Refine Search

New Search

Advanced search

Journal Jurnal Arsitektur KOMPOSISI

-
120 articles
Page of 13
Articles per Page
by
Show export options
  Select all
Reginaldo Christophori Lake, Yuliana Bhara Mberu, Avitu Diaz
Jurnal Arsitektur KOMPOSISI, Volume 12; doi:10.24002/jars.v12i3.2235

Abstract:This research focuses on the old city-area of Kupang as a historical area formed based on the typology and morphology of the city of Kupang in the past. In the study of the existence of the city-old Kupang is associated with aspects of the function and development of the city. The problems studied are what physical elements exist in the old city area that needs to be emphasized in order to be able to support the activities and functions of the old city-area of Kupang and its preservation. The purpose of revealing the physical elements of the old city of Kupang is to become a concept or direction for the design of the morphology of the city of Kupang on an ongoing basis. The results of the study indicate that changes in the Kupang city-old region are influenced by the elements forming the urban area that are in line with the socio-cultural and economic development of the community in the region.Keywords: physical elements, morphology, heritage, city of KupangAbstrak: Penelitian ini berfokus pada kawasan kota-lama Kupang sebagai kawasan bersejarah yang terbentuk berdasarkan tipologi dan morfologi kota Kupang tempo dulu. Dalam kajian keberadaan kota-lama Kupang dikaitkan dengan aspek fungsi dan perkembangan kota. Permasalahan yang dikaji adalah apa saja elemen fisik yang terdapat pada kawasan kota-lama yang perlu dipertegas agar mampu mendukung kegiatan dan fungsi kawasan kota-lama Kupang dan pelestariannya. Tujuan dari mengungkapkan elemen fisik dari kota-lama Kupang dijadikan sebuah konsep atau arahan desain morfologi kota Kupang secara berkelanjutan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan pada kawasan kota-lama Kupang dipengaruhi oleh elemen-elemen pembentuk kawasan kota yang sejalan dengan perkembangan sosial budaya dan ekonomi masyarakat dalam kawasan.Kata Kunci: elemen fisik, morfologi, kota-lama, kota Kupang
Anggun Septin Kartika Wulan, Ida Ayu Putri Satya
Jurnal Arsitektur KOMPOSISI, Volume 12; doi:10.24002/jars.v12i3.2186

Abstract:Mount Merapi is one of the most active volcanoes in the world that has a periodic eruption cycle between two to seven years. This condition forced the community be prepared and had to evacuate periodically. Communities were evacuated to public buildings such as barracks, village halls, multipurpose buildings and sports buildings that were not originally designed for temporary evacuation shelter. The National Disaster Management Agency (BNPB) has set a standard for minimum needs related to evacuation buildings as stated in Perka BNPB No. 7 of 2008 concerning Guidelines for providing assistance to meet the basic needs of disaster victims in a coordinated, effective and accountable manner. This study aims to see the degree of physical suitability of public buildings as temporary evacuation shelter based on standards. The study was conducted on 30 public buildings in Cangkringan District, Sleman Regency, DIY. This study found that government buildings such as village hall and sub-district offices have high potential to be utilized as temporary evacuation shelter in the term of capacity and accessibility. Nevertheless, the addition of facilities such as fire protection, bathrooms need to be added to adjust to the existing capacity. Supervision and integrated planning in building public facilities, including self-funded religion facilities that accommodate the needs of temporary evacuation shelter is esential for functioning the public building as temporary evacuation shelter. Kata Kunci: Public building, temporary evacuation shelter, natural disaster, feasibilityAbstrak: Gunung Merapi adalah satu gunung api teraktif di dunia yang memiliki siklus erupsi berkala antara dua hingga tujuh tahun sekali. Kondisi ini mengakibatkan masyarakat harus mengungsi secara periodik. Masyarakat diungsikan ke bangunan publik seperti barak, balai desa, gedung serbaguna dan gedung olahraga yang tidak dirancang sebagai bangunan evakuasi sementara. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah mengatur standar kebutuhan minimal terkait bangunan evakuasi sesuai yang tertuang pada Perka BNPB No. 7 Tahun 2008 Tentang Pedoman Tata Cara Pemberian Bantuan Pemenuhan Kebutuhan Dasar sebagai panduan dalam pemberian bantuan guna memenuhi kebutuhan dasar korban bencana secara terkoordinasi, efektif, dan akuntabel. Penelitian ini bertujuan melihat derajat kesesuaian fisik bangunan publik sebagai bangunan evakuasi berdasarkan standard yang telah ada. Penelitian dilakukan pada 30 bangunan publik yang terdapat di Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, DIY. Pada penelitian ini ditemukan, bangunan pemerintahan (balaidesa dan kantor kecamatan) memiliki potensi yang tinggi dialihfungsikan menjadi bangunan evakuasi sementara. Fasilitas proteksi kebakaran dan kamar mandi perlu ditambahkan sesuai dengan kapasitas yang direncanakan. Pengawasan dan perencanaan terpadu dalam membangun fasilitas publik yang mengakomodasi persyaratan sebagai tempat evakuasi sementara sangat penting untuk...
Kristiana Bebhe, Richardus Daton, Reginaldo Christophori Lake, Apridus Lapenangga
Jurnal Arsitektur KOMPOSISI, Volume 12; doi:10.24002/jars.v12i3.2187

Abstract:Kamanasa Village in Malaka Regency is a vernacular village inherited based on the knowledge and local wisdom of the Lawalu tribe. Kamanasa people obey traditions and customs for obedience to tribal ancestors. The concept of obedience arises in settling cultures, in village spatial planning and residential and material use. The architectural concepts that exist in the village of Kamanasa have ecological characteristics in the form, structure and use of materials, also in the behavior of the Kamanasa people. This study focuses on identifying the economic concepts of Kamanasa vernacular architecture and how the sustainability of ecological concepts is maintained. Field observations and literature studies of ecological design principles were used in this study. The results of the study showed that the vernacular village of Kamanasa applied an ecological concept of architecture in accordance with the principles of ecological design that were inherited through the tradition of building houses, linkages with the environment, and social relations in mutual cooperation. The Kamanasa vernacular village is still supported by aspects of traditional beliefs and norms, so the ecological concept of the Kamanasa vernacular architecture deserves to be an ecological concept of cultural architecture.Keywords: Ecological, Vernacular Architecture, Kamanasa VillageAbstrak: Desa Kamanasa di Kabupaten Malaka merupakan desa vernakular yang diwarisi berdasarkan pengetahuan dan kearifan lokal suku Lawalu. Orang Kamanasa taat tradisi dan adat istiadat demi ketaatan terhadap leluhur suku. Konsep ketaatan muncul pada budaya bermukim, pada tata keruangan desa dan rumah tinggal maupun penggunaan material. Konsep berarsitektur yang ada pada desa Kamanasa memiliki ciri-ciri ekologis pada tata bentuk, struktur dan penggunaan material, juga pada perilaku orang Kamanasa. Kajian ini berfokus pada identifikasi konsep eklogis arsitektur vernakular Kamanasa dan bagaimana keberlanjutan konsep ekologis dipertahankan. Observasi lapangan dan kajian pustaka prinsip-prinsip desain yang ekologis digunakan dalam penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan, desa vernakular Kamanasa menerapkan konsep ekologis arsitektur sesuai dengan prinsip-prinsip desain ekologis yang diwariskan melalui tradisi membangun rumah, keterkaitan dengan lingkungan, dan hubungan sosial bergotong royong. Desa vernakular Kamanasa masih didukung oleh aspek kepercayaan dan norma-norma adat, sehingga konsep ekologis arsitektur vernakular Kamanasa layak dijadikan konsep arsitektur kiwari yang ekologis. Kata kunci: Ekologis, Arsitektur Vernakular, Desa Kamanasa
Vincentia Reni Vitasurya, Purwanto Hadi
Jurnal Arsitektur KOMPOSISI, Volume 12; doi:10.24002/jars.v12i3.1868

Abstract:Traditional Javanese houses known for their rich traditions are symbolized by the use of ornaments, construction and building materials. Empty raguman is one of the architectural elements of a Javanese house, in the form of an inner roof coating that functions as a ceiling. The sweetness made of bamboo blades arranged in a certain pattern is a symbol of the level of socio-economic ability of the homeowner. Its existence functions aesthetically and describes a strong tradition. The tradition of making empyak began with processing bamboo, assembling and installing fish is a manifestation of the value of mutual cooperation in Javanese society in the past. At present, empyak raguman is rarely found in traditional Javanese houses built in the modern era. The loss of this element is due to changes in the lifestyle of traditional communities in urban and rural areas. This paper aims to review the beauty of tradition, tradition and aesthetics in Javanese homes. The method used is literature review and its comparison with the practice of implementing it in some cases of traditional houses. The tradition of putting up a lot of raguman has not been carried out anymore, but the existence of empiri raguman which is still preserved is a symbol of pride for traditional homeowners. The results of this study are one of the inputs to preserve traditional values in Javanese houses.Keywords: empyak raguman, javanese house, traditional architecture, tradition, aestheticsAbstrak: Rumah tradisional Jawa dikenal kaya tradisi yang disimbolkan melalui penggunaan ornamen, konstruksi dan bahan bangunan. Empyak raguman adalah salah satu elemen arsitektur rumah Jawa, berupa pelapis atap bagian dalam yang berfungsi sebagai langit – langit. Empyak raguman terbuat dari bilah bambu yang disusun dengan pola tertentu menjadi simbol dari tingkatan kemampuan sosial ekonomi pemilik rumah. Keberadaannya berfungsi secara estetika dan menggambarkan tradisi yang kuat. Tradisi pembuatan empyak dimulai dengan pengolahan bambu, merangkai dan memasang empyak merupakan perwujudan nilai gotong royong masyarakat Jawa di masa lalu. Saat ini, empyak raguman jarang ditemukan pada rumah tradisional Jawa yang dibangun pada era modern. Hilangnya elemen ini karena perubahan gaya hidup masyarakat tradisional di perkotaan dan di perdesaan. Tulisan ini bertujuan mengulas kembali empyak raguman, tradisi dan estetikanya dalam rumah Jawa. Metode yang digunakan adalah kajian literatur dan komparasinya dengan praktek pelaksanaannya pada beberapa kasus rumah tradisional. Tradisi memasang empyak raguman sudah tidak dijalankan lagi namun keberadaan empyak raguman yang masih terpelihara menjadi simbol kebanggaan bagi pemilik rumah tradisional. Hasil kajian ini menjadi salah satu masukan untuk melestarikan nilai – nilai tradisional pada rumah Jawa.Kata Kunci: empyak raguman, rumah Jawa, arsitektur tradisional, tradisi, estetika
Riandy Tarigan
Jurnal Arsitektur KOMPOSISI, Volume 12; doi:10.24002/jars.v12i3.2202

Abstract:Traditional architecture built by the community is based on the view of cosmology and cultural symbolism that is owned by the community. This view is manifested into signs and meanings contained in space and architectural forms. Each of these spaces and forms is interpreted and trusted by the community to be the standard and always passed on to the next generation. Culture that occurs in society always changes and develops and can influence the meanings contained in the elements of the sign on the traditional house. The problem of this research is how to read the dynamics of meaning that occur due to the development of residents' needs to find out the dynamics of meaning that occurs in elements of traditional homes. The purpose of this study is to find out how the dynamics of the meaning are known and understood precisely through the signs contained in architectural elements. The object of the selected study is a Javanese traditional house which until now is still inhabited by some people who are on the north coast of Java in general and Kudus in particular. As a result, reading the dynamics of the meaning of traditional houses needs to be done with an interpretive approach to each element of elementary and complementary functions, as a whole, intact and interrelated (holistic).Keywords: Sign, dynamic meanning, traditional house, KudusAbstrak: Arsitektur tradisional dibangun oleh masyarakat dilandasi pandangan kosmologi dan simbolisme budaya yang dimiliki masyarakat. Pandangan tersebut diwujudkan menjadi tanda dan makna yang tertuang dalam ruang dan bentuk arsitektur. Setiap ruang dan bentuk dimaknai dan dipercayai oleh masyarakat menjadi hal yang baku dan diturunkan ke generasi berikutnya. Kebudayaan yang terjadi dalam masyarakat selalu berubah dan berkembang dan mempengaruhi makna-makna yang terdapat pada elemen-elemen tanda pada rumah tradisional. Masalah penelitian ini adalah bagaimana cara membaca dinamika makna yang terjadi akibat perkembangan kebutuhan penghuni untuk mengetahui dinamika makna yang terjadi pada elemen-elemen rumah tradisional. Tujuan penelitian adalah mengetahui bagaimana dinamika makna diketahui dan dipahami secara tepat melalui tanda-tanda yang terdapat pada elemen arsitektur. Objek studi adalah rumah tradisional Jawa yang sampai saat ini masih dihuni oleh sebagian masyarakat yang berada di pantai utara Jawa pada umumnya dan Kudus pada khususnya. Hasilnya, membaca dinamika makna rumah tradisional perlu dilakukan dengan pendekatan interpretatif pada setiap unsur fungsi elementer dan komplementer, secara menyeluruh, utuh dan saling terkait (holistik).Kata kunci : tanda, dinamika makna, rumah tradisional, Kudus.
Muhammad Khadafi Litiloly
Jurnal Arsitektur KOMPOSISI, Volume 12; doi:10.24002/jars.v12i3.2203

Abstract:Kotagede is a historical area in the Special Region of Yogyakarta, strong as a Javanese cultural preserve. Kotagede residents have settled here since the Mataram kingdom was founded in the 16th century. Some historical relics in Kotagede include the ruins of the palace, the tomb of the king, the grand mosque, and the surrounding surrounding. Kotagede is famous for silverware and heritage tourism. In this paper, the urban morphology is discussed and the influence of the factors that shape the Kotagede region. The purpose of writing is to find patterns of formation and development of the Kotagede region from time to time, as well as knowing the factors that influence it. The method used is literature study and field study. Comparisons between field studies and literature can produce conclusions about the history of the development of the Kotagede region.Keywords: urban morphology, urban, region, kotagedeAbstrak: Kotagede adalah kawasan bersejarah di Daerah Istimewa Yogyakarta, kuat sebagai cagar budaya Jawa. Warga Kotagede menetap di sini sejak kerajaan Mataram berdiri abad ke 16. Beberapa peninggalan sejarah di Kotagede antara lain puing-puing kraton, makam raja, masjid agung, serta beteng yang mengelilinginya. Kotagede terkenal karena kerajinan perak dan wisata heritage. Dalam tulisan ini dibahas morfologi kota kawasan dan pengaruh dari faktor-faktor yang membentuk kawasan Kotagede. Tujuan dari penulisan adalah menemukan pola pembentuk dan perkembangan kawasan Kotagede dari masa ke masa, serta mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhinya. Metode yang digunakan adalah studi pustaka dan studi lapangan. Perbandingan antara studi lapangan dan studi pustaka dapat menghasilkan kesimpulan tentang sejarah perkembangan kawasan Kotagede.Kata Kunci: morfologi,kota, kawasan, kotadegede
Pilipus Jeraman
Jurnal Arsitektur KOMPOSISI, Volume 12; doi:10.24002/jars.v12i3.2204

Abstract:The architecture of the house of Sabu (ammu hawu) is one of the riches of vernacular architecture that still exists in East Nusa Tenggara and is well preserved by the ethnic Sabu community, which inhabits the islands of Sabu and Raijua Island. This research provides a descriptive description of the typological characteristics of Sabu's house architecture (ammu hawu) and its settlement environment. The typology study on Sabu house (ammu hawu) was developed with a descriptive anthropological approach. The results showed that the architecture of the house of Sabu (ammu hawu) has distinctive characteristics that are in harmony with the cultural background of the Sabu community. Based on the typology of functions and forms known to the typology of houses on Sabu island there are three typologies, namely ammu hawu (roukoko), ammu atta, and ammu jawa.Keywords: typology, ammu hawu, descriptive, anthropologicalAbstrak: Arsitektur rumah Sabu (ammu hawu) adalah salah satu kekayaan arsitektur vernakular yang masih eksis di Nusa Tenggara Timur dan terpelihara dengan baik oleh masyarakat etnis Sabu, yang mendiami Pulau Sabu maupun Pulau Raijua. Penelitian ini memberi gambaran deskriptif tentang karakteristik tipologi arsitektur rumah Sabu (ammu hawu) dan lingkungan permukimannya. Kajian tipologi terhadap rumah Sabu (ammu hawu) ini dikembangkan dengan pendekatan deskriptif antropologis. Hasil penelitian menunjukkan, arsitektur rumah Sabu (ammu hawu) memiliki karakteristik khas yang selaras dengan latar belakang kebudayaan masyarakat Sabu. Berdasarkan tipologi fungsi dan bentuk diketahui tipologi rumah di pulau Sabu ada tiga tipologi, yakni ammu hawu (roukoko), ammu atta, dan ammu jawa. Kata kunci: tipologi, ammu hawu, deskriptif, antropologis.
Yohanes Djarot Purbadi
Jurnal Arsitektur KOMPOSISI, Volume 12; doi:10.24002/jars.v12i3.2238

Yohanes Djarot Purbadi
Jurnal Arsitektur KOMPOSISI, Volume 12; doi:10.24002/jars.v12i3.2237

Yohanes Djarot Purbadi
Jurnal Arsitektur KOMPOSISI, Volume 12; doi:10.24002/jars.v12i3.2239

Page of 13
Articles per Page
by
Show export options
  Select all