Refine Search

New Search

Advanced search

Journal PHARMACY: Jurnal Farmasi Indonesia (Pharmaceutical Journal of Indonesia)

-
32 articles
Page of 4
Articles per Page
by
Show export options
  Select all
Sani Nurlaela Fitriansyah, Yola Desnera Putri, Muhammad Haris, Rival Ferdiansyah
PHARMACY: Jurnal Farmasi Indonesia (Pharmaceutical Journal of Indonesia), Volume 15; doi:10.30595/pharmacy.v15i2.3062

Abstract:Limpasu merupakan tanaman yang berlimpah dari Kalimantan Selatan. Data empiris menunjukkan buah limpasu berpotensi untuk mengobati demam (karena infeksi), kesehatan kulit, dan antioksidan. Data ilmiah pendukung potensi limpasu sebagai anti-infeksi yang disebabkan bakteri masih minim. Penelitian ini bertujuan mendapatkan data ilmiah kandungan kimia secara kualitatif dan potensi ekstrak limpasu sebagai antibakteri. Bagian buah, daun, dan kulit batang limpasu diekstraksi menggunakan pelarut etanol 96% dengan soxhlet. Ekstrak cair diuapkan menggunakan rotary evaporator sehingga didapatkan ekstrak buah (EB), ekstrak daun (ED), dan ekstrak kulit batang limpasu (EKB). Pengujian aktivitas antibakteri dilakukan dengan metode difusi padat menggunakan kertas cakram. Bakteri yang diuji terdiri dari Bacillus subtilis, Staphylococcus aureus, Pseudomonas aeruginosa, Escherichia coli, Propionibacterium acnes, dan Staphylococcus epidermidis. Hasil penelitian menunjukkan, ekstrak etanol buah limpasu merupakan ekstrak yang paling aktif terhadap bakteri B. subtilis, S. aureus, P. aeruginosa, E.coli, dan P. acnes dengan konsentrasi hambat minimum adalah 2,5% b/v dengan diameter secara berturut-turut 6,87; 7,60; 7,94; 8,80; dan 10,29 mm. Ekstrak etanol buah, daun, dan kulit batang limpasu secara umum positif mengandung alkaloid, flavonoid, tanin, dan saponin.
Rosiana Rizal, Sara Surya
PHARMACY: Jurnal Farmasi Indonesia (Pharmaceutical Journal of Indonesia), Volume 15; doi:10.30595/pharmacy.v15i2.2490

Abstract:Jumlah penduduk untuk wilayah Kota Padang pada tahun 2016 menurut Badan Pusat Statistik (BPS) yaitu sejumlah 902.000 jiwa, dan yang sudah menjadi peserta BPJS kesehatan ± 711.496 jiwa. Jika dibandingkan dengan jumlah peserta BPJS Kesehatan pada tahun 2015, jumlah kepesertaan mengalami kenaikan dengan persentase 16,34% dan penurunan jumlah apotek dari 580 apotek menjadi 570 apotek dalam kurun waktu satu tahun. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa sebagian besar penduduk Kota Padang adalah peserta BPJS Kesehatan yang menerima pelayanan kesehatan melalui jaminan kesehatan oleh BPJS. Tujuan dari Penelitian ini adalah menganalisis tingkat keuntungan apotek sebelum dan sesudah adanya klinik mitra BPJS Kesehatan di sekitarnya, menganalisis tingkat pertumbuhan omzet apotek sebelum dan sesudah adanya klinik mitra BPJS Kesehatan di sekitarnya, menganalisis perubahan jumlah pembeli yang datang ke apotek sebelum dan sesudah adanya klinik mitra BPJS Kesehatan di sekitarnya, menganalisis perubahan jam buka apotek sebelum dan sesudah adanya klinik mitra BPJS Kesehatan di sekitarnya. Penelitian ini menggunakan data primer melalui penyebaran kuesioner kepada 100 responden. Guna mencapai tujuan penelitian, di dalam penelitian ini digunakan alat analisis uji validitas dan reabilitas untuk mengukur keakuratan kuesioner yang disebar, dan uji beda berhubungan (paired sample t-test) guna mengetahui apakah terdapat perbedaan dari dampak adanya klinik mitra BPJS Kesehatan tersebut. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan pada variabel keuntungan t-hitung>t-tabel (2,979>1,660), omzet penjualan t-hitung>t-tabel (2,463>1,660), dan jumlah jam kerja t-hitung>t-tabel (4,368>1,660), tetapi tidak ada perubahan pada variabel jumlah pembeli t-hitung
Ilil Maidatuz Zulfa
PHARMACY: Jurnal Farmasi Indonesia (Pharmaceutical Journal of Indonesia), Volume 15; doi:10.30595/pharmacy.v15i2.3636

Abstract:Respiratory Tract Infections (RTIs) commonly occur as an infection in children. A considerable amount of antibiotics consumption is used to treat RTIs in many hospitals. Unwise antibiotic treatments in RTIs will increase bacterial resistance and treatment cost. This study aimed to investigate the quality or appropriateness of antibiotics use in RTI treatments in pediatric inpatients. A retrospective analysis of antibiotics consumption data was conducted through inpatient medical records for three months in 2017 at a primary hospital in Surabaya, Indonesia. The qualitative assessment was performed using a modified Gyssens algorithm based on the National Guideline and other relevant international standards of antibiotics applications in RTI treatment. The medical records of a total of 87 pediatric inpatients aged 0-14 y.o. were included in this study. The most common diagnosis was tonsillopharyngitis (32.18%), and the average length of hospital stay was 4.84 days. Antibiotics used in the treatments were from the class of -lactams and cephalosporins, all of which were applied in empirical therapy. According to the analysis, the antibiotic treatments were not appropriate. The most inappropriate use of antibiotics was in the form of wrong choice of drug choice (95.40%), followed by the sub-optimal duration of antibiotics (4.60%). The RTI treatment in pediatrics has to avoid any inappropriate uses of antibiotics, which can be achieved through the evaluation of institutional policy against the local guideline, antibiogram, or any relevant international guidelines.
Iffani Fardan, Sabtanti Harimurti
PHARMACY: Jurnal Farmasi Indonesia (Pharmaceutical Journal of Indonesia), Volume 15; doi:10.30595/pharmacy.v15i2.3001

Abstract:Kandungan utama dari minyak daun cengkah adalah eugenol yang mempunyai aktifitas sebagai antibakteri. Berdasarkan aktivitasnya tersebut, eugenol digunakan untuk membuat gel antiseptik dalam penelitian ini. Hal ini dilakukan dengan harapan akan bisa dikembangkan sebagai gel antiseptik tangan alternatif, menggantikan gel antiseptik tangan yang ada di pasaran yang sebagian besar bahan utamanya adalah alkohol yang masih menjadi perhatikan karena sifat nonhalalnya bagi masyarakat muslim. Penelitian ini bertujuan untuk memformulasikan eugenol menjadi gel antiseptik tangan yang memenuhi standar yang sudah ditentukan. Gel diformulasi dengan basis dasar CMC-Na dengan berbagai konsentrasi minyak atsiri daun cengkeh yaitu 0% (kontrol negatif), 1, 10, dan 20%. Evaluasi gel yang dilakukan pada peneltian ini adalah sifat fisik gel seperti evaluasi organoleptik, homogenisitas, pH, daya lekat, daya sebar, dan viskositas. Selain itu dilakukan uji daya antibakteri untuk mengetahui seberapa besar konsentrasi minyak atsiri yang bisa digunakan untuk bisa menggantikan gel antiseptik tangan yang beredar di pasaran. Berdasarkan data penelitian, semakin besar konsentrasi minyak atsiri daun cengkeh yang digunakan, akan berpengaruh terhadap sifat fisiknya. Selain itu, dari penelitian ini diketahui bahwa konsentrasi minyak atsiri daun cengkeh yang mampu menghambat bakteri Staphylococcus aureus adalah sebesar 10%, karena pada konsentrasi ini daya hambat yang dihasilkan setara dengan daya hambat yang dihasilkan oleh gel antiseptik tangan yang dijual di pasaran.
Dwi Hartanti, Jirapat Theeravit
PHARMACY: Jurnal Farmasi Indonesia (Pharmaceutical Journal of Indonesia), Volume 15; doi:10.30595/pharmacy.v15i2.2811

Abstract:Turmeric (Curcuma longa L.) is a medicinal plant commonly used in Thai Traditional Medicine (TTM), both in single use and formula. It has been known for its antioxidant activity and applied for management of many diseases. In this article, we reported some aspects of quality control of crude drugs and capsules of turmeric according to the standards set in Thai Herbal Pharmacopeia (THP). The results of our evaluations demonstrated that turmeric crude drugs met the criteria set in THP for microscopical identification, foreign matter (1.31%), loss on drying (6.89±0.174%), ethanol-soluble extractive (13.56%), water-soluble extractive (15.17%), and the profile of Thin Layer Chromatography (TLC) chromatogram. However, its volatile oil content (5.95%) was below the minimum value set in THP. The turmeric capsules met the criteria set in THP for loss on drying (8.64±0.093%), ethanol-soluble extractive (18.07%), water-soluble extractive (14.95%), and profile of TLC chromatogram.
Rizaldy Taslim Pinzon, Rosa De Lima Renita Sanyasi
PHARMACY: Jurnal Farmasi Indonesia (Pharmaceutical Journal of Indonesia), Volume 15; doi:10.30595/pharmacy.v15i2.3482

Abstract:Neuropati diabetikum (ND) adalah komplikasi utama yang sering muncul pada pasien diabetes mellitus (DM). Penelitian ini bertujuan untuk menilai efektivitas vitamin B kombinasi terhadap gejala klinis ND dan QoL (kualitas hidup/quality of life) pada pasien DM. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian one group pre and post test design pada pasien DM dengan ND. Setiap subjek mendapatkan kombinasi vitamin B yang terdiri dari: vitamin B1, vitamin B6, dan vitamin B12 dengan dosis masing-masing secara berurutan: 100 mg, 100 mg, 5000 mcg. Gejala klinis ND diukur dengan menggunakan Total Symptom Score (TSS). Angka QoL diukur dengan menggunakan kuesioner SF-8. Penilaian gejala dilakukan sebanyak 5 kali, dari penilaian awal hingga 3 bulan. Ada 104 subjek pada awal penelitian. Tujuh subjek tidak dapat mengikuti penelitian sampai selesai, sehingga tersisa 97 subjek pada akhir penelitian. Ada perbaikan gejala ND, yang meliputi sensasi nyeri tertusuk, sensasi nyeri terbakar, kesemutan, dan rasa kebas/baal, setelah pemberian kombinasi vitamin B. Perubahan tersebut bermakna secara statistik (p
Faridlatul Hasanah, Adia Putra Wirman
PHARMACY: Jurnal Farmasi Indonesia (Pharmaceutical Journal of Indonesia), Volume 15; doi:10.30595/pharmacy.v15i2.1966

Abstract:Penemuan senyawa antimikroba baru merupakan hal yang menarik untuk terus dikembangan, hal ini disebabkan meningkatnya resistensi antimikroba secara global. Penelitian ini bertujuan untuk mensintesis senyawa baru yaitu vanilil para hidroksibenzoat (vanilil p-hidroksibenzoat) yang diharapkan memiliki aktivitas antimikroba. Penelitian diawali dengan mensintesis vanilil p-hidroksibenzoat melalui reaksi reduksi dan esterifikasi. Senyawa vanillin direduksi terlebih dahulu menjadi vanilil alkohol untuk meminimalisasi halangan sterik pada reaksi esterifikasi. Senyawa hasil reduksi dilanjutkan reaksi esterifikasi menggunakan metode Steglich dengan asam para hidroksibenzoat. Senyawa yang dihasilkan dianalisis dengan menggunakan Kromatografi Lapis Tipis (KLT), Fourier-Transform Infrared Spectroscopy (FTIR), spektroskopi MS, dan spektroskopi NMR. Senyawa ester yang terbentuk mempunyai titik leleh dari yaitu 152-154 oC dengan rendemen 55,90%. Hasil elusidasi struktur dengan FTIR dan spektrum 1H-NMR menunjukkan kesesuaian dengan senyawa yang diinginkan yaitu vanilil p- hidroksibenzoat. Daya antimikroba senyawa vanilil p-hidroksibenzoat terhadap bakteri Staphylococcus aureus pada konsentrasi 200 dan 400 ppm termasuk kategori lemah. Sedangkan pada konsentrasi 600 ppm dikategorikan sedang. Uji aktivitas terhadap Pseudomonas aeroginosa pada konsentrasi 200 dan 400 ppm termasuk kategori sedang dan pada konsentrasi 600 ppm dikategorikan kuat. Senyawa hasil sintesis tidak memiliki aktivitas sebagai antijamur.
Andy Eko Wibowo, Andy Kurniawan Saputra, Ratna Asmah Susidarti
PHARMACY: Jurnal Farmasi Indonesia (Pharmaceutical Journal of Indonesia), Volume 15; doi:10.30595/pharmacy.v15i2.3698

Abstract:Senyawa 1-(2,5-dihidroksifenil)-(3-piridin-2-il)-propenon merupakan senyawa kalkon yang memiliki aktifitas antiinflamasi sebanding dengan ibuprofen dan aktifitas antioksidannya sangat kuat setara dengan quercetin. Senyawa ini telah disintesis menggunakan 2,5-dihidroksiasetofenon dan piridin-2-karbaldehida dengan metode radiasi microwave dan katalis K2CO3 tanpa pelarut selama 4 menit. Dalam upaya memperoleh rendemen yang lebih baik, dilakukan penelitian dengan mengganti katalis, yaitu menggunakan katalis NaOH. Penelitian dilakukan dengan mereaksikan senyawa 2,5-dihidroksiasetofenon dan piridin-2-karbaldehida dengan variasi katalis NaOH sebesar 0–0,002 mol. Senyawa disintesis menggunakan kekuatan radiasi microwave sebesar 140 watt selama 4 menit. Setelah proses sintesis maka dilakukan perhitungan rendemen senyawa 1-(2,5-dihidroksifenil)-(3-piridin-2-il)-propenon untuk mengetahui massa katalis NaOH yang optimal dalam menghasilkan rendemen terbanyak. Berdasarkan hasil yang didapat, massa katalis optimum untuk sintesis senyawa 1-(2,5-dihidroksifenil)-(3-piridin-2-il)-propenon adalah 0,0010 mol dengan rendemen sebesar 13,23%.
Ani Anggriani, Ida Lisni, Kusnandar Kusnandar
PHARMACY: Jurnal Farmasi Indonesia (Pharmaceutical Journal of Indonesia), Volume 15; doi:10.30595/pharmacy.v15i2.3061

Abstract:Intensitas penggunaan antibiotik yang relatif tinggi menimbulkan berbagai permasalahan dan ancaman global bagi kesehatan terutama resistensi bakteri terhadap antibiotik. Resistensi antibiotik dan infeksi nosokomial lebih banyak terjadi di ruang Intensive care unit (ICU). Faktor peningkatan resistensi antibiotik di ruang ICU meliputi penggunaan obat antibiotik dengan spektrum yang luas, kemudahan terjadinya cross-transmission, dan gangguan pertahanan tubuh pasien yang dirawat di ruang ICU. Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi dan menilai penggunaan antibiotik pada pasien yang dirawat di ICU di salah satu RS swasta di Bandung. Penelitian dilakukan menggunakan metode observasional dengan pengumpulan data secara retrospektif dan konkuren, dan penyajian data secara deskriptif meliputi data hasil analisis kuantitatif yaitu berdasarkan jenis kelamin, usia, diagnosa, penggunaan obat antibiotik dan data analisis kualitatif yaitu berdasarkan indikasi, dosis pemberian, interval waktu pemberian, lama waktu pemberian, kombinasi, dan interaksi obat. Analisis kuantitatif penggunaan antibiotik berdasarkan jenis kelamin laki-laki dan perempuan, tidak ada perbedaan secara bermakna, berdasarkan usia paling banyak usia 65 tahun ke atas, berdasarkan diagnosa terbanyak adalah gastroenteritis akut dan stroke infark, sedangkan antibiotik paling banyak digunakan di ruang ICU adalah antibiotik seftriakson. Analisis kualitatif dinilai kesesuaian penggunaan antibiotik berdasarkan indikasi penyakit 100%, berdasarkan dosis pemberian 100%, berdasarkan interval waktu pemberian antibiotik 92,31%, berdasarkan lama waktu pemberian antibiotik 92,31%, berdasarkan kombinasi sinergis terjadi pada penggunaan antibiotik seftriakson dengan meropenem, seftazidim dengan levofloxacin, dan metronidazol dengan levofloxacin masing-masing 7,69%. Berdasarkan interaksi, terjadi interaksi mayor pada obat deksametason dengan levofloksasin (7,69%) dan moderate pada obat seftriakson dengan furosemid (7,69%). Antibiotik seftriakson paling banyak digunakan di ruang ICU. Dari kajian rasionalitas diketahui adanya kesesuaian penggunaan antibiotik berdasarkan indikasi penyakit, dosis pemberian, interval waktu pemberian, lama waktu pemberian, dan penggunaan kombinasi antibiotik. Terjadi interaksi obat signifikan secara klinis.
Much Ilham Novalisa Aji Wibowo, Rima Anggita Pratiwi, Elza Sundhani
PHARMACY: Jurnal Farmasi Indonesia (Pharmaceutical Journal of Indonesia), Volume 15; doi:10.30595/pharmacy.v15i2.3832

Abstract:Interaksi obat terjadi pada saat efek suatu obat (index drug) berubah akibat adanya suatu interaksi dengan obat lain (precipitant drug), makanan, atau minuman. Perubahan ini dapat berinteraksi menghasilkan efek yang dikehendaki (Desirable Drug Interaction), atau efek sebaliknya yaitu tidak dikehendaki (Adverse Drug Interaction). Dilaporkan bahwa kejadian interaksi obat lebih banyak terjadi pada pasien dewasa, sedangkan laporan mengenai kejadian interaksi obat pada pasien anak masih sedikit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi interaksi obat golongan antibiotik yang terjadi pada resep pasien pediatri di Rumah Sakit Ananda, Purwokerto. Penelitian dilakukan secara deskriptif noneksperimental dengan pengambilan data prospektif dilakukan pada data rekam medik dan resep pasien pediatri pada bulan Februari – April 2018. Sampel diperoleh secara purposive sampling dengan kriteria inklusi pasien pediatri yang tergolong bayi (usia 28 hari–23 bulan), anak–anak (usia 2–11 tahun), dan remaja (usia 12–18 tahun), pasien pediatri yang mendapat resep obat yang mengandung antibiotik, pasien pediatri yang mendapat obat ≥2 macam obat secara bersamaan, pasien pediatri yang dirawat di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Ananda Purwokerto. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 11 kasus kombinasi obat yang diidentifikasi berpotensi menyebabkan interaksi obat. Jenis interaksi obat terjadi pada interaksi farmakokinetik (54,5%) dan farmakodinamik (45,5%). Potensi interaksi antibiotik dengan antibiotik maupun dengan obat lain terjadi pada kategori mayor (18,2%), moderat (72,7%), dan minor (9,1%). Kesimpulan penelitian yaitu terdapat interaksi antara antibiotik dengan antibiotik maupun dengan obat lain. Interaksi obat terjadi pada fase farmakokinetik dan farmakodinamik. Tingkat keparahan interaksi yang terjadi yaitu mayor, moderat, dan minor.
Page of 4
Articles per Page
by
Show export options
  Select all