextual phenomena, one of which is the kinematics study of accidents that occurred in the police office and newspaper. An accident is contextual events that are close to everyday life and can be studied in kinematic motion. Therefore, it is necessary to study the kinematics of motion about accidents so that it can be used to enrich the concept of contextual learning resources. The research method used descriptive analytical. The research begins with the completion of secondary data about the chronology of accidents in the police and several newspapers. Further research with field data, i.e trajectory data, passing vehicle type, and vehicle speed passing through blackspot area. The data are then analyzed according to motion kinematics studies. Review results are the contextual event, the chronology of accidents, dynamic quantities, and simulations for accidents. The results of this study are expected to serve as the main reference material for the development of contextual learning resources and provide a real example in physics learning because it can estimate the contextual events.
H Kunlestiowati
Jurnal Riset dan Kajian Pendidikan Fisika, Volume 5, pp 34-39; doi:10.12928/jrkpf.v5i1.9210

Abstract:
Perubahan bentuk energi listrik menjadi kalor dikenal dengan Hukum Joule, yang menyatakan bahwa energi listrik dapat diubah menjadi energi panas. Penelitian ini bertujuan untuk mencari penyimpangan kalor yang dihasilkan dari energi listrik menggunakan perangkat eksperimen Hukum Joule. Pada penelitian ini air dipanaskan dalam kalorimeter, dengan arus, tegangan listrik dan waktu pemanasan dan pendinginan dibuat tetap. Hasil pengamatan menggunakan alat Joule meter menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara energi panas pada air 100 gram dengan nilai rata-rata energi panas 2736,72 J dan air 150 gram dengan nilai rata-rata energi panas 2651,04 J. Grafik antara energi panas terhadap energi listrik menunjukkan perbedaan gradien pada suhu 23,5 oC yaitu 0,91 untuk air 100 gram dan 0,99 untuk air 150 gram, sedangkan pada suhu 25,5 oC untuk air 100 gram dan 150 gram gradiennya adalah 0,99 dan 0,64. Hasil tersebut menunjukkan penyimpangan konversi energi listrik menjadi kalor pada perangkat eksperimen hukum Joule. The transformation of electrical energy into heat energy is known as Joule's Law, which states that electrical energy can be converted into heat energy. This study aims to find the distortion of heat generated by electrical energy using the Joule Law experiment device. In this study, water is heated in the calorimeter, with constant current, electric voltage and heating and cooling times. The result of observation using Joule meter shows significant difference between heat energy in 100 grams water with the average value of heat energy 2736.72 J and 150 grams water with the average value of heat energy 2651.04 J. The graph of heat energy towards electrical energy shows gradient difference at temperature 23.5 oC that is 0,91 for 100 grams water and 0,99 for 150 grams water, while at temperature 25.5 oC for 100 grams and 150 grams water the gradient are 0.99 and 0.64. The result of this study shows the deviation of the conversion of electrical energy into heat in the Joule law experiment device.
Yudi Kurniawan
Jurnal Riset dan Kajian Pendidikan Fisika, Volume 5, pp 17-21; doi:10.12928/jrkpf.v5i1.8625

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran bentuk miskonsepsi dan seberapa tinggi miskonsepsi yang dimiliki oleh siswa kelas IX SMP Negeri di Pandeglang, Banten. Sampel yang dilibatkan dipilih secara purposive sampling dengan memilih responden yang telah mempelajari materi Hukum III Newton. Data penelitian yang diperoleh dianalisis secara deskriptif dan diolah untuk dikategorikan berdasarkan interval miskonsepsi. Instrumen yang dipakai dalam pengambilan data berupa tes diagnostik bertingkat tiga (three tier-tests) dan lembar konsepsi Hukum III Newton. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh responden mengalami miskonsepsi pada materi Hukum III Newton dengan rerata persentase 67.5 % (kategori sedang). Data ini menunjukkan bahwa lebih dari separuh siswa pada sekolah sampel di Kab. Pandeglang mengalami miskonsepsi pada Hukum III Newton. Diharapkan data ini menjadi dasar untuk peneliti selanjutnya agar mengatasi miskonsepsi serta menggali miskonsepsi Hukum I Newton maupun Hukum II Newton. This research aim is to give a clear description of misconception and the level of misconception on Newton Third Laws that was held by students (9th grade) in public junior high school in Pandeglang, Banten. The sample involved was chosen by purposive sampling from the student who has learned the Newton's Third Laws. Data was analyzed to be categorized based on the misconception interval descriptively. Instruments that used in this study was a three-tier data (three tier-tests) and the conception sheet. The results showed that all of the 9th-grade students (as the respondent in that school) were have the misconception of Newton's Third Laws (percentage of 67.5%; medium category). It is suggested to the next researchers to overcome these misconceptions or finding the other form of misconceptions from Newton's 2nd Laws and Newton's 1st Laws.
Lia Adini, Okimustava Okimustava
Jurnal Riset dan Kajian Pendidikan Fisika, Volume 4, pp 78-82; doi:10.12928/jrkpf.v4i2.8165

Abstract:
Pengukuran koefisien viskositas zat cair menggunakan hukum Hagen-Poiseuille dengan metode Microcomputer Based Laboratory telah dilakukan. Viskositas merupakan ukuran penolakan fluida terhadap perubahan bentuk di bawah tekanan shear. Hukum Hagen-Poiseuille digunakan dalam penelitian ini karena zat cair yang digunakan merupakan zat cair Newtonian. Tangki viskometer kapiler yang dikaitkan ke sensor gaya diisi zat cair untuk kemudian dialirkan keluar melalui pipa kapiler dengan panjang (9,8±0,09)×10-2 m dan diameter dalam (2,1620±0,0096) ×10-3 m. Data penurunan massa zat cair direkam menggunakan sensor gaya buatan Vernier Tecnology dan analisis fitting data menggunakan software Logger Pro. Nilai karakteristik waktu diperoleh dari hasil fitting data digunakan untuk perhitungan koefisien viskositas zat cair menggunakan hukum Hagen-Poiseuille. Dari percobaan ini diperoleh nilai koefisien viskositas air sebesar (1,063±0,113) mPa.s yang sesuai dengan nilai acuan teori yaitu 1,002 mPa.s, oli SAE 10W-30 sebesar (79,01±8,90) Pa.s sesuai dengan nilai acuan teori 76,8 Pa.s, dan gliserin sebesar (593,4±56,7) mPa.s sesuai dengan nilai acuan teori 612 mPa.s.Measurement of liquid viscosity coefficient using Hagen-Poiseuille law with Microcomputer-Based Laboratory method has been done. Viscosity is the fluid declination measure of form changes under sheer pressure. Hagen-Poiseuille law is used in this study because the liquid used is a Newtonian liquid. Capillary viscometer tanks attached to force sensors are filled with liquid to be streamed out through capillary tubes of length (9.8 ± 0.09) × 10-2 m and the inner diameter (2.1620 ± 0.0096) × 10-3 m. Data on the mass degradation of liquids was recorded using a Vernier Technology force sensor while the data fitting analysis using Logger Pro software. The time characteristic values which obtained from the data fittings are used in the calculation of the liquid viscosity coefficient using Hagen-Poiseuille law. From this experiment, the obtained water viscosity coefficient value is (1.063 ± 0.113) mPa.s corresponds to the reference value of the theory is 1.002 mPa.s, the SAE oil 10W-30 is (79.01 ± 8.90) Pa.s corresponds to the reference value of the theory 76.8 Pa.s, and glycerin is (593.4 ± 56.7) mPa.s corresponds to the reference value of the theory 612 mPa.s.
Khusaini Khusaini
Jurnal Riset dan Kajian Pendidikan Fisika, Volume 4, pp 66-70; doi:10.12928/jrkpf.v4i2.7297

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran mengenai kemampuan mahasiswa calon guru fisika dalam menggunakan Peta konsep dalam perkuliahan Statistik untuk Pendidikan. Statsitik dikenal sebagai salah satu perkuliahan yang menantang bagi calon guru Fisika di FMIPA Universitas Negeri Malang. Berbagai variasi perkuliahan dilakukan untuk memberikan dampak yang positif untuk meningkatkan hasil belajar mahasiswa. Peta konsep diterapkan untuk memberikan gambaran dan kaitan yang lebih kuat antara konsep statistik yang harus dikuasai calon guru Fisika dalam melakukan kegiatan penelitian. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis konten. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa calon guru Fisika semester tiga yang mengambil matakuliah stastik untuk pendidikan cenderung menggunakan peta konsep bentuk jaring (net) meskipun didominasi dengan banyak kalimat serta sedikit kata kunci yang digunakan. Pendekatan kuantitatif deskriptif sebaiknya dilakukan pada penelitian berikutnya untuk memberikan perbandingan yang lebih baik dan lebih mendalam mengenai penggunaan peta konsep pada calon guru Fisika. The study aims to provide a qualitative description regarding students’ ability in applying concept map during Statistics for Education classroom. Statistics is known as a challenging subject for pre-service Physics teachers in FMIPA UM. Various lecturing methods have been applied to enhance students’ performance. The concept map applied to describe and integrate the Statistics concepts in Physics education research. The study employed a content analysis in a qualitative approach. The findings indicate that the pre-service Physics teacher within the third semester taking Statistics for Education tend to use concept map on the net pattern although it was dominated by words and few keywords. A quantitative approach should be conducted to provide a better comparison regarding the application of concept map by pre-service Physics teachers.
Kurnia Risca Maulinda, Ishafit Ishafit
Jurnal Riset dan Kajian Pendidikan Fisika, Volume 4, pp 90-94; doi:10.12928/jrkpf.v4i2.8167

Abstract:
Rangkaian RLC seri merupakan salah satu topik penting pada materi pelajaran listrik arus bolak-balik. Dalam topik ini terdapat fenomena resonansi rangkaian RLC, yang secara eksperimental memerlukan perangkat eksperimen cukup kompleks, sehingga tidak mudah untuk divisualisasikan fenomenanya dalam proses pembelajaran. Pada penelitian ini telah dikembangkan laboratorium virtual rangkaian RLC seri berbasis LabVIEW yang dapat digunakan untuk kegiatan eksperimen simulasi dalam mempelajari fenomena resonanasi rangkaian listrik. Menggunakan prosedur penelitian dan pengembangan, laboratorium virtual rangkaian RLC seri telah diujicobakan dan divalidasi. Hasil validasi masuk dalam kategori sangkat baik, sehingga laboratorium virtual RLC seri layak untuk digunakan dalam pembelajaran fisika SMA.Series RLC circuit is one of the important topics on the subject of the AC electric current. In this topic, there is a resonance phenomenon of RLC circuit, which experimentally requires a fairly complex experimental device, so it is not easy to visualize the phenomenon in the learning process. In this research has been developed a virtual laboratory series RLC circuit based on LabVIEW which can be used for simulation experiment in studying the phenomenon of resonance of electrical circuit. Using research and development procedures, the virtual laboratory series RLC circuit has been tested and validated. The validation results fall into very good categories, so the RLC virtual laboratory is feasible for use in high school physics learning.
Ahmad Khoiri, Udmatun Nasihah, Muhammad Syahrul Kahar
Jurnal Riset dan Kajian Pendidikan Fisika, Volume 4, pp 83-89; doi:10.12928/jrkpf.v4i2.8166

Abstract:
Tujuan penelitian ini: (1) Mengetahui pengaruh pendekatan SETS dan konvensional terhadap prestasi belajar, (2) Perbedaan pengaruh motivasi berprestasi tinggi dan motivasi berprestasi rendah terhadap prestasi belajar, (3) Interaksi antara pendekatan SETS dan konvensional terhadap prestasi belajar. Desain penelitian adalah factorial, Sampel diambil secara Proporsional stratified random sampling di SMPN 4 Sapuran. Adapun hasil Penelitian berdasarkan teknik uji hipotesis 1 (FA = 6.196>Ftab = 3,970 pada taraf signifikasi 5%) artinya, ada perbedaan pengaruh antara siswa yang diberi pembelajaran dengan pendekatan SETS dan pembelajaran konvensional. Hipotesis 2, dari perhitungan didapatkan hasil bahwa (FB 11,221>Ftab = 3,970 pada taraf signifikasi 5%), maka HoB ditolak, ada pengaruh penggunaan pendekatan SETS dan pembelajaran konvensional terhadap prestasi belajar. Hipotesis 3 didapatkan FAB = 0, 071< Ftab= 3,970, maka Ho diterima, sehingga tidak ada interaksi antara pendekatan pembelajaran dan motivasi berprestasi siswa terhadap prestasi belajar siswa. Hal ini berarti penggunaan SETS dapat meningkatkan pola pikir anak menjadi lebih berkembang dan pembelajaran lebih menyenangkan.The objectives of this research are: (1) To know the effect of SETS and conventional approach to learning achievement, (2) the difference of high achievement motivation and low achievement motivation toward learning achievement, (3) the interaction between SETS and conventional approach to learning achievement. The research design is factorial, Sample was taken proportional stratified random sampling in SMPN 4 Sapuran. The results of the study based on hypothesis 1 test technique (FA = 6.196> Ftab = 3.970 at 5% significance level) means that there is a difference of influence between students who are given learning with SETS approach and conventional learning. Hypothesis 2, from the calculation of the results, obtained that (FB 11,221> Ftab = 3.970 at 5% significance level), then HoB rejected, there is the influence of SETS approach and conventional learning to learning achievement. Hypothesis 3 obtained FAB = 0, 071
Dasmo Dasmo, Irnin Agustina Dwi Astuti, Nurullaeli Nurullaeli
Jurnal Riset dan Kajian Pendidikan Fisika, Volume 4, pp 71-77; doi:10.12928/jrkpf.v4i2.7363

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan media pembelajaran pocket mobile learning berbasis android. Metode penelitian ini menggunakan model pengembangan ADDIE (Analysis, Design, Development, Implementation, dan Evaluation). Penelitian ini telah menghasilkan sebuah luaran berupa media pembelajaran pocket mobile learning berbasis android pada mata kuliah fisika. Media ini layak digunakan berdasarkan validasi dari ahli materi, ahli media dan respon mahasiswa terhadap media pembelajaran yang dibuat. Berdasarkan penilaian validasi ahli materi didapatkan rata-rata skor total sebesar 3,22 pada 14 butir pernyataan, dan termasuk pada kriteria “baik”. Sementara itu, berdasarkan validasi ahli media didapatkan rata-rata skor total sebesar 3,43 pada 15 butir pernyataan, dan termasuk pada kriteria “sangat baik”. Dan berdasarkan hasil analisis respon mahasiswa terhadap media pembelajaran diperoleh rata-rata skor total sebesar 4,0 atau 80%, dengan kategori “kuat”. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran pocket mobile learning berbasis android layak untuk digunakan dan hampir semua mahasiswa menanggapi respon positif.The current research aims to develop the pocket mobile learning android based. It uses the Research and Development (R&D) method with the ADDIE model (analysis, design, development, implementation, and evaluating). This research has resulted from an outcome of learning media pocket mobile android based on physics subject. This instructional media is feasible to be used based on validation from material experts, media experts, and student responses. Based on the assessment of material expert, the validation obtains an average total score of 3,22 at 14 statements and considered as "good" criteria. Meanwhile, based on the validation of media experts, the average total score reaches 3,43 at 15 statements and considered as "very good" criteria. And based on the analysis of students’ response to learning media, the average total score is 4.0 or 80% with the category "strong". Thus, it can be concluded that the mobile pocket on android based is suitable for use and almost all students give a positive response.
M. Yasin Kholifudin
Jurnal Riset dan Kajian Pendidikan Fisika, Volume 4, pp 54-59; doi:10.12928/jrkpf.v4i2.8163

Abstract:
Pada materi azaz black sebagian besar peserta didik masih mengalami kesulitan dalam menguasai materi azaz black. Untuk memudahkan peserta didik dalam menguasai materi azaz black penulis menerapkan metode grafik hubungan Kalor [Q kal] dan suhu [t0C] pada proses pembelajaran. Sintak pembelajarannya; 1) peserta didik, mengacu materi azaz black, 2) diskusi interaktif antara peserta didik dan peserta didik dengan guru, 3) guru menyampaikan penjelasan bagaimana menyelesaian problematika azaz black dengan metode grafik, 4) peserta didik menerapkan metode grafik dalam menyelesaikan problematika azaz black. Metode tersebut diterapkan pada 36 peserta didik kelas X IPA 1 SMA Negeri 2 Kebumen. Dari proses pembelajaran diperoleh simpulan bahwa kerangka berpikir, penalaran peserta didik secara terstuktur terbangun dengan baik, sehingga mudah untuk memahami dan menguasai materi azaz black dengan indikator peserta didik dapat mengerjakan problematika azaz back dengan benar. Most of the students still have difficulty to understand the Black’s Principle teaching material. Authors apply the graph method of the relationship of Heat [Q kal] and Temperature [t oC] on the learning process to facilitate learners in mastering this material. The learning syntax includes; 1) learners, referring to Black’s Principle material, 2) interactive discussion between learners and learners with the teacher, 3) teacher explains how to solve Black’s Principle problems with the graphical method, 4) learners apply a graphical method in solving Black’s Principle problems. The method is applied to 36 students of X IPA 1 class of SMA Negeri 2 Kebumen. From the learning process can be concluded that the frame of thinking, the student’s structured reasoning is building up well, easy to understand and master the Black’s Principle material with indicators learners can solve the Black’s Principle problems correctly.
Sutopo Sutopo, Parno Parno, Siprianus L Angin
Jurnal Riset dan Kajian Pendidikan Fisika, Volume 4, pp 48-53; doi:10.12928/jrkpf.v4i2.6551

Abstract:
Kesulitan pemahaman konsep terkait percepatan dalam kinematika hingga kini masih dialami mahasiswa. Artikel ini membahas kesulitan umum yang dialami mahasiswa dalam memecahkan masalah konseptual terkait konsep percepatan dalam kinematika. Subyek penelitian terdiri atas 35 mahasiswa tahun pertama program studi pendidikan fisika yang mengikuti perkuliahan Fisika Dasar I tahun akademik 2016/2017. Analisis dilakukan berdasarkan jawaban mahasiswa terhadap soal pilihan ganda beserta alasannya. Penelitian menyimpulkan bahwa konsep percepatan berbagai representasi masih terindikasi miskonsepsi. Disarankan untuk dilakukan penelitian lanjutan untuk mengeksplorasi lebih dalam dan lebih autentik penyebab miskonsepsi tersebut, misalnya memberikan lebih banyak soal-soal latihan dan wawancara mendalam. The difficulties of understanding concept related to acceleration in kinematics until now still experienced by students. This article discusses the general difficulties experienced by students in solving conceptual problems related to the concept of acceleration in kinematics. The subjects of the study consisted of 35 first year students of the physics education program that followed the Basic Physics I academic year 2016/2017. The analysis is based on student answers to multiple choice questions and reasons. The study concluded that the concept of acceleration of various representations is still indicated misconception. It is advisable to do further research to explore deeper and more authentic causes of these misconceptions, for example giving more practice questions and in-depth interviews. Kata kunci: pemahaman konsep, percepatan
Riswanto Riswanto, Novi Ayu Kristiana Dewi
Jurnal Riset dan Kajian Pendidikan Fisika, Volume 4, pp 60-65; doi:10.12928/jrkpf.v4i2.8164

Abstract:
Penelitian ini dilaksanakan di SMP N 1 Pekalongan, Lampung Timur. Berdasarkan hasil observasi siswa di kelasVIII dan wawancara dengan kepala Laboratorium IPA fisika diperoleh gambaran bahwa laboratorium disana memiliki alat-alat laboratorium yang cukup memadai namun belum dimanfaatkan secara maksimal. Upaya penyelesaiannya diterapkan pembelajaran berbasis laboratorium, yaitu suatu konsep pembelajaran yang memadukan antara kegiatan praktik dan pembelajaran teori di laboratorium. Tujuannya yaitu untuk mendorong siswa agar selalu aktif dan kreatif dalam menghasilkan keterampilan proses sains yang dimilikinya melalui kegiatan praktikum secara berkelanjutan. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VIII.5 yang terdiri dari 28 siswa. Penelitian ini merupakan penelitian Tindakan Kelas yang berlangsung selama 2 siklus, setiap siklusnya terdiri dari 3 kali pertemuan. Untuk keakuratan data yang diperoleh peneliti dibantu oleh 4 orang observer dalam mengamati keterampilan proses sains siswa dan karakter keaktifan siswa. Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh sebanyak 85,71% siswa telah memiliki keterampilan proses sains dengan skor ≥71dan sebanyak 67,86% siswa telah menunjukan karakter keaktifan dengan skor ≥72. Dari hasil ini disimpulkan bahwa pembelajaran berbasis laboratorium mampu meningkatkan keterampilan proses sains serta mampu medorong terwujudnya karakter keaktifan siswa dalam bentuk karakter tanggung jawab menyusun laporan, merapikan alat, dan kerjasama antar kelompok. Saran dari peneliti, hendaknya dalam penerapan pembelajaran berbasis laboratorium guru selalu membimbing, memberikan perhatian dan mengontrol kinerja tiap kelompok praktikum.This research was conducted at SMP N 1 Pekalongan, Lampung Timur. Based on the observations of students in class VIII and interviews with the head of Physics Laboratory of science got the picture that the laboratory there has enough laboratory equipment but not yet fully utilized. So as an effort to solve it applied laboratory-based learning, which is a learning concept that combines practical activities and theory learning in the laboratory. The goal is to encourage students to always be active and creative in fostering the science process skills they have through practicum activities in a sustainable manner. The subject of this research is the students of class VIII.5 consisting of 28 students. This research is a study of Action Act which lasted for 2 cycles, each cycle consists of 3 times meeting. For the accuracy of data obtained by researchers assisted by 4 observers in observing the skills of students' science processes and student activeness. Based on the results of research, obtained as much as 85.71% of students have had the science process skills with a score of ≥71 and as many as 67.86% of students have shown the character of liveliness with a score of ≥72. From this result, it is concluded that laboratory-based learning can improve the science process skills as well as able to encourage...
Page of 3
Articles per Page
by
Show export options
  Select all
Back to Top Top