Refine Search

New Search

Results in Journal Geoid: 247

(searched for: journal_id:(1363981))
Page of 5
Articles per Page
by
Show export options
  Select all
Nia Kurniadin, Feri Fadlin
Abstract:
Informasi perubahan garis pantai sangat penting dalam berbagai kajian pesisir, misalnya; rencana pengelolaan kawasan pesisir, perwilayahan/zonasi bahaya, studi abrasi-akresi, serta analisis dan pemodelan morfodinamika pantai. Salah satu penyebab ternjadinya perubahan morfologi garis pantai adalah oleh fenomena tingginya gelombang akibat terjadinya tsunami. Teluk Palu mengalami terpaan gelombang Tsunami yang terjadi pada 28 September 2018. Pesisir pantai sepanjang teluk palu mengalami berubahan yang cukup signifikan akibat adanya dampak Tsunami tersebut. Dalam penelitian ini, pemanfaatan teknologi penginderaan jauh secara temporal dan spasial digunakan dalam identifikasi perubahan garis pantai. Metode yang digunakan adalah interpretasi terhadap Normalized Difference Water Index (NDWI) pada citra Sentinel-2 untuk mengidentifikasi garis pantai serta menganalisis besarnya perubahan yang terjadi. Hasil analisis perubahan garis pantai yang terjadi akibat Tsunami setelah dilakukan tumpang susun terhadap data sebelum dan setelah terjadi Tsunami diperoleh panjang garis pantai sebelum Tsunami 42,633 km dan setelah Tsunami 40,718 km dimana terjadi perubahan pajang garis pantai 1,915 km, serta luas abrasi 1,021 km2.Coastline change information is very important in various coastal studies, for example; coastal area management plans, hazard zoning, abrasion-accretion studies, as well as coastal morphodynamical analysis and modeling. One of the causes of coastline morphology change is the phenomenon of high waves due to the tsunami. Tsunami waves has exposed Palu Bay on September 28, 2018. The coast along the Palu bay experienced significant changes due to the impact of the Tsunami. In this study, temporally and spatially remote sensing technology are used to identify coastline changes. The Normalized Difference Water Index (NDWI) method used to interpret Sentinel-2 image to identify and analyze the coastline changes that happened. An analysis of the results of coastline changes that occurred as a result of the Tsunami after overlapping the data before and after the Tsunami were obtained that the length of the coastline before the Tsunami was 42.633 km and after the Tsunami was 40.718 km where there was a change in coastline length of 1.915 km, and an area 1.021 km2 of abrasion.
Nurwatik Nurwatik, Eka Diah Nur Safitri, Astrid Calista
Abstract:
Pesisir Barat merupakan salah satu Kabupaten di Provinsi Lampung yang berbatasan dengan Samudra Hindia. Posisi wilayah yang berada diantara pertemuan dua lempeng tektonik, yaitu lempeng Eurasia dan lempeng Indo-Australia mengkibatkan Kabupaten Pesisir Barat sering mengalami dampak gempa. Sesuai laporan dari BMKG, bencana gempa yang cukup besar telah terjadi pada hari Jum’at tanggal 02 Agustus 2019 jam 19:03:25 WIB dengan magnitude 6.9 SR. Pusat Gempa bumi terletak di laut selatan Pesisir Barat pada koordinat 7.32°LS-104.75°BT dengan kedalaman dangkal sekitar 48 km. Selain guncangan, gempa juga dapat mengakibatkan perubahan (deformasi) pada permukaan tanah. Penelitian ini menggunakan metode penginderaan jauh aktif untuk mengamati deformasi yaitu DInSAR (Differential Interferometry Synthetic Aperture Radar) yang merupakan teknik berbasis radar untuk mengeksploitasi informasi pada fase dua periode citra. Pengamatan deformasi dilakukan menggunakan dua data Sentinel-1A yang diakuisisi pada tanggal 01 Juni 2019 sebagai master, citra 29 Oktober 2019 sebagai slave, dan DEM SRTM 30 meter sebagai informasi topografi di wilayah tersebut. Hasil metode DInSAR menunjukkan deformasi vertikal yang diproyeksikan sepanjang LOS (Line Of Sight) di Kabupaten Pesisir Barat dengan nilai yang bervariasi pada rentang -12 cm sampai +22 cm. Dari proses kalkulasi statistik, dapat diketahui bahwa mayoritas permukaan tanah pada studi lokasi mengalami pengangkatan (uplift) sebesar 1,1 cm sampai 8,1 cm selama periode pengamatan. Fenomena tersebut selaras dengan aktivitas tektonik dan formasi geologi yang menyusun dataran Pesisir Barat, yaitu batuan gunungapi kuarter dan simpangaur. Pesisir Barat is one of the regencies in Lampung Province which adjacent to the Indian Ocean. The location where is between the junction of two tectonic plates, the Eurasian plate and the Indo-Australian plate, causes Pesisir Barat become frequently affected by earthquakes. According to the report from BMKG, a quite large earthquake occurred on Friday August 2, 2019 at 19:03:25 WIB with a magnitude of 6.9 SR. The epicenter of the earthquake is located in the southern sea of Pesisir Barat at coordinates 7.32°S ; 104.75°E with a shallow depth of about 48 km. Apart from shocks, earthquakes can also cause changes (deformations) to the ground surface. This research purposes an active remote sensing method that can be used to observe deformation is DInSAR (Differential Interferometry Synthetic Aperture Radar), which is a radar-based technique to exploit information in the two-period phase of the image. Deformation observations were carried out using two Sentinel-1A data acquired on June 1, 2019 as a master, October 29, 2019 imagery as a slave, and DEM SRTM 30 meters as topographic information in it’s area. The results of the DInSAR method show that vertical deformation which is projected along the LOS (Line Of Sight) in Pesisir Barat Regency with varying values in the range from -12 cm to +22 cm. From the statistical calculation process, it can be seen that the majority of the land surface in the study location experienced an uplift of 1.1 cm to 8.1 cm during the observation period. This phenomenon is consistent with the tectonic activity and geological formations that form the Pesisir Barat plains, namely quaternary volcanic rocks and simpangaur.
Hikmah Fajar Assidiq, Catur Aries Rokhmana
Abstract:
Kekeringan merupakan salah satu bencana krusial dan kompleks yang dapat menimbulkan kerugian material dan immaterial. Kekeringan di indonesia dikategorikan beberapa jenis meliputi Kekeringan Pertanian, Kekeringan Meterologis, dan kekeringan Hidrologi. Kekeringan pertanian merupakan kondisi dimana adanya penurunan kandungan air di dalam tanah. Kondisi tersebut akan berdampak pada tumbuhan dan atau tutupan lahan sehingga diperlukan tindakan preventif. Tindakan preventif dilakukan dengan cepat, efektif dan efisien sehingga pendekatan dengan pola dinamis sangat diperlukan. Pendekatan pola dinamis dilakukan dengan dengan metode yang dapat dilakukan setiap waktu. Penggunaan penginderaan jauh sensor aktif dapat menjadi solusi melalui pemantaaun setiap waktu secara dinamis. Salah satunya yaitu satelit dengan sensor radar, yaitu Sentinel 1. Sentinel 1A memiliki gelombang band C. Polarisasi pada citra Sentinel 1 memiliki bentuk dual-pol yang terdiri dari VV dan VH atau HH dan HV. Kombinasi polariasi memiliki potensi untuk digunakan identifikasi kekeringan. Metode yang dapat digunakan yaitu Radar Vegetation Index. Radar Vegetation Index dikembangkan dari algoritma NDVI. Klasifikasi kekeringan RVI dikembangkan dari analisis regresi hasil NDVI Landsat 8 dengan hasil RVI. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pemanfaatan data SAR untuk identifikasi kekeringan dengan menghubungkan Dual Polametric SAR Band – C dan Landsat 8. Hasil penelitian bahwa NDVI memiliki Koefesien determinasi dengan RVI sebesar 0.2981.Drought is a disastrous and complex disaster that can cause material and immaterial losses. The drought in Indonesia is categorized by several types including Agricultural Drought, Meteorological Drought, and Hydrological Drought. Agricultural drought is a condition where there is a decrease in water content in the soil. These conditions will have an impact on vegetation and / or land cover so preventive action is needed. Preventive action is carried out quickly, effectively and efficiently so that an approach with a dynamic pattern is needed. The dynamic pattern approach is done by a method that can be done any time. The use of Active Sensor remote sensing can perform monitoring at any time and dynamically. One of the satellites with radar sensors is Sentinel 1A. Sentinel 1A has a C band wave. Polarization in the Sentinel-1 image has a dual-pol form consisting of VV and VH or HH and HV. The Polarization combination has the potential to measure drought. The method that can be used is the Vegetation Radar Index. The radar vegetation index is developed from the NDVI algorithm. The RVI Drought Classification is made by maintaining the relationship between the NDVI Landsat 8 results and the RVI results. This study aims to examine the use of SAR data for drought identification with the relationship between Dual Polametric SAR Band - C and Landsat 8. The results explain that NDVI has a coefficient of determination with an RVI of 0.2981.
Norma Aji Cemara Mannani, Eko Yuli Handoko
Abstract:
Global Navigation Satellite System (GNSS) semakin dikembangkan sebagai sistem penginderaan jauh atmosfer, salah satunya melalui perhitungan Zenith Tropospheric Delay (ZTD). Seiring dengan pengembangan stasiun CORS, maka mendorong dilakukannya penelitian mengenai ZTD dengan data yang kontinyu dan resolusi spasial yang baik karena letak stasiun CORS tersebar merata. Penelitian ini bertujuan menganalisis karakteristik variasi spasial dan temporal dari salah satu komponen ZTD, yaitu Zenith Wet Delay (ZWD). Studi kasus penelitian ini adalah Provinsi Jawa Timur dengan menggunakan 16 stasiun CORS. Selain data CORS, digunakan pula data meteorologi dari empat stasiun milik BMKG di Jawa Timur yang digunakan sebagai data pembanding. Perhitungan nilai ZTD dan ZWD menggunakan perangkat lunak GIPSY 6.4. Nilai ZWD divisualisasikan dengan gridding metode krigging dengan ukuran grid 0,25˚ × 0,25˚. Terdapat pola penurunan pada nilai trend ZWD rata-rata sebesar sekitar 1,628 mm/tahun. Karakteristik variasi spasial dan temporal dari nilai ZWD dipengaruhi beberapa faktor, di antaranya angin monsun Asia dan Australia yang menyebabkan adanya musim, fenomena global seperti El Nino dan La Nina, intensitas curah hujan, kondisi meteorologi lokal seperti suhu dan kelembaban, cuaca, dan topografi dari stasiun.Global Navigation Satellite System (GNSS) are being developed as an atmospheric remote sensing system through the calculation of ZTD. The development of CORS station encourages research investigations about Zenith Tropospheric Delay (ZTD) with continuous data and good spatial resolution. This research studies about characteristics of spatial and temporal variation from ZWD in East Jawa. The case study in East Jawa Province Using 16 CORS Station. Meteorological data from four BMKG’s stations are used as comparison data. ZTD and ZWD value from CORS data are calculated using GIPSY 6.4 Software. ZWD values are gridded using the kriging method with the size of the grids is 0,25 x 0,25. ZWD value comparison from CORS and meteorology data have a strong correlation with coefficient value is 0,712. The mean ZWD trend is decreasing by about 1,628 mm/yr. Characteristics of spatial and temporal variations of the ZWD value influenced by monsoon Asia-Australian which cause dry and rainy seasons, global phenomena such as El Nino and La Nina, rainfall, local meteorological conditions such as temperature and humidity, weather, and topography of the stations.
Bella Esti Ajeng Syahputri, Ira Mutiara Anjasmara, Amien Widodo
Abstract:
Penelitian ini menyajikan hasil pengolahan data SAR dengan metode Permanent Scatterer Interferometric SAR (PS-InSAR) yang bertujuan untuk menganalisa pola dan nilai deformasi muka tanah akibat manifestasi gunung lumpur di wilayah Cekungan Jawa Timur. Dengan menggunakan metode PS-InSAR pada pengolahan data time series untuk citra SAR L-band ALOS PALSAR 1 tahun 2007-2009 dan C-band Sentinel 1A tahun 2015-2019, besarnya deformasi yang didapat dapat sampai ketelitian satuan milimeter. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa untuk pengolahan tahun 2007-2009 tidak dapat dijadikan informasi deformasi karena kurangnya ketersediaan jumlah citra sebagai syarat pengolahan metode PS-InSAR, sedangkan hasil pengolahan tahun 2015-2019 menunjukkan pola dan nilai deformasi yang berbeda pada tiap lokasi. Pada Gunung Lumpur Sidoarjo terjadi penurunan muka tanah rata-rata sebesar 5,46 mm/th. Gunung Lumpur Gununganyar mengalami kenaikan muka tanah rata-rata sebesar 1,71 mm/th dan penurunan muka tanah sebesar 7,08 mm/th. Gunung Lumpur Kalanganyar mengalami kenaikan muka tanah rata-rata sebesar 0,99 mm/th. Gunung Lumpur Wringinanom mengalami kenaikan muka tanah rata-rata sebesar 3,37 mm/th, dan Gunung Lumpur Bujhel Tasek Bini dan Laki mayoritas mengalami kenaikan muka tanah rata-rata 2,88 mm/th. Hasil analisis penelitian ini dapat dimanfaatkan sebagai bahan pertimbangan dalam kegiatan pembangunan atau konstruksi pada wilayah di sekitar manifestasi gunung lumpur di Provinsi Jawa Timur.This study presents the results of the Permanent Scatterer Interferometric SAR (PS-InSAR) processing technique, which aims to analyze the pattern and value of surface deformation due to mud volcano manifestations. Using the PS-InSAR method, the deformation identified from processing time-series data on the ALOS PALSAR 1 L-band SAR Image in 2007-2009 and C-band Sentinel 1A 2015-2019 can reach the accuracy of millimeters. The results also showed that the 2007-2009 data processing could not be used as deformation information. It is because the minimum number of images required for the PS-InSAR method was not fulfilled. The 2015-2019 data processing illustrates the deformation patterns and values on the mud volcano manifestation locations. The Sidoarjo Mud Volcano experience uplift with an average value of 5.46 mm/year. The Gununganyar Mud Volcano experienced average uplift of 1.71 mm/year and a subsidence of 7.08 mm/year. The majority of the Kalanganyar Mud Volcano experienced average subsidence of 0.99 mm/year. The Wringianom Mud Volcano experienced average subsidence of 3.37 mm/year, and the majority of Bujhel Tasek Bini and Pria Mud Volcano has average subsidence of 2.88 mm/year. This study's results can be useful for consideration in development activities or construction around the mud volcanoes manifestation in East Java Province.
Muhammad Iqbal Taftazani, Afradon Aditya Setyawan, Ananda Taufiq Akbar, Annisa Farida Hayuningsih, Dhany Yudi Prasteyo, Wulan Ratna Mayangsari
Abstract:
Batas daerah antara Kota Yogyakarta dan Kabupaten Sleman telah ditetapkan dan ditegaskan dalam Peranturan Menteri Dalam Negeri No 72 Tahun 2007, selanjutnya disebut sebagai Permendagri No 72/2007. Permendagri ini mengatur tentang batas daerah Kota Yogyakarta dan kabupaten Sleman dalam rangkaian koordinat titik pilar. Dalam batas daerah antara Kota Yogyakarta dan Kabupaten Sleman, terdapat 66 pilar batas yang terdiri dari tiga jenis pilar batas. Ketiga jenis pilar tersebut yaitu Pilar Acuan Batas Utama (PABU), Pilar Batas Utama (PBU), dan Pilar Batas (PBA). Telah dilakukan pengamatan secara visual terhadap 66 pilar batas yang berada di sepanjang garis batas Kota Yogyakarta dan Kabupaten Sleman. Artikel ini bermaksud untuk menyajikan hasil pengamatan secara visual pada pilar batas sebagai penanda (acuan) batas antara Kota Yogyakarta dan Kabupaten Sleman dengan tujuan untuk membantu pihak yang berkepentingan, dalam hal ini Pemerintah Kota Yogyakarta, dan Pemerintah Kabupaten Sleman dalam pemeliharaan batas antara kedua daerah. Dari hasil pengamatan secara visual ini didapati beberapa hal yang kedepannya perlu menjadi perhatian semua pihak yang berkepentingan terhadap batas ini, antara lain adanya pilar batas yang hilang, pilar batas yang sudah rusak, pilar batas yang terhalang tajuk, dan bermacam kondisi lainnya. Namun demikian masih terdapat juga pilar batas yang kondisinya cukup terawat dengan baik.The regional boundary between Yogyakarta City and Sleman Regency has been defined and confirmed in the Regulation of the Minister of Home Affairs No 72/2007, hereinafter referred to as Permendagri No 72/2007. This Permendagri regulates the regional boundaries of Yogyakarta City and Sleman Regency in terms of coordinating pillar points. Within the regional boundary between Yogyakarta City and Sleman Regency, 66 boundary pillars are consisting of three types of boundary pillars. The three types of pillars are the Main Boundary Reference Pillar (PABU), the Main Boundary Pillar (PBU), and the Boundary Pillar (PBA). Visual observations have been made to the 66 boundary pillars along the boundary lines of Yogyakarta City and Sleman Regency. This article intends to present a visual observation of the boundary pillar as a marker (reference) for the boundary between Yogyakarta City and Sleman Regency to assist interested parties, in this case, the Yogyakarta City Government and the Sleman Regency Government in maintaining the boundary between the two regions. From the results of this visual observation, several things need to be the attention of all parties with an interest in this limit, including missing boundary pillars, damaged boundary pillars, boundary pillars that are blocked by the canopy, and various other conditions. However, there are also boundary pillars that are in a quite good condition.
Tika Christy Novianti
Abstract:
Pemanfaatan citra satelit resolusi tinggi dalam pemetaan kawasan perkotaan telah sangat banyak digunakan dalam berbagai aplikasi, salah satunya untuk ekstraksi bangunan. Terdapat dua pendekatan yang dapat digunakan untuk ekstraksi bangunan dengan menggunakan metode penginderaan jauh yaitu metode klasifikasi berbasis piksel dan metode klasifikasi berbasis objek. Akan tetapi metode klasifikasi berbasis piksel memiliki kelemahan yaitu mengabaikan aspek spasial sehingga dapat mengurangi akurasi dari hasil klasifikasi dan rentan terjadi gangguan salt and pepper yang berdampak pada hasil akurasi. Hal tersebut menyebabkan digunakan klasifikasi berbasis objek dengan metode segmentasi citra menggunakan algoritma multiresolusi pada penelitian ini. Metode segmentasi dengan algoritma multiresolusi memiliki keunggulan yaitu dapat menggabungkan informasi spektral dan spasial dimana objek geografis dipisahkan tidak hanya berdasarkan aspek spektral namun berdasarkan aspek spasial seperti ukuran, pola, dan tekstur. Variasi ketinggian bangunan dan kerapatan yang tinggi di wilayah perkotaan menjadi permasalahan yang ditemukan dalam melakukan ekstraksi bangunan. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, dilakukan penambahan data ketinggian berupa data NDSM yang diturunkan dari data LiDAR. Lokasi penelitian terbagi menjadi 3 Area of Interest (AOI) dengan kriteria untuk setiap AOI ditentukan berdasarkan kerapatan bangunan. Hasil dari klasifikasi berbasis objek sebelum penambahan data NDSM memberikan hasil akurasi sebesar 58.16 % untuk AOI 1, 58.92 % untuk AOI 2, dan 71.43 % untuk AOI 3, sedangkan setelah penambahan data NDSM nilai akurasi yang diperoleh sebesar 69.35% untuk AOI 1, 81.90% untuk AOI 2, dan 97.37% untuk AOI 3. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan hasil klasifikasi sebelum dan sesudah penambahan data NDSM. Penambahan data NDSM dalam proses klasifikasi berbasis objek untuk ekstraksi bangunan dapat membantu dalam memisahkan objek bangunan dan non-bangunan serta dapat meningkatkan akurasi dari hasil klasifikasi.Utilization of high resolution satellite imagery for mapping in urban areas has been very widely used in various application, one of them for building extraction. Two common approaches for building extraction using remote sensing method are pixel-based classification method and object-based classification method. However, pixel-based classification method has the disadvantage of ignoring the spatial elements so as to reduce the accuracy of classification results also the susceptible of salt and pepper noise affects the accuracy of classification results. It is led to use object-based classification techniques with segmentation methods and multiresolution algorithm in this research. Segmentation methods with multiresolution algorithms has the advantage of being able to combine spectral and spatial information where geographic objects are distinguished not only on the spectral aspect but also spatial aspects such as shapes, patterns, and textures. Various heights of buildings and high density in the urban area become the next challenge in building extraction. In order to overcome these problems, the addition of height data NDSM derived from LiDAR data. The research location is divided into 3 Areas of Interest (AOI) with the criteria for each AOI being determined based on building density. The result of object-based classification before addition of NDSM data gives an accuracy result of 58.16% for AOI 1, 58.92 % for AOI 2, and 71.43 % for AOI 3, while after addition NDSM data the accuracy value obtained from the classification were 69.35 % in AOI 1, 81.90 % in AOI 2, and 97.37% in AOI 3. The result of classification shown the differences in classification results before and after the addition of NDSM data. Ancillary data NDSM in object based image classification for building extraction can distinguish between building and non-building class, also improve the accuracy of the classification results.
Andita Putri Damayanti, Harintaka Harintaka
Abstract:
Pembangunan kewilayahan yang merata di Indonesia masih terkendala dengan tidak tersedianya peta dasar skala besar sebagai bahan utama dalam penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR). Data orthophoto dapat digunakan sebagai alternatif sumber data dalam penyediaan peta dasar skala besar. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji keandalan data true orthophoto hasil dense image matching dibandingkan dengan ground orthophoto bagi pembuatan unsur peta dasar skala besar di Indonesia. Area penelitian mengambil sampel wilayah urban, wilayah lahan terbuka dan wilayah bervegetasi. Tahap penelitian meliputi persiapan, pembentukan true orthophoto, dan analisis perbandingan antara unsur tutupan lahan pada true orthophoto dengan unsur tutupan lahan pada ground orthophoto. Berdasarkan hasil penelitian,true orthophoto memiliki kelemahan pada visualisasinya. Tingkat kecerahan dan kejelasan objek tutupan lahannya masih lebih rendah dibandingkan dengan data ground orthophoto. Kelemahan true orthophoto pada wilayah urban adalah banyaknya variasi rona piksel pada objek yang mengaburkan batas tutupan lahan, dominasi rona piksel objek yang menghilangkan objek lainnya dan adanya efek gergaji (sawtooth effect) pada bangunan tinggi. Untuk wilayah lahan terbuka dan wilayah bervegetasi terdapat kumpulan piksel yang berwarna abu-abu hingga kehitaman pada objek tutupan lahan. Perbedaan gelap terang piksel pada objek tutupan lahan dapat mempersulit identifikasi batas tutupan lahan. Secara geometri, data true orthophoto dapat digunakan untuk pembuatan peta dasar skala besar 1 : 5.000, hal ini ditunjukkan dengan hasil uji ketelitian geometrik horisontal (CE90) pada wilayah penelitian yang masuk ke dalam ketelitian peta RBI 1 : 5.000 kelas duaPembangunan kewilayahan yang merata di Indonesia masih terkendala dengan tidak tersedianya peta dasar skala besar sebagai bahan utama dalam penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR). Data orthophoto dapat digunakan sebagai alternatif sumber data dalam penyediaan peta dasar skala besar. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji keandalan data true orthophoto hasil dense image matching dibandingkan dengan ground orthophoto bagi pembuatan unsur peta dasar skala besar di Indonesia. Area penelitian mengambil sampel wilayah urban, wilayah lahan terbuka dan wilayah bervegetasi. Tahap penelitian meliputi persiapan, pembentukan true orthophoto, dan analisis perbandingan antara unsur tutupan lahan pada true orthophoto dengan unsur tutupan lahan pada ground orthophoto. Berdasarkan hasil penelitian,true orthophoto memiliki kelemahan pada visualisasinya. Tingkat kecerahan dan kejelasan objek tutupan lahannya masih lebih rendah dibandingkan dengan data ground orthophoto. Kelemahan true orthophoto pada wilayah urban adalah banyaknya variasi rona piksel pada objek yang mengaburkan batas tutupan lahan, dominasi rona piksel objek yang menghilangkan objek lainnya dan adanya efek gergaji (sawtooth effect) pada bangunan tinggi. Untuk wilayah lahan terbuka dan wilayah bervegetasi terdapat kumpulan piksel yang berwarna abu-abu hingga kehitaman pada objek tutupan lahan. Perbedaan gelap terang piksel pada objek tutupan lahan dapat mempersulit identifikasi batas tutupan lahan. Secara geometri, data true orthophoto dapat digunakan untuk pembuatan peta dasar skala besar 1 : 5.000, hal ini ditunjukkan dengan hasil uji ketelitian geometrik horisontal (CE90) pada wilayah penelitian yang masuk ke dalam ketelitian peta RBI 1 : 5.000 kelas dua.The unavailability of a large scale base map creates a challenge to entirely develop equal territorial in Indonesia as the primary material for preparing Detailed Spatial Plan (DSP). The orthophoto data is used as an alternative source of data in the provision of large-scale maps. This study aims to examine the results of true orthophoto of dense image matching for producing the large-scale topographical elements of 1: 5,000. The findings are compared with ground orthophoto data in the same territory. The samples were urban areas, open land areas, and vegetated areas. The research consists of preparation, generate true orthophoto, and comparative analysis of research findings with ground orthophoto. The true orthophoto of dense image matching results has weaknesses in its visualization. The level of brightness and clarity of the land is lower than the ground orthophoto. The weakness of true orthophoto in urban areas is many hue variations of pixels on objects that obscure the land boundaries, the dominance of object pixel hue that removes other objects, and the sawtooth effect on the high buildings. Thus, there is a gray collection of black pixels on the land object for open land and vegetated areas. The difference in dark and light pixels of land objects complicates the identification of land boundaries. Geometrically, true orthophoto data of dense image matching used as primary data for making large-scale base maps of 1: 5.000 is indicated by the horizontal geometric accuracy test (CE90) in the research area that includes the second class topographical map accuracy of 1:5.000.
Hanif Ilmawan, Purnama Budi Santosa
Abstract:
Penyajian data statistik mengalami perkembangan seiring dengan kemajuan teknologi. Data statistik tidak hanya disajikan dalam bentuk tabel dan grafik saja, tetapi juga divisualisasikan menggunakan peta. Bahkan saat ini juga digunakan peta interaktif berbasis online untuk lebih memudahkan pengguna dalam mengakses dan mengeksplorasi data yang ada. Hal ini merupakan salah satu bentuk pelaksanaan dari Pasal 20 UU No. 16 Tahun 1997 yang mengatur bahwa penyelenggara kegiatan statistik wajib memberikan kesempatan yang sama kepada masyarakat untuk mengetahui dan memperoleh manfaat dari data statistik yang tersedia. Salah satu perangkat lunak yang dapat dimanfaatkan untuk melakukan visualisasi data statistik adalah StatPlanet Plus. Perangkat lunak ini bersifat free (versi offline dan non komersial). StatPlanet Plus mampu menghasilkan peta interaktif dengan menggunakan bahasa pemrograman Flash. Penyajian data statisik menggunakan peta interaktif dapat membantu pengguna untuk memahami data dan mengungkap wawasan baru (Di Biase, 1990; Roberts, 2008). Peta interaktif juga berfungsi sebagai media komunikasi pemilik data dengan pengguna data (Roth, 2013). Hasil dari kegiatan ini adalah sebuah purwarupa peta interaktif untuk visualisasi data statistik Kabupaten Banyumas. Peta interaktif ini dapat menjadi alternatif bagi Badan Pusat Statistik Kabupaten Banyumas dalam melakukan publikasi data statistik, sehingga memudahkan masyarakat umum dalam mengakses data statistik. The development of technology affects the way people in presenting statistical data. Statistical data are not only presented in the form of table, chart, and diagram, but also visualized by using map. Moreover, interactive map is now used to make data access and exploration become far easier. This is an implementation of Law of the Republic of Indonesia Number 16 of 1997 which states that the conductor of statistical activities has to give a same opportunity for people to get benefits from available statistical data. One of softwares that can be used to visualize the statistical data is StatPlanet Plus. This software is free for offline and non commercial use. StatPlanet Plus can make an interactive map by using Flash script.Presenting statistical data using interactive map can help users to understand data and discover new insights (Di Biase, 1990; Roberts, 2008). Interactive map also used as a media for data owner to communicate with data users (Roth, 2013). The result of this study is a prototype of interactive map for visualizing the statistical data of Banyumas Regency. This interactive map is an alternative for Badan Pusat Statistik of Banyumas Regency to publish statistical data, so it will facilitate people to access the statistical data.
Mukti Fatimah, I Made Andi Arsana
Abstract:
Indonesia sebagai negara kepulauan berhak menetapkan perairan pedalaman dengan menarik garis penutup mulut sungai, garis penutup teluk, dan garis penutup pelabuhan berdasarkan UNCLOS 1982 pasal 9, 10, dan 11. Melalui koordinasi di bawah Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, hingga tahun 2018 Indonesia telah melakukan identifikasi penutupan teluk-teluk. Identifikasi terhadap garis penutup mulut sungai dan pelabuhan belum dilakukan karena belum memiliki standard dalam metode penarikannya. Berdasarkan pasal 9 UNCLOS 1982, jika sungai mengalir langsung ke laut, maka garis dasar ditarik lurus melewati mulut sungai di antara tepi sungai pada garis air rendah. Dalam pasal tersebut kriteria sungai yang mengalir langsung ke laut dan titik acuan penarikan garis mulut sungai masih belum dijelaskan secara terperinci, sehingga masih sulit diikuti secara teknis. Identifikasi tipe mulut sungai diperlukan untuk menentukan apakah sungai mengalir langsung ke laut ataukah melalui estuari terlebih dahulu. Jika sungai mengalir langsung ke laut, maka prinsip pasal 9 UNCLOS 1982 dapat digunakan. Jika sungai tidak mengalir langsung ke laut, namun melalui estuari, maka prinsip pasal 9 UNCLOS 1982 tidak dapat digunakan, sehingga diperlukan pendekatan metode teknis lain yang lebih relevan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan metode penarikan garis penutup mulut sungai untuk penetapan perairan pedalaman. Penelitian ini menggunakan metode studi literatur dari dokumen perundang- undangan, dokumen konvensi, dan dokumen teknis terkait. Hasil yang diperoleh adalah rekomendasi metode yang dapat digunakan untuk penarikan garis penutup mulut sungai. Penarikan garis penutup mulut sungai dilakukan dengan empat langkah utama, yaitu 1) identifikasi tipe mulut sungai 2) menentukan metode penarikan garis penutup mulut sungai 3) menentukan titik acuan garis penutup mulut sungai 4) menarik garis penutup mulut sungai.Indonesia as an archipelagic country has the right to delimitate internal waters by drawing mouth of river closing lines, bay closing lines and port closing lines based on article 9, 10, and 11 UNCLOS 1982. Under the coordination of the Coordinating Ministry for Maritime Affairs and Investment, until 2018 Indonesia has identified the bay closing line. The identification of mouth of ruver closing lines and port closing lines has not been carried out because it does not have a standard in the method. According to article 9 UNCLOS 1982, If a river flows directly into the sea, the baseline shall be a straight line across the mouth of the river between points on the low-water line of its banks. In this article, the criteria for rivers flowing directly into the sea and the reference point for drawing the mouth of river closing line are still not clearly explained, so they are still technically difficult to follow.Identification of the river mouth type is needed to determine whether a river flows directly into the sea or through an estuary. If a river flows directly into the sea, the principles of article 9 UNCLOS 1982 can be used. If a river does not flow directly into the sea, but through an estuary, then the principles of article 9 UNCLOS 1982 cannot be used, so that another, more relevant technical method approach is needed. This study aims to determine the method of drawing a mouth of river closing line for internal waters delemitation. This research uses literature study method from legislation documents, convention documents, and related technical documents. The result of this study is a recommended method that can be used to draw river closing line. Drawing the mouth of river closing line is carried out in four main steps, 1) identification of the river mouth type 2) determining the method of drawing the mouth of river closing line 3) determining the reference point for mouth of river closing line 4) drawing mouth of river closing line.
Desi Suci Richasari, Eko Yuli Handoko
Abstract:
Studi ini bertujuan untuk menentukan dan menganalisis arus geostropik terhadap indeks ENSO dan indeks musim. Lokasi studi ini terletak di sekitar lautan Indonesia dengan koordinat 20 ° N - 20 ° S dan 90 ° E - 150 ° E. Altimetri data satelit Jason Series sangat berguna sebagai penyedia data laut global, termasuk informasi tentang arus laut permukaan dan dinamika permukaan laut. Untuk menentukan arus geostropik, kami menggunakan algoritma geostropik dan metode analisis menggunakan koefisien korelasi hasil antara parameter penelitian dengan nilai indeks. Analisis temporal dan spasial menggunakan Matlab dan ArcMap untuk memvisualisasikan parameter yang diperoleh. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa korelasi antara anomali permukaan laut (SLA) dengan Multivariate ENSO Index (MEI) menunjukkan nilai negatif, menunjukkan bahwa SLA memiliki kondisi yang berlawanan dengan fenomena ENSO. El Nino yang kuat terjadi pada tahun 2015 dan La Nina terjadi pada tahun 2010. Perbedaan SLA tidak mempengaruhi arah arus geostropik tetapi mempengaruhi kecepatannya. Korelasi arus geotropik komponen zonal dengan AUSMI adalah 0,720 dan WNPMI adalah 0,446. Ini berarti bahwa arus geostropik memiliki arah yang sama dengan aliran angin musim.This research aims to determine and analyze the geostrophic current towards the monsoon index and the ENSO index . The location of this research is around Indonesian seas with coordinates of 20 ° N - 20 ° S and 90 ° E - 150 ° E. Jason Series altimetry satellite data is very useful as a provider of data on global marine affairs, including information about sea surface and sea level currents. To determine the geostrophic current, we used the geostrophic algorithm and the method of analysis used the coefficient correlation of the results between the research parameters with the index. Temporal and spatial analysis using Matlab and ArcMap to visualize the parameters which is obtained. The results of this study indicate that the corelation between Sea Level Anomalies (SLA) to the Multivariate ENSO Index (MEI) shows the negative value. It means that SLA at Indonesian seas have opposite condition. The strong El Nino occurred in 2015 and La Nina occurred in 2010. The SLA difference does not affect the direction of geostrophic current but affect its velocity. The correlation of zonal component geotrophic current to AUSMI 0,720 and WNPMI is 0,446. That means the geostrophic current have the same direction with the wind flow respectively at the moonson season.
M. Ubayu Rizqi Rohmat Tulloh, Yuwono Yuwono, Akbar Kurniawan
Abstract:
Dalam dunia pertambangan batu bara dikenal istilah joint survey. Dalam joint survey yang digunakan parameter pembayaran oleh owner kepada kontraktor adalah volume bersih galian dan timbunan (net volume), oleh karena itu harus diukur dan dihitung dengan metode maupun perangkat lunak yang sesuai. Saat ini perangkat lunak sebagai penunjang kegiatan pertambangan semakin berkembang, berbagai perangkat lunak memiliki kekurangan dan kelebihan tersendiri. Pada penelitian kali ini akan melakukan perhitungan volume bersih galian dan timbunan (net volume) dengan data dari salah satu pit di area tambang PT Anugerah Bara Kaltim yang dipotong menjadi 3 bagian yaitu pit bagian A,B, dan C, perhitungan volume dilakukan dengan menggunakan metode Trapezoidal dan Borrow Pit pada perangkat lunak AutoCAD Civil 3D dimana dari hasil tiap metode akan dibandingkan terhadap nilai hitungan manual sebagai acuan dengan mengacu pada toleransi ASTM (American Society for Testing and Materials) pada tahun 2002 yaitu batas maksimal prosentase selisih hasil perhitungan volume yaitu sebesar 2,78%, selanjutnya akan dianalisa manakah metode yang tepat untuk digunakan dalam pekerjaan perhitungan volume tambang batubara. Pada proses perhitungan volume diberikan 2 perlakuan, yaitu dengan merubah interval section untuk metode trapezoidal dan merubah interval grid untuk metode borrow pit, dari hasil perhitungan volume didapatkan rata-rata nilai selisih volume yang beragam, yaitu pada metode borrow pit sebesar 1,911%, dan metode trapezoidal sebesar 0,427%. Pada perhitungan metode trapezoidal, semakin kecil interval section yang dibuat maka hasil perhitungan akan semakin mendekati volume acuan. Pada perhitungan metode borrow pit, semakin kecil interval grid yang dibuat maka hasil perhitungan akan semakin mendekati volume acuan.In the world of coal mining, the term joint survey is known. In the joint survey, the parameter of payment by the owner to the contractor is used as net volume, therefore, it must be measured and calculated by the appropriate method. Currently, software that supports mining activities is growing. Various software have their own advantages and disadvantages. In this research, we will calculate the net volume with data from one of the pits in the mining area of PT Anugerah Bara Kaltim which is cut into 3 parts, namely pits A, B, and C, the volume calculation is done using the Trapezoidal and Borrow Pit methods on the device. AutoCAD Civil 3D software where the results of each method will be compared to the manual count value as a reference with reference to the tolerance of ASTM (American Society for Testing and Materials) in 2002, which is the maximum percentage difference in volume calculation results, which is 2.78%, then it will analyzed which method is appropriate to use in the work of calculating the volume of coal mines. In the volume calculation process, 2 treatments were given, namely by changing the section interval for the trapezoidal method and changing the grid interval for the borrow pit method, from the volume calculation results obtained the average value of various volume differences, namely the borrowpit method of 1.911%, and the trapezoidal method. by 0.427%. In the calculation of the trapezoidal method, the smaller the section interval made, the calculation results will be closer to the reference volume. In the calculation of the borrow pit method, the smaller the grid interval that is made, the calculation results will be closer to the reference volume.
Aldias Fanan Fauzy, Danar Guruh Pratomo, Muhammad Rohmaneo Darminto, Teguh Sulistian
Abstract:
Indonesia merupakan negara yang memiliki wilayah laut yang luas dengan topografi yang bervariasi. Proses identifikasi topografi membutuhkan teknologi dan pengetahuan terbaru. Untuk dapat mengidentifikasi fitur dasar laut diperlukan penelitian menggunakan teknologi akustik berupa multibeam echosounder sehingga dapat dibuat model kondisi bawah air. Pemetaan detail dasar laut ini memungkinkan untuk menghasilkan gambaran topografi bawah laut yang lebih jelas. Dalam penelitian ini dilakukan identifikasi mengenai keberadaan pegunungan bawah laut di lautan Utara Papua. Data yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari survei batimetri menggunakan multibeam echosounder yang dihasilkan oleh Badan Informasi Geospasial (BIG) bekerja sama dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) pada tahun 2019. Data yang diambil untuk mengoreksi data multibeam echosounder adalah SVP Data (Sound velocity profiler). Penelitian ini dilakukan di lautan bagian Utara Papua yang terbagi menjadi dua lokasi. Hasil identifikasi di lokasi pertama (Lokasi A) menunjukkan luas wilayah 57.666 km² dengan ketinggian 1.978 meter. Objek tersebut terletak kedalaman minimum 1.164 meter dan kedalaman maksimum 3.142 meter. Sedangkan pada lokasi kedua (Lokasi B), ditemukan objek yang memiliki luas sebesar 81,134 km², pada kedalaman minimum 1.997 meter, kedalaman maksimum 3.056 meter, dan memiliki ketinggian 1.059 meter. Hasil identifikasi kedua objek menunjukkan bahwa ketinggian kedua objek tersebut lebih dari 1.000 m, sehingga keduanya dapat dikategorikan sebagai gunung bawah laut atau seamount.Indonesia is a country that has vast sea territory with varied topograph. The topographic identification process requires the latest technology and knowledge. To be able to identify the existence of seabed features, research is needed using acoustic technology in the form of a multibeam echosounder so that models of underwater conditions can be made. This detailed mapping of the seabed is possible to produce a clearer underwater topographic picture. In this study, identification was carried out regarding the existence of undersea mountains in Papua's northern ocean. The data used in this study came from a bathymetry survey using the multibeam echosounder produced by the Badan Informasi Geospapsial (BIG) in collaboration with the Badan Pengkaji dan Penerapan Teknologi (BPPT) in 2019. The data taken to correct the multibeam echosounder data are SVP (Sound velocity profiler) data. This research was conducted in the northern ocean of Papua which is divided into two locations. Based on the identification, the first location (A) has an area of 57,666 km² with 1,978 meters of height. This object is located at a minimum depth of 1,164 meters and a maximum depth of 3,142 meters. At the second location (B) were found an object with an area of 81,134 km², at a minimum depth of 1,997 meters, a maximum depth of 3,056 meters. The height of this object is 1,059 meters. Based on the results these two objects have more than 1,000 meters of height, thus the object can be categorized as an undersea mountain or seamount.
Zenda Mergita Firdaus, Hepi Hapsari Handayani, Husnul Hidayat
Abstract:
Kebutuhan informasi geospasial tiga dimensi (3D) untuk wilayah kota sangatlah penting mengingat kota sebagai pusat kegiatan dengan jumlah bangunan dan infrastruktur yang banyak dan memiliki karakteristik data geospasial yang multi obyek, multi struktur dan bermacam jenis (heterogenitas). Informasi visualisasi data geospasial 3D dapat digunakan sebagai dasar dalam pengambilan keputusan terkait dengan keberlangsungan perencanaan, pembangunan dan operasional infrastruktur di wilayah kota. Dalam membuat 3D city model tentu diperlukan data-data yang mendukung seperti data ketinggian, footprint bangunan, titik vegetasi, dan jaringan jalan. Data tersebut dapat diperoleh dari LiDAR (Light Detection and Ranging) dan foto udara. LiDAR digunakan untuk informasi ketinggian dan foto udara digunakan untuk memodelkan atap. Salah satu metode yang dapat digunakan untuk membuat kota tiga dimensi adalah metode semi-automatis. Metode ini memodelkan seluruh kota menggunakan sistem yang dapat menumbuhkan jaringan. Jaringan dapat diatur dalam beberapa menit dengan proses otomatisasi tetapi jika pengguna ingin diubah, dapat dilakukan secara manual. Hasil yang didapatkan adalah didapatkan lima tipe atap pada lokasi penelitian, yaitu pelana (gable), limas (hip), datar (flat), kubah (dome), dan mansard. Tipe atap yang dominan adalah tipe datar, pelana, dan limas. Sedangkan tipe kubah dan mansard hanya sebagai pelengkap. Jika ditinjau dari tingkat kesulitannya, gedung tinggi jenis apartemen adalah tipe bangunan yang sulit untuk dimodelkan. Kemudian perumahan dan yang paling mudah dimodelkan adalah permukiman. Tingkat kesulitan diukur berdasarkan kompleksitas atap masing-masing bangunan. Kesalahan yang terjadi dalam pemodelan berasal dari kurang atau lebihnya segmentasi atap. Hal ini bisa diatasi dengan mengulang segmentasi atap menggunakan foto udara. Ketelitian geometri keliling yang dihasilkan sebesar 0,92 m dari toleransi sebesar 2 m. Ketelitian luas yang dihasilkan sebesar 0,34% kesalahan luas dari toleransi 2%. Sedangkan ketelitian level of detail (LOD) level 2 sebesar 86,07% dari toleransi 85%. Hal ini menunjukkan bahwa model yang dihasilkan dapat diterima.The need for three-dimensional geospatial information (3D) for urban areas is very important considering the city as a center of activity with a large number of buildings and infrastructure and has the characteristics of multi-object geospatial data, multi-structure and various types (heterogeneity). 3D geospatial data visualization information can be used as a basis for decision making related to the sustainability of planning, construction, and operational infrastructure in urban areas. To establish a 3D city model, supporting data such as elevation, building footprint, vegetation point, and road network are needed. The data can be obtained from LiDAR (Light Detection and Ranging) and aerial photography. LiDAR is used for height information and aerial photography is used to model the roof. One method that can be applied to create three-dimensional cities is the semi-automatic method. This method models the entire city using a system to grow the network. The network can be set up in minutes with the automation process but if the user wants to modify, it can be done manually. The results obtain five types of roofs at the study site, namely the gable, hip, flat, dome, and mansard. The dominant roof types are flat, gable, and hip types. While the type of dome and mansard is only as a supplement. Regarding the level of difficulty, a high-rise apartment is a type of building that is difficult to model. The next difficulty of roof modelling is housing then settlement. The difficulty level is determined based on the complexity of the roof of each building. Errors occuring in modeling come from less or more roof segmentation. This can be overcome by repeating the segmentation of the roof using aerial photographs. The accuracy of the geometry accuracy of circumference is 0.92 m from 2 m. The error of area geometry is about 0.34%, with error tolerance of 2%. While the accuracy of the level of detail (LOD) 2 is 86.07%, with a tolerance of 85%. This reveals that the model provided by this study can be accepted.
Permata Prasindya, Teguh Hariyanto, Akbar Kurniawan
Abstract:
Tanggal 22 Juni 2018 terjadi bencana banjir bandang yang disebabkan oleh tanah longsor di kawasan lereng Gunung Raung di Kecamatan Songgon. Bencana ini menyebabkan ratusan orang mengungsi dan merusak 328 unit rumah. Adanya bencana tersebut, diperlukan analisis terhadap penyebab terjadinya tanah longsor serta melakukan pencegahan dan mitigasi dengan pemetaan potensi tanah longsor. Penelitian ini menggunakan metode analisis Sistem Informasi Geografis (SIG) dan pembobotan Analytical Hierarchy Process (AHP) dengan narasumber pegawai Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Banyuwangi dan Dosen Teknik Geofisika ITS. Parameter penyebab tanah longsor yang digunakan mengacu pada Permen PU No. 22/PRT/M/2007, parameter tersebut antara lain kemiringan lereng, kondisi tanah, batuan penyusun lereng, kondisi hidrologi, curah hujan, kerentanan gerakan tanah dan tutupan lahan. Hasil dari penelitian ini didapatkan bahwa dengan metode AHP, kerentanan gerakan tanah mempunyai pengaruh lebih besar terhadap tanah longsor dengan bobot sebesar 34%, diikuti dengan parameter lain yaitu kemiringan lereng 17%, jenis tanah 14%, curah hujan 14%, jenis batuan 12%, kerapatan sungai 5% dan tutupan lahan 4%. Selanjutnya, didapatkan tiga kelas potensi tanah longsor yaitu potensi rendah sebesar 9.527,09 Ha, potensi sedang sebesar 8.410,19 Ha dan potensi tinggi sebesar 3.283,23 Ha dengan daerah yang berpotensi tinggi terhadap potensi tanah longsor yaitu Desa Bayu dan Desa Sumberarum di Kecamatan Songgon.On June 22 2018, there was a flash flood disaster caused by landslides on the slopes of Mount Raung in Songgon Sub-District. This disaster caused hundreds of people to flee and damaged 328 housing units. The existence of this disaster requires an analysis of the causes of landslides as well as prevention and mitigation by mapping the potential for landslides. This research uses Geographical Information System (GIS) analysis method and weighting of Analytical Hierarchy Process (AHP) with the resource persons of the Banyuwangi Regional Disaster Management Agency and Geophysical Engineering lecturers-ITS. The parameters that cause landslides used refer to Permen PU No. 22 / PRT / M / 2007, these parameters include slope, soil conditions, rock making up slopes, hydrological conditions, rainfall, soil movement vulnerability and land cover. The results of this study found that with the AHP method, soil movement susceptibility has a greater effect on landslides with a weight of 34%, followed by other parameters, namely 17% slope, 14% soil type, 14% rainfall, 12% rock type. , 5% river density and 4% land cover. Furthermore, three classes of landslide potential were obtained, namely low potential of 9,527.09 hectares, medium potential of 8,410.19 hectares and high potential of 3,283.23 hectares with areas that have high potential for landslides, namely Bayu Village and Sumberarum Village in Songgon Sub-District.
Asyfi’Na Shofiyal Izza, Cherie Bhekti Pribadi, Yanto Budisusanto
Abstract:
Kabupaten Rembang merupakan salah satu kawasan yang berada di pesisir pantai utara jawa dengan luas sebesar 101.408 ha yang secara geografis terletak pada 6o30’- 7o 6’LS dan 111o – 111o30’ BT dengan garis pantai sepanjang 63 km. Panjangnya garis pantai di Kabupaten Rembang memungkinkan banyaknya aktivitas di wilayah pesisir yang akan berdampak pada banyaknya penggunaan lahan yang tidak sesuai dengan ketentuan semestinya yang banyak mengakibatkan abrasi. Fenomena abrasi yang terjadi pada 30 agustus 2019 di Kecamatan Kragan Kabupaten Rembang yang mengikis pantai sejauh 15 m dengan panjang 1,5 km. Mengingat besarnya ancaman bencana abrasi yang melanda Kabupaten Rembang maka perlu adanya evaluasi penggunaan lahan pada wilayah pesisir terutama di kawasan sempadan pantai. Pada penelitian ini akan dilakukan analisis mengenai kesesuaian kawasan terbangun (Land Use) di area sempadan pantai dengan peta rencana tata ruang wilayah (Land Development). Selanjutnya akan ditampilkan dalam bentuk ArcGIS Online yang akan memudahkan dalam mengakses peta. Hasil dari penelitian yang dilakukan diperoleh empat kelas pada peta rencana tata ruang wilayah yaitu berupa peruntukan pemukiman, industri, sempadan pantai, dan hutan. Selanjutnya luas tertinggi kesesuaian rencana tata ruang wilayah (RTRW) dan kondisi eksisiting adalah untuk kelas industri sebesar 163,497 Ha, pemukiman sebesar 45,798 Ha, sedangkan untuk peruntukan sempadan pantai dan hutan tidak ada luasan yang sesuai dengan rencana tata ruang wilayahnya. Rembang Regency is one of the areas that located on the north coast of Java Sea with an area of 101.408 Ha which is geographic located at 6o30’- 7o 6’S dan 111o – 111o30’ E and coastline 63 Km from Kaliori to Sarang. The magnitude of the coastline in Rembang Regency make amount of activity in the Coastal region which will have an impact on the amount of land use that is not in accordance with the plan, make abrasion happened. As on August 30, 2019, abrasion occurred in Kragan, Rembang Regency, which eroded the coast as far as 15 m with a length of 1.5 km. Given the magnitude of the emergency abrasion problem that is affecting Rembang Regency, it is necessary to evaluate land use expecially in coastal areas. In this study an analysis will be made of the suitability of the built area (Land Use) in the coastal border area with a regional spatial plan map. Furthermore, it will facilitate in the form of ArcGIS Online which will facilitate accessing maps. The results of the research carried out obtained four classes on the spatial map of the territory consisting of the allotment of settlements, industry, coastal borders, and forests. Furthermore, the area in accordance with the suitability of the spatial plan and the existing conditions for the industrial class is 163.497 Ha, settlement is 45.798 Ha, while for the designation of the coast and forest border there is an area in accordance with the spatial plan of the area.
Danang Dwi Nugroho, Hary Nugroho
Abstract:
Kabupaten Bandung Barat adalah salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Barat dengan potensi gerakan tanah yang tinggi, sehingga sangat rentan terhadap kejadian tanah longsor. Hal ini dipicu oleh kondisi topografi yang beragam dan memungkinkan kejadian ini akan terus terjadi di masa depan. Salah satu metode yang sering digunakan dalam pemetaan kerentanan tanah longsor adalah frequency ratio. Metode ini bertujuan untuk mengidentifikasi wilayah rentan tanah longsor berdasarkan data kejadian longsor di masa lalu yang pada gilirannya dapat dijadikan parameter untuk mitigasi bencana longsor. Metode ini diaplikasikan menggunakan aplikasi GIS dengan data-data sekunder seperti DEM, peta tutupan lahan, data curah hujan, peta geologi, dan peta klasifikasi tanah. Data tersebut merepresentasikan faktor-faktor yang memengaruhi tanah longsor yaitu kemiringan lereng, elevasi, arah kemiringan lereng, tutupan lahan, curah hujan, jenis tanah, jarak sesar, dan batuan geologi. Faktor-faktor tersebut ditumpangtindihkan menjadi peta raster (20 m) dan menghasilkan nilai frequency ratio. Nilai tersebut diklasifikasikan menjadi 5 zona kerentanan longsor yaitu tidak rentan, sedikit rentan, cukup rentan, rentan, dan sangat rentan. Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat 7 faktor pengkondisi tanah longsor yang memengaruhi kerentanan tanah longsor. Hasil uji akurasi ini menghasilkan peta kerentanan tanah longsor dengan nilai akurasi sebesar 79,7% sehingga dapat diterapkan dalam upaya mitigasi tanah longsor.West Bandung regency is one of the districts in West Java Province with high potential for land movement, making it very vulnerable to landslide events. This is triggered by diverse topographic conditions and allows these events to continue to occur in the future. One of the methods often used in mapping landslide vulnerabilities is frequency ratio. This method aims to identify landslide-prone areas based on data on past landslide events that in turn can be used as parameters for landslide disaster mitigation. This method is applied using GIS application with secondary data such as DEM, land cover map, rainfall data, geological map, and land classification map. The data represents factors that affect landslides, namely slope, elevation, slope direction, land cover, rainfall, soil type, fault distance, and geological rocks. These factors are overlayed into raster maps (20 m) and produce frequency ratio values. These values are classified into 5 landslide vulnerability zones that are not vulnerable, slightly vulnerable, vulnerable enough, vulnerable, and highly vulnerable. The results of this study showed there are 7 factors of landslide conditioning that affect the vulnerability of landslides. This accuracy test resulted in a landslide vulnerability map with an accuracy value of 79.7% so that it could be applied in landslide mitigation efforts.
Doni Muslim Cahya, Yuwono Yuwono, Akbar Kurniawan
Abstract:
Proses penggalian pada area pertambangan menyebabkan perubahan topografi secara terus menerus. Oleh karena itu diperlukan pengukuran yang berkala untuk memastikan ketersedian data topografi. Dalam pengamatan posisi di bawah tanah, penentuan titik kontrol dan detil situasi adalah kunci dari kegiatan survei topografi. Penggunaan metode Wall Station memiliki kestabilan posisi yang cukup baik karena bertempat pada dinding Decline, dan pada metode ini alat ukur tidak dapat berdiri pada titik Wall Station dan harus menggunakan metode yang lain untuk perhitungan koordinat. PT. Bumi Suksesindo merupakan perusahaan pertambangan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) dengan konsesi utama di Tujuh Bukit Operation. Dalam pengelolaan minesite, PT. Bumi Suksesindo menggunakan metode Undeground Project. Dimana penentuan posisi dan pendapatan titik kontrol, dilakukan dengan metode Pengikatan Ke belakang, dengan menggunakan bantuan alat Total Station dan Wall Station. Kegiatan pengamatan titik kontrol ini dilakukan pada 6 titik Wall Station yang berada didalam tambang bawah tanah yaitu Wall Station DC1 18, 20 25, 42, 46, dan 48. Pengamatan ini akan dibandingkan dengan koordinat acuan yang telah dikoreksi oleh pihak PT. Bumi Suksesindo untuk menghasilkan nilai koreksi secara rutin. Pada penelitian ini menghasilkan nilai selisih dan RMSE pada masing masing titik Wall Station. Metode pengamatan pengukuran poligon tertutup dengan perhitungan Kuadrat Terkecil pada Poligon Box Cut menghasilkan nilai selisih koordinat dan RMSE pada Wall Station DC1-18 dengan nilai error 0,00031 m, DC1-20 dengan nilai error 0,00144 m, DC1-25 dengan nilai error 0,00113 m, DC1-42 dengan nilai error 0,00315 m, DC1-46 dengan nilai error 0,00320 m, DC1-48 dengan nilai error 0,00288 m.The excavation process in the mining area causes continuous topographic changes. Therefore, periodic measurements are needed to ensure the availability of topographic data. In observing the position below the ground, determining the control point and the details of the situation is the key to the topographic survey activities. The use of the Wall Station method has a fairly good position stability because it is located on the Decline wall, and in this method the measuring instrument cannot stand on the Wall Station point and must use another method for calculating coordinates. PT. Bumi Suksesindo is a Domestic Investment (PMDN) mining company with the main concession in the Tujuh Bukit Operation. In managing minesite, PT. Bumi Suksesindo uses the Underground Project method. Where the determination of the position and income of control points, is carried out by Resection method, using the help of Total Station and Wall Station tools. This control point observation activity will be carried out at 6 Wall Station points inside the underground mine, namely DC1 18, 20 25, 42, 46, and 48 Wall Station. These observations will be compared with the reference coordinates corrected by PT. Bumi Suksesindo to produce corrected values routinely. This research produces the difference value and RMSE at each Wall Station point. The observation method using closed polygons with the calculation of least squares on the box cut polygons results in the difference between the coordinates and the RMSE. Wall Station DC1-18 resulted an error value of 0.00031 m, DC1-20 with an error value of 0.00144 m, DC1-25 with an error value of 0, 00113 m, DC1-42 with an error value of 0.00315 m, DC1-46 with an error value of 0.00320 m, DC1-48 with an error value of 0.00288 m.
Anzhari Hibatul Akbar, Mokhamad Nur Cahyadi
Abstract:
Covid-19 merupakan penyakit pernapasan diperkirakan menyebar terutama di antara orang-orang yang berhubungan dekat satu sama lain dalam jarak kurang lebih dua meter. Tercatat pada tanggal 06 Juni 2020 di Surabaya terdapat 3906 kasus ODP, 3303 kasus PDP, 2918 kasus konfirmasi Covid-19. GNSS merupakan metode penentuan posisi menggunakan satelit, yang dapat digunakan banyak orang sekaligus, untuk mendapatkan posisi tiga dimensi. SIG merupakan ilmu pengetahuan yang berbasis pada perangkat lunak komputer, yang digunakan untuk memberikan informasi bentuk digital dan analisis terhadap permukaan geografi bumi. Dengan menggabungkan data spasial sebaran kasus Covid-19 di Kota Surabaya dan penentuan posisi pada GNSS smartphone, diharapkan dapat memberikan informasi terkait kondisi kesehatan masyarakat Kota Surabaya khususnya terkait Covid-19, dan juga mempermudah akses informasi karena berbasis aplikasi. Pembuatan aplikasi menggunakan flutter dan juga visual basic code. GNSS pada smartphone berfungsi untuk mengetahui nilai akurasi dengan aplikasi GPS Essentials dan untuk fitur-fitur pada aplikasi seperti penentuan lokasi pengguna, notifikasi sesuai lokasi pengguna, dan penentuan rute menuju suatu titik. Data yang digunakan adalah data sebaran Covid-19 pada 06 Juni 2020, data sebaran fasilitas kesehatan, dan fasilitas umum protokol kesehatan. Pada kelurahan dengan tingkat kasus Covid-19 tertinggi tidak selalu memiliki fasilitas umum protokol kesehatan yang sedikit tetapi yang banyak pun bisa menjadi kelurahan dengan tingkat kasus Covid-19 tertinggi, dan sebaran rumah sakit rujukan Covid-19 tidak ada yang berlokasi di kelurahan dengan tingkat kasus Covid-19 tertinggi. Berdasarkan hasil kuesioner, aplikasi yang dibuat mendapat tanggapan yang baik. Aplikasi yang dibuat dinamakan “Cegah Covid-19 Surabaya” saat ini mampu dijalankan di smartphone android pada versi Android 10, Pie, Oreo, Nougat, Marshmallow, dan Lollipop.Covid-19 is a respiratory disease that is thought to spread mainly between people who are in close contact with each other within a distance of approximately two meters. It was recorded that on June 6, 2020 in Surabaya there were 3906 ODP cases, 3303 PDP cases, 2918 cases of Covid-19 confirmation. GNSS is a method of positioning using satellites, which can be used by many people at once, to get a three-dimensional position. GIS is a science based on computer software, which is used to provide digital form information and analysis of the Earth's geographic surface. By combining the spatial data on the distribution of Covid-19 cases in the City of Surabaya and positioning on the GNSS smartphone, it is hoped that it can provide information regarding the health conditions of the people of Surabaya City, especially regarding Covid-19, and also facilitate access to information because it is application-based. Creating applications using flutter and visual basic code. GNSS on smartphones functions to find out the accuracy value with the GPS Essentials application and for features in the application such as determining the user's location, notifications according to the user's location, and determining the route to a point. The data used are data on the distribution of Covid-19 on June 6, 2020, data on the distribution of health facilities, and health protocols facilities. In sub-districts with the highest Covid-19 case rates, they do not always have a few public health protocol facilities, and none of the Covid-19 referral hospitals are located in the sub-districts with case rates Highest Covid-19. Based on the results of the questionnaire, the applications made received good responses. The application called “Cegah Covid-19 Surabaya” is currently able to run on Android smartphones on versions of Android 10, Pie, Oreo, Nougat, Marshmallow, and Lollipop.
Markus Juliano Sinaga, Mokhamad Nur Cahyadi, Danar Guruh Pratomo, Nobuhiro Kishimoto, Dwi Hariyanto
Abstract:
Pasang surut air laut merupakan variasi vertikal muka air laut. Pasang surut air laut merupakan salah satu komponen penting dalam survei batimetri. Pada survei batimetri secara umum, pengamatan pasang surut air laut dilakukan dengan menggunakan rambu pasut di lokasi survei batimteri. Seiring berkembangnya teknologi, penggunaan Global Navigation Satellite System (GNSS) semakin memungkinkan dalam survei batimetri. Selain dalam penentuan posisi horisontal, GNSS juga dapat digunakan untuk menentukan posisi vertikal. Salah satu sistem GNSS yang akurat saat ini adalah Quasi-Zenith Satellite System (QZSS) milik Jepang. Sistem ini memiliki satelit yang selalu mengorbit di sebagian wilayah Indonesia sehingga akan memberikan layanan pemosisian satelit yang sangat akurat. Pada penelitian ini, data pengamatan diperoleh dari receiver multi-frekuensi dan multi-GNSS. Receiver tersebut dapat menerima sinyal dari sistem QZSS. Data pengamatan tersebut kemudian dibandingkan dengan model prediksi pasang surut milik Badan Informasi Geospasial (BIG). Selanjutnya, dilakukan analisis untuk melihat tingkat kesalahan pola yang dihasilkan dari kedua data tersebut. Uji tingkat kesalahan dilakukan dengan perhitungan Root Mean Square Error (RMSE). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa nilai RMSE maksimum dan minimum pada perbandingan pengamatan pasut QZSS dan prediksi pasut BIG masing-masing sebesar 2,317 m dan 0,176 m dari total 11 hari pengamatan. RMSE maksimum terjadi pada 10 Agustus 2019 dan minimum pada 9 Agustus 2019. Selain pada tanggal 9 Agustus 2019, hasil yang baik juga diperoleh pada tanggal 8, 12, 14, 15, dan 16 Agustus 2019 dengan nilai RMSE kurang dari setengah meter.Tide is a vertical variation of sea level. The tide of seawater is an essential component of a bathymetric survey. In general, tide observations are carried out by using tide poles at the survey site for bathymetry. As technology has developed, the use of the Global Navigation Satellite System (GNSS) has become increasingly possible in bathymetric surveys. Apart from determining the horizontal position, GNSS can also be used to determine the vertical position. One of the most accurate GNSS systems today is Japan's Quasi-Zenith Satellite System (QZSS). This system has satellites that are always orbiting in parts of Indonesia so that it will provide highly accurate satellite positioning services. In this study, observational data were obtained from multi-frequency and multi-GNSS receivers. The receiver can receive signals from the QZSS system. The observational data are then compared with the Geospatial Information Agency (BIG)'s tidal prediction model. Furthermore, an analysis was carried out to see the pattern error rate resulting from the two data. Error level test is done by calculating Root Mean Square Error (RMSE). This study's results indicate that the maximum and minimum RMSE values in the comparison of QZSS tidal observations and BIG tidal predictions are 2.317 m and 0.176 m, respectively, from a total of 11 observation days. The maximum RMSE occurred on 10 August 2019 and the minimum on 9 August 2019. Apart from 9 August 2019, good results were also obtained on 8, 12, 14, 15, and 16 August 2019 with an RMSE value of less than half a meter.
Haris Hakim Prasetyo, Khomsin Khomsin, Danar Guruh Pratomo
Abstract:
Terbentuknya Peraturan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Nomor 141 Tahun 2017 tentang Penegasan Batas Daerah yang mengacu kepada Undang – Undang Nomor 23 Tahun 2014. Sehinga ketentuan tersebut merupakan pedoman dalam penentuan delimitasi batas. Secara geografis Provinsi Maluku Utara memiliki pulau – pulau yang saling berdekatan dengan berbagai ukuran tipe, dengan mengesampingkan faktor sosial budaya Provinsi Maluku Utara dapat dikatakan sebagai provinsi yang berciri kepulauan. Provinsi Maluku Utara berbatasan langsung dengan Provinsi Papua Barat jarak antara kedua Provinsi tersebut kurang dari 24 mil maka dari itu perlu diadakan delimitasi batas wilayah pengelolaan laut. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan luas wilayah pengelolaan laut dan batas wilayah pengelolaan laut Provinsi Maluku Utara. Dalam penelitian ada dua baseline yang digunakan, yaitu Normal Baseline menurut Permendagri No.141/2017 dan Archipelagic Baseline berdasarkan Rancangan Undang – Undang (RUU) tentang Percepatan Pembangunan Daerah Kepulauan. Hal ini yang menyebabkan perbedaan penarikan batas pengelolaan laut pada kedua Provinsi yang mengakibatkan perubahan pada luas wilayah pengelolaan laut. Perubahan pada baseline mengakibatkan perubahan point – point yang digunakan dalam pembentukan thieseen polygon. Hal ini yang menyebabkan perbedaan penarikan batas pengelolaan laut pada kedua Provinsi. Perbedaan kedua baseline ini akan menentukan wilayah pengelolaan laut. Luas wilayah pengelolaan laut Provinsi Maluku Utara dengan menggunakan normal baseline sebesar 88.743,06 km2, sedangkan dengan menggunakan archipelagic baseline berdasarkan RUU sebesar 152.958,92 km2. Penelitian ini diharapkan menjadi referensi terkait penegasan kewenangan pengelolaan laut daerah bagi pemerintah daerah maupun instansi yang berwenang dan memberikan alternatif penegasan batas daerah di Provinsi Maluku Utara.Establishment Permendagri No. 141 year 2017 on the affirmation of regional boundaries referring to Undang – Undang No. 23 year 2014. These provisions are guidelines in determining boundary delimitation. Geographically, the province of North Maluku has islands that are adjacent to various types of type, by putting aside the socio-cultural factors of North Maluku Province can be said to be an archipelago-characterized province. North Maluku Province is directly adjacent to West Papua province the distance between the two provinces is less than 24 miles hence it is necessary to place the delimitation of the boundary of the Sea management area. This research aims to determine the area of marine management and boundaries of the Sea management region of North Maluku province. In this study, there are two baselines used, namely normal baseline according to Permendagri No.141 / 2017 and archipelagic baseline according to Rancangan Undang – Undang (RUU). Changes to the baseline result in point-point changes used in the Thieseen polygon formation. This led to the difference in the withdrawal of sea management boundaries in both provinces which resulted in a change in the area of marine management. These two baseline differences will determine the area of marine management. The area of marine management in North Maluku Province using the normal baseline is 88,743.06 km2 while using the archipelagic baseline based on RUU is 152,958.92 km2. This research is expected to be a reference to the affirmation of regional marine Management Authority for local government and authorized agencies and provide an alternative to an affirmation of regional boundaries in North Maluku province.
Savira Salsabila Firdaus, Yanto Budisusanto, Udiana Wahyu Deviantari
Abstract:
Kabupaten Madiun merupakan salah satu kabupaten di Indonesia yang memiliki kepadatan dengan proporsi 673 penduduk per hektar. Salah satu desa yang ada di Kabupaten Madiun yaitu Desa Bener memiliki kepadatan penduduk yang tinggi, yakni sebesar 1.376 jiwa per km2(1). Dengan kepadatan penduduk yang cukup tinggi ini diperlukan adanya kegiatan penarikan PBB secara lebih efisien. Namun dalam kegiatan penarikan PBB masih dilakukan secara manual oleh pihak Kantor Desa Bener(2). Oleh karena itu dibutuhkan suatu daya tampung dalam menghimpun basis data PBB yang sistematis sehingga dapat digunakan dalam penyelenggaraan komputerisasi untuk meningkatkan efektivitas. Sebagai peran yang perlu dilakukan untuk memaknai adanya fungsi pertanahan secara maksimal dari segi spasial, maka dalam penelitian ini memiliki tujuan untuk melakukan visualisasi status atau kondisi PBB terkait dengan kewajiban para Wajib Pajak, terutama untuk memberikan informasi tentang pajak terhutang agar mempermudah dalam pengelolaan pemungutan PBB. Informasi ini diperlukan juga untuk mengetahui objek dengan nilai PBB tinggi harus didahulukan penagihannya.Madiun Regency is one of the districts in Indonesia with a population density with a population of 673 inhabitants per hectare. One of the villages in Madiun Regency is Bener Village with a high population density of 1,376 people per km2 (1). With a high enough population, a more efficient UN withdrawal activity is needed. However, PBB withdrawal activities are still carried out manually by the Bener Village Office (2). Therefore a capacity is needed in compiling a systematic PBB database so that it can be used in computerization to increase effectiveness. As a role that needs to be done to interpret the existence of a land function maximally from a spatial perspective, this study aims to visualize the status or condition of the PBB related to the obligations of taxpayers, especially to provide information about payable taxes to facilitate the management of PBB collection. The information needed to view objects with PBB value must take precedence for the billing.
Mahardi Wirantiko, Hepi Hapsari Handayani, Agung Budi Cahyono
Abstract:
Digital Terrain Model (DTM) merupakan model medan digital yang memuat informasi ketinggian permukaan tanah (bare earth surface) tanpa terpengaruh oleh vegetasi atau fitur buatan manusia lainnya, sedangkan Digital Surface Model (DSM) merupakan representasi permukaan bumi yang memuat lebih banyak informasi ketinggian termasuk semua objek yang berada di atas permukaan bumi seperti vegetasi, gedung, dan fitur lainnya. Perlu dilakukan percepatan dalam penyediaan informasi geospasial, dalam hal ini DTM sebagai unsur pembentuk peta topografi skala besar. Untuk itu diperlukan metode pembentukan DTM yang lebih efektif. Sehingga tujuan pada penelitian ini adalah mengkaji metode yang dapat menghasilkan DTM secara otomatis dan menghasilkan DTM turunan yang mendekati akurat. Pada penelitian ini metode yang digunakan untuk dikaji yaitu Slope Based Filtering (SBF) atau metode penyaringan berbasis lereng dan Grid Based Filtering (GBF) atau Metode Penyaringan Berbasis Grid. Terdapat dua daerah yang diteliti. Pada area pertama yaitu lokasi yang memiliki karakteristik daerah padat penduduk sehingga terdapat banyak bangunan yang saling berhimpit, area tersebut berlokasi di Kelurahan Wonokromo, Surabaya Selatan. Pada area kedua yaitu lokasi yang memiliki karakteristik terbuka, sedikit pemukiman dan banyak medan datar dan kosong, area tersebut berlokasi di Kelurahan Lontar, Surabaya Barat. Hasil data dari kedua metode tersebut kemudian dibandingkan terhadap DTM Stereoplotting yang digunakan sebagai referensi. Perbandingan tersebut berupa geomorfologi atau visualisasi, dan ketelitian geometri vertikal. Hasil dari penelitian ini menunjukkan metode Slope Based Filtering memiliki keakuratan yang lebih tinggi dibandingkan dengan Grid Based Filtering. Hal tersebut dibuktikan oleh hasil klasifikasi pengolahan data menggunakan delapan parameter pada masing-masing metode. Rata-rata RMS Error yang diperoleh di Wonokromo lebih kecil yaitu 0,605 meter dibandingkan dengan Kelurahan Lontar sebesar 1,605 m. Kelurahan Wonokromo memiliki rata-rata skala ketelitian peta 1: 2.500 sedangkan Kelurahan Lontar memiliki rata-rata kelas ketelitian peta 1: 5.000. Secara visual geomorfologi yang dihasilkan dari metode SBF lebih halus dibandingkan dengan GBF yang masih kasar.Digital Terrain Model (DTM) is a digital terrain model that only contains ground level information (bare earth surface) without being affected by vegetation or other man-made features. While Digital Surface Model (DSM) is a representation of the earth's surface that contains more height information including all objects that are located on the surface of the earth such as vegetation, buildings, and other features. It is necessary to accelerate the provision of geospatial information, in this case DTM as an element of forming large-scale topographic maps. For this reason, a more effective DTM formation method is needed. The study was conducted to examine methods that can produce DTM automatically, in order to obtain a fast and efficient mapping method. In this study the method used are Slope Based Filtering (SBF) and Grid Based Filtering (GBF) method. Those approaches are applied in two different characteristics of study area. In the first area, which is a location that has characteristics of densely populated areas so that there are many buildings that coincide with each other, the area is located in Wonokromo Sub-District, South Surabaya. The second area has characteristics of open space with few settlements and a lot of barelands. The area is located in Lontar Village, West Surabaya. The results of the data processing based on two methods are then compared to the Stereoplotting DTM used as a reference. The comparison is performed as geomorphology analysis or visualization, and vertical geometry accuracy. The results of this study indicate that SBF method has a higher accuracy compared to the one of GBF. This is revealed by the results of the classification of data processing using eight parameters in each method. The average of RMS Error obtained in Wonokromo is smaller that is 0.605 meters compared to Lontar Village of 1.605 m. Wonokromo has an average map accuracy scale of 1: 2,500 while Lontar which has an average map accuracy class of 1: 5,000. Visually, the geomorphology produced from the SBF method is finer than the GBF which is still rough.
Rifqi Rabbani Kusumah, Teguh Hariyanto, Akbar Kurniawan
Abstract:
PT Pertamina Hulu Energi (PHE) sebagai perusahaan holding yang mempunyai 52 Anak Perusahaan Hulu memerlukan teknologi terkini dalam melakukan manajemen data. Salah satu manajemen data yang dilakukan untuk kegiatan evaluasi pematangan propsek migas berupa data seismik dan nonseismik. Permasalahan yang terjadi adalah data-data tersebut masih berupa laporan kertas dan spreadsheet yang kompleks. Kondisi tersebut akan menyulitkan analyst di PT Pertamina Hulu Energi untuk mengintegrasikan dan meninjau kembali data-data tersebut. Oleh karena itu pada penelitian ini akan memanfaatkan cloud geospasial self-managed services untuk katalog data seismik dan nonseismik. Pengumpulan data seismik dan nonseismik akan disesuaikan sesuai standar yang ada. Kemudian katalog data seismik dan nonseismik masuk ke perangkat lunak sistem informasi geografis untuk dilakukan publish data ke cloud geospasial yang bersifat online. Dari sistem online tersebut akan dikembangkan aplikasi untuk menunjang manajemen katalog data seismik dan nonseismik berupa web app, operations dashboard, dan story maps. Web app berguna untuk menampilkan web map, dan melakukan query. Operations Dashboard berguna untuk menampilkan infografik progress pengisian data. Story maps berguna untuk melihat ringkasan singkat hasil studi nonseismik. Dalam penerapannya sistem cloud geospasial akan berfungsi sebagai storage pengumpulan data yang bisa dilakukan update secara berkala dan hanya dapat diakses oleh PT Pertamina Hulu Energi.PT Pertamina Hulu Energi (PHE) as a holding company that has 52 upstream subsidiaries requires the latest technology in data management. One of the data management carried out to evaluate oil and gas prospects is in the form of seismic and nonseismic data. The problem is that the data is still in the form of paper-based reports and complex spreadsheets. This condition will make it difficult for analysts at PHE to integrate and review these data. Therefore, this research will utilize geospatial cloud self-managed services for seismic and nonseismic data catalogs. Seismic and nonseismic data collection will be adjusted according to standards. Then the seismic and nonseismic data catalogs enter the geographic information system software to publish data to the online geospatial cloud. From this online system, an application will be developed to support management of seismic and nonseismic data catalogs likes a web app, operations dashboard, and story maps. Web app is useful for displaying web maps, widgets, and performing queries. Operations Dashboard is useful for displaying infographics of data entry progress. Story maps are useful for viewing a brief summary of the results of a nonseismic study. In its application, the geospatial cloud system will function as data collection storage that can be updated regularly and can only be accessed by PHE.
Danar Guruh Pratomo, Cherie Bhekti Pribadi, Yoga Pradana Karra
Abstract:
Sistem kabel bawah laut penting karena menghubungkan antarpulau. Tujuan kabel bawah laut adalah untuk menyediakan energi dan komunikasi antar pulau,, terutama untuk negara maritim seperti Indonesia. Studi ini menganalisis karakteristik fisik lautan, fitur dasar laut, dan jalur pelayaran di mana rute kabel akan diletakkan. Informasinya diolah menjadi peta klasifikasi lereng bawah laut, peta klasifikasi sedimen dasar laut, peta anomali magnetik, dan peta jalur pelayaran. Penelitian ini menggunakan pendekatan SIG (Sistem Informasi Geografis) untuk membuat area desain rute kabel. Berdasarkan penelitian ini, peta rekomendasi untuk area desain jalur kabel bawah laut divisualisasikan ke dalam tiga kategori: aman dan direkomendasikan, risiko sedang, dan risiko tinggi. Ada 4178 lokasi yang dikategorikan sebagai zona aman dan direkomendasikan dengan total luas 293025 m2, 1392 lokasi dikategorikan sebagai zona risiko sedang dengan total luas 108313 m2, dan 223 lokasi dikategorikan sebagai zona berisiko tinggi dengan total area 11827 m2.
Udiana Wahyu Deviantari, Andi Nurul W. P., Andy Dediyono
Abstract:
Surabaya adalah kota terbesar kedua di Indonesia. Karena itu, banyak warga yang pergi ke kota ini untuk mendapatkan pekerjaan alih-alih bekerja di kota asal mereka. Namun, karena urbanisasi yang pasif itu membuat kebutuhan masyarakat akan rumah semakin besar sementara ketersediaan lahan terbatas. Ketika permintaan tanah lebih tinggi dari tanah yang tersedia maka harga tanah akan lebih tinggi. Dua sumber pendapatan lokal adalah PBB (Pajak Bumi dan Bangunan) dan BPHTB (Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan) di mana pengimporan dasarnya adalah NJOP (Nilai Jual Objek Pajak) untuk PBB dan NPOP untuk BPHTB. Namun, dalam hal ini NPOP (Nilai Perolehan Objek Pajak) disamakan dengan NJOP karena sumber pendapatan pajak yang sama yaitu komparatif penjualan. Asesmen massa digunakan dalam penelitian ini dengan pertimbangan lokasi memiliki luas wilayah. Oleh karena itu, zona nilai tanah harus ditumpang tindih dengan rencana tata ruang terperinci untuk menghitung potensi pendapatan PBB dan BPHTB. Zona industri memiliki kesesuaian lahan tertinggi 99,22% dengan luas 857.121.718 m2. Peningkatan pendapatan lokal melalui potensi pendapatan PBB dan BPHTB menunjukkan angka positif atau peningkatan nilai di setiap zona.
Teguh Hariyanto, Cherie Bhekti Pribadi, Rino Harmasdiyono
Abstract:
PT Pertamina EP adalah perusahaan yang menyelenggarakan kegiatan usaha di sektor hulu bidang minyak dan gas bumi, meliputi eksplorasi dan eksploitasi. Survei seismik adalah tahapan awal dalam pencarian minyak dan gas di bawah permukaan bumi. Tahapan pelaksanaan survei seismik meliputi pekerjaan topografi (pengukuran lintasan, rintis, dan bridging), pemboran (drilling) dengan pengisian bahan peledak (preloading), perekaman data (recording), dan pengolahan data seismik yang dilakukan di lokasi survei. Pemantauan kegiatan survei seismik dilakukan secara intensif dan efektif oleh PT Pertamina EP untuk mendapatkan kualitas data yang baik.Pada penelitian ini, penulis mendokumentasikan inovasi mengenai pembuatan Operation Dashboard berbasis aplikasi WebGIS untuk monitoring aktivitas survei seismik PT Pertamina EP. Aplikasi tersebut dibangun secara enterprise menggunakan piranti lunak dari Esri untuk menampilkan informasi spasial kepada pengguna. Data yang bersifat dinamis juga dapat diimplementasikan menggunakan tools update hosted layer to ArcGIS OnlineHasil dari penelitian ini adalah aplikasi WebGIS yang dapat diakses oleh user secara real time dan komunikatif dalam bentuk Operation Dashboard. Total pekerjaan kemajuan pengawasan topografi survei seismik pada bulan April 2017 (4 bulan pengerjaan lapangan) adalah selesai 23%. Dengan penggunaan aplikasi Operation Dashboard, progress monitoring survei seismik dapat dilakukan secara efisien, keamanan data terjaga, dan kualitas akuisisi data seismik dilapangan khususnya data topografi dapat diperoleh sesuai standar yang berlaku di PT Pertamina EP.
Ira Mutiara Anjasmara, Yan Adrian Sidharta
Abstract:
Berdasarkan Provinsi Jawa Timur Dalam Angka tahun 2017, jumlah penduduk di Kota Surabaya menduduki peringkat pertama di Provinsi Jawa Timur. Dengan jumlah penduduk yang besar, dibutuhkan pembangunan kota yang sesuai. Pembangunan ini akan memberikan beban secara fisik terhadap permukaan tanah sehingga menyebabkan deformasi. Adanya deformasi dapat diketahui dengan melakukan pengamatan selama dua atau lebih periode pada beberapa titik di wilayah tersebut. Perencanaan titik pengamatan deformasi harus dibuat sebaik mungkin agar parameter deformasi dapat dihitung secara akurat. Oleh karena itu, optimasi desain jaring pengamatan dibutuhkan. Kegiatan desain dan optimasi dapat diselesaikan melalui perhitungan matematis. Dengan dasar tersebut maka dalam penelitian ini, dilakukan optimasi desain jaring pengamatan deformasi di Kota Surabaya. Hal yang dioptimasi adalah presisi. Selain itu, faktor lain seperti reliabilitas dan biaya menjadi faktor yang harus dikontrol pada proses pembuatan jaring. Dari hasil optimasi jaring, didapatkan desain III sebagai desain yang optimal dibandingkan dengan desain lainnya. Desain III memiliki presisi maksimum pada titik BM16 sebesar 0.605 mm dan presisi maksimum pada titik BM02 sebesar 1.619 mm. Kekuatan geometri jaring desain III sebesar 0.145. Desain III mampu meminimalisir biaya sebesar 44% jika dibandingkan terhadap desain jaring dengan maksimum pengamatan.
Danar Guruh Pratomo, M Dwiki Amirullah
Abstract:
Salah satu instrument akustik yang digunakan untuk pengukuran dasar perairan adalah Sub Bottom Profiler. Instrument ini menggunakan sinyal akustik frekuensi rendah yang memiliki kemampuan untuk menembus lapisan dasar laut sampai dengan kedalaman beberapa meter. Tujuan dari survei menggunakan Sub Bottom Profiler yaitu untuk melakukan investigasi dan identifikasi lapisan dasar laut sehingga diperoleh informasi penting yang berhubungan dengan stratigrafi dasar laut. Lokasi penelitian berada pada Alur Pelayaran Timur Surabaya. Data sekunder berupa Raw data Sub bottom profiler, Raw data single beam, serta data pasut dan SVP yang telah diolah. Data tersebut diperoleh dari Distrik Navigasi Kelas 1 Surabaya. Lokasi penelitian merupakan perairan yang digolongkan sebagai perairan dangkal. Hal ini dapat dilihat dari nilai kedalaman yang berkisar antara 2,51- 5,95 m terhadap LWS. Intepretasi kulitatif citra dasar laut menunjukkan adanya pengaruh hue saturation. Semakin terang hue saturation maka sedimen memiliki ukuran partikel besar. Sedimen pada daerah Alur Pelayaran Timur Surabaya didominasi oleh jenis sedimen lumpur berpasir dengan luas area sedimen 93.133 m² pada area penelitian. Pola refleksi seismik pada konfigurasi data bersifat seragam (parallel) dan relative seragam (subparallel). Ketebalan antara dasar permukaan laut dengan lapisan pertama memiliki sedimen penyusun berupa lumpur berpasir. Volume total ketebalan lapisan sedimen adalah 17.945.928,40 m³.
Danar Guruh Pratomo, Hanna Anie Sharlene Rayitno Soebari
Abstract:
Sumber energi terbarukan yang dapat dimanfaatkan dari laut adalah arus laut, pasang surut, gradien temperatur laut (ocean thermal energy conversion), dan gelombang laut. Penelitian ini menganalisis kecepatan arus, ketinggian gelombang, dan rentang pasang surut yang dapat dikonversi menjadi energi potensial listrik di tiap ± 20 km segmen sepanjang garis pantai. Model hidrodinamika 3D penelitian ini menggunakan mesh berbentuk structured grid dari data garis pantai dan batimetri. Sedangakan, data pasang surut dan data angin sebagai input parameter pemodelan. Data pasang surut dari stasiun pasut BIG digunakan untuk memvalidasi hasil model. Berdasarkan pengolahan dan analisis data 43 titik pengamatan, pantai selatan Pulau Jawa tidak memiliki potensi energi gelombang laut dikarenakan ketinggian gelombang yang tidak memenuhi nilai minimum yang dibutuhkan. Namun, potensi energi pasang surut menghasilkan energi yang lebih besar dan lebih merata di sepanjang pesisir dibandingkan dengan potensi energi arus laut. Peninjauan akses jalan di sekitar wilayah pesisir menghasilkan 19 titik potensi energi laut di selatan Pulau Jawa. Nilai rata-rata estimasi energi pasang surut yang dihasilkan pada bulan Februari dan Oktober masing-masing sebesar 560468,327 kW dan 373867,1891 kW.
Yanto Budisusanto, Muhammad Kiki Zaenuri
Abstract:
Redistribusi tanah merupakan program Badan Pertanahan Nasional yang berfokus pada pembebasan tanah-tanah garapan petani yang telah diatur di Peraturan Pemerintah No 224 Tahun 1961. Pada tahun 2018 target yang harus dipenuhi oleh kantor pertanahan terkait pengukuran bidang program tersebut yaitu 350.000 bidang tanah. Target yang banyak serta minimnya waktu membuat banyak kantor pertanahan terutama didaerah pedalaman yang menggunakan GPS navigasi sebagai alat pengukuran. Dari hasil pengukuran tersebut didapatkan hasil analisis planimetrik dengan kelas yang dapat diterima (kelas 1-2) sebesar 39,31%. Pada penelitian ini dilakukan perbaikan data hasil pengukuran menggunakan metode transformasi affine. Dari 173 bidang tanah, diambil 10 sample titik sebagai titik referensi transformasi. Dari transformasi affine, didapatkan hasil analisis planimetrik dengan kelas yang dapat diterima (kelas 1-2) sebesar 49,71%. Hasil ini meningkat sebesar 10,4% dibandingkan hasil sebelum dilakukan tranformasi.
Lalu Muhamad Jaelani, Erika Yuniar Tyastiti
Abstract:
Koreksi atmosfer merupakan proses yang sangat penting karena efek atmosfer mampu mempengaruhi gelombang elektromagnetik dari matahari ke objek dan dari objek ke sensor yang menyebabkan terjadinya kesalahan pada data citra. Salah satu metode koreksi atmosfer yang sering digunakan adalah metode 6SV (Second Simulation of the Sensor Signal in the Solar Spectrum-Vector). Landsat-8 adalah citra satelit yang sering dimanfaatkan karena kemudahan perolehan data yang gratis. Pada tahun 2014, USGS mengeluarkan produk level tinggi untuk surface reflectance (Reflectance-BOA). Dengan keluarnya produk ini, maka kendala koreksi atmosfer yang harus dilakukan menjadi berkurang. Namun, belum diketahui seberapa besar tingkat akurasi dari produk ini. Pada penelitian ini akan dilakukan uji akurasi dari produk Landsat-8 surface reflectance menggunakan data in-situ Remote sensing reflectance (Rrs (λ)) dan Suspended Solid (SS) yang direkam secara langsung di 5 (lima) stasiun sepanjang Danau Kasumigaura, Jepang. Sebagai perbandingan, data tersebut akan dibandingkan dengan data Landsat-8 yang dikoreksi dari efek atmosfer menggunakan parameter koreksi dari hasil simulasi menggunakan metode 6SV. Dari hasil penelitian ini, menunjukkan bahwa nilai Rrs (λ)-6SV dan Rrs (λ)-L memiliki nilai yang lebih tinggi dari Rrs (λ)-insitu di sepuluh stasiun. Sedangkan untuk korelasinya (R2) Rrs (λ)-L memiliki korelasi lebih tinggi yaitu sebesar 0,926 dibandingkan dengan Rrs (λ)-6SV yang hanya 0,123. Besarnya NMAE serta RMSE yang dihasilkan Rrs (λ)-6SV dan Rrs (λ)-L ini secara berturut-turut adalah 140,262%; 0,012 dan 140,061%; 0,008.
Lalu Muhamad Jaelani, Rizha Fahlefi
Abstract:
Tanah longsor seringkali terjadi ketika musim penghujan dengan tingkat curah hujan tinggi yang umumnya terjadi pada kelerengan tanah cukup curam. Air juga merupakan faktor penting yang dapat mempengaruhi terjadinya longsor. Pada bulan April 2017 lalu, terjadi peristiwa longsor di beberapa lokasi kawasan lereng gunung Wilis. Adanya peristiwa longsor tinggi dan terjadi dalam waktu bersamaan di lereng gunung Wilis, untuk itu perlu dilakukan penelitian potensi tanah longsor dengan menggunakan data DEM TERRASAR-X yang memiliki resolusi tinggi dalam menghasilkan data ketinggian tanah. Dengan menggabungkan faktor lain seperti data tutupan lahan, jenis geologi, dan jumlah curah hujan akan didapatkan informasi tingkat potensi tanah longsor di lereng gunung Wilis. Metode pengolahan dengan mempertimbangkan skor setiap kelas parameter dan pembobotan sebesar 20% tutupan lahan, 20% curah hujan, 30% jenis geologi, serta 30% kelerengan tanah akan didapatkan informasi potensi longsor dengan rentang 0,8-1,375 dikategorikan rendah, 1,375-1,95 kategori menengah, 1,95-2,525 untuk kategori tinggi dan rentang 2,525-3,1 untuk kategori sangat tinggi. Potensi longsor akan dibandingkan dengan data rekam kejadian tanah longsor di lapangan dalam rentang waktu 2-5 tahun terakhir sebelum 2017. Hasil perbandingan sebagian besar menunjukkan adanya kesesuaian terkait wilayah yang berpotensi tinggi terhadap longsor dengan peristiwa yang terjadi di lapangan.
Yanto Budisusanto, Aulia Rachmawati
Abstract:
Penerapan konsep kadaster kelautan diharapkan dapat menghasilkan data dan informasi yang lengkap, akurat, dan seragam sehingga data daninformasi dapat digunakan untuk saling berbagi pakai dan dirubah secara cepat (Syarif 2012). Adagium abad ketujuhbelas yang menyatakan ruang laut adalah kepunyaan bersama, tersedia untuk semua tetapi tidak untuk dimiliki. Negara mengatur penguasaannya kepada pihak lain (baik itu perseorangan atau swasta) dalam bentuk izin. Saat ini proses pendaftaran izin lokasi oleh KKP dilaksanakan secara offline. Penelitian ini akan merancang sebuah Website Sistem Informasi Geografis (SIG) pendaftaran izin lokasi pemanfaatan ruang laut. Lokasi penelitian berada pada Pulau Maratua, Kecamatan Maratua, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur yaitu pada koordinat 2˚04’11,38” - 2˚20’11,10”LU dan 118˚31’48,93”-118˚45’29,56”BT. Data spasial yang digunakan adalah peta dasar kadaster laut, rencana zonasi dan eksisting pemanfaatan ruang laut. RPP dan RAPERMEN izin lokasi digunakan untuk membangun sistem pendaftaran berbasis WebGIS. Implementasi basis data menggunakan PostgreSQL 9.0 dan Google Maps API sebagai penampil peta. Website dapat diakses secara online pada https://www.kadasterlautmaratua.com sehingga proses pendaftaran izin lokasi dapat dilaksanakan secara online. Dari hasil uji kebergunaan beerdasarkan 30 responden menunjukkan persentase 86.00 %. Berdasarkan hasil tersebut maka website termasuk kategori sangat layak sesuai dengan tabel Kategori Penilaian Usability dengan rentang nilai 81%-100%.
Ira Mutiara Anjasmara, Rizky Romadhon
Abstract:
Saat ini GNSS memiliki peran yang sangat penting di bidang survei pemetaan, terutama dalam menentukan koordinat GCP untuk keperluan foto udara, citra satelit resolusi tinggi dan LiDAR. Masing-masing proses rektifikasi ini membutuhkan akurasi koordinat yang berbeda antara 5 cm hingga 30 cm. Sering kali pelaksanaan pengukuran GCP tidak sesuai dengan perencanaan karena faktor non teknis. Oleh karena itu sangatlah penting untuk menentukan waktu minimum yang efektf untuk pengukuran GCP di lapangan. Penelitian ini bertujuan untuk menjawab permasalahan yang ada dengan melakukan pengolahan data GNSS dengan interval 15 menit dengan metode radial. Dengan demikian dapat diketahui berapa lama waktu yang dibutuhkan dan metode apa yang digunakan untuk mendapatkan akurasi minimum pengukuran GCP foto udara, CSRT dan LiDAR. Secara umum hasil penelitian menunjukan bahwa semakin lama pengamatan GNSS akan menghasilkan koordinat yang lebih akurat, dari ketelitian 0,923 m pada pengamatan 15’ hingga 0,011 m pada pengamatan 120’. GCP dengan baseline 0-10 km menggunakan metode radial selama 15’ dapat memperoleh akurasi kurang dari 5 cm. Hasil pengamatan tersebut dapat digunakan untuk rektifikasi foto udara resolusi 10 cm, CSRT dan LiDAR. Panjang baseline 10-20 km membutuhkan waktu 90’ untuk dapat digunakan untuk GCP foto udara resolusi 10 cm, sedangkan CSRT dan LiDAR membutuhkan waktu pengamatan GCP 75’.
Cherie Bhekti Pribadi, Teguh Hariyanto, Akbar Kurniawan, Yessherly Amriana
Abstract:
Pasrujambe District is one of sub-districts in Lumajang Regency which has a forest area. Forests are main source of life for people who live in surrounding villages, start from farming, logging, taking firewood, gathering, and grazing their livestock in forest areas. This phenomenon cannot be avoided from use of forest land for the other land functions, both for settlements, agriculture and other regions. Therefore, it’s needed to be related to changes of land use in forest areas. In this study an evaluation of distribution and extent of land use functions in Pasrujambe District forest area was carried out using 2 (two) methods, namely object-based classification methods and interpretation methods (digitized on screen). The results show us that there are changes of land use in forest areas in 2017, such as industries, plantations, agricultures, plantations, bushes and settlements with total area of 3764.38 Ha and for agricultural land use such as lakes, grasslands and rivers with total area of 799.41 ha
Eko Yuli Handoko, Reny Ariani
Abstract:
Kenaikan muka air laut (sea level rise) merupakan konsekuensi dari perubahan iklim yang memiliki dampak signifikan terhadap kehidupan sosial, ekonomi, dan infrastruktur, serta ancaman tenggelamnya kawasan pesisir Indonesia yang ditinggali oleh 60% penduduknya. Sejak akhir abad ke-19, perubahan kedudukan air laut diamati dari stasiun pasang surut di sepanjang garis pantai. Namun, pengamatan stasiun pasang surut memiliki keterbatasan dalam jumlah, distribusi, dan jangkauannya, serta adanya pengaruh land subsidence. Oleh karena itu, penelitian ini menganalisis tren kenaikan muka air laut Indonesia menggunakan data pengamatan misi referensi satelit altimetri, yaitu Topex/Poseidon, Jason 1, Jason 2, dan Jason 3. Setelah dilakukan least square intercalibrated dan a-seasonal-trend decomposition procedure based on loess diketahui bahwa laju sea level rise di Indonesia +4,5 mm/tahun pada periode tahun 1993-2018. Tren linier bernilai positif ini menunjukkan bahwa ketinggian muka laut di Indonesia akan terus meningkat dengan persamaan y = 4,6x - 9133,5 mm, dimana y adalah sea level anomaly dan x adalah waktu. Sehingga berdasarkan hasil tersebut dapat dilakukan perencanaan pra-kejadian terhadap dampak dari sea level rise yang akan mendatang.
Ira Mutiara Anjasmara, Wahyu Ristanto
Abstract:
GNSS (Global Satellite Navigation System) merupakan suatu istilah yang digunakan untuk mencakup seluruh sistem satelit navigasi global yang sudah beroperasi ataupun sedang dalam perencanaan. Sistem navigasi satelit global ini beberapa diantaranya yaitu GPS, GLONASS, dan BeiDou. Kesalahan akibat sedikitnya satelit saat pengambilan data, secara teoritis dapat teratasi dengan kemajuan teknologi receiver yang mampu menangkap berbagai sinyal satelit. Hi Target V30 adalah salah satu receiver GNSS yang mampu menangkap sinyal satelit GPS, GLONASS dan BeiDou, dengan semakin banyaknya sinyal satelit yang dapat diterima diharapkan dapat meningkatkan akurasi dari penentuan posisi. Dari penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan satelit BeiDou tidak terlalu memberi pengaruh terhadap satelit GPS, akan tetapi penggunaan satelit BeiDou menambah ketelitian dari satelit GLONASS. Hal ini ditunjukkan dengan adanya penurunan nilai pada selisih koordinat dan RMS error yang dihasilkan dari 1.068 m menjadi 0.371 m. Penggunaan kombinasi satelit GPS + GLONASS + BeiDou dan GPS + GLONASS rata – rata menghasilkan ketelitian yang paling kecil dengan nilai RMS error yang tetap berada diangka millimeter, sedangkan penggunaan satelit GLONASS saja menghasilkan ketelitian yang paling besar diantara stategi yang digunakan terlihat dari nilai RMS error yang mencapai 0.585 m pada baseline C2
Yanto Budisusanto, Zahratu Firdaus
Abstract:
Sejak implementasi otonomi daerah yang luas, nyata dan bertanggung jawab berdasarkan Undang-Undang No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah yang kemudian diganti Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 dan yang paling terbaru UU No. 23 Tahun 2014, batas antar daerah menjadi perhatian yang sangat penting. Dalam era otonomi daerah, banyak sekali perkembangan daerah baik desa, kabupaten/kota maupun provinsi yang mengadakan pemekaran. Akibat dari adanya pemekaran yaitu adaya perebutan lahan atau sengketa lahan. Satu diantaranya yaitu batas wilayah antara Kabupaten Donggala dan Kabupaten Mamuju Utara. Konflik batas daerah Kabupaten Donggala dan Kabupaten Mamuju Utara ini muncul sebagai akibat dari adanya kebijakan penataan batas daerah berdasarkan Kepmendagri No. 52 Tahun 1991 terutama setelah pemasangan Tugu / Patok Batas pada kawasan perbatasan antara Kabupaten Donggala dengan Kabupaten Mamuju Utara yang kurang melibatkan masyarakat setempat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisa permasalahan batas wilayah yang terjadi pada Kabupaten Donggala dan Kabupaten Mamuju Utara berdasarkan data historis kedua Kabupaten tersebut serta mengimplementasikan Permendagri No. 76 Tahun 2012 tentang Penegasan Batas Daerah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode kartometrik serta kajian literatur terkait berbagai aspek menggunakan perangkat lunak SIG. Hasil analisa diketahui bahwa daerah yang diklaim atau Desa Ngovi lebih memilih untuk berada pada Kabupaten Donggala Provinsi Sulawesi Tengah, namun jika dilihat dari segi hukum yang berlaku, daerah klaim tersebut tetap berada pada wilayah Kabupaten Mamuju Utara Provinsi Sulawesi Barat. Luas wilayah yang diperebutkan sebesar 4696.469 ha, dimana wilayah tersebut terdapat penduduk dan bangunan pemerintah.
Bangun Muljo Sukojo, Nurul Chayah Amalina
Abstract:
Reklamasi dan suplai sedimen dari sungai – sungai yang bermuara di Teluk Lamong dikhawatirkan akan menyebabkan terjadinya sedimentasi yang bisa berdampak pada pendangkalan alur pelayaran di Selat Madura. Karena itu diperlukan suatu teknik yang dapat memperkirakan wilayah dengan kecenderungan terjadinya sedimentasi, salah satunya dapat menggunakan analisa pola sebaran TSS/sedimen tersuspensi di Teluk Lamong. Dalam penelitian ini digunakan kombinasi metode pengamatan langsung (pengambilan data in situ) dan metode penginderaan jauh (menggunakan citra satelit Landsat – 8). Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisa perubahan konsentrasi TSS (Total Suspended Solid) di Teluk Lamong dari tahun 2014 sampai dengan 2018 berdasarkan hasil pengukuran, menguji beberapa algoritma untuk menduga TSS di Teluk Lamong untuk mendapatkan algoritma TSS yang sesuai yang nantinya digunakan untuk mengekstraksi nilai TSS dari citra pada periode yang ditentukan dan menganalisa hasilnya dengan kondisi oseanografi (arus). Hasil dari pengolahan data dari citra satelit pada tahun 2018 dengan Algoritma Parwati, Algoritma Syarif Budiman, dan Algoritma Guzman & Santaella berbeda rentangnya dengan nilai TSS in – situ. Namun, Algoritma Syarif Budiman menunjukkan korelasi yang paling baik terhadap nilai TSS in – situ. Nilai TSS yang diperoleh dari citra satelit tiap tahunnya bersifat fluktuatif. Arus memiliki pengaruh terhadap perbedaan konsentrasi TSS yang teradi pada perairan Teluk Lamong.
Muhammad Taufik, Ayu Kurnia Permatasari
Abstract:
Emas merupakan logam mulia yang memiliki manfaat ekonomis tinggi baik individu, kelompok maupun negara. Potensi ekonomis dilihat dari adanya kegiatan penambangan secara besar-besaran dan mencapai distribusi nasional dengan harga jual yang tinggi. Eksplorasi emas saat ini banyak dilakukan dengan metode pemetaan geologi, parit uji, geokimia tanah atau endapan sungai yang dimaksudkan untuk mengetahui kondisi geologi lokal, melokalisir penyebaran dan menafsirkan model atau tipe pembetukan emas di wilayah bersangkutan. Permasalahan yang muncul adalah pada tahap survei pemetaan lapangan, yang membutuhkan waktu panjang serta biaya yang besar. Aplikasi Sistem Informasi Geografis (SIG) dalam eksplorasi mineral memberikan banyak keuntungan baik dari waktu maupun biaya. Kemampuan menganalisa sistem menjadi karakteristik utama SIG seperti analisa statistik dan klasifikasi raster yang disebut analisis spasial. Hasil pengolahan, peta potensi emas dapat di klasifikasikan menjadi 5 kelas, yaitu sangat tinggi, tinggi, cukup, rendah dan sangat rendah. Hasil analisa daerah berdasarkan formasi batuan yang memiliki tingkat potensi emas sangat tinggi tersebar di beberapa kecamatan dengan luas 48%dari total luas Kabupaten Trenggalek. Hasil analisa daerah berdasarkan umur batuan yang memiliki tingkat potensi emas sangat tinggi tersebar di beberapa kecamatan dengan luas 63%dari total luas Kabupaten Trenggalek.
Muhammad Taufik, Ira Mutiara Anjasmara, Rizki Fahrudin Ulin
Abstract:
Pergerakan penurunan muka tanah sering terjadi di berbagai wilayah di seluruh dunia khususnya kota-kota besar dan daerah pesisir. Dampak negatif dari penurunan muka tanah dapat berupa kerusakan sarana prasarana suatu wilayah. Penurunan muka tanah diduga disebabkan karena pengambilan air yang berlebihan untuk keperluan industri serta struktur pembentuk tanah yang ada pada wilayah tersebut. Untuk itu diperlukan adanya suatu kajian dengan tujuan untuk mitigasi bencana. Dampak dari bencana alam dapat diidentifikasi secara cepat dan akurat seiring dengan perkembangan teknologi menggunakan metode penginderaan jauh yang memiliki kemampuan mencakup area yang luas dan dalam waktu yang singkat. Pemilihan metode PS-InSAR berbasis Radar menjadi solusi tepat karena memiliki akurasi yang baik dan meminimalkan efek dekorelasi. Berdasarkan hasil pengolahan periode Mei 2015 hingga Januari 2016 dengan menggunakan metode PS-InSAR dalam analisis penurunan muka tanah pada Kabupaten Gresik, dihasilkan variasi nilai penurunan muka tanah antara -49,35 mm/tahun hingga 54,95 mm/tahun dengan nilai rata-rata kecepatan penurunan muka tanah tertinggi pada Kecamatan Bungah. Metode ini terbukti sebagai salah satu metode penginderaan jauh yang baik untuk meneliti pergerakan penurunan muka tanah.
Muhammad Taufik, Irhasy Wifie Rahman
Abstract:
Setiap tahun bencana alam terjadi di berbagai tempat di wilayah Indonesia. Menurut Data Informasi Bencana Indonesia (DIBI)-BNPB, lebih dari 78% kejadian merupakan bencana hidrometeorologi. Kejadian bencana hidrometeorologi merupakan kelompok kejadian bencana banjir, gelombang ekstrim dan cuaca esktrim. Curah hujan merupakan fenomena yang sudah biasa mengingat lokasi Indonesia yang berada di daerah tropis. Wilayah satu dengan yang lain dapat memiliki faktor penyebab banjir yang berbeda. Analisa multi-kriteria dapat digunakan untuk melihat kriteria spesifik dari penyebab banjir di suatu wilayah. Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah Penyusunan basis data penyebab banjir yang kemudian digunakan unuk membuat Peta daerah rawan banjir kabupaten Pacitan. Peta daerah rawan banjir di hasilkan dari overlay dari parameter curah hujan, jenis tanah, kerapatan aliran,tutupan lahan, ketinggian dan kemiringan lereng yang kemudian dilakukan skoring dan pembobotan menggunakan metode CMA (Composite Mapping Analysis). Dari hasil pengolahan didapatkan peta daerah rawan banjir dengan luas daerah rawan banjir yang dibagi menjadi 3 kelas, yaitu kelas tidak rawan dengan luas daerah 61.879 ha (44%), kelas rawan dengan luas daerah 67.885 ha (48%) dan kelas sangat rawan dengan luas daerah 11.144 ha (8%).
Dimas Aprian Nugroho, Hepi Hapsari Handayani
Abstract:
Land and Building Tax (PBB) is one of the important local taxes for the region. PBB contribution to the amount of regional budget is quite high. Therefore, efficiency is needed in the management process. This needs to start from small publications such as the Village. By developing Geographic Information System (GIS) technology, of course it can be used to streamline the management of the PBB by using WebGIS technology. This study uses PBB data from the 2019 Bener Village Tax Assessment Book (DHKP) List, Maps of Madiun District from Office of National Land Agency (BPN), and Maps of Madiun District from the Bener Village Office. DHKP book data is processed into tables based on data on WebGIS. Land plot data in the field map is integrated into WebGIS spatial data. There are 1634 fields plots of land on WebGIS. From those 1634 fields, 1323 already have complete PBB information, 95 do not yet have NOP clarity, and 216 others have not been identified. The result show improvement of efficiency in the search for information on PBB object data. The object position data is obtained more easily, without using a large printed map which takes a lot of space. With this WebGIS, information on tourist attractions can be accessed anywhere and anytime through a computer or smartphone, as long as there is an internet connection so that it can facilitate the PBB management process.
Nur Aina Rizki Rahmadani, Lalu Muhamad Jaelani
Abstract:
Fishing Potential (PPI) is needed to increase fisheries productivity. Traditionally, fishermen use their senses and hereditary habits to determine PPI. Traditionally, fishermen use the five senses and hereditary habits to determine PPI. This method, in addition to being less efficient, can also lead to over-exploitation if fishing is carried out in the same place continuously. The existence of remote sensing technology can be used to determine PPI faster while considering aspects of approval and spatial distribution. One method of determining PPI is based on remote sensing data, mapping the thermal front area first before determining the PPI through manual interpretation based on pixel located between warm and cold water. Manual interpretation has limitations, it depends on humans and takes a long time. To overcome these limitations, in this study, the Single Image Edge Detection (SIED) method developed by Cayulla and Cornillon was applied in the form of a toolbox thus it could be used automatically. Sea Surface Temperature (SPL) data obtained from MODIS Level 2 (6 April 2018) was subsequently processed using this toolbox and successfully developed 22 PPI points in the southern part of Java Island. Meanwhile, PPI detection using the Temperature Gradient Analysis (TGA) method which is done manually produces 28 points. There are 20 locations of the same point using these two methods. Using the SIED method based on the toolbox can improve data, reduce human error with accuracy 64%.
Hilmiyati Ulinnuha, Maritsa Faridatunnisa, Abdul Basith
Abstract:
One criteria of a good infrastructure is to connect land, sea, and air transportation routes. To support good infrastructure in Yogyakarta, the development of Tanjung Adikarto port, located close to New Yogyakarta International Airport, is needed. Instead of having a good port infrastructure, Tanjung Adikarto Port experience sedimentation due to various factors. One of them is sediment carried by Serang River. Therefore, this study aims to analyze Serang River bathymetry and interpolate location of sedimentation in Serang River. The method of bathymetry analysis used is by testing the accuracy of the depth measurement data and interpolate the sedimentation location based on the transverse and longitudinal profile of the Serang River. In addition, Serang River tidal data analysis was also carried out and development problems in Tanjung Adikarto Port is also evaluated.The results of this study indicate that the tides still affect the dynamics of the Serang River up to about 1 km from the Tanjung Adikarto Port breakwater area. According to IHO standards, Serang River depth measurement data classified as Order 1, while sedimentation occur in the river bank area and around the entrance of Tanjung Adikarto Port. As for infrastructure development problem, Tanjung Adikarto Port sedimentation problem might be caused by breakwater conditions. However, this may requires further study.
Firmansyah Maulana Azhali, Lalu Muhamad Jaelani
Abstract:
Population density in urban areas has implications for the limited availability of green open space. Green open space has an important role in maintaining the quality of the environment and the health of the people living in the area. For this reason, an indicator in the form of Ground Surface Temperature is needed to determine the distribution and adequacy of green open space in a certain area. Continuous ground surface temperature data can then be used as the basis for the development and management of green open space. Ground Surface Temperature can be obtained by recording meteorological data using a weather station. However, the data obtained are limited in number and spatial distribution. So that the use of satellite imagery with thermal sensors becomes a solution to get Ground Surface Temperature with a wide area coverage. In this study, the analysis of temperature changes was carried out in the city of Surabaya using the Landsat 8 TIRS data from August 5 2018 to September 12 2018.The results of the Ground Surface Temperature estimation using the Single-Channel Algorithm (SCA) method were then validated with the temperature recorded at the Juanda Weather Station (BMKG Juanda) and ITS Automatic Weather Station (ITS PWS). In the period 5 August 2018 to 12 September 2018, the maximum, minimum and average of Ground Surface Temperature in Surabaya is 36oC, 20oC and 27oC. There is a difference in temperature between LST and BMKG Juanda of ± 0.11oC (11 August 2018) and ± 0.34oC (12 September 2018). While the temperature difference between LST and PWS ITS is ± 0.88oC (11 August 2018) and ± 3.22oC (12 September 2018). The results of the correlation test between SPT data with BMKG Juanda and PWS ITS showed a very strong correlation between the two data (R = 87%).
Dean Ahmed Falahesa, Agung Budi Cahyono, Husnul Hidayat
Abstract:
The Dinger Mausoleum is a tomb with a Dutch architectural style that was used to store the body of a Dutch national named Jan Dinger and has been designated as a cultural heritage building by the Batu City Government. This tomb with its status as a cultural heritage must be tried to preserve and preserve its original form in accordance with Law No. 11 of 2010 concerning Cultural Heritage. In this study, conservation efforts were carried out by documenting the tomb in the form of a 3D reconstruction model. Documentation activities are carried out by acquiring data and creating 3D models from Dinger Mausoleums both from the outside (exterior) and from inside (interior) considering that the tomb is in the form of a building which means it has space inside, using close-range photogrammetric methods. The 3D model that has been formed is then analyzed for the level of accuracy of the data acquisition and tomb modeling process. An analysis of the level of suitability in the 4th order class (LoD4) is also carried out because 3D modeling includes the interior of the tomb building. The results of the data acquisition took the form of exterior photos and photos of the interior of the Dinger Mausoleum, and the results of the analysis of the RMSE values were less than 0.2 m, thus fulfilling the Level of Detail 4 criteria (LOD 4).
Teguh Hariyanto, Filsa Bioresita, Chomia Nilam Safitri
Abstract:
Pandeglang Regency is located in the southern coast of Java Island which is adjacent to the megathrust subduction zone. This zone originates from the meeting of the Indo-Australian Plate which is subducted under the Eurasian Plate. So that it can cause frequent earthquakes due to the movement of the plunging plates. Other than that, Pandeglang Regency is also bordered by the Sunda Strait in the western part where the region has Mount Krakatau which has the potential to cause earthquakes due to volcanic eruptions. For this reason, an analysis of the calculation of earthquake intensity in Pandeglang Regency is needed as an initial step in disaster mitigation. This process uses multi-event earthquake data in the period of 2010 - 2018 and using the earthquake intensity calculation method which is calculated based on the PGA (Peak Ground Acceleration). The range of earthquake intensity in Pandeglang Regency is V - VII MMI with the largest percentage (91.463%) is VI MMI with area of 2513,526 km 2 . While the smallest percentage (0.301%) is V MMI with area of 8.27 km 2 . Districts in Pandeglang Regency which have the highest intensity of earthquakes are Angsana, Cibitung, Cimanggu, Pagelaran, Panimbang, Patia, Sindangresmi, Sobang, and Sukaresmi Districts.
Danar Guruh Pratomo, Muhammad Rinaldi Fauzan Aziz
Abstract:
Tanjung Perak Port is one of the largest ports in Indonesia that is quite strategic for economic development and sea transportation. The handling of shipping lanes is needed so that ship traffic remains stable. The research location in Alur Pelayaran Barat Surabaya with 3 different conditions namely Pre-Survey, Post-Survey condition 1 has a sediment trap and Post-Survey condition 2 has no sediment trap. Research uses 3D modeling to see hydrodynamic activity. The results of modeling are current patterns, which will influence the pattern of sediment distribution in the study area. The model is formed based on the parameters of tides, river discharge, and wind in the study area. Tidal Pre-Survey has a value of RMSE and MAE of 0.0307 meters and 0.0244 meters with a current of 0.3 m/s. Post-Survey condition 1 has a value of 0.0336 meters and 0.0276 meters with a current of 0.2 m/s. Post-Survey condition 2 has a value of 0.0563 meters and 0.0289 meters with a current of 0.4 m/s. The pattern of sediment distribution between Post-Survey conditions 1 and condition 2 has the same dominant value starting from -0.005 meters to 0.0175 meters. Maximum value of condition 1 is 0.072 meters while condition 2 is 0.062 meters in sediment trap area. Even though condition 1 has a maximum value greater than condition 2, it occurs at just a few points.
Page of 5
Articles per Page
by
Show export options
  Select all
Back to Top Top