Refine Search

New Search

Results in Journal Jurnal Agro Ekonomi: 292

(searched for: journal_id:(1938020))
Page of 6
Articles per Page
by
Show export options
  Select all
Timbul Rasoki, Anna Fariyanti, Amzul Rifin
Jurnal Agro Ekonomi, Volume 34; https://doi.org/10.21082/jae.v34n2.2016.145-160

Abstract:
EnglishDemand for shallot, used for consumption and seed, tends to increase. However, there are some problems of discontinuity and price fluctuation in its marketing. This research aims to analyze the supply chain of consumption and seed shallot, particularly in Brebes Regency. The research was conducted in the period of April–December 2015 using primary and secondary data. Primary data were obtained through interviews using a questionnaire from 30 farmers based on purposive sampling and 18 traders using a snowball sampling method. Data were analyzed descriptively using a supply chain approach. The results showed that supply chain of shallot for seed was managed better than thatfor consumption purposes. This situation is in line with marketing efficiency. The market of shallot for seed is more efficient than that for consumption indicated by marketing margin and farmer’s share. It is necessary that the government improvesshallot supply chain management particularly for certified high-quality shallot seed provision at affordable price.IndonesianPermintaan bawang merah baik untuk konsumsi maupun benih cenderung meningkat. Namun demikian masih terdapat kendala diskontinuitas serta fluktuasi harga dalam pemasarannya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis rantai pasok bawang merah untuk konsumsi dan benih, khususnya di Kabupaten Brebes, Provinsi Jawa Tengah. Penelitian dilakukan pada bulan April–Desember 2015 menggunakan data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui wawancara menggunakan kuesioner secara langsung dengan responden sebanyak 30 orang petani bawang merah yang dipilih secara purposive sampling serta pedagang bawang merah sebanyak 18 orang dengan metode snowball sampling. Data dianalisis secara deskriptif menggunakan pendekatan rantai pasok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rantai pasok bawang merah untuk benih lebih terkelola daripada rantai pasok bawang merah untuk konsumsi. Pasar bawang merah untuk benih lebih efisien dibandingkan dengan pasar bawang merah untuk konsumsi,yang tercermin dari indikator margin pemasaran dan farmer’s share. Diperlukan kebijakan perbaikan manajemen rantai pasokan bawang merah yang berorientasi pada penyediaan benih bermutu/bersertifikat dengan harga yang terjangkau petani.
Nfn Rushendi, Sarwititi Sarwoprasdjo, Retno Sri Hartati Mulyandari
Jurnal Agro Ekonomi, Volume 34, pp 135-144; https://doi.org/10.21082/jae.v34n2.2016.135-144

Abstract:
English Citronella-livestock bio-industry farming system is an innovative integrated farming model consisting of citronella farming, livestock, and other farming and product processing related activities in a biomass and material circular manner. Development of this innovation is still going on, but innovation delivery to the local community is still sub-optimal. The reason is presumably due to some determinants of adoption decision including communication form, delivery method, innovation recipients, and technological innovation. The objective of the study is to analyze the level of adoption decision and the influence of interpersonal communication media. The study used survey method with descriptive quantitative approach using multinomial logistic regression. The location was selected purposively. The survey was conducted in the period of March–May 2016 from 230 farmers who were selected using cluster random sampling technique. Results indicated that technology components adopted by farmers including plant citronella, use of dung manure for organic fertilizer and household biogas, and yoghurt processing. Factors influencing innovation adoption decision are interpersonal communication media through talk, dialogue, and results show. Credibility factors of information sources influencing adoption decision are confidence level and competency of information sources from fellow farmers, existing institutions, extension workers, and staff of the experimental station. Indonesian Pertanian bioindustri integrasi serai wangi-ternak merupakan model pertanian terpadu yang terdiri atas usaha tani serai wangi, peternakan, dan kegiatan usatani maupun pengolahan hasil lainnya dalam bentuk siklus biomassa dan materi. Pengembangan inovasi tersebut masih berjalan, namun penyampaian inovasi kepada masyarakat sekitar belum optimal. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor penentu keputusan adopsi termasuk bentuk komunikasi yang disampaikan, metode penyampaian, penerima inovasi, dan teknologi inovasi. Penelitian bertujuan untuk mengetahui tingkat keputusan adopsi dan pengaruh media komunikasi interpersonal. Penelitian menggunakan metode survei melalui pendekatan kuantitatif deskriptif dengan uji regresi multinomial logistic. Lokasi penelitian dipilih secara purposive di Desa Cikahuripan, Kecamatan Lembang, Kabupatan Bandung Barat. Penelitian dilakukan selama bulan Maret–Mei 2016 dengan jumlah responden sebanyak 230 petani yang dipilih dengan teknik cluster random sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komponen teknologi yang diadopsi petani meliputi menanam serai wangi, pemanfaatan limbah kotoran ternak menjadi pupuk organik dan biogas rumah tangga, serta membuat yoghurt. Faktor yang memengaruhi keputusan adopsi inovasi adalah media komunikasi interpersonal melalui ceramah, dialog, dan demonstrasi hasil. Faktor kredibilitas sumber informasi yang memengaruhi keputusan adopsi adalah tingkat kepercayaan dan kompetensi sumber informasi dari sesama petani, kelembagaan yang ada, penyuluh, dan staf Kebun Percobaan.
Edi Setiawan, Sri Hartoyo, Bonar M. Sinaga, M. Parulian Hutagaol
Jurnal Agro Ekonomi, Volume 34; https://doi.org/10.21082/jae.v34n2.2016.81-104

Abstract:
EnglishAs one of the five most populous countries in the world, Indonesia has a big challenge to meet the food needs of its people. Food diversification has long been an important agenda of the national agricultural development planning program, but the achievement, however, remains disappointing. This paper aims to analyze the impacts of rice input, output and trade policy on diversification of major staple food consumption and production. This study analyzes four main staple foods, i.e. rice, maize, cassava, and wheat using national series data for the period of 1981-2013. The System of Simultaneous Equations Model consisting of 22 structural equations and 31 identity equations were estimated using a Two-Stage Least Square method. The results show that single policy instrument of reducing fertilizer and seed subsidies and increasing the government purchasing price policy increase diversification of food consumption and production. Increasing rice import tariff is not effective to improve either consumption nor production diversification, but rice import ban could improve consumption diversification. Increasing the government purchasing price is not quite effective as the compensation for the fertilizer subsidy reduction. The fertilizer subsidy reduction policy should be conducted gradually. Seed subsidy reduction combined with rice import ban is considered as an alternative to the existing policy. IndonesianSebagai salah satu dari lima negara dengan penduduk terbesar di dunia, Indonesia mempunyai tantangan cukup besar dalam pemenuhan konsumsi pangan penduduknya. Diversifikasi pangan sudah lama menjadi salah satu agenda penting dalam program nasional pembangunan pertaniani namun pencapaiannya masih jauh dari yang diharapkan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak kebijakan input, output, dan perdagangan beras terhadap diversifikasi produksi dan konsumsi pangan pokok yaitu, beras, jagung, ubi kayu, dan terigu, untuk data tingkat nasional tahun 1981–2013. Penelitian ini menggunakan model persamaan simultan, terdiri atas 22 persamaan struktural dan 31 persamaan identitas yang diestimasi dengan metode Two Stage Least Square (2SLS). Hasilnya menunjukkan bahwa kebijakan tunggal baik pengurangan subsidi pupuk dan benih, maupun kebijakan menaikkan Harga Pembelian Pemerintah mampu meningkatkan diversifikasi produksi dan konsumsi pangan pokok. Kebijakan tarif impor beras tidak efektif untuk meningkatkan diversifikasi konsumsi dan produksi pangan pokok, tetapi kebijakan pelarangan impor dapat meningkatkan diversifikasi konsumsi pangan. Kebijakan peningkatan harga pembelian pemerintah terbukti kurang efektif sebagai kompensasi pengurangan subsidi pupuk. Kebijakan pengurangan subsidi pupuk harus diterapkan secara bertahap. Pengurangan subsidi benih yang disertai dengan pelarangan impor dapat menjadi kebijakan alternatif saat ini.
I Gusti Made Gama, Rina Oktaviani, Amzul Rifin
Jurnal Agro Ekonomi, Volume 34; https://doi.org/10.21082/jae.v34n2.2016.105-122

Abstract:
EnglishDemand for rice as Indonesian main food staple continues increasing along with the population growth. Currently, most of rice production is still supported by use of chemical fertilizers not environmentally friendly. Government through the Minister of Agriculture Regulation No. 40/2007 recommends organic fertilizer application to improve soil condition and fertility as well as to increase inorganic fertilizer efficiency. One of the organic fertilizers which has been widely applied by farmers is Beka-Pomi fertilizer, a package consisting of Beka decomposer and Pomi organic fertilizers. This research aims to analyze Beta-Pomi customers segmentation, customer satisfaction level, and the main factors affecting farmers’ satisfaction as the fertilizer users. Primary data were collected through random survey of 180 paddy farmers using the fertilizer in Central Java, West Kalimantan, and Lampung Provinces in February-June 2016. The data were analyzed using the descriptive, IPA, CHAID, and CSI methods. Results of analysis indicated that the fertilizer users were dominated by farmers of productive age group (76%), Jajar Legowo and Haston planting pattern (90%), with educational level from primary to secondary schools (91%), agriculture as side job (73%), and land tenure less than 1 hectare (61%). Most farmers satisfied with the Beka-Pomi fertilizer performance (CSI = 80.22%). The main determinants of the satisfaction were land area, planting pattern, educational level, product opinion, farmers’ activities, farmers’ interest, absence of side effects, ability to produce paddy above 10 tonnes/hectare and quick response from the officers. To increase Beka-Pomi sales, it is necessary to improve facilities and field officers’ qualities, decrease product price, and appreciate the farmers applying the fertilizer. IndonesianKebutuhan beras sebagai makanan pokok masyarakat Indonesia akan terus meningkat seiring dengan pertambahan jumlah penduduk. Sampai saat ini, sebagian besar produksi padi masih didukung oleh penggunaan pupuk kimia yang tidak ramah lingkungan. Pemerintah melalui Peraturan Menteri Pertanian Nomor 40/2007 merekomendasikan penggunaan pupuk organik untuk memperbaiki kondisi dan kesuburan tanah, sekaligus meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk anorganik. Salah satu pupuk organik/hayati yang telah beredar di kalangan petani adalah pupuk Beka-Pomi yang merupakan paket pupuk hayati (decomposer) Beka dan organik Pomi untuk tanaman padi. Penelitian bertujuan menganalisis segmentasi, tingkat kepuasan, dan faktor-faktor utama yang memengaruhi kepuasan petani sebagai konsumen pupuk. Data dikumpulkan melalui survei secara acak pada 180 petani padi yang telah menggunakan pupuk Beka-Pomi di Jawa Tengah, Kalimantan Barat, dan Lampung pada bulan Februari-Juni 2016. Analisis dilakukan dengan metode deskriptif, IPA, CHAID, dan CSI. Penelitian menunjukkan bahwa pengguna pupuk Beka-Pomi didominasi oleh petani kelompok umur produktif (76%), pola tanam Jajar Legowo dan Haston (90%), tingkat pendidikan setingkat SD─SMA (91%), pekerjaan sampingan di bidang pertanian (73%), dan luas lahan kurang dari 1 ha (61%). Petani merasa sangat puas (CSI = 80,22%) pada kinerja pupuk Beka-Pomi. Kepuasan petani dipengaruhi luas lahan, pola tanam, pendidikan, opini produk, aktivitas petani, minat petani, tidak adanya efek samping, kemampuan menghasilkan padi di atas 10 ton/ha, dan respons cepat petugas. Upaya yang perlu dilakukan untuk meningkatkan penjualan Beka-Pomi ialah meningkatkan fasilitas dan kualitas petugas lapangan, menurunkan harga produk, dan mengapresiasi petani pengguna.
Anis Nur Aini, Yusman Syaukat, Amzul Rifin
Jurnal Agro Ekonomi, Volume 34; https://doi.org/10.21082/jae.v34n2.2016.123-133

Abstract:
EnglishBoyolali Regency is the largest milk-producer in Central Java Province. There are many market institutions serving the farmers in selling their products. Interaction between the dairy-cow farmers and market institutions incurs transaction costs. The farmers’ efforts to reduce risk of milk quality deterioration and to search market institutions create transaction costs resulting in profit reduction. Objective of this study is to analyze the transaction costs paid by the dairy-cow farmers. Transaction cost was computed using an accounting approach and its determinants were evaluated using a regression method. Primary data were collected through a survey conducted in Cepogo District, Boyolaly Regency, during April-May 2016 from 104 farmer respondents.The results showed that average transaction cost was Rp47,44/liter. Total monthly transaction costs paid by the village cooperative (KUD) members were Rp31.955, consisted of searching cost (Rp1.059 or 3.31%), negotiation cost (Rp724 or 2.27%), and enforcement cost (Rp30.173 or 94.42%). Total monthly transaction costs paid by the non-KUD members were Rp48.012 per month, consisted of Rp2.825 (5.88%), Rp1.204 (2.51%), and Rp43.983 (91,61%) for searching cost, negotiation cost, and enforcement cost, respectively. Transaction cost paid by the KUD members were lower than that paid by non-KUD members. Roles of cooperative in reducing transaction costs were not determined by membership status, but by its real services as reflected in increasing the number of cows per farm, shorter distance of the cooling unit to the farms and information provision to all members.IndonesianKabupaten Boyolali merupakan penghasil susu terbesar di Provinsi Jawa Tengah. Terdapat beberapa lembaga pemasaran yang bekerja sama dengan peternak dalam penjualan susu. Upaya peternak untuk mengurangi risiko susu cepat rusak dan mencari lembaga pemasaran akan memunculkan biaya transaksi yang menurunkan pendapatan peternak. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis biaya transaksi yang ditanggung peternak. Biaya transaksi dihitung dengan metode akuntansi, sementara determinan biaya transaksi ,dianalisis dengan metode regresi. Data dikumpulkan melalui survei di Kecamatan Cepogo, Kabupaten Boyolali selama bulan April hingga Mei 2016 dengan jumlah responden sebanyak 104 peternak. Penelitian menunjukkan bahwa rata-rata biaya transaksi yang dikeluarkan peternak adalah Rp47,44/liter susu. Total biaya transaksi per bulan yang dikeluarkan peternak anggota Koperasi Unit Desa (KUD) adalah Rp31.955, yang terdiri dari Rp1.059 (3,31%) biaya pencarian informasi, Rp724 (2,27%) biaya negosiasi, dan Rp30.173 (94,42%) biaya pelaksanaan kontrak. Total biaya transaksi yang dikeluarkan peternak bukan anggota KUD adalah Rp48.012, yang terdiri dari Rp2.825 (5,88%) biaya pencarian informasi, Rp1.204 (2,51%) biaya negosiasi, dan Rp43.983 (91,61%) biaya pelaksanaan kontrak. Biaya transaksi yang ditanggung peternak anggota KUD lebih rendah dibanding peternak bukan anggota KUD. Peranan KUD dalam penurunan biaya transaksi tidak ditentukan oleh status keanggotaan melainkan jasa layanan riil yang tercermin dalam peningkatan jumlah ternak piaraan, penurunan jarak kandang ke pabrik pengolahan susu (cooling unit), dan penyediaan informasi bagi seluruh anggotanya.
I Putu Wardana, Nfn Mulyadi, Corazon T. Aragon
Jurnal Agro Ekonomi, Volume 19; https://doi.org/10.21082/jae.v19n1.2001.85-105

Abstract:
Indonesian Penelitian ini bertujuan untuk menilai efisiensi ekonomi dari petani padi lahan sawah tadah hujan sebelum dan selama krisis ekonomi di Jawa Tengah. Data yang digunakan dalam analisis adalah panel data dari 90 petani responden yang mencakup musim tanam 1997 dan 1999. Teknik analisa yang digunakan adalah analisa pendapatan dan biaya, uji beda nilai tengah, dan analisa regresi. Hasil regresi dari fungsi keuntungan menunjukkan bahwa harga gabah, pupuk dan tenaga kerja secara statistik nyata pengaruhnya terhadap keuntungan usahatani baik pada musim hujan maupun musim kemarau. Petani secara ekonomi ternyata lebih efisien dalam memproduksi padi selama krisis dari pada sebelum krisis ekonomi. Efisiensi ekonomi pada musim hujan ternyata lebih tinggi dari pada musim kemarau karena infestasi hama dan kompetisi gulma lebih rendah serta air cukup. Efisiensi ekonomi meningkat selama krisis ekonomi seiring dengan meningkatnya harga sarana produksi terutama pupuk, herbisida dan insektisida. Efisiensi ekonomi sangat dipengaruhi oleh tingkat pendidikan, krisis ekonomi, dan musim tanam. Pengalaman usahatani, ukuran rumah tangga, dan status penguasaan lahan tidak nyata pengaruhnya terhadap efisiensi ekonomi. English This study assessed the economic efficiency of rainfed lowland rice farmers before and during the financial crisis in Central Java. Panel data from 90 farmers were gathered by means of a structured questionnaire covering the 1997 and 1999 crop seasons. The analytical techniques employed in this study were costs and returns analysis, statistical test of means, and regression analysis. Regression results of the unit profit model showed that the prices of rough rice, fertilizer and labor were statistically significant for both the wet season and the dry season. Regardless of cropping season, the farmers were more economically efficient in producing rice during the period of financial crisis than before the financial crisis. Economic efficiency in the wet season was higher than in the dry season because of lower pest infestation and weed competition and because of sufficient water supply. Economic efficiency was significantly affected by level of education, financial crisis and cropping season. It increased during the financial crisis despite the price increase of input factors, especially fertilizer, herbicide and insecticide. During the wet season, farmers were found to be more economically efficient than in the dry season. Farming experience, household size, and tenure status did not significantly affect farmers' economic efficiency.
Nfn Sumaryanto
Jurnal Agro Ekonomi, Volume 19; https://doi.org/10.21082/jae.v19n1.2001.65-84

Abstract:
English For years ahead, the growth of productivity (yield) will become the major source of rice production, especially with the limited and decreasing fund to expand the rice field. Therefore, the rice farming need to be conducted more efficiently, which means the management skills of farmers need to be improved. The objective of this study is to estimate the level of efficiency on rice farming and to see its (distribution) among farmers. The results of the study will help the policy makers on designing and improving the agricultural extension strategy. Indonesian Terbatasnya anggaran pembangunan yang dialokasikan untuk melakukan perluasan areal tanam padi mempunyai implikasi bahwa dalam beberapa tahun mendatang ini sumber pertumbuhan produksi padi akan bertumpu pada peningkatan produktivitas. Dalam konteks demikian itu maka kapasitas managerial dalam pengelolaan usahatani harus ditingkatkan agar produktivitas yang dicapai dapat mendekati potensi maksimal. Dengan kata lain, usahatani padi harus ditingkatkan efisiensinya. Dengan pendekatan fungsi produksi frontier stokastik, penelitian ini mencoba mengestimasi tingkat efisiensi yang dicapai dan mengkaji sebarannya diantara petani padi di tiga kabupaten penghasil utama beras di Indonesia. lnformasi yang dihasilkan dari penelitian ini diharapkan berguna untuk membantu menyempurnakan strategi penyuluhan pertanian, khususnya dalam bidang usahatani padi.
Yusmichad Yusdja
Jurnal Agro Ekonomi, Volume 19; https://doi.org/10.21082/jae.v19n1.2001.107-129

Abstract:
ABSTRAKLP atau linear-programming diperkenalkan oleh George B. Dantzig tahun 1947. LP merupakan alat analisis problem optimasi dari suatu fungsi linier dengan nilai variabel yang non negatif dan dibatasi oleh pembatas yang berbentuk suatu sistem persamaan linier juga. Model ini digunakan secara luas, karena kesederhanaan bentuk matematika dan metode penyelesaiannya. Algorithma yang digunakan dalam penyelesaian LP adalah MAL (Matrik Aljabar Linier), yang mempunyai keterbatasan yakni hanya dapat bekerja dalam sistem kontinu. Keterbatasan ini sangat serius. Pertanyaannya adalah apakah penyelesaian LP mendapat dukungan yang canggih dari algorithma MAL?. Oleh karena itu, perlu dikaji bagaimana penyelesaian LP, dengan asumsi diskontinu sebagai pembanding. Makalah ini memfokuskan diskusi pada keterbatasan atau asumsi yang digunakan oleh MAL dalam memecahkan solusi optimum LP, terutama asumsi kontinuitas tersebut. Tujuan utama dari makalah ini adalah memperlihatkan perbedaan penyelesaian optimum LP, antara algorithma kontinu dan diskontinu.
Erizal Jamal
Jurnal Agro Ekonomi, Volume 19, pp 45-63; https://doi.org/10.21082/jae.v19n1.2001.45-63

Abstract:
English Wet land conversion to non-agricultural purposes is a choice taken by farmers rationally within a circumstances where the size of land holding is squeezing over time, and where farm activities could not give adequate returns. The actual selling price of converted land is, however, not representing the real price of the land. Moreover, existing institutions could not control the land conversion effectively. A study conducted involving 90 farmers in the three villages of Karawang, West Java, suggested that the price is significantly determined by the status of land, its labor absorption, and the distance of the land from tertiary drainage and industrial/settlement areas. Other factors such as productivity of the land and condition of irrigation are not significantly affect the price. Meanwhile, government regulation on wet land control and protection tend not to be consistent or even contradict one to another. In the process of land conversion, the landowner is likely to be in a weak position. To control the land conversion, appropriate and operationally applicable policy should be implemented; such as, applying compensation of incentive or disincentive. Indonesian Alih fungsi lahan sawah ke penggunaan non-pertanian merupakan pilihan rasional yang diambil petani, di tengah makin menyempitnya rata-rata penguasaan lahan dan tidak memadainya hasil dari kegiatan usahatani di sawah dalam memenuhi kebutuhannya. Masalahnya sekarang dalam proses alih fungsi lahan tersebut, harga yang diterima petani belum sepenuhnya mencerminkan nilai sebenarnya dari lahan, sehingga kalau terus dibiarkan dikuatirkan menghambat upaya optimalisasi pemanfaatan sumber daya di suatu wilayah. Hasil kajian di beberapa desa di Kabupaten Karawang, Jawa Barat, pada 90 orang petani yang sawahnya dialih fungsikan, terlihat bahwa harga lahan yang diterima petani lebih banyak hanya mempertimbangkan faktor letak terhadap jalan utama dan status penguasaan lahan. Sementara itu kondisi irigasi dan produktivitas lahan tidak berpengaruh secara nyata terhadap harga lahan sawah, demikian juga faktor lingkungan lainnya. Sehingga menyerahkan sepenuhnya alokasi pemanfaatan lahan kepada mekanisme pasar, akan menyebabkan lahan pertanian subur semakin terancam keberadaannya. Berkaitan dengan kecenderungan alih fungsi ini, pemerintah telah mengeluarkan berbagai peraturan untuk mencegah terjadinya alih fungsi, namun karena tidak konsisten, peraturan yang ada belum sepenuhnya mampu melindungi lahan sawah. Pada masa yang akan datang perlu diterapkan kebijakan "insentif dan "disinsentif' dalam pengendalian alih fungsi lahan sawah. Disinsentif itu berupa penentuan kompensasi, di luar harga jual, terhadap pihak-pihak yang akan melakukan alih fungsi yaitu dengan memperhitungkan nilai sebenarnya dari lahan.
Mohamad F. Hasan, Michael R. Reed
Jurnal Agro Ekonomi, Volume 19; https://doi.org/10.21082/jae.v19n1.2001.1-17

Abstract:
Indonesian Kajian ini menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi daya saing industri kelapa sawit Indonesia di pasar internasional. Kerangka kajian ini menggabungkan pendekatan teori perdagangan neo-klasik dan manajemen strategis dalam menganalisis daya saing internasional pada tingkat industri. Penelitian ini menunjukan bahwa daya saing global industri kelapa sawit di Indonesia dapat dijelaskan oleh produktifitas tenaga kerja, nilai tukar rupiah, dan rasio konsentrasi empat perusahaan. Campur tangan pemerintah dalam bentuk penentuan harga alokasi dalam negeri juga merupakan faktor yang sangat penting dan berpengaruh negatif pada daya saing global industri kelapa sawit di Indonesia. English This paper analyses factors that determine the competitiveness of the Indonesian palm oil industry including the effect of government interventions. The conceptual framework used in this study combines neo-classical trade and strategic management approaches for analyzing competitiveness at the industry level. This study shows that the competitiveness of the Indonesian palm oil industry can be explained by its labor productivity, the real exchange rates, and the four-firm concentration ratio. It is shown that government interventions--in the form of domestic allocation prices--have significant and negative effects on the competitiveness of the palm oil industry.
Nyak Ilham, Dewa K.S. Swastika
Jurnal Agro Ekonomi, Volume 19; https://doi.org/10.21082/jae.v19n1.2001.19-43

Abstract:
English Economic crisis has positive as well as negative impacts. The positive impact is that, it caused an increase in the price of imported milk, hence increased the competitiveness of domestic fresh milk. On the other side, the crisis was also caused an increase in prices of dairy farm inputs, such as cows and feed. The question is whether these impacts provide more incentive or disincentive to farmers who mostly are smallholders and members of cooperative. There are three objectives of the study, which are: (1) to assess the economic impact on the competitiveness of small-holder dairy farm; (2) to assess the impact of increasing Rupiah exchange rate on the competitiveness of domestic fresh milk; and (3) to assess the impact of government intervention on the performance of dairy farm industry. The primary data were collected from farmers in the two provinces West Java and East Java, using two steps stratified sampling method based on topography and farm size. In addition, the secondary data were collected from sources, such as Primary Cooperatives, Secondary Cooperatives (GKSI), CBS, Directorate General of Livestock Service, and other related institutions. The data were analyzed by using Policy Analysis Matrix (PAM). The results showed that after the crisis, the domestic dairy farm industry is economically more efficient, in both high, low to medium altitudes. The DRCRs are ranged from 0,5735 to 0,6713. If interest rate fixed at 18 percent per annum, domestic fresh milk still have competitive at the exchange rate are ranged from Rp 6000,- to Rp 6500,- per US dollar. Net impact of government policy did not provide an incentive to farmers. This was indicated by the magnitud of EPC = 0, 7063, mainly due to the low price of fresh milk at IPS level compared to its border price (CIF). Indonesian Krisis ekonomi menyebabkan meningkatnya harga bahan baku susu impor, mengakibatkan meningkatkan daya saing susu segar dalam negeri (SSDN). Sisi lain, krisis ekonomi juga meningkatkan harga input usaha peternakan sapi perah, terutama pakan konsentrat dan sapi bibit. Permasalahannya adalah bagaimana dampak total tersebut terhadap daya saing SSDN yang sebagian besar merupakan produk usaha peternakan rakyat yang tergabung dalam wadah koperasi. Ada tiga tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini, yaitu : (1) Menganalisis dampak krisis ekonomi terhadap daya saing usaha peternakan sapi perah rakyat; (2) menganalisis dampak menguatnya nilai tukar rupiah terhadap daya saing produk SSDN dengan produk impor; dan (3) Menganalisis dampak kebijakan pemerintah terhadap usaha tersebut. Data primer yang digunakan pada penelitian ini dikumpulkan dari peternak pada daerah sentra produksi utama, yaitu Jawa Barat dan Jawa Timur dengan metode stratifikasi dua tahap, yaitu topografi lokasi dan skala pemilikan sapi laktasi. Data sekunder diperoleh dari koperasi primer susu, GKSI, BPS, Direktorat Jenderal Peternakan dan instansi terkait lainnya. Analisis data dilakukan dengan metoda matriks analisis kebijakan atau Policy Analysis Matrix (PAM). Hasil analisis menunjukkan bahwa dengan adanya krisis ekonomi, daya saing produk SSDN menjadi sangat efisien dengan nilai DRCR antara 0,5735-0,6713. Jika suku bunga bank tetap pada kondisi 18 persen per tahun, produk SSDN akan tetap memiliki daya saing jika nilai tukar rupiah berada antara Rp 6.000,- - Rp 6.500,- per dolar AS. Dampak bersih kebijakan pemerintah dan distorsi pasar yang ada memberikan disinsentif bagi peternak sapi perah untuk berproduksi, hal ini diindikasikan oleh nilai rataan EPC sebesar 0,7063, terutama dalam menentukan harga SSDN di tingkat IPS yang jauh lebih murah dari harga CIF.
Masdjidin Siregar
Jurnal Agro Ekonomi, Volume 6; https://doi.org/10.21082/jae.v6n1-2.1987.94-102

Abstract:
AbstrakAnalisa fungsi produksi frontier terhadap data yang diperoleh dari 63 petani padi di dua desa dataran rendah pantai utara Jawa Barat menunjukkan bahwa variasi efisiensi teknis produksi padi sangat besar. Dengan keterbatasan data yang tersedia, determinan efisiensinya juga ditelaah dalam tulisan ini. Curahan jam kerja di luar usahatani, baik di dalam maupun di luar sektor pertanian, serta umur petani ternyata tidak berpengaruh negatif terhadap efisiensi teknis sedangkan keikutsertaan petani dalam program intensifikasi berpengaruh sangat positif terhadap efisiensi itu. Determinan yang lain masih perlu diteliti lebih lanjut.
Pantjar Simatupang, Mewa Ariani
Jurnal Agro Ekonomi, Volume 6; https://doi.org/10.21082/jae.v6n1-2.1987.83-93

Abstract:
AbstrakAnalisa curahan tenaga kerja dapat dilakukan dengan menganalisa permintaan waktu luang keluarga. Secara teoritis yang berguna langsung bagi seseorang adalah waktu luang dan barang yang dikonsumsi. Pencurahan tenaga kerja hanyalah untuk memperoleh pendapatan yang selanjutnya dipergunakan untuk membeli barang-barang konsumsi. Tujuan penelitian ini untuk melihat perilaku permintaan waktu luang keluarga petani PIR, yang analisisnya dititik-beratkan pada peranan karakteristik keluarga berdasarkan teori perilaku konsumen. Metode yang digunakan adalah fungsi kepuasan Stone-Geary. Hasil analisis menunjukkan bahwa seseorang yang berpendapatan tinggi, cenderung menggunakan waktu luang besar (curahan tenaga kerja rendah). Curahan tenaga kerja juga dipengaruhi oleh umur kepala keluarga, jumlah anggota keluarga dan jurnlah anak berumur dibawah lima tahun. Salah satu usaha yang dapat ditempuh untuk merangsang petani muda lebih giat bekerja adalah dengan meningkatkan ketrampilan berusahatani melalui pendidikan umum dan penyuluhan usahatani.
Budi Santoso
Jurnal Agro Ekonomi, Volume 6, pp 29-41; https://doi.org/10.21082/jae.v6n1-2.1987.29-41

Abstract:
English Coffee is a commodity classified as the one of the main contributors to the Government income through the small-scale coffee plantation farms. This paper tried to examine factors affected the rate of income earned from the farms, achievements of the profit maximization, and conditions resulted from the farm's return to scale. The research was conducted in Lampung during the harvest season in 1984/1985. The results show that the area of planted, the number of tress, and the age of the commodity were affected the profit earned from the farms with highly significant levels. The return to scale coefficient was calculated to be constant within the farm size average of 1.02 ha. Result was also indicate that the small-scale coffee farms in the location were hardly provide the maximum profit to the farmers. Indonesian Kopi adalah salah satu komoditi penghasil devisa utama dari sub-sektor perkebunan yang sebagian besar (94%) diusahakan oleh rakyat. Tulisan ini mencoba menelaah faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat keuntungan usahatani kopi rakyat, tercapai tidaknya keuntungan maksimum dan keadaan skala usaha. Penelitian ini dilaksanakan di Lampung untuk musim kopi 1984/1985. Hasil analisis menunjukkan bahwa luas kebun kopi, jumlah pohon kopi dan umur pohon kopi berpengaruh sangat nyata terhadap keuntungan usahatani kopi rakyat. Keadaan skala usaha adalah pada kondisi "constant return to scale" dengan luas usaha rata-rata 1,02 ha. Usahatani kopi rakyat di daerah penelitian belum memberikan tingkat keuntungan yang maksimum kepada petani pengelolanya.
Achmad Suryana
Jurnal Agro Ekonomi, Volume 6; https://doi.org/10.21082/jae.v6n1-2.1987.67-82

Abstract:
AbstrakSistim permintaan untuk minyak nabati dan hewani bagi tiga pasar internasional utama dan dua negara produsen diduga dengan model Almost Ideal Demand System (AIDS). Pembahasan dititik­ beratkan pada hasil pendugaan untuk sistem permintaan minyak nabati dan hewani bagi MEE karena kawasan ini merupakan pasar ekspor yang paling penting bagi minyak sawit Indonesia. Hasil analisis menunjukkan bahwa kecuali di Amerika Serikat, permintaan untuk minyak sawit di pasar interna­ sional adalah inelastis. Telaahan ini juga menunjukkan hubungan antara minyak-minyak nabati dan hewani tidak saja bersifat substitusi tetapi antara beberapa minyak tersebut terjadi juga hubungan yang komplementer. Negara-negara yang termasuk ke dalam analisis ini adalah MEE, Amerika Serikat, Jepang, Malaysia, dan Indonesia. Sebelas macam minyak nabati dan hewani yang termasuk ke dalam analisis ini adalah lard, edible tallow, minyak-minyak sawit, kelapa, kedelai, biji kapas, biji rape, biji bunga matahari, zaitun, jagung, dan ikan.
Budiman Hutabarat
Jurnal Agro Ekonomi, Volume 6; https://doi.org/10.21082/jae.v6n1-2.1987.51-66

Abstract:
AbstrakMakalah ini merupakan, pertama, suatu pendekatan untuk menyelidiki sikap petani terhadap resiko (risk) di Indonesia. Resiko ini secara eksplisit direfleksikan dalam keragaman produksi yang dihasilkan oleh petani. Kedua, tulisan ini mencoba mengevaluasi dampak penggunaan masukan ter­ hadap resiko produksi. Petani-petani contoh dipilih dari enam desa di Daerah Aliran Sungai (DAS) Cimanuk, Jawa Barat. Analisis ini menunjukkan bahwa petani bersifat penghindar resiko (risk-averter) dalam penggunaan pupuk nitrogen dan tenaga kerja man usia. Selanjutnya diperlihatkan bahwa agaknya faktor produksi benih, pupuk nitrogen dan fosfat, serta luas areal berlaku sebagai masukan yang bersifat pembangkit resiko (risk-inducing), sedangkan masukan tenaga kerja (manusia dan ternak) bersifat pengurang resiko (risk-reducing) sebagaimana terlihat pada data musim hujan.
Handewi Purwati S. Rachman
Jurnal Agro Ekonomi, Volume 6, pp 42-50; https://doi.org/10.21082/jae.v6n1-2.1987.42-50

Abstract:
AbstrakPenelitian ini menduga kondisi skala usaha usahatani padi sawah dalam jangka pendek dengan model fungsi keuntungan Cobb-Douglas. Luas lahan garapan diperlakukan sebagai input tetap. Data yang digunakan adalah data input output usahatani dari penelitian resurvey yang dilakukan oleh Studi Dinamika Pedesaan (SDP) pada enam desa di wilayah DAS Cimanuk, Jawa Barat. Analisa dilakukan pada musim tanam MH 1982/1983. Hasil pendugaan menunjukkan bahwa usahatani dengan luas garapan rata-rata 0,433 ha masih belum memberikan tingkat keuntungan maksimum kepada petani pengelolanya dan skala usaha masih berada pada kondisi "increasing returns to scale". Hasil analisa juga menunjukkan bahwa harga pupuk urea, nilai obat-obatan, luas lahan garapan dan biaya tetap (lain-lain) mempunyai pengaruh yang nyata (α = 0,01) terhadap keuntungan aktual usahatani padi.
Achmad Suryana
Jurnal Agro Ekonomi, Volume 6, pp 19-28; https://doi.org/10.21082/jae.v6n1-2.1987.19-28

Abstract:
AbstrakPenggunaan fungsi keuntungan Cobb-Douglas sebagai salah satu metoda kuantitatif telah dikenal para peneliti ekonomi pertanian. Di dalam menduga elastisitas permintaan input, ternyata fungsi keuntungan Cobb-Douglas ini mempunyai keterbatasan. Hasil dugaan fungsi ini akan selalu memberikan elastisitas permintaan input atas harga sendiri dan harga output yang elastis, elastisitas silang yang selalu menunjukkan adanya hubungan komplementer antar input, serta besaran elastisitas silang terhadap harga input dan input tetap yang berpola. Tulisan ini menunjukkan keterbatasan-keterbatasan yang melekat pada fungsi Cobb-Douglas ini secara matematik disertai bukti-bukti empirik.
Faisal Kasryno, Masdjidin Siregar
Jurnal Agro Ekonomi, Volume 7; https://doi.org/10.21082/jae.v7n1.1988.73-100

Abstract:
ABSTRAKTujuan utama dari tulisan ini adalah untuk mempelajari berbagai dampak kebijakan insen!if pertanian yang diambil pemerintah terhadap produksi, tenaga kerja, dan pendapatan masyarakat pedesaan dengan acuan khusus pada hasil penelitian Studi Dinamika Pedesaan. Keragaan yang cukup mengesankan dari sektor pertanian Indonesia selama sepuluh tahun terakhir terjadi karena kebijakan insentif pertanian yang dilaksanakan secara berdaya-guna baik ditinjau secara makro ekonomi maupun secara sektoral. Kebijakan insentif yang dicanangkan pemerintah dalam bidang pertanian telah mampu meningkatkan produktivitas dan pendapatan rumahtangga petani di pedesaan. Keadaan yang cukup menggembirakan dalam pendapatan rumahtangga pedesaan adalah kemampuannya mengurangi tingkat kemiskinan, dan mengubah struktur konsumsi pedesaan yang membuat bagian pengeluaran yang lebih banyak untuk jasa dan barang-barang tahan lama. Tenaga kerja bukan pertanian menjadi lebih penting sebagai perangsang utama untuk pertumbuhan pendapatan rumahtangga pedesaan khususnya rumahtangga berpendapatan rendah. Setelah pencapaian swa-sembada beras, arah kebijakan ditekankan pada usaha diversifikasi pertanian pada tingkat regional maupun nasional. Tulisan ini menyajikan deskripsi beberapa elemen penyesuaian dalam strategi pengembangan pertanian untuk sepuluh tahun mendatang.
Chairil A. Rasahan
Jurnal Agro Ekonomi, Volume 6; https://doi.org/10.21082/jae.v6n1-2.1987.1-18

Abstract:
AbstrakPokok pembahasan tulisan ini adalah masalah konsepsualisasi perilaku seseorang berdasarkan atas data deret-waktu, dan menggunakan hasil pengamatan tersebut untuk mengetahui apakah perilaku tersebut akan berubah bila keadaan ekonomi yang dihadapinya berubah secara sistematis. Hasil yang didapatkan memberi .petunjuk bahwa model dinamik ekspektasi rasionallinier yang diturunkan berdasarkan suatu masalah optimisasi ternyata sangat sensitif terhadap keadaan ekonomi yang dihadapi oleh seorang pembuat keputusan. Hasil ini merupakan dasar kritik yang dilontarkan oleh penganut faham hipotesis ekspektasi rasional terhadap model ekonometrik persamaan struktural konvensional. Hasil yang diperoleh menggaris bawahi bahwa aturan fungsi tersebut berkorelasi dengan besaran nilai peubah-peubah yang relevan dimasa yang akan datang meskipun peubah tersebut tidak bisa dikuasai oleh pelaku ekonomi. Ilustrasi sederhana dan implikasinya terhadap analisis kebijaksanaan telah diterapkan pertanian dengan menggunakan data hipotetis. Hasilnya menunjukkan bahwa kesalahan dalam mengakomodasikan respon pelaku ekonomi terhadap perubahan keadaan ekonomi yang terjadi bisa menyebabkan bias yang cukup besar terhadap estimasi struktur parameter. Bias ini dapat menyesatkan apabila dijadikan indikator-ekonomi dalam suatu perencanaan pembangunan pertanian.
Pantjar Simatupang
Jurnal Agro Ekonomi, Volume 7; https://doi.org/10.21082/jae.v7n1.1988.47-60

Abstract:
ABSTRAKStabilitas penerimaan ekspor adalah penting untuk mengurangi premi resiko bagi eksportir. Oleh karena itu, stabilitas penerimaan ekspor dapat mempengaruhi volume ekspor, dan selanjutnya tingkat produksi. Stabilitas penerimaan ekspor juga penting bagi pemerintah dalam mengelola cadangan devisa. Stabilitas penerimaan ekspor juga mempengaruhi tingkat nilai tukar. Oleh karena itu, pemahaman akan sumber penyebab ketidakstabilan penerimaan ekspor adalah sangat penting, sehingga dapat diambil kebijakan yang tepat. Dalam penelitian ini dibahas sumber ketidakstabilan penerimaan ekspor dari empat komoditi ekspor utama Indonesia yaitu karet, kopi, kelapa sawit, dan teh dengan mempergunakan sidik ragam. Komoditi yang paling tidak stabil nilai ekspomya adalah karet dan kopi. Sumber utama ketidakstabilan penerimaan dari ekspor karet adalah harga internasional selama periode 1976-1985. Harga internasional merupakan sumber utama ketidakstabilan dari ekspor kopi pada periode 1976-1980. Namun, pada periode 1981-1985 volume eksporlah yang menjadi sumber utama ketidakstabilan. Kelapa sawit dan teh sama seperti ketidakstabilan pada kopi.
Rudy Sunarya Rivai
Jurnal Agro Ekonomi, Volume 7; https://doi.org/10.21082/jae.v7n1.1988.61-72

Abstract:
ABSTRAKKegiatan ekspor karet alam mempunyai peranan yang besar terhadap peningkatan pendapatan Propinsi Kalimantan Barat. Oleh karenanya perlu dilakukan upaya meningkatkan nilai ekspor karet alam pada Pelita IV. Penelitian ini berusaha melakukan perencanaan alokasi produksi optimal karet alam selama Pelita IV dan menduga dampak dari perubahan nilai ekspor karet alam terhadap pendapatan Propinsi Kalimantan Barat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada tingkat alokasi produksi optimal Pelita IV lebih baik dibandingkan alokasi produksi pada Pelita III. Pada tingkat alokasi produksi optimal tersebut, Propinsi Kalimantan Barat setiap tahunnya rata-rata mengalami kenaikan nilai ekspor karet alam sebesar 17,6 persen. Kenaikan tersebut mempunyai dampak terhadap pendapatan Propinsi Kalimantan Barat, yaitu pada tahun 1984 sebesar Rp 79.078 juta pada akhir tahun Pelita IV mencapai Rp 158.227 juta.
Bambang Irawan, Chairil A. Rasahan
Jurnal Agro Ekonomi, Volume 7; https://doi.org/10.21082/jae.v7n1.1988.32-46

Abstract:
ABSTRAKSejak 1978/1979 di DAS Citanduy telah dibentuk Usahatani Model dalam rangka meng­ introduksikan teknologi usahatani yang tidak saja berupaya menaikkan pendapatan petani tetapi juga mementingkan aspek konservasi laban. Tulisan ini mencoba mempelajari adakah pendekatan pemasara)l yang dapat dilakukan guna menunjang inovasi tersebut. Dengan memilih komoditi cengkeh dan kacang tanah sebagai kasus, basil analisa yang dilakukan rilenunjukkan bahwa perbaikan penanganan pasca panen merupakan pendekatan yang prospektif guna menunjang keberhasilan perluasan teknologi usahatani yang diintroduksikan. Karena itu inovasi yang dilakukan sebaiknya tidak hanya menyangkut perbaikan teknologi usahatani tetapi juga mencakup perbaikan penanganan pasca panen. Dalam rangka merangsang petani melakukan pasca panen tiga hal yang perlu diperhatikan adalah: (I) petani perlu diarahkan untuk melakukan pasca panen secara kolektif, (2) penyaluran kredit usahatani padi perlu diperluas karena secara tidak langsung keterbatasan modal dalam usahatani ini memberikan pengaruh negatip terhadap penanganan pasca panen pada tanaman sekunder, dan (3) pembinaan mengenai penanganan pasca panen baik pada petugas penyuluhan maupun petani perlu mendapat perhatian yang lebih serius.
Pantjar Simatupang
Jurnal Agro Ekonomi, Volume 7, pp 1-16; https://doi.org/10.21082/jae.v7n1.1988.1-16

Abstract:
English Understanding the economic of scale is important in determining the efficient size of production. Economic of scale may be determined using production function, cost function, and profit function. The profit function which widely used for empirical study is the Cobb-Douglas profit function. But this functions is well known very restrictive. The translog profit function is a class of general function, but is rarely used to study the economic of scale. This paper presents a derivation of the criteria to determine economic scale for profit functions in general. The criteria, then, is used for Cobb-Douglas and translog profit functions. The criteria derived for the translog profit function is completely different from the one found in the existing literature. The criteria in the existing literature have many caveats. The criteria formula derived in this paper is very useful for empirical study and for correcting the existing formula. The criteria is used to study rice farming in irrigated low-land in West Sumatera. The finding shows that the rice farming is at increasing return to scale. The main source of the economics of scale is land. Indonesian Penentuan ekonomi skala usaha sangat penting untuk menetapkan skala usaha yang efisien. Ekonomi skala usaha dapat ditentukan dengan mempergunakan fungsi produksi, fungsi biaya dan fungsi keuntungan. Fungsi keuntungan yang banyak dipergunakan dalam studi skala usaha hingga saat ini adalah fungsi keuntungan Cobb-Douglas. Namun fungsi keuntungan ini bersifat membatasi. Fungsi keuntungan translog bersifat umum tetapi masih jarang dipergunakan dalam studi skala usaha. Studi literatur terbatas yang dilakukan penulis ditemukan satu penelitian empiris yang mempergunakan fungsi keuntungan translog untuk menentukan ekonomi skala usaha. Tulisan ini berhasil menurunkan kriteria umum penentuan skala usaha dengan fungsi keuntungan. Dengan kriteria umum tersebut diturunkan kriteria penetapan ekonomi skala usaha untuk fungsi Cobb-Douglas dan translog. Kriteria yang diturunkan untuk fungsi translog berbeda dengan yang terdapat pada literatur yang ada. Literatur tersebut terutama dalam tulisan ini sangat berguna untuk dipakai dalam penelitian empiris sekaligus memperbaiki rumus kriteria yang ada saat ini. Rumus tersebut cukup operasional untuk diterapkan. Rumus tersebut kemudian diterapkan untuk menganalisa usahatani padi di lahan beririgasi dataran rendah di Sumatera Barat. Penelitian ini menunjukkan bahwa usahatani tersebut berada dalam penerimaan skala bertambah. Luas lahan garapan merupakan penentu utama ekonomi skala usaha.
Tahlim Sudaryanto
Jurnal Agro Ekonomi, Volume 7; https://doi.org/10.21082/jae.v7n1.1988.17-31

Abstract:
ABSTRAKPenggunaan data penampang lintang dalam penelitian-penelitian di Indonesia tampaknya lebih dominan dibanding penggunaan data deret waktu. Hal ini sebagai akibat dari terbatasnya dokumentasi data deret waktu. Dalam keadaan tersebut, penggabungan data penampang lintang dan data deret waktu dalam model regresi merupakan satu strategy alternatif. Tulisan ini mengemukakan alternatif spesifikasi model yang secara eksplisit membedakan variasi data antar individu dan antar waktu dalam data gabungan. Prosedur pendugaan dan contoh penggunaannya disajikan untuk model yang membedakan intersep antar individu.
Rini Budiyanti, Dean F. Schreiner
Jurnal Agro Ekonomi, Volume 10; https://doi.org/10.21082/jae.v10n1-2.1991.91-107

Abstract:
Indonesian Ketimpangan pendapatan merupakan masalah besar di negara-negara berkembang. Seringkali, kelompok-kelompok tertentu seperti wanita dan buruh tani mendapat perhatian khusus dalam analisa distribusi pendapatan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menelusuri sumber-sumber pendapatan dari kelompok sasaran dengan menggunakan Social Accounting Matrix. Hasil analisis menunjukkan hubungan langsung dan tidak langsung antara aktivitas, komoditas dan faktor-faktor produksi dengan pendapatan serta pengaruh distribusinya diantara kelompok-kelompok sasaran.
Bambang Irawan, Budiman Hutabarat
Jurnal Agro Ekonomi, Volume 10; https://doi.org/10.21082/jae.v10n1-2.1991.73-90

Abstract:
AbstrakOne of the governments approaches to improve the efficiency of sugarcane farming is by organizing farmer groups. This grouping of farmers aimed to increase the efficiency of farming in term of inputs use and farm size. The finding of this research show that in East Java, one of the important sugarcane area in Indonesia, the two category of sugarcane planting. For the ratoon planting the use of inputs was efficient but for the new planting the inputs used by farmers is quite small especially for labor input. Therefore the introduction of tractor for land preparation is suggested to eliminate the labor shortage. This research, has also shown that the economies of scale of sugar cane farming varied according to the category of planting. In order to find the optimal farming size, wet land sugarcane should be conducted in a larger farming size than that grown in dryland. The new planting of sugarcane is also suggested to be grown in larger farming size than ratoon planting.
Budiman Hutabarat
Jurnal Agro Ekonomi, Volume 10, pp 48-55; https://doi.org/10.21082/jae.v10n1-2.1991.48-55

Abstract:
Indonesian Pemilihan suatu bentuk fungsi untuk menjelaskan kaitan antara satu peubah dengan peubah lain sering ditentukan oleh penguasaan penganalisa terhadap teknik pendugaan ekonometrik kaitan tersebut. Makalah ini menganalisis elastisitas hasil dari permintaan masukan usahatani padi di Jawa dan menyimpulkan bahwa elastisitas-elastisitas ini tidak bebas dari bentuk fungsi dan perumusan ekonometriknya. Malahan dari suatu bentuk fungsi dapat diperoleh elastisitas-elastisitas yang berbeda apabila perumusan ekonometriknya berbeda. Makalah ini menyarankan agar perumusan ekonometrik dilakukan dengan memanfaatkan seluruh informasi yang ada pada data.
Bambang Dradjat Ts, Delima A. Darmawan
Jurnal Agro Ekonomi, Volume 10; https://doi.org/10.21082/jae.v10n1-2.1991.31-47

Abstract:
Indonesian Pengetahuan tentang total elastisitas pemintaan karet alam Indonesia sangat penting untuk menilai kebijaksanaan pemerintah Indonesia di sektor karet. Penelitian ini menggunakan model Armington yang telah dikembangkan oleh Duffy et al. (1990). Prosedur pendugaan yang digunakan adalah model penyesuaian parsial dalam bentuk fungsi logaritma dan diduga dengan "Ordinary Least Square". Data yang digunakan mulai tahun 1968 sampai tahun 1989 dan dikelompokkan kedalam negara pengimpor dan pengekspor. Dalam jangka pendek maupun jangka panjang, total elastisitas permintaan karet alam Indonesia tidak elastis. Hal ini berarti kebijaksanaan pemerintah yang ada sekarang tidak akan menghasilkan kenaikan penerimaan ekspor, kecuali dibarengi oleh usaha-usaha untuk meningkatkan daya saing dan pangsa pasar. Usaha-usaha ini dapat berupa peningkatan mutu dan efisiensi produksi karet alam yang diekspor.
Nfn Sumaryanto, I Wayan Rusastra
Jurnal Agro Ekonomi, Volume 10, pp 56-72; https://doi.org/10.21082/jae.v10n1-2.1991.56-72

Abstract:
The role of feedmill industry in the livestock production system is very essential. Therefore the efficient feed production is required to support the poultry industry development. This study is intended to evaluate the economic feasibility of the feed industries in Lampung and West Java. The finding of this study indicated that poultry feed production is economically efficient under import substitution scenario, but on the border line under interregional trade regime, and is not feasible for export promotion. Although feedmill industries did not receive any input subsidies, they persistently enjoyed financial profit due to highly output price protection. The implication of the study is that the poultry feed production have to be vertically integrated with feedstuff supply and poultry production. Operationally the feedmills have to use local raw materials and the output (feed) should be directed to support livestock development in the respective region.
Delima H. Azahari Darmawan
Jurnal Agro Ekonomi, Volume 10, pp 108-119; https://doi.org/10.21082/jae.v10n1-2.1991.108-119

Abstract:
Indonesian Sektor pertanian memegang peranan yang penting di Jawa Timur, selama hampir 25 tahun ini. Untuk terus mempertahankan peranan tersebut, berbagai kebijaksanaan pertanian telah dilaksanakan di propinsi ini. Kajian ini bertujuan untuk mengevaluasi kebijaksanaan tersebut dan mempelajari perubahan-perubahan yang terjadi apabila terjadi reformasi dan kebijaksanaan tersebut. "Price endogenous mathematical programming sector model" digunakan dalam kajian ini dengan memperhatikan perbedaan skala usahatani, tipe lahan, dan alternatif pola tanam. Model ini selanjutnya digunakan Untuk melihat efek dari perubahan kebijaksanaan yang berkaitan dengan situasi keuangan, harga dan kebijaksanaan subsidi. Selanjutnya, dibahas dampak perubahan-perubahan tersebut terhadap perekonomian di propinsi Jawa Timur. Hasil dari kajian ini, menunjukkan adanya perubahan yang cukup berarti dari reformasi kebijaksanaan di sektor pertanian terutama akan adanya distribusi yang berbeda terhadap pelaku-pelaku ekonomi di sektor pertanian. Hal yang terakhir, barangkali akan lebih menarik perhatian pengambil kebijaksanaan.
Wayan R. Susila
Jurnal Agro Ekonomi, Volume 10; https://doi.org/10.21082/jae.v10n1-2.1991.16-30

Abstract:
Indonesian Ketidaksesuaian pola usahatani dianggap sebagai salah satu masalah penting di daerah transmigrasi, khususnya daerah transmigrasi Sumatera Selatan. Sehubungan dengan hal itu, fokus tulisan ini adalah pengembangan pola usahatani untuk daerah tersebut. Kerangka teoritis yang digunakan adalah keterpaduan produksi-konsumsi yang dianalisis dengan multi period linear programming dengan horison waktu 25 tahun. Fungsi tujuan adalah maksimisasi aliran surplus kas yang didiskonto; dan kegiatan yang dipertimbangkan adalah beberapa tanaman tahunan, tanaman setahun, kredit, pengembalian kredit, dan tabungan. Kendala yang dispesifikasi meliputi iklim, luas lahan, kemantapan persediaan bahan makanan, kredit, pengembalian kredit, dan kebutuhan hidup minimum. Disamping itu, faktor risiko juga dianalisis secara tidak langsung melalui analisis sensitivitas dan analisis sensitivitas Monte Carlo. Hasil studi menunjukkan bahwa dengan bantuan kredit dari pemerintah, para transmigran dapat mengelola lahannya sendiri, membayar seluruh hutangnya, dan mencapai peningkatan pemenuhan kebutuhan hidup minimum. Hal ini dapat dicapai melalui pengembangan pola usahatani karet dan kelapa sawit. Disamping itu, pola usahatani kelapa sawit lebih menguntungkan namun lebih tinggi risikonya daripada pola usahatani karet.
Ketut Sukiyono, Nfn Sriyoto
Jurnal Agro Ekonomi, Volume 16; https://doi.org/10.21082/jae.v16n1-2.1997.76-87

Abstract:
This research was aimed at identifying motivation influencing off-farm economic activities of transmigrant women and studying their decision making pattern, investigating influencing factors of their structural transformation, and analyzing their contribution on family income. This research was conducted in ex-transmigration area around Kotamadya Bengkulu by interviewing 48 transmigrant women. The results showed that due to high family needs, looking for additional income, low farm income, leissure time utilizing, looking for experience, marginal farm land, small farm land, easeful transportation, transmigrant women are motivated to work out offarm. Women dominated in decision making in all aspects of off-farm woman activities. The results also showed that transmigrant women contribute 45.44 percent to the total family income.
Rachmat Hendayana, Handewi P. Saliem
Jurnal Agro Ekonomi, Volume 16; https://doi.org/10.21082/jae.v16n1-2.1997.61-75

Abstract:
The research was undertaken on Direct Seeded Rice technology (Tabela) performance, particularly to test relevant factors affecting adoption of direct seeded rice. It was conducted in Lampung and East Java. The analysis of 120 agribusiness oriented rice based farming system (SUTPA) cooperator farmers was conducted by using logit model. The result shows that technology have the comparative advantage than transplanting metode in rice cultivation. Adoption of direct seeded rice influenced significantly by land ownership, cost of planting and maintenance, planting season, researcher or extention worker guidance and location. Based on the result, the Tabela technology is suitable to be developed in the region where there is a shortage of agricultural labor occure. It reduces labor and cost for planting and maintenanace which increase income of the farmers. However, the sosialization of direct seeded rice technology is still needed guidance from researcher and extension workers.
Agus Pakpahan, Nizwar Syafa'at
Jurnal Agro Ekonomi, Volume 10; https://doi.org/10.21082/jae.v10n1-2.1991.1-15

Abstract:
Sustainable agricultural development cannot be separated from the issue of soil erosion. This research shows that soil erosion is associated with sources of income of the households in the area, commodities being cultivated and demographic characteristics of the household. The higher the proportion of household income from agricultural activities, particularly dryland farming, the higher the erosion in the area. In general, this research suggests that an integrated and comprehensive policy on both commodity and natural resource management and agricultural and non-agricultural, Sectors development is required to solve soil and water conservation problems.
Erwidodo Erwidodo, Mewa Ariani, Adreng Purwoto
Jurnal Agro Ekonomi, Volume 16; https://doi.org/10.21082/jae.v16n1-2.1997.42-60

Abstract:
This paper describes some analysis results of Susenas data on rice consumption in Indonesia during 1990-1993 and its projection in the future. The results show that participating rate of rice consumption in some provinces is increasing . Based on the participating rate, demand for local rice tended to increase during the period of 1990-1993. However, in rice-producing provinces demand for rice of improved varieties were greater than that for local rice. For the period of 1990-1993 per capita rice consumption decreased in most of the provinces, except in provinces where rice consumption was low, such as provinces of Central Java, Yogyakarta, East Java, East Nusa Tenggara, North Sulawesi, South-east Sulawesi and Irian Jaya. Demand function analysis showes that income elasticity of rice was still positive but its elasticity values tend to decline. On the other hand, income elasticities on per capita rice consumption in regions of low per capita rice consumption were greater relatively than those in region of high per capita rice consumption. Projection of rice consumption and production for the period of 1993-2003 show that domestic rice production (in the normal climate) was still higher than rice consumption demand. It meant that rice self-sufficiency could be maintained. Increase of rice import volume, especially in 1995 which was more than 2 million tons was more affected by domestic rice production decline due to drought. Furthemore, rice import policy is an important part of national rice "stock" management to stabilise rice price, including to fulfill rice package for civil servants/military.
Achmad Munir, S. Sureshwaran, H. M.G. Selassie, J. C.O. Nyankori
Jurnal Agro Ekonomi, Volume 16, pp 1-12; https://doi.org/10.21082/jae.v16n1-2.1997.1-12

Abstract:
Indonesian Sayur-sayuran adalah salah satu jenis komoditas penting di Indonesia yang termasuk dalam penyurnbang devisa ekspor nonmigas di Indonesia. Studi ini bertujuan untuk menguji konsep integrasi pasar pada komoditas sayur-sayuran terpilih di Indonesia. Spesifikasi model digunakan merupakan aplikasi model yang kembangkan oleh Ravallion (1986). Empat jenis sayur-sayuran di antara 21 sayuran yang diproduksi di Indonesia dipilih untuk pengujian integrasi pasar. Pemilihan tersebut berdasarkan pada urutan rangking luasan tanam dan hasil panen yang diproduksi selama periode 1969-1990. Hasil uji statistik dengan F-test menunjukkan bahwa tidak ada satu pun kombinasi pasar yang tersegmentasi. Hal ini memberikan implikasi penting bagi petani dan pengambil kebijakan di Indonesia. Hanya beberapa kombinasi pasar sayur-sayuran yang terintegrasi dalam jangka pendek. Hasil lain juga menunjukkan bahwa fasilitas sarana transportasi diantara pasar produsen-konsumen dan sifat karakteristik sayur-sayuran yang mudah rusak (perishable) adalah hal penting dalam menjelaskan faktor yang mempengaruhi kecepatan transmisi harga. Integrasi pasar yang terjadi bersifat langsung (directional) di mana pasar di Jawa Barat dan Jakarta terintegrasi dengan pasar di Sumatera; sedangkan pasar di Jawa Tengah terintegrasi dengan Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat dan Sulawesi Selatan.
I Wayan Rusastra, Reni Kustiari, Effendi Pasandaran
Jurnal Agro Ekonomi, Volume 16; https://doi.org/10.21082/jae.v16n1-2.1997.31-41

Abstract:
Maintaining rice selfsufficiency in the condition of fiscal austerity can be conducted through technological generation, efficiency improvement, or input subsidy reduction. The objectives of this study is to asses the impact of price liberalization of Urea, TSP, and other chemical fertilizer (KCI and ZA) to the application of those fertilizer and national rice production. The study used the combination of cross-section (five regions) and time series data of 15 years (1979-1993). There are four empirical models under considerations in this study, i.e: rice production function, and demand function of Urea, TSP, and other chemical fertilizers. The system equations of rice production and fertilizer demand functions are estimated simultaneously in order to have an efficient parameter estimates. The research findings indicated that fertilizer price liberalization had positive impact on the structural application of those fertilizers, in which the use of Urea and TSP decline and the use of other chemical fertilizer increases. The structural change of those fertilizer application have positive impact on yield and national rice production, at the magnitude of 5,1 percent. In order to maintain rice productivity (selfsufficiency) and efficient use of national resources, the reduction of Urea and TSP subsidy can be conducted in a faster rate than those ZA's and KCI's For larger rice production improvement, technological breakthrough is really needed in conjunction with managerial skill improvement of the farmers.
Bernard B. De Rosari, Abdul Choliq
Jurnal Agro Ekonomi, Volume 16, pp 13-30; https://doi.org/10.21082/jae.v16n1-2.1997.13-30

Abstract:
Indonesian A research has been done to see the dominant fish sold, the continuity of fish supply, and the influence of the quantity of certain fish sold and prices of the other fish to the fish selling price determinant at retailing markets in Ambon and Central Maluku. Three markets were chosen, they were Pasar Rumah Tiga, Pasar Lama Ambon and Pasar Binaya Masohi, Central Maluku. Survey method was used in the research. Time series data were collected every three weeks from September 1995 to March 1996. The results showed, that the dominant type of fish sold continously in Pasar Rumah Tiga were Scads, Frigate tuna,"Skipjack and Trevalies; in Pasar Lama ambon were Mackerel, Frigate tuna, Skipjack and Scads; in Pasar Binaya Masohi were Mackerel, Frigate tuna, Trevalies and Scads. The fish whose selling price was not influenced by the volume supplied and by other fish prices were Skipjack and dried anchovies in Pasar Rumah Tiga, and Frigate tuna, Garfish, Smoke-grilled Skipjack and Tuna in Pasar Binaya (p 10% ). Increase in supply volume caused the decrease in selling price, of Mackerel (Rp 19/kg; p %) and frozen Pomfret ( Rp 32/kg; p 1%) in Pasar Lama Ambon and fresh Coral fish ( Rp 92/kg; p 5%) in Pasar Binaya. The prices of several type of fish were pairly substitute and complement each other.
Erma Suryani, Sri Hartoyo, Bonar M. Sinaga, Nfn Sumaryanto
Jurnal Agro Ekonomi, Volume 33, pp 91-106; https://doi.org/10.21082/jae.v33n2.2015.91-106

Abstract:
English The objective of this study was to estimate output supply and input demand elasticities for analyzing impacts of price changes of output, input, and infrastructure on supply of output (rice and corn) and on demand for inputs. Data were taken from surveys conducted in 2007 and 2010 by the Indonesian Center for Agricultural Socio Economic and Policy Studies (ICASEPS) in collaboration with JBIC and IFPRI. The unit of analysis was village. As many as 45 lowland villages were selected as samples from seven provinces in and off-Java. A multi input-multi output approach with Seemingly Unrelated Regression was used to estimate the elasticity and appropriateness of the model. The results of analysis show that elasticity of output supply on its price was positive and elastic, while elasticity on input price was negative and inelastic. Elasticity of input demand on its price was negative, and it was elastic to the price of urea fertilizer, irrigation fee, labor cost, and other inputs, while elasticities on other inputs price varied. Elasticity of input demand on rice price changes was positive and elastic. Acreage and infrastructure (rural road and irrigation) had a positive impact on output supply and input demand. The results of the study implies that rice production could be increased by sustaining Government Purchase Price policy, promoting adoption of new technology, limiting land conversion into non-farming use, and improving rural infrastructure. Indonesian Tujuan penelitian ini adalah melakukan pendugaan elastisitas penawaran output dan permintaan input untuk menganalisis dampak perubahan harga output, harga input, dan infrastruktur (irigasi dan jalan) terhadap penawaran output (padi dan jagung) dan permintaan input. Data bersumber dari hasil survei PSEKP, JBIC, dan IFPRI tahun 2007 dan 2010 di tujuh provinsi di Jawa dan luar Jawa. Penelitian menggunakan unit analisis desa dengan jumlah sampel 45 desa sawah. Analisis menggunakan pendekatan multiinput-multioutput dan estimasi model menggunakan metode seemingly unrelated regression. Hasil penelitian menunjukkan elastisitas penawaran output terhadap harga sendiri bertanda positif dan elastis, sedangkan terhadap harga input bertanda negatif dan inelastis. Elastisitas permintaan input terhadap harga sendiri bertanda negatif dan elastis terhadap pupuk urea, pengairan, tenaga kerja, dan input lainnya, sedangkan terhadap harga input lainnya besarannya bervariasi. Elastisitas permintaan input terhadap perubahan harga padi bertanda positif dan elastis. Luas areal tanam dan infrastruktur (irigasi dan jalan) menunjukkan pengaruh positif terhadap penawaran output dan permintaan input. Implikasi penelitian adalah peningkatan produksi padi dapat dilakukan dengan melanjutkan kebijakan HPP, meningkatkan penggunaan teknologi, menekan laju konversi lahan, dan meningkatkan alokasi anggaran untuk pembangunan/rehabilitasi infrastruktur irigasi dan jalan.
, Rudi Febriamansyah, Rahmat Syahni, Nfn Asmawi
Jurnal Agro Ekonomi, Volume 33; https://doi.org/10.21082/jae.v33n2.2015.161-177

Abstract:
English Most of the farmers are smallholders and they are economically weak and lack of capacity building. According to BPS, in 2013 the smallholders, i.e., who hold land area less than 0.5 hectare, are 14,25 million households or 55,3 percent of 26 million farmers’ households. It is necessary to develop the agricultural human resource. Objective of this research was to analyze the factors affecting capacities of agricultural extension workers (PPL) and farmers group in developing participatory social interaction between both parties. The research was conducted in Merangin and Kerinci Regencies, Jambi Province. There were 180 samples consisting of 36 persons of PPL and 144 farmers. The qualitative data was analyzed using a descriptive-inductive approach and the next was a quantitative analysis using a PLS programme (Partial Least Square). The results showed that the participatory interaction was determined by PPL’s capacity and farmers group’s capacity. Farmers group’s capacity influence was higher than that of PPL. Low PPL’s capacity leads to lack of participatory agricultural extension achievement. Indonesian Sebagian besar petani adalah petani berskala kecil, dengan kemampuan yang relatif lemah secara ekonomis, dan lemah dalam mengembangkan kapasitas dirinya. Menurut BPS tahun 2013 jumlah petani gurem (rumah tangga pertanian yang mengusahakan lahan pertanian kurang dari setengah hektar) adalah sebanyak 14,25 juta rumah tangga atau sekitar 55,33% dari sekitar 26 juta rumah tangga pertanian. Rendahnya kapasitas petani secara keseluruhan semakin membutuhkan perhatian serius terhadap pengembangan sumber daya manusia (SDM) pertanian. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi kapasitas penyuluh pertanian dan kapasitas kelompok tani dalam membangun interaksi sosial yang bersifat partisipatif antara penyuluh pertanian dan kelompok tani. Penelitian dilakukan di Kabupaten Merangin dan Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi, dengan total sampel sebanyak 180 orang, terdiri dari 36 orang penyuluh pertanian dan 144 orang petani. Data kualitatif yang dikumpulkan dianalisis secara deskriptif-induktif, sementara data yang bersifat kuantitatif selanjutnya dianalisis menggunakan program partial least square (PLS). Hasil analisis menunjukkan bahwa interaksi partisipatif antara penyuluh pertanian dan kelompok tani secara nyata ditentukan oleh kapasitas penyuluh pertanian dan kapasitas kelompok tani. Kapasitas kelompok tani memberikan pengaruh lebih nyata terhadap interaksi partisipatif dibandingkan dengan kapasitas penyuluh pertanian. Rendahnya kapasitas penyuluh pertanian mengarah pada rendahnya pencapaian penyuluhan pertanian yang partisipatif.
Jurnal Agro Ekonomi, Volume 33, pp 141-159; https://doi.org/10.21082/jae.v33n2.2015.141-159

Abstract:
English Oil palm is one of Indonesia’s non-oil and gas main export commodities. However, the productivity of oil palm, especially on smallholder oil palm plantation, is relatively low due to most farmers adopt noncertified seed. This study aims at assessing the impacts of oil palm certified seed and noncertified seed on production and farmers' income increase in West Kalimantan, as well as payback period of investment costs. A set of tools analysis were employed in this study, namely NPV, IRR, payback period, and ROI. The research results showed that the oil palm small holders adopting certified seed earned higher yield of 66.34% than those adopted noncertified seed. The first group also obtained higher NPV, IRR, and ROI of 79.45%, 31.84%, and 55.19%, respectively, than the latter. The farmers adopting certified seed were also able to return all investment more quickly. In the future, attempts to increase oil palm production should be prioritized through certified seed adoption and the planted area expansion. Enhancing certified seed production is necessary through oil palm experimental station capacity improvement in producing seed. The government should also encourage oil palm seed local producer along with strict supervision and guidance. Indonesian Sawit merupakan salah satu komoditas ekspor utama nonmigas Indonesia. Namun, produktivitas sawit khususnya pada perkebunan sawit rakyat masih rendah akibat banyak petani yang menggunakan bibit tidak bersertifikat/palsu. Penelitian ini bertujuan untuk melihat dampak penggunaan bibit bersertifikat relatif terhadap bibit tidak bersertifikat di Kalimantan Barat terhadap peningkatan produksi dan pendapatan petani, serta waktu kembali biaya investasi. Seperangkat analisis diterapkan untuk menjawab tujuan dari penelitian ini, seperti NPV, IRR, payback period, dan ROI. Hasil analisis menunjukkan bahwa perkebunan sawit rakyat yang menggunakan bibit bersertifikat mampu berproduksi 66,34% lebih tinggi dari bibit tidak bersertifikat, serta memberikan NPV, IRR, dan ROI lebih tinggi masing-masing 79,45%; 31,84%; dan 55,19%. Petani yang menggunakan bibit bersertifikat juga mampu mengembalikan modal yang diinvestasikan lebih cepat dibanding petani yang menggunakan bibit tidak bersertifikat. Peningkatkan produksi sawit ke depan sebaiknya diprioritaskan dengan mendorong lebih banyak lagi petani yang menggunakan bibit bersertifikat terutama untuk menggantikan tanaman sawitnya yang sudah berumur tua, dan prioritas berikutnya baru perluasan areal sawit. Oleh karena itu, perlu upaya penyediaan bibit bersertifikat secara memadai melalui peningkatan kapasitas kebun percobaan sawit dalam memproduksi bibit, serta mendorong munculnya produsen bibit lokal melalui pengawasan dan pendampingan secara ketat.
Nfn Faharuddin, A. Mulyana, Nfn Yunita
Jurnal Agro Ekonomi, Volume 33; https://doi.org/10.21082/jae.v33n2.2015.121-140

Abstract:
English Study on the household food consumption pattern, especially at provincial level, is very interesting in order to offer accurate information regarding the household response to changes in food prices. This study aims to analyze food consumption pattern in South Sumatra using Quadratic Almost Ideal Demand System (QUAIDS) based on Susenas household survey data in 2013. All food groups have positive income elasticity and negative price elasticity consistent with the theory of demand, but expenditure elasticities are higher than price elasticities. As a staple food, rice has relatively low expenditure and price elasticities in which rising household income and rising rice price do not affect much rice consumption. Most food commodity groups have uncompensated price elasticity close to 1, namely 0.9 to 1.1. The high price elasticities are found on fruit commodity group mainly affected by seasonal factors. The policy aimed to increase household income is more important than that to maintain price stability for adjusting consumption pattern. The government has challenging responsibility due to slow food diversification. Indonesian Pola konsumsi pangan rumah tangga apalagi sampai level provinsi sangat menarik dikaji untuk memberikan informasi yang tepat mengenai respon rumah tangga terhadap perubahan harga pangan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pola konsumsi pangan di Sumatera Selatan menggunakan quadratic almost ideal demand system (QUAIDS) dengan data hasil survei rumah tangga Susenas tahun 2013. Semua kelompok pangan memiliki elastisitas pendapatan yang positif dan elastistas harga yang negatif, konsisten dengan teori permintaan, namun elastisitas pengeluaran lebih tinggi dibandingkan elastisitas harga. Sebagai komoditas pangan utama, beras memiliki elastisitas pengeluaran dan elastisitas harga yang rendah di mana kenaikan pendapatan dan kenaikan harga tidak banyak memengaruhi konsumsi beras. Sebagian besar kelompok komoditas pangan memiliki elastisitas harga tidak terkompensasi yang mendekati 1, yaitu antara 0,9 dan 1,1. Elastisitas harga yang tinggi terdapat pada kelompok komoditas buah-buahan terutama karena dipengaruhi oleh faktor musiman. Dengan demikian, kebijakan meningkatkan pendapatan rumah tangga lebih penting dibandingkan kebijakan menjaga stabilitas harga untuk mengarahkan pola konsumsi masyarakat. Pemerintah memiliki tugas yang berat karena proses diversifikasi konsumsi pangan berjalan sangat lambat.
, P. Setyanto, M. Ardiansyah
Jurnal Agro Ekonomi, Volume 33; https://doi.org/10.21082/jae.v33n2.2015.107-120

Abstract:
English Greenhouse gases (GHG) concentration in the atmosphere significantly increases with the annual average increase on the past decade (2005-2014) is 2.1 ppm. Today’s concentration is 403 ppm, while the upper safety limit for atmospheric CO2 is 350 ppm. This rising concentration mainly affects global warming and climate change. This study aims to analyze mitigation options in paddy field management that may be conducted through a marginal abatement (MAC) approach by selecting mitigation actions with low cost and high potential emission decrease. This analysis was carried out using the Net Present Value (NPV). Locations were selected purposively in Grobogan Regency, Central Java Province, and East Tanjung Jabung Regency, Jambi Province, in 2013. Data collected consisted of GHG emissions baseline estimate, costs of production and total revenue. Baseline emission was computed using the appropriate approach of 2006 IPCC Guidelines. Data were analyzed using both quantitative and qualitative descriptive methods. The results showed that abatement cost to reduce 1 tCO2e in Grobogan Regency from the lowest to highest were low methane rice variety with the cost of Rp106/tCO2e, intermittent irrigation (Rp124/tCO2e), direct seeded rice (Rp657/tCO2e) and shifting between urea granules with urea tablets (Rp3,582/tCO2e). Meanwhile in East Tanjung Jabung Regency, the lowest to highest costs were compost for amelioration (Rp163/tCO2e), farmyard manure for amelioration (Rp456/tCO2e), direct seeded (Rp504/tCO2e) and interaction between no tillage+direct seeded rice (Rp608/tCO2e). These costs did not include tax, transport and other social costs. Indonesian Konsentrasi gas rumah kaca (GRK) di atmosfer saat ini mengalami peningkatan dengan kenaikan rata-rata tahunan sebesar 2,1 ppm selama sepuluh tahun terakhir. Saat ini konsentrasinya mencapai nilai 403 ppm, sementara batas atas konsentrasi CO2 aman bagi atmosfer bumi adalah 350 ppm. Peningkatan ini menyebabkan adanya pemanasan bumi secara global dan perubahan iklim. Penelitian ini bertujuan menganalisis opsi-opsi mitigasi pada pengelolaan lahan sawah yang mungkin dilakukan dengan menggunakan pendekatan marginal abatement cost atau biaya pengurangan emisi yang berprinsip pada pemilihan teknologi mitigasi dengan biaya rendah dan potensi penurunan emisi yang besar. Analisis ini dilakukan dengan menggunakan net present value (NPV). Lokasi penelitian dipilih secara purposive, yaitu di Kabupaten Grobogan, Provinsi Jawa Tengah; dan Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Provinsi Jambi, pada tahun 2013. Data yang dikumpulkan, yaitu data aktivitas untuk perhitungan baseline emisi GRK serta data usaha tani yang meliputi semua biaya produksi dan penerimaan. Baseline emisi dihitung dengan menggunakan pendekatan sesuai IPCC Guideline 2006. Hasil penelitian menunjukkan biaya tambahan yang diperlukan untuk menurunkan emisi 1 tCO2e di Kabupaten Grobogan dari yang terendah sampai tertinggi, yaitu teknologi varietas rendah emisi sebesar Rp106/tCO2e, teknologi pengairan berselang sebesar Rp124/tCO2e, teknologi tanam benih langsung sebesar Rp657/tCO2e, dan penggantian urea prill dengan urea tablet sebesar Rp3.582/tCO2e. Sementara, di Kabupaten Tanjung Jabung Timur biaya tambahan terendah sampai tertinggi, yaitu teknologi ameliorasi dengan kompos sebesar Rp163/tCO2e; ameliorasi dengan pupuk kandang sebesar Rp456/tCO2e; teknologi tanam benih langsung sebesar Rp504/tCO2e; dan interaksi antara tanpa olah tanah+tanam benih langsung sebesar Rp608/tCO2e. Biaya ini tidak termasuk pajak, biaya transpor, dan biaya-biaya sosial.
Jurnal Agro Ekonomi, Volume 33; https://doi.org/10.21082/jae.v33n1.2015.73-89

Abstract:
English In tandem with the effort of WTO that insists its members to cut their tariff, standardization, and in general, the non-tariff measures/NTMs have been gaining its role in today’s world agricultural and food trade. The objectives of this paper is to review information and data pertaining to NTM and trade facilitation imposed by Indonesia’s partner countries and investigate their impact on agricultural production and welfare. Based on GTAP Data Base Version 8.1, the paper concludes that Vegyfru (Vegetables, fruit, nuts) and Vegyoil (Vegetable oils and fats) production tend to increase, but for those of Oilseed, Othfoodpr (Food products nec) and Oth_sectors (Other sectors), some scenarios project to their increases and other scenarios show otherwise. Inspite of that all scenarios results in positive increases in welfare of Indonesians and world’s population between US$ 16 to 1,734 million. For Indonesia, improvement in trade facilitation in all regions would give the most benefits, relative to import tariff reduction done by partner countries or export tax/subsidy reduction done by all regions, including Indonesia. The paper suggests that Indonesia should actively follow the policy dynamics that relate to NTMs and trade facilitation applied by the partner countries on agricultural products’ tariff lines in terms of types, size, and its characteristics. By so doing, Indonesia would gain a deeper understanding on defensive and offensive trade and economic interests of each of its partner countries and its own. Indonesian Seiring dengan pemotongan tarif secara menyeluruh di seluruh dunia yang digalakkan Organisasi Perdagangan Dunia (OPD), pembakuan, dan secara umum tindakan bukan-tarif/TBT atau non-tariff measures/NTMs, menjadi makin penting perannya dalam perdagangan pertanian dan pangan dunia saat ini. Tujuan makalah ini adalah mendapatkan informasi dan data tentang hambatan perdagangan bukan-tarif dan kemudahan perdagangan yang diterapkan negara-negara mitra dan dampaknya pada produksi pertanian dan kesejahteraan masyarakat Indonesia. Hasil analisis dengan menggunakan Basis Data GTAP Versi 8.1 menunjukkan bahwa produksi Vegyfru (Vegetables, fruit, nuts) dan (Vegetable oils and fats), dan untuk Oilseed, Othfoodpr (Food products nec) dan Oth_sectors (Other sectors) beberapa skenario menunjukkan peningkatan, tetapi beberapa lainnya menunjukkan penurunan. Semua skenario yang dipertimbangkan memberi peningkatan kesejahteraan bagi Indonesia dan dunia, antara US$ 16 sampai US$ 1.734 juta dolar AS. Bagi Indonesia kebijakan peningkatan keefisienan perdagangan di seluruh dunia memberikan manfaat yang paling besar dibandingkan dengan kebijakan pemotongan tarif impor atau pemotongan tarif ekspor. Saran kebijakan yang dapat disampaikan antara lain Indonesia perlu secara aktif mengikuti perkembangan kebijakan yang menyangkut tindakan bukan tarif/TBT dari sisi jenis, besaran, dan sifatnya untuk setiap pos tarif komoditas pertanian yang lebih rinci yang dilakukan negara-negara mitra. Dengan demikian, pengetahuan yang mendalam tentang daya bertahan dan daya serang perdagangan suatu negara mitra dan Indonesia sendiri dapat diperoleh.
, Helena J. Purba, Nfn Hermanto
Jurnal Agro Ekonomi, Volume 30; https://doi.org/10.21082/jae.v30n1.2012.81-107

Abstract:
English The study aims to analyze Indonesian mangosteen export performance and its competiveness. Primary data were collected from the mangosteen production center in Bukit Barisan District, Limapuluh Kota Regency, West Sumatera Barat Province, on July 2011. The respondents consisted of farmers, traders, exporters and stakeholders. Secondary data were gathered from CBS and UN. A Constant Market Shares (CMS) analysis of period 2000-2009 was utilized to identify Indonesian export performance, while competitiveness was measured using Policy Analysis Matrix (PAM). The results show that the competitiveness of Indonesian mangosteen in the world market tends to decline indicated by the decrease of market share in several export markets. The competitiveness analysis shows that mangosteen farms in West Sumatra have both comparative and competitive advantages. To increase mangostene export performance, Indonesia should find the market with the growth rate higher than that of world demand and improve on-farm technology to produce better quality of mangosteen. Indonesian Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kinerja ekspor manggis Indonesia di tatanan pasar internasional dan daya saing komoditas manggis. Data primer untuk studi kasus dikumpulkan dari daerah sentra produksi manggis di Kecamatan Bukit Barisan, Kabupaten Limapuluh Kota, Provinsi Sumatera Barat, pada bulan Juli 2011. Responden penelitian terdiri dari petani, pedagang, eksportir, dan instansi terkait. Disamping itu, untuk analisis CMS digunakan data sekunder yang bersumber dari BPS dan UN. Untuk menganalisis kinerja manggis Indonesia di pasar dunia digunakan analisis Constant Market Share (CMS) untuk periode 2000-2009. Sementara untuk mengukur daya saing dilakukan dengan Policy Analysis Matrix (PAM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa daya saing manggis Indonesia di pasar internasional cenderung menurun. Hal ini diindikasikan oleh penurunan pangsa ekspor Indonesia di beberapa pasar tujuan ekspor. Hasil analisis PAM menunjukkan bahwa usahatani manggis di Sumatera Barat memiliki keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif. Untuk meningkatkan kinerja ekspor manggis Indonesia diperlukan upaya pencarian pasar dengan volume permintaan impor yang besar dengan laju pertumbuhan yang lebih tinggi dari rata-rata pertumbuhan permintaan dunia, serta memperbaiki pengelolaan usahatani manggis agar dapat dihasilkan buah manggis dengan kualitas yang lebih baik.
Jurnal Agro Ekonomi, Volume 30, pp 59-79; https://doi.org/10.21082/jae.v30n1.2012.59-79

Abstract:
Indonesian Pengenalan banyak teknologi baru selama ini telah semakin kurang berhasil, sebagaimana ditunjukkan oleh tingkat adopsinya yang rendah. Proses pengenalan teknologi baru padi sampai petani berkeinginan untuk mengadopsinya memang bukanlah hal mudah. Tujuan makalah ini adalah menganalisi faktor-faktor yang menjadi penggerak niat petani untuk mengadopsi teknologi baru dalam budidaya padi dengan mempertimbangkan efek simultan dari peubah-peubah terukur dan variabel peubah-peubah laten yang mempengaruhi niat petani. Penelitian ini mengintegrasikan technology acceptance model (TAM) dan theory of planned behavior (TPB) untuk memprakirakan penerimaan teknologi petani melalui pengukuran niat dan kemampuan menjelaskan maksud mereka dalam hal sikap, persepsi kemudahan penggunaan, penggunaan, pengalaman masa lalu, persepsi pengaruh perilaku, dan peubah-peubah yang saling berhubungan. Hasil analisis data menunjukkan bahwa peubah persepsi kegunaan, persepsi kemudahan penggunaan, dan pengalaman masa lalu petani secara positif mempengaruhi sikap petani terhadap adopsi teknologi baru. Selain itu, hasil analisi juga menunjukkan bahwa peubah sikap persepsi yang mengendalian perilaku, persepsi keguanaan, kondisi fasilitas pendukung dan persepsi risiko secara positif mempengaruhi niat petani dalam mengadopsi teknologi. English The introduction of many new technologies has come up with limited success, as indicated by the low of observed rates of adoption. Furthermore, the process of introduction until paddy farmers have willingness to adopt this new technology is not always easy. The objective of this paper is to analyze factors that drive farmers’ intention to adopt a new technology in paddy cultivation, by taking into account simultaneous effects of measured and latent variables influencing the intention. This study uses integrated technology acceptance model (TAM) and theory of planned behavior (TPB) for predicting farmers’ technology acceptance by measuring their intentions, and the ability to explain their intentions in terms of their attitudes, perceived ease of use, perceived usefulness, past experience, perceived behavioral control, and interrelated variables. Results of this paper reveal that attitude, perceived behavioral control, perceived usefulness, resource facilitating conditions and perceived risks positively engender the intention of agricultural technology adoption.
Dear Rahmatullah Ramadhan, Sri Mulatsih, Akhmad Arif Amin
Jurnal Agro Ekonomi, Volume 33; https://doi.org/10.21082/jae.v33n1.2015.51-72

Abstract:
English Dairy farming system in Bogor Regency deals with threatening problems. This research aims to assess and to analyze sustainability of dairy farming system of smallholding farms in Bogor Regency. The respondents consisted of dairy farm area (Kunak) and smallholding farms in Cisarua District. Approach used in this study was a rapid appraisal for dairy farm system (Rap-Sibusape) using a multidimensional scaling (MDS) method. Results showed that smallholders in Cisarua and Kunak had index values of system dairy farms sustainability of 51.25 and 54.12, respectively. It indicated that the two areas are quite sustainable. Analysis five sustainable dimensions (ecology, economy, socio-culture, infrastructure technology, and institutional law) showed that ecology was sustainable on Kunak, and economy and socio-culture were not sustainable on both Kunak and dairy farm in Cisarua. Leverage analysis results showed that there were 15 out of 45 attributes influencing the sustainability index system. There were six key factors strongly influenced the system with low dependence among factors, i.e. (i) milk prices, (ii) feed carrying capacity, (iii) development cooperation, (iv) input subsidies, (v) micro finance, and (vi) socialization work. Improving dairy cattle farming in Bogor Regency requires sustainability index value enhancement of 15 sensitive attributes focused on 6 key factors affecting the dairy cattle farming system. Indonesian Peternakan sapi perah di Kabupaten Bogor menghadapi permasalahan yang mengancam keberlanjutan sistem, seperti (i) keterbatasan pakan hijauan, (ii) penurunan jumlah peternak, (iii) rendahnya mutu susu, (iv) penyakit ternak, dan (v) terbatasnya sarana-prasarana agribisnis. Oleh karena itu, perlu dikaji status keberlanjutan sistem peternakan sapi perah di Kabupaten Bogor untuk memperoleh manfaat optimal dari kinerja sistem. Penelitian ini bertujuan untuk menilai dan menganalisis keberlanjutan sistem peternakan sapi perah rakyat di Kabupaten Bogor yang diwakili oleh Kawasan Usaha Ternak (Kunak) dan peternakan rakyat Cisarua dengan metode rapid appraisal sistem peternakan sapi perah (Rap-Sibusape) menggunakan pendekatan multidimensional scaling (MDS). Penilaian Rap-Sibusape menunjukkan Kunak dan peternakan rakyat Cisarua memiliki rataan nilai indeks keberlanjutan sebesar 51,25 dan 54,12 sehingga berkategori cukup berkelanjutan. Analisis lima dimensi keberlanjutan (ekologi, ekonomi, sosial-budaya, teknologi-infrastruktur, dan hukum-kelembagaan) menunjukkan dimensi ekologi tidak berkelanjutan pada Kunak, dimensi ekonomi dan sosial-budaya tidak berkelanjutan pada Kunak dan peternakan rakyat Cisarua. Analisis leverage menunjukkan terdapat 15 atribut dari 45 atribut berpengaruh terhadap indeks keberlanjutan sistem peternakan sapi perah. Analisis prospektif menunjukkan terdapat 6 faktor kunci berpengaruh kuat terhadap sistem dengan tingkat ketergantungan antarfaktor yang rendah namun berpengaruh besar terhadap sistem. Enam faktor kunci tersebut yakni: (i) harga susu 5 tahun terakhir, (ii) daya dukung pakan, (iii) perkembangan koperasi, (iv) tingkat subsidi input, (v) lembaga keuangan mikro, dan (vi) sosialisasi pekerjaan. Pengembangan sistem peternakan sapi perah Kabupaten Bogor memerlukan peningkatan nilai indeks keberlanjutan melalui pengelolaan dan perbaikan 15 atribut sensitif dengan fokus pada perbaikan 6 faktor kunci yang berpengaruh terhadap sistem peternakan sapi perah.
Budiman Hutabarat, Adi Setiyanto, Reni Kustiari,
Jurnal Agro Ekonomi, Volume 30; https://doi.org/10.21082/jae.v30n1.2012.1-23

Abstract:
Indonesian Petunjuk perubahan iklim yang cepat saat ini telah diamati dan dibukukan secara meluas. Semua perubahan ini secara pasti akan menyebabkan kemerosotan jumlah dan mutu lahan, air, dan iklim mikro di tempat di pertumbuhan tanaman hortikultura. Selanjutnya, dapat diprakirakan produktivitas lahan dan hortikultura akan menurun. Makalah ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh yang dipicu perubahan ini pada produksi, impor, dan konsumsi produk hortikultura. Penelitian ini menggunakan pendekatan model keseimbangan parsial pasar-jamak dalam kerangka simulasi. Semua hasil-hasil simulasi IFPRI memprakirakan bahwa produktivitas kelompok buah (pisang dan jeruk) dan sayuran (cabai dan bawang merah) meningkat dibandingkan keadaan baseline. Demikian pula, apabila perbandingan dilakukan terhadap hasil skenario tidak terjadi perubahan iklim (NoCC), kesimpulan yang berbeda akan diperoleh. Pada tahun 2050, model ini memberikan petunjuk yang berlainan dengan hasil literatur dan hipotesis yang menyatakan bahwa produksi, impor, dan konsumsi terhadap hortikultura akan menurun. Sebaliknya model mengantisipasi bahwa produksi pisang, jeruk, cabai, dan bawang akan meningkat di perdesaan Jawa dan Luar-Jawa. Namun, hasil-hasil ini harus ditafsirkan secara hati-hati berhubung kesulitan penarikan kesimpulan atas pengaruh perubahan iklim terhadap komoditas hortikultura yang berlaku secara umum, karena komoditas hortikultura jumlahnya beribu-ribu dengan sifat masing-masing yang khas. Untuk itu kajian dan penelitian yang intensif dan menyeluruh sangat diperlukan karena perubahan iklim bukanlah fenomena jangka pendek seumur tanaman, tetapi bersifat jangka panjang. Dalam kaitannya dengan indikator perdagangan, simulasi memberikan hasil yang sama bahwa impor pisang, jeruk, cabai, dan bawang akan meningkat, tetapi impor kedua komoditas terakhir tidak besar. Skenario CSIRO_A1b, CSIRO_B1, dan MIROC_A1b memproyeksikan konsumsi nasional agregat pisang, jeruk, cabai, dan bawang akan menurun dengan perubahan iklim, tetapi meningkat menurut Skenario MIROC_B1 . Namun, terlihat ada perbedaan konsumsi komoditas-komoditas ini antarwilayah. Konsumsi rumah tangga di Jawa menurun pada 2050, penurunan ini akan sangat terasa pada keluarga miskin di Jawa. Sementara itu, konsumsi semua kelompok rumah tangga di Luar Jawa meningkat, kecuali menurut Skenario MIROC_A1b dan Skenario CSIRO_B1, di mana konsumsi keluarga miskin di Luar Jawa menurun. Makalah menyarankan agar penelitian perakitan kultivar yang dapat menyesuaikan diri dan tahan kekeringan dan juga teknik-teknik penghematan air yang sesuai untuk tanaman hortikultura atau penggunaan air secara efisien perlu ditingkatkan. Teknologi-teknologi semacam ini sangat dibutuhkan saat ini. Cara-cara penyebarluasan atau pengkomunikasian kultivar-kultivar dan teknologi-teknologi di atas ke pihak petani kecil juga perlu digali lagi agar mereka dapat memanfaatkannya. English Indication of Earth’s changing climate with rapid pace currently present time has been observed and extensively documented. All these changes will undoubtedly lead to deterioration in quantity and quality of land, water, and micro-climate where the horticultural crops are grown. Subsequently, it can be anticipated that land and horticultural productivity will be depreciated. The purpose of this paper is to investigate the impact of this induced change in these horticultural crops on the production, imports, and consumption of these crops. This study adapts a multimarket model of partial equilibrium analysis to a simulation framework. All scenarios adopted by the IFPRI study predict that the yields of fruit crop group (bananas and oranges) and vegetables (chilies and shallots) would increase compared to the baseline scenarios. But by making comparison to no climate change (NoCC) scenario after simulating it from the baseline, mixed conclusions are obtained. For 2050, the model anticipates increases in the production of bananas, oranges, shallot, and chilies by rural households in Java and Off-Java. These findings have to be interpreted cautiously, because it is extremely difficult to make a general conclusion about the impact of climate change on horticulture for the fact that horticulture consists of thousands of crops, of which each of them has unique characteristics. More intensive and comprehensive studies are still required because climate change is not a short-term phenomenon of crop-cycle. In regard to net trade indicators, this study foresees that bananas, oranges, chilies and onions imports would grow but the rate of growth of chilies’ and onions’ imports are not significant. National consumption of bananas, oranges, chilies and shallot are projected to fall under Scenarios CSIRO_B1 and MIROC_A1b but it increases under Scenario MIROC_B1. However, there would be disparities in consumption of bananas, oranges, chilies and shallot among regions. Java households will experience decreases in consumption in 2050, whereas Java–poor households would suffer the most. On the other hand almost all types of Off-Java households will enjoy a positive rate of consumption changes, with the exception being the results of Scenario MIROC_A1b and Scenario CSIRO_B1 for Off-Java–poor households, which indicate a decrease in consumption. This paper recommends that more researches on assembling cultivars adaptable or tolerable to drought as well as appropriate technologies to conserve water for horticultural crops and to use the limited amount of water efficiently are in high demand today. Best means to disseminate or communicate these cultivars and technologies to smallholding horticultural-farmers ought to be explored.
Jurnal Agro Ekonomi, Volume 32; https://doi.org/10.21082/jae.v32n2.2014.147-165

Abstract:
Indonesian Provinsi Jawa Timur merupakan sentra produksi tebu terbesar di Indonesia dan koperasi mempunyai peran penting dalam agribisnis tebu di wilayah itu. Akan tetapi, walaupun banyak manfaat yang ditawarkan oleh koperasi, masih banyak petani tebu yang enggan untuk menjadi anggota koperasi. Studi ini bertujuan untuk mengkaji dampak keanggotaan koperasi terhadap pendapatan petani tebu di Jawa Timur. Uji perbandingan nilai tengah dua contoh dengan uji-t digunakan dalam membandingkan biaya usahatani, penerimaan, dan pendapatan usahatani antara anggota dan bukan anggota, dan antara anggota dan bukan anggota yang memanfaatkan layanan jasa koperasi. Hasil kajian menunjukkan bahwa layanan jasa koperasi mempunyai dampak yang positif terhadap harga tebu di tingkat petani. Demikian pula dampak positif secara nyata terhadap biaya usahatani, penerimaan, dan pendapatan bersih usahatani dibandingkan dengan bukan anggota yang tidak memanfaatkan layanan jasa koperasi. Sebaliknya, tidak ada perbedaan yang nyata dalam biaya usahatani, penerimaan, dan pendapatan bersih usahatani antara petani anggota dan bukan anggota yang memanfaatkan jasa koperasi. Hal ini menunjukkan bahwa status keanggotaan tidak berdampak nyata terhadap variabel-variabel tersebut selama kedua kelompok mendapat jasa layanan koperasi. Oleh karena itu, disarankan untuk membedakan layanan jasa antara anggota dan bukan anggota pada tingkat yang bisa memberikan insentif bagi bukan anggota untuk menjadi anggota koperasi. English East Java Province is the largest sugarcane producing center in Indonesia and cooperatives have important roles in sugarcane agribusiness in this province. However, in spite of the advantages offered by the cooperatives, there are still many farmers reluctant to become members of the cooperatives. The objective of this study was to assess the impact of cooperative membership on sugarcane farmers’ income in East Java. The comparison of two samples means using t-test was applied in comparing the means of costs, revenue, and net farm income between members and non-members as well as members and non-members who availed cooperatives’ services. The results of the study showed that cooperatives’ services had a positive impact on sugarcane price at farm level. Moreover, the results of the two samples t-test showed that cooperative services had some significant positive impacts on sugarcane farm costs, revenue, and net income of the members as compared to non-members who did not avail cooperative services. However, there were no significant differences in sugarcane farm costs, revenue, and net income between farmer-members and non-members who availed cooperative services, suggesting that cooperative membership status had no significant impact on those variables. Therefore, service differentiation at a certain level that would become incentives for the farmers to become members of the cooperatives is recommended by the study.
Page of 6
Articles per Page
by
Show export options
  Select all
Back to Top Top