Refine Search

New Search

Results in Journal AKSIOMA : Jurnal Matematika dan Pendidikan Matematika: 151

(searched for: journal_id:(2291544))
Page of 4
Articles per Page
by
Show export options
  Select all
Abbas Prentha
AKSIOMA : Jurnal Matematika dan Pendidikan Matematika, Volume 12, pp 69-79; doi:10.26877/aks.v12i1.5999

Abstract:
AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan komunikasi matematis tertulis siswa melalui pendekatan saintifik. Pelaksanaan tindakan kelas dilaksanakan dalam dua siklus. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas X MIA1 MAN Flores Timur berjumlah 32 siswa terdiri dari 13 laki-laki dan 19 perempuan. Pengumpulan data saat penelitian dilakukan dengan cara observasi, catatan lapangan, dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan peneliti adalah reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan komunikasi matematika melalui pendekatan saintifik dengan indikator 1) Menyatakan ide matematis melalui tulisan, gambar, grafik atau tabel sebelum 18,75% sesudah 87,5%, 2) Memahami, menafsirkan dan mengevaluasi ide-ide matematis yang disajikan secara tertulis sebelum 28,125% sesudah 84,375%, 3) Menghubungkan berbagai ide matematis yang disajikan secara tertulis menggunakan istilah-istilah atau symbol matematika secara tepat untuk menyelesaikan permasalahan matematika dengan langkah-langkah yang terstruktur sebelum 6,25% dan sesudah 75%. Dari tiap indikator terdapat peningkatan komunikasi matematika siswa dengan pendekatan saintifik bagi siswa kelas X MIA1 MAN Flores Timur.Kata kunci: komunikasi matematis, komunikasi matematis tertulis; pendekatan saintifik; perbandingan trigonometri AbstractThe study aims to improve students’ written mathematical communication skills through a scientific approach. Classroom action was carried out in two cycles. The subjects of this study were students of class X MIA1 MAN Flores Timur, totaling 32 students consisting of 13 men and 19 women. Data collection methods when research using observations, field notes, and documentation. Data analysis techniques used by researchers are data reduction, data presentation, and concluding. The result showed an increase in mathematical communication through a scientific approach with indicators 1) Express mathematical ideas through writing, pictures, graphics or tables before 18.75% after 87.5%, 2) understanding, interpreting and evaluation mathematical ideas presented in the text previously 28.125% and after 84.375%, 3) connection mathematical ideas presented in writing using mathematical terms or symbols appropriately to solve the mathematical problem with structured steps before 6.25% after 75%. From each indicator, there is an increase in students’ mathematical communication with a scientific approach for students of class X MIA1 MAN Flores Timur.Keywords: mathematical communication; written mathematical communication; scientific approach; trigonometric comparison
AKSIOMA : Jurnal Matematika dan Pendidikan Matematika, Volume 12, pp 120-128; doi:10.26877/aks.v12i1.6893

Abstract:
Entropi adalah besaran yang mengukur ketidakpastian variabel acak, dan ini adalah besaran yang merupakan kunci dalam konsep teori informasi. Entropi adalah ukuran ketidakpastian. Konsep entropi dimulai dengan terminologi yang disebut konten informasi. Shannon Entropy sering dinyatakan sebagai asal mula ukuran informasi yang digunakan dalam beberapa aplikasi. Pada penelitian ini menggunakan balanced dan unbalanced spin whell dengan nilai q = 1,000001 diperoleh entropi Shannon, Renyi dan informasi pada balanced spin wheels masing-masing 2.079442, 2.079442, 2.079439 dan pada unbalanced spin wheels masing-masing juga 1.936798, 1.936798, 1.936796 jadi nilainya dari entropi dan informasi akan cenderung shanon entropi ketika q → 1.
Fitri Amaliah, Sutirna Sutirna, Rafiq Zulkarnaen
AKSIOMA : Jurnal Matematika dan Pendidikan Matematika, Volume 12, pp 10-20; doi:10.26877/aks.v12i1.7202

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kemampuan pemecahan masalah matematis siswa materi segiempat dan segitiga berdasarkan tahapan Polya. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIII J SMPN 1 Kotabaru Tahun Ajaran 2019/2020, yang dikelompokan menjadi 3 kategori yakni tinggi dengan Skor ≥ Mean + 1 SD, kategori sedang M – 1 SD ≤ Skor < M + 1 SD, dan kategori rendah dengan Skor < M – 1 SD. instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa kategori kemampuan tinggi sudah mampu memecahkan masalah yang diberikan, tetapi kurang teliti dalam menuliskan kesimpulan dari solusi yang diinginkan serta kurang teliti dalam menuliskan satuan. Siswa kategori kemampuan sedang belum mampu memecahkan masalah yang diberikan karena hanya mampu memahami masalah dan merencanakan penyelesaian, siswa mengalami kesulitan dalam melakukan proses perhitungan/komputasi serta kurang teliti saat mengerjakan. Siswa kategori kemampuan rendah belum mampu memecahkan masalah yang diberikan karena siswa mengalami kesulitan dalam memahami masalah, sehingga tidak mampu melakukan tahapan selanjutnya.
Ismail Djakaria, Fenly B Mohamad, Djihad Wungguli
AKSIOMA : Jurnal Matematika dan Pendidikan Matematika, Volume 12, pp 80-108; doi:10.26877/aks.v12i1.7002

Abstract:
Trim loss merupakan kerugian yang timbul dari hasil pemotongan yang tidak optimal. Trim loss dipengaruhi beberapa faktor salah satunya yaitu peletakan pola pemotongan yang kurang tepat. Trim loss dapat diselesaikan dengan beberapa metode salah satunya menggunakan metode cutting stock. cutting stock digunakan pada pengoptimalan pemotongan sisa material yang tidak dapat digunakan lagi. Pada cutting stock dipengaruhi oleh masalah pola pemotongan disebut cutting stock problem(CSP). CSP dapat diselesaikan dengan menggunakan pendekatan integer linear programming (ILP). ILP adalah salah satu model dalam program linear yang variabel keputusannya berbentuk bilangan positif atau nol.
Nurul Fahmawati
AKSIOMA : Jurnal Matematika dan Pendidikan Matematika, Volume 12, pp 129-140; doi:10.26877/aks.v12i1.7126

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis ada tidaknya pengaruh model pembelajaran Numbered Head Together (NHT) dalam meningkatkan hasil belajar matematika SD. Metode yang digunakan di dalam penelitian ini merupakan metode meta analisis. Penelitian ini diawali dengan merumuskan topik penelitian, lalu dari topik penelitian tersebut dikembangkan lagi menjadi rumusan masalah penelitian, dan pada tahap akhir yaitu menelusuri artikel yang relevan guna pengumpulan data. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu dengan cara menelusuri artikel yang terdapat pada jurnal online yang sudah terindex dalam Google Scholar, dan bersetifikat Sinta. Dari hasil penelusuran selanjutnya, kemudian diambil 10 artikel yang diterbitkan pada jurnal online yang akan dijadikan dasar dalam penelitian ini dengan kata kunci pencarian “Numbered Head Together (NHT)”, “hasil belajar matematika”, dan “pembelajaran matematika SD”. teknik analisis data yang digunakan adalah Uji Paired Sample T-Test melalui bantuan SPSS versi 16.0. Berdasarkan hasil penelitian menggunakan Uji Paired Sample T-Test menunjukkan nilai sig. 0.000 < 0.05 yang artinya H1 diterima dan dapat dikatakan model pembelajaran Numbered Head Together (NHT) ini berpengaruh positif terhadap hasil belajar matematika siswa SD.
Muhammad Ainur Rizqi, Subanji Subanji
AKSIOMA : Jurnal Matematika dan Pendidikan Matematika, Volume 12, pp 141-154; doi:10.26877/aks.v12i1.7621

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa pembelajaran daring persamaan garis lurus berbantuan media geogebra melalui google site. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Data penelitian diperoleh berdasarkan respon pembelajaran siswa pada setiap pertemuan, wawancara dengan guru, dan angket refleksi pada akhir pertemuan. Penelitian dilakukan di kelas 8B MTsN 1 Kota Malang dengan 32 siswa. Hasil penelitian menunjukkan siswa yang memberikan respon dengan baik, telah melalui tahap pemberian rangsang, pengumpulan data, pengolahan data, pengujidan, dan pemberikan kesimpulan dengan baik. Sementara siswa yang memberikan respon kurang memuaskan telah melakukan tahap pemberian rangsang dan pengambilan kesimpulan dengan baik, namun tidak melakukan tahap menyatakan masalah, mengumpulkan data, dan pengolahan data. Selain itu siswa yang memberikan respon dengan baik pada pertemuan pertama sebanyak 31%, pada pertemuan kedua 63%, pada pertemuan ketiga 22%, dan pada pertemuan keempat 9%. Penurunan respon siswa dipengaruhi oleh tingkat stres dan banyaknya tugas sebesar 57%, serta ketidakmampuan siswa mengoperasikan geogebra dengan baik 31%.
Pukky Tetralian Bantining Ngastiti, Aris Alfan, Ahmad Khairul Umam
AKSIOMA : Jurnal Matematika dan Pendidikan Matematika, Volume 12, pp 42-51; doi:10.26877/aks.v12i1.6979

Abstract:
Pada dasawarsa terakhir perkembangan teknologi begitu pesat, salah satunya di bidang smartphone. Teknologi smartphone begitu canggih salah satunya yaitu penggunaan operasi sistem android yang terus berkembang dan terbarukan. Bidang kalkulus adalah cabang ilmu matematika yang mencakup limit, differensial, deret tak terhingga, dan integral. Tujuan dari penulisan ini yaitu menguji efektivitas dari media aplimath berbasis android pada mata kuliah kalkulus I. Aplimath merupakan salah satu alternatif media pembelajaran berbasis teknologi android. Metode dalam penelitian ini menggunakan desain borg and gall dengan 6 langkah yaitu potensi dan masalah, pengumpulan data, desain produk, validasi desain, revisi desain, ujicoba produk. Hasil dari penelitian yaitu rata-rata hasil angket yang diberikan mahasiswa dari berbagai aspek penilaian yaitu sebesar 85%. Sedangkan berdasarkan hasil belajar yaitu terdapat perbedaan hasil belajar antara nilai uts dengan nilai media yaitu sebesar 13,33 dan dengan menggunakan uji-t didapat thitung 2,588 > ttabel 2,365. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa media aplimath berbasis android pada matakulah kalkulus I efektif digunakan sebagai alternatif sumber belajar berbasis teknologi bagi mahasiswa prodi matematika di Universitas Billfath.Kata Kunci: Aplimath, Efektifitas, Kalkulus I
Agus Rifa'I
AKSIOMA : Jurnal Matematika dan Pendidikan Matematika, Volume 12, pp 60-68; doi:10.26877/aks.v12i1.6950

Abstract:
Pemahaman matematis di MTs Al Ulya Al Mubarok Kota Serang masih sangat rendah, terutama dalam pemahaman materi bilangan bulat dan pecahan. Berkaitan dengan hal ini, perlu adanya inovasi dalam penyampaian materi pembelajaran, salah satunya dengan menggunakan model pembelajaran yang mendorong peserta didik untuk lebih aktif dalam proses belajar dengan ini kita perlu menggunakan model pembelajaran, PBL merupakan sebuah model pembelajaran yang inovatif yang dapat memberikan kondisi belajar aktif peserta didik untuk memecahkan sebuah masalah. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan efektifitas penggunaan model PBL dalam meningkatkan pemahaman matematis siswa MTs. Penelitian ini berjenis quasi experimen dengan menggunakan rancangan penelitian the randomized pretest-posttest control group design. Adapun instrument yang digunakan untuk mengukur pemahaman adalah tes yang terdiri dari soal-soal uraian. Tes diberikan sebelum dan setelah pembelajaran, lalu dianalisis dengan menggunakan anova. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model PBL lebih efektif dalam meningkatkan pemahaman matematis siswa. Hal ini terlihat dari hasil ata-rata nilai posttes kelompok eksperimen adalah 75,33, sedangkan rata-rata nilai posttes kelompok kontrol adalah 71,07.
Eny Suryowati
AKSIOMA : Jurnal Matematika dan Pendidikan Matematika, Volume 12, pp 109-119; doi:10.26877/aks.v12i1.7082

Abstract:
Berpikir fungsional pada penelitian ini merupakan generalisasi dari suatu hubungan antara beberapa variabel. Proses berpikir fungsional pada penelitian ini menggunakan tahapan berpikir dalam menyelesaikan soal atau masalah matematika yang terdiri dari tahap entry, attack dan review. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Metode pengumpulan data pada penelitian ini melalui pemberian soal matematika dan wawancara. Soal matematika tersebut dikerjakan secara think aloud. Instrumen penelitian yang digunakan yaitu soal matematika tentang pola dan pedoman wawancara. Sebanyak 20 siswa SMP kelas VII diberi soal matematika dan dua siswa dipilih untuk dianalisis proses berpikir fungsionalnya. Proses berpikir subjek pertama dan kedua memperoleh informasi yang terdapat pada soal, ini merupakan tahap entry. Pada tahap attack, subjek pertama membuat strategi dengan membuat tabel tentang banyak meja dan banyak orang yang bisa menempatinya lalu menemukan keteraturan pola. Subjek kedua mencari kesamaan cara untuk menghitung banyaknya orang yang bisa menempati meja pada setiap model (meja dan banyak orang yang menempati) yang terdapat pada soal. Pada tahap review, subjek pertama memperluas keteraturan pola dan subjek 2 memperluas kesamaan cara untuk menghitung banyak orang yang menempati meja. Proses berpikir subjek pertama secara parsial, mengamati keteraturan pola pada setiap bagian. Sedangkan proses berpikir subjek kedua secara induktif, cara yang berlaku disetiap model diperluas sesuai yang ditanyakan pada soal.
Yusri Wahyuni
AKSIOMA : Jurnal Matematika dan Pendidikan Matematika, Volume 12, pp 52-59; doi:10.26877/aks.v12i1.6022

Abstract:
Dalam pembelajaran, motivasi sangat berfungsi untuk mendorong siswa untuk berbuat, menentukan arah perbuatan, yakni kearah tujuan yang hendak dicapai dan menyeleksi perbuatanya yang harus dikerjakan. Hasil belajar akan menjadi optimal, kalau ada motivasi. Makin tepat motivasi yang diberikan, makin berhasil pula pembelajaran tersebut. Tujuan dari penelitian ini untuk menentukan tingkatan dan menganalisis motivasi belajar matematika siswa kelas XII IPA SMA Bunda Padang. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif. Subjek dari penelitian ini adalah siswa kelas XII IPA SMA Bunda Padang. Sampel dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XII IPA SMA Bunda Padang yang berjumlah 15 orang. Dari penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa siswa kelas XII IPA SMA Bunda Padang memiliki tiga tingkatan motivasi yaitu tingkat motivasi belajar tinggi sebanyak 2 orang (7%), tingkat motivasi sedang 4 orang (29%), dan tingkat motivasi rendah 9 orang (64%). Sedangkan dalam analisis dari aspek pada angket yang diberikan diperoleh rata-rata motivasi belajar matematika siswa sebesar 70,67% dengan kriteria cukup. Hal ini ditunjukkan dari 13 indikator yang diberikan dan pernyataan siswa, 8 diantaranya berada pada kriteria cukup, sehingga dapat disimpulkan bahwa kurangnya rasa ingin tahu dan minat siswa dalam pembelajaran yang dibuktikan dengan tidak adanya upaya siswa untuk menggali sendiri informasi-informasi mengenai materi pelajaran yang akan dipelajari
Fany Fadilla, Jayanti Putri Purwaningrum
AKSIOMA : Jurnal Matematika dan Pendidikan Matematika, Volume 12, pp 155-168; doi:10.26877/aks.v12i1.7679

Abstract:
Tujuan penelitian ini adalah menumbuhkan kemampuan representasi matematis dan metakognitif siswa kelas VIII SMP melalui model CORE. Penelitian yang kami lakukan dengan mengkaji, mengaitkan karakteristik, dan indikator kemampuan representasi dan metakognitif. Pada dasarnya representasi matematis memiliki tiga indikator yang lebih abstrak dan memiliki tingkat kemampuan representasi pemecahan masalah yang lebih tinggi, yaitu representasi bahasa, representasi kata/ungkapan matematika dan representasi kata/teks tertulis. Fakta dilapangan membuktikan bahwa hasil kemampuan representasi matematika di Indonesia masih banyak yang kurang memuaskan. Jika strategi pada representasi yang digunakan sesuai dengan masalah, masalah yang dianggap kompleks menjadi lebih sederhana. Oleh karena itu, pemilihan model representasi memiliki pengaruh yang besar terhadap keputusan kebijakan dalam penyelesaian masalah. Selain keterampilan representasi pada penelitian ini juga mengkaji mengenai metakognitif, Metakognisi adalah pemikiran seseorang tentang pikirannya sendiri, termasuk pemahaman tentang hal-hal yang diketahui. Metakognisi meliputi pengetahuan metakognitif dan pengalaman atau regulasi metakognitif. Sehingga dari penelitian kajian pustaka ini dapat disimpulkan bahwa dari beberapa fakta dilapangan yang telah diteliti oleh peneliti lain, kemampuan representasi matematis dan metakognitif siswa masih banyak yang belum memuaskan dan beberapa siswa masih belum dapat menumbuhkan kemampuan representasi maupun metakognitif dalam pembelajaran. Dari analisis data dapat disimpulkan bahwa model CORE (Connecting, Organizing, Reflecting dan Extending) dapat menumbuhkan kemampuan representasi matematik dan metakognitif siswa kelas VIII SMP.
Sri Mulyani
AKSIOMA : Jurnal Matematika dan Pendidikan Matematika, Volume 12, pp 21-30; doi:10.26877/aks.v12i1.7174

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dalam upaya meningkatkan hasil belajar matematika kelas IV SD Negeri Karangwuni 03 yang berada dibawah KKM. Metode ini juga guna untuk membeikan inovasi metode pembelajaran dalam mata pelajaran ini agar siswa dapat berperan aktif dalam proses KBM. Penelitian ini merupakan penelitian Tindakan kelas dengan menggunakan tiga siklus. Berdasarkan hasil penelitian dan analisa data dapat disimpulkan melalui metode pembelajaran koopertaif tipe STAD dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada aspek kognitif, afektif dan psikomotor pada setiap siklusnya. Pada siklus 1 menunjukkan pencapaian belum maksimal, Prosentase keberhasilan (ketuntasan) siswa dari nilai kognitif 60 %, nilai afektif 70 %, dan psikomotor 70 %. Pada siklus II Prosentasi peningkatan ketuntasan siswa pada nilai kognitif, Afektif, dan psikomotor sebesar 70% dengan nilai rata-rata 81.3 pada ketiga aspek. Kemudian untuk siklus ke III menunjukkan hasil yang cukup signifikan dengan rata-rata nilai 87.0 dan tingkat ketuntasan adalah 90-100 %.
Rani Kurnia Putri, Dinda Inggit Prasesti Roichan
AKSIOMA : Jurnal Matematika dan Pendidikan Matematika, Volume 12, pp 1-9; doi:10.26877/aks.v12i1.7272

Abstract:
Penelitian ini dilatar belakangi oleh rendahnya siswa dalam kemampuan pemecahan masalah matematika. Agar kemampuan pemecahan masalah matematika siswa tidak rendah maka dibutuhkan model pembelajaran. Model pembelajaran yang dimaksud adalah model pembelajaran Problem Based Learning. Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu “Apakah terdapat pengaruh model pembelajaran Problem Based Learning terhadap kemampuan pemecahan masalah matematika siswa kelas XI SMA Negeri 15 Surabaya”. Tujuannya adalah untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh model Problem Based Learning terhadap kemampuan pemecahan masalah matematika siswa kelas XI SMA Negeri 15 Surabaya. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa di kelas XI SMA Negeri 15 Surabaya tahun pelajaran 2019/2020. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini yaitu kelas XI-IPA 3 sebagai kelompok eksperimen dan kelas XI-IPA 2 sebagai kelompok kontrol. Hasil penelitian secara keseluruhan menunjukkan bahwa berdasarkan analisis data nilai thitung adalah 2,15. Dengan menggunakan taraf signifikan α = 5% dan dengan derajat kebebasan (dk) = 63, ttabel = 1,9983, karena thitung > ttabel, maka H0 ditolak dan H1 diterima. Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa ada pengaruh model pembelajaran Problem Based Learning terhadap kemampuan pemecahan masalah matematika siswa kelas XI SMAN 15 Surabaya.
Rofi Rhyana Dwi Anggraini, Aan Hendroanto
AKSIOMA : Jurnal Matematika dan Pendidikan Matematika, Volume 12, pp 31-41; doi:10.26877/aks.v12i1.7047

Abstract:
Kemampuan pemecahan masalah sangat penting dalam pendidikan matematika, dikarenakan kemampuan pemecahan masalah merupakan salah satu tujuan dalam pendidikan matematika. Salah satu faktor yang mempengarui pemecahan masalah adalah gaya belajar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pemetaan gaya belajar kelas VIIIA serta untuk mengetahui profil kemampuan pemecahan masalah siswa kelas VIIIA SMP Muhammadiyah 2 Godean ditinjau dari gaya belajar.Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif, dengan subjek penelitian yaitu sebanyak 6 orang siswa kelas VIIIA dimana masing-masing type gaya belajar diwakili oleh 2 orang siswa. Teknik pengambilan data menggunakan angket gaya belajar, tes kemampuan pemecahan masalah, dan wawancara. Teknik analisis data meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa dari 27 siswa terdapat 16 (59%) siswa bergaya belajar visual, 4 (15%) siswa gaya belajar auditorial, 5 (19%) siswa gaya belajar kinestetik, dan 2 (7%) diantaranya V-A-K. Kemampuan penyelesaian masalah pada siswa visual mampu melaksanakan hingga tahap ketiga polya (pemahaman masalah, penyusunan rencana, dan melaksanakan rencana), siswa auditorial mampu melaksanakan tahap hingga tahap ketiga (pemahaman masalah, penyusunan rencana, dan melaksanakan rencana), namun subjek A2 tidak melaksanakan tahap 2 yaitu penyusunan rencana, siswa kinestetik melaksanakan hingga ke tahap 3 (pemahaman masalah, penyusunan rencana, dan melaksanakan rencana). Ketiga subjek sama-sama tidak melaksanakan tahap 4 yaitu memeriksa kembali.
Lely Purnawati, Toto Nusantara
AKSIOMA : Jurnal Matematika dan Pendidikan Matematika, Volume 11, pp 198-209; doi:10.26877/aks.v11i2.5978

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis jenis pertanyaan guru matematika di MTsN 9 Banyuwangi selama proses pembelajaran daring melalui media Edmodo pada materi Statistika. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode deskriptif kualitatif. Subjek penelitian yaitu guru matematika yang mengajar di kelas VIII. Pengambilan sampel dengan teknik purposive sampling. Pengumpulan data menggunakan lembar observasi dan dokumentasi (capture dan catatan). Tahapan penelitian meliputi: (1) mencatat dan meng-capture semua pertanyaan guru pada saat pembelajaran berlangsung; (2) mengelompokkan data berdasarkan variabel; dan (3) menganalisis dan mendeskripsikan data hasil penelitian. Hasil analisis menemukan pertanyaan C1 (pengetahuan) 42,1%, pertanyaan C2 (pemahaman) 15,8%, pertanyaan C3 (aplikasi) 15,6%, pertanyaan C4 (analisis) 13,2% dan pertanyaanC5 (evaluasi) 13,2%. Pertanyaan dalam kategori C6 tidak nampak selama pembelajaran berangsung. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa pertanyaan masih didominasi dengan pertanyaan berpikir tingkat rendah (Lower Order Thingking Skill). Karena itu, perlu penjabaran model-model pertanyaan yang terorientasi pada pertanyaan kemampuan berpikir tingkat tinggi (Higher Order Thingking Skill). Kata kunci : jenis pertanyaan, Statistika, Taksonomi Bloom
Ruli Andriani, Toto Nusantara, Subanji Subanji, Abdur Rahman As'ari
AKSIOMA : Jurnal Matematika dan Pendidikan Matematika, Volume 11, pp 219-228; doi:10.26877/aks.v11i2.5996

Abstract:
AbstrakPada era 4.0 dan abad ke-21 kegiatan pembelajaran membutuhkan keterampilan berpikir kritis dan penyelesaian masalah untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses berpikir siswa dalam menyelesaikan soal dengan informasi yang kontradiksi. Partisipan pada penelitian ini adalah siswa kelas XII MA Unggulan Mamba’ul Huda. Instrumen pada penelitian ini menggunakan soal non rutin dengan informasi yang kontradiksi dan pedoman wawancara mendalam. Hasil penelitian ini menunjukkan proses berpikir siswa yang dapat menyelesaiakan soal dengan informasi yang kontradiksi yaitu dengan mengikuti langkah-langkah sebagai berikut: (1) understanding the problem (2) devising the plan (3) carrying the plan, dan (4) looking back. Dan proses berpikir siswa yang tidak dapat menyelesaikan soal dengan informasi yang kontradiksi melakukan langkah (1) understanding the problem dan (2) devising the plan. Pada langkah (3) carrying the plan dilaksanakan tetapi tidak sempurna dan untuk langkah (4) looking back tidak dilakukan.Kata kunci: proses berpikir; penyelesaian masalah; soal dengan informasi yang kontradiksi
Rahmadhani Yulmi Putri, Wartono Wartono
AKSIOMA : Jurnal Matematika dan Pendidikan Matematika, Volume 11, pp 240-251; doi:10.26877/aks.v11i2.6060

Abstract:
Metode Schroder merupakan metode iterasi berode dua yang digunakan untuk menentukan akar-akar persamaan nonlinear. Artikel ini membahas modifikasi metode Schroder untuk meningkatkan orde konvergensi. Metode Schroder dengan satu parameter real dikembangkan menggunakan ekspansi deret Taylor orde dua. Metode Schroder yang dimodifikasi masih memuat turunan kedua. Selanjutnya, turunan kedua tersebut direduksi menggunakan kesamaan dua metode iterasi. Berdasarkan hasil kajian, metode iterasi baru mempunyai orde konvergensi empat yang melibatkan tiga evaluasi fungsi dengan indeks efisiensi sebesar untuk b = ½. Simulasi numerik diberikan untuk menguji performa metode iterasi baru yang meliputi jumlah iterasi, orde konvergensi secara komputasi (COC), galat mutlak dan galat relatif. Nilai-nilai performa dari metode iterasi baru dibandingkan dengan metode Newton, metode Schroder, metode Chebyshev dan metode Halley. Hasil simulasi numerik menunjukkan bahwa performa metode iterasi baru lebih baik dibandingkan dengan metode iterasi lainnya.
Tiara Fikriani, Mirda Swetherly Nurva
AKSIOMA : Jurnal Matematika dan Pendidikan Matematika, Volume 11, pp 252-266; doi:10.26877/aks.v11i2.6132

Abstract:
High Order Thinking Skill or HOTS should be had by the students to improve students thinking skills at a higher level are continued in curriculum 2013. The purpose of this study to determine the ability to solve student problems in working on the problem type Higher Order Thinkimg Skills (HOTS). By working on the Higher Order Thinking Skills questions, students will reach the levels of mathematical ability from the lowest level to the highest level. The type of this research is qualitative research with natural setting. Data collection using observation, test, and interview methods. The results of this study obtained the conclusion that students in solving problems using Polya step, can meet the indicators analyze, create, and evaluate.
Madensi Selan, Farida Daniel, Urni Babys
AKSIOMA : Jurnal Matematika dan Pendidikan Matematika, Volume 11, pp 335-344; doi:10.26877/aks.v11i2.6256

Abstract:
Literasi matematis merupakan kemampuan seseorang untuk merumuskan, menerapkan dan menafsirkan matematika dalam berbagai konteks, termasuk kemampuan melakukan penalaran secara matematis, menggunakan konsep, prosedur, fakta dan alat bantu matematika untuk mendeskripsikan suatu fenomena atau kejadian. Tujuan penelitian ini adalah untuk menghasilkan kajian tentang kemampuan literasi matematis siswa dalam menyelesaikan soal PISA konten change and relationship. Penelitian dilakukan di SMA Efata Soe dengan subjek penelitian adalah siswa kelas X Mia 1 sebanyak 30 siswa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa tes, observasi dan wawancara. Teknik analisis data menggunakan model Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan hanya sebagian kecil siswa yang mampu mencapai semua indikator literasi matematis yaitu mengidentifikasi aspek-aspek matematika, mengubah ke dalam model matematika, merancang model untuk menemukan solusi dan menafsirkan hasil matematika ke dalam konteks dunia nyata. Sebagian besar siswa hanya mampu menyelesaikan soal sampai pada tahap membuat model, menerapkan rancangan model dan masih kesulitan dalam menemukan solusi yang tepat dan menafsirkan ke dalam konteks dunia nyata. Penyebab kesulitan tersebut karena dalam pembelajaran siswa kurang dibiasakan mengerjakan soal-soal latihan maupun tugas berkarakteristik PISA yang membutuhkan kemampuan literasi matematis dalam penyelesaiannya.
Nihara Aulyana Utami, Yanuar Hery Murtianto, Nizaruddin Nizaruddin
AKSIOMA : Jurnal Matematika dan Pendidikan Matematika, Volume 11, pp 274-285; doi:10.26877/aks.v11i2.6501

Abstract:
Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan kemampuan representasi matematis ditinjau dari kemampuan berpikir kritis dan kecerdasan emosional. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan subjek tiga siswa kelas VIII yaitu siswa yang memiliki kecerdasan emosional sangat baik dan tidak kritis, siswa yang memiliki kecerdasan emosional baik dan sangat kritis, dan siswa yang memiliki kecerdasan emosional cukup baik dan kritis. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah angket, tes, dan wawancara. Teknik analisis data dilakukan dengan reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Teknik pemeriksaan keabsahan data dengan menggunakan triangulasi metode. Hasil penelitian ini adalah siswa yang memiliki kecerdasan emosional sangat baik dan tidak kritis kurang memiliki kemampuan representasi matematis, karena semua indikator kemampuan representasi matematis yaitu representasi gambar, representasi simbol, maupun representasi verbal kurang terpenuhi. Siswa yang memiliki kecerdasan emosional baik dan sangat kritis memiliki kemampuan representasi matematis karena semua indikator kemampuan representasi matematis terpenuhi dan menonjol pada representasi simbol. Siswa yang memiliki kecerdasan emosional cukup baik dan kritis memiliki kemampuan representasi matematis karena semua indikator kemampuan representasi matematis terpenuhi, dan menonjol pada representasi verbal. Uniknya, subjek yang diambil dalam penelitian ini memiliki kecerdasan emosional yang tidak signifikan dengan kemampuan berpikir kritisnya. Namun, ada pengaruh positif yang signifikan antara kemampuan berpikir kritis siswa terhadap kemampuan representasi matematisnya. Kata kunci: Berpikir Kritis; Kecerdasan Emosional; Representasi Matematis
Yanuar Hery Murtianto, Muhammad Saifuddin Zuhri
AKSIOMA : Jurnal Matematika dan Pendidikan Matematika, Volume 11, pp 296-305; doi:10.26877/aks.v11i2.6731

Abstract:
Kemampuan multipel representasi adalah sebuah keniscayaan bagi mahasiswa. Kemampuan adaptasi pemecahan masalah yang diintegrasikan dengan teknologi menggunakan berbagai kecerdasan ganda juga merupakan bagian penting yang harus dikuasai mahasiswa terutama mahasiswa calon guru. Penelitian ini mencoba mengkaji kemampuan representasi matematis mahasiswa calon guru matematika dalam memahami konsep integral ditinjau dari kecerdasan verbal linguistik. Subyek dalam penelitian ini adalah satu mahasiswa dengan kecerdasan verbal linguistik. Mahasiswa calon guru matematika dengan kecerdasan verbal linguistik diberi tes dengan konsep integral yang tertera didalamnya kemudian diwawancarai. Proses triangulai metode digunakan untuk mengetahui validitas data. Hasil menunjukkan bahwa mahasiswa calon guru matematika dengan kecerdasan verbal linguistik memiliki ragam representasi dalam menyelesaikan permasalahan yang ada dalam tes. Representasi yang muncul meliputi representasi visual, gambar dan ekspresi matematis. Secara mendalam mahasiswa dengan kecerdasan verbal linguistik mampu memahami, merencanakan dan melksanakan penyelesaian dengan memunculkan berbagai representasi dalam satu waktu. Representasi gambar digunakan untuk menguatkan representasi visual yang ada begitu juga dengan representasi ekspresi matematis yang digunakan untuk menguatkan representasi gambar. Kompleksitas manipulasi aljabar dalam ekspresi matematis yang digunakan untuk menguatkan representasi visual dan gambar juga selalu muncul dalam setiap tahapan penyelesaian masalah. Dengan kata lain mahasiswa calon guru matematika yang memiliki kecerdasan verbal linguistik memiliki ragam multi representasi yang bisa digunakan untuk membantu dalam menyelesaikan permalasahan khususnya dalam pemahaman konsep integral.
Gita Aulia Erfani, Mohammad Shaefur Rokhman, Rizqi Amaliyakh Sholikhakh
AKSIOMA : Jurnal Matematika dan Pendidikan Matematika, Volume 11, pp 306-314; doi:10.26877/aks.v11i2.6850

Abstract:
Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan kesalahan yang dilakukan siswa kelas VII dalam menyelesaikan soal cerita matematika materi aritmetika sosial menurut Polya, dan mendeskripsikan faktor-faktor yang menyebabkan kesalahan yang dilakukan siswa kelas VII dalam menyelesaikan soal cerita matematika materi aritmetika sosial menurut Polya. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif. Subjek penelitian adalah siswa kelas VII A SMP Negeri 11 Kota Tegal Tahun Pelajaran 2019/2020. Teknik analisis data yang digunakan adalah reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa kesalahan yang dilakukan siswa, antara lain: (a) pada langkah memahami masalah siswa tidak menuliskan apa yang diketahui dan ditanyakan, (b) Kesalahan menyusun rencana, pada langkah menyusun rencana siswa kurang tepat dalam menyusun langkah-langkah penyelesaian, (c) Kesalahan melaksanakan rencana, pada langkah melaksanakan rencana siswa tidak menuliskan rumus, lupa atau salah menuliskan operasi dalam perhitungan, salah dalam menghitung, dan tidak menuliskan kesimpulan, (d) Kesalahan memeriksa kembali, pada langkah ini siswa tidak memeriksa kembali solusi yang diperoleh, dan kurang tepat memperoleh jawaban akhir. (2) Faktor penyebab kesalahan yang dilakukan siswa, yaitu: (a) Siswa tidak memahami maksud dari soal, (b) Siswa tidak mampu mengaitkan kalimat matematika yang ada pada soal, dan tidak mengetahui langkah mana yang dipilih dalam menyusun rencana, (c) Siswa tidak hafal rumus, tidak teliti dalam proses perhitungan, tidak menuliskan kesimpulan dan konsep dasar perkalian kurang, (d) Siswa tidak memeriksa kembali langkah dalam melaksanakan rencana, (e) Rendahnya motivasi belajar siswa, (f) Terpengaruh dengan teman.
Doni Susanto
AKSIOMA : Jurnal Matematika dan Pendidikan Matematika, Volume 11, pp 365-375; doi:10.26877/aks.v11i2.6874

Abstract:
Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental semu dengan desain faktorial 2x3 yang bertujuan untuk mengetahui manakah model pembelajaran yang memberikan prestasi belajar matematika yang paling baik antara siswa yang diajar dengan menggunakan TTW-TS atau DL-TS ditinjau dari kemandirian belajar siswa . Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa MA Negeri kelas XI di Kabupaten Ngawi pada tahun pelajaran 2019/2020. Teknik pengambilan sampel menggunakan stratified cluster random sampling. Pengumpulan data menggunakan metode dokumentasi, angket kemandirian belajar siswa dan tes prestasi belajar matematika. Teknik analisis data menggunakan anava dua jalan dengan sel tak sama.berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa (1) prestasi belajar matematika siswa yang diajar dengan TTW-TS lebih baik dari DL-TS (2) prestasi belajar matematika siswa dengan kemandirian belajar tinggi, sedang, dan rendah adalah sama (3) pada masing-masing model pembelajaran, Prestasi belajar matematika siswa dengan kemandirian belajar tinggi, sedang, dan rendah adalah sama (4) pada masing-masing kategori kemandirian belajar, prestasi belajar matematika siswa yang diajar dengan TTW-TS lebih baik dari DL-TSKata kunci: Think Talk Write, Pembelajaran langsung, Talking Stick, Kemandirian Belajar
, Aisa Nikmah Rahmatih, , Husniati Husniati
AKSIOMA : Jurnal Matematika dan Pendidikan Matematika, Volume 11, pp 323-334; doi:10.26877/aks.v11i2.6944

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui secara empiris penalaran analogi mahasiswa dalam menyelesaikan masalah matematika berdasarkan gaya berpikir. Jenis penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif. Subjek penelitian sebanyak 32 mahasiswa. Instrumen dalam penelitian ini adalah angket gaya berpikir, soal tes penalaran analogi matematika dan pedoman wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) Kemampuan penalaran analogi mahasiswa yang berada pada kategori rendah sebesar 28%, kategori sedang sebesar 56%, dan pada kategori tinggi sebesar 16%. Mahasiswa yang memiliki kemampuan penalaran analogi tinggi sudah mampu menyelesaikan keempat tahapan penalaran analogi hingga Applying (Apl), mahasiswa yang memiliki kemampuan sedang hanya mampu sampai ke tahap ketiga yaitu Mapping (Map), sedangkan mahasiswa dengan kemampuan rendah hanya mampu sampai ke tahap Inferring (Inf); 2) Dilihat dari pola gaya berpikir mahasiswa didapatkan hasil pola gaya berpikir Sekuensial Konkret (SK) sebesar 34%, pola gaya berpikir Sekuensial Abstrak (SA) sebesar 28%, Acak Konkret (AA) sebesar 34%, dan Acak Konkret (AK) sebesar 3%. Kemampuan tinggi rendahnya penalaran analogi tidak dipengaruhi oleh pola gaya berpikir tertentu, sehingga tidak ada kecenderungan suatu gaya berpikir yang lebih tinggi dalam hasil penalaran analoginya.
Haris Kurniawan, Eva Susanti
AKSIOMA : Jurnal Matematika dan Pendidikan Matematika, Volume 11, pp 186-197; doi:10.26877/aks.v11i2.5342

Abstract:
Penelitian ini didasari pada fokus pembelajaran yang diinginkan pada kurikulum K13, serta arahan dari bapak menteri yang baru Nadiem Makarim yang ni memberikan pembelajaran yang lebih bermanfaat pada siswa dengan melakukan perubahan kecil dimulai dari kelas dan guru masing - masing, dan Hasil PISA 2018, dimana peringkat Indonesia dalam hal literasi matematika menurun. Untuk itu penelitian ini mengangkat ide menggunakan Pendekatan STEM pada pembelajaran matematika, dengan memberikan kesempatan pada siswa untuk menggali dan menemukan pengetahuan dengan dasar pengetahuan yang dimilikinya dan dengan memanfaatkan unsur – unsur ilmu pengetahuan, budaya, keadaan yang ada disekitarnya. Peneliti menggunakan metode penelitian design research. Dengan 3 tahapan penelitian yakni preliminary, teaching experiment, retrospective analysis. Untuk melihat proses penggalian informasi yang siswa gunakan pada saat pembelajaran dengan menggunakan sebuah stimulus. Setelah mendapatkan informasinya kemudian peneliti memberikan sebuah tes atau evaluasi dengan tanpa menggunakan stimulus apapun.
Ranti Kurniasih, Erlyka Setyaningsih
AKSIOMA : Jurnal Matematika dan Pendidikan Matematika, Volume 11, pp 345-354; doi:10.26877/aks.v11i2.5819

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh desain pembelajaran dengan strategi elaborasi dan cara menerapkan pembelajaran dengan strategi elaborasi pada konsep barisan dan deret bagi mahasiswa semester I Program Studi Manajemen Perusahaan Universitas Muhammadiyah Ponorogo tahun ajaran 2019/2020. Dalam proses pembelajaran ini, mahasiswa diberi kesempatan untuk melakukan orientasi, interpretasi, dan memberikan kesimpulan dari pembelajaran yang telah dilakukan. Pada tahap orientasi antara dosen dengan mahasiswa aktif berkomunikasi dalam menentukan arah untuk menyelesaikan permasalahan yang dihadapi. Pada tahap interpretasi, mahasiswa mengkaji masalah yang diberikan melalui kegiatan analisis, diskusi, tanya jawab. Pada akhir pembelajaran, mahasiswa membuat kesimpulan dari apa yang telah mereka dapatkan selama pembelajaran.Pembelajaran dengan strategi elaborasi yang dapat membangun pemahaman konsep konsep barisan dan deret pada mahasiswa semester I kelas B Program Studi Manajemen Perusahaan Universitas Muhammadiyah Ponorogo tahun ajaran 2019/2020 terdiri dari tahap: (1) memberikan orientasi tentang pembelajaran yang akan dilaksanakan, (2) menyampaikan topik dan tujuan pembelajaran, (3) dengan tanya jawab memberi motivasi dan apersepsi mahasiswa, (4) dosen melakukan orientasi kepada mahasiswa dengan memberikan permasalahan yang terkait pengenalan konsep barisan dan deret, (5) mahasiswa melakukan interpretasi dengan berdiskusi dengan temannya dalam menyelesaikan masalah yang diberikan, (6) mahasiswa mempresentasikan hasil kerja yang diperolehnya, (7) mahasiswa saling memberikan orientasi dengan melakukan tanya jawab berdasarkan hasil yang diperolehnya, (8) dosen memberikan orientasi kepada mahasiswa untuk mengklarifikasi masalah yang muncul, (9) mahasiswa membuat kesimpulan terhadap materi yang telah dipelajari, (10) mahasiswa mengerjakan tugas akhir yang diberikan.Dari hasil penelitian ini disimpulkan bahwa bentuk pembelajaran yang dikembangkan dalam penelitian ini berhasil sebagai bentuk pembelajaran yang dapat membangun kemampuan analisis matematika mahasiswa tentang barisan dan deret serta penerapannya dalam ekonomi dan bisnis
Dewi Astutik, Toto Nusantara, Cholis Sa'Dijah, Susiswo Susiswo
AKSIOMA : Jurnal Matematika dan Pendidikan Matematika, Volume 11, pp 229-239; doi:10.26877/aks.v11i2.5998

Abstract:
AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses berpikir siswa dalam menyelesaikan soal berorientasi HOTS pada materi Deret Aritmatika dilihat dari empat tahapan penyelesaian masalah George Polya. Penelitian yang dilakukan berupa penelitian kualitatif deskriptif dengan metode studi kasus. Subjek penelitian studi kasus adalah siswa kelas XI IPS 1 MAN Kota Batu tahun ajaran 2019/2020 dengan keunikan bisa mengerjakan soal berorientasi HOTS dengan benar disertai langkah-langkah pengerjaan yang lengkap dibandingkan dengan siswa dalam kelas yang sama. Pengumpulan data dilakukan dengan metode pemberian tes dan wawancara untuk mengetahui proses berpikir. Hasil penelitian berdasarkan jawaban dan wawancara dengan siswa menunjukkan bahwa siswa melakukan tahapan understanding the problem (walaupun secara tertulis tidak lengkap), devising the plan, dan carrying out the plan, tetapi tidak melakukan tahapan looking back.Kata kunci: proses berpikir; HOTS; deret aritmatika
Wikan Budi Utami, Risma Silviana Putri, Isnani Isnani, Fikri Aulia
AKSIOMA : Jurnal Matematika dan Pendidikan Matematika, Volume 11, pp 286-295; doi:10.26877/aks.v11i2.6536

Abstract:
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui: (1) kemampuan pemahaman matematis peserta didik yang diajar melalui google classroom dapat mencapai KKM melampaui 60%, (2) ada perbedaan kemampuan pemahaman matematis peserta didik yang diajar melalui google classroom dan whatsapp, (3) kemampuan pemahaman matematis peserta didik yang diajar melalui google classroom lebih baik daripada peserta didik yang diajar melalui whatsapp. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen dengan desain Posstest-Only Control Design. Populasi dalam penelitian ini adalah peserta didik kelas VII SMP Negeri 3 Slawi Semester Genap Tahun Pelajaran 2019/2020, teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan Cluster Random Sampling, diperoleh 90 peserta didik untuk sampel. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah dokumentasi dan tes. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) kemampuan pemahaman matematis peserta didik yang diajar melalui google classroom dapat mencapai KKM melampaui 60%, (2) ada perbedaan kemampuan pemahaman matematis peserta didik yang diajar melalui google classroom dan whatsapp, (3) kemampuan pemahaman matematis peserta didik yang diajar melalui google classroom lebih baik daripada peserta didik yang diajar melalui whatsapp
Marhadi Saputro, Matsun Matsun
AKSIOMA : Jurnal Matematika dan Pendidikan Matematika, Volume 11, pp 355-364; doi:10.26877/aks.v11i2.6968

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) Bagaimana kelayakan buku ajar matematika kejuruan berbasis eksprimen berdasarkan ahli materi, (2) Bagaimana kelayakan buku ajar matematika kejuruan berbasis eksprimen berdasarkan ahli media. Penelitian dan pengembangan modul IPA terpadu ini menggunakan prosedur ADDIE Models yang terdiri dari 4 tahap yaitu tahap Analysis (analisis), Design (desain), Development (pengembangan), Implementation (implementasi), dan Evaluating (evaluasi). Analisis data yang digunakan selama proses penelitian dan pengembangan adalah analisis deskriptif, analisis kelayakan buku ajar berdasarkan skor kriteria. Hasil penelitian menunjukkan: (1) Buku ajar matematika kejuruan berbasis eksprimen yang telah di validasi oleh ahli materi dengan keteria layak digunakan dengan nilai rata-rata 72.00. (2) Buku ajar matematika kejuruan berbasis eksprimen yang telah di validasi oleh ahli media dengan keteria layak digunakan dengan nilai rata-rata 73.67. Berdasarkan hasil analisis data disimpulkan bahwa pengembangan buku ajar mateamtika kejuruan berbasis eksprimen layak digunakan di sekolah.
Andes Safarandes Asmara, Depi Prihamdani, Haerudin Haerudin
AKSIOMA : Jurnal Matematika dan Pendidikan Matematika, Volume 11, pp 315-322; doi:10.26877/aks.v11i2.7279

Abstract:
Bahan ajar merupakan salah satu faktor penting dalam keefektifan sebuah pembelajaran terlebih di tingkat Perguruan Tinggi. Kurangnya bahan ajar tentunya dapat memengaruhi kualitas pembelajaran. Technopedagogy salah satu dari sekian banyak cara yang bisa memfasilitasi supaya kriteria dan bahan ajar bisa efektif. Maka peneliti tertarik untuk mengembangkan bahan ajar yang berupa buku ajar berbasis technopedagogy pada mata kuliah konsep dasar matematika. Pendekatan dalam penelitian ini adalah RnD (Research and Development), sedangkan model penelitian pengembangan yang dipilih adalah ADDIE. Pengumpulan data dilaksanakan dengan menggunakan instrumen berupa angket dan pedoman wawancara dengan teknik analisis deskriptif kualitatif. Berdasarkan hasil penelitian bahwa pembelajaran menggunakan buku ajar dapat memudahkan proses pembelajaran sehingga membantu pencapaian ketuntasan kompetensi peserta didik
, Siti Fatimah, Dian Usdiyana
AKSIOMA : Jurnal Matematika dan Pendidikan Matematika, Volume 11, pp 93-104; doi:10.26877/aks.v11i1.6011

Abstract:
Geometry is one of branches of mathematics that can develop deductive thinking ability for anyone, including students of prospective mathematics teachers, who learning it. This deductive thinking ability is needed by prospective mathematics teachers for their future careers as mathematics educators. This research therefore aims to investigate the influence of the learning process of a geometry course toward deductive reasoning ability of students of prospective mathematics teachers. To do so, this qualitative research was carried out through an observation of the learning process and assessment of the geometry course, involving 56 students of prospective mathematics teachers, in one of mathematics education program, in one of state universities in Bandung. A geometry topic observed in the learning process was the Ceva’s theorem, and the assessment was in the form of an individual written test on the application of the Ceva’s theorem in a proving process. The results showed that the learning process emphasizes on proving of theorems and mathematical statements. In addition, the test revealed that ten students are able to use the Ceva’s theorem in a proving process and different strategies of proving are found, including the use of properties of similarity between triangles and of the concept of trigonometry. This indicates a creativity of student deductive thinking in proving process. In conclusion, the geometry course that emphasizes on proving of theorems and mathematical statements has influenced on filexibility of student deductive thinking in proving processes.
Eva Susanti, Haris Kurniawan
AKSIOMA : Jurnal Matematika dan Pendidikan Matematika, Volume 11, pp 37-52; doi:10.26877/aks.v11i1.5292

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan lintasan belajar siswa pada materi pelajaran matematika pola bilangan berdasarkan pembelajaran Project Based Learning (PjBL) dengan pendekatan STEM (science, Technology, Engineering, mathematics). Penelitian ini merupakan penelitian design research yang terdiri dari tiga tahapan, yaitu : preliminary design, design experiment, retrospective analysis. Subjek penelitian terdiri dari 32 siswa kelas VIII.7 SMP Negeri 27 Palembang. Pengumpulan data dilakukan menggunakan lembar observasi, wawancara, rekaman video, foto, dan lembar aktivitas siswa. Semua data dikumpulkan dan dianalisis secara retrospective yang beracuan pada HLT (Hypothetical Learning Trajectory). Hasil analisis data menyimpulkan bahwa peneltian ini telah menghasilkan lintasan belajar materi pola bilangan kelas VIII yang valid dan reliable. Validitas tergambar dari HLT dan trackability. Dan reabilitas dilihat dari triangulasi data yang dilihat dari catatan lapangan, lembar observasi, dan rekaman video. Dari hasil analisis data disimpulkan bahwa lintasan belajar materi pola bilangan model pembelajaran PjBL pendekatan STEM membuat aktivitas pembelajaran siswa lebih aktif dan antusias, mengajak siswa untuk kreatif dalam berkreasi, aktif dalam berdiskusi, dan siswa memiliki kemampuan komunikasi presentasi atas hasil kerja kelompoknya menyelesaikan tugas proyek.
Dewi Krisyanti, Fika Widya Pratama
AKSIOMA : Jurnal Matematika dan Pendidikan Matematika, Volume 11, pp 105-115; doi:10.26877/aks.v11i1.6091

Abstract:
Penelitian ini akan membandingkan model pembelajaran Make a Match (MaM) dengan model pembelajaran Teams Games Tournament (TGT). Tujuan dari penelitian ini: 1) untuk mengetahui diantara model pembelajaran Make a Match dan TGT yang menghasilkan hasil belajar yang lebih baik 2) untuk mengetahui diantara tingkat kecemasan tinggi, sedang, dan rendah yang menghasilkan hasil belajar yang lebih baik 3) untuk mengetahui pada masing-masing model pembelajaran, dengan tingkat kecemasan mana yang menghasilkan hasil belajar yang lebih baik 4) untuk mengetahui pada masing-masing tingkat kecemasaan, dengan model pembelajaran mana yang menghasilkan hasil belajar yang lebih baik. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen semu. Penelitian dilakukan di SMP N 7 Salatiga kelas VIII tahun ajaran 2019/2020. Teknik pengumpulan data menggunakan dokumen, tes dan angket. Penelitian ini menggunakan program SPSS 17.0 sebagai alat bantu pengolahan data. Uji yang digunakan meliputi uji normalitas, uji homogen, uji keseimbangan rerata dan uji anava dua jalur. Hasil dari penelitian ini: (1) model pembelajaran TGT menghasilkan prestasi belajar lebih baik dibandingkan model pembelajaran Make a Match, (2) siswa dengan tingkat kecemasan rendah menghasilkan prestasi belajar yang lebih baik dibandingkan siswa dengan tingkat kecemasan sedang atau tinggi, (3) dengan model pembelajaran TGT maupun model pembelajaran Make a Match dengan tingkat kecemasan yang sama menghasilkan hasil belajar yang sama, (4) siswa dengan tingkat kecemasan dikenai dengan model pembelajaran TGT ataupun Make a Match menghasilkan hasil belajar yang sama.
Mohammad Rio, Heni Pujiastuti
AKSIOMA : Jurnal Matematika dan Pendidikan Matematika, Volume 11, pp 70-81; doi:10.26877/aks.v11i1.6105

Abstract:
Tujuan penelitian Penelitian deskriptif kualitatif ini dirancang untuk mendeskripsikan kemampuan pemecahan masalah yang dilakukan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Subjek pada penelitian ini adalah siswa kelas VIII SMP 1 SMP 1 Kadu Hejo yang memenangkan 7 siswa. Teknik yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah teknik tes, sedangkan teknik yang digunakan untuk menganalisis data menggunakan persentase. Hasil persentase penelitina menunjukkan soal per nomor dengan indikator soal menunjukkan persentase 74%, untuk soal per nomor dengan indikator menunjukkan strategi persentase 75%, sedangkan soal per nomor untuk indikator menyelesaikan masalah menunjukkan persentase 74%, dan untuk indikator lihat kembali setap soal per angka menunjukkan persentase 63%.
Lely Suryani, Agnes Pendi, Stefania B. Seto
AKSIOMA : Jurnal Matematika dan Pendidikan Matematika, Volume 11, pp 17-26; doi:10.26877/aks.v11i1.6010

Abstract:
Kesuksesan mahasiswa belajar diperguruan tinggi sangat dipengaruhi oleh semangat hidup yang tinggi, dan rasa optimis yang besar terhadap kesuksesan. Kesuksesan akan diraih oleh mahasiswa jika mahasiswa tersebut mampu untuk mengatasi kesulitan-kesulitan yang mungkin terjadi pada saat perkuliahan. Salah satu kesulitan yang juga berperan penting bagi mahasiswa untuk meraih kesuksesan adalah efikasi diri dan kemandirian belajar. Setiap mahasiswa mempunyai kesulitan yang berbeda-beda, baik dalam hal mata kuliah maupun dalam hal penerimaan metode pembelajaran yang diberikan. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk melihat sejauh mana Pengaruh efikasi diri dan kemandirian belajar siswa terhadap hasil belajar mata kuliah geometri dasar program studi pendidikan matematika universitas Flores. Penelitian ini merupakan penelitian explanatory yang menjelaskan hubungan kausal antara variable-variabel yang mempengaruhi hipotesis atau teori yang menjelaskan mengapa suatu fenomena terjadi. Fenomena dalam penelitian ini adalah efikasi diri dan kemandirian belajar mahasiswa. Hasil penelitian ini menunjukkan Efikasi Diri (X1) dan Kemandirian Belajar (X2) mempunyai pengaruh yang positif terhadap Hasil Belajar (Y) diketahui dari hasil analisis korelasi diperoleh dari nilai R hitung untuk X1 terhadap Y sebesar 0.607 dan X2 terhadap Y nilai R hitung diperoleh sebesar 0.583 dan nilai signifikansi antara X1 dan X2 terhadap Y diperoleh dua tanda bintang (**) sehingga ada pengaruh positif dengan taraf signifikansi 1 %.. Dengan kata lain semakin meningkatnya atau semakin baiknya Efikasi Diri dan Kemandirian Belajar maka akan meningkat pula hasil belajar dari mahasiswa itu sendiri. Kata kunci : Efikasi Diri; Hasil Belajar; Geometri Dasar
Leila Aseana
AKSIOMA : Jurnal Matematika dan Pendidikan Matematika, Volume 11, pp 163-173; doi:10.26877/aks.v11i1.5450

Abstract:
This study aims to describe the process of detection of emotional regulation ofstudents in achieving the ability to understand concepts in PKBM studentsPackage C. Data collection was done by questionnaire and Mathematics ConceptUnderstanding tests. This research is an analytical survey with Crossectionalapproach, the sample is taken by purposive sampling technique that is as manyas 3 respondents. The instruments used in this study were questionnaire and testresult sheet. This study is recommended to find out the regulation of emotions inachieving the ability of students to understand concepts in PKBM Package CKeywords: Emotion regulation, concept understanding
Jumadi Jumadi
AKSIOMA : Jurnal Matematika dan Pendidikan Matematika, Volume 11, pp 174-185; doi:10.26877/aks.v11i1.5380

Abstract:
This study aims to analyze the relationship between IQ test results and studentintelligence in learning mathematics through the Multiple Intelligence Theory.This research is a qualitative study which uses primary references forintelligence in mathematics learning and correlates with IQ tests based onmultiple intelligence theory.The results of research that discusses the theory of Multiple Intentions that areable to change the view of intelligence as seen from the results of IQ tests are nolonger relevant because IQ tests only discuss intelligence intelligence,mathematics and language. IQ tests only support math-intelligence andlanguage, while learning mathematics involves not only intelligence andlanguage. If the school wants to implement Multiple Intelligences in itseducation system, then it needs help from each teacher to ask to start and ask toput all his skills and creativity into teaching.Keywords: Multiple intelligence, multiple intelligence, IQ, mathematicalintelligence
Anis Umi Khoirotunnisa
AKSIOMA : Jurnal Matematika dan Pendidikan Matematika, Volume 11, pp 151-162; doi:10.26877/aks.v11i1.4917

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran reciprocal teaching terhadap kemampuan komunikasi matematis siswa kelas VII SMP N 1 Kasiman pada pokok bahasan segiempat tahun pelajaran 2018/2019. Penelitian ini termasuk jenis penelitian kuantitatif dengan menggunakan metode eksperimen.Populasi penelitian ini adalah semua siswa kelas VII SMP N 1 Kasiman.Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik cluster random sampling.Dari 8 kelas terambil secara acak 2 kelas sebagai sampel. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 60 siswa dari 30 siswa kelas VII-E sebagai kelas eksperimen dan 30 siswa kelas VII-F sebagai kelas kontrol. Teknik pengumpulan data menggunakan 5 soal tes kemampuan komunikasi matematis yang berbentuk uraian yang sudah di uji validitas, dengan reliabilitas 0,81 merupakan reliabilitas sangat tinggi. Berdasarkan perhitungan uji prasarat diperoleh data yang normal untuk kelas kontrol dan eksperimen, dari uji homogenitas dan dengan taraf signifikansi 5% (tobs< ttabel ). Jadi diperoleh data yang homogen. Pada uji keseimbangan tobs = 0,002 sedangkan pada ttabel = 2,002 dengan taraf signifikansi 5% (tobs ttabel ). Maka dari hasil perhitungan statistik tersebut H0 ditolak dan H1 diterima. Sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh model pembelajaran reciprocal teaching terhadap kemampuan komunikasi matematis siswa kelas VII SMP N 1 Kasiman pada pokok bahasan segiempat tahun pelajaran 2018/2019
Anik Nur Laily, Ari Indriani, Novi Mayasari
AKSIOMA : Jurnal Matematika dan Pendidikan Matematika, Volume 11, pp 27-36; doi:10.26877/aks.v11i1.4078

Abstract:
Permasalahan dalam penelitian ini adalah sebagian besar siswa kelas VII SMP Negeri 1 Sumberrejo mempunyai kemampuan komunikasi matematis yang masih rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe script terhadap kemampuan komunikasi matematis siswa pada pokok bahasan segiempat kelas VII SMP Negeri 1 Sumberrejo Bojonegoro tahun pelajaran 2018/2019. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian eksperimen semu (Quasi Eksperimental Research). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VII SMP Negeri 1 Sumberrejo Bojonegoro tahun pelajaran 2018/2019 yang berjumlah 288 siswa. Sampel penelitian ini adalah kelas VII-A dengan jumlah 32 siswa sebagai kelas eksperimen dan kelas VII-B dengan jumlah 32 siswa sebagai kelas kontrol. Teknik pengambilan sampel penelitian ini adalah teknik Cluster Random Sampling. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode wawancara, metode dokumentasi, dan metode tes. Instrumen penelitian yang digunakan adalah soal tes kemampuan komunikasi matematis siswa. Teknik analisis data atau pengujian hipotesis menggunakan teknik statistik dengan uji t dan dilakukan analisis uji prasyarat dengan uji Lilliefors untuk uji normalitas, uji Bartlett untuk uji homogenitas serta uji t untuk uji keseimbangan. Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan maka dapat disimpulkan kemampuan komunikasi matematis siswa selama diterapkan model pembelajaran kooperatif tipe script didapat thitung = 3,275 > ttabel = 2,297 sehingga thitung DK maka H0 ditolak, artinya ada pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe script terhadap kemampuan komunikasi matematis siswa pada pokok bahasan segiempat kelas VII SMP Negeri 1 Sumberrejo Bojonegoro tahun pelajaran 2018/2019.Kata kunci: Script, Kemampuan Komunikasi Matematis
Junaidah Wildani, Illah Winiati Triyana, Wilda Mahmudah
AKSIOMA : Jurnal Matematika dan Pendidikan Matematika, Volume 11, pp 141-150; doi:10.26877/aks.v11i1.3779

Abstract:
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya literasi matematis siswa di Indonesia berdasarkan hasil PISA. Sehingga tujuan penelitian ini adalah untuk mengembangkan lembar kerja siswa (LKS) berbasis literasi matematis pada materi statistika yang valid dan praktis. Penelitian ini dilaksanakan di SMPN 1 Gresik pada bulan Mei 2019. Jenis penelitian ini adalah penelitian pengembangan yang dikemukakan oleh Plomp. Tahapan penelitian meliputi tahap penelitian awal dan tahap pengembangan. Pada tahap penelitian awal, dilakukan analisis konteks dan kebutuhan yang menghasilkan kesimpulan bahwa perlu dikembangkannya LKS berbasis literasi untuk membiasakan siswa dengan masalah-masalah literasi. Perancangan dan pengembangan LKS dilakukan pada tahap pengembangan. Begitu juga dengan evaluasi validitas dan kepraktisan LKS. Validitas LKS dievaluasi secara formatif oleh dua orang ahli dengan bantuan lembar validasi. Sedangkan kepraktisan LKS dievaluasi melalui kegiatan forum group discussion (FGD) bersama enam orang siswa dengan kemampuan tinggi, sedang dan rendah. Setelah melalui revisi, LKS dinyatakan valid oleh kedua ahli. Pada kegiatan FGD, siswa dan peneliti mendiskusikan apa yang tidak mereka pahami pada LKS. Setelah LKS direvisi berdasarkan hasil diskusi pada FGD, siswa menyatakan LKS dapat digunakan sehingga LKS dinyatakan telah memenuhi syarat kepraktisan. Kata kunci: literasi matematis; penelitian pengembangan; LKS
Siska Candra Ningsih, Tunjung Dyah Ovi Pramaeda
AKSIOMA : Jurnal Matematika dan Pendidikan Matematika, Volume 11, pp 116-130; doi:10.26877/aks.v11i1.5576

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas model pembelajaran Discovery Learning berbantuan E-learning ditinjau dari kemampuan pemecahan masalah matematika. Penelitian dilaksanakan di SMP Negeri I Wangon. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen semu (quasi experimental) dengan desain penelitian yang digunakan adalah Pretest-Posttest Control Group Design. Pengambilan sampel menggunakan teknik simple random sampling. Sampel dari penelitian ini adalah kelas VIIIA sebagai kelas eksperimen yang diberikan perlakuan pembelajaran dengan model pembelajaran Discovery Learning berbantuan E-Learning dan kelas VIIIB sebagai kelas kontrol dengan pembelajaran seperti yang biasa dilakukan yaitu dengan pembelajaran langsung. Berdasarkan hasil akhir penelitian menunjukkan bahwa model pembelajaran Discovery Learning berbantuan E-learning lebih efektif digunakan dibanding dengan pembelajaran langsung dalam pencapaian kemampuan pemecahan masalah matematika siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Wangon. Kemampuan pemecahan masalah siswa yang mendapatkan pembelajaran dengan model pembelajaran Discovery Learning berbantuan E-Learning lebih baik daripada kemampuan pemecahan masalah siswa pada kelas dengan pembelajaran langsung. Keefektifan model pembelajaran Discovery Learning berbantuan e-learning disebabkan oleh sintak model pembelajaran Discovery Learning berbantuan e-learning yaitu sebelum proses pembelajaran dimulai siswa mengunduh terlebih dahulu materi dan LKS yang diupload di web, sehingga pada saat pembelajaran di kelas siswa sudah siap dengan materi pembelajaran. Pembelajaran dengan bantuan e-learning ini siswa bisa memanfaatkan waktu kosong mereka untuk berkunjung ke laman web dan belajar di dalam e-learning dengan mudah. Serta dalam pengumpulan tugas siswa juga dipermudah dengan cara langsung mengupload tugas tersebut di web. Guru juga bisa langsung mengecek dan menilai tugas yang telah dikirim oleh siswa.
Yus Mochamad Cholily, Sitti Karimah Sulfiah, Putri Ayu Kusgiarohmah
AKSIOMA : Jurnal Matematika dan Pendidikan Matematika, Volume 11, pp 63-69; doi:10.26877/aks.v11i1.5207

Abstract:
Mahasiswa sebagai calon guru harus memiliki kemampuan dalam melakukan pembuktian matematis. Kemampuan tersebut berfungsi untuk meyakinkan seseorang akan suatu rumus ataupun teorema. Semakin tinggi kemampuan mahasiswa dalam melakukan pembuktian akan berdampak pada peningkatan keterampilan pembuktian matematika siswa. Secara umum metode pembuktian yang dikenal oleh siswa adalah pembuktian secara langsung dan tidak langsung. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kemampuan mahasiswa dalam melakukan pembuktian ditinjau dari proses sistematisasi. Penelitian ini juga bertujuan untuk mengetahui faktor apa saja yang mempengaruhi kemampuan siswa dalam melakukan pembuktian matematis. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Hasil penelitian yang dijelaskan secara deskriptif menunjukkan bahwa kemampuan pembuktian mahasiswa ditinjau dari proses sistematisasi masih lemah, mahasiswa belum memahami perbedaan antara rumus, definisi, teorema ataupun sifat. Selain itu, mahasiswa juga belum mengaitkan definisi, sifat, ataupun teorema yang relevan dengan pembuktian yang dilakukan. Akibatnya mahasiswa menyelesaikan soal dengan cara coba-coba. Salah satu faktor yang mempengaruhi hal tersebut yaitu kurangnya latihan dalam mengerjakan soal yang berbasis pembuktian matematika.
Nopi Yanti, Ety Septiati, Nyiayu Fahriza Fuadiah
AKSIOMA : Jurnal Matematika dan Pendidikan Matematika, Volume 11, pp 53-62; doi:10.26877/aks.v11i1.4953

Abstract:
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh fokus guru menyampaikan materi mengacu pada dokumen bahan ajar berupa buku paket atau buku-buku referensi saja. Dengan demikian, tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis hambatan belajar yang terkait dengan materi belah ketupat SMP dan faktor-faktor penyebabnya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Analisis LO dilakukan dengan Analisis Kurikulum, Analisis RPP, Analisis Bahan Ajar, Wawancara terhadap guru mata pelajaran dan memberikan tes berupa tes diagnostik pada kelas VIII SMP Negeri 31 Palembang. Dari hasil analisis, hambatan yang ditemukan menunjukkan adanya ontogenical obstacles, didactical obstacles, dan epistemological obstacles pada pembelajaran belah ketupat. Berdasarkan Hasil Penelitian LO yang muncul adalah LO pada konsep garis yang tegak lurus, LO konsep satuan luas, dan LO Konsep luas belah ketupat.
Nurul Ula, Sri Hartatik, Nafiah Nafiah, Akhwani Akhwani
AKSIOMA : Jurnal Matematika dan Pendidikan Matematika, Volume 11, pp 82-92; doi:10.26877/aks.v11i1.6223

Abstract:
Siswa yang memiliki minat belajar tinggi merupakan impian setiap pendidik, tetapi dalam proses belajar mengajar pendidik juga harus mampu memberikan pengajaran dengan baik dan menyenangkan, sehingga siswa tidak mengalami kebosanan. Para pendidik harus mempersiapkan dorongan ketika kegiatan belajar mengajar berlangsung, seperti penggunaan media visual. Artikel ilmiah ini bertujuan untuk mengetahui meta-analisis pengaruh media visual terhadap minat belajar siswa SD pada pembelajaran matematika. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian meta-analisis, kemudian pada teknik pengumpulan data menggunakan dokumen tertulis dan populasi yang berasal dari buku, jurnal dan artikel. Kemudian sampel yang digunakan adalah purposive sampling ditentukan sesuai pembahasan artikel ini, sebanyak 20 artikel. Selanjutnya data dianalisis menggunakan prosentase diagram, tabel dan dianalisis secara kualitatif. Hasil artikel ini menunjukkan bahwa 1. Media proyeksi diam banyak digunakan dan berpengaruh terhadap minat belajar siswa pada pembelajar matematika, dengan prosentase sebesar 60%. 2. Subjek siswa SD banyak dijadikan penelitian, dengan 16 subjek siswa SD dalam 20 artikel. 3. Metode yang banyak digunakan adalah kuantitatif dengan jumlah 8 data kuantitatif. 4. Dan analisis data yang banyak digunakan adalah deskriptif kualitatif, dengan prosentase 40,0. 5. Hasil rata-rata sebelum diberikan media visual 59,34 dan meningkat 15,4 kemudian hasil akhir menjadi 74,7.
Maria Ulpah, Zaenurrohman Zaenurrohman
AKSIOMA : Jurnal Matematika dan Pendidikan Matematika, Volume 11, pp 1-8; doi:10.26877/aks.v11i1.3749

Abstract:
Pemahaman konsep matematika di SMP Negeri 2 Patikraja masih sangat rendah, terutama dalam pemahaman konsep bangun ruang. Berkaitan dengan hal ini, perlu adanya inovasi dalam penyampaian materi pembelajaran, salah satunya dengan menggunakan model pembelajaran yang mendorong peserta didik untuk lebih aktif dalam proses belajar mengajar di kelas yaitu reciprocal teaching. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan efektifitas penggunaan model reciprocal teaching dalam meningkatkan pemahaman konsep matematika siswa SMP. Penelitian ini berjenis quasi experimen dengan menggunakan rancangan penelitian nonequivalent control group design. Adapun instrument yang digunakan untuk mengukur pemahaman konsep adalah tes yang terdiri dari soal-soal uraian. Tes diberikan sebelum dan setelah pembelajaran, lalu dianalisis dengan menggunakan n-gain. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model pembelajaran reciprocal teaching efektif dalam meningkatkan pemahaman konsep siswa. Hal ini terlihat dari n-gain kelompok eksperimen yang berada pada kategori sedang yaitu 0.463, sedangkan rata-rata n-gain kelompok kontrol adalah 0.259 yang termasuk pada kategori rendah.Kata kunci: pemahaman konsep, reciprocal teaching, matematika.
Arifah Indah Setyorini, Abdul Aziz Saefudin
AKSIOMA : Jurnal Matematika dan Pendidikan Matematika, Volume 11, pp 131-140; doi:10.26877/aks.v11i1.5609

Abstract:
Penelitian ini merupakan penelitian Research and Development (RnD) yang bertujuan untuk menghasilkan LKS (Lembar Kerja Siswa) dengan Pendekatan Scientific yang berkualitas untuk Memfasilitasi Kemampuan Pemahaman Konsep Matematis Siswa SMP Kelas VIII pada Materi Pola Bilangan. Prosedur pengembangan yang digunakan adalah prosedur pengembangan ADDIE (Analysis, Design, Development, Implementation, Evaluation). Hasil penelitian menunjukkan bahwa telah dihasilkan LKS (Lembar Kerja Siswa) dengan Pendekatan Scientific yang berkualitas valid, praktis, dan efektif. LKS (Lembar Kerja Siswa) dengan Pendekatan Scientific bertujuan untuk Memfasilitasi Pemahaman Konsep Matematis Siswa SMP Kelas VIII pada Materi Pola Bilangan. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa: (1) Kualitas LKS yang dikembangkan dinyatakan valid dengan rata-rata skor 3,08 dari skor maksimal ideal 4. (2) Berdasarkan data yang diperoleh LKS dengan pendekatan scientific dinyatakan praktis, dengan rata-rata skor respon guru terhadap LKS dengan pendekatan scientific sebesar 3,19 dari skor maksimal ideal 4, respon siswa terhadap LKS dengan pendekatan scientific memperoleh rata-rata skor 3,18 dari skor maksimal ideal 4, analisis respon positif siswa memperoleh persentase sebesar 80,81%, dan hasil observasi keterlaksanaan pembelajaran memperoleh rata-rata persentase keterlaksanaan sebesar 92,5%. (3) Berdasarkan hasil posttest, LKS dinyatakan efektif dan dikatakan telah berhasil memfasilitasi kemampuan pemahaman konsep matematis siswa pada materi Pola Bilangan dengan persentase siswa yang memperoleh nilai posttest lebih dari atau sama dengan KKM mencapai 71,88%.
Zulaiha Rahasia, Resmawan Resmawan, Dewi Rahmawaty Isa
AKSIOMA : Jurnal Matematika dan Pendidikan Matematika, Volume 11, pp 9-16; doi:10.26877/aks.v11i1.4903

Abstract:
Spline is one of the nonparametric approach, to adjust data so the final model has good flexibility. The purpose of this research is to model the time series data in the form of currency exchange rates by using the nonparametric B-spline approach. In B-spline modelling, determination of the order for the model, and the number and the placement of the knot are the criteria that must be considered. The best B-spline model obtained based on the selection of the optimal knot points with minimum Generalized Cross Validation (GCV) criteria. The modelling in this research use data on the exchange rate of the rupiah toward the US dollar in the period January 2014 - December 2018. The best B-spline model obtained by the 2 point knot approach, at points 11935.10 and 12438.29, with GCV valueequals to 55683.09.Keywords: Nonparametric Regression; B-Spline; Generalized Cross Validation
I Putu Ade Andre Payadnya, Ida Bagus Ketut Perdata, Putu Yudi Antara
AKSIOMA : Jurnal Matematika dan Pendidikan Matematika, Volume 10, pp 285-293; doi:10.26877/aks.v10i2.4732

Abstract:
AbstrakJenis penelitian ini merupakan penelitian eksperimen semu (quasi experimental), desain penelitian yang digunakan adalah Post-test Only Control Design. Populasi dari penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X SMAN 6 Denpasar tahun pelajaran 2018/2019. Sempel diambil dengan teknik Cluster Random Sampling, diperoleh 2 kelas yaitu kelas X IPA 3 sebagai kelompok kontrol dan kelas X IPA 4 sebagai kelompok eksperimen dengan total sampel sebanyak 83 siswa. Data dianalisis menggunakan t-test satu pihak (pihak kanan) dengan taraf signifikansi 5%. Rata-rata hasil belajar siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran kooperatif tipe TAI berbantuan media powerpoint () adalah 80,00 sedangkan rata-rata hasil belajar siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran konvensional () adalah 73,7. Hasil analisis data penelitian menunjukkan bahwa thitung > ttabel yaitu 4,01 > 1,98969. Diperoleh thitung > ttabel maka H0 ditolak dan Ha diterima. Berdasarkan hasil tersebut terlihat bahwa hasil belajar kelompok eksperimen yang diajar dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe TAI (Team Assisted Individualization) berbantuan media powerpoint lebih baik daripada kelompok control yang diajar dengan model pembelajaran konvensional pada siswa kelas X SMAN 6 Denpasar tahun pelajaran 2018/2019. Penyebab lebih baiknya nilai rata-rata siswa pada kelas eksperimen dikarenakan model pembelajaran kooperatif tipe TAI (Team Assisted Individualization) adalah salah satu tipe atau model pembelajaran kooperatif yang mudah diterapkan, melibatkan, aktivitas seluruh siswa tanpa harus ada perbedaan status, melibatkan peran siswa sebagai tutor sebaya dan reinforcement.Kata kunci: Perbedaan, Hasil Belajar, Kooperatif, TAI, Konvensional. AbstractThis type of research is quasi-experimental research, the research design used is "Post-test Only Control Design". The population of this study was all students of class X SMAN 6 Denpasar in 2018/2019 academic year. The sample was chosen with the Cluster Random Sampling technique, obtained 2 classes namely Class X IPA 3 as a control group and Class X IPA 4 as an experimental group with a total of 83 students. Data were analyzed using a one-tail t-test (right tail) with a significance level of 5%. The average student learning outcomes taught by the TAI type cooperative learning model assisted by powerpoint media (1) is 80.00 while the average student learning outcomes taught by conventional learning models (2) are 73.7. The results of the analysis of the research data show that tcount> ttable is 4.01> 1.98969. Obtained tcount >ttable then H0 is rejected and Ha is accepted. Based on these results it can be seen that the experimental group learning outcomes taught using the cooperative learning model TAI (Team Assisted Individualization) assisted by powerpoint media are better than the control group taught with conventional learning models in class X students of SMAN 6 Denpasar in the 2018/2019 academic year. The reason for the better average scores of students in the experimental class is because the cooperative learning model type TAI (Team Assisted Individualization) is one type or model of cooperative learning that is easy to apply, involves, activities of all students without having differences in status, involving the role of students as tutors peer and reinforcement.Keywords: Differences, Results, Learning, Model, TAI, Conventional.
I Wayan Sumandya
AKSIOMA : Jurnal Matematika dan Pendidikan Matematika, Volume 10, pp 244-253; doi:10.26877/aks.v10i2.4704

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh skenario pembelajaran matematika berbasis vokasional berukailtas valid, praktis dan evektif. Penelitian dilakukan di SMK Wira Harapan. Jenis penelitian yang digunakan adalaha penelitian dan pengembangan (Reseach dan Development). Langkah-langkah penelitian dan pengembangan berpedoman pada model ADDIE terdiri dari: Analysis, Design, Development, Implementation, dan Evaluation. Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini adalah skenario pembelajaran matematika berbasis vokasional berkualitas valid, praktis dan efektif. Berdasarkan penilaian para ahli materi menunjukan angka rata-rata 3,55 dan 3,42 untuk ahli pembelajaran, termasuk kriteria “valid”. Hasil Angket respons siswa pada tahap implementasi diperoleh rata-rata 3,68 dengan kriteria “praktis”. Skenario pembelajaran dikatakan efektif berdasarkan ketuntasan siswa sebesar 84,2% dari 38 orang siswa.
Ranti Kurniasih
AKSIOMA : Jurnal Matematika dan Pendidikan Matematika, Volume 10, pp 261-276; doi:10.26877/aks.v10i2.3775

Abstract:
ABSTRAK Pembelajaran matematika di Mts Wali Songo Ngabar kabupaten Ponorogo jenjang kelas VIII menunjukkan adanya permasalahan antara lain masih adanya kecenderungan kegiatan pembelajaran yang masih berpusat pada guru (teacher centered) dan rendahnya hasil belajar matematika siswa. Berdasarkan kondisi tersebut perlu adanya peningkatan dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran. Proses pembelajaran matematika yang inovatif dapat menarik minat siswa dalam pembelajaran, sehingga pembelajaran terasa menyenangkan. Salah satu alternatif strategi pembelajaran yang dapat diterapkan adalah tipe pembelajaran kooperatif Teams Games Tournament (TGT) yang memadukan pembelajaran dengan permainan. Tujuan penelitian ini adalah menghasilkan pembelajaran kooperatif tipe TGT untuk meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas VIII di Mts Wali Songo Ngabar. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan menerapkan pembelajaran kooperatif tipe TGT yang digunakan peneliti dengan melakukan modifikasi dari teori Slavin yang diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Adapun tahapan yang digunakan oleh peneliti adalah tahap penyajian kelas, tahap belajar tim, tahap permainan, tahap turnamen dan tahap penghargaan KEY WORD : Pembelajaran kooperatif tipe TGT, hasil belajar
Page of 4
Articles per Page
by
Show export options
  Select all
Back to Top Top