Refine Search

New Search

Results in Journal Agrin: 70

(searched for: journal_id:(1940948))
Page of 2
Articles per Page
by
Show export options
  Select all
Wahyu Febriyono, Affiatin Rahmah
Abstract:
Gulma siam memiliki potensi untuk dijadikan pupuk kompos yang dapat digunakan pada tanaman selada di tanah ultisol. Penelitian ini bertujuan untuk : mengevaluasi penggunaan kompos gulma siam di tanah ultisol dan menentuka dosis terbaik untuk pertumbuhan tanaman selada di tanah ultisol. Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok lengkap. Perlakuan yang dicoba adalah jenis pupuk kompos (P1 danP2), kemudian dosis yang digunakan (D0, D1, D2, dan D3). Variabel yang diamati adalah : tinggi tanaman, jumlah daun, bobot segar tanaman, bobot kering tanaman, bobot segar akar, bobot kering akar, total panjang akar, luas daun, laju asimilasi bersih dan laju pertumbuhan tanaman. Dari hasil penelitian diambil kesimpulan bahwa : tanaman selada tumbuh baik di tanah ultisol dengan pupuk gulma siam, dosis D2 adalah dosis terbaik untuk pertumbuhan tanaman selada di tanah ultisol.Kata kunci: kompos gulma siam, selada, ultisol
Dwi Haryanta, Elika Joeniarti
Abstract:
Tanaman bintaro berpotensi sebagai bahan insektisida botani. Kajian tentang pemanfaatan daun bintaro untuk pengendalian hama belum banyak dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh ekstrak daun bintaro terhadap biologi serangga Spodoptera litura, sehingga dapat diketahui peluang pemanfaatannya untuk mengendalikan populasi hama tersebut di lapangan. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan perlakuan tunggal berupa konsentrasi ekstrak daun bintaro yaitu, 0% (kontrol); 2,5%; 5,0%; 7,5%; 10%; dan 12,5%. Penelitian dilakukan melalui beberapa tahap di antaranya pembuatan ekstrak daun bintaro, pemeliharaan ulat grayak, dan uji kemanjuran ekstrak daun bintaro. Parameter pengamatan meliputi mortalitas hama, umur stadia, dan jumlah konsumsi pakan.Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun bintaroberpengaruh terhadap mortalitas serangga S. lituraF., memperpanjang masa stadia larva, mempersingkat masa stadia pupa, menurunkan persentase keberhasilan larva menjadi pupa, menurunkan kualitas imago, dan tidak berpengaruh terhadap selera makan.Kata kunci: biologi serangga, daun bintaro, insektisida botani, ulat grayak
Nur Kholida Wulansari, Ratna Dwi Hirma Windriyati, Ari Kurniawati
Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan formulasi nutrisi AB-Mix, pupuk organik cair dan pupuk hayati pada sistem hidroponik tetes untuk tanaman tomat ceri. Penelitian dilakukan di screen house di Dusun Gunungmalang, Kecamatan Serang, Kabupaten Purbalingga pada ketinggian 1400 m dari permukaan laut pada bulan Agustus – September 2020. Perlakuan dicoba yaitu P1(100% dosis AB-Mix), P2 (75% dosis AB-Mix + POC + pupuk hayati), P3(50% dosis AB-Mix + POC + pupuk hayati), P4 (25% dosis AB-Mix + POC + pupuk hayati), dan P5 (0% dosis AB-Mix + POC + pupuk hayati). Rancangan perlakuan yang digunakan yaitu rancangan acak kelompok (RAK) dengan 6 ulangan. Variabel yang diamati adalah tinggi tanaman dan jumlah cabang. Hasil peneltian menunjukkan formulasi nutrisi 75% AB Mix + POC + Pupuk Hayati dapat digunakan untuk mengurangi penggunaan nutrisi AB-mix pada budidaya tomat ceri sistem hidroponik tetes pada media cocopeat. Kata kunci: formulasi nutrisi, hidroponik tetes, tomat ceri
Ayu Selpiya, Nanik Setyowati, Fahrurrozi Fahrurrozi
Agrin, Volume 24, pp 97-100; https://doi.org/10.20884/1.agrin.2020.24.2.506

Abstract:
Keunggulan Pupuk Organik Cair (POC) dibandingkan pupuk sintetik adalah memiliki efek residu yang lebih kecil bagi lingkungan. Disamping itu, selain kontribusinya dalam menyediakan unsur hara, POC dapat dibuat dari berbagai sumber bahan organik. Gulma atau tanaman pengganggu yang keberadaannya tidak diinginkan dapat dimanfaatkan sebagai sumber POC. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kosentrasi dan jenis POC terbaik terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman bawang merah. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian, Universitas Bengkulu. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap pola faktorial yang terdiri atas dua faktor perlakuan dan diulang tiga kali. Faktor pertama adalah Jenis POC, yaitu POC yang berasal dari gulma paitan (Tithonia diversifolia), babandotan (Ageratum conyzoides) dan eceng gondok (Eichhornia crassipes) sedangkan faktor kedua adalah konsentrasi POC terdiri atas 0%, 25%, 50%, 75% dan 100%. Variabel yang diamati meliputi tinggi tanaman, jumlah daun per rumpun, tingkat kehijauan daun, bobot brangkasan kering bagian atas, jumlah umbi per tanaman, dan bobot segar umbi per tanaman. POC berbahan dasar gulma paitan, gulma babandotan, dan eceng gondok memiliki dampak yang sama terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman bawang merah. Oleh karena itu, ketiga gulma tersebut memiliki potensi sebagai POC untuk diaplikasikan pada tanaman bawang merah.Kata kunci: babandotan, bawang merah, eceng gondok, gulma paitan, POC.
Iqbal Erdiansyah, Sekar Utami Putri, Eliyatiningsih Eliyatiningsih
Agrin, Volume 24, pp 175-184; https://doi.org/10.20884/1.agrin.2020.24.2.524

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji investasi dan mengklasifikasi populasi Arthropoda pada lahan budidaya cabai merah (konvensional) dan transisi organik yang berperan sebagai musuh alami hama cabai merah. Penelitian ini dilaksanakan mulai bulan November 2018 sampai bulan Maret 2019, bertempat di lahan Dusun Gawok, Desa Dukuhdempok, Kecamatan Wuluhan, Kabupaten Jember. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan dua petak lahan yaitu teknik konvensional (menggunakan pestisida kimia) dan transisi organik (menggunakan Beauveria bassiana, Refugia Area, Trichoderma spp). Peubah pengamatan pada penelitian ini adalah investasi dan klasifikasi populasi serangga pada masing-masing petak lahan percobaan. Keanekaragaman arthropoda dianalisis menggunakan indeks diversitas Shannon Weiner dan indeks Dominansi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai Indeks Diversitas arthopoda berdasarkan Indeks Shanon-Wiener (H’) pada petak lahan transisi organik lebih tinggi dibandingkan lahan petak konvensioanl yaitu masing-masong 1,623±0,142 dan 1,376±0,132. Untuk tingkat spesies dominansi (C) tergolong kategori sedang di kedua petak percobaan. Nilai di petak lahan konvensional lebih tinggi dibandingkan dengan lahan petak transisi organik yaitu masing-masing 0,343±0,135 dan 0,322 ±0,123.Kata kunci: arthropoda, budidaya konvensional dan transisi organik, cabai merah, indeks diversitas, indeksdominan.
Ervina Mela, Vincentius Prihananto, Arista Savira Raharjaningtyas
Agrin, Volume 24, pp 137-147; https://doi.org/10.20884/1.agrin.2020.24.2.546

Abstract:
CV XYZ merupakan salah satu UMKM di Kabupaten Wonosobo yang mengolah buah carica menjadi koktail. Semakin ketatnya persaingan produk sejenis, perusahaan berusaha untuk terus meningkatkan mutu produknya dengan cara memperbaiki atribut produk yang masih lemah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi atribut prioritas untuk perbaikan mutu koktail carica CV XYZ berdasarkan kepuasan dan kepentingan konsumen. Atribut mutu produk dikelompokkan berdasarkan dua parameter yaitu buah carica, dan sirup koktail. Penelitian dilakukan dengan menyebarkan kuesioner kepada 100 responden secara purposive sampling. Data dianalisis menggunakan Importance Performance Analysis. Atribut prioritas untuk perbaikan mutu produk adalah banyaknya sirup dan aftertaste. Hasil penelitian menunjukan bahwa perbaikan dalam peningkatan mutu koktail carica berupa penambahan sirup dan pengujian sensoris aftertaste sirup dengan melibatkan panelis ahli.Kata kunci: koktail carica, tingkat kepuasan, tingkat kepentingan
Bistok Hasiholan Simanjuntak, Ratna Dewi P
Agrin, Volume 24, pp 111-124; https://doi.org/10.20884/1.agrin.2020.24.2.505

Abstract:
Perbanyakan kopi robusta (Coffea canephora) dengan metode stek sering terkendala pada pertumbuhan akar dan tunas daun. Pemberian Indole-3-Butyric Acid (IBA) diharapkan dapat mengatasi masalah pertumbuhan akar dan tunas pada stek batang. Tujuan penelitian ini adalah untuk menemukan konsentrasi IBA yang tepat terhadap pertumbuhan akar dan tunas daun stek kopi robusta. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) nonfaktorial dengan perlakuan konsentrasi IBA terdiri atas 0 ppm, 50 ppm, 100 ppm, 150 ppm, 200 ppm, 250 ppm, dan 300 ppm, dan diulang 4 kali. Parameter pengamatan meliputi panjang akar, jumlah daun, bobot basah dan kering berangkasan stek batang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian IBA 150 ppm pada stek batang kopi robusta mampu menghasilkan panjang akar terbaik. Namun demikian, seluruh konsentrasi IBA yang diujikan belum mampu meningkatkan jumlah daun, berat berangkasan basah, dan berat berangkasan kering stek batang kopi robusta.Kata kunci: Indole Butyric Acid, kopi robusta, stek batang,
Fida Suci Ersapoetri, Loekas Soesanto, Endang Mugiastuti, Ruth Feti Rahayuniati, Abdul Manan, Slamet Rohadi
Agrin, Volume 24, pp 159-174; https://doi.org/10.20884/1.agrin.2020.24.2.536

Abstract:
Penelitian bertujuan mengetahui kemampuan empat isolat Trichoderma harzianum dalam mengomposkan limbah sayur, isolat T. harzianum terbaik pada pengomposan limbah sayur, dan isolat T. harzianum terhadap pertumbuhan tanaman mentimun in planta. Penelitian dilaksanakan di rumah kaca dan Laboratorium Perlindungan Tanaman, Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto selama lima bulan. Rancangan Acak Kelompok digunakan dengan empat ulangan dan kombinasi antara empat isolat T. harzianum (T10, T213, T14, dan T15) dengan dua limbah sayur (kubis dan tomat). Variabel yang diamati adalah panjang tanaman, bobot tanaman segar, bobot tanaman kering, panjang akar, jumlah daun, pH akhir kompos, C/N ratio kompos, kepadatan akhir T. harzianum, kegigasan T. harzianum, dan analisis jaringan secara kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keempat isolat T. harzainum efektif dan cepat dalam mengkomposkan limbah tomat dan kubis. Isolat T. harzianum yang paling baik pada pengomposan adalah T10 dan T213. Aplikasi kompos limbah mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman mentimun. Isolat terbaik adalah T. harzianum T16 pada kompos tomat dan T10 pada kompos kubis dalam meningkatkan pertumbuhan tanaman mentimun pada panjang tanaman, panjang akar, bobot tanaman segar, dan bobot tanaman kering dengan peningkatan masing-masing 66,61 dan 52,17%, 61,01 dan 46,55%, 76,41 dan 59,77%, serta 77,99 dan 52,03%.Kata kunci: limbah sayur, mentimun, pengomposan, Trichoderma harzianum.
Yudhi Harini Bertham, Abimanyu Dipo Nusantara, Bambang Gonggo Murcitro, Zainal Arifin
Agrin, Volume 24, pp 185-194; https://doi.org/10.20884/1.agrin.2020.24.2.503

Abstract:
Pemanfaatan lahan kering pada kawasan pesisir untuk budidaya tanaman padi gogo mempunyai potensi besar untuk pemantapan swasembada pangan maupun untuk pembangunan pertanian kedepan. Keterbatasan kesuburan yang dimiliki lahan di kawasan pesisir dapat diatasi dengan menggunakan teknologi yang tepat seperti penggunaan varietas yang unggul dan pupuk hayati serta biokompos. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik biologi dan kimia tanah serta pertumbuhan padi gogo di kawasan pesisir. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan petak terbagi dengan petak utama adalah 3 varietas padi gogo yang didapatkan dari BPTP Bengkulu yaitu varietas Inpago 10, Serantan, dan Lokal Bengkulu, dengan anak petak yaitu inokulan ganda mikroba pelarut P (pf) + mikroba pelarut K + mikroba pemfiksasi N, inokulan ganda mikroba pelarut P (fma) + mikroba pelarut K + mikroba pemfiksasi N, biokompos dengan dosis 10 ton ha-1, dan pupuk anorganik rekomendasi BPTP yaitu 200 kg Urea/ha, 100 kg SP36/ha, 100 kg KCl/ha, diulang 4 kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi pupuk hayati maupun biokompos yang ditanami padi gogo varietas Inpago 10 di area pesisir mampu meningkatkan karakter biologi dan kimia tanah. Padi gogo varietas Serantan dengan aplikasi inokulan ganda mikroba pelarut P + mikroba pelarut K + mikroba pemfiksasi N di area pesisir mampu menghasilkan jumlah anakan tinggi dengan tinggi tanaman rendahKata kunci: adaptabilitas, lahan pesisir, padi gogo, pertumbuhan, pupuk hayati.
Fajar Setyawan, Muhammad Hadi Santoso
Agrin, Volume 24, pp 148-158; https://doi.org/10.20884/1.agrin.2020.24.2.533

Abstract:
Pupuk organik dan ketersediaan hara berperan penting dalam menunjang pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Kandungan pupuk organik dan ketersediaan P yang rendah merupakan faktor pembatas utama untuk budidaya tanaman kedelai pada tanah masam. Penelitian untuk mengkaji aplikasi pupuk organik dan bakteri pelarut fosfat (BPF) untuk meningkatan serapan P, pertumbuhan dan hasil tanaman kedelai. Dilakukan dari September – Desember 2019 di Laboratorium Lapang Terpadu Universitas Islam Kadiri. Percobaan menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) faktorial dan diulangan 3 kali. Faktor pertama adalah pupuk organik yang terdiri dari (Pupuk kandang ayam, Pupuk kandang sapi dan Pupuk hijau paitan, masing-masing dengan dosis 10 ton/ha) dan Perlakuan Kedua adalah inokulan BFF yang terdiri dari 4 konsentrasi (0, 3, 6, 9 ml/l). Parameter yang diamati: laju tumbuh, jumlah polong per tanaman, indeks panen (IP) dan bobot kering biji. Interaksi antara pemberian pupuk organik dengan inokulasi BPF mempengaruhi laju tumbuh, serapan P dan hasil tanaman kedelai. Aplikasi 10 t/ha pupuk kandang sapi dan BPF dengan konsentrasi 6 ml/l mampu meningkatkan laju tumbuh sebesar 2,6% dan serapan P 0,08% dibandingkan dengan tanpa inokulasi BPF. Aplikasi 10 t/ha pupuk kandang sapi dan BPF dengan konsentrasi 6 ml/l mampu menghasilkan 2,7 t/ha biji kedelai.Kata kunci: bakteri pelarut fosfat, pupuk organik, tanaman kedelai
Delvy Diena Rahmadini, Noor Laili Aziza, Riza Adrianoor Saputra
Agrin, Volume 24, pp 125-136; https://doi.org/10.20884/1.agrin.2020.24.2.538

Abstract:
Penyeleksian indukan guna mendapatkan batang atas jeruk siam banjar yang berkualitas di tanah gambut dapat dilakukan dengan cara penanaman benih yang memiliki sifat poliembrio. Tanah gambut memiliki beberapa kekurangan, sehingga media tanam ini diaplikasikan dengan beberapa jenis amelioran. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa perkecambahan dan pertumbuhan bibit dari benih jeruk siam banjar yang bersifat poliembrio pada media tanah gambut yang diaplikasi beberapa amelioran. Penelitian dilaksanakan pada Bulan Juli sampai Bulan Agustus 2019, di Kebun Percobaan dan Laboratorium Produksi Agroekoteknologi Faperta Universitas Lambung Mangkurat dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) nonfaktorial. Perlakuan yang digunakan yaitu jenis amelioran berupa abu janjang kelapa sawit (p1), abu sekam padi (p2), dan abu sabut kelapa (p3) yang dicampurkan pada media tanah gambut dengan perbandingan amelioran dan tanah gambut sebesar 1 : 14,69. Perlakuan diulang sebanyak enam kali dan setiap ulangan terdiri dari 10 unit, sehingga diperoleh 180 satuan percobaan. Hasil dari penelitian ini yaitu tanah gambut yang diaplikasikan amelioran abu janjang kelapa sawit dan amelioran abu sekam padi mampu digunakan untuk mendukung perkecambahan benih jeruk siam banjar dengan persentase perkecambahan benih masing-masing sebesar 78% dan 73%, serta persentase poliembrio masing-masing sebesar 64,2% dan 46,9%, sedangkan tanah gambut yang diaplikasikan amelioran abu sabut kelapa tidakmampu mendukung perkecambahan benih jeruk siam banjar. Begitupula dengan pertumbuhan bibit dari benih poliembrio, tanah gambut yang diaplikasikan amelioran abu janjang kelapa sawit dan amelioran abu sekam padi mampu digunakan untuk mendukung pertumbuhan tinggi tanaman jeruk siam banjar masing-masing setinggi 4,19 cm dan 3,90 cm, serta jumlah daun sebanyak 3 helai daun pada kedua perlakuan, sedangkan tanah gambut yang diaplikasikan amelioran abu sabut kelapa tidak mampu mendukung pertumbuhan jumlah daun tanaman jeruk siam banjar.Kata Kunci: amelioran, jeruk siam banjar, poliembrio
Ahmad Firas Hakiki, Siska Chiko Efendi, Yaherwandi Yaherwandi
Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari serangga predator dan parsitoid pada daerah endemik serangan ulat api. Penelitian dilaksanakan pada kecamatan Timpeh yang terdiri dari lima nagari yaitu Nagari Panyubarangan, Ranah Palabi, Tabek, Timpeh, dan Taratak Tinggi. Penelitian ini berbentuk survei dengan pengambilan titik sampel menggunakan metode Purposive Random Sampling. Cara pengambilan sampel dengan menggunakan metode nampan kuning, jaring ayun, dan koleksi langsung kemudian dibawa ke laboratorium untuk diidentifikasi. Identifikasi sampel dilakukan sampai tingkat family dengan mengacu pada buku kunci identifikasi Borror et al. (1992); Lilies (1992); Grissel dan Schauff (1990); CSIRO (1991); dan Goulet dan Huber (1993). Data dianalisis dengan menggunakan Indeks Keanekaragaman Shannon-Wienner, Indeks Kemerataan Simpson’n, dan Indeks Nilai Penting. Dari hasil penelitian terlihat bahwa tingkat keanekaragaman serangga predator di kecamatan Timpeh tergolong sedang. Sedangkan tingkat keanekaragaman serangga parasitoid tergolong rendah. Adapun serangga yang didapatkan sebanyak 11 famili serangga predator yang terdiri dari Family Carabidae, Cleridae, Mordellidae, Forficulidae, Reduviidae, Pompilidae, Spechidae, Vespidae, Libellulidae, Gryllidae, Mantidae. Sedangkan serangga parasitoid yakni 2 famili diantaranya Family Conopidae dan Ichneumonidae.
Agustiansyah Agustiansyah, Ardian Ardian, Kukuh Setiawan, Erni Permata Dewi
Abstract:
The aims of this research to determined the effect wet heating and immersion in gibberellins on breaking dormancy of oil palm seed. The treatment was arranged in factorially with two factors in the Completely Randomized Design. The first factors was wet heating which consists of five levels, (1) 20 days of heating; (2) 25 days of heating (3) 30days of heating (4) 35 days of heating (5) 40 days of heating. The second factor was the concentrations of gibberellin in four levels, (1) 0 ppm; (2) 100 ppm; (3) 200 ppm and (4) 300 ppm. Based on the results could be concluded that (1) wet heating could increased the percentage of germination, maximum growth potential, speed of germination, and time of emergence of sprouts, (2) 30 days wet heating treatment + immersion in 200 ppm giberelin was the best treatment in percentage of germination (64 % ± 1.3), maximum growth potential(70.7%±1.4), and speed of germination (29% ± 1.0 per etmal).
Agus Suroto, Mujiono Mujiono, Dina Istiqomah
Abstract:
Tujuan penelitian ini ialah untuk mengetahui pengaruh aplikasi pestisida nabati maja-gadung dan metabolit sekunder T. harzianum terhadap populasi serangga hama dan insidensi penyakit pada rakitan teknologi budidaya tomat organik. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) dengan 3 perlakuan dan 4 kali ulangan. Perlakuan dalam penelitian ini, yaitu: A (aplikasi pestisida nabati dan metabolit sekunder T. harzianum), B (aplikasi pestisida nabati), dan C (tanpa pengaplikasian/ kontrol). Indeks keanekaragaman Shannon Wiener ditentukan dengan bantuan program PAST. Data kelimpahan serangga hama dan penyakit tanaman yang diperoleh dianalisis dengan uji F, dilanjutkan uji DMRT. Data penyakit ditentukan persentase insidensinya. Hasil penelitian ini menujukkan bahwa secara umum keanekaragaman spesies serangga tergolong sedang (H’: 1.24). Bemicia tabaci menjadi spesies hama yang paling melimpah, diikuti Thrips tabaci, dan Myzus persicae. Dijumpai dua jenis penyakit yaitu penyakit layu fusarium dan penyakit layu bakteri. Insidensi penyakit tertinggi terletak pada perlakuan C (13% layu bakteri), di ikuti perlakuan B (6% layu bakteri), dan A (2% layu fusarium dan 2% layu bakteri).
Hasan Oramahi, Farah Diba, Nurhaida Nurhaida, Wahdina Wahdina, Dina Setyawati, Muhammad Dirhamsyah
Abstract:
Efficacy wood vinegar produced from wood laban (Vitex pubescens) against Ophiostoma piliferum fungus was evaluated. The objectives of this research to perform in vitro antifungal of wood vinegar from laban wood against O. piliferum. The source of lignocelluloses biomass was carbonization process used three temperature i.e. 350, 400 and 450 °C. Efficacy of wood vinegar to the fungus carried on PDA (potato dextrose agar) in a Petri dish that has been mixed with the wood vinegar with a concentration of 0, 0.5, 1.0, 1.5, and 2.0 % (v/v). Antifungal test was a factorial 3 by 5 in a completely randomized design. The means were seperated using using Tukey’s test at p = 0.05. All data were analyzed using the SAS softwere (version 8.2, SAS Institute Inc., NC. USA). The test results showed that the pyrolysis suhue effect and concentration of wood vinegar on the inhibition of fungal growth. The higher pyrolysis temperature and concentration the inhibition of fungal growth was increased.Efikasi asap cair dari kayu laban (Vitex pubescens)terhadap Ophiostoma piliferum telah dilakukan.Penelitian ini bertujuan mengevaluasi kemampuan asap cair sebagai antijamur (O. piliferum) secara in vitro. Asap cair yang digunakan diperoleh dengan cara pirolisis pada suhu produksi asap cair dan konsentrasi asap cair yang berbeda. Efikasi asap cair terhadap jamur dilakukan pada media PDA (potato dextrose agar) dalam cawan Petri dengan campuran asap cair pada konsentrasi 0, 0,5, 1,5, dan 2,0 (v/v).Pengujian aktivitas antijamur dilakukan menggunakan rancangan acak lengkap tipe faktorial.Data yang diperoleh dianalisis dengan sidik ragam.Pengaruh antarperlakuan dilakukan uji BNJ pada taraf nyata 5%. Analisis data menggunakan SAS versi 9.13. Hasil pengujian menunjukkan bahwa suhu pirolisis produksi asap cair dan konsentrasi asap cair berpengaruh terhadap daya penghambatan pertumbuhan jamur. Makin tinggi suhu pirolisis produksi asap cair dan konsentrasinya dan makin tinggi daya penghambatan terhadap pertumbuhan jamur, O. piliferum.
Stefany Darsan, Ulyasniati Ulyasniati, Lepinus Kogoya
Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dan mendapatkan teknologi biomatriconditioning yang paling efektif meningkatkan viabilitas dan vigor umbi bawang merah. Rancangan yang digunakan dalam ini penelitian adalah Acak Kelompok Lengkap (RAKL) faktor tungggal. Perlakuan berupa Tanpa perlakuan, MOL + serbuk arang sekam (Biomatriconditioning) dan MOL + serbuk bata merah (Biomatriconditioning), direndam MOL (Biopriming), disemprot MOL dan di celup MOL. Setiap perlakuan diulang sebanyak 4 kali sehingga diperoleh 24 unit percobaan. Pengamatan yang dilakukan meliputi: daya berkecmbah (DB), potensi tumbuh maksimum (PTM), kecepatan tumbuh relatif (KCT-R), bobot segar dan bobot kering tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teknik Biomatriconditioning dapat meningkatkan viabilitas dan vigor tanaman bawang merah. Biomatriconditioning yang terbaik dalam meningkatkan daya berkecambah, kecepatan tumbuh, potensi tumbuh, tinggi tanaman, bobot segar tanaman dan bobot kering tanaman adalah teknologi Biomatriconditioning yang diintegrasikan dengan serbuk arang sekam.
Taufiq Hidayat Rs, Andy Soegianto, Putri Nurul Aini
Abstract:
Kapas merupakan penghasil utama serat alam dari buah sebagai bahan baku kebutuhan industri tekstil di Indonesia. Tingginya permintaan diiringi rendahnya produksi kapas menuntut adanya varietas kapas unggul yang memiliki potensi hasil tinggi, kualitas mutu baik dan berumur genjah. Salah satu cara untuk meningkatkan produksi kapas ialah dengan pengelolaan keragaman gen-gen unggul plasma nutfah melalui analisis korelasi regresi dan evaluasi karakter morfologi. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui bentuk dan keeratan hubungan antar komponen hasil sebagai penentu kriteria seleksi, serta mengevaluasi aksesi-aksesi kapas yang memiliki karakter unggul dan diduga dapat digunakan sebagai tetua dalam perakitan varietas kapas yang baru. Penelitian dilaksanakan pada Maret hingga Desember 2018 di Kebun Percobaan Karangploso, Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat, Kota Malang. Metode penelitian menggunakan single plot dengan analisis ragam RAK dan uji lanjut BNJ melalui bantuan program SPSS. Hasil analisis menunjukkan jumah cabang generatif dan jumlah buah dapat digunakan sebagai kriteria seleksi untuk peningkatan hasil. Hasil evaluasi karakter morfologi terdapat 11 aksesi yang memiliki produksi tinggi dan kualitas mutu serat baik pada karakter panjang serat, yaitu aksesi KI 38, KI 80, KI 134, KI 240, KI 320, KI 489, KI 500, KI 629, KI 689, KI 693 dan KI 711
Nur Istia Utami, Indah Widyarini, Ratna Satriani
Abstract:
Kecamatan Kedungbanteng merupakan daerah sentra produksi sayuran organik di Kabupaten Banyumas. Harga jual yang tinggi dari produk organik akan memberikan tingkat pendapatan dan kemampuan petani dalam memenuhi kebutuhan dasarnya untuk mencapai kesejahteraan rumah tangga petani. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui : 1) pendapatan yang diterima petani dalam usahatani sayuran organik dan kontribusinya terhadap pendapatan total rumah tangga petani; 2) distribusi pendapatan petani; 3) tingkat kesejahteraan rumah tangga petani sayuran organik di Kecamatan Kedungbanteng. Penelitian ini dilaksanakan di desa Melung dan desa Windujaya kecamatan Kedungbanteng pada bulan September hingga Oktober 2019. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei. Penentuan responden menggunakan metode sensus diperoleh 18 orang petani sayur organik. Analisis yang digunakan yaitu analisis pendapatan usahatani, analisis kontribusi pendapatan, analisis distribusi pendapatan, dan analisis tingkat kesejahteraan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) pendapatan usahatani sayuran organik yang diterima petani yaitu Rp7.892.252,00 per tahun dan kontribusinya terhadap pendapatan total sebesar 20,23%; 2) kondisi pemerataan pendapatan petani sayuran organik di kecamatan Kedungbanteng tidak merata; 3) rumah tangga petani sayuran organik di kecamatan Kedungbanteng tergolong sejahtera. Kata kunci: petani sayur organik, pendapatan, kontribusi pendapatan, distribusi pendapatan, dan kesejahteraan.
Ali Maksum, Munasib Munasib, Ike Sitoresmi Mulyo Purbowati, Rully Eko Kusuma Kurniawan, Furqon Furqon
Abstract:
Karakteristik fisikokimia dan atribut sensori kopi arabika dipengaruhi oleh lingkungan tempat tumbuh tanaman kopi dan proses pengolahannya. Tujuan penelitian mencari pengaruh kombinasi tingkat ketinggaian tempat tumbuh tanaman kopi dengan variasi proses sangrai terhadap atribut fisikokimia dan sensori kopi arabika Kabupaten Banjarnegara. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental yang menggunakan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan faktorial 2 faktor. Faktor yang diujikan pada penelitian ini adalah: 1) Ketinggian tempat tanaman Kopi dengan taraf: 1000 mdpl (Kecamatan Wanayasa), 1050 (Kecamtan Karangkobar) dan 1100 mdpl (Kecamatan Kalibening). 2) Level sangrai dengan taraf: light, medium dan dark. Faktor tersebut disusun kedalam rancangan faktorial sehingga diperoleh 9 kombinasi perlakuan. Perlakuan diulang tiga kali sehinggga diperoleh 27 unit percobaan. Pengujian atribut sensoris kopi arabika menggunakan metode analisis mutu skroring pembeda. Hasil penelitian ini adalah level penyangraian berpengaruh terhadap kadar air, pH, total fenol dan aroma kopi arabika sedangakn ketinggian tempat tanaman kopi tidak berpengaruh terhadap kadar air, pH, total fenol dan aroma kopi.
, Irfan Martiansyah, Restu Prasetya Mukmin, Sapto Nugroho Hadi, Indra Syahputra, Dadang Afandi,
Agrin, Volume 23, pp 103-113; https://doi.org/10.20884/1.agrin.2019.23.2.500

Abstract:
Tanaman kelapa sawit memiliki kandungan polisakarida dan polifenol yang tinggi. Kontaminasi polisakarida dan polifenol menyebabkan sulitnya proses isolasi RNA dari jaringan tanaman kelapa sawit. Penelitian ini dilakukan untuk mengoptimasi beberapa protokol isolasi RNA tanaman kelapa sawit yang efektif dan efisien. Penelitian dilaksanakan selama tiga bulan, pada bulan Oktober-Desember 2018 di Laboratorium Biokimia dan Biologi Molekuler, Pusat Penelitian Bioteknologi dan Bioindustri Indonesia (PPBBI), Jalan Taman Kencana No. 1 Bogor 16128. Penelitian dilakukan dengan melaksanakan teknik isolasi RNA menggunakan tiga protokol, yaitu modifikasi Cetyl Trimethyl Ammonium Bromide (CTAB), kit isolasi RNA RNeasy Plant Mini Kit (Qiagen), dan kit isolasi NucleoSpin RNAPlant (Macherey-Nagel). Sampel yang digunakan adalah daun dan akar tanaman kelapa sawit berumur kurang dari tiga bulan dengan bobot 0,1 gram dan 2,5 gram yang disesuaikan untuk tiap protokol. Variabel yang diamati adalah konsentrasi (ng/µl), kemurnian (rasio A260/A280 dan A260/A230), dan pita RNA pada elektroforesis gel agarosa. Hasil penelitian menunjukkan, RNA total hasil isolasi protokol NucleoSpin RNAPlant (Macherey-Nagel) memiliki kualitas paling tinggi. Konsentrasi RNA total daun dan akar kelapa sawit yang didapatkan melalui protokol NucleoSpin RNAPlant (Macherey-Nagel) sebesar 338 ng/µl dan 184,4 ng/µl dengan rasio A260/A280 RNA total daun dan akar kelapa sawit sebesar 2,13 dan 2,18 serta rasio A260/A230 sebesar 2,09 dan 2,20. Hasil elektroforesis gel agarosa menunjukkan integritas yang bagus dari RNA total hasil isolasi RNeasy Plant Mini Kit (Qiagen) dan NucleoSpin RNAPlant (Macherey-Nagel), namun terdapat kontaminasi dan smear pada RNA total hasil isolasi CTAB modifikasi 1 dan 2. Kata kunci: kelapa sawit, isolasi RNA, spektrofotometer, elektroforesis gel agarosa
, Rokhana Faizah, Dini Astika Sari, Vivi Restu Raharti, Irfan Martiansyah, Sapto Nugroho Hadi, Sri Wening, Pri Yono,
Agrin, Volume 23, pp 155-166; https://doi.org/10.20884/1.agrin.2019.23.2.510

Abstract:
Dalam penelitian ini, analisis akumulasi transkrip menggunakan Reverse-Transcriptase Quantitative PCR (RT-qPCR) diikuti dengan analisis interaksi statistik telah dilakukan pada akar dari dua genotipe tanaman kelapa sawit (A09 dan 23) yang rentan dan toleran terhadap Ganoderma boninense. Tiga gen putatif (Eg#001, Eg#004, dan Eg#007) dari kelapa sawit diprediksi dapat digunakan sebagai biomarker dalam seleksi varietas tanaman kelapa sawit terhadap Ganoderma. Optimasi analisis RT-qPCR dilakukan dengan melakukan serial dilusi cDNA (1/5, 1/10, 1/25 dan 1/50) untuk mendapatkan nilai amplification plot dan melting curve yang ideal. Hasil analisis memperlihatkan serial dilusi 1/10 atau setara konsentrasi cDNA 50 ng/µL mendapatkan nilai Ct pada ambang 22-24 serta nilai melting curve sebesar 83,06. Secara umum, akumulasi transkrip gen pada genotipe 23 lebih melimpah dibandingkan dengan genotipe A09. Gen Eg#007 secara statistik memiliki akumulasi transkrip yang berbeda nyata pada genotipe 23 yang lebih tinggi (5,21E+00) dibandingkan pada genotipe A09 (1,93E+00). Di sisi lain, hasil identifikasi lokus ID pada genom kelapa sawit memperlihatkan bahwa gen Eg#007 merupakan penyandi protein yang tergolong dalam famili sulfotransferase (SOT) yang terkait dengan sistem pertahanan tanaman. Gen tersebut berpotensi mengungkap mekanisme aksi-reaksi antara G. boninense dan akar kelapa sawit. Kata kunci: kelapa sawit, Ganoderma, profil akumulasi transkrip, RT-qPCR, biomarker.
, Ahmad Rifqi Fauzi
Published: 31 December 2019
Agrin, Volume 23, pp 121-143; https://doi.org/10.20884/1.agrin.2019.23.2.476

Abstract:
Kale sebagai salah satu tanaman yang kaya akan nutrisi memiliki harga yang cukup mahal dibandingkan sayuran lainnya. Harga yang tinggi diakibatkan karena benihnya harus dimpor dari luar negeri. Impor benih dilakukan karena kale tidak mampu berbunga bila ditanam pada kondisi iklim tropis seperti Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menginduksi pembungaan kale melalui praktik agronomi dengan pemberian dosis pupuk N dan P serta pemberian giberelin (GA3) dengan berbagai konsentrasi untuk menginduksi munculnya bunga. Penelitian dilakukan sejak Agustus 2018 - Maret 2019 di Kebun Percobaan Agroekoteknologi, Universitas Trilogi, Jakarta. Penelitian terdiri atas dua set percobaan. Percobaan pertama menggunakan rancangan acak kelompok dua faktor, yaitu dosis pupuk N (kg/ha) dengan tiga taraf yaitu 0 (kontrol), 100 dan 200 dan pemberian fosfor (kg/ha) dengan dosis 0 (kontrol), 100, 200, 300, 400 dan 500. Percobaan kedua menggunakan rancangan acak kelompok satu faktor dengan menggunakan 11 taraf konsentrasi GA3 (ppm) yaitu 0 (kontrol), 100, 200, 300, 400, 500, 600, 700, 800, 900, dan 1000. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi pemberian pupuk N dan P belum efektif dalam menginisiasi pembentukan bunga, peningkatan N sampai 200 kg/ha meningkatkan bobot total panen, bobot daun layak konsumsi, dan luas daun tanaman kale 1.5 - 2 kali lipat serta pemberian ZPT GA3 sampai dengan 1000 ppm belum dapat menginduksi pembungaan kale. Tindakan agronomi pada penelitian ini memberikan informasi bahwa pemberian hara makro serta ZPT berdampak pada meningkatnya pertumbuhan organ-organ vegetatif kale yang diduga menekan pertumbuhan dan perkembangan organ-organ generatif. Sehingga ke depan, kajian dalam induksi pembungaan kale dapat dilakukan pada lingkungan yang terkendali dan disesuaikan dengan lingkungan tumbuh kale di habitat aslinya.Kata kunci: fosfor, GA3, impor benih, pupuk N
Restu Prasetya Mukmin
Published: 31 December 2019
Abstract:
Tanaman kelapa sawit memiliki kandungan polisakarida dan polifenol yang tinggi. Kontaminasi polisakarida dan polifenol menyebabkan sulitnya proses isolasi RNA dari jaringan tanaman kelapa sawit. Penelitian ini dilakukan untuk mengoptimasi beberapa protokol isolasi RNA tanaman kelapa sawit yang efektif dan efisien. Penelitian dilaksanakan selama tiga bulan, pada bulan Oktober-Desember 2018 di Laboratorium Biokimia dan Biologi Molekuler, Pusat Penelitian Bioteknologi dan Bioindustri Indonesia (PPBBI), Jalan Taman Kencana No. 1 Bogor 16128. Penelitian dilakukan dengan melaksanakan teknik isolasi RNA menggunakan tiga protokol, yaitu modifikasi Cetyl Trimethyl Ammonium Bromide (CTAB), kit isolasi RNA RNeasy Plant Mini Kit (Qiagen), dan kit isolasi NucleoSpin RNAPlant (Macherey-Nagel). Sampel yang digunakan adalah daun dan akar tanaman kelapa sawit berumur kurang dari tiga bulan dengan bobot 0,1 gram dan 2,5 gram yang disesuaikan untuk tiap protokol. Variabel yang diamati adalah konsentrasi (ng/µl), kemurnian (rasio A260/A280 dan A260/A230), dan pita RNA pada elektroforesis gel agarosa. Hasil penelitian menunjukkan, RNA total hasil isolasi protokol NucleoSpin RNAPlant (Macherey-Nagel) memiliki kualitas paling tinggi. Konsentrasi RNA total daun dan akar kelapa sawit yang didapatkan melalui protokol NucleoSpin RNAPlant (Macherey-Nagel) sebesar 338 ng/µl dan 184,4 ng/µl dengan rasio A260/A280 RNA total daun dan akar kelapa sawit sebesar 2,13 dan 2,18 serta rasio A260/A230 sebesar 2,09 dan 2,20. Hasil elektroforesis gel agarosa menunjukkan integritas yang bagus dari RNA total hasil isolasi RNeasy Plant Mini Kit (Qiagen) dan NucleoSpin RNAPlant (Macherey-Nagel), namun terdapat kontaminasi dan smear pada RNA total hasil isolasi CTAB modifikasi 1 dan 2. Kata kunci: kelapa sawit, isolasi RNA, spektrofotometer, elektroforesis gel agarosa
Tita Marta Sela,
Published: 31 December 2019
Agrin, Volume 23, pp 155-177; https://doi.org/10.20884/1.agrin.2019.23.2.490

Abstract:
Pemanfaatan tanah ultisol untuk budidaya jagung manis dengan produktivitas yang tinggi dapat menggunakan bahan tanam yang mampu beradaptasi baik. Penelitian bertujuan untuk membandingkan pertumbuhan dan hasil 13 Hibrida jagung manis di tanah ultisol. Penelitian dilaksanakan pada bulan Oktober 2018 sampai Desember 2018 di Desa Babatan, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Seluma, Bengkulu dengan ketinggian tempat 15 m di atas permukaan laut. Rancangan yang digunakan yaitu Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) faktor tunggal. Perlakuan terdiri dari 13 Hibrida jagung manis yang merupakan hasil persilangan dialel. Galur-galur tersebut menghasilkan 28 hibrida. Hasil analisis keragaman menunjukkan, secara umum hibrida-hibrida yang dievaluasi menunjukkan penampilan pertumbuhan, perkembangan dan hasil setara dengan Paragon yang digunakan sebagai varietas pembanding. Pengecualian dijumpai pada Caps 15 x Caps 22 yang mempunyai ukuran tongkol berkelobot dan tanpa kelobot yang lebih panjang dibandingkan Paragon. Pengecualian juga dijumpai pada Caps 15 x Caps 17a yang memiliki jumlah baris lebih banyak dibandingkan varietas Paragon.Kata kunci: hibrida, jagung manis, ultisol.
Published: 31 December 2019
Agrin, Volume 23, pp 111-131; https://doi.org/10.20884/1.agrin.2019.23.2.478

Abstract:
Studi kerentanan tepung sorgum terhadap infestasi Tribolium castaneum telah dilakukan di laboratorium dalam kondisi 28–30 0C dan RH 70–75%. Jenis tepung sorgum yang digunakan dalam penelitian dari varietas sorgum Kawali, Numbu, Super-1, Super-2, Suri-3, dan Suri-4. Setiap jenis tepung sorgum diinfestasikan dengan 10 pasang imago T. castaneum. Variabel pengamatan meliputi jumlah F1, waktu pengembangan rata-rata T. castaneum, bobot 100 imago, persentase susut berat, dan indeks kerentanan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tepung sorgum dari varietas Super-1 tergolong moderta sampai rentan, sedangkan varietas Super-2 dan Suri-3 tergolong rentan, varietas Kawali dan Suri-4 tergolong sangat rentan, dan varietas Numbu rentan sampai sangat rentan. Kerentanan tepung sorgum dipengaruhi oleh jumlah F1, median waktu perkembanngan T. castaneum, dan persentase susut berta tepung
Vivi Restu Raharti, Sapto Nugroho Hadi, Irfan Martiansyah, Rokhana Faizah
Published: 31 December 2019
Abstract:
Penyakit busuk pangkal batang (BPB) disebabkan oleh Ganoderma boninense merupakan penyakit penting pada perkebunan kelapa sawit yang mengakibatkan kerugian besar pada produksi tandan buah segar. Perbedaan ekspresi gen mempengaruhi respon ketahanan tanaman terhadap G. boninense. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat ekspresi gen putatif spesifik pada tanaman kelapa sawit hasil persilangan yang diduga rentan dan moderat tahan terhadap G. boninense. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Biokimia dan Biologi Molekuler Pusat Penelitian Bioteknologi dan Bioindustri Indonesia Bogor pada bulan Oktober hingga Desember 2018. Penelitian ini menggunakan pendekatan real-time quantitative Polymerase Chain Reaction (real-time qPCR) sebagai metode yang umum digunakan untuk studi ekspresi gen. Dua genotipe tanaman kelapa sawit rentan dan satu genotipe tanaman kelapa sawit moderat tahan terhadap G. boninense dilakukan pengujian kuantitatif menggunakan lima primer yang mengkode gen putatif yang diduga berhubungan dengan penyakit busuk pangkal batang. Gen putatif tersebut, yaitu EgMIK1, EgWAKL5, EgSOT12, EgACO1, dan EgGSTU19. Gen housekeeping EgActin digunakan sebagai gen referensi pada kontrol internal real-time qPCR. Variabel yang diamati terdiri atas amplification plot, melting curve, ekspresi basal, dan nilai rasio ekspresi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lima gen putatif diregulasi secara berbeda antara genotipe tanaman kelapa sawit A09, 23 dan 27. Ekspresi gen putatif dibandingkan antara genotipe tanaman kelapa sawit yang rentan (A09 dan 23) dan moderat tahan (27). Tiga gen putatif up-regulated EgACO1, EgSOT12, dan EgWAKL5 pada akar dapat dipertimbangkan sebagai biomarker positif yang potensial untuk tanaman kelapa sawit yang rentan. Hasil menunjukkan perbedaan regulasi molekuler antara tanaman kelapa sawit yang rentan dan moderat tahan terhadap G. boninense. Kata kunci: Kelapa sawit, Ganoderma, ekspresi gen
Published: 31 December 2019
Agrin, Volume 23, pp 133-154; https://doi.org/10.20884/1.agrin.2019.23.2.483

Abstract:
Lahan rawa lebak merupakan salah satu lahan yang cukup potensial untuk pengembangan pertanian. Salah satu faktor penentu kebehasilan budidaya pertanian di lahan rawa lebak adalah waktu tanam. Saat ini pergeseran waktu tanam berubah sangat dinamik di tengah perubahan iklim yang tidak menentu. Oleh karena itu, analisis tentang waktu tanam menjadi sangat penting untuk dilakukan, termasuk waktu tanam padi di sawah lahan rawa lebak. Tujuan makalah ini adalah untuk menganalisis dinamika waktu tanam padi di lahan rawa lebak Pulau Kalimantan sehubungan dengan dinamika perubahan iklim. Waktu tanam padi di sawah lahan rawa lebak Pulau Kalimantan menunjukkan dinamika yang berbeda, dimana waktu tanam dominan di Kalimantan selatan dan Timur tejadi sekitar bulan Juni–Juli, sedangkan di Kalimantan Barat dan Tengah pada bulan Oktober–November. Sawah lahan rawa lebak menunjukkan adaptasi yang baik di tengah perubahan iklim dimana waktu tanam padi hanya sedikit bergeser dalam kurun waktu 10 tahun.
E. Dwi Sulistya Nugroho,
Published: 31 December 2019
Agrin, Volume 23, pp 103-121; https://doi.org/10.20884/1.agrin.2019.23.2.482

Abstract:
ABSTRAKMarigold merupakan tanaman herba hias yang saat ini mulai menjadi primadona serta memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi, oleh karena itu produktivitas dan kualitas bunga marigold perlu ditingkatkan. Cara pemberian serta jenis pupuk yang tepat menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan agar menjadi efektif terhadap tanaman Marigold. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui keefektifan penggunaan pupuk NPK dalam bentuk konsentrasi dan interval pemupukan terhadap pertumbuhan tanaman Marigold. Penelitian didesain dengan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri dari dua faktor. Faktor pertama merupakan konsentrasi pupuk NPK yang terdiri dari tiga taraf, yaitu tanpa pupuk (K0), 100 mg/liter air (K1), dan 150 mg/liter air (K2). Faktor kedua adalah interval pemupukan NPK yang terdiri dari 3 taraf, yaitu 1 kali/minggu (F1), 1 kali/2 minggu (F2), dan 1 kali/3 minggu (F3). Seluruh perlakuan diulang sebanyak 3 kali, sehingga didapatkan kombinasi perlakuan sebanyak 27 plot. Parameter pengamatan meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, diameter batang, inisiasi bunga, diameter bunga, lama kesegaran bunga. Perlakuan konsentrasi 150 mg/liter air dengan interval pemupukan 1 kali/minggu menjadi input yang optimal untuk pertumbuhan tanaman Marigold.Kata kunci: marigold, konsentrasi, interval, pupuk
, Adiluhung Ahsan
Published: 31 December 2019
Agrin, Volume 23, pp 85-102; https://doi.org/10.20884/1.agrin.2019.23.2.491

Abstract:
Banyumas merupakan daerah pada urutan ketiga di Jawa Tengah berdasarkan produktivitas tanaman kelapanya. Selain daging buahnya, tanaman kelapa juga dapat dimanfaatkan niranya. Pemanfaatan nira kelapa di Kabupaten Banyumas sebagian besar diusahakan oleh UMKM baru sebatas bahan baku pembuatan gula kelapa dan gula kristal, belum dibuat untuk berbagai macam produk olahan pangan seperti minuman segar dan sirup. Oleh karena itu diperlukan diversifikasi produk olahan nira kelapa yang dapat dikembangkan pada skala UMKM. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui ragam jenis produk yang dapat dikembangkan dari nira kelapa, dan menentukan urutan prioritas alternatif produk nira kelapa yang dapat dikembangkan pada skala UMKM. Penelitian ini menggunakan metode penelusuran pustaka dan indepth interview dengan pakar, metode perbandingan berpasangan, Bayes, dan metode interval kelas. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 30 jenis produk yang dapat dikembangkan dari nira kelapa. Urutan prioritas produk potensial nira kelapa berdasarkan analisis Bayes Urutan prioritas produk nira kelapa untuk dikembangkan saat ini pada skala UMKM di Banyumas yakni 1) gula putih kristal, 2) minuman segar, 3) jelly drink, dengan kategori sesuai, diikuti oleh 4) sirup, 5) permen, 6) kecap asin, 7) nektar, 8) yakult, 9) yoghurt dengan kategori cukup sesuai, dan 10) kefir, dengan kategori tidak sesuai.
Adinda Humaira,
Published: 23 November 2019
Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respon berbagai kultivar seledri terhadap induk sikalus dengan menggunakan sukrosa dan maltosa. Percobaan dilaksanakan dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial yang terdiri atas dua faktor dan diulang tiga kali. Faktor pertama adalah kultivar seledri terdiri atas lima taraf yaitu Aroma, Bamby, Samantha, Sunda,Tall Utah. Faktor kedua adalah konsentrasi karbohidrat yang terdiri atas lima taraf yaitu sukrosa 20 g/L, maltosa 20 g/L), maltosa 30 g/L, maltosa 40 g/L, maltosa 60 g/L. Variabel yang diamati meliputi waktu awal kalus terbentuk, diameter kalus, warna kalus, tekstur kalus, kalus embriogenik, dan jumlah tunas pada tahap regenerasi. Hasil penelitian menunjukkan konsentrasi sukrosa 20 g/L merupakan konsentrasi terbaik terhadap kecepatan muncul kalus pada kultivar Bamby. Sukrosa 20 g/L memberikan pengaruh paling baik terhadap ukuran kalus pada kultivar Aroma. Maltosa 30 g/L mampu menginduksi kalus dari semua kultivar seledri yang digunakan. Kulvivar Samantha responsif terhadap pembentukan kalus di semua konsentrasi Maltosa yang digunakan. Kata kunci: seledri, sukrosa, maltosa, kalus Keywords: Celery, Plant Breeding, Carbohydrate, Maltose, and Callus
M.Sc.St Dr. Kumala Dewi
Abstract:
Nowdays people tend to consume good healthy diets such as black rice. Black rice contain anthocyanin that acts as antioxidant. High demand of black rice in the market need to synchronize with high production that can be fulfil by fertilizer application. This research conducted to evaluated growth and yield of black rice ‘Cempo Ireng’ by cytokinin and manure application. Research was start in November 2015-Mei 2016 at Sangihe District. The treatment was arranged by dosage of manure 0, 5, 10, 15 ton ha-1 and incubated for two week. The results of this study showed that manure can affect the growth and yield of black rice.
Hatyanta Nuha Pradhipta, Irianti Kurniasari, Ugik Romadi
Abstract:
Bulai merupakan penyakit utama pada tanaman jagung yang disebabkan cendawan patogen Peronosclerospora maydis. P. maydis menyebabkan potensi kehilangan hasil mencapai 100%. Berbagai pengendalian yang dilakukan belum memberikan hasil yang optimal dan bahkan menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan dan kesehatan manusia. PGPR Pseudomonas fluorescens diketahui berpotensi sebagai pengendali penyakit bulai yang ramah lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas P. fluorescens terhadap penekanan penyakit bulai pada tanaman jagung. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan konsentrasi larutan P. fluorescens sebagai perlakuan terdiri dari: P1=0 ml/L, P2=50 ml/L, P3=75 ml/L, P4=100 ml/L, P5=fungisida fenamidon 50%. Hasil penelitian menunjukan bahwa P. fluorescens dapat efektif mengendalikan penyakit bulai, sedangkan perbedaan konsentrasi P. fluorescens tidak memberikan pengaruh yang signifikan dalam pengendalian penyakit bulai pada tanaman jagung. Kata kunci: Penyakit bulai, PGPR, Pseudomonas fluorescens, tanaman jagung ABSTRACTDowney mildew is the main disease in maize that caused by the fungus pathogen Peronosclerospora maydis. P. maydis caused significant yield loss of up to 100%. The various controls of downey mildew did not bring out succeed and even have a negative impact for the environment and human health. PGPR Pseudomonas fluorescens considered can be used as biological control agents against downy mildew which is environmental friendly. This study aims to determine the effectiveness of P. fluorescens in the controling of downey mildew in maize. Randomized Block Design were used in this research with concentration of P. fluorescens as a treatment consist of: P1 = 0 ml / L, P2 = 50 ml / L, P3 = 75 ml / L, P4 = 100 ml / L, P5 = fenamidone fungicide 50 %. The results showed that P. fluorescens effective to controling of downy mildew, while differences in P. fluorescens concentration has not significant effect for controlling downy mildew in maize. Keywords: Downy Mildew, PGPR, Pseudomonas fluorescens, Maize
Gunawan Wijonarko, Erminawati Erminawati, Isti Handayani
Abstract:
Biji ketapang mempunyaicita rasa yang enak dan komposisi kimia yang mirip dengan kacang tanah. Oleh karena itu biji ketapang mempunyai potensi yang sangat besar untuk dibuat menjadi produk pangan baru. Salah satu produk pangan tersebut adalah mentega ketapang (Catapa butter). Berdasarkan hal tersebut maka perlu dilakukan penelitian yang bertujuan untukmengevaluasi sifat kmiawi mentega ketapang yang dibuat pada berbagai : (1) lama penyangraian (2) lama perendaman (3) lama penyangraian dan perendaman.Rancangan yang digunakan dalam peneltian ini adalah Rancangan Acak Lengkap. Faktor yang dicoba adalah lama penyangraian (4 ; 8 ; dan 12 menit) dan lama prendaman (0 dan 12 jam). Perlakuan disusun secara faktorial sehingga diperoleh 6 kombinasi perlakuan. Percobaan diulang 4 kali dengan 24 unit percobaan. Variabel yang diamati adalah kadar air, abu, serat kasar, lemak dan protein. Data hasil pengamatan dianalisis menggunakan Uji F. Jika terdapat perbedaan nyata antar perlakuan maka dilanjutkan dengan Uji Rentang Jamak Duncan (DMRT) untuk menentukan perlakuan terbaik. Perlakuan terbaik kemudian dibandingakn dengan selai kacang tanah non komersial. Hasil penelitian menunjukkan lama penyangraian berpengaruh nyata terhadap kadar air dan abu sedangkan perendaman berpengaruh nyata terhadap kadar air, abu dan protein. Kombinasi keduanya memberikan pengaruh yang nyata hanya terhadap kadar protein. Penyangraian 8 menit menghasilkan mentega ketapang dengan kadar air 2,8% dan abu 2,6% sedangkan perendaman 0 jam menghasilkan mentega ketapang dengan kadar air 2,5%, abu 2,7% dan protein 26,5%. Kombinasi kedua perlakuan berpengaruh terhadap kadar air, abu dan protein mentega ketapang. Dibandingkan dengan SNI selai kacang tanah, mentega ketapang mempunyai karakter kimiawi yang mirip kecuali pada kadar abu yang cenderung lebih tinggi yaitu sebesar 2,7%. Penyangraian 8 menit dan perendaman 0 jam menghasilkan mentega ketapang dengan kadar air 2,7%, abu 2,5%, serat kasar 1,8%, lemak 50,6% dan protein 27,6%.
Abstract:
Bawang merah merupakan salah satu komoditas sayuran dengan nilai ekonomi tinggi, namun produktivitasnya di Kalimantan Selatan masih tergolong rendah. Salah satu penyebabnya yaitu penyakit moler yang disebabkan oleh patogen Fusarium spp., namun patogen ini diduga dapat ditekan melalui manipulasi lingkungan seperti pengubahan pola tanam bawang merah dari monokultur menjadi tumpang sari sekaligus pengaplikasian beberapa dosis pupuk kalium dalam usaha peningkatan ketahanan tanaman. Oleh karena itulah dilakukan penelitian ini untuk mengetahui efisiensi pemanfaatan lahan dan analisis finansial usaha tani bawang merah berpenyakit moler pada lingkungan yang telah dimanipulasi. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Fitopatologi Fakultas Pertanian Universitas Lambung Mangkurat Banjarbaru dan lahan Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa (BALITTRA) Banjarbaru dari bulan Oktober 2015-Maret 2016. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dari tiga faktor dan dua kali ulangan. Faktor pertama yaitu Fusarium spp.: tanpa Fusarium spp. dan dengan Fusarium spp.. Faktor kedua berupa dosis pupuk Kalium: 60 kg ha-1, 120 kg ha-1, dan 180 kg ha-1. Faktor ketiga berupa pola tanam: monokultur bawang merah, monokultur bawang sabrang, tanaman bawang merah 1 baris dan bawang sabrang 1 baris, tanaman bawang merah 2 baris dan bawang sabrang 1 baris, dan tanaman bawang sabrang mengelilingi pertanaman bawang merah. Total terdapat 60 petak percobaan. Hasil penelitian menunjukkan efisiensi pemanfaatan lahan dan analisis finansial usaha tani terbaik terdapat pada perlakuan 120 kg ha-1 K2O dengan pola tanam tanaman bawang sabrang mengelilingi pertanaman bawang merah berpenyakit moler.
Begananda Begananada
Abstract:
Penelitian ini bertujuan mengkaji pengaruh pupuk hayati mikoriza + azolla dengan pengurangan dosis anjuran pupuk N, P, dan K terhadap kebutuhan air, titik layu permanen, porositas, berat jenis isi, berat jenis partikel dan hasil tanaman bawang merah pada tanah ultisol. Rancangan percobaan yang digunakan adalah RAK dan diulang tiga kali. Faktor yang dicoba adalah (1) dosis pupuk hayati mikoriza + azolla dengan 3 taraf, yaitu: H1 = 10 g pupuk mikoriza + 0 g pupuk azolla, H2 = 20 g pupuk mikoriza + 10 g pupuk azolla, dan H3 = 30 g pupuk mikoriza + 20 g pupuk azolla per tanaman, dan (2) pengurangan dosis anjuran pupuk N, P dan K yang terdiri P0= pengurangan 0%, P1= pengurangan 25%, dan P2 = pengurangan 50%. Variabel yang diamati yaitu air tersedia, berat jenis isi, berat jenis partikel, porositas, batas cair, batas berubah warna, tinggi tanaman, bobot umbi segar, bobot umbi kering per polibag. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi pupuk hayati mikoriza + azolla dapat menurunkan kebutuhan air tanaman, bobot umbi kering dan berat jenis isi tetapi tidak berpengaruh pada berat jenis partikel, porositas, titik layu permanen, tinggi tanaman, dan bobot umbi segar. Kombinasi perlakuan terbaik yaitu pupuk hayati mikoriza + azolla 30 g per tanaman dan pengurangan dosis anjuran pupuk N, P dan K sekitar 43%. Kata Kunci : Bawang merah, kebutuhan air, Mikoriza, Azolla
Erni Indriani
Abstract:
Penelitian bertujuan untuk mengetahui jenis media tanam dan konsentrasi pupuk daun Farmer terhadap pertumbuhan vegetatif tanaman anggrek Phalaenopsis. Penelitian dilaksanakan di rumah plastik Desa Banjarsari Kulon, Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas dengan ketinggian tempat ± 250 m dpl. Desa Banjarsari Kulon berdasarkan letak astronomis berada pada 7,36˚ Lintang Selatan (LS) dan 109,24˚ Bujur Timur (BT). Penelitian dilaksanakan dari bulan Desember 2017 sampai Maret 2018 dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) dengan dua faktor perlakuan yaitu jenis media tanam (pakis, sabut kelapa dan akar kadaka) dan konsentrasi pupuk daun Farmer (0, 1, 2 dan 3 ml/l). Variabel yang diamati adalah jumlah klorofil daun, luas daun, peningkatan jumlah daun, diameter batang, intensitas cahaya, suhu, kelembaban dan jumlah stomata. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan uji F, apabila terdapat keragaman dilanjutkan Uji Jarak Berganda Duncan (p=0,05). Hasil penelitian menunjukkan bahwa media tanam sabut kelapa menghasilkan jumlah stomata tanaman anggrek Phalaenopsis tertinggi yaitu sebesar 39,79 stomata/mm2 dibandingkan media tanam akar kadaka (35,77) dan pakis (34,96). Perlakuan konsentrasi pupuk daun Farmer 1 ml/l dan 2 ml/l menghasilkan peningkatan jumlah daun lebih banyak pada tanaman anggrek Phalaenopsis yaitu sebesar 1,20 dan 1,19 helai dibandingkan konsentrasi 0 ml/l (1,11 helai) dan 3 ml/l (1,12 helai).Kata Kunci: Phalaenopsis, media tanam dan pupuk daun.farmer
Sepdian Luri Asmono, Vega Kartika Sari
Abstract:
Pengambangan tanaman kentang di dataran medium atau rendah sangat diperlukan untuk memperluas areal penanamannya. Oleh sebab itu harus ditunjang dengan metode kultur in vitro untuk memproduksi umbi dan tunas mikro kentang dan secara teknis diperlukan asupan zat pengatur tumbuh dan konsentrasi sukrosa yang cocok. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dari beberapa jenis auksin dan beberapa level sukrosa terhadap pembentukan umbi mikro dan regenerasi tunas kentang DTO-28 dan Desiree, serta mengetahui jenis auksin terbaik dan konsentrasi sukrosa. Penelitian ini dilaksanakan selama 4 bulan dan disusun menggunakan Rancangan Acak Lengkap Faktorial dengan 5 ulangan. Faktor perlakuan pertama ialah kultivar kentang (DTO-28 dan Desiree). Faktor kedua ialah auksin (IAA, IBA, NAA) dan faktor ketiga ialah konsentrasi sukrosa yang terdiri atas tiga taraf (90g/l, 120g/l, 150g/l). Parameter yang diamati meliputi persentase pembentukan umbi, waktu inisiasi, jumlah dan diameter umbi mikro, serta jumlah dan panjang tunas. Jenis auksin yang mampu memacu pembentukan umbi mikro lebih baik adalah NAA. Selain itu data menunjukkan bahwa semakin tinggi sukrosa yang diberikan akan berpengaruh pada jumlah umbi yang terbentuk. Perlakuan yang menggunakan 0,25 ppm NAA + 150 g/l sukrosa berpengaruh sangat nyata pada saat inisiasi umbi, yaitu pada 22 HST dan menghasilkan umbi terbanyak yaitu rata-rata 2,4 umbi/planlet. Kultivar yang sangat responsif terhadap media perlakuan adalah DTO-28. Selain itu, hasil analisis manyatakan bahwa semakin tinggi konsentrasi sukrosa semakin menurunkan jumlah dan menghambat pemanjangan tunas. Sukrosa pada konsentrasi 90 g/l memberikan jumlah tunas terbanyak yaitu rata-rata 5,27 tunas dengan panjang rata-rata 4,70 cm.Kata kunci: umbi mikro, sukrosa, auksin, desiree, DTO-28
, Agus Wahyudin, Aditya Ramdani
Agrin, Volume 22, pp 160-170; https://doi.org/10.20884/1.agrin.2018.22.2.464

Abstract:
Tujuan penelitian adalah mempelajari pengaruh interaksi antara dosis pupuk organik cair dan jarak tanamterhadap pertumbuhan dan hasil tanaman sorgum (Sorghum bicolor L. Moench). Penelitian dilakukan di StasiunLapangan Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran, Jatinangor Jawa Barat. Lokasi ini memiliki ketinggiansekitar 760 meter di atas permukaan laut, tipe tanah inseptisol dan tipe iklim Oldeman C3 pada tahun 2012.Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan pola faktorial, dua faktor perlakuan dantiga ulangan. Faktor pertama adalah dosis pupuk organik cair yang terdiri dari tiga taraf: 1,5 l / ha; 3 l / ha; dan 6l / ha. Faktor kedua adalah jarak tanam yang terdiri dari tiga taraf: 25 cm x 25 cm; 50 cm x 25 cm; dan 75 cm x 25cm. Pengamatan terdiri dari komponen hasil dan hasil tanaman sorgum. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwaantara jarak tanam dan dosis pupuk cair memberikan efek interaksi terhadap berat malai sorgum. Perlakuan pupukorganik cair dengan dosis 6 l / ha dan jarak tanam pada level 50 cm x 25 cm memberikan efek terbaik terhadapberat malai sorgum (94,90 g). Pengaruh mandiri jarak tanam pada level 50 cm x 25 cm memberikan hasil terbaikterhadap bobot biji per tanaman (71,31 g). Perlakuan pupuk organik cair dan jarak tanam memberikan efek yangsama terhadap panjang malai, berat 1000 butir, persentase bobot biji per tanaman, indeks panen, dan hasil perlahan.Kata kunci: pupuk organik cair, jarak tanam, hasil, sorgumABSTRACTThe objective of research was to study the effect of interaction between dosage of liquid organic fertilizerand plant spacing on growth and yield of Sorghum (Sorghum bicolor L. Moench). Research was carried out atAgriculture Faculty Field Station, Padjadjaran University, Jatinangor West Java. The site has an altitude about760 meter above sea level, inceptisols soil type and C3 climate type of Oldeman in 2012. The experiment used aRandomized Block Design (RBD) with factorial pattern, two factor of treatment and three replications. The Firstfactor was dosage of liquid organic fertilizer which consist of three levels: 1,5 l/ha; 3 l/ha; dan 6 l/ha. The Secondfactor was plant spacing consist of three levels: 25 cm x 25 cm; 50 cm x 25 cm; and 75 cm x 25 cm. Observationsconsist of components of yield and yield of sorghum plants. The results of this experiment showed that betweenplant spacing and dosage of liquid fertilizer give an interaction effect to panicle weight of sorghum. Treatment ofliquid organic fertilizer at dosage 6 l/ha and plant spacing at level 50 cm x 25 cm gave the best effects on panicleweight sorgum (94,90 g). Single effect treatment of plant spacing at level 50 cm x 25 cm gave the best result tograin weight per plant (71,31 g). Treatment of liquid organic fertilizer and plant spacing give the same effect topanicle length, weight of 1000 grain, percentage of kernels weight per plant, harvest index, and yield per field.Key words: liquid organic fertilizer, plant space, yield, sorgum
, Ferdi Fathurohman, Muhammad Abdul Hadi
Agrin, Volume 22, pp 116-122; https://doi.org/10.20884/1.agrin.2018.22.2.447

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian kompos limbah baglog dan pupukkandang domba terhadap karakter pertumbuhan. Penelitian dilaksanakan pada bulan April sampai Juni 2018 diJalan Cagak Desa Tambakan, Kabupaten Subang, Jawa Barat. Penelitian menggunakan (RAK) faktorial dengantiga kali ulangan. Terdapat 2 faktor yang diteliti yaitu kompos limbah baglog jamur dan pupuk kandang domba.Dosis kompos limbah baglog jamur (K) terdiri dari: K0 = tanpa kompos baglog, K1 = kompos baglog 90 gtanaman-1, K0 = kompos baglog 120 g tanaman-1. Pupuk kandang domba (P) terdiri dari: P0 = tanpa pupukdomba, P1 = pupuk domba 90 g tanaman-1, P2 = pupuk domba 120 g tanaman-1. Pengamatan dilakukan terhadapkarakter pertumbuhan tanaman meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, indeks luas daun dan bobot keringberangkasan tanaman. Hasil penelitian dosis kompos limbah baglog memberikan respon terbaik pada semuakarakter pertumbuhan dan t bobot kering berangkasan tanaman pada umur 5 MST, 10 MST. Perlakuan pupukkandang domba memberikan pengaruh paling baik pada umur 14 MST.Kata kunci: Arachis hypogaea L., baglog jamur, kacang tanah, karakter pertumbuhan, pupuk kandang dombaABSTRACTThe aim of this research is to know the effect of the compost made of baglog waste and lamb manure ongrowth character. This research was carried out in April to June 2018 in the Cagak Road Tambakan Village ofSubang on West Java. The study used a factorial (Randomized Group Design) with three times repeats. Thereare two factors that are baglog waste compost and lamb manure. Dose of compost baglog waste compost are ;K0 = without baglog waste compost, K1 = 90 g plant-1 baglog waste compost, K0 = 120 g plant-1 baglog wastecompost. Dose of lamb manure are; P0 = without lamb manure, P1 = 90 g plant-1 lamb manure, P2 = 120 gplant-1 lamb manure. Observations were made to the plant's vegetative characters i.e. plant height, number ofleaves, Leave Area Index and the dry weight of plant. The results of research on baglog waste compost dosesgave the best response to all growth characters and t-crop dry weight at age 5 MST, 10 MST. The treatment ofsheep manure had the best influence at the age of 14 MST.Key words: Arachis hypogaea L., mushroom baglog waste compost, peanut, growth character, manure of lamb
, Neni Gunaeni
Agrin, Volume 22, pp 93-103; https://doi.org/10.20884/1.agrin.2018.22.2.445

Abstract:
Tanaman bawang putih (Allium sativum L) termasuk dalam genus Allium yang diperbanyak secara vegetatifmelalui umbi. Virus merupakan salah satu penyakit penting yang perlu dipecahkan pada pembiakan vegetatif ini.Teknik inkonvensional kultur jaringan yang dikombinasikan dengan kemoterapi dapat membantu menghilangkanpenyakit virus. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh dari beberapa konsentrasi antiviral ribavirin dimedia MS terhadap pertumbuhan dan perkembangan shoot tip Bawang putih cv Lumbu Hijau, cv. Lumbu Kuning,cv. Tawangmangu. Percobaan dilakukan di laboratorium kultur jaringan, Balai Penelitian Tanaman Sayur(Balitsa), pada bulan Mei hingga Juli 2015. Sasaran penelitian adalah untuk menghasilkan tanaman bebas virusdengan menggunakan teknik kultur jaringan yang dikombinasikan dengan kemoterapi. Varibel yang diamatiadalah pertumbuhan dan perkembangan planlet bawang putih. Hasil dari penelitian (1) Kontaminasi kulturumumnya disebabkan oleh bakteri dan jamur dengan persentase 10 % sampai dengan 30%. (2) Penambahanantiviral ribavirin, semakin tinggi konsentrasi persentase tumbuh dan berkembang semakin rendah untuk ketigakultivar (3) Pengamatan secara visual penambahan antiviral ribavirin dan kultivar tidak berpengaruh pada jumlahtunas, rata-rata dari satu eksplan tumbuh satu tunas untuk ketiga kultivar (4). Penambahan antiviral ribavirin dankultivar tidak mempengaruhi pertumbuuhan daun, akar ketiga kultivar (5).Hasil pengujian virus dengan teknikDAS ELISA persentase kultur yang terinfeksi 54.55% sampai dengan 100 %.Kata kunci: bawang putih (Allium sativum L); antiviral ribavirin; kultivarABSTRAKThe garlic (Allium sativum L) belonging to the genus Allium, propagated in vegetative through bulb. Inthe plants propagated by vegetative technique, virus is an important disease to be solved. The tissue culturetechniques in combination with chemotheraphy could eliminate virus diseases. The experiment carried out in thelaboratory tissue culture, Balai Penelitian Tanaman Sayur (Balitsa) on May untill July 2015. The experiment aimsto observe the effect of several antiviral ribavirin concentration in MS medium on growth and development shoottip cv. Lumbu hijau , cv. Lumbu kuning , cv. Tawangmangu. It’s main goal is to produce virus-free plants usingtissue culture techniques combined with chemotheraphy. The variables observed were the growth and developmentof garlic plantlets. The results of the experiment are; (1). Culture contamination were generally caused by bacteriaand fungi with a percentage of 10% to 30%. (2) In the high concentration of antiviral ribavirin gave results ondecreasing growth and development of the three garlic cultivar (3) On visual observation, cultivar and antiviralribavirin has no effect on the number of shoots, each explants were growing one shoot. (4). The added of antiviralribavirin and cultivar does not affect on growth the three garlic cultivar . (5) The results of the test virus byserological test DAS ELISA...
, Wadli Wadli
Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk upaya peningkatan produksi dan hasil budidaya tanaman bawang merah yangberwawasan lingkungan dengan pemanfaatan pupuk kandang sapi dan pengaturan jarak tanam. Penelitiandilaksanakan selama 8 bulan dari bulan Januari sampai dengan Agustus 2015.Penelitian dilakukan di lahan sawahBrebes, Kabupaten Brebes, jenis tanah alluvial dengan ketinggian tempat kurang lebih 50 m dpl. Penelitian inimerupakan percobaan faktorial 4 x 3 dengan rancangan lingkungan adalah rancangan acak kelompok. Faktorpertama adalah Jarak Tanam: J1 = 20 cm x 20 cm, J2 = 20 cm x 15 cm, J3 = 20 cm x 10 cm. Faktor yang keduaadalah takaran pupuk kandang sapi yaitu K0 = 0ton/ha, K1 = 10 ton/ha, K2 = 20 ton/ha, K3 = 30 ton/ha. Karakterpertumbuhan dan hasil bawang merah diamati pada penelitian ini. Data hasil pengamatan dianalisis dengan uji Funtuk mengetahui keragamannya dan apabila ada perbedaan nyata dilanjutkan dengan DMRT dengan tingkatkesalahan 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil umbi segar dan kering bawang merah per hektar tertinggidiperoleh pada tanaman dengan perlakuan jarak tanam 20 x 15 cm dengan hasil 20,56 t/ha (umbi segar) dan 18,63t/ha (umbi kering).Kata kunci: bawang merah, jarak tanam, pupuk kandang sapi, pertumbuhan dan hasilABSTRACTThis reseacrh purpose was to know the effect of plant distance and application of cowmanure on growth and yield of shallot by which sustainable for agriculture production.. This research was donewithin 8 months since January until August 2015. This research was done in Brebe with characters of alluvial soiland place hight is less than 50 m above sea level. This research arranged by factorial with first factor of plantdistance viz. J1= 20 cm x 20 cm, J2= 20 cm x 15 cm, J3= 20 cm x 10 cm and second factor of cow manure dosageviz. K0 = 0 to/ha, K2 = 20 ton/ ha, K3 = 30 ton/ha. The character of growth and yield of shallots was observed inthis study.Data of observing result analized by F test and it will be continued by DMRT p= 5% if there wassignificant difference. Research result showed that the highest wet tuber and dry shallot per hectare mostly foundon plant distance 20 x 15 cm with the result of 20.56 t/ha and 18.63 t/ha, respectively.Keywords: shallot, plant distance, cow manure, growth and yield
, Mieke Rochimi Setiawati
Abstract:
Budidaya hidroponik belum efisien untuk digunakan, salah satu penyebabnya adalah tingginya kebutuhannutrisi. Pemanfaatan pupuk hayati diharapkan bias mengefisiensikan penggunaan nutrisi dan meningkatkanproduktivitas tanaman tomat Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh kombinasi nutrisi anorganik danpupuk hayati terhadap populasi Azotobacter sp, serapan N, kandungan klorofil, dan hasil tanaman tomat padasistem hidroponik. Penelitian ini dilakukan pada bulan Agustus – November 2017 di Rumah Kaca KebunPercobaan Ciparanje Universitas Padjadjaran, Jatinangor, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Metode penelitianini menggunakan rancangan acak kelompok (RAK). Kombinasi perlakuan terdiri atas rekomendasi nutrisianorganik dengan konsentrasi 100%, 75%, dan 50% dan rekomendasi pupuk hayati 100%, 75%, 50%, dan 25%.Variabel yang diamati meliputi populasi Azotobacter sp, kandungan klorofil, serapan N, jumlah buah tomat danbobot buah tomat. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tidak terdapat pengaruh nyata pemberian nutrisianorganik dan pupuk hayati terhadap populasi Azotobacter sp, kandungan klorofil, serapan N, serta hasil tanamantomat. Pemberian perlakuan 50% nutrisi Anorganik + 100% pupuk hayati dapat meningkatkan bobot buah sebesar40% dibandingkan pemberian 100% nutrisi anorganik.Kata kunci: Azotobacter sp., klorofil, nutrisi anorganik, hydroponik, tomatABSTRACTHydroponic cultivation is not efficient because of its high demand for nutrients. Therefore, the utilizationof inorganic nutrients and biofertilizer is expected to improve the efficiency of nutrients uptake and increase theproductivity. The aim of research was to determine the effect of combination of inorganic nutrient dosage andbiofertilizer on the population of Azotobacter sp, N uptakes, chlorophyll content, and yield of tomatoes plantinhydroponic systems. This experiment was conducted on August - November 2017 at GreenhouseExperimentGarden Ciparanje Padjadjaran University, Jatinangor, Sumedang Regency, West Java. This research methodused Randomized Block Design (RBD). The treatment combination consisted of dosage recommendation ofinorganic nutrition with 100%, 75% and 50% concentrations, and 100%, 75%, 50%, and 25% of biofertilizer. Thevariables observed included the population of Azotobacter sp, chlorophyll content, N uptake, number of tomatoesand weight of tomatoes. The result of this study indicated that the effect of application both, inorganic nutrientsand biofertilizer did not significantly affect the population of Azotobacter sp, chlorophyll content, N uptakes, andyield of tomatoes. The application of 50% Inorganic nutrition + 100% of biofertilizer increased fruit weight by40% compared to 100% of inorganic nutrients.Keywords: Azotobacter sp., chlorophyll, biofertilizer, hydroponic, tomato
, Sekar Utami Putri
Agrin, Volume 22, pp 123-131; https://doi.org/10.20884/1.agrin.2018.22.2.448

Abstract:
Padi di Kabupaten Jember mengalami penurunan produksi, salah satunya disebabkan oleh organismepengganggu tanaman. Aplikasi PHT (Pengendalian Hama Terpadu) dengan memanfaatkan musuh alami dapatditerapkan agar ekosistem pertanaman padi seimbang. Penggunaan refugia bagi hama padi diharapkan efektifuntuk mengurangi populasi dan serangan hama. Penelitian dilakukan dari Agustus hingga Oktober 2017 di DesaSuren, Kecamatan Ledokombo, Kabupaten Jember. Refugia yang digunakan adalah kenikir (Cosmos caudatus)dan bunga kertas (Zinnia elegans). Pengambilan sampel acak adalah sistematis (pola zig-zag). Variabel yangdiamati adalah investasi dan klasifikasi populasi serangga. Prosedur pengumpulan data menggunakan metodepengumpulan data primer. Populasi hama padi tertinggi diketahui pada perlakuan yang tidak berada pada tanamanrefugia di pinggir sawah dan hama yang paling dominan adalah wereng hijau poppy atau Nipothetix spp denganjumlah populasi rata-rata 12 ekor. Pengamatan tanaman padi yang diolah dan ditanami tanaman refugia di pinggirsawah, diketahui populasi tertinggi pada umur 4 MST dan serangga yang diidentifikasi adalah hama. Total musuhalami pada tanaman padi tanpa tanaman refugia sebanyak 305 ekor, tanaman padi dengan tanaman refugiasebanyak 438 ekor. Populasi serangga musuh alami lebih besar pada tanaman padi dengan tanaman refugia. Halini disebabkan sepanjang sawah ditumbuhi gulma dan tanaman refugia.Kata kunci: Cosmos caudatus, Nipothetix spp, Zinnia elegansABSTRACTRice is the staple food commodity of Indonesian society. Jember regency has experienced decreased inrice production. One of cause is plant-disturbing organism. Maintenance of rice crops done by farmers so far isby using synthetic chemical pesticides. By utilizing natural enemies, IPM application (Integrated Pest Control)can be applied properly for rice ecosystem to be balanced. This research was conducted from August to October2017 in Suren Village, Ledokombo Sub-district, Jember District. Refugia used in this research are seeds kenikir(Cosmos caudatus) and Bougainvillea (Zinnia elegans). The rice variety used is Ciherang. Random sampling issystematic (zigzag pattern). The variables observed in this research are investment and classification of insectpopulation. The data collection procedure uses primary data collection method. It is known that the highest ricepest population is known in the treatment that is not in plant refugia plant on the edge of the rice field and themost dominant pest is the green planthopper poppy or Nipothetix spp average number of population there are 12tails. While on the observation of rice plants that are treated planted refugia plant on the edge of the rice field isknown to the highest population at age 4 MST and the pests that are identified is pest. Total natural enemies inrice plants without refugia plants as many as 305 head, rice plant with Refugia plant as many as 438 tail. It canbe seen that in rice plants with plants Refugia larger population of...
Nur Wakhid, Haris Syahbuddin
Agrin, Volume 22, pp 145-159; https://doi.org/10.20884/1.agrin.2018.22.2.463

Abstract:
Salah satu faktor penentu keberhasilan budidaya pertanian di lahan rawa pasang surut adalah waktu tanam.Waktu tanam tanaman pangan terutama padi mempunyai peranan yang sangat penting pada produksi akhir hasilpertanian. Di Indonesia saat ini dikenal 3 Musim Tanam, yaitu musim hujan, antara bulan November-Pebruari,musim kemarau I, antara bulan Maret-Juni; dan musim kemarau II, antara bulan Juli-Oktober. Akan tetapi,dinamika perubahan iklim seperti kekeringan (El Nino) dan kebasahan (La Nina) yang tidak menentu, berimbaspada pergeseran awal dan akhir musim tanam serta berdampak negatif bagi produktivitas tanaman padi. Adanyahal tersebut, analisis tentang waktu tanam padi di lahan rawa pasang surut Pulau Kalimantan perlu dilakukan.Waktu tanam di lahan pasang surut dimulai setelah jumlah air hujan mencukupi untuk melarutkan kadar besi yangada di dalam air. Realisasi tanam di Provinsi Kalimantan Barat umumnya terjadi pada Dasarian 28 (Oktober),Kalimantan Timur pada Dasarian 31 (November), serta Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah pada Dasarian7 (Maret). Waktu tanam di lahan rawa pasang surut menunjukkan tingkat kekukuhan yang tinggi terhadapperubahan iklim, dimana waktu tanam tidak terlalu berubah selama 10 tahun pada kondisi iklim yang berbeda.Kata kunci: dasarian, luapan, air hujan, kekukuhanABSTRACTOne of the critical factors for agricultural cultivation in tidal swamp land is cropping time. Paddy croppingtime has a very important role in the final production of agricultural cultivation. Currently, there are 3 croppingtime in Indonesia, in the rainy season (November to February), first of dry season (March to June), and second ofdry season, (July to October). However, the climate change dynamic such as drought (El Nino) and wetness (LaNina), shifting the cropping time and resulting a negative impact on the productivity of paddy rice. Therefore, ananalysis of the rice cropping time needs to be done on Kalimantan tidal swampland area. Cropping time in thetidal swampland area began after the amount of rain was sufficient to dissolve the levels of iron in water. In WestKalimantan, the cropping time realization generally occurs in Dasarian 28 (October), while East Kalimantan onDasarian 31 (November), and South Kalimantan and Central Kalimantan on Dasarian 7 (March). Cropping timein tidal swamp land showed a high level of resistance to climate change, in which planting time did not changefor 10 years in different climatic conditions.Key words: decadal, tidal, rainwater, substantiality
Anissa Mutiara Herlianti, Mieke Rochimi Setiawati, Raginawanti Hindersah
Abstract:
Hidroponik NFT (Nutrient Film Technique) merupakan salah satu sistem hidroponik dimana lapisannutrisi yang sangat dangkal disirkulasikan melewati akar tanaman. Sistem hidroponik bergantung pada nutrisianorganik sebagai pemasok unsur hara. Penggunaan pupuk hayati diharapkan dapat mengurangi dosis pupukanorganik yang diaplikasikan pada sistem hidroponik agar lebih efisien. Penelitian ini bertujuan untukmengetahui dosis terbaik kombinasi pupuk hayati dan pupuk anorganik dalam meningkatkan populasi bakteriendofit, kandungan klorofil dan hasil tanaman pakcoy pada hidroponik sistem NFT. Penelitian telahdilaksanakan diLaboratorium Biologi Tanah, Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran, Jatinangor,Sumedang.Percobaan ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri dari empat perlakuanyaitu 100% Pupuk Anorganikdan 100% Pupuk Hayati + Pupuk Anorganik 100%, 75% dan 50%. Variabel yangdiamati adalah tinggi tanaman, populasi bakteri endofit, kandungan klorofil, hasil tanaman. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa pemberian 100% pupuk hayati dan 50% pupuk anorganik dapat mengurangi penggunaanpupuk anorganik hingga 50 % dan berpengaruh terhadap peningkatan populasi bakteri endofit, kandunganklorofil dan hasil tanaman pakcoy pada hidroponik sistem NFT.Kata kunci: bakteri endofit, klorofil, pupuk hayati, hidroponik NFT, pakcoyABSTRACTHydroponics NFT (Nutrient Film Technique) is one of the hydroponic systems where superficial layers ofnutrients are circulated through plant roots. Hydroponic system is depended on anorganic nutrient as nutrientssupplier. The use of biofertilizer was expected to reduce the dosage of inorganic nutrient solution on hydroponicsystem. The aims of this research were to find the best dosage combination biofertilizer and inorganic nutrientsolution on the population of endophytic bacteria, chlorophyll content and yield of pakcoy (Brassica rapa L) onhydroponic NFT system. The research has been conducted at Soil Biology Laboratory of Faculty of AgriculturePadjadjaran University, Jatinangor, Sumedang Regency. The design experiment was randomized blockdesignwhich consisted offour combinationthat was 100% inorganic nutrients and 100% biofertilizer + inorganicnutrients 100%, 75% and 50%. The variables observed were plant height, population of endophytic bacteria,chlorophyll content, plant yields. The results showed that 100% biofertilizer and 50% anorganic nutrition canreduce usage inorganic nutrients up to 50% and take effect on population of endophytic bacteria, chlorophyllcontent and yield of pakcoy (Brassica rapa L) on hydroponic NFT system.Keywords: endophytic bacteria, chlorophyll, biofertilizer, NFT hydroponic, pakcoy
, Annisa Nur Ichniarsyah
Abstract:
Kandungan vitamin C yang tinggi pada kale membuat sayuran ini menjadi primadona. Berbagai upaya padateknik budidaya dengan penambahan pupuk kalium dalam bentuk KNO3 dilakukan dengan harapanmampumeningkatkan pertumbuhan dan kandungan vitamin C nya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahuiefektivitas KNO3 pada berbagai konsentrasi terhadap pertumbuhan dan kandungan vitamin C pada kale. Penelitiandilaksanakan dari Januari hingga Oktober 2017 dengan menggunakan dua jenis kale yaitu Nero Toscana (kultivardaun hijau) dan Curly Scarlet (kultivar daun ungu) tanpa dimaksudkan untuk membandingkan keduanya.Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) satu faktor yaitu konsentrasi KNO3 yang terdiri atas5 taraf: tanpa KNO3 (kontrol), 2 g/L, 4 g/L, 6 g/L, 8 g/L. Karakter pertumbuhan, hasil panen dan kandunganvitamin C diamati pada penelitian ini. Hasil percobaan menunjukkan bahwa pemberian KNO3 secara umum tidakmemberikan dampak nyata terhadap pertumbuhan dan hasil panen kale hijau. Namun aplikasi KNO3dengankonsentrasi 8 g/L berhasil meningkatkan kandungan vitamin C dibandingkan seluruh perlakuan dengan rata-rata120.29 mg/100 g dari lima kali panen. Puncak vitamin C sebesar 152.18 mg/100 g terjadi saat kale hijau dipanenpada usia 175 hari setelah tanam (HST). Sementara pada kale ungu pemupukan KNO3 dengan konsentrasi 8 g/Lmampu meningkatkan tinggi tanaman lebih besar 6.18 cm dan luas daun lebih besar 14.19 cm2 dibandingkankontrol tetapi tetap tidak berdampak pada hasil panennya. Kandungan vitamin C pada kale ungu berhasilditingkatkan dengan perlakuan KNO3 8 g/L dengan rata-rata 141.13 mg/100 g dari lima kali panen. Puncak vitaminC sebesar 182.3 mg/100 g terjadi saat kale ungu dipanen pada usia 85 HST.Kata kunci:kale Nero Toscana, kale Curly Scarlet, pupuk kalium, waktu panenABSTRACTKale contains high vitamin C and makes it become a vegetables that are in great demand. One of variousefforts on cultivation techniques such as the application of potassium fertilizer was done to improve growth andincrease vitamin C content. This research aimed to observe the effectiveness of KNO3 in various concentrationson growth and vitamin C content. The research was done from January-July 2017, using two varieties of kale;Nero Toscana (green-leaf cultivar) and Curly Scarlet (purple-leaf cultivar) without intending to compare bothvarieties. Research design used was 1-factor randomized group design (KNO3 concentration) consists of 5 levels:without KNO3 (control), 2 g/L, 4 g/L, 6 g/L, and 8 g/L. Characteristics of growth, yields and vitamin C contentwere observed in this study. From the results, it can be seen that the application of KNO3 generally did not givesignificant effect on growth and yield. However, the application of 8 g/L KNO3 concentration successfullyincreased the vitamin C content compared to other treatments with average of 120.29 mg/100 g of five harvests.The highest vitamin C content was 152.18 mg/100 g obtained at 175 days after planting. The...
, Eti Suminartika
Agrin, Volume 22, pp 104-115; https://doi.org/10.20884/1.agrin.2018.22.2.446

Abstract:
PT.Pertani bergerak salah satunya di bidang produksi dan distribusi benih. Berdasarkan benih yangdipasarkannya, ada dua jenis konsumen benih padi PT. Pertani yaitu konsumen benih bersubsidi dan non subsidi.Penelitian ini dilakukan untuk menentukan kualitas bauran pemasaran benih padi bersertifikat non subsidiberdasarkan kepuasan petani padi sebagai konsumen benih. Penelitian dilakukan dengan teknik deskriptifkuantitatif yang mengidentifikasi tingkat kesesuaian antara kepentingan dan pelaksanaan bauran pemasaran yangdirasakan oleh petani padi, prioritas perbaikan bauran pemasaran, serta tingkat kepuasan petani. Terdapat tujuhatribut bauran pemasaran yang dinilai berdasarkan prinsip bauran pemasaran 7P dan dianalisis dengan metodeImportance-Performance Analysis (IPA) dan Customer Satisfaction Index (CSI). Penelitian dilakukan di empatdesa yang berada di wilayah Kios Tani Ramah, Kabupaten Karawang. Alasan pemilihan Kios Tani Ramah adalahkarena kios ini adalah pemasar benih padi bersertifikat terbesar dari PT. Pertani Cabang Karawang, dimana PT.Pertani sendiri merupakan satu dari dua BUMN yang memproduksi benih padi bersertifikat. Variabel yang akanditeliti pada penelitian ini adalah bauran pemasaran 7P (Product, Price, Place, Promotion, People, Process, danPhysical Evidence). Hasil penelitian menunjukkan bahwa yang menjadi prioritas untuk ditingkatkan ialah atributketahanan hama, penyakit, kesesuaian harga dengan kualitas, promosi word of mouth, dan kebersihan kios. Tingkatkepuasan petani berdasarkan penilaian CSI yaitu 75,20% atau 0,752 yang berarti ada pada kriteria puas, karenaberada diantara 0,66 – 0,80.Kata kunci: kepuasan petani, bauran pemasaran, benih padi bersertifikat, non subsidi, IPAABSTRACTOne of PT.Pertani’s business branch is seed production and distribution. Based on the seeds market, thereare two types of consumers of PT. Pertani. Those are, subsidized and non-subsidized seed consumers. Thisresearch was conducted to determine the quality of marketing mix of certified rice seeds based on the satisfactionof the rice farmers as seed consumers. The research was conducted with quantitative descriptive analysis methodthat identifies the level of conformity between the importance and the implementation of the marketing mixperceived by the rice farmers, the priority of the marketing mix improvement, and the level of farmer satisfaction.There are seven marketing mix attributes that are judged by the 7P marketing mix principle and analyzed byImportance-Performace Analysis (IPA) and Customer Satisfaction Index (CSI) method. The study was conductedin four villages located in Kios Tani Ramah area, Karawang Regency. The reason for choosing Tani Ramah Kioskis because this kiosk is the largest certified rice seeds marketer from PT. Pertani Karawang Branch, where PT.Pertani itself is one of two state-owned enterprises that produce certified rice seeds. The variables to be sold inthis study are 7P marketing mix (Product, Price, Place,...
, Neni Gunaeni
Abstract:
Tanaman bawang merah (Allium ascolonicum L) termasuk dalam genus Allium sp yang diperbanyak secaravegetatif melalui umbi. Perbanyakan benih bawang sudah dilakukan secara in vitro (konvensional), untuk tujuanpeningkatan mutu atau hanya perbanyakan tanaman . Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Kultur JaringanBalai Penelitian Tanaman Sayuran, pada bulan Februari sampai Agustus 2014. Untuk menghasilkan tanamanbebas penyakit terutama virus dapat digunakan teknik kultur jaringan yang dikombinasikan dengan perlakuanpemanasan. Penelitian bertujuan untuk melihat pengaruh pemanasan dan sumber eksplan terhadap pertumbuhandan perkembangan eksplan bawang merah.. Perlakuan pemanasan bahan eksplan bawang merah dilakukan secarabertahap selama 4 minggu, masing-masing 1 minggu untuk suhu (30, 33, 35 dan 37 oC). Media yang dipergunakanuntuk penumbuhan eksplan adalah MS + MS vits + sucrose 30 g/l + IAA 2 mg/l + Kinetin 2 mg/l + GA3 0.01mg/l agar gelgro 2 g/l pH 5.7. Penelitian terdiri dari 2 kegiatan yaitu Perlakuan pada cv. Pikatan, dan pada cv.Bima Brebes. Sebagai eksplan dipergunakan yaitu (1/3 bulb/ umbi) dan (shoot tip/ jaringan meristematik denganbeberapa daun primordia). Perlakuan eksplan yang digunakan yaitu tanpa pemanasan dan dengan pemanasan.Pertumbuhan dan perkembangan dari planlet diamati pada penelitian ini. Hasil dari penelitian menunjukkanbahwa perlakuan pemanasan bahan eksplan bawang merah cv. Bima Brebes, belum menurunkan persentase planletyang terinfeksi virus. Eksplan (1/3 bulb) dan (shoot tip), mempunyai pertumbuhan eksplan diatas 50%. Umumnyasemakin kecil eksplan persentase planlet abnormal semakin tinggi. Kontaminasi kultur umumnya disebabkanbakteri dan jamur yang terbawa dari eksplan (endogen). Perlakuan pemanasan bahan eksplan bawang merah secaravisual tidak berpengaruh pada persentase pertumbuhan dan persentase kultur terkontaminasi.Kata kunci: Bawang merah, Allium ascolonicum L, pemanasan, asal eksplanABSTRACTRed onion plants (Allium ascolonicum L) are included in the genus Allium sp which is propagatedvegetatively through tubers. Propagation of onion seeds has been done in vitro (conventionally), for the purposeof quality improvement or only plant propagation. The research was carried out at the Tissue Culture Laboratory,Balai Penelitian Tanaman Sayuran (Balitsa) from February to August 2014. To produce plants free of mainly viraldiseases can be used tissue culture techniques combined with heating treatment. Research aims were to look atthe effect of heating and explants on the growth and development of red onion explants. The treatment of the onionexplants was heated gradually for 4 weeks, 1 week each for temperatures (30, 33, 35 and 37 oC). The media usedfor the growth of explants is MS + MS vits + sucrose 30 g / l + IAA 2 mg / l + Kinetin 2 mg / l + GA3 0.01 mg / lso that gelgro 2 g / l pH 5.7. The study consisted of 2 activities, namely, treatment at cv. Pikatan, and at cv. BimaBrebes. As explants it is used (1/3 bulb /...
Naimatul Khoiriyah, Tamad Tamad,
Agrin, Volume 22, pp 132-144; https://doi.org/10.20884/1.agrin.2018.22.2.462

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pupuk organik hayati, kimia dan metode konservasitanah terhadap hasil kentang di andisol, serta hubungan hasil kentang dan serapan P dengan perlakuan pupukorganik hayati, kimia dan metode konservasi di andisol. Penelitian dilakukan bulan Maret-Desember 2017 di DesaPandansari, Paguyangan, Brebes dan Laboratorium Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas JenderalSoedirman, Purwokerto. Rancangan percobaan yang digunakan adalah RAK faktorial dengan tiga faktor. Faktorpertama yaitu pupuk organik (P) dengan 6 taraf terdiri dari P1 (kontrol), P2 (POH 20 ton/ha), P3 (POH 15 ton/ha),P4 (POH 10 ton/ha), P5 (POH 5 ton/ha) dan P6 (POH 2,5 ton/ha). Faktor kedua adalah pupuk kimia (K) dengan 4taraf yaitu K1 (kontrol), K2 (dosis anjuran dan 200 kg kapur), K3 (1/2 dosis anjuran dan 200 kg kapur) dan K4(1/4 dosis anjuran dan 200 kg kapur). Faktor ketiga yaitu lereng dengan 3 taraf, yang terdiri dari L1 (kontrol), L2(bedengan sejajar kontur miring 10%) dan L3 (bedengan sejajar kontur). Variabel yang diamati yaitu tinggitanaman, jumlah daun, hasil kentang, pH H2O, dan serapan P. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pupuk organikhayati dan kimia dengan metode konservasi tanah berpengaruh terhadap hasil kentang di andisol dan terdapathubungan korelasi antara hasil kentang dan serapan P.Kata kunci: serapan P, hasil kentang dan andisolABSTRACTThis study aims to determine the effect of biological organic fertilizer, chemistry and soil conservation methodson the results of potatoes at andisol, as well as the relationship between potato yield and P uptake by treatment ofbiological organic fertilizers, chemicals and conservation methods in andisol. This research was conducted inMarch-December 2017 in Pandansari Village, Paguyangan, Brebes and Soil Science Laboratory, Faculty ofAgriculture, Jenderal Soedirman University, Purwokerto. The experimental design used was factorial RandomizedGroup Design (RAK) with three factors. The first factor is organic fertilizer (P) with 6 levels consisting of P1(control), P2 (POH 20 tons / ha), P3 (POH 15 tons / ha), P4 (POH 10 tons / ha), P5 (POH 5 tons / ha) and P6(POH 2.5 tons / ha). The second factor is chemical fertilizer (K) with 4 levels, namely K1 (control), K2(recommended dosage and 200 kg of lime), K3 (1/2 recommended dose and 200 kg of lime) and K4 (1/4recommended dose and 200 kg chalk). The third factor is the slope with 3 levels, which consists of L1 (control),L2 (10% sloping contour parallel beds) and L3 (contour parallel beds). The variables observed were plant height,leaf number, potato yield, H2O pH, and P. uptake. The results showed that biological and chemical organicfertilizers with soil conservation methods influenced the yield of potatoes in andisol and there was a correlationbetween potato yields and P uptake.Keywords: P uptake, potato yield and andisol
Putri Permata Sari, Eti Suminartika
Abstract:
Produktivitas pemetik teh di Perkebunan teh Cibuni mengalami penurunan disebabkan oleh berkurangnyajumlah tenaga kerja pemetik teh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui produktivitas pemetik dan faktorfaktoryang mempengaruhi produktivitas pemetik di Perkebunan teh Cibuni. Penelitian ini dilakukan diPerkebunan Teh Cibuni, Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung. Desain penelitian yang digunakan yaitudesain kuantitatif dengan teknik penelitian survei. Pengambilan sampel menggunakan metode acak sederhanadengan sampel 40 orang pemetik. Analisis data menggunakan regresi linier berganda dengan alat bantu SPSS IBMStatistics, pengujian asumsi klasik dan pegujian hipotesis menggunakan uji , uji F dan uji t. Variabel yangdigunakan yaitu motivasi, kedisiplinan, jenis kelamin, usia, pengalaman kerja, keterampilan, dan kapasitas petik.Hasil penelitian menunjukan bahwa nilai determinasi sebesar 0.845 = 84.5% yang artinya pengaruh semuavariabel bebas terhadap variabel terikat adalah 84.5%, sedangkan 15.5% lainnya dipengaruhi oleh variabel lainyang tidak diteliti. Nilai R atau nilai korelasi sebesar 0.934 menunjukan kekuatan hubungan yang sangat kuatantara motivasi, kedisiplinan, jenis kelamin, usia, pengalaman kerja, keterampilan dan kapasitas petik denganproduktivitas kerja pemetik. Hasil uji t menunjukan variabel yang berpengaruh secara signifikan terhadapproduktivitas pemetik teh yaitu motivasi, usia, pengalaman kerja, keterampilan dan kapasitas petik, sedangkanvariabel yang tidak berpengaruh signifikan terhadap produktivitas pemetik teh yaitu kedisiplinan dan jeniskelamin.Kata kunci: faktor-faktor, produktivitas, pemetik tehABSTRACTThe productivity of the tea pickers in Cibuni tea plantation has decreased due to the decreasing number ofthe tea pickers. This research aims to determine the productivity of the tea pickers and factors that affect theproductivity of the tea pickers in Cibuni tea plantation. This research was conducted at Cibuni Tea Plantation,Rancabali District, Bandung Regency. The research design used is the quantitative design with the survey researchtechnique. The sampling used a simple random method with a sample of 40 pickers. The data analysis used themultiple linear regressions with SPSS IBM Statistics tool, classical assumption test and hypothesis test using R2test, F test and t test. The variables used were motivation, discipline, gender, age, work experience, skills, andquoting capacity. The results showed that the value of determination of 0.845 which means the influence of allindependent variables on the dependent variable is 84.5%, while the other 15.5% are influenced by other variablesthat are not examined. The R value or correlation value of 0.934 shows a very strong relationship betweenmotivation, discipline, gender, age, work experience, skills and picking capacity with the work productivity of thepicker. The result of t test shows that the variables that significantly influence the productivity of the tea pickersare...
Page of 2
Articles per Page
by
Show export options
  Select all
Back to Top Top