Refine Search

New Search

Results in Journal JPDI (Jurnal Pendidikan Dasar Indonesia): 45

(searched for: journal_id:(1729791))
Page of 1
Articles per Page
by
Show export options
  Select all
Fradia Mayang Intan, Eko Kuntarto, Alirmansyah Alirmansyah
JPDI (Jurnal Pendidikan Dasar Indonesia), Volume 5, pp 6-10; doi:10.26737/jpdi.v5i1.1666

Abstract:
HOTS (Higher Order Thinking Skills) is an instrument that assesses students' hight level thinking skills so that students are not just remembering but are expected to be able to develop ideas. Based on Bloom's Taxonomy, HOTS questions consist of 3 levels, namely analyzing, evaluating and creating. This study aims to describe the ability of students to work on HOTS (Higher Order Thinking Skills) problems in mathematics learning in VA class SD Negeri No. 55 / I Sridadi at the level of analyzing, evaluating, and creating. This research uses a descriptive quantitative research design. The data of this study were obtained using tests of the students' ability to work on HOTS questions in mathematics learning provided to students by using content validity, while data analysis was performed using descriptive statistical analysis. The results showed that the ability of VA grade students of SD Negeri No 55 / I Sridadi in working on HOTS questions in mathematics learning at the level of analyzing questions was obtained on average by 56.35 with quite good categories. In the matter of evaluating level obtained an average of 72.95 with a high category, on the matter of creating level obtained an average of 64.9 with a pretty good category. The conclusion of this research is the ability of VA class students of SD Negeri No 55 / I Sridadi in working on HOTS questions in mathematics learning is in quite good category, meaning that students are able to work on HOTS questions in mathematics learning.
Dina Anika Marhayani, Evinna Cinda Hendriana
JPDI (Jurnal Pendidikan Dasar Indonesia), Volume 5, pp 24-27; doi:10.26737/jpdi.v5i1.1792

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keefektifan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw terhadap: (1) kompetensi keterampilan siswa, (2) kompetensi pengetahuan siswa pada pelajaran IPS di kelas V SDN 2 Singkawang Singkawang. Jenis penelitian ini adalah penelitian quasi eksperimen dengan desain pretest-posttest control group design. Teknik simple random sampling dilakukan untuk menentukan kelas eksperimen dan kelas kontrol. Kelas VA sebagai kelas eksperimen diberi perlakuan dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw, sedangkan kelas VB sebagai kelas kontrol diberi perlakuan dengan menggunakan metode ceramah dan diskusi. Pengumpulan data menggunakan tes dan skala penilaian (rating scale) diskusi dan presentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw efektif terhadap: (1) kompetensi keterampilan siswa, (2) kompetensi pengetahuan siswa pada pelajaran IPS di kelas V SDN 2 Singkawang.
Junita Junita, Krisma Widi Wardani
JPDI (Jurnal Pendidikan Dasar Indonesia), Volume 5; doi:10.26737/jpdi.v5i1.1688

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk menguji keefektifan model pembelajaran STAD dan CIRC terhadap keterampilan kolaborasi siswa kelas V SD Gugus Joko Tingkir Kota Salatiga. Aspek keterampilan kolaborasi yang dilihat dalam penelitian meliputi: kerja sama, tanggung jawab, kompromi, komunikasi, dan fleksibilitas siswa dalam kegiatan pembelajaran. Penelitian ini adalah penelitian eksperimen, jenis Quasi Eksperimental Research atau eksperimen semu dan tehnik yang digunakan untuk menentukan sampel adalah tehnik sampling purposive. Sample dalam penelitian ini SD Negeri Tingkir Lor 01 dan SD Negeri Tingkir Tengah 02. Subjek penelitian kelompok eksperimen 1 adalah 32 siswa kelas V SD Negeri Tingkir Lor 01 mendapat perlakuan model STAD. Sedangkan subjek penelitian kelompok eksperimen 2 yaitu 32 siswa Kelas V SD Negeri Tingkir Tengah 02 mendapat perlakuan model CIRC. Tehnik pengumpulan data penelitian menggunakan rubrik penilaian keterampilan kolaborasi dikembangkan oleh Triiling, selanjutnya data dianalisis dengan tehnik analisis statistik deskriptif. Berdasarkan uji prasyarat yang telah dilakukan, data berdistribusi normal sehingga analisis dilakukan dengan statistik parametrik berdasarkan uji independent sample t-test. Hasil penelitian menunjukkan hasil independent sample t-test diperoleh nilai Asymp. Sig.(2-tailed)=0,000 dimana nilai <0,05, yang artinya terdapat perbedaan keefektifan yang signifikan antara model STAD dan CIRC, maka H0 ditolak dan Ha diterima. Adanya Perbedaan signifikan didukung dengan rerata kedua sampel penelitian, rerata kelompok eksperimen 1 yaitu 51,22 dan kelompok eksperimen 2 yaitu 54,31. Aspek yang memiliki kecenderungan nilai tinggi pada kelompok eksperimen 2 menyebar pada seluruh aspek baik kerja sama, tanggung jawab, kompromi maupun komunikasi. Artinya dengan menerapkan model CIRC lebih efektif dibanding STAD dalam meningkatkan keterampilan kolaborasi siswa.
Sugiarti Sugiarti
JPDI (Jurnal Pendidikan Dasar Indonesia), Volume 5, pp 18-23; doi:10.26737/jpdi.v5i1.1786

Abstract:
Penelitian kegiatan supervisi ini dilakukan oleh Kepala Sekolah agar dapat memperbaiki atau meningkatkan kualitas dari pembelajaran SERU yang telah diterapkan oleh guru-guru SDN 84 Singkawang. Prosedur penelitian dilaksanakan dengan menggunakan siklus-siklus tindakan (daur ulang) yang meliputi perencanaan (Planning), tindakan (Action), mengobservasi (Observation), dan melakukan refleksi (Reflection). Penelitian Tindakan Sekolah (PTS) ini dilakukan di SD Negeri 84 Singkawang, Kecamatan Singkawang Utara Kota Singkawang pada semester II Tahun pelajaran 2016-2017. Hasil supervisi keterampilan guru dalam penerapan pendekatan pembelajaran SERUsiklus 1 masih kurang dan mengalami peningkatan pada siklus 2. Data hasil penilaian RPP juga mengalami peningkatan. Dilihat dari dari segi siswa terlihat adanya peningkatan parrtisipasi siswa dalam kegiatan belajar mengajar. Data hasil observasi menunjukkan bahwa aktivitas siswa dalam kelas 1mencapai rata-rata skor 5,79 (cukup), dalam kelas 2 mencapai (cukup). Kelas 3 mencapai skor rata-rata 7,12 (baik), kelas 4 mencapai 7,30 (baik), dan kelas 5 mencapai 7,44 (Baik). Hal tersebut menunjukkan bahwa aktivitas siswa telah mengalami peningkatan namun belum mencapai katagori baik sehingga perlu ditingkatkan.
Indra Kartika Sari, Mawardi Mawardi
JPDI (Jurnal Pendidikan Dasar Indonesia), Volume 5, pp 1-5; doi:10.26737/jpdi.v5i1.1645

Abstract:
21st Century learning ideally utilizes rapidly developing technology. The writing of this article aims to develop Android-based thematic learning media to improve learning outcomes for 5th grade students. The type of research used is Research and Development (R&D). From the results of the preliminary study the learning media used by the teacher are only in the form of pictures and visual aids which each student cannot try on their own because, the limited number of learning media. Based on the results of a preliminary study the author intends to develop MEPTISAN products to improve student learning outcomes for 5th grade students. The product draft was tested by material experts, learning design experts and learning media experts. The results of the material expert validation obtained a score of 90.9%. The results of the learning design expert validation obtained a score of 90%. The results of the learning media expert validation obtained a score of 83.1%. The score is in the category very high and MEPTISAN products are suitable to use for learning.
Inna Dalilah
JPDI (Jurnal Pendidikan Dasar Indonesia), Volume 4, pp 59-63; doi:10.26737/jpdi.v4i2.1690

Abstract:
SDN 65 Singkawang yang berada pada ranking terbawah hasil UASBN disebabkan karena guru mengajar masih menggunakan metode pembelajaran konvensional. Untuk mengkondisikan proses belajar mengajar yang bermutu, perlu peningkatan kompetensi guru dalam menggunakan media pembelajaran berbasis IT melalui bimbingan berkelanjutan, Maka diadakanlah IHT dalam bentuk Workshop SAGUSAMED dan Inovasi Pembelajaran. Setelah dilakukan supervisi didapatlah kesimpulan bahwa ada perubahan cara mengajar guru, Sebagian guru sudah mengajar menggunakan media pembelajaran berbasis IT.Guru juga sudah melakukan inovasi pembelajaran dengan menggunakan yel-yel atau mengubah materi pembelajaran dalam bentuk lagu agar mudah dipahami anak .Dampak dari semua ini adalah siswa berhasil menjadi juara I Lomba Olympiade Siswa Nasional Tingkat Kota dan peningkatan pada ranking sekolah.
Arsyad Djamaluddin Palettei, Wahyu Bagja Sulfemi
JPDI (Jurnal Pendidikan Dasar Indonesia), Volume 4, pp 53-58; doi:10.26737/jpdi.v4i2.1522

Abstract:
Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh peningkatan kompetensi pedagogik guru dan kemampuan penulisan kemampuan menulis karya ilmiah guru terhadap Kegiatan Kelompok Kerja Guru (KKG). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei dengan teknik analisis jalur (path analysis) untuk memperoleh fakta-fakta dari gejala-gejala yang ada dan mencari keterangan secara factual dengan menggunakan pendekatan kuantitatif sebagai tumpuan analisis teknik regresi untuk menguji hipotesis yang menyatakan ada atau tidak pengaruh variabel bebas (X1) dan (X2) dengan variabel terikat (Y). Populasi dalam penelitian ini adalah guru Sekolah Dasar (SD) anggota KKG Gugus 1 dan 2 Kecamatan Ciampea sebanyak 95 orang dengan jumlah Sampel penelitian ini berjumlah 25 guru. Hasil dari penelitian, pertama, terdapat pengaruh positif kegiatan KKG (Y) terhadap pengingkatan kompetensi pedagogik guru (X1), dengan indeks korelasi r y1 = 3,27 dengan hasil uji koefisien korelasi yang signifikan pada α = 5 % serta diperjelas bahwa 80 % variasi Y dipengaruhi oleh X1. Kedua, terdapat pengaruh kegiatan KKG (Y) dengan kemampuan menulis karya ilmiah (X2), dengan koefisien korelasi r y2 = 3,32 dengan hasil uji koefisien korelasi yang signifikan pada α = 5 % serta diperjelas bahwa 80 % variasi Y dipengaruhi oleh X2. Ketiga terdapat pengaruh positif kegiatan KKG (Y) dengan pengingkatan kompetensi pedagogik guru (X1) dan kemampuan menulis karya ilmiah (X2), dengan koefisien korelasi ganda Ry.12 = 4,76 dengan hasil uji koefisien korelasi yang signifikan pada α = 5 % serta diperjelas bahwa 80 % variasi Y dipengaruhi oleh X1 dan X2. Melalui analisa pengujian diperoleh bahwa koefisen korelasi dan koefisien regresi tersebut sangat signifikan. Hal tersebut membuktikan bahwa terdapat hubungan yang positif dan sangat signifikan antara peningkatan kompetensi pedagogik dan kemampuan menulis karya ilmiah dengan kegiatan KKG.
Erdi Guna Utama
JPDI (Jurnal Pendidikan Dasar Indonesia), Volume 4, pp 46-52; doi:10.26737/jpdi.v4i2.1364

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki pengaruh model pembelajaran POE (Predict, Observe and Explain) terhadap keterampilan proses sains siswa SD kelas V ditinjau dari keterampilan metakognitif. Penelitian ini tergolong penelitian eksperimen semu dengan rancangan pretest-posstest non equivalent control group design. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh kelas V SD di Gugus 8 Kota Singkawang. Pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan teknik random sampling. Sampel terbagi dalam dua kelompok yaitu kelompok eksperimen dan kelompok control. Kelompok eksperimen adalah kelas yang dibelajarkan dengan model pembelajaran POE dan kelompok kontrol adalah kelas yang dibelajarkan dengan model pembelajaran konvensional. Data dalam penelitian ini dikumpulkan dengan menggunakan tes untuk keterampilan proses sains dan menggunakan kuesioner untuk keterampilan metakognitif. Data dianalisis dengan menggunakan analisis varians dua jalur dan uji tuckey. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) terdapat perbedaan yang signifikan keterampilan proses sains antara siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model pembelajaran POE dan siswa yang mengikuti pembelajaran secara konvensional (FA=35,09;p<0,05);2) terdapat pengaruh interaksi yang signifikan antara model pembelajaran POE dan keterampilan metakognitif terhadap keterampilan proses sains siswa (FAB=7,759;p<0,05);3) pada siswa yang memiliki keterampilan metakognitif tinggi, terdapat perbedaan signifikan keterampilan proses sains antara siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model pembelajaran POE dan siswa yang mengikuti pembelajaran konvensional (Q=8,79;p<0,05);4) pada siswa yang memiliki keterampilan metakognitif rendah, tidak terdapat perbedaan signifikan keterampilan proses sains antara siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model pembelajaran POE dan siswa yang mengikuti pembelajaran konvensional (Q=3,17;p>0,05).
Deni Sutisna, Dyah Indraswati, Muhammad Sobri
JPDI (Jurnal Pendidikan Dasar Indonesia), Volume 4, pp 29-33; doi:10.26737/jpdi.v4i2.1236

Abstract:
Penerapan Pendidikan karakter merupakan sebuah jalan untuk membangun pendidikan yang lebih bermoral. Penulisan artikel ini bertujuan untuk mengkaji dan menganalisis keteladanan guru dalam penerapan pendidikan karakter disekolah. Artikel ini merupakan hasil analisis dengan mengkaji literatur yang memiliki keterkaitan dengan topik pembahasan. Model yang digunakan adalah studi literatur atau lirature riview. Dari hasil penelaahan, hasil yang didapat menunjukkah bahwa penerapan pendidikan karakter disekolah merupakan tanggung jawab semua warga sekolah, tetapi guru memegang peranan penting dalam pencapaian program tersebut sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa keberhasilan pendidikan karakter disekolah bergantung dari sejauh mana guru tersebut bisa menjadi teladan siswa-siswinya sehingga untuk mewujudkan siswa yang berkarakter diperlukan guru yang berkarakter pula.
JPDI (Jurnal Pendidikan Dasar Indonesia), Volume 4, pp 34-45; doi:10.26737/jpdi.v4i2.1220

Abstract:
The research was backgrounded by a decrease in the number of students who enrolled in Unwidha Klaten's PGSD Study Program. The study focused on the profile of students towards the PGSD FKIP Klaten Widya Dharma University lecture activities. Data collection uses an instrument in the form of a questionnaire. Processing data using editing, explanation information, diagrams, and percentage explanations. The research conclusions are explained as follows. The majority of Unwidha Klaten's PGSD students in 2017 have self-explanations such as being born in Klaten before the millennium, having a productive age, having traits, and predominantly female characters. The majority of Unwidha Klaten's PGSD students in 2017 have family information such as having to struggle to get more information about bachelor diplomas, civil servants, private teachers, love their siblings, be an example, and a good example in the family. The majority of Unwidha Klaten's PGSD students in 2017 have health information such as being able to maintain their weight, height, eye health, hearing health, should not be considered arrogant because they do not have recurrence of disease and accident problems. The majority of Unwidha Klaten's PGSD students in 2017 have lecture information such as having the desire to become an elementary school teacher, taking a distance of more than 1 kilometer with up to 1 hour, choosing the subjects they like and the hardest courses, namely PGSD courses.
Fransiska Faberta Kencana Sari, Firosalia Kristin, Indri Anugraheni
JPDI (Jurnal Pendidikan Dasar Indonesia), Volume 4, pp 1-7; doi:10.26737/jpdi.v4i1.929

Abstract:
Penelitian ini bertujuan menguji ada tidaknya perbedaan keefektifan yang signifikan antara model pembelajaran Inquiry dan Discovery Learning bermuatan karakter terhadap keterampilan proses ilmiah siswa kelas V dalam pembelajaran tematik. Jenis penelitian ini adalah penelitian Quasieksperimen dengan desain Nonequivalent Control Group Design. Subjek penelitian ini adalah 22 siswa kelas VA SD N Bringin 01 sebagai kelompok eksperimen (model Inquiry bermuatan karakter), dan 21 siswa kelas VB SD N Bringin 01 sebagai kelompok kontrol (model Discovery Learning bermuatan karakter). Variabel dalam penelitian terdiri atas model Inquiry dan Discovery Learning bermuatan karakter sebagai variabel bebas, dan keterampilan proses ilmiah sebagai variabel terikat. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan instrumen rubrik penilaian serta lembar observasi. Teknik analisis data hasil penelitian ini menggunakan teknik deskriptif dan teknik statistik Mann Whitney. Berdasarkan uji Mann Withney diperoleh nilai Asymp. Sig. (2-tailed) = 0,034 < 0,05, maka H0 ditolak dan Ha diterima, sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan keefektifan yang signifikan antara model pembelajaran Inquiry bermuatan karakter dengan Discovery Learning bermuatan karakter terhadap keterampilan proses ilmiah siswa kelas V dalam pembelajaran tematik. Adanya perbedaan keterampilan proses ilmiah siswa yang signifikan didukung dengan perbedaan rerata kedua sampel penelitian yaitu 86,29 untuk kelompok eksperimen dengan model Inquiry bermuatan karakter dan 82,59 untuk kelompok kontrol dengan model Discovery Learning bermuatan karakter. Maknanya model pembelajaran Inquiry bermuatan karakter lebih efektif dalam memfasilitasi keterampilan proses ilmiah siswa dibandingkan model Discovery Learning bermuatan karakter.
Ratih Dwi Yulianti Rahayu, Mawardi Mawardi, Suhandi Astuti
JPDI (Jurnal Pendidikan Dasar Indonesia), Volume 4, pp 8-13; doi:10.26737/jpdi.v4i1.927

Abstract:
Penelitian ini berangkat dari kondisi keterampilan berpikir kritis siswa kelas 4 SD N Karangduren 02 masih rendah dan berdampak pada hasil belajar yang rendah pula. Berdasarkan latar belakang tersebut tujuan dilakukannya penelitian ini ialah meningkatkan keterampilan bepikir kritis dan hasil belajar melalui Model Pembelajaran Discovery Learning. Jenis penelitian yang digunakan adalah PTK yang dilakukan dalam 2 siklus. Instrumen pengumpulan data diantaranya tes yang berupa soal tes untuk mengukur tingkat ketercapaian hasil belajar dan nontes berupa rubrik penilaian tugas untuk mengukur tingkat berpikir kritis peserta didik. Analisis data pada penelitian ini ialah analisis deskriptif komparatif. Tingkat bepikir kritis dan hasil belajar pada pra-siklus diantaranya berpikir kritis pada kategori sangat tinggi sebesar 7%, kategori tinggi sebesar 41%, dan kategori rendah sebesar 52% sehingga berdampak pada hasil belajar dengan presentase 46% mencapai ketuntasan dan 64% belum mencapai ketuntasan. Setelah dilakukannya penelitian tahap siklus I keterampilan berpikir kritis peserta didik meningkat menjadi 22% berada pada kategori sangat tinggi, 63% pada kategori tinggi, 15% pada kategori rendah. Hasil belajar peserta didik 63% sudah mencapai ketuntasan dan 37% belum mencapai ketuntasan. Pada siklus II meningkat lebih signifikan yaitu 63% dari keseluruhan peserta didik tingkat berpikir kritis berada pada kategori sangat tinggi dan 37% berada pada kategori tinggi, hasil belajar peserta didik juga terlihat 85% peserta didik mencapai ketuntasan dan 15% peserta didik belum mencapai ketuntasan.
Novita Wulandari, Henny Dewi Koeswanti, Sri Giarti
JPDI (Jurnal Pendidikan Dasar Indonesia), Volume 4, pp 19-23; doi:10.26737/jpdi.v4i1.947

Abstract:
Penelitian yang dilakukan bertujuan untuk meningkatkan kemampuan berpikir kreatif siswa melalui penerapan model Project Based Learning. Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Subjek penelitian adalah siswa kelas V SD Negeri Banaran 5 yang berjumlah 12 siswa. Teknik yang digunakan dalam penelitian adalah dengan menggunakan empat tahap, yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat peningkatan, yang diupayakan melalui Project Based Learning antar siklus, yakni sebanyak (50%) dari seluruh siswa mencapai kategori kemampuan berpikir kreatif cukup di pra siklus, meningkat menjadi (58,3%) kategori berpikir kreatif tinggi di siklus I dan pada siklus II meningkat menjadi (91,7%) kategori berpikir kreatif tinggi. Hasil ini menunjukan bahwa adanya peningkatan pada setiap kemampuan berpikir kreatif siswa dengan menerapkan model Project Based Learning, sehingga dapat disimpulkan bahwa model Project Based Learning dapat meningkatkan kemampuan berpikir kreatif.
Jupriyanto Jupriyanto, Nuridin Nuridin
JPDI (Jurnal Pendidikan Dasar Indonesia), Volume 4, pp 14-18; doi:10.26737/jpdi.v4i1.944

Abstract:
Keterampilan mengajar guru penting dalam proses pembelajaran karena salah satu cara guru dapat melakukannya sehingga proses pembelajaran di kelas menumbuhkan kegiatan belajar siswa yang efektif. Aktivitas adalah prinsip penting dalam proses pembelajaran. Kegiatan siswa tidak cukup hanya dengan mendengarkan dan membuat catatan, tetapi lebih kompleks dari itu. Semakin tinggi kegiatan belajar siswa, semakin tinggi peluang keberhasilan pengajaran. Ini berarti keterampilan mengajar guru harus mampu membuat siswa merangsang berbagai kegiatan belajar. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh keterampilan mengajar guru terhadap aktivitas siswa di SD Negeri 04 Loning. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif tepatnya desain penelitian ex - post facto dengan menggunakan korelasi. Sedangkan untuk analisis penyuling data menggunakan bantuan program SPSS 16.00. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari data diperoleh nilai t = 7,408 dengan siginifakansi 0,000 <0,05 maka Ho ditolak artinya ada pengaruh yang signifikan terhadap keterampilan mengajar guru terhadap aktivitas belajar siswa.
Liga Wulan Baktini, Theresia Sri Rahayu, Wasitohadi Wasitohadi
JPDI (Jurnal Pendidikan Dasar Indonesia), Volume 4, pp 24-28; doi:10.26737/jpdi.v4i1.943

Abstract:
Abstrak : Penelitian ini bertujuan untuk menguji perbedaan pengaruh hasil belajar IPA dengan menggunakan model Teams Games Tournament (TGT) dan Student Achievement Division (STAD). Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Quasi Experiment Design. Instrumen pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu teknik tes, observasi dan studi dokuken. Berdasarkan hasil uji-t diperoleh nilai t- test sebesar 0,865 dengan sig. (2- tailed) 0,391 > 0,05, maka H0 diterima karena nilai probabilitas > 0,05 sedangkan Ha ditolak. Ini menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan pengaruh yang signifikan antara model pembelajaran TGT dan STAD pada hasil belajar IPA pada siswa kelas IV di Gugus Ki Hajar Dewantara, Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang.
JPDI (Jurnal Pendidikan Dasar Indonesia), Volume 3, pp 57-62; doi:10.26737/jpdi.v3i2.808

Abstract:
Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui efektivitas model pembelajaran pembelajaran Missouri Matematika Kerja terhadap hasil belajar siswa di Sekolah Dasar. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan bentuk Pre-eksperimental design. Rancangan yang digunakan adalah One-Shot Case Study. Teknik dan alat pengumpul data untuk ketuntasan menggunakan teknik pengukuran dengan alat berupa Post-Test dan Delayed test, pengamatan aktivitas menggunakan teknik observasi langsung dengan alat berupa lembar pengamatan aktivitas guru dan siswa, dan teknik komunikasi tak langsung yang berupa penyebaran angket respon siswa. Berdasarkan hasil pengolahan data diperoleh model pembelajaran Missouri Matematika Kerja efektif digunakan terhadap hasil belajar siswa di Sekolah Dasar dengan kriteria (1) Pembelajaran menggunakan model pembelajaran Missouri Matematika Kerja (MMK) berbasis Kontekstual memberikan rata-rata rekapitulasi untuk persentase sebaran siswa berprilaku aktif sebesar 86,20% (hampir seluruhnya) dan rata-rata rekapitulasi untuk persentase sebaran berprilaku pasif sebesar 13,80% (sebagian Kecil); (2) Ketuntasan hasil belajar siswa berdasarkan hasil Post-Test dan Delayed Test mencapai ketuntasan klasikal. Berdasarkan Post-Test terdapat 27 orang siswa tuntas atau sebesar 87,07% dan berdasarkan delayed test terdapat 25 orang siswa tuntas atau sebesar 80,65% dari 31 orang yang mengikuti tes hasil belajar. Berdasarkan hasil perhitungan menggunakan uji proporsi satu sampel yaitu uji Z, pada Post-Test diperoleh Zhitung > Ztabel yaitu ( 3,03 > 2,33) dan pada Delayed Test diperoleh Zhitung > Ztabel yaitu (2,36 > 2,33); (3) Respon siswa terhadap pembelajaran adalah positif dengan persentase tingkat kesetujuan terhadap pernyataan positif sebesar 85,16% (Sangat Setuju).
JPDI (Jurnal Pendidikan Dasar Indonesia), Volume 3, pp 46-49; doi:10.26737/jpdi.v3i2.780

Abstract:
Penelitian ini bertujuan menganalisis hal-hal yang mempengaruhi hasil belajar peserta didik di Sekolah Dasar baik secara parsial maupun secara simultan. Dalam penelitian ini ditetapkan satu hal yang diduga berpengaruh terhadap hasil belajar peserta didik di Sekolah Dasar adalah Keterampilan Guru dalam Mengelola Kelas. Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan pendekatan explanatory survey. Populasi penelitian ini sebesar 50 siswa dan sampelnya merupakan seluruh peserta didik kelas III dan kelas V Sekolah Dasar Negeri 7 Sungai Kakap Kabupaten Kubu Raya. Pengumpulan data menggunakan teknik kuesioner dan dokumentasi. Untuk mengetahui validitas dan reliabilitas hasil uji coba instrument dilakukan dengan analisis faktor. Hasil analisis deskriptif menggambarkan bahwa data hasil belajar peserta didik terbesar ada pada kategori baik (92%) dan data keterampilan guru dalam mengelola kelas terbesar ada pada kategori baik (85,05%). Hasil analisis regresi ganda menunjukkan adanya pengaruh yang positif dan signifikan keterampilan guru dalam mengelola kelas terhadap hasil belajar peserta didik.
JPDI (Jurnal Pendidikan Dasar Indonesia), Volume 3, pp 50-56; doi:10.26737/jpdi.v3i2.793

Abstract:
Penelitian ini dilatarbelakangi masih rendahnya sikap peduli lingkungan dan prestasi belajar dalam proses pembelajaran IPA di kelas IV SD/MI. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan sikap peduli lingkungan dan prestasi belajar IPA menggunakan model problem based learning (PBL) berbasis literasi pada subtema lingkungan tempat tinggalku. Penelitian ini menggunakan metode kuasi eksperimen dengan desain Non equivalent (Pre-Test and Post-Test) Control Groups Design. Subyek penelitian adalah siswa kelas IV pada MI Muhammadiyah Kramat, Kecamatan Kembaran, sebanyak 19 orang dan SDN 2 Sokaraja Tengah sebanyak 19 orang. Instrumen yang digunakan adalah angket sikap peduli lingkungan dan tes prestasi belajar IPA. Analisis data menggunakan uji Independent Sample t-test. Temuan dalam penelitian ini setiap indikator sikap peduli lingkungan dan prestasi belajar untuk kelompok eksperimen mendapatkan rerata gain lebih besar dari kelompok kontrol. Hasil penelitian menunjukkan (1) terdapat peningkatan sikap peduli lingkungan antara siswa yang memperoleh pembelajaran dengan model PBL berbasis literasi dan non-literasi, rerata gain untuk PBL berbasis literasi 7,73 dan non-literasi adalah 4,06. (2) terdapat peningkatan prestasi belajar IPA antara siswa yang memperoleh pembelajaran dengan model PBL berbasis literasi dan non-literasi, rerata gain untuk PBL berbasis literasi adalah 22,81 dan non-literasi adalah 13,51. Setiap tahapan dalam PBL berbasis literasi dapat memfasilitasi peningkatan sikap peduli lingkungan dan prestasi belajar IPA siswa kelas IV SD/MI
JPDI (Jurnal Pendidikan Dasar Indonesia), Volume 3, pp 36-39; doi:10.26737/jpdi.v3i2.777

Abstract:
Penelitian ini untuk mengetahui bagaimana persepsi guru dalam pembelajaran PPKn pada Kurikulum 2013 di Sekolah Dasar. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis isi. Penelitian ini dilkukan di Kecamatan Situbondo dengan responden sebanyak 41 guru dengan menggunakan teknik purposive sampling. Hasil penelitian: 1) Persepsi guru tentang pembelajaran PPKn hanya memahami tentang dimensi nilai-nilai pancasila dan nilai karakter. Hal ini tidak terlepas dari penerapan kurikulum 2013 yang lebih menekankan tentang pendidikan karakter. Jadi pemahaman guru tentang PPKn adalah pembelajaran tentang nilai-nilai karakter, 2) Belum terlihat pemahaman guru tentang dimensi pengetahuan dan keterampilan kewarganegaraan. Artinya pemahaman guru tentang PPKn hanya sebatas hafalan bukan mengajarkan untuk terampil berpikir kritis, sebagai problem solving dan bagimana mengajarkan untuk menjadi warganegara yang baik.
JPDI (Jurnal Pendidikan Dasar Indonesia), Volume 3, pp 40-45; doi:10.26737/jpdi.v3i2.778

Abstract:
Salah satu masalah yang dialami siswa kelas VI SDNegeri 90 Singkawang dalam pembelajaran matematika adalah kurangnya pemahaman terhadap konsepmatematika, sehingga nilaisiswa selalu rendah. Penyebabnya adalah pembelajaran yang dilakukan guru dalam menyampaikan konsep matematikatidak menyenangkan bagi siswa. Salah satu cara mengatasi masalah tersebut, guru menerapkan pembelajaran matematika dengan media pembelajaranBungnge Tallo’APATI. Dengan media pembelajaranBungnge Tallo’ APATI pada pembelajaran bilangan kubik, siswa dapat termotivasi dalam pembelajaran, sehingga dapat meningkatkan hasil belajarnya. Penelitian dilakukan melalui penelitian tindakan kelas (PTK). Hasil penelitian menunjukkan peningkatan dari prasiklus dengan nilai rata-rata 45 meningkat 64 pada siklus I dan meningkat lagi menjadi 89 pada siklus II, dengan ketuntasan minimal 100%.
Evinna Cinda Hendriana
JPDI (Jurnal Pendidikan Dasar Indonesia), Volume 3, pp 1-8; doi:10.26737/jpdi.v3i1.484

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran Problem Based Learning dan gaya belajar auditorial peserta didik terhadap hasil belajar Ilmu Pengetahuan Sosial Kelas IV di Sekolah Dasar Swasta Bina Anak Muslim Singkawang. Metode penelitian ini adalah eksperimen dengan pendekatan kuantitatif. Variabel bebas (X) dalam penelitian ini adalah model pembelajaran Problem Based Learning (X1) dan gaya belajar auditorial (X2). Variabel terikat (Y) dalam penelitian ini adalah hasil belajar Ilmu Pengetahuan Sosial (Y). Populasi pada penelitian ini adalah seluruh siswa kelas IV Sekolah Dasar Swasta Bina Anak Muslim Singkawang yang berjumlah 34 orang peserta didik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran Problem Based Learning dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial kelas IV di Sekolah Dasar Swasta Bina Anak Muslim Singkawang memberikan pengaruh yang signifikan terhadap meningkatnya hasil belajar peserta didik dengan nilai rata-rata 82,44. Sementara itu, gaya belajar peserta didik juga mempunyai pengaruh terhadap hasil belajar Ilmu Pengetahuan Sosial dengan nilai rata-rata 70,4. Dari hasil penelitian ini diperoleh hasil bahwa pembelajaran dengan penerapan model pembelajaran Problem Based Learning pada peserta didik dengan gaya belajar auditorial memberikan pengaruh yang kecil terhadap tingginya hasil belajar Ilmu Pengetahuan Sosial peserta didik dengan effect size sebesar 0,32 dengan kriteria besarnya effect sizeberada pada katagori sedang.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran Problem Based Learning dan gaya belajar auditorial peserta didik terhadap hasil belajar Ilmu Pengetahuan Sosial Kelas IV di Sekolah Dasar Swasta Bina Anak Muslim Singkawang. Metode penelitian ini adalah eksperimen dengan pendekatan kuantitatif. Variabel bebas (X) dalam penelitian ini adalah model pembelajaran Problem Based Learning (X1) dan gaya belajar auditorial (X2). Variabel terikat (Y) dalam penelitian ini adalah hasil belajar Ilmu Pengetahuan Sosial (Y). Populasi pada penelitian ini adalah seluruh siswa kelas IV Sekolah Dasar Swasta Bina Anak Muslim Singkawang yang berjumlah 34 orang peserta didik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran Problem Based Learning dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial kelas IV di Sekolah Dasar Swasta Bina Anak Muslim Singkawang memberikan pengaruh yang signifikan terhadap meningkatnya hasil belajar peserta didik dengan nilai rata-rata 82,44. Sementara itu, gaya belajar peserta didik juga mempunyai pengaruh terhadap hasil belajar Ilmu Pengetahuan Sosial dengan nilai rata-rata 70,4. Dari hasil penelitian ini diperoleh hasil bahwa pembelajaran dengan penerapan model pembelajaran Problem Based Learning pada peserta didik dengan gaya belajar auditorial memberikan pengaruh yang kecil terhadap tingginya hasil belajar Ilmu Pengetahuan Sosial peserta didik dengan effect size sebesar 0,32 dengan kriteria besarnya effect size berada pada katagori sedang.
Tahmid Sabri
JPDI (Jurnal Pendidikan Dasar Indonesia), Volume 3, pp 26-35; doi:10.26737/jpdi.v3i1.613

Abstract:
Internalizing the value of character in primary school children is fundamental, but the reality in school teachers is still difficult to do because of the inappropriateness of the approach used. The solution needs to be addressed by a scientific approach so that this study is expected to describe the design of learning to its implementation. This research uses the method of description through class action done by students peer teaching fellow colleagues. The findings show that the design of value internalization in scientific learning can be done well by the students from the mapping of themed concepts and sub-themes to the determination of KI, KD, Indicator, objective formulation, activities, and integrated evaluation of attitudes, skills, and knowledge in an integrated manner. Similarly, the well-packed implementation of the initial activity, the core activities to the final activity, it looks the scientific nuances that deliver the internalization of values on the participants of learning that will personally on themselves as individuals who are pious, noble, intelligent, skilled, creative , discipline, independence, responsibility and democratic. This achievement cannot be separated from the various obstacles experienced by students but can be overcome, so as not to reduce the acquisition of expected learning outcomes. The results of this study are expected to be used as a basic capital for the development of thematic learning either for the needs of students who are teaching in elementary school or for the development of integrated therapeutic learning in elementary school.
Nelly Wedyawati, Yasinta Lisa, Erma Ester Magdovia
JPDI (Jurnal Pendidikan Dasar Indonesia), Volume 3, pp 9-13; doi:10.26737/jpdi.v3i1.485

Abstract:
Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui efektivitas model pembelajaran IPA mitigasi bencana terhadap hasil belajar siswa. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan metode eksperimen. Bentuk penelitian ini adalah bentuk quasi eksperimen design dengan bentuk desain nonequivalent control group design. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas IV SD Negeri 09 Sintang dengan sampel penelitian 24 siswa di kelas IV A sebagai kelas eksperimen dan 25 siswa di kelas IV B sebagai kelas kontrol. Teknik dan alat pengumpulan data menggunakan observasi langsung, pengukuran, komunikasi tidak langsung dan dokumentasi. Perhitungan efektivitas menggunakan rumus effect size. Hasil perhitungan menunjukan bahwa: (1) Hasil pretest kelas eksperimen sebesar 36,75 sedangkan hasil posttest sebesar 80,75 dengan peningkatan sebesar 0,69 sedangkan pada kelas kontrol hasil pretest sebesar 38,4 dan hasil posttest sebesar 70,6 dengan peningkatan sebesar 0,52 (2) Hasil pengujian hipotesis pretest kelas eksperimen dan kelas kontrol diperoleh -0,495 2,02835 Ho diterima dan Ha ditolak. Hasil pengujian pada posttest kelas eksperimen dan kelas kontrol diperoleh 3,94 2,02835 Ho ditolak dan Ha diterima. (3) Hasil perhitungan effect size sebesar 1,66 dengan kategori tinggi. Berdasarkan simpulan hasil penelitian menunjukan model pembelajaran IPA Mitigasi Bencana pada siswa efektif dan meningkatkan hasil belajar.
Putu Eka Suarmika, Erdi Guna Utama
JPDI (Jurnal Pendidikan Dasar Indonesia), Volume 3, pp 14-17; doi:10.26737/jpdi.v3i1.524

Abstract:
Balinese culture places women as subordinate because there is a misconception of the concept of purusa and pradana. Indeed purusa and pradana exist in every man including also in women. Purusa is the soul and pradana is the body.Basically, gender issues are not just about the problems of male and female relationships, but also with the issue of education. The purpose of this study was to determine the effect of gender differences (purusa and pradana) on the metacognitive skills of grade 5 primary school students. The survey design used was cross sectional survey design, the researchers collected data at a single point of time. The data collected were metacognitive skill data of grade 5 primary school students. Based on the results of empirical analysis, there is no significant difference between men and women on metacognitive skills with sig 0.672> 0.05. Metacognitive, especially skill is not something to be gained but needs to be trained in learning both in school, family and society. This means that to form students who have high metacognitive skills need cooperation between the school as a formal executive education with school committees (parents of students) by utilizing various sources that exist in the student environment are located.
Uray Zuraida
JPDI (Jurnal Pendidikan Dasar Indonesia), Volume 3, pp 18-25; doi:10.26737/jpdi.v3i1.533

Abstract:
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan peningkatan kreativitas peserta didik pada pembelajaran tematik di kelas I SD Negeri 24 Sungai Pinyuh. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian deskriptif dengan bentuk penelitiannya adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Berdasarkan perhitungan persentase rata-rata 3 kreativitas peserta didik berupa menafsirkan gambar/cerita, senang melibatkan diri dalam tugas-tugas dan bekerja lebih cepat diperoleh sebesar 54,2% pada siklus I dan 68,3% pada siklus II. Hasil ini memperlihatkan bahwa kreativitas peserta didik dari siklus I ke siklus II mengalami peningkatan sebesar 14,2%. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pembelajaran tematik dapat meningkatkan kreativitas peserta didik kelas I SDN 24 Sungai Pinyuh.
Ainoer Roffiq, Ikhwanul Qiram,
JPDI (Jurnal Pendidikan Dasar Indonesia), Volume 2, pp 35-40; doi:10.26737/jpdi.v2i2.330

Abstract:
Suasana lingkungan belajar dalam kelas sangat penting dan berpengaruh terhadap hasil belajar siswa. Suasana lingkungan belajar ini diwujudkan dalam bentuk pengkondisian ruang kelas pembelajaran. Pengkondisian ini menyangkut kondisi fisik bangunan dan juga kenyamanan tempat duduk siswa. Kecukupan cahaya atau penerangan juga diperlukan. Selain itu, hal ini juga dapat dilakukan dengan memberikan kenyamanan tambahan yang salah satunya dapat digunakan yaitu memberikan musik. Hasil-hasil penelitian terdahulu menyatakan bahwa musik bermanfaat bagi ibu hamil dan berpengaruh terhadap janin yang dikandung. Musik dapat mempengaruhi detak jantung pendengarnya. Musik juga dapat menenangkan pikiran seseorang dan menjadi alat bantu bagi pengembangan kecerdasan manusia. Salah satu jenis musik yang banyak dipakai dalam pengkondisian suasana belajar atau suasana kerja adalah jenis musik klasik. Hasil-hasil penelitian tindakan kelas menyatakan bahwa musik berpengaruh terhadap proses pembelajaran siswa dalam kelas.
Putu Eka Suarmika, Erdi Guna Utama
JPDI (Jurnal Pendidikan Dasar Indonesia), Volume 2, pp 18-24; doi:10.26737/jpdi.v2i2.327

Abstract:
Dalam etnopedagogi, unsur utama adalah kearifan lokal masyarakat yang diintegrasikan ke dalam pendididikan. Kearifan lokal atau local wisdom dapat dipahami sebagai suatu pemahaman kolektif, pengetahuan, dan kebijaksanaan yang mempengaruhi suatu keputusan penyelesaian atau penanggulangan suatu masalah kehidupan. Pendidikan mitigasi bencana berbasis kearifan lokal dapat dilaksanakan pada Kurikulum 2013 dengan (1) mengidentifikasi kearifan lokal dalam mitigasi bencana dan (2) mengintegrasikan dalam pembelajaran. Sejak usia dini anak didekatkan dengan bencana dan menjaga serta memperlakukan lingkungan dengan baik, maka akan membentuk anak yang tangguh dalam menghadapi bencana dan mencintai lingkungan untuk kehidupan yang berkelanjutan.
Heldie Bramantha
JPDI (Jurnal Pendidikan Dasar Indonesia), Volume 2, pp 25-27; doi:10.26737/jpdi.v2i2.326

Abstract:
Keberadaan Pendidikan Jasmani telah diakui oleh pemerintah dalam Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 42 khususnya isi kurikulum pendidikan dasar dan menengah yang menetapkan pelajaran Pendidikan Jasmani sebagai mata pelajaran yang wajib diberikan di sekolah mulai tingkat SD sampai dengan SLTA. Maka guru Pendidikan jasmani harus mampu melakukan inovasi-inovasi yang membuat pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif dan menyenangkan agar siswa mudah untuk melakukan gerakan-gerakan yang anggap sulit. Pendekatan kontekstual ini diterapkan mengingat bahwa sejauh ini pendidikan masih didominasi oleh pandangan bahwa pengetahuan sebagai perangkat Uji coba produk ini digunakan untuk mengumpulkan data sebagai dasar untuk menetapkan tingkat kelayakan dari produk yang telah dihasilkan.dalam produk bagian ini hal yang harus diperhatikan adalah: (1) Desain uji coba, (2) subjek uji coba, (3) instrument pengumpulan data, (4) teknik analisis data. Berdasarkan analisis terhadap kebutuhan bahan ajar Penjaskes pokok bahasan teknik dasar renang gaya bebas dengan pendekatan kontekstual yang ditulis lengkap dan mudah dipahami. Berdasarkan dari hasil angket kebutuhan siswa dan guru, bahan aja ini akan berisi 3 bab, bab I: sejarah, bab II: hakekat renang, bab III:gerakan teknik dasar renang gaya bebas. Bahan ajar ini dikemas dengan dikemas dengan ukuran A4 dengan jumlah halaman 30 dan ukuran huruf 14. Nilai rata-rata yang diberian oleh guru terhadap prototype bahan ajar ini yaitu 86,25 dengan kategorisangat baik dan dari dosen ahli sebesar 74,25 dengan kategori baik. Setelah melakukan perbaikan, maka bahan ajar ini berisi 3 bab, bab I: mengenal renang, bab II: Gerakan teknik dasar renang, bab III:gerakan teknik dasar renang gaya bebas. Mengacu pada hasil penelitian tersebut, peneliti menyarankan agar guru membantu siswa dalam penggunaan bahan ajar ini agar dapat belajar Penjaskes pokok bahasan teknik dasar renang gaya bebas dengan baik. Selain itu, para peneliti lain disarankan agar melakukan pengembangan lebih lanjut terhadap bahan ajar Penjaskes pokok bahasan teknik dasar renang gaya bebas dengan pendekatan kontekstual untuk melengkapi kekurangan pada bahan ajar tersebut dan untuk menguji efektivitas penggunaan bahan ajar Penjaskes pokok bahasan teknik dasar renang gaya bebas dengan pendekatan kontekstual.
Siti Khorriyatul Khotimah
JPDI (Jurnal Pendidikan Dasar Indonesia), Volume 2, pp 28-34; doi:10.26737/jpdi.v2i2.329

Abstract:
The aims of this research are to find out: (1) the implementation of classrooom developmental bibliotherapy (CDB) in Bahasa Indonesia learning process to improve student’s academic honesty, and (2) the result of the implementation of CDB in Bahasa Indonesia learning to improve student’s academic honesty. This is a classroom action research. The subjects are 28 students from 5th grade of MI (Madrasah Ibtidaiyah) Cahaya. This research has 3 cycles with 3 to 4 sessions in every cycle. In every session, the learning process are integrated CDB’s stage into Bahasa Indonesia learning process in competencies: reading, writing, and speaking. The qualitative and quantitative data are collected with several technics: observation, interview, students self report and students journals analizes. The process of data analysis are: data reduction, data display, and an overview of conclusions / verification. The data analizes is explained as findings and reflections in every cycle that will be follow up to the next cycle or stop the action. The result are: (1) the implemention of CDB in Bahasa Indonesia learning are success especially in playing drama, and (2) the improvement of student’s academic honesty is known from by the number of honest student increase to 96%, and the students show some behavior to maintain their academic honesty.
Heldie Bramantha
JPDI (Jurnal Pendidikan Dasar Indonesia), Volume 2; doi:10.26737/jpdi.v2i2.325

Abstract:
Keberadaan Pendidikan Jasmani telah diakui oleh pemerintah dalam Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 42 khususnya isi kurikulum pendidikan dasar dan menengah yang menetapkan pelajaran Pendidikan Jasmani sebagai mata pelajaran yang wajib diberikan di sekolah mulai tingkat SD sampai dengan SLTA. Maka guru Pendidikan jasmani harus mampu melakukan inovasi-inovasi yang membuat pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif dan menyenangkan agar siswa mudah untuk melakukan gerakan-gerakan yang anggap sulit. Pendekatan kontekstual ini diterapkan mengingat bahwa sejauh ini pendidikan masih didominasi oleh pandangan bahwa pengetahuan sebagai perangkat Uji coba produk ini digunakan untuk mengumpulkan data sebagai dasar untuk menetapkan tingkat kelayakan dari produk yang telah dihasilkan.dalam produk bagian ini hal yang harus diperhatikan adalah: (1) Desain uji coba, (2) subjek uji coba, (3) instrument pengumpulan data, (4) teknik analisis data. Berdasarkan analisis terhadap kebutuhan bahan ajar Penjaskes pokok bahasan teknik dasar renang gaya bebas dengan pendekatan kontekstual yang ditulis lengkap dan mudah dipahami. Berdasarkan dari hasil angket kebutuhan siswa dan guru, bahan aja ini akan berisi 3 bab, bab I: sejarah, bab II: hakekat renang, bab III:gerakan teknik dasar renang gaya bebas. Bahan ajar ini dikemas dengan dikemas dengan ukuran A4 dengan jumlah halaman 30 dan ukuran huruf 14. Nilai rata-rata yang diberian oleh guru terhadap prototype bahan ajar ini yaitu 86,25 dengan kategorisangat baik dan dari dosen ahli sebesar 74,25 dengan kategori baik. Setelah melakukan perbaikan, maka bahan ajar ini berisi 3 bab, bab I: mengenal renang, bab II: Gerakan teknik dasar renang, bab III:gerakan teknik dasar renang gaya bebas. Mengacu pada hasil penelitian tersebut, peneliti menyarankan agar guru membantu siswa dalam penggunaan bahan ajar ini agar dapat belajar Penjaskes pokok bahasan teknik dasar renang gaya bebas dengan baik. Selain itu, para peneliti lain disarankan agar melakukan pengembangan lebih lanjut terhadap bahan ajar Penjaskes pokok bahasan teknik dasar renang gaya bebas dengan pendekatan kontekstual untuk melengkapi kekurangan pada bahan ajar tersebut dan untuk menguji efektivitas penggunaan bahan ajar Penjaskes pokok bahasan teknik dasar renang gaya bebas dengan pendekatan kontekstual.
, Muhammad Rahmattullah
JPDI (Jurnal Pendidikan Dasar Indonesia), Volume 2; doi:10.26737/jpdi.v2i1.266

Abstract:
Teacher competence is central factor that influencing teacher performance to create human resources with certain quality. Teacher competence influenced by many factors, such as educational background and teaching experience for his specific subject. This study aims to: 1) map the competence of primary school teachers in Tanah Bumbu Regency, and 2) analyze the effect of educational background and teaching experience to teacher competence. This study used quantitative approach. Population of this research is all primary school teachers in Tanah Bumbu regency which already followed Online Test of Teacher Competence (UKG Online) as many as 1,106 teachers. Samples were taken by using purposive random sampling as much as 20% of the total population that numbered 160 people. Variables of this study are: 1) Teacher Competence, 2) Educational Background and 3) Teaching Experience. This study used quantitative analysis includes percentage technique and multiple linear regressions. The results showed: 1) Primary school teacher competence in Tanah Bumbu Regency is above the national average score of 53.05, but still below the Minimum Competence Standards (SKM) of 55. The average score of pedagogic competence is 48.15 and professional competence is 55.91. 2) There is a significant simultaneous effect of educational background and teaching experience to teacher performance. Partially, only teacher experience variable that that significantly influence the teacher competence.
, Harun Harun
JPDI (Jurnal Pendidikan Dasar Indonesia), Volume 2, pp 1-4; doi:10.26737/jpdi.v2i1.265

Abstract:
This article is proposed to increase activity and study result student of IPS subject On Proclamation Approach of Indonesia’s Independence material. PAIKEM is one of active learning, innovative, creative, effective, and enjoyable. This research is Classroom Action Research (PTK) with qualitative that is done by two cycles. The kinds of data is direct data from research subject that is student of VI grade SDN Kebonsari 4 Malang. The amount is 40 students. The material of this research is “Proclamation Approach of Indonesia’s Independence”. The data collections are used observation sheet, field note, and documentation. The result of this research describe that PAIKEM increase study activity of student, this is shown from the student score on student activity instrument. On the I cycle score value is average 75% with good enough criteria, while on the II cycle score value is average 86% with good criteria. This is shown that there is improvement of student activity. Besides that, PAIKEM also increase student activity and creativity of the study result. The study result of student is increase as long as the first cycle with average score 83%and in the last on the second cycle with average score 89%. So, it can be concluded that PAIKEM application is able to increase activity and study result of student VI grade SDN Kebonsari 4 Malang.
Dadang Iskandar, Lutma Ranta Allolinggi,
JPDI (Jurnal Pendidikan Dasar Indonesia), Volume 2; doi:10.26737/jpdi.v2i1.267

Abstract:
Entrepreneurship education is a government program that is conducted every level of education. Implementation of the values of entrepreneurship learning in primary schools is an effort to promote entrepreneurship, so that people can develop into a reliable personal and be the generation that can create jobs. This study aims to assess the extent to which the learning of Social Sciences can provide space in growing the value of entrepreneurship in primary school students. This research was conducted in SDPN Pajagalan 58 with qualitative approach case study method. The subject is the person responsible for entrepreneurship education program, one teacher of Social Sciences and seventeen students of class IV. Based on the survey results revealed that entrepreneurship education program has been designed as possible into school programs that are implemented on an ongoing basis. The values of entrepreneurship has been published in school activities such as extracurricular activities, events and activities programmed habituation. Planning learning Social Sciences laden entrepreneurial values starting from the manufacture of the syllabus and lesson plans. Implementation of classroom learning is done in accordance with the lesson plan gives more space for students to develop a personality. Assessment of learning laden entrepreneurial values is done through observation and checks on student attendance. At the time of the learning takes place, the student has demonstrated an attitude / entrepreneurial character that is honest, self-discipline, confidence, leadership, creative, independent, hard work, responsibility, curiosity, communicative, and cooperation. The main problem is the plan that is prepared teacher is not maximized and not yet fully apply in learning. From the results of this study are expected to provide benefits for the development of entrepreneurship education in primary schools, especially in SDPN Pajagalan 58 and become material for the evaluation of Bandung City Education Department.
JPDI (Jurnal Pendidikan Dasar Indonesia), Volume 2, pp 13-17; doi:10.26737/jpdi.v2i1.312

Abstract:
The importance of character education seems to have been recognized by the government. As an expression comes from the founding father of the nation that the battle will be more severe because the opponent is no longer come from the outside but from the inside, then through character education is proclaimed in the curriculum, especially in curriculum 2013, an obvious emphasis on the spiritual and social through their first core competencies and second core competencies that must exist in all subjects in school. This study is a qualitative descriptive study with triangulation, using data collection techniques, namely questionnaire, observation and interview. Research will be conducted in an elementary school using Curriculum 2013 in the District Kamal, there are five primary schools in Kamal those are SDN Banyuajuh 2, SDN Banyuajuh 3, SDN Banyuajuh 6, SDN Kamal 1, SDN Gili Anyar. The results of this study are expected to examine more deeper in the development of character-building nation, ie characters that contain values of Pancasila as education that contains the values of Pancasila with the essence of Pancasila as the outlook of the nation is a prime shield for the challenges and threats as forming the national character that is unique and distinctive that became distinguishing element between one nation by another nation.
Putu Eka Suarmika, Faisal Faliyandra
JPDI (Jurnal Pendidikan Dasar Indonesia), Volume 1, pp 20-24; doi:10.26737/jpdi.v1i2.261

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktifitas dan hasil belajar siswa, aktivitas guru di SDN 2 Tribungan selama penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation berbasis outdoor study. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang menggunakan dua siklus yakni siklus I dan siklus II. Berdasarkan tindakan pada siklus I dan siklus II pada, diperoleh aktivitas pada siklus I persentase aktivitas belajar siswa sebesar 65%. Aktivitas beajar siswa pada siklus II meningkat menjadi 90%. Peningkatan aktivitas belajar siswa pada siklus I ke II meningkat sebesar 25%. Hasil belajar siswa pada siklus I persentase hasil belajar siswa sebesar 57% dengan kategori aktif. hasil beajar siswa pada siklus II meningkat menjadi 94,3% dengan kategori sangat aktif. Peningkatan hasi belajar siswa pada siklus I ke II meningkat sebesar 37,3%.
Dyah Tri Wahyuningtyas,
JPDI (Jurnal Pendidikan Dasar Indonesia), Volume 1; doi:10.26737/jpdi.v1i2.264

Abstract:
This study purposedto develop module of numbers learning by CTL approach. Through CTL strategies, students were expected to learn through 'experience', but not 'memorize'. This module included activities to create a meaningful relationship, presenting a problem in the form of open-ended, problem possing assembling, collaborating, presenting individually services through checking the understanding, and self-assessment. The development model used in this research were divided into three phases: (1) the initial investigation phase (2) the prototype phase, and (3) the assessment phase. The research instrument composed in this study consisted of; (1) questionnaire responses of experts and practitioners, (2) student questionnaire, (3) sheets and questionnaires observation, (4) the test sheet. This development product had fulfilled valid criteria by the achievement of the module validation was 3.31 (high criteria), Observation Students’Activities validation was 3.52 (high criteria), Students’ Questionnaire Response validation was 3.27 (high criteria), and Test Learning Result validation was 3.44 (high criteria). Based on the validation results, it could be concluded that the module and instrument which were developed was valid.
JPDI (Jurnal Pendidikan Dasar Indonesia), Volume 1; doi:10.26737/jpdi.v1i2.263

Abstract:
Training of Classroom Action Research is an effort to increase the understanding and skills of teachers in preparing the research proposal, conducting research, as well as a research report. This training is subject teachers at SDN 04 IX Korong totaling 19 people. The training was conducted by the lecture method which collaborated with guided exercises. The use of this method is effective to increase the interest of teachers in writing, because every teacher guided continuous and programmed. This training provides a positive impact for teachers at SDN 04 Korong IX. It is seen from the 19 teachers who attended the training, there are 11 teachers who successfully complete the Class Action Research to stage the final report. It shows that 57.9% of teachers at SDN 04 IX Korong able to do research and have a high enough motivation to produce the scientific work. So based on this study, it can be concluded that the training of classroom action research which is continuous and effective programmed to build capabilities and professionalism of teachers.
Evinna Cinda Hendriana,
JPDI (Jurnal Pendidikan Dasar Indonesia), Volume 1; doi:10.26737/jpdi.v1i2.262

Abstract:
Pendidikan karakter merupakan berbagai usaha yang dilakukan oleh berbagai personil sekolah, bahkan yang dilakukan bersama-sama dengan orang tua dan anggota masyarakat untuk membantu anak-anak dan remaja agar menjadi atau memiliki sifat peduli, berpendirian, dan bertanggung jawab. Menyikapi pentingnya pendidikan karakter, maka sangat diperlukan pendidikan karakter di sekolah untuk mewujudkan peradaban bangsa dengan memberikan keteladanan dan pembiasaan. Bagian pertama dalam studi ini akan memperkenalkan makna pendidikan karakter, fungsi dan tujuan pendidikan karakter. Bagian kedua akan membahas nilai-nilai pendidikan karakter dan pentingnya pendidikan karakter. Akhirnya, bagian terakhir dari tulisan ini akan menjelaskan tentang implementasi pendidikan karakter di sekolah melalui keteladanan dan pembiasaan.
M. Khusni Mubarok, Izzatul Fajriyah
JPDI (Jurnal Pendidikan Dasar Indonesia), Volume 2, pp 41-48; doi:10.26737/jpdi.v2i2.343

Abstract:
This research examines the public participation in establishing a madrasah Ibtidaiyyah held at MI Al-Hikmah Kalidawir. The methodology used was a qualitative approach. Data analysis procedures through three stages: data reduction, data presentation, and conclusion. There are three findings of the research, namely: first, the presence of some of the participating institutions in MI Al-Hikmah Kalidawir; secondly, the efforts of the madrasah and institutions to encourage people to participate in the school; and third, their work patterns and phases of the madrasah and institutions in realizing the ideals of schools that have superior quality and high participation. This research aims to determine the extent of public participation in the Madrasah Ibtidaiyyah.
Putu Eka Suarmika, Erdi Guna Utama
JPDI (Jurnal Pendidikan Dasar Indonesia), Volume 2; doi:10.26737/jpdi.v2i2.314

Abstract:
Dalam etnopedagogi, unsur utama adalah kearifan lokal masyarakat yang diintegrasikan ke dalam pendididikan. Kearifan lokal atau local wisdom dapat dipahami sebagai suatu pemahaman kolektif, pengetahuan, dan kebijaksanaan yang mempengaruhi suatu keputusan penyelesaian atau penanggulangan suatu masalah kehidupan. Pendidikan mitigasi bencana berbasis kearifan lokal dapat dilaksanakan pada Kurikulum 2013 dengan (1) mengidentifikasi kearifan lokal dalam mitigasi bencana dan (2) mengintegrasikan dalam pembelajaran. Sejak usia dini anak didekatkan dengan bencana dan menjaga serta memperlakukan lingkungan dengan baik, maka akan membentuk anak yang tangguh dalam menghadapi bencana dan mencintai lingkungan untuk kehidupan yang berkelanjutan.
Tati Nurhayati, Evi Oktaviani Rukmana
JPDI (Jurnal Pendidikan Dasar Indonesia), Volume 1; doi:10.26737/jpdi.v1i1.115

Abstract:
Upaya mengembangkan sikap dan keterampilan peserta didik merupakan tuntutan yang tak terpisahkan dari tugas dan tanggung jawab guru dalam melaksanakan PBM (proses belajar mengajar). Dalam melaksanakan proses belajar mengajar yang harus dikuasai guru erat kaitannya dengan penggunaan metode dan alat peraga yang sesuai dengan materi pelajarannya. Kemampuan komunikasi sangat diperlukan karena mampu mendorong seseorang untuk aktif, dapat membangun gagasan, ide, dan konsep. Sehingga siswa dapat mengembangkan skil-skilnya dalam proses pembelajaran. Hal tersebut sesuai dengan tuntutan dalam mempelajari Pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah. Namun, pada kondisi pembelajaran di sekolah saat ini masih menunjukkan rendahnya kemampuan komunikasi percakapan bahasa siswa. Salah satu alternatif pembelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan percakapan bahasa indonesia siswa adalah pembelajaran menggunakan Metode demontrasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan percakapan siswa yang menggunakan metode demontrasi, untuk mengetahui kualitas peningkatan kemampuan percakapan siswa yang memperoleh pembelajaran dengan menggunakan metode demontrasi. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas. Penelitian ini dilaksanakan di SDN Kidalang siswa kelas IV tahun. Berdasarkan data hasil penelitian, diperoleh kesimpulan bahwa kemampuan memahami teks percakapan siswa mengalami peningkatan setelah menggunakan metode demontrasi pada pelajaran bahasa indonesia. Siswa menjadi lebih aktif dalam pembelajaran serta bersikap positif terhadap penggunaan metode demontrasi dalam pembelajaran Bahasa Indonesia. Metode demontrasibisa menjadi salah satu alternatif bagi guru untuk melakukan proses belajar mengajar di kelas.
Putu Eka Suarmika, Faisal Faliyandra
JPDI (Jurnal Pendidikan Dasar Indonesia), Volume 1; doi:10.26737/jpdi.v1i1.117

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktifitas dan hasil belajar siswa, aktivitas guru di SDN 2 Tribungan selama penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation berbasis outdoor study. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang menggunakan dua siklus yakni siklus I dan siklus II. Berdasarkan tindakan pada siklus I dan siklus II pada, diperoleh aktivitas pada siklus I persentase aktivitas belajar siswa sebesar 65%. Aktivitas beajar siswa pada siklus II meningkat menjadi 90%. Peningkatan aktivitas belajar siswa pada siklus I ke II meningkat sebesar 25%. Hasil belajar siswa pada siklus I persentase hasil belajar siswa sebesar 57% dengan kategori aktif. hasil beajar siswa pada siklus II meningkat menjadi 94,3% dengan kategori sangat aktif. Peningkatan hasi belajar siswa pada siklus I ke II meningkat sebesar 37,3%.
JPDI (Jurnal Pendidikan Dasar Indonesia), Volume 1; doi:10.26737/jpdi.v1i1.113

Abstract:
Salah satu permasalahan yang dialami peserta didik kelas VI SD Negeri 10 Singkawang Utara dalam pembelajaran IPA adalah kurang aktifnya peserta didik dalam proses pembelajaran dan nilaipeserta didik selalu rendah. Alternatif yang dipilih untuk mengatasi masalah tersebut adalah melalui pendekatan scientific terintegrasi dengan multimedia interaktif.Penelitian dilakukan melalui penelitian tindakan kelas (PTK). Dengan pendekatan pembelajaran tersebut, peserta didik dapat terlibat aktifmengikuti pembelajaran yang berdampak pada peningkatan hasil belajarnya. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan hasil belajar dari prasiklus dengan nilai rata-rata 63 meningkat 78 pada siklus I dan meningkat lagi menjadi 96 pada siklus II.
JPDI (Jurnal Pendidikan Dasar Indonesia), Volume 1; doi:10.26737/jpdi.v1i1.114

Abstract:
Tujuan pembelajaran matematika yaitu menumbuhkan kemampuan berpikir kritis. Proses pembelajaran terdapat beberapa persoalan yang berkembang terutama mengenai mencapai tujuan pembelajaran diantaranya yaitu ketika ada siswa yang mengerjakan soal di papan tulis, ditemukan beberapa kesalahan dalam proses pengerjaan dan jawaban akhir tersebut benar, siswa lain kurang cermat dalam mengamati hanya melihat hasil akhir. Pembelajaran juga masih terpusat pada guru sehingga berpenaruh pada proses berpikir krits dan hasil belajar siswa (nilai ulangan harian) masih rendah. Tempat dan waktu penelitian yaitu di SDN 6 Dawuhan Situbondo. Subjek penelitian adalah siswa kelas V SDN 6 Dawuhan Situbondo berjumlah 35 siswa. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas model Kemmis dan Mc Taggart, satu siklus terdiri dari 4 tahapan, yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Teknik pengumpulan data yaitu berupa observasi, wawancara, tes, dan dokumentasi. Sedangkan proses analisis data penelitian ini menggunakan analisis deskriptif persentase aktivitas guru, berpikir kritis dan hasil belajar siswa. Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini menunjukkan adanya peningkatan berpikir kritis dan hasil belajar siswa. Pada kemampuan kritis pada tahap siklus 1 sebesar 63% sebanyak 22 siswa yang tuntas dalam mengerjakan kuis. Pada tahap siklus 2 sebesar 83% sebanyak 29 siswa yang tuntas dalam mengerjakan kuis. Sedangkan pada hasil belajar tahap pretest sebesar 45% sebanyak 16 siswa yang tuntas. Pada siklus 1, hasil belajar siswa mengalami peningkatan menjadi 68% sebanyak 24 siswa yang tuntas belajar dalam ulangan harian. Pada siklus 2, hasil belajar siswa mengalami peningkatan menjadi 89% sebanyak 31 siswa yang tuntas. Berdasarkan data tersebut dapat disimpulkan bahwa Scientific Approach dapat meningkatkan berpikir kritis dan hasil belajar siswa materi Jaring-jaring Bangun Ruang kelas V SDN 6 Dawuhan Situbondo.
Warkintin Warkintin
JPDI (Jurnal Pendidikan Dasar Indonesia), Volume 1; doi:10.26737/jpdi.v1i1.116

Abstract:
Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh metode Examples Non Examples terhadap kognitif siswa Pada Materi Mengenal Penggunaan Uang Sesuai dengan Kebutuhan di Kelas III Sekolah Dasar Negeri No 47 Sinar Kasih. Metode yang digunakan metode kuantitatif deskriptif. Bentuk penelitian Quasi-Eksperimen. Hasil analisis data observasi guru dengan persentase 100%, berkriteria baik, sedangkan data observasi siswa dengan persentase rata-rata 86,93% berkriteria baik. Berdasarkan perhitungan hasil belajar siswa diperoleh nilai rata-rata pretest untuk kelas eksperimen 41,66, serta kelas kontrol 46,85 dan nilai rata-rata posttest untuk kelas eksperimen 77,59, serta kelas kontrol 69,07. Peningkatan Kognitif siswa dihitung dengan rumus Indeks Gains dan didapat nilai 0,62 artinya terdapat peningkatan yang tinggi kognitif siswa setelah menggunakan metode pembelajaran examples non examples. Teknik pengolahan data menggunakan Uji t-dua sampel karena jumlah siswa 27 orang kelas ekperimen dan 27 orang kelas kontrol serta data berdistribusi normal dan homogen. Hasil dari uji hipotesis diperoleh Pada hasil pretest diketahui bahwa nilai thitung adalah -1,7 sedangkan nilai ttabel pada α = 5% dengan db (N1+N2-2 = 52) adalah 2,011. Hal ini berarti nilai thitung ˂ttabelyaitu -1,7 ˂ 2,011 maka Ho diterima yang artinya tidak terdapat perbedaan yang signifikan kognitif siswa antara kelas eksperimen dan kelas kontrol, sedangkan pada hasil posttest diketahui bahwa nilai thitung adalah 2,79 sedangkan nilai ttabel pada α = 5% dengan db (N1+N2-2 = 52) adalah 2,011. Hal ini berarti nilai thitung ˃ttabelyaitu 2,79 ˃ 2,011 maka Ha diterima yang artinya terdapat perbedaan yang signifikan kognitif siswa antara kelas eksperimen dan kelas kontrol. Hasil angket respon siswa dengan rata-rata 88,15% dengan kriteria sangat kuat.
Page of 1
Articles per Page
by
Show export options
  Select all
Back to Top Top