Refine Search

New Search

Advanced search

Journal BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual

41 articles
Page of 5
Articles per Page
Show export options
  Select all
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual, Volume 2, pp 179-192; doi:10.34307/b.v2i2.107

Abstract:The article aims to analyze the meaning of perhadliran in the Sacrament of Holy Communion in the Protestant Church of Maluku. This study using qualitative methods with the techniques used are interviews and literature studies. In the study, data was obtained that the Protestant Church of Maluku did not have a clear historical background regarding the use term of the perhadliran. However, perhadliran was carried out by the Protestant Church of Maluku with the aim of preparing themselves before the Holy Communion was held. The Protestant Church of Maluku interpreted the perhadliran as a process of self-prepation, but some interpreted it as a means of confession, it is required to answer the four questions of the perhadliran. Based on the research data above, it is found that the perhadliran has three meanings, namely the meaning of self-preparation, the meaning of recognition, and the meaning of the agreement. Abstrak: Artikel ini bertujuan menganalisis makna perhadliran dalam sakra-men perjamuan kudus di Gereja Protestan Maluku (GPM). Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik yang dipakai ialah wawancara dan studi kepustakaan. Dalam penelitian, diperoleh data bahwa GPM tidak me-miliki latar belakang historis yang jelas terkait penggunaan istilah perhadliran. Namun, perhadliran dilakukan GPM dengan tujuan untuk persiapan diri sebe-lum Perjamuan Kudus dilaksanakan. GPM memaknai perhadliran sebagai proses persiapan diri, namun sebagian memaknai se-bagai sarana pengakuan dosa, karena di dalam ibadah perhadliran anggota jemaat diharuskan menjawab empat pertanyaan perhadliran. Berdasarkan data-data peneli-tian di atas maka ditemukan bahwa perhadliran memiliki tiga makna yaitu makna per-siapan diri, makna pengakuan dan makna perjanjian.
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual, Volume 2, pp 209-222; doi:10.34307/b.v2i2.133

Abstract:The tribe of Levi was chosen and ordained by God for hold whorsip in tabernacle of the congregation. Their work is simple but they must to do accordingly with their role in Number 3 and 4 and exactly that God command. To investigate and review the Number 3 and 4, the author uses critical history method by putting attention to the situation in the text and the situation gave the text. The role of the tribe of Levi is offer sacrifices and pray, interpretation the urim dan tumim, difference between holy and unholy and between clean and unclean, turn on the lamps, blowing of trumpets, unload, transport and rebuild the tabernacle. When the tribe of Levi doing the role they must maintain holiness in front of God. Based on that role then the life of tribe of Levi can be a reference for life of priest it mainly concerns the role of serving the Lord.Abstrak: Suku Lewi dipilih dan ditetapkan oleh Tuhan untuk menyelenggarakan ibadat di kemah suci. Mereka harus melaksanakannya sesuai yang diperintahkan Tuhan. Kajian terhadap peran suku Lewi dalam Bilangan 3 dan 4 ini menggunakan metode penelitian kepustakaan (Library research) dengan pendekatan kritik historis. Metode ini menaruh perhatian pada situasi yang digambarkan dalam teks dan situasi yang melahirkan teks. Adapun peran suku Lewi yakni mempersembahkan korban-korban serta menaikan doa, menafsirkan urim dan tumim, harus dapat membedakan kudus dan tidak kudus, najis dan tidak najis, menyalakan kandil, meniup serunai perak, memberikan berkat dalam nama Allah, penasehat umat, menjaga kemah suci, membongkar, mengangkut dan mendirikan kembali kemah suci. Ketika melaksanakan peran tersebut suku Lewi harus tetap menjaga kekudusan hidupnya dihadapan Tuhan. Berdasarkan peran tersebut, maka kehidupan suku Lewi dapat menjadi acuan bagi kehidupan pendeta masa kini terutama menyangkut peran sebagai pelayan Tuhan.
Sciprofile linkDaniel Fajar Panuntun, Rinaldus Tanduklangi, Merry Adeng, Christian Eleyazar Randalele
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual, Volume 2, pp 193-208; doi:10.34307/b.v2i2.113

Abstract:: Industrial revolution 4.0 is bringing great impact into the global world, including children from the alpha generation. The alpha generation have a typical characteristic that need to gain a concern in terms of spiritual needs. Sunday schol expecially Toraja’s Church need to do an inovation to fulfill the spiritual need of The alpha generation. This study use Research and Development (RnD) method. The research produce a product which is a book with the tittle Sekolah Minggu Kreatif-Inovatif.The book is produced by a kualitatif approach with interactive analysis. The development of the product is done by critism of participant about the product. The result is a Sekolah Minggu Kreatif-Inovatif book For the alfa generation of Toraja’s Church with the collaborative and confrontative principle.Abstrak: Revolusi Industri 4.0 menghasilkan pengaruh besar bagi dunia global, salah satunya pada anak-anak generasi alfa.Anak-anak generasi alfa memiliki ciri khas yang perlu untuk mendapatkan perhatian dalam hal kebutuhan rohaninya. Sekolah Minggu terkhusus di Gereja Toraja perlu untuk melakukan inovasi untuk menjawab kebutuhan rohani anak-anak generasi alfa. Kajian ini menggunakan jenis penelitian dan pengembangan (RnD). Penelitian menghasilkan produk buku Sekolah Minggu Kreatif-Inovatif yang dihasilkan melalui pendekatan kualitatif dengan anali-sis interaktif. Pengembangan produk dilakukan dengan kristisi partisipan mengenai hasil produk yang dihasilkan.Hasil Akhir adalah buku Sekolah Minggu Kreatif-Inovatif bagi Generasi Alfa Gereja Toraja berdasarkan prinsip kolaboratif dan konfrontatif.
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual, Volume 2, pp 223-234; doi:10.34307/b.v2i2.135

Abstract:The reality of violence is a reality in relationship that has never disappeared from human life, the triggers also vary, ranging from personal issues, politics, economic culture, even religion. Violence is an action that always results in a bad impact for those who are the object of violence, so that it is not expected to exist in human relations. Furthermore, it cannot be denied that religion is one of the causes of violence, this is caused by various factors, one of which is the problem is about interpretation of the biblical text’s, so that it is necessary to study or interpret the biblical text with the right approach. The description in this research will focus on Joshua 6:1-27 with a narrative criticism approach which is certainly supported by other approaches such as historical criticism and grammatical criticism. So that through this study it will lead to an understanding that the story of the destroyed carried out by Joshua and the nation of Israel is a legitimate act because they acted on God's command. So that Joshua's actions cannot be classified as acts of violence in the name of religion. Abstrak: Realitas kekerasan adalah realitas dalam hubungan yang tidak pernah lenyap dari kehidupan manusia, pemicunya pun beragam, mulai dari masalah pribadi, politik, budaya ekonomi, bahkan agama. Kekerasan adalah tindakan yang selalu menghasilkan dampak buruk bagi mereka yang menjadi objek kekerasan, sehingga tidak diharapkan ada dalam hubungan manusia. Lebih jauh, tidak dapat dipungkiri bahwa agama adalah salah satu penyebab kekerasan, hal ini disebabkan oleh berbagai faktor, salah satunya adalah masalah penafsiran teks Alkitab, sehing-ga perlu dipelajari atau ditafsirkan teks Alkitab dengan pendekatan yang tepat. Des-kripsi dalam penelitian ini akan berfokus pada Yosua 6:1-27 dengan pendekatan kritik naratif yang tentu saja didukung oleh pendekatan lain seperti kritik sejarah dan kritik gramatikal. Sehingga melalui penelitian ini akan mengarah pada pemaha-man bahwa kisah kehancuran yang dilakukan oleh Yosua dan bangsa Israel adalah tindakan yang sah karena mereka bertindak atas perintah Tuhan. Sehingga tinda-kan Yosua tidak bisa digolongkan sebagai tindakan kekerasan atas nama agama.
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual, Volume 2, pp 166-178; doi:10.34307/b.v2i2.95

Abstract:This article is an echotheological study of the basis of Israel's election and agreement as God's people in relation to the ownership of the Land of Canaan. Israel as a nation and chosen people certainly have a duty as a blessing to others. This study departs from the meaning of the agreement affirmed on Mount Sinai, namely that God wants Israel to live in loyalty and always care for social life. The agreement was subsequently implemented in the form of the giving of the land of Canaan as another symbol. The promised land management is not only for the benefit of the people of Israel, but also must have a social dimension for the poor, oppressed, and marginalized, this is the ethical basis of Israel's life as God's people. Land must be cultivated as a source of God's peace (syalom) for all His creatures, because only in this way can they breathe in the covenant with the Divine, God the Almighty. Furthermore, at the end of this paper it will be concluded that human beings as God's representatives do not mean acting according to their own desires, because humans must always remember that everything will be accounted for back to God.Abstrak: Artikel ini adalah sebuah kajian ekoteologis mengenai dasar pemilihan dan perjanjian Israel sebagai umat Allah dalam hubungannya dengan kepemilikan Tanah Kanaan. Israel sebagai bangsa dan umat pilihan tentunya memiliki tugas sebagai berkat bagi orang lain. Kajian ini berangkat dari makna perjanjian yang ditegaskan di Gunung Sinai, yaitu bahwa Tuhan menginginkan Israel hidup dalam kesetiaan dan selalu peduli pada kehidupan sosial. Perjanjian itu selanjutnya diem-plementasikan dalam bentuk pemberian tanah Kanaan sebagai simbol yang lain. Pengelolaan tanah yang dijanjikan tidak hanya untuk kepentingan rakyat Israel, tetapi juga harus memiliki dimensi sosial untuk orang miskin, tertindas, dan ter-pinggirkan, hal tersebutlah yang menjadi dasar etis kehidupan Israel sebagai umat Allah. Tanah harus diusahakan sebagai sumber kedamaian Allah (syalom) untuk semua makhluk-Nya, karena hanya dengan cara ini mereka dapat bernafas dalam ikatan perjanjian dengan yang Ilahi, Allah Yang Maha Kuasa. Selanjutnya, pada bagian akhir tulisan ini akan disimpulkan bahwa manusia sebagai wakil Allah bukan berarti berbuat sesuai dengan keinginan dirinya sendiri, karena manusia harus selalu mengingat bahwa segala sesuatu akan dipertanggungjawabkan kem-bali kepada Allah.
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual, Volume 2, pp 264-277; doi:10.34307/b.v2i2.71

Abstract:In the Bible it is often found a difficult part to understand, especially in this paper about the plan of the Lord who wanted to kill Moses. Even if you look deeper, Moses is a person sent by the LORD to free the nation of Israel from occupation in Egypt. This section needs to be examined more deeply, so that it can be searched for what is the basis of this action of the Lord, and at the same time what theological meanings are contained in this section, which are also relevant to present life. Through word study research efforts, it can be found that the plan of the Lord to kill Moses was not a playful plan, but it was a truly serious plan. But all these plans could be failed because Zipporah, the wife of Moses, succeeded in making atonement with the LORD through the foreskin of Moses 'son who was affixed to Moses' pubic. This indicates that the Lord's plan occurred because Moses was negligent in keeping his holiness, which is to circumcise his child. Holiness is the most important thing in carrying out all forms of service and call of God. If this holiness was ignored, then it could be that the Lord's plan to send someone turned into the anger of the LORD against the one sent.Abstrak: Dalam Alkitab seringkali dijumpai bagian yang sulit untuk dipahami. Terkait dengan tulisan ini, bagian yang sangat sulit itu adalah tentang rencana TUHAN yang hendak membunuh Musa. Padahal kalau dilihat lebih dalam lagi, Musa adalah orang yang diutus oleh TUHAN untuk membebaskan bangsa Israel dari kerja paksa di Mesir. Bagian ini perlu untuk diteliti lebih dalam lagi, agar dapat dicari apa yang menjadi dasar dari tindakan TUHAN ini, dan sekaligus ditarik makna teologi apa yang terkandung dalam bagian ini, yang juga relevan bagi kehidupan sekarang. Melalui studi kata, maka dapat dijumpai bahwa rencana TUHAN membunuh Musa bukanlah rencana yang main-main, tetapi merupakan rencana yang memang sungguh-sungguh. Namun semua rencana itu dapat digagal-kan karena ada Zipora, istri Musa, yang berhasil mengadakan upaya ‘pendamaian’ dengan TUHAN melalui kulit khatan anak Musa yang ditempelkan ke ‘kemaluan’ Musa. Ini menandakan bahwa rencana TUHAN itu terjadi karena Musa telah lalai dalam menjaga kekudusan dirinya, yaitu menyunatkan anaknya. Kekudusan meru-pakan hal terpenting dalam menjalankan segala bentuk pelayanan dan panggilan TUHAN. Apabila kekudusan ini diabaikan, maka bisa saja rencana TUHAN mengutus seseorang berubah menjadi kemarahan TUHAN terhadap yang diutus.
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual, Volume 2, pp 139-150; doi:10.34307/b.v2i2.127

Abstract:Using a qualitative-descriptive approach, this article shows that in ancient Israel society there was a certain educational mechanism where a child had the opportunity to learn the Scriptures (faith education). Educating children from childhood in the context of ancient Israel society is a task entrusted by God to parents and the community. Children have the right to education from their parents. Children's faith education must be done by parents. However, the community is responsible for helping families to nurture their children. The tradition of ancient Israel can be a lesson for the current context that the family is the main place in the inheritance of the faith. Abstrak: Artikel ini menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif dan menunjukkan bahwa dalam masyarakat Israel kuno telah terdapat mekanisme pendidikan tertentu dimana seorang anak mendapatkan kesempatan untuk mempelajari Kitab Suci (pendidikan iman). Mendidik anak sejak kecil dalam konteks masyarakat Israel kuno merupakan tugas yang dipercayakan Allah kepada orangtua dan komunitas. Anak-anak berhak mendapatkan pendidikan dari orangtua mereka. Pendidikan iman anak harus dilakukan oleh orangtua. Akan tetapi komunitas bertanggung jawab membantu keluarga dalam membina anak-anak mereka. Tradisi Israel kuno tersebut dapat menjadi pembelajaran bagi konteks saat ini bahwa keluarga merupakan tempat utama dalam pewarisan iman.
Ravanelly Fabrizio Gabriel
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual, Volume 2, pp 248-263; doi:10.34307/b.v2i2.106

Abstract:This article aims to analyze several issues of injustice, which can threaten the welfare of port workers and build an advocacy theology as a form of defending the rights of their lives. These problems are related to the distribution of basic wages and overtime wages, as well as social benefits. The research uses a practical theological model with four phases, namely descriptive empirical task, interpretive task, the normative task, and the pragmatic task. It has a qualitative method with interview techniques, observations, documentation, and library studies. The results of study found that the existence of port workers in Ambon was in an unfair and prosperous situation. In addressing the issue, the Maluku Protestant Church was called to carry out advocacy actions by referring to theological foundations related to God’s justice. Acvocacy actions carried out in the church context can be based on social values with social dimensions such as truth, welfare, justice, and transparency in everything that is done. In addition, the Maluku Protestant Church can establish cooperation with govermment and followers of other religions to seek prosperity, uphold justice and truth for all members of the workers. Abstrak: Artikel ini bertujuan menganalisis masalah ketidakadilan yang dapat mengancam kesejahteraan hidup kaum buruh pelabuhan dan membangun teologi advokasi sebagai bentuk pembelaan hak-hak hidup mereka. Masalah tersebut ber-kaitan dengan pembagian upah pokok dan upah lembur kerja, serta tunjangan-tunjangan sosial. Penelitian ini menggunakan model teologi praktis dengan empat tahapan, yakni descriptive empirical task, interpretive task, the normative task, dan the pragmatic task. Didalamnnya terdapat metode kualitatif dengan teknik wawan-cara, observasi, dokumenasi, dan studi pustaka. Hasil penelitian menemukan bahwa eksistensi kaum buruh pelabuhan di Ambon berada pada situasi yang tidak adil dan sejahtera. Dalam menyikapi persoalan tersebut, Gereja Protestan Maluku terpanggil untuk melakukan tindakan advokasi dengan mengacu pada landasan-landasan teologis terkait keadilan Allah. Tindakan advokasi yang dilakukan dalam konteks bergereja dapat didasarkan pada nilai-nilai keagamaan yang berdimensi sosial seperti kebenaran, kesejahteraan, keadilan dan transparasi terhadap segala sesuatu yang dilakukan. Selain itu, Gereja Protestan Maluku dapat membangun kerja sama dengan pemerintah dan pemeluk agama lain untuk mengupayakan kesejahteraan, menegakkan keadilan dan kebenaran bagi seluruh anggota kaum buruh.
Ayub Alexander
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual, Volume 2, pp 235-247; doi:10.34307/b.v2i2.110

Abstract:The Toraja people understand Raputallang as an expression of personifi-cation (symbolic) in which it expresses the meaning of family relations that are built based on flesh-blood relations (genealogy). The purpose of this research is to explain the concept of Raputallang as a counseling media for the people of Toraja. This research is motivated by the lack of impact and the limited reach of the counseling process carried out by the church to the Toraja people who are facing problems. Therefore, it is necessary to develop counseling media that can reach and provide a more effective impact to help the people of Toraja to improve the value of life which had declined due to the problems they faced. This study, using the theory of Community Counseling, was developed by Judith A. Lewis and colleagues. This paper use a qualitative research with a descriptive approach. The source of this research information are to minaa '(traditional leaders) and cultural observers in Toraja. This research shows that Raputallang becomes or is used as a medium for community counseling through a cultural awareness approach. Abstrak: Masyarakat Toraja memahami Raputallang sebagai ungkapan personifi-kasi (simbolik) yang di dalamnya mengungkapkan makna relasi kekeluargaan yang terbangun berdasarkan hubungan darah daging (genealogi). Tujuan penelitian ini untuk mengkaji Raputallang sebagai media konseling masyarakat Toraja. Penelitian ini dilatar belakangi oleh kurangnya dampak dan terbatasnya jangkauan dari proses konseling yang dilakukan oleh gereja kepada masyarakat Toraja yang sedang menghadapi permasalahan. Oleh sebab itu, perlu dikembangan media kon-seling yang bisa menjangkau dan memberikan dampak yang lebih efektif untuk membantu masyarakat Toraja meningkatkan nilai hidup yang sempat menurun akibat permasalahan yang dihadapinya. Penelitian ini, menggunakan teori Kon-seling Masyarakat yang di Kembangkan oleh Judith A. Lewis dan rekan-rekan. Penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Sumber informasi penelitian ini ialah to minaa’ (tokoh adat) dan pemerhati budaya yang ada di Toraja. Penelitian ini menunjukkan bahwa Raputallang menjadi atau dijadikan sebagai media kon-seling masyarakat melalui pendekatan kesadaran budaya.
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual, Volume 2, pp 151-165; doi:10.34307/b.v2i2.94

Abstract:Abstact: The Non-test Evaluation Instrument That Is Ignored in the Assessment of Affective and Psychomotor domains. This study aims to see the description of Christian Religious Education teachers in using non-test evaluation instruments in evaluating the learning outcomes of the affective and psychomotor domains of students. The method used in this research is survey method and literature study. Where it is explained that to measure and assess the learning outcomes of the affective and psychomotor domains, the right type of instrument to use is the non-test. The findings of this study explain that Christian Education teachers in SMP Negeri 5 and SMP Negeri 20 Kota Kupang are still low in using non-test evaluation instruments. The indicator is that teachers have difficulty using non-test evaluation instruments, and do not have time to prepare non-test evaluation instruments in evaluating the affective and psychomotor domains of students.Abstrak: Instrumen Evaluasi Non-tes yang Terabaikan Dalam Penilaian Ranah Afektif dan Psikomotorik. Penelitian ini memiliki tujuan untuk melihat gambaran guru-guru Pendidikan Agama Kristen dalam menggunakan instrumen evaluasi non-tes dalam penilaian hasil belajar ranah afektif dan psikomotorik peserta didik.Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei dan studi pustaka.Dimana dijelaskan bahwa untuk mengukur dan menilai hasil belajar ranah afektif dan psikomotorik, jenis instrumen yang tepat digunakan adalah non-tes. Temuan hasil penelitian ini menerangkan bahwa guru-guru Pendidikan Agama Kristen di SMP Negeri 5 dan SMP Negeri 20 Kota Kupang masih rendah dalam menggunakan instrumen evaluasi non-tes. Indikatornya adalah guru-guru meng-alami kesulitan menggunakan instrumen evaluasi non-tes, serta tidak memiliki waktu untuk mempersiapkan instrumen evaluasi non-tes dalam penilaian ranah afektif dan psikomotorik peserta didik.
Page of 5
Articles per Page
Show export options
  Select all