Refine Search

New Search

Results in Journal Mediapsi: 84

(searched for: journal_id:(234751))
Page of 2
Articles per Page
by
Show export options
  Select all
Ali Mashuri, Jurusan Psikologi Universitas Brawijaya Malang Indonesia
Published: 7 December 2020
Mediapsi, Volume 6, pp 81-85; doi:10.21776/ub.mps.2020.006.02.1

Rahmat Aziz, Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang Indonesia, Nur Ahmad Hardoyo Sidik, Trimansyah Trimansyah, Nur Khasanah, Nurul Mahruzah Yulia
Published: 7 December 2020
Mediapsi, Volume 6, pp 94-101; doi:10.21776/ub.mps.2020.006.02.3

Setiana Tyas Habsari, Program Studi Psikologi Universitas Sebelas Maret Surakarta Indonesia, Munawir Yusuf, Mahardika Supratiwi
Published: 7 December 2020
Mediapsi, Volume 6, pp 102-109; doi:10.21776/ub.mps.2020.006.02.4

Indra Nugraha, Jurusan Psikologi Universitas Pendidikan Indonesia, Sri Maslihah, Ifa Hanifah Misbach
Published: 7 December 2020
Mediapsi, Volume 6, pp 119-131; doi:10.21776/ub.mps.2020.006.02.6

Clement Eko Prasetio, Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran Indonesia, Esther Gustara Nadine Sirait, Aulia Hanafitri
Published: 7 December 2020
Mediapsi, Volume 6, pp 132-144; doi:10.21776/ub.mps.2020.006.02.7

Mediapsi Mediapsi, Jurusan Psikologi Universitas Brawijaya Malang Indonesia
Published: 7 December 2020
Mediapsi, Volume 6; doi:10.21776/ub.mps.2020.006.02.9

Yemima Carolina Kurnia, Jurusan Psikologi Universitas Brawijaya Malang Indonesia, Sumi Lestari
Published: 7 December 2020
Mediapsi, Volume 6, pp 86-93; doi:10.21776/ub.mps.2020.006.02.2

Alexandra Arvia, Fakultas Psikologi Universitas Surabaya Indonesia, Ida Ayu Made Adhi Purnami
Published: 7 December 2020
Mediapsi, Volume 6, pp 110-118; doi:10.21776/ub.mps.2020.006.02.5

Gusvira Noerwendayah Sudiana, Departemen Psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia, Helli Ihsan, Gemala Nurendah
Published: 7 December 2020
Mediapsi, Volume 6, pp 145-156; doi:10.21776/ub.mps.2020.006.02.8

Mediapsi Mediapsi, Jurusan Psikologi Universitas Brawijaya Malang Indonesia
Published: 7 December 2020
Mediapsi, Volume 6, pp 157-158; doi:10.21776/ub.mps.2020.006.02.10

, Universitas Pendidikan Indonesia Jurusan Psikologi, M.I.F. Baihaqi, Engkos Kosasih
Published: 12 June 2020
Mediapsi, Volume 6, pp 60-70; doi:10.21776/ub.mps.2020.006.01.7

Abstract:
This study aim ed to examine the mediating role of the perception s of social support on the relationship between self-disclosure and subjective well-being of Inst a gram users in Bandung. Participants were 466 late teenagers ranging from 18 to 21 years old. The research was conducted by utilizing Instagram, a social media platform, in Bandung City. The data were analysed quantitatively and demonstrated that : 1) s elf-disclosure had a significant influence towards respondents’ subjective well-being , 2) s elf-disclosure had a significant influence towards per ceived social support , 3) p er ceived social support had a significant influence towards respondents’ subjective well-being , 4) per ceived social support significantly mediated the relationship between self-disclosure and subjective well-being. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran persepsi dukungan sosial sebagai mediator hubungan antara pengungkapan diri dan kesejahteraan subjektif pada pengguna Inst a gram di Kota Bandung. Subjek penelitian terdiri dari 466 remaja akhir yang berusia 18 hingga 21 tahun yang menggunakan media sosial Instagram di Kota Bandung. Data dalam penelitian ini dianalisis secara kuantitatif dan menunjukkan bahwa: 1) pengungkapan diri berpengaruh secara signifikan terhadap kesejahteraan subjektif, 2) pengungkapan diri berpengaruh secara signifikan terhadap persepsi dukungan sosial, 3) persepsi dukungan sosial berpengaruh secara signifikan terhadap kesejahteraan subjektif, 4) persepsi dukungan sosial secara signifikan menjadi variabel mediator bagi peran pengungkapan diri terhadap kesejahteraan subjektif.
Ridha Afrianti, Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang
Published: 12 June 2020
Mediapsi, Volume 6, pp 37-47; doi:10.21776/ub.mps.2020.006.01.5

Abstract:
Adolescents’ tendency of self-harming continue s to increase both quantitatively and qualitatively . Self-harming denotes one of the self-defence strategies to reduce psychological pain, in an attempt of individuals to regain homeostatic emotion. One f actor that causes self-harming is the lack of effective communication between adolescents and their parents. Parents themselves oftentimes use various communication patterns, be they co nsensual, pluralistic, protective, or laissez-faire. The purpose of this study was to examine the impact of such differences in parental communication patterns on self- harming intention s among adolescents. Participants were 103 adolescents drew from an accidental sampling technique. The results showed that parental communication patterns significantly affected adolescents’ self-harming intensions . Kecenderungan remaja melukai diri terus meningkat baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Perilaku melukai diri merupakan salah satu bentuk strategi perlindungan diri untuk membantu mengurangi rasa sakit psikologis, sebagai upaya individu untuk mendapatkan kembali keseimbangan emosional. Salah satu faktor yang menyebabkan perilaku melukai diri adalah kurang efektifnya komunikasi antara remaja dan orang tua mereka. Orang tua biasanya menerapkan pola komunikasi yang berbeda-beda, mulai dari pola komunikasi yang bersifat konsensual, pluralistik, protektif ataupun laissez - faire . Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji pengaruh pola komunikasi orang tua yang berbeda-beda tersebut terhadap intensi melukai diri pada remaja. Partisipan adalah 103 remaja yang diperoleh atas dasar sampling aksidental. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan pola komunikasi orang tua berpengaruh secara signifikan terhadap intensi melukai diri pada remaja.
Udi Rosida Hijrianti, Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang, Andi Muthiah Fitriani
Published: 12 June 2020
Mediapsi, Volume 6, pp 48-59; doi:10.21776/ub.mps.2020.006.01.6

Abstract:
Consumptive behaviour is an excessive buying behaviour that is particularly based more on mere desires rather than needs. Consumptive behaviour can be influenced by self-esteem and conformity . This study aimed to determine the mediating role of conformity on the relationship between self-esteem and consumptive behaviour. Participants were 344 students from 10 faculties of the Muhammadiyah University of Malang . The data were analysed using a mediation model . The results showed as hypothesised that the negative relationship between self-esteem and consumptive behaviour was significantly mediated by conformity . Perilaku konsumtif merupakan perilaku membeli yang berlebihan yang didasarkan teruatam pada keinginan semata dan bukannya berdasarkan pada kebutuhan. Perilaku konsumtif dapat dipengaruhi oleh faktor harga diri dan konformitas. Penelitian bertujuan untuk menguji peran konformitas dalam memediasi hubungan antara harga diri dan perilaku konsumtif. Subjek penelitian adalah 344 mahasiswa dari 10 fakultas di Universitas Muhammadiyah Malang. Data hasil penelitian dianalisis menggunakan model mediasi. Hasil penelitian menunjukkan, sesuai dengan hipotesis yang diajukan, bahwa hubungan negatif antara harga diri dan perilaku konsumtif secara signifikan dimediasi oleh konformitas.
, Department of Psychology Universitas Brawijaya
Published: 12 June 2020
Mediapsi, Volume 6; doi:10.21776/ub.mps.2020.006.01.9

Agnes Maria Sumargi, Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya Fakultas Psikologi, Eli Prasetyo, Maria Angela Andriono
Published: 12 June 2020
Mediapsi, Volume 6, pp 4-16; doi:10.21776/ub.mps.2020.006.01.2

Abstract:
As working mothers increase, more children are taken care of by their grandparents. At present, only a few studies have investigated the impact of grandparenting on young children’s misbehaviours. To fill this void, in this research we aimed to test the effect of maternal parenting and grandparenting on children’s misbehaviours. We also investigated the effect of family adjustment (i.e., stress, family relationships, caregivers’ teamwork) on maternal parenting and grandparenting. Participants were 188 pairs of caregivers (mothers and grandparents) who had 2-6 years old children. Results showed that mothers’ authoritarian parenting and grandparents’ permissive parenting significantly contributed to children’s misbehaviours. Maternal stress and family relationships were significant predictors of mothers’ authoritarian parenting, whereas grandparental stress was a significant predictor of grandparents’ permissive parenting. Dengan semakin meningkatnya jumlah ibu yang bekerja, semakin banyak anak diasuh oleh nenek-kakeknya. Saat ini belum banyak penelitian yang mengungkap dampak pengasuhan nenek-kakek terhadap perilaku bermasalah anak usia dini. Untuk menutupi kekurangan ini, penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh pengasuhan ibu dan nenek-kakek terhadap perilaku bermasalah anak. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk menguji sejauh mana faktor-faktor penyesuaian keluarga (yaitu: stres, relasi keluarga, kerjasama antar pengasuh) mempengaruhi pengasuhan ibu dan nenek-kakek. Partisipan penelitian adalah 188 pasang pengasuh (ibu dan nenek-kakek) yang memiliki anak atau cucu berusia 2-6 tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengasuhan otoriter ibu dan pengasuhan permisif nenek-kakek memberikan sumbangan yang signifikan bagi masalah perilaku anak. Stres ibu dan relasi keluarga menentukan munculnya pengasuhan otoriter ibu. Pada nenek-kakek, stres menjadi prediktor utama bagi pengasuhan permisif.
Mediapsi Mediapsi, Department of Psychology Universitas Brawijaya
Published: 12 June 2020
Mediapsi, Volume 6, pp 79-80; doi:10.21776/ub.mps.2020.006.01.10

, Fakultas Pendidikan Psikologi Universitas Negeri Malang, Endang Prastuti
Published: 12 June 2020
Mediapsi, Volume 6, pp 71-78; doi:10.21776/ub.mps.2020.006.01.8

Abstract:
College students face various challenges, strains and failures, which could prevent them from achieving a higher state of flourishing. The purpose of this study was two-fold. The first was to describe students’ self-compassion and flourishing, whereas the second was to examine the correlation between self-compassion and flourishing among a sample of students from the State University of Malang. The sample consisted of 160 students from eight faculties who were selected through cluster sampling. Self-compassion and flourishing were both self-developed by the authors. The main finding demonstrated that in line with the hypothesis, high levels of self-compassion are associated with high levels of flourishing. Mahasiswa dihadapkan pada berbagai tantangan, tekanan dan kegagalan yang dapat menghalangi mereka untuk mencapai flourishing yang lebih tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran self-compassion dan flourishing , serta hubungan antara self-compassion dan flourishing pada mahasiswa Universitas Negeri Malang. Sampel dalam penelitian ini terdiri dari 160 mahasiswa dari 8 fakultas yang dipilih dengan menggunakan teknik cluster sampling . Pengumpulan data dengan menggunakan skala self-compassion dan skala flourishing yang dikembangkan oleh penulis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, sesuai dengan hipotesis yang ditetapkan, tingginya self-compassion berasosiasi dengan tingginya flourishing pada mahasiswa.
Ali Mashuri, Department of Psychology Universitas Brawijaya
Published: 12 June 2020
Mediapsi, Volume 6, pp 1-3; doi:10.21776/ub.mps.2020.006.01.1

Abstract:
Pengantar Editor-in-Chief Mediapsi Volume 6 Nomor 1 Tahun 2020
Kokoh Dwi Putera, Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang, Muhammad Salis Yuniardi, Alifah Nabilah Masturah
Published: 12 June 2020
Mediapsi, Volume 6, pp 17-25; doi:10.21776/ub.mps.2020.006.01.3

Abstract:
Adolescence is a period characterised by teenagers’ feelings that problems in life are much more complicated than the periods that come before (childhood) or after it (adulthood). This is the case particularly because adolescence lasts quickly and many changes occur during the period. One of the prevalent disorders commonly experienced by adolescents is generalized anxiety disorder (GAD). We assumed in the present research that fear of negative evaluation (FNE) may influence the GAD. Building upon this assumption, the goal of this research was to examine the extent to which FNE explains GAD. Participants were 475 students from 9 high schools in Malang, who were recruited based on probability or random sampling. The data were then analysed quantitatively using simple linear regression. The results showed that FNE was a significant positive predictor of GAD, implying that the high levels of FNE were related to high levels of GAD, and, vice versa, low levels of FNE were related to low levels of GAD. Masa remaja adalah masa dimana setiap problematika hidup terasa lebih berat daripada masa-masa sebelum (kanak-kanak) atau setelahnya (dewasa). Hal ini dikarenakan masa remaja berlangsung dengan cepat dan ditandai dengan banyak perubahan. Salah satu gangguan yang prevalensinya cukup tinggi yang dialami oleh remaja adalah generalized anxiety disorder (GAD). Peneliti mengasumsikan bahwa fear of negative evaluation (FNE) dapat mempengaruhi GAD tersebut. Mengacu pada asumsi ini, tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji sejauh mana FNE dapat mempengaruhi GAD. Subjek penelitian adalah 475 siswa dan siswi dari 8 SMA di Kota Malang, yang direkrut atas dasar probability sampling . Data kemudian dianalisis secara kuantitatif menggunakan regresi linear sederhana ( simple linear regression ). Hasil penelitian menunjukkan bahwa FNE menjadi prediktor positif yang signifikan dalam menjelaskan GAD. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi FNE maka akan semakin tinggi juga GAD, begitupun sebaliknya jika semakin rendah FNE maka akan semakin rendah juga GAD.
Rifa Juniartika, Fakultas Psikologi Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta, Erita Yuliasesti Diah Sari, Herlina Siwi Widiana
Published: 12 June 2020
Mediapsi, Volume 6, pp 26-36; doi:10.21776/ub.mps.2020.006.01.4

Abstract:
One of the important human resources in hospital is nurses. Nurses with high employee engagement are expected to be able to provide excellent services to patients so that they can increase public trust in hospitals as health care. When demonstrating low sense of engagement with their job in a hospital, nurses tend to be less friendly towards patients, causing complaints from patients. One effort to increase employee engagement is by providing work meaningfulness training. To this end, the purpose of this study was to examine the effectiveness of work meaningfulness training to improve employee engagement among nurses in hospitals. Participants were 16 nurses who were randomly assigned to either an experimental group or control group. The research design in this study was pretest-posttest control group design. The result showed a significant effect of work meaningfulness training on the level of employee engagement. Perawat adalah salah satu sumber daya penting dalam rumah sakit. Perawat dengan keterikatan karyawan yang tinggi diharapkan mampu memberikan pelayanan yang prima terhadap pasien sehingga dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap rumah sakit sebagai penyedia jasa layanan kesehatan. Keterikatan karyawan yang rendah pada perawat di rumah sakit menimbulkan perilaku kurang ramah perawat kepada pasien sehingga menyebabkan komplain dari pasien. Salah satu upaya untuk meningkatkan keterikatan karyawan tersebut ialah memberikan pelatihan kebermaknaan kerja. Tujuan penelitian ini ialah untuk menguji efektivitas pelatihan kebermaknaan kerja dalam meningkatkan keterikatan karyawan pada perawat di rumah sakit. Subjek dalam penelitian adalah 16 orang perawat di sebuah rumah sakit yang secara random terbagi menjadi kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Desain penelitian adalah pretest-posttest control group design . Hasil penelitian menunjukkan adanya pengaruh signifikan pelatihan kebermaknaan kerja terhadap tingkat keterikatan karyawan.
, Program Studi Psikologi Universitas Mercu Buana, Sowanya Ardi Prahara
Published: 5 December 2019
Mediapsi, Volume 5, pp 108-116; doi:10.21776/ub.mps.2019.005.02.5

Mediapsi Mediapsi, Department of Psychology Universitas Brawijaya
Published: 5 December 2019
Mediapsi, Volume 5, pp 117-118; doi:10.21776/ub.mps.2019.005.02.7

Fony Sanjaya, Fakultas Psikologi Universitas Surabaya, Listyo Yuwanto
Published: 5 December 2019
Mediapsi, Volume 5, pp 88-96; doi:10.21776/ub.mps.2019.005.02.3

, Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran, Tiffani Amalia Rahman
Published: 5 December 2019
Mediapsi, Volume 5, pp 97-107; doi:10.21776/ub.mps.2019.005.02.4

Kumala Ayu Wardani, Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang, Iswinarti Iswinarti, Diah Karmiyati
Published: 5 December 2019
Mediapsi, Volume 5, pp 74-87; doi:10.21776/ub.mps.2019.005.02.2

, Department of Psychology Universitas Brawijaya
Published: 5 December 2019
Mediapsi, Volume 5; doi:10.21776/ub.mps.2019.005.02.6

, Program Studi Psikologi Universitas Syiah Kuala, Arum Sulistyani
Published: 5 December 2019
Mediapsi, Volume 5, pp 64-73; doi:10.21776/ub.mps.2019.005.02.1

, Faculty of Psychology and Health Sunan Ampel State Islamic University, Prayinda Elsa Nurmamita, Lailatul Muarofah Hanim, Department of Psychology Trunojoyo University
Published: 1 June 2019
Mediapsi, Volume 5, pp 49-61; doi:10.21776/ub.mps.2019.005.01.5

Abstract:
The purpose of this study is to examine the effect of conflict resolution on marital satisfaction and examine differences in conflict resolution and marital satisfaction in terms of demographic aspects including ethnic background, level of education, occupation, number of children, length of marriage, ownership status of residence, and shared residence. The subject of this study was a married couple who lived in the northern city of Surabaya with a sample of 150 people. Data collection is done using research instruments, namely the Conflict Resolution Scale to measure conflict resolution, and ENRICH Marital Satisfaction Scale used to measure marital satisfaction. Statistical analysis techniques used were descriptive statistical analysis, analysis of regression (ANAREG), and analysis of variances (ANOVA). The results showed R=0.659, R Square=0.434; F=113.399; t=10.649 (p=0.000 p<0.05) it shows a significant influence between conflict resolution on marital satisfaction. Based on the comparison analysis shows there are significant differences in conflict resolution and marital satisfaction in terms of demographic aspects including ethnic background, level of education, occupation, number of children, length of marriage, ownership status of residence, and shared residence. Tujuan penelitian ini menguji pengaruh resolusi konflik terhadap kepuasan pernikahan dan menguji perbedaan resolusi konflik dan kepuasan pernikahan ditinjau dari aspek demografi meliputi latar belakang etnis, tingkat pendidikan, pekerjaan, jumlah anak, lama pernikahan, status kepemilikan tempat tinggal, dan tempat tinggal bersama. Subjek penelitian ini adalah pasangan suami istri yang tinggal di Kota Surabaya bagian Utara dengan jumlah sampel 150 orang. Pengumpulan data dilakukan menggunakan instrumen penelitian yaitu Skala Resolusi Konflik untuk mengukur resolusi konflik dan ENRICH Marital Satisfaction Scale digunakan untuk mengukur kepuasan pernikahan. Teknik analisis statistik yang digunakan yaitu analisis statistik deskriptif, analisis regresi (ANAREG) dan analisis varian (ANOVA). Hasil penelitian menunjukkan harga R=0.659, R Square=0.434; harga F=113,399; harga t=10.649 (p=0.000 p<0.05). Hal itu menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan antara resolusi konflik terhadap kepuasan pernikahan. Berdasarkan analisis perbandingan menunjukan ada perbedaan yang siginikan resolusi konflik dan kepuasan pernikahan ditinjau dari aspek demografi meliputi latar belakang etnis, tingkat pendidikan, pekerjaan, jumlah anak, lama pernikahan, status kepemilikan tempat tinggal, dan tempat tinggal bersama. The purpose of this study is to examine the effect of conflict resolution on marital satisfaction and examine differences in conflict resolution and marital satisfaction in terms of demographic aspects including ethnic background, level of education, occupation, number of children, length of marriage, ownership status of residence, and shared residence. The subject of this study was a married couple who lived in the northern city of Surabaya with a sample of 150 people. The study was conducted by asking the respondents to fill in the research instrument, namely the Conflict Resolution Scale to measure conflict resolution, and ENRICH Marital Satisfaction Scale used to measure marital satisfaction. Statistical analysis techniques used were descriptive statistical analysis, analysis of regression (ANAREG), and analysis of variances (ANOVA). The results showed R = 0.659, R Square = 0.434; F = 113.399; t = 10.649 (P = 0.000 <0.05) it shows a significant influence between conflict resolution on marital satisfaction. Based on the comparison analysis shows there are significant differences in conflict resolution and marital satisfaction in terms of demographic aspects including ethnic background, level of education, occupation, number of children, length of marriage, ownership status of residence, and shared residence. Keywords: conflict resolution, marital satisfaction, demographic aspects. Tujuan penelitian ini menguji pengaruh resolusi konflik terhadap kepuasan pernikahan dan menguji perbedaan resolusi konflik dan kepuasan pernikahan ditinjau dari aspek demografi meliputi latar belakang etnis, tingkat pendidikan, pekerjaan, jumlah anak, lama pernikahan, status kepemilikan tempat tinggal, dan tempat tinggal bersama. Subyek penelitian ini adalah pasangan suami istri yang tinggal di Kota Surabaya bagian Utara dengan jumlah sampel 150 orang. Penelitian dilakukan dengan meminta para responden untuk mengisi instrumen penelitian yaitu Skala Resolusi Konflik untuk mengukur resolusi konflik dan ENRICH Marital Satisfaction Scale digunakan untuk mengukur kepuasan pernikahan. Teknik analisis statistik yang digunakan yaitu analisis statistik deskriptif, analisis regresi (ANAREG) dan analisis varian (ANOVA). Hasil penelitian menunjukkan harga R = 0.659, R Square = 0.434; harga F = 113,399; harga t = 10.649 ( P = 0.000 < 0.05). Hal itu menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan antara resolusi konflik terhadap kepuasan pernikahan. Berdasarkan analisis perbandingan menunjukan ada perbedaan yang siginikan resolusi konflik dan kepuasan pernikahan ditinjau dari aspek demografi meliputi latar belakang etnis, tingkat pendidikan, pekerjaan, jumlah anak, lama pernikahan, status kepemilikan tempat tinggal, dan tempat tinggal bersama.
Mediapsi Mediapsi, Department of Psychology Universitas Brawijaya
Published: 1 June 2019
Mediapsi, Volume 5, pp 62-63; doi:10.21776/ub.mps.2019.005.01.7

, Faculty of Psychology Sunan Gunung Djati State Islamic University, Silmi Amrullah, Lidwina Felisima Tae, Faculty of Education Indonesia University of Education, Institute of Education University College London
Published: 1 June 2019
Mediapsi, Volume 5, pp 40-48; doi:10.21776/ub.mps.2019.005.01.4

Abstract:
The creation of education in accordance with the mandate of the law is a matter that must be built with the hard work and cooperation of all the important elements in Indonesia's national education system today. A good education system is created when the school is led by a competent and creative principal, as well as those who are able to foster good relationships with teachers at the school. In addition, teachers with appropriate personalities and competencies will support the creation of a good learning environment and encourage their students to actively perform and make them personal. This study aims to provide clear information about the importance of collaboration among elements of educational support. The study used a mixed case study methodology, an open questionnaire, and a descriptive statistical analysis of 173 subjects consisting of two principals, 43 teachers, and 130 students. The results of case studies explain how the role of principals is crucial in shaping the character and performance of schools, especially with regard to their leadership style and creativity. While the analysis of open questionnaires categorizes that students expect to become dream teachers are those who are able to become partners, those who have the competence, and those who are experienced. The role of the principal, the presence of a qualified teacher, and the similarity of students' perceptions to their school will result in a collaboration that is mutually supportive of one another. A good education system is created when the school is led by a competent and creative principal, as well as those who are able to foster good relationships with teachers at the school. In addition, teachers with appropriate personalities and competencies will support the creation of a good learning environment and encourage their students to actively perform and make them personal. This study aims to provide clear information about the importance of collaboration among elements of educational support. The study used a mixed case study methodology, an open questionnaire, and a descriptive statistical analysis of 173 subjects consisting of two principals, 43 teachers, and 130 students. The results of case studies explain how the role of principals is crucial in shaping the character and performance of schools, especially with regard to their leadership style and creativity. While the analysis of open questionnaires categorizes that students expect to become dream teachers are those who are able to become partners, those who have the competence, and those who are experienced. The role of the principal, the presence of a qualified teacher, and the similarity of students' perceptions to their school will result in a collaboration that is mutually supportive of one another. Sistem pendidikan yang baik tercipta ketika sekolah dipimpin oleh kepala sekolah yang kompeten dan kreatif, juga mereka yang mampu membina hubungan yang baik dengan guru-guru di sekolah tersebut. Selain itu guru-guru dengan kepribadian dan kompetensi yang sesuai akan mendukung terciptanya suasana belajar yang baik dan mendorong siswanya untuk aktif berprestasi dan menjadikan mereka pribadi yang baik. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan informasi yang jelas mengenai pentingnya kolaborasi di antara elemen-elemen penunjang pendidikan tersebut. Studi ini menggunakan metodologi campuran studi kasus, kuesioner terbuka, dan analisis statistik deskriptif terhadap 173 subjek yang terdiri dari dua orang kepala sekolah, 43 orang guru, dan 130 orang siswa. Hasil dari studi kasus menjelaskan tentang bagaimana peran kepala sekolah sangat penting dalam membentuk karakter dan performa sekolah, terutama berkaitan dengan gaya kepemimpinan dan kreativitas mereka. Sedangkan analisis terhadap kuesioner terbuka mengategorikan bahwa siswa mengharapkan untuk menjadi guru idaman adalah mereka yang mampu menjadi partner, mereka yang memunyai kompetensi, dan mereka yang berpengalaman. Peran kepala sekolah, keberadaan seorang guru yang mumpuni, dan kesamaan persepsi siswa dengan sekolah mereka akan menghasilkan satu kolaborasi yang saling mendukung satu dengan yang lainnya.
, Department of Psychology Universitas Brawijaya, Kwartarini Wahyu Yuniarti, Leo Aditya Nugraha, Faculty of Psychology Gadjah Mada University
Published: 1 June 2019
Mediapsi, Volume 5, pp 16-29; doi:10.21776/ub.mps.2019.005.01.2

Abstract:
Integrity is commitment to positive values i.e. honesty, trust, fairness, respect, responsibility and courage. To encourage children to commit to such positive values, elementary school educatorsare expected to understand the essential values of integrity. This study is an exploratory qualitative study attemptingto buildan understanding on the Indonesian school teacher’s concepts ofintegritywith an indigenous approach. An open ended survey was conducted to a sample of 121 elementary school teachers from Kabupaten Sleman Yogyakarta. A group of elementary school teachers from the sample was recruited to assist the data analysis process, to ensure a data coding in accordance to their conception. The categories were analyzed by descriptive statistics. The result of this research revealed the perspective of elementary school teachers on the importance of certain values involved in integrity, how they teach their students to embrace the values. Theoretical and applied implementation of this research results is discussed. Integritas adalah komitmen terhadap nilai-nilai positif yaitu kejujuran, kepercayaan, keadilan, rasa hormat, tanggung jawab dan keberanian. Untuk mendorong siswa SD berkomitmen pada nilai-nilai positif seperti itu, pendidik sekolah dasar diharapkan memahami nilai-nilai penting dari integritas. Penelitian ini merupakan studi kualitatif eksploratif yang mencoba membangun pemahaman tentang konsep integritas guru sekolah Indonesia dengan pendekatan indijenous. Survei open-ended disebarkan dan diisi 121 guru sekolah dasar dari Kabupaten Sleman Yogyakarta. Kemudian sekelompok guru sekolah dasar dari partisipan tersebut direkrut untuk membantu proses analisis data, untuk memastikan pengkodean data sesuai dengan konsepsi mereka. Kategori dianalisis dengan statistik deskriptif. Hasil penelitian ini mengungkapkan perspektif guru sekolah dasar tentang pentingnya nilai-nilai tertentu yang terlibat dalam integritas dan bagaimana mereka mengajar siswa mereka untuk mengadopsi nilai-nilai luhur. Penerapan teoritis dan praktis dari hasil penelitian ini akan dibahas.
, Faculty of Psychology Universitas Kristen Satya Wacana, Soetjiningsih Hari Christiana
Published: 1 June 2019
Mediapsi, Volume 5, pp 30-39; doi:10.21776/ub.mps.2019.005.01.3

Abstract:
The purpose of this study is to examine the effect of self-esteem and hardiness on successful aging in the elderly who live alone. This research is a quantitative study with 142 participants who lived alone (at least living with a partner, not with children) in 6 cities in Central Java, which were obtained using a purposive sampling technique. Data were obtained using Successful Aging Scale (Rowe and Kahn), Rosenberg Self-Esteem Scale (Rosenberg) and Short Hardiness Scale (Bartone). The results of this study indicate that simultaneous self-esteem and hardiness as predictors of successful aging in elderly people who live alone (minimum life with a partner, not with children), seen from the obtained Fcount value of 35.963 and Ftable of 2.670 (Fcount > Ftable) and a significance value of 0,000 (p F table ) and a significance value of 0.000 (pF tabel ) serta nilai signifikansi 0.000 (p<0.05). Artinya, penelitian ini memberikan implikasi praktis yaitu ketika lansia yang hidup sendiri memiliki self-esteem dan hardiness yang tinggi maka akan berpengaruh pada tingginya successful aging lansia di masa tuanya.
Nina Muzdalifah, Wustari L Mangudjaya, Faculty of Psychology University of Indonesia
Published: 1 June 2019
Mediapsi, Volume 5, pp 1-15; doi:10.21776/ub.mps.2019.005.01.1

, Department of Psychology Universitas Brawijaya
Published: 1 June 2019
Mediapsi, Volume 5; doi:10.21776/ub.mps.2019.005.01.6

, Department of Psychology Brawijaya University
Published: 13 December 2018
Mediapsi, Volume 4, pp 76-82; doi:10.21776/ub.mps.2018.004.02.3

, Faculty of Psychology Gadjah Mada University
Published: 13 December 2018
Mediapsi, Volume 4, pp 58-67; doi:10.21776/ub.mps.2018.004.02.1

Abstract:
This study examines the relationship between role conflict and workplace bullying through meta-analysis technique. A total of 11 research articles and 20 research data were studied based on the inclusion criteria of this study and analyzed to find correlations between both variables. The results showed the correlation between role conflict and workplace bullying with r=0.34. From the results, it can be said that significant correlation between role conflict and workplace bullying do exist. The estimated correlation value of this study is consistent with previous meta-analysis studies in similar topic. Penelitian ini bertujuan menguji hubungan antara konflik peran dan perundungan ( bullying ) di tempat kerja melalui teknik meta–analisis. Sebanyak 11 artikel penelitian dan 20 data penelitian diteliti berdasarkan kriteria inklusi dan kemudian dianalisis untuk menemukan korelasi antara kedua variabel tersebut. Hasil meta-analisis menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara konflik peran dan perundungan di tempat kerja dengan nilai r=0.34. Hasil ini bermakna bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan antara konflik peran dan perundungan di tempat kerja. Estimasi nilai korelasi penelitian ini sejalan dan konsisten dengan penelitian meta-analisis sebelumnya dengan topik serupa.
Published: 13 December 2018
Mediapsi, Volume 4; doi:10.21776/ub.mps.2018.004.02.6

Mediapsi Mediapsi
Published: 13 December 2018
Mediapsi, Volume 4, pp 102-103; doi:10.21776/ub.mps.2018.004.02.7

, Anggia Kargenti Evanurul Marettih, Faculty of Psychology Sultan Syarif Kasim Riau State Islamic University (UIN Sultan Syarif Kasim Riau)
Published: 13 December 2018
Mediapsi, Volume 4, pp 83-91; doi:10.21776/ub.mps.2018.004.02.4

, Yuarini Wahyu Pertiwi, Faculty of Psychology University of Bhayangkara Jakarta Raya
Published: 13 December 2018
Mediapsi, Volume 4, pp 68-75; doi:10.21776/ub.mps.2018.004.02.2

Yunda Megawati, Department of Psychology Brawijaya University
Published: 13 December 2018
Mediapsi, Volume 4, pp 92-101; doi:10.21776/ub.mps.2018.004.02.5

Abstract:
This study aims to investigate the role of driving style towards risky driving behaviour among motorcyclists in the City of Malang. This study applied quantitative approach by using correlational technique with total sample of 89 motorcyclists in Malang. Data collection instruments employed in this study were Multidimensional Driving Style Inventory adapted and modified from Taubman-Ben-Ari, Mikulincer, and Gillath’s (2004) scale and Risky Driving Behaviour Scale by Iversen (2004). Data analysis for this study was multiple linear regression to find the most contributing aspects of driving style to risky driving behaviour. The results showed that driving style has a role to risky driving behaviour among motorcyclists in Malang. The construct can serve as a basis for community intervention, such as socialisation and safety campaign. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran gaya mengemudi terhadap perilaku mengemudi beresiko pada pengendara sepeda motor di Kota Malang. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif korelasional dengan jumlah sampel penelitian sebanyak 89 responden yang merupakan pengemudi sepeda motor di Kota Malang. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah Skala Multidimensional Driving Style Inventory (MDSI) yang diadaptasi dan dimodifikasi oleh peneliti berdasarkan dari teori Taubman-Ben-Ari, Mikulincer, dan Gillath (2004) dan Skala Risky Driving Behavior (RDB) yang diadaptasi dan dimodifikasi oleh peneliti berdasarkan dengan teori dan dimensi dari Iversen (2004). Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah regresi linier berganda untuk menemukan dimensi gaya mengemudi yang paling berperan terhadap perilaku mengemudi beresiko. Hasil penelitian menunjukkan terdapat peran gaya mengemudi secara signifikan terhadap perilaku mengemudi beresiko pada pengendara sepeda motor di Kota Malang. Konstruk tersebut dapat menjadi dasar untuk mengadakan intervensi dalam bentuk sosialisasi dan propaganda kepada masyarakat untuk mengemudi secara aman.
Rinanda Rizky Amalia Shaleha, , Ika Herani, Department of Psychology Universitas Brawijaya
Published: 1 June 2018
Mediapsi, Volume 4, pp 47-55; doi:10.21776/ub.mps.2018.004.01.5

Ika Rahma Susilawati, Faculty of Psychology Universitas Gadjah Mada
Published: 1 June 2018
Mediapsi, Volume 4, pp 7-21; doi:10.21776/ub.mps.2018.004.01.2

Lusy Asa Akhrani, Fitsabilla Imansari, Faizah Faizah, Department of Psychology Universitas Brawijaya
Published: 1 June 2018
Mediapsi, Volume 4, pp 1-6; doi:10.21776/ub.mps.2018.004.01.1

Mediapsi Mediapsi
Published: 1 June 2018
Mediapsi, Volume 4, pp 56-57; doi:10.21776/ub.mps.2018.004.01.7

Sugiarti A Musabiq, Lu’Lu Nurrahiimah Assyahidah, Adilla Sari, Hervi Utami Kusuma Dewi, Widya Aktivana Erdiaputri, Faculty of Psychology University of Indonesia
Published: 1 June 2018
Mediapsi, Volume 4, pp 22-35; doi:10.21776/ub.mps.2018.004.01.3

Dwi Hardani Oktawirawan, Ari Pratiwi, Department of Psychology Universitas Brawijaya
Published: 1 June 2018
Mediapsi, Volume 4, pp 36-46; doi:10.21776/ub.mps.2018.004.01.4

Mediapsi Mediapsi
Published: 1 June 2018
Mediapsi, Volume 4; doi:10.21776/ub.mps.2018.004.01.6

Siswati Siswati, Faculty of Psychology Universitas Diponegoro Indonesia, Frieda Nuzulia Ratna Hadiyati
Published: 1 December 2017
Mediapsi, Volume 3, pp 22-28; doi:10.21776/ub.mps.2017.003.02.3

Abstract:
Students as late adolescents often experience unstable physical and emotional conditions due to suffering they endure. It then affects his efficacy. Self-acceptance is necessary when facing suffering and difficult situations in life. This research aims to determine empirically the relationship between self-compassion and self-efficacy among students who are completing their final project. This research employed a quantitative method with correlational design. The measuring tool used in this research was The Self-Compassion Scale consisting of 22 items (α=0.858) and Self-Efficacy Scale with 22 items (α=0.850). The subjects of this research were 110 third-year students on Faculty of Psychology University Y, obtained by simple random sampling technique. Data obtained from this research was then analyzed by using simple regression analysis technique. The result showed the correlation coefficient of 0.741 with p=0.000 (p<0.05), meaning that alternative hypothesis proposed by the researcher was accepted. Determinant coefficient value of self-compassion gave an effective contribution of 54.9% for self-efficacy variable, while the remaining 45.1% is affected by other unrevealed factors. Mahasiswa sebagai remaja akhir sering kali mengalami kondisi fisik dan emosi yang tidak stabil dikarenakan penderitaan yang dialaminya. Hal tersebut selanjutnya berdampak pada efikasi dirinya. Penerimaan diri diperlukan ketika menghadapi penderitaan dan situasi sulit dalam kehidupan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui secara empiris hubungan antara self-compassion dan efikasi diri pada mahasiswa yang sedang menyelesaikan tugas akhir. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan rancangan korelasional. Alat ukur yang digunakan adalah Skala Self-Compassion yang berjumlah 22 butir (α=0.858) dan Skala Efikasi Diri yang berjumlah 22 butir (α=0.850). Subjek penelitian adalah mahasiswa semester 6 Fakultas Psikologi Universitas Y berjumlah 110 orang yang diperoleh melalui teknik simple random sampling. Teknik analisis data yang digunakan yaitu teknik analisis regresi sederhana. Berdasarkan hasil analisis data yang dilakukan diperoleh koefisien korelasi sebesar 0.741 dengan p=0.000 (p<0.05). Artinya, hipotesis alternatif yang diajukan peneliti dapat diterima. Nilai koefisien determinan self-compassion memberikan sumbangan efektif sebesar 54.9% untuk variabel efikasi diri, sedangkan 45.1% sisanya dipengaruhi oleh faktor-faktor lain yang tidak diungkap dalam penelitian.
Icha Herawati, Faculty of Psychology Universitas Islam Riau Indonesia Syarifah Farr, Syarifah Farradinna, Faculty of Psychology Universitas Islam Riau Indonesia
Published: 1 December 2017
Mediapsi, Volume 3, pp 10-21; doi:10.21776/ub.mps.2017.003.02.2

Abstract:
This study aims to identify marital satisfaction among married, working individuals in relation with the aspect of gratitude and forgiveness. This study was conducted by using survey methods through questionnaires. The samples of this study were 226 married, working individuals (140 males and 86 females) and were working for Islamic University of Riau (UIR), Indonesia. The instruments for this study were the adaptation of The Gratitude Questionnaire-Six Item Form (GQ-6) for the aspect of gratitude, Marital Forgiveness Scale (dispositional) for the aspect of forgiveness and ENRICH Marital Satisfaction Scale for the aspect of marital satisfaction. The result showed a significant correlation between gratitude, forgiveness, and maritl satisfaction. The statistical regression also found that forgiveness is the key contributor of marital satisfaction for married, working individual. In general, this study suggest that gratitude and forgiveness is an important aspect that contributes to marital satisfaction of married, working individuals. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kepuasan perkawinan pada pekerja yang telah menikah yang dilihat dari aspek kebersyukuran dan pemaafan. Penelitian ini dilakukan dengan metode survey menggunakan kuesioner. Sampel penelitian terdiri dari 226 orang yang telah menikah dan sedang bekerja (pria=140, wanita=86) di Universitas Islam Riau (UIR), Indonesia. Instrumen kajian adalah adaptasi dari The Gratitude Questionnaire-Six Item Form (GQ-6) untuk aspek kebersyukuran, Marital Forgiveness Scale (Dispositional) untuk aspek pemaafan, dan ENRICH Marital Satisfaction Scale untuk aspek kepuasan perkawinan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara kebersyukuran, pemaafan, dan kepuasan perkawinan. Hasil uji regresi menunjukkan bahwa pengampunan merupakan aspek kunci pada pasangan suami istri yang memperoleh kepuasan perkawinan. Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa kebersyukuran dan pemaafan merupakan aspek penting untuk memberi kontribusi pada kepuasan perkawinan terhadap individu bekerja yang telah menikah.
Page of 2
Articles per Page
by
Show export options
  Select all
Back to Top Top