Refine Search

New Search

Advanced search

Results in Journal Jurnal PROGRESS: Wahana Kreativitas dan Intelektualitas: 61

(searched for: journal_id:(1813733))
Page of 7
Articles per Page
by
Show export options
  Select all
Nur Cholid, Rois Fauzi
Jurnal PROGRESS: Wahana Kreativitas dan Intelektualitas, Volume 8, pp 23-37; doi:10.31942/pgrs.v8i1.3441

Abstract:
Despite the development of increasingly modern era, traditional ceremonies which are a noble culture still play an important role in the society live. One of them is Nyadran culture, it has meaning for society since it contains Islamic moral values. This culture is an acculturation of Javanese-Hindu culture with Islam. Islamic education plays an important role in human life. We as Muslims should apply the Islamic values in our daily lives as a guide to reach happiness living in the world and the hereafter. Many teenagers in high school age are reluctant to carry out congregational prayers in mosques, they prefer hanging out and riding out their motorbikes, parents' advice is no longer ignored. This is a moral decline in society that appears today. This research is a qualitative-descriptive. The techniques of data collection were interviews, documentation and observation. Data analysis techniques were data reduction, data presentation, conclusion and verification. Meanwhile, to test the validity of the data, we used data triangulation and member checking techniques. The results of this study showed that the Nyadran culture is a process of sending prayers to ancestors who have passed away. This culture has been conducted by the society from generation to generation from their ancestors. The ceremony is held in Rajab, Thursday wage night Friday Kliwon. The first process that society do in this tradition is cleaning the grave, then praying together on Wednesday evening which starts at 24.00, followed by slaughtering goats on Thursday morning, after that the core of Nyadran process is praying together, recitation and distribution of food and meat goat Keywords: The Islamic Values of Sadranan Culture Abstrak Meskipun perkembangan zaman semakin modern, upacara tradisional yang merupakan budaya luhur masih memegang peranan penting bagi sebagian masyarakat dalam kehidupannya. Upacara tradisional yang memiliki makna serta nilai-nilai pendidikan Islam didalamnya salah satunya adalah budaya Nyadran. Budaya nyadran merupakan akulturasi budaya Jawa-Hindu dengan Islam. Pendidikan Islam sangat berperan penting dalam kehidupan manusia. Nilai-nilai ajaran Islam seharusnya kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari sebagai pedoman untuk menuju kebahagiaan dunia dan akherat. Semakin merebaknya sistem perjudian di wilayah Ngijo, anak seusia SMP sampai SMA enggan untuk melaksanakan melaksanakan sholat berjamaah di masjid, mereka lebih suka untuk nongkrong dan motor-motoran, nasehat orang tua sudah tidak dihiraukan lagi. Inilah salah satu bentuk kemerosotan akhlak di masyarakat yang muncul saat ini. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif-deskritif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara, dokumentasi dan observasi. Teknik analisis data yang digunakan reduksi data, penyajian data, kesimpulan dan verifikasi. Untuk menguji keabsahan data menggunakan teknik triangulasi data dan member check. Hasil penelitian menunjukan bahwa budaya nyadran adalah suatu proses mengirimkan doa kepada para leluhur yang sudah meninggal dunia yang sudah berlangsung secara turun temurun dari nenek moyang. Waktu pelaksanaannya pada bulan Rajab, hari kamis wage malam Jum’at kliwon. Proses tradisi nyadran yang diawali dengan besik kubur atau membersihkan pemakaman, kemudian berdoa bersama pada hari rabu malam yang dimulai pukul 24. 00, dilanjutkan dengan pemotongan kambing pada hari kamis pagi, setelah itu inti dari nyadran yaitu doa bersama, pengajian dan pembagian makanan dan daging kambing. Kata Kunci : Nilai-Nilai Pendidikan Islam, Budaya Sadranan
Rohmatul Faizah
Jurnal PROGRESS: Wahana Kreativitas dan Intelektualitas, Volume 8, pp 38-61; doi:10.31942/pgrs.v8i1.3442

Abstract:
Abstrak The spirit of globalisation had cut out the big world to the narrow world and its today’s impact could reduce the nationalism for most of people, especially for college students. This study was qualitative study which was strengthened by the field study. The data collection technique was documentation, observation, and interview. The followings were four results from the analysed data: The nationalism knowledge programs and Islamic moderation were implemented in some subjects. They were, nationalism, widya mwat yasa, civic education, Pancasila, Islamic religion, and sports. The implementation of the nationalism knowledge and Islamic moderation reflected to some things. They were the students who were tolerant (tasamuh), moderate (tawasuth), balance (tawazun), amar ma’ruf nahi munkar. Keywords: Nationality Insight; Islamic Moderation; UPNV Yogyakarta Abstract Semangat globalisasi telah memangkas bola dunia yang luas menjadi sempit dan pengaruh globalisasi di era sekarang juga dapat mengikis rasa cinta tanah air bagi sebagian besar individu, khususnya di kalangan mahasiswa. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang diperkuat dengan penelitian lapangan. Teknik pengumpulan data penelitian ini adalah dokumentasi, observasi dan wawancara. Dari hasil penelitian yang dilakukan terdapat empat temuan sebagai berikut: Program-program penguatan wawasan kebangsaan dan moderasi Islam ini diimplementasikan dalam beberapa mata kuliah, diantaranya, bela negara dan widya mwat yasa, kewarganegaraan, pancasila, agama Islam, dan olah raga. Penerapan wawasan kebangsaan dan moderasi Islam ini tercermin dalam beberapa hal, diantaranya mahasiswa memiliki rasa tasamuh (toleran), tawasuth (moderat), tawazun (seimbang), amar ma’ruf nahi munkar. Kata Kunci: Wawasan Kebangsaan; Moderasi Islam; UPNV Yogyakarta
Ahmad Fahri Yahya Ainuri
Jurnal PROGRESS: Wahana Kreativitas dan Intelektualitas, Volume 8, pp 76-100; doi:10.31942/pgrs.v8i1.3446

Abstract:
As Indonesian people, of course we are familiar with religious groups with transnational ideologies that are oriented towards replacing government systems with Islamic systems (Imamat / Khilafah) based on the Qur'an and Hadith. Actually there is nothing wrong with the group's vision because the khilahfah system is a product of ijtihad of the predecessor ulama and normatively does not contradict Islamic law. It's just that the effort to coerce to change the law which has become a collective agreement in a country can legally be said as an act of rebellion and the act is not constitutionally justified. To address this phenomenon, the writer wants to give an understanding that implicitly our country (Indonesia) has actually implemented laws that are in accordance with Islamic sharia because the Pancasila ideology which is used as a national and state paradigm is fully in line with the sharia maqashid as contained in the Koran 'and Hadith which fully aims to educate people to become human beings who are deified, humane, united, just manifested into a common life (social life). Keywords: Islamic maqashid, Epistemology, Pancasila Education. Abstrak Sebagai masyarakat Indonesia, tentu kita tidak asing dengan adanya kelompok beragama dengan ideologi transnasional yang berorientasi mengganti sistem pemerintahan dengan sistem Islam (Imamah/Khilafah) yang berlandaskan al-Qur’an dan Hadis. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan visi kelompok tersebut karena sistem khilahfah merupakan produk ijtihad para ulama pendahulu dan secara normatif tidak bertentangan dengan syariat Islam. Hanya saja, usaha melakukan paksaan untuk merubah undang-undang yang sudah menjadi kesepakatan bersama dalam suatu negara secara yuridis bisa dikatakan sebagai tindakan pemberontakan dan tindakan tersebut tidak dibenarkan secara konstitusional. Untuk mensikapi fenomena tersebut penulis ingin memberikan pemahaman bahwa secara implisit negara kita (Indonesia) sebenarnya sudah menerapkan undang-undang yang sesuai dengan syari’at Islam karena ideologi pancasila yang dijadikan sebagai paradigma berbangsa dan bernegara sepenuhnya sejalan dengan maqashid syariah yang tertuang dalam al-Qur’an dan Hadis yang spenuhnya bertujuan untuk mendidik masyarakat menjadi manusia yang berketuhanan, berperikemanusiaan, bersatu, adil yang termanifestasi ke dalam kehidupan bersama (kehidupan sosial). Kata Kunci : maqashid syariah, Epistemologi, Pendidikan Pancasila.
Jurnal PROGRESS: Wahana Kreativitas dan Intelektualitas, Volume 8, pp 62-75; doi:10.31942/pgrs.v8i1.3445

Abstract:
The development of the era from the traditional, now entering the modern era. That is, many people are now spoiled with technological. In the past, people traveled to one city with another city requires a lot of time. Furthermore, people see the world still using the Globe and the information needed takes a long time. Conditions are inversely proportional after the public knows the technology. Society is facilitated and spoiled with technology. When lazy to move all what we need today can be directly delivered today. In this era, service bureaus have begun to stand up everywhere. Now there is no need to worry about the daily needs that are needed. Likewise in the world of education. Therefore, the development of the times certainly also requires a technology. Keywords: Technology, Learning, Islamic Religious Education. Abstrak Perkembangan zaman dimulai dari tradisional, kemudian sekarang memasuki era modern. Artinya, banyak masyarakat sekarang yang dimanjakan dengan kecanggihan teknologi. Dahulu, orang bepergian ke kota satu dengan kota yang lain membutuhkan banyak waktu. Selanjutnya, masyarakat melihat dunia masih menggunakan Globe dan informasi yang dibutuhkan diperlukan waktu yang lama. Kondisi berbanding tebalik setelah masyarakat mengetahui teknologi. Masyarakat dipermudah dan dimanjakan dengan teknologi. Ketika malas bergerak semua apa yang kita butuhkan hari ini bisa langsung diantar hari ini juga. Di era ini, biro jasa sudah mulai berdiri dimana-mana. Sekarang tidak perlu khawatir tentang kebutuhan sehari-hari yang dibutuhkan. Begitu juga dalam dunia pendidikan. Karenanya, perkembangan zaman tentunya juga membutuhkan sebuah teknologi. Kata Kunci: Teknologi, Pembelajaran, Pendidikan Agama Islam
Anas Rohman
Jurnal PROGRESS: Wahana Kreativitas dan Intelektualitas, Volume 8, pp 122-145; doi:10.31942/pgrs.v8i1.3448

Abstract:
Fazlur Rahman is one of the new innovators in Islam that had a great influence in the 20th century, especially in Pakistan, Malaysia, Indonesia, and other countries (Islamic countries), and Chicago America (western countries) who had various thoughts related to problem. He succeeded in thinking critically both Islam and Western traditions. He succeeded in developing methods that could provide alternative solutions to contemporary Muslims. Rahman's thoughts contributed a lot to the development of Islamic studies, especially in the study of the Qur'an-Hadith. the historical-sociological approach above will create a new, dynamic, and creative discourse so that the moral ideal of the Prophet's sunnah. can be realized progressively in a variety of social phenomena and problems, so that the hadith is no longer static but becomes a living sunnah. Keywords: Thought, Fazlur Rahman, Qur'anic Hadith. Abstrak Fazlur Rahman adalah salah satu inovator baru dalam Islam yang memiliki pengaruh besar di abad 20, terutama di Pakistan, Malaysia, Indonesia, dan negara-negara lain (negara-negara Islam), dan Chicago America (negara barat) yang memiliki berbagai pemikiran terkait dengan masalah. Ia sukses berpikir kritis baik Islam maupun tradisi Barat. Ia berhasil mengembangkan metode yang bisa memberikan solusi alternatif terhadap Muslim kontemporer. Pemikiran Rahman banyak memberikan sumbangsih terhadap perkembangan kajian Islam, khususnya dalam kajian Qur’an-Hadis. pendekatan historis-sosiologis di atas akan menciptakan wacana yang baru, dinamis, dan kreatif sehingga ideal moral dari sunnah Nabi Saw. dapat direalisasikan secara progresif di dalam aneka ragam fenomena dan permasalahan sosial, sehingga hadis tidak lagi statis melainkan menjadi sunnah yang hidup. Kata kunci : Pemikiran, Fazlur Rahman, Qur’an Hadis
Laila Ngindana Zulfa
Jurnal PROGRESS: Wahana Kreativitas dan Intelektualitas, Volume 8, pp 101-121; doi:10.31942/pgrs.v8i1.3447

Abstract:
Abstrac Human rights are basic rights that are inherent and universal in human beings. In Indonesia, human rights have been protected by the laws that originate and lead to “Pancasila” . No one can interfere with human rights or eliminate its. In this contemporary era, many practitioners and education thinkers, who analyze about Ta'zir (A punishment) applied to Islamic boarding schools, especially in Islamic boarding schools with typology of salafy. Some people argue that Ta'zir is a form of human rights violations, others say there are not. In this discussion the author tries to provide an analysis related to Ta'zir which is a punishment given to students who violate the rules in the Islamic Boarding School, Is it included in the category of human rights violations that must be eliminated. Or is it just a learning method that aims to provide a deterrent effect on students who break the rules. Keywords: Human Rights, Islamic Boarding School, Ta'zir. Abstrak HAM merupakan hak dasar yang kodratnya melekat pada diri manusia dan bersifat universal serta langgeng. HAM di Indonesia dilindungi oleh UU yang bersumber serta bermuara pada Pancasila. Tidak ada satupun manusia yang boleh mengganggu ataupun menghilangkan hak asasi manusia (HAM). Banyak Praktisi dan pemikir pendidikan dizaman kontemporer ini yang menganalisa tentang Ta’zir (Sebuah hukuman) yang di terapkan pada pondok pesantren terutama pada pesantren yang ber-tipologi salafy. Sebagian berpendapat bahwa ta’zir merupakan salah satu bentuk pelanggaran HAM, sebagian lain mengatakan tidak terdapat pelanggaran HAM. Pada pembahasan ini penulis mencoba untuk memberikan analisa terkait Ta’zir yaitu sebuah hukuman yang diberikan kepada santri yang melanggar aturan dalam Pesantren, apakah termasuk dalam kategori pelanggaran HAM sehingga harus dihapuskan. Ataukah memang hanya sebuah metode pembelajaran yang bertujuan untuk memberikan efek jera pada santri pelanggar aturan. Kata Kunci: HAM, Pesantren, Ta’zir.
Jurnal PROGRESS: Wahana Kreativitas dan Intelektualitas, Volume 7; doi:10.31942/pgrs.v7i2.3116

Abstract:
Not only does modernization offer technological sophistication and convenience for all human activities, but this phenomenon also presents a phase called the post-truth era. This phenomenon occurs when the loss of the existence of scientists or intelligentsia by the anti-intellectualism movement which is called the death of expertise. The term death of expertise which was popularized by Tom Nichols eventually became so popular globally including in Indonesia. At least the post-truth era, the death of expertise and the industrial revolution 4.0 became a very popular issue in Indonesia, so that it indirectly showed stuttering and acute inferiority in the scientific tradition in Indonesia. Because in the 90s the Indonesian Muslim scholar Kuntowijoyo had dismissed the phenomena and problems of modern society through his collection of essays such as Muslims without Mosques and Political Identity of Muslims. Therefore this paper uses a descriptive qualitative approach aimed at describing the urgency of the re-actualization and revitalization of prophetic social science in the perspective of Kuntowijoyo's thoughts. In addition, the Prophetic Social Sciences (ISP) is also placed in the Indonesian context so that Indonesia is able to have an authentic scientific tradition, and be able to deliver the Indonesian people to face all the challenges of changing times without losing the humanity and rationality. Furthermore, this paper also presents the problem of the development of science in Indonesia to highlight the urgency of the reactualization of prophetic Social Sciences in the scientific tradition in Indonesia. Keywords: Reactualization, Prophetic Social Sciences and Kuntowijyo. Abstrak Modernisasi tidak hanya menawarkan kecanggihan teknologi serta kemudahan bagi segala aktivitas manusia, tetapi fenomena ini turut menghadirkan sebuah fase yang disebut sebagai era pasca kebenaran. Fenomena ini terjadi ketika hilangnya eksistensi ilmuwan atau kaum intelegensia oleh gerakan anti intelektualisme yang disebut sebagai matinya kepakaran. Istilah matinya kepakaran yang dipopulerkan oleh Tom Nichols tersebut akhirnya menjadi begitu populer secara global termasuk di Indonesia. Setidaknya era pasca kebenaran, matinya kepakaran dan revolusi industri 4.0 menjadi isu yang sangat digemari di Indonesia, sehingga secara tidak langsung memperlihatkan kegagapan dan inferioritas akut dalam tradisi keilmuwan di Indonesia. Sebab di era 90-an cendikiawan Muslim Indonesia Kuntowijoyo telah menganggas fenomena dan problematika masyarakat modern melalui kumpulan esai-esainya seperti Muslim tanpa Masjid dan Indentitas Politik Umat Islam. Oleh karenanya tulisan ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif bertujuan memaparkan mengenai urgensi dari reaktualisasi dan revitalisasi ilmu sosial profetik dalam persfektif pemikiran Kuntowijoyo. Selain itu, Ilmu Sosial Profetik (ISP) ini turut diletakkan dalam konteks keindonesia sehingga Indonesia mampu memiliki tradisi...
Kafa Bihi Munib
Jurnal PROGRESS: Wahana Kreativitas dan Intelektualitas, Volume 7; doi:10.31942/pgrs.v7i2.3097

Abstract:
Abstrak Dalam penelitian ini diajukan tiga hipotesis, yaitu terdapat hubungan antara kecerdasan emosional dengan prestasi belajar Fiqih, terdapat hubungan antara kecerdasan spiritual dengan prestasi belajar Fiqih, dan terdapat hubungan antara kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual siswa secara bersamasama (simultan) dengan prestasi belajar Fiqih. Sebanyak 60 siswa (30%), dipilih dari 200 siswa dengan sampel random menjadi sampel penelitian ini. Untuk membantu proses pengumpulan data telah digunakan alat pengumpul data berupa tes, angket, dan dokumentasi. Selanjutnya, data terkumpul dianalisis dengan menggunakan teknik analisis regresi, baik regresi sederhana maupun ganda.Hasil analisis menunjukkan bahwa: (1) Ada hubungan positif yang signifikan antara kecerdasan emosional dan prestasi belajar Fiqih siswa. (2) Ada hubungan positif yang signifikan antara kecerdasan spiritual dan prestasi belajar Fiqih siswa. (3) Ada hubungan positif yang signifikan antara motivasi belajar dan kecerdasan intelektual secara bersama-sama terhadap prestasi belajar Fiqih siswa.Dengan kata lain, kedua variabel (kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual siswa) saling berinteraksi dan mempengaruhi pada variabel prestasi belajar Fiqih siswa. Oleh karena itu, kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual siswa, sangat diperlukan perhatian yang serius, sebagai upaya peningkatan prestasi belajar Fiqih siswa MTs Al-Islam Gunungpati Kata kunci: Kecerdasan Emosional, Spiritual, Prestasi Belajar, dan mata pelajaran fiqih
Nur Rois
Jurnal PROGRESS: Wahana Kreativitas dan Intelektualitas, Volume 7; doi:10.31942/pgrs.v7i2.3096

Abstract:
Abstrak Madzhab psikologi modern yang positivistik diintegrasikan dengan pendekatan al-Qur’an yang hanya digunakan secara esoteric dan memiliki fungsi justifikatif, justru menimbulkan anomali baru. Oleh karena itu, psikologi Islam datang untung memberikan konsep baru berkaitan dengan tingkah laku dan fenomena yang terjadi pada manusia. Tulisan ini akan mengkaji konsep motivasi, perilaku, dan puncak pengalaman spiritual manusia yang ditinjau dari psokologi Islam. Psikologi Islam memberikan konsep bahwa motivasi dipengaruhi oleh Fitrah Ruhaniyah akan menentukan sikap mental dan perilaku seseorang. Perilaku manusia yang berbasis pada Fithrah Ruhaniyah yaitu suatu sikap menerima nilai-nilai kebenaran yang tidak hanya melalui akal pikiran, dan dicapai dengan jalan Tazkiyah al-Nafs akan melahirkan perilaku luhur, manusiawi, damai. Spiritual dalam Islam merupakan kualitas ruhani yang khas pada diri mausia seperti ma’rifah, cinta, hasrat mencari kepada Allah, ilmu, ihsan, ikhlas, cinta, taubah, tawakkal, dan jujur. Kata Kunci: Motivasi, Perilaku, Pengalaman Spiritual Psikologi Islam
Jurnal PROGRESS: Wahana Kreativitas dan Intelektualitas, Volume 7; doi:10.31942/pgrs.v7i2.3095

Abstract:
Abstrak Metode problem solving merupakan metode yang merangsang berfikir dan menggunakan wawasan tanpa melihat kualitas pendapat yang disampaikan oleh siswa. Seorang guru harus pandai merangsang siswanya untuk mencoba mengeluarkan pendapatnya, sehingga siswa diharapkan lebih aktif, karena tidak hanya mendengarkan penjelasan dari guru, tetapi juga aktif memecahkan masalah yang dibahasnya.Penelitian yang dilakukan adalah penelitian kualitatif dengan analisis data menggunakan proses mencari dan menyusun data secara sistematis yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dokumentasi, dan membuat kesimpulan. Hasil penelitiannya adalah: 1) Implementasi metode problem solving kurikulum 2013 dalam pembelajaran PAI di SMP Negeri 1 Salatiga dan SMP Negeri 7 Salatiga menggunakan pendekatan sainstifik, sedangkan di SMP Negeri 4 Salatiga menggunakan pendekatan student oriented. 2) Faktor pendukungnya implementasi metode problem solving adalah adanya komunikasi yang baik antara guru dengan peserta didik dan didukung sarana pembelajaran yang memadai. 3) Kelebihan implementasi metode problem solving dalam kurikulum 2013 adalah kunci keberhasilan dalam mengimplementasikan kurikulum 2013 pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam adalah kreativitas guru PAI, karena guru merupakan faktor penting yang peserta didik dalam belajar. Kekurangannya terletak pada pelatihan kurikulum 2013 yang diselenggarakan oleh DINAS pendidikan pun masih terbatas. 4) Sistem evaluasi implementasi metode problem solving dalam pembelajaran PAI di SMP Negeri se-Kota Salatiga adalah dilaksanakan selama proses pembelajaran sampai akhir pembelajaran, baik dari segi penilaian kognitif, afektif maupun psikomotorik. Kata Kunci: ProblemSolving, Kurikulum 2013, Pembelajaran Pendidikan Agama Islam
Page of 7
Articles per Page
by
Show export options
  Select all
Back to Top Top