Refine Search

New Search

Advanced search

Journal Berkala Arkeologi

-
346 articles
Page of 35
Articles per Page
by
Show export options
  Select all
Toetik Koesbardiati, Ahmad Yudianto, Delta Bayu Murti, Rusyad Adi Suriyanto
Published: 7 August 2015
Berkala Arkeologi, Volume 33, pp 133-150; doi:10.24832/berkalaarkeologi.v33i2.11

Abstract:It is assumed that Mongoloid’s migration came from western and northern part of Indonesia in various waves of migration. The migrant population then mixed with initial inhabitants, which are Australomelanesoid. The wave of migration moved further to the eastern Indonesia and mixed with migrant that entered from east (Papua). Some researches show that the concentration of mixture (hybridization) of migration was around Wallace’s line. Gilimanuk is one of prehistoric site that yields Neolithic human remains. It is assumed that Gilimanuk can give worthy information about human variation at that time. The aim of the research is to describe the human genetic variation at site of Gilimanuk. The material is DNA (deoxyribonucleic acid) has been extracted from many piece of bone of Gilimanuk’s human remains. We used STR (short tandem repeat) two loci (THO1 and TPOX) to gain human genetic variation. The result show all of sample yields band with different allele. This evidence confirms that they have a genetic affinity is not the same, or their genes from several population. Migrasi Mongoloid diduga berasal dari wilayah barat dan utara Indonesia yang datang dalam berbagai gelombang. Kelompok migran ini bercampur dengan penduduk setempat yang berafiliasi Australomelanesoid. Migrasi ini bergerak ke arah timur Indonesia dan bercampur dengan migran yang masuk dari wilayah timur (Papua). Beberapa penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi percampuran (hibridisasi) ada di sekitar wilayah Garis Wallace sampai ke timur. Gilimanuk adalah salah satu situs prasejarah yang kaya akan temuan sisa-sisa manusia Neolitik. Diasumsikan bahwa Gilimanuk ini dapat memberi petunjuk variasi manusia di wilayah ini. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan variasi genetik populasi Gilimanuk. Bahan penelitian adalah DNA (deoxyribonucleic acid) yang diambil dari sisa-sisa rangka individuindividu Gilimanuk. Metode yang digunakan adalah STR (short tandem repeat) dengan menggunakan dua loci (THO1 dan TPOX). Sampel menunjukkan band/pita dengan allele yang berbeda-beda. Bukti ini menegaskan bahwa mereka mempunyai afinitas atau kekerabatan genetik yang tidak sama, atau gen mereka berasal dari beberapa populasi.
Sofwan Noerwidi
Published: 7 August 2015
Berkala Arkeologi, Volume 33, pp 151-168; doi:10.24832/berkalaarkeologi.v33i2.12

Abstract:Prehistoric research in South Banyuwangi by the National Center of Archaeology of Yogyakarta Regional Office between 2008-2011 have found artifact assemblage which indicating stone tool workshop activities. The typology of artifacts which reflecting workshop activities, including; nucleus, percutor, debitage, rough adze, and polishing stone. This paper uses chaîne opératoire approach to reconstruct the producing process and technological aspects related to the manufacturing process of stone adze from neolithic workshop sites in the region. This study is expected to increasing our understanding on technological perspective in the manufacture of Neolithic stone tools, and to give some idea about the social aspects of life of Austronesian speaking people in Indonesia. Berdasarkan hasil penelitian Balai Arkeologi Yogyakarta antara tahun 2008-2011, di kawasan Banyuwangi Selatan telah ditemukan kumpulan artefak yang mengindikasikan adanya aktivitas perbengkelan alat batu. Jenis artefak yang mencerminkan pola tingkah lalu tersebut antara lain adalah; batu inti, batu pukul, tatal, calon beliung, dan batu asah. Tulisan ini menggunakan pendekatan chaîne opératoire untuk merekonstruksi proses pembuatan dan mengungkap aspek-aspek teknologi yang berkaitan dengan proses pembuatan beliung batu dari situs-situs perbengkelan neolitik di kawasan tersebut. Studi ini diharapkan mampu menambah pandangan mengenai teknologi pembuatan alat batu pada masa neolitik dan sedikit gambaran tentang aspek sosial kehidupan masyarakat penutur bahasa Austronesia di Indonesia.
Gunadi Kasnowihardjo, Rusyad Adi Suriyanto, Toetik Koesbardiati, Delta Bayu Murti
Published: 7 August 2015
Berkala Arkeologi, Volume 33, pp 169-184; doi:10.24832/berkalaarkeologi.v33i2.26

Abstract:Something interesting about the findings of the human skeleton in Binangun and Leran Prehistoric Burial Sites is the modification of the human teeth that is extremely rare found in prehistoric grave in Java as well as in Indonesia. Such tradition is still practiced in Java and Bali by leveling the top or bottom front teeth (Jawa: pangur tradition). Forms of human teeth of Binangun, Leran 1 and Leran 2 are very unique, teeth of Binangun is tapered while human teeth of Leran 1 and Leran 2 shaped like a flower bud. Anatomically the shape of teeth can be altered by a person in the habit of using his teeth. But variations in tooth shape as found in individuals in the Binangun and Leran sites, Rembang regency, Central Java province, in general is the result of a tribal culture. Satu hal yang menarik dari temuan rangka manusia di Situs Binangun dan Situs Leran adalah ditemukannya modifikasi gigi-geligi yang sangat jarang ditemukan di situs-situs kubur prasejarah baik di Jawa maupun di Indonesia. Di Jawa dan Bali, tradisi modifikasi gigi manusia pada umumnya gigi bagian depan atas maupun bawah dibentuk merata (tradisi pangur gigi). Bentuk gigi manusia Binangun dan manusia Leran 1 dan Leran 2 sangat unik, gigi manusia Binangun bentuknya meruncing, sedangkan gigi manusia Leran 1 dan Leran 2 berbentuk mirip kuncup bunga. Secara anatomis bentuk gigi dapat mengalami perubahan akibat kebiasaan seseorang dalam menggunakan giginya. Akan tetapi bentuk gigi yang bervariasi seperti yang ditemukan pada individu di Situs Binangun dan Situs Leran, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah pada umumnya merupakan hasil dari budaya suatu suku bangsa.
M.A. Putri Novita Taniardi
Published: 7 August 2015
Berkala Arkeologi, Volume 33, pp 185-200; doi:10.24832/berkalaarkeologi.v33i2.27

Abstract:The Kekerik ritual has been conducted to celebrate 40 days baby delivery. The ritual is conducted by dukun, a ceremonial leader in Tengger society. This ritual is held to avoid some bad influences from evil spirits arounds. The baby who had this ritual means accepted by Tengger society and start a new life as a holy baby. This kekerik ritual shows megalithic tradition, which is the ancestor spirits is invited to bless the host and also some offerings is made to be presented for the ancestor spirits. The study that conducted in Keduwung village, Puspo district, Pasuruan Regency, East Java Province showed that kekerik ritual reflects megalithic tradition in a Tengger society. This condition is interesting because Tengger people has been known as Hinduneese. The study that define the relation between megalithic tradition and kekerik ritual is applying ethnoarchaeology approach, especially cultural sustainability which assumes that megalithic tradition in Tengger community is related to the past. Ritual kekerik diselenggarakan untuk memperingati 40 hari kelahiran bayi. Ritual ini dipimpin oleh seorang dukun selaku pemimpin adat di kalangan masyarakat Tengger. Ritual kekerik bertujuan untuk mengusir pengaruh-pengaruh jahat dari roh-roh di sekitar lingkungan tempat mereka tinggal. Bayi yang telah menjalani ritual ini telah diterima menjadi orang Tengger sepenuhnya dan disucikan jiwanya. Ritual kekerik ini ternyata menunjukkan ciri-ciri tradisi megalitik. Hal ini terlihat pada adanya ritual pemanggilan roh leluhur dan nenek moyang pada saat upacara berlangsung. Roh-roh tersebut disinggahkan pada Sanggar Ayu di Bale Wetan yang disakralkan oleh orang Tengger. Kondisi inilah yang mencerminkan adanya tradisi megalitik pada masyarakat Tengger. Hal ini terungkap pada penelitian yang dilakukan di Dusun Keduwung, Desa Keduwung, Kecamatan Puspo, Kabupaten Pasuruan, Propinsi Jawa Timur. Tradisi megalitik di kalangan masyarakat Tengger ini sangat menarik, mengingat selama ini masyarakat Tengger dikenal sebagai penganut agama Hindu. Untuk itulah, penelitian ini dilakukan, yaitu untuk menggambarkan hubungan antara tradisi megalitik dan ritual kekerik dengan menggunakan pendekatan etnoarkeologi, terutama melalui sudut pandang kesinambungan budaya, yaitu pandangan bahwa tradisi megalitik yang berlangsung di kalangan masyarakat Tengger merupakan perkembangan dari budaya masa lampau.
Lucas Wattimena
Published: 7 August 2015
Berkala Arkeologi, Volume 33, pp 201-210; doi:10.24832/berkalaarkeologi.v33i2.28

Abstract:South Ceram coastal communities consist of several groups, among others: Noa nea, Simalouw, Yalatan and Rohua. Each group has a hallmark of culture, as the identity of each society. It is manifestated - among other - in the traditional architecture. The meaning of traditional architecture here is the traditional house, where the traditional house on the south coast of Ceram Island, is not merely seen as a physical building but also has the structure (roles, functions and position) in the development of the society.it could be seen in the pattern of traditional houses. The research showed that the traditional houses had different structure (roles, functions and positions), but on the other those variety of function are then adapted to their roles according to the southtern coastal communities of Ceram island (Noa Nea, Rohua, Yalatan) traditional houses can be grouped into traditional houses and big houses. Masyarakat pesisir selatan Pulau Seram terdiri dari beberapa kelompok masyarakat, antara lain: Noa nea, Simalouw, Yalatan dan Rohua. Masing-masing kelompok memiliki ciri khas kebudayaan, sebagai identitas kelompok masyarakat manusia. Salah satu bentuk implimentasinya adalah arsitektur tradisional. Arsitektur tradisional dimaksudkan disini adalah Rumah Adat, dimana rumah adat di pesisir selatan Pulau Seram, bukan hanya sebagai suatu bangunan fisik tetapi memiliki struktur (peran, fungsi dan kedudukan) terhadap perkembangan masyarakat itu sendiri. Hal mana dapat dilihat pada pola pengelompokan rumah adat mereka. Dari hasil penelitian dengan menggunakan pendekatan kualitatif, arsitektur tradisional Rumah Adat memiliki beberapa struktur (peran,fungsi dan kedudukan) yang berbeda antara satu rumah adat dengan rumah adat lainnya, tetapi dilain pihak multifungsi bangunan rumah adat disesuaikan dengan perannya. Menurut pemahaman masyarakat pesisir selatan pulau seram (Noa Nea, Rohua, Yalatan) rumah tradisional adalah wujud rumah Fam/Marga/Matarumah, rumah adat, rumah besar.
Ss Agni Sesaria Mochtar
Published: 7 August 2015
Berkala Arkeologi, Volume 33, pp 211-226; doi:10.24832/berkalaarkeologi.v33i2.29

Abstract:Borobudur temple has been famously known as one of the Indonesian heritage masterpiece. Various aspects of it had been studied thoroughly since the beginning of 20th century A.D. Those studies tended to be monumental centric, giving less attention to the cultural context of the temple and its surroundings. Settlement in the nearby places is one of the topics which not have been studied much yet; leaving a big question about how the settlement supported continuity of many activities in the temple, or even the other way around; how the temple affected the settlement. There is only a few data about old settlement found in situ in Borobudur site, only abundance of pottery sherds. The analysis applied on to the potteries find during the 2012 excavation had given some information about the old settlement in Borobodur site. The old settlement predicted as resided in the south west area, in the back side of the monument. Candi Borobudur telah lama dikenal sebagai salah satu mahakarya warisan budaya Indonesia. Berbagai penelitian mengenai berbagai aspek yang berkaitan dengannya telah banyak dilakukan sejak awal abad ke-20 M. Akan tetapi, penelitian yang telah dilakukan cenderung terpusar pada bangunan candi itu sendiri dan tidak banyak membahas Candi Borobudur sebagai bagian dari sebuah konteks kebudayaan yang mengelilinginya. Salah satu topik yang belum dibahas adalah tentang permukiman yang mendukung kelangsungan aktivitas di Candi Borobudur, ataupun sebaliknya; permukiman yang sangat dipengaruhi oleh keberadaan Candi Borobudur. Tidak banyak data in situ yang masih dapat diperoleh dari Situs Borobudur untuk mengungkap permukiman kuna di sana. Akan tetapi, analisis terhadap fragmen-fragmen gerabah yang ditemukan di Situs Borobudur pada kegiatan ekskavasi tahun 2012 memberikan gambaran tentang permukiman kuno di situs tersebut. Permukiman kuno tersebut diperkirakan berada di sisi barat daya candi.
Ika Dewi Retno Sari
Published: 7 August 2015
Berkala Arkeologi, Volume 33, pp 227-238; doi:10.24832/berkalaarkeologi.v33i2.30

Abstract:This study aims to analyze the relevance of values that exist in the relief of animal stories in Sojiwan temple with the present character education. The approach used is qualitative approach with descriptive phenomenological method. From the research it is known that the animal story selected as the fable is a story that is very popular and known by all people at various places. Here Animals are seen as a projection of human behavior and nature, so that the nature of humor within the fable could evoke willingness for introspection and retrospection. Fable in Sojiwan temple’s relief as one of Indonesian culture containing moral teachings that are still very relevant to character education for the younger generation of today. Schools and educators need to develop teaching and educational programs based on the local culture. Families and communities also need to be involved in character education for the younger generation, through habituation virtuous behavior. Penelitian ini bertujuan menganalisa relevansi nilai-nilai yang terkandung dalam relief cerita hewan pada Candi Sojiwan dengan pendidikan karakter masa kini. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif fenomenologis. Dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa cerita hewan dipilih karena cerita hewan adalah cerita yang sangat digemari oleh semua kalangan dan dikenal di berbagai tempat. Hewan dilihat sebagai proyeksi tingkah laku dan sifat manusia sehingga sifat humor dalam cerita hewan menimbulkan niat untuk mengintrospeksi dan meretrospeksi tindakannya. Relief cerita hewan di Candi Sojiwan sebagai salah satu hasil kebudayaan Indonesia mengandung ajaran-ajaran budi pekerti yang masih sangat relevan dengan pendidikan karakter bagi generasi muda pada masa kini. Saran dari penelitian ini, bahwa sekolah dan kalangan pendidik perlu menyusun program pengembangan pendidikan dan pengajaran yang berakar dari budaya lokal. Juga diperlukan kepedulian keluarga dan masyarakat untuk terlibat dalam pendidikan karakter bagi generasi muda, melalui pembiasaan perilaku berbudi.
Ss Henki Riko P, Ss Hery Priswanto
Published: 7 August 2015
Berkala Arkeologi, Volume 33, pp 239-252; doi:10.24832/berkalaarkeologi.v33i2.31

Abstract:Pleret is one sites that has the Islamic Mataram long way in archaeological research. Pleret existence can not be ignored in a civilization of the Islamic Mataram Period, which also has a parallel position with Kutagede, Kerto, Kartosuro, Surakarta and Yogyakarta. But the glory of pleret was not able to be seen as a whole, only a few partsthat can be met partially. The purpose of writing this article is one of the publications of the result of the research efforts that have been conducted Pleret Kedaton site by displaying the latest findings in the form of the remains of building that are considered part of the building Cepuri keben / ward Srimanganti. Pleret adalah salah situs Perkotaan Masa Mataram Islam mengalami perjalanan panjang dalam kegiatan penelitian arkeologi. Keberadaan Pleret tidak bisa diabaikan dalam peradaban Masa Mataram Islam, yang mana juga mempunyai kedudukan sejajar dengan Kutagede, Kerto, Kartosuro, Surakarta dan Yogyakarta. Namun sisa-sisa kejayaan Pleret sudah tidak disaksikan secara utuh, hanya beberapa bagian secara parsial dapat ditemukan. Tujuan penulisan artikel ini adalah salah upaya publikasi hasil penelitian yang telah dilakukan Situs Kedaton- Pleret dengan nemampilkan temuan terbaru berupa sisa-sisa bangunan yang diduga bagian dari cepuri bangunan keben/ bangsal srimanganti
Berkala Arkeologi
Published: 7 August 2015
Berkala Arkeologi, Volume 33; doi:10.24832/berkalaarkeologi.v33i2.169

Berkala Arkeologi
Published: 7 August 2015
Berkala Arkeologi, Volume 33; doi:10.24832/berkalaarkeologi.v33i2.170

Page of 35
Articles per Page
by
Show export options
  Select all