Refine Search

New Search

Results in Wave: Jurnal Ilmiah Teknologi Maritim: 133

(searched for: container_group_id:24678)
Page of 3
Articles per Page
by
Show export options
  Select all
Nafiri Muhammad Kautsar, I Ketut Suastika
Wave: Jurnal Ilmiah Teknologi Maritim, Volume 16; https://doi.org/10.29122/jurnalwave.v16i2.5430

Abstract:
Dalam studi sebelumnya, penggunaan Hull Vane® lurus mengakibatkan peningkatan nilai resistance kapal. Berdasarkan hipotesa, hal ini disebabkan oleh gaya angkat yang diberikan Hull Vane® terlalu besar sehingga kapal mengalami trim haluan. Untuk mengurangi trim haluan maka dibuat ukuran Hull Vane® yang lebih kecil antara lain Hull Vane® dengan AR = 8.5, AR = 22.9 dan AR = 28.94 dengan kecepatan uji pada 11 knot (Fn = 0.34), 17 knot (Fn = 0.53), 20 knot (Fn = 0.62) dan 26 knot (Fn = 0.8). Dari hasil simulasi yang dilakukan, didapatkan bahwa penggunaan Hull Vane® lurus di setiap variasi aspect ratio pada kapal uji hanya efektif pada kecepatan 11 knot dimana mampu mengurangi resistance kapal hingga 17%. Untuk kecepatan di atas 11 knot, peningkatan aspect ratio mampu untuk mengurangi hambatan namun resistance pada kapal dengan Hull Vane® lurus masih lebih besar dibandingkan dengan kapal tanpa Hull Vane® yang disebabkan nilai lift force oleh Hull Vane® lurus pada buritan kapal masih terlalu besar sehingga haluan kapal lebih banyak tercelup dibandingkan kapal tanpa Hull Vane®. Hal tersebut mengakibatkan nilai wetted surface area (WSA) dan nilai hydrodynamic pressure meningkat dibandingkan kapal tanpa Hull Vane® sehingga nilai resistance kapal pun bertambah.
Hariyono Hariyono
Wave: Jurnal Ilmiah Teknologi Maritim, Volume 16; https://doi.org/10.29122/jurnalwave.v16i2.5545

Abstract:
Riset ini bertujuan untuk menganalisa kegagalan struktur ladder pada Kapal Isap Produksi Timah 19 yang telah mengalami patah ladder mengakibatkan beberapa komponen dan peralatan ladder seperti cutter hilang di dasar laut, salah satu penyebabnya yaitu pengaruh model bracing yang dipasang pada konstruksi pondasi katrol ladder sehingga menimbulkan biaya yang sangat besar untuk perbaikan ladder yang patah. Riset dilaksanakan menggunakan Finite Element Analysis dengan pemodelan menggunakan bantuan software Ansys. Model ladder dibuat sesuai aktual dengan panjang ladder 59 m. Kemudian dibuat masing-masing model diagonal bracing dan x-bracing khusus pada konstruksi pondasi katrol. Beban yang bekerja pada ladder untuk 2 model sama yaitu berat pipa dan lumpur sebesar 1,42 x 105 N, berat cutter sebesar 0,57 x 105 N dan torsi cutter sebesar 0,67 x 108 Nmm. Hasil analisa menunjukkan bahwa tegangan maksimum terjadi pada komponen strut tepat dibawah pondasi katrol untuk model diagonal bracing sebesar 57,32 N/mm2 dibandingkan dengan model x-bracing sebesar 25,44 N/mm2. Hasil ini menunjukkan bahwa konstruksi brace yang dipasang pada area katrol ladder sangat mempengaruhi nilai tegangan sehingga untuk meminimalisir kegagalan struktur ladder khususnya pada area katrol sebaiknya menggunakan konstruksi x-bracing karena memiliki nilai tegangan minimum dibandingkan konstruksi diagonal bracing yang terpasang saat ini pada Kapal Isap Produksi.
Siwi Woro Herningsih
Wave: Jurnal Ilmiah Teknologi Maritim, Volume 16; https://doi.org/10.29122/jurnalwave.v16i2.5432

Abstract:
Kemampuan berkomunikasi dan penggunaan kode isyarat internasional merupakan kemampuan interaksi yang dimiliki oleh individu atau seseorang di atas kapal untuk dapat berinteraksi dan bersosialisasi dengan individu atau orang lain. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh komunikasi berkomunikasi dan penggunaan kode isyarat internasional terhadap tingkat keselamatan pelayaran kapal. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif. Analisis data yang digunakan pendekatan struktural Equation Model (SEM) berbantuan aplikasi smart PLS. Responden dalam penelitian ini adalah 68 awak kapal yang ada di Pelabuhan Merak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh kemampuan berkomunikasi terhadap tingkat keselamatan pelayaran, selain itu kemampuan penggunaan kode internasional terhadap tingkat keselamatan.
Ahmad Yasim, Nandiko Rizal, Widodo Widodo
Wave: Jurnal Ilmiah Teknologi Maritim, Volume 16, pp 43-50; https://doi.org/10.29122/jurnalwave.v16i2.4728

Abstract:
Perkembangan energi terbarukan mengalami peningkatan pesat seiring menipisnya cadangan bahan bakar fosil. Arus laut adalah sumber energi terbarukan yang memiliki potensi besar di Indonesia namun didominasi oleh kecepatan arus rendah. Vertical Axial Tidal Current Turbine (VATCT) adalah teknologi yang cukup efektif mengkonversi energi arus laut rendah menjadi energi listrik. NACA 63(4)021 adalah jenis hidrofoil yang sedang trend digunakan karena dapat menghasilkan efisiensi yang lebih baik. Oleh karena itu, dilakukan studi numerik hidrofoil NACA 63(4)021 berdasarkan kondisi kecepatan arus rendah. Studi numerik menggunakan model 2D dengan variasi sudut serang dan initial condition Re 200.000. Dari hasil studi, diketahui nilai Cl maksimal 1,16 pada AoA 15?, sedangkan nilai Cd cukup rendah pada AoA antara 0? hingga 10?. Nilai Cl/Cd maksimal adalah 25.5 pada AoA 8?. Dengan demikian, direkomendasikan sudut ideal hidrofoil NACA 63(4)02 pada VATCT adalah 8? (untuk turbin fixed pitch) atau pada rentang sudut 5? hingga 10? (untuk turbin active-passive pitch).
Rodlitul Awwalin, Sugeng Marsudi, Faulina Khusniawati
Wave: Jurnal Ilmiah Teknologi Maritim, Volume 16, pp 51-58; https://doi.org/10.29122/jurnalwave.v16i2.5471

Abstract:
Kepulauan Kangean merupakan wilayah bagian dari Kabupaten Sumenep, Pulau Madura, Jawa Timur. Jumlah penduduk di Kepulauan Kangean berjumlah 116.946 jiwa pada tahun 2021, dengan tingkat kepadatan penduduk sebesar 1.397 orang per km2. Aktifitas perekonomian antar pulau, masyarakat secara umum menggunakan transportasi laut berupa Kapal Pelayaran Rakyat (Kapal Pelra), kapal penyeberangan berukuran kecil dan kapal perintis. Pada penelitian ini dilakukan studi konseptual perencanaan fasilitas transportasi laut berupa waterbus yang bertujuan untuk meningkatkan kemudahan akses kegiatan ekonomi masyarakat Kepulauan Kangean. Metode yang digunakan pada penelitian ini berupa studi lapangan untuk mengetahui pola operasi kapal serta menggunakan data kapal pembanding yang beroperasi di Kepulauan Kangean. Berdasarkan hasil studi lapangan diperoleh bahwa mayoritas kapal yang melayani pelayaran di Kepulauan Kangean adalah Kapal Pelayaran Rakyat. Hasil regresi linear diperoleh ukuran utama kapal waterbus adalah L=15 m, B=4 m, H=1,71 m, T=0,86 m, dan GT=16,71 ton. Selanjutnya diperoleh pola operasi kapal waterbus untuk Kepulauan Kangean yang terdiri dari dua titik, yaitu titik pertama di Pelabuhan Batugulok Kecamatan Arjasa ke pulau sekitarnya, dan titik kedua di Pelabuhan Sapeken Kecamatan Sapeken ke pulau sekitarnya.
Andri Yulianto, Misra Jaya, Jusva Agus Muslim, Tommy Martin Syauta
Wave: Jurnal Ilmiah Teknologi Maritim, Volume 16, pp 9-16; https://doi.org/10.29122/jurnalwave.v16i1.5319

Abstract:
Propeler merupakan salah satu komponen penting perahu yang berfungsi sebagai penggerak. Sehingga kerusakan propeler menjadi masalah utama para nelayan dalam menjalankan tugasnya. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan laju korosifitas, daya mesin dan diameter propeler perahu nelayan tradisional. Metode yang digunakan adalah studi eksperimental dengan melakukan observasi lapangan, pengujian komponen material, serta uji laju korosi dengan metode kehilangan berat. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Permesinan Kapal Politeknik Pelayaran Banten dari bulan Agustus sampai dengan Desember 2021. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lamanya perendaman berpengaruh terhadap nilai kehilangan berat dan laju korosi. Selain itu, propeler dengan diameter 35 cm mengalami laju korosi 26,0771 MPY (mils per year) lebih cepat daripada propeler berdiameter 30 cm dengan laju korosi 20,0957 MPY. Pemilihan penggunaan diameter propeler juga harus disesuaikan dengan daya mesin, daya mesin 16 PK lebih tepat menggunakan propeler berdiameter 30 cm, sedangkan propeler berdiameter 35 cm digunakan pada mesin kapal daya 24 PK. Sehingga dapat disimpulkan bahwa cepat atau lambatnya laju korosifitas propeler perahu nelayan tradisional dipengaruhi oleh daya mesin dan diameter propeler yang digunakan, serta perendaman propeler setelah pemakaian.
Amalia Ika Wulandari, Suardi Suardi, Dimas Putra Wahid Rusparyansyah
Wave: Jurnal Ilmiah Teknologi Maritim, Volume 16, pp 17-22; https://doi.org/10.29122/jurnalwave.v16i1.5287

Abstract:
Berdasarkan data yang diterbitkan oleh United Nations Conference on Trade And Development, tercatat jumlah kapal kontainer aktif yang berlayar di seluruh dunia pada tahun 2016 sebanyak 6.086 kapal. Menurut data European Maritime Safety Agency, terdapat 1.101 kasus kecelakaan kapal kontainer di seluruh dunia pada rentang tahun 2011 hingga 2015. Salah satu faktor penyebab kecelakaan tersebut adalah kegagalan struktur pada geladak yang tidak mampu menahan beban yang ada selama kapal beroperasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kekuatan memanjang pada geladak Kapal Kontainer 409 TEU berbahan baja KI-A36 dengan metode non-linear finite element method. Beban yang diberikan pada penelitian ini adalah beban dinamis berupa gelombang hogging dan sagging serta jenis pelat pada kapal yang digunakan yaitu AH-36. Hasil penelitian diperoleh tegangan maksimum paling tinggi adalah 288,954 N/mm2 dengan safety factor 1,229 yaitu pada kondisi ketebalan pelat 75% saat sagging, dan tegangan maksimum terkecil adalah 225,216 N/mm2 dengan safety factor 1,576 yaitu pada kondisi ketebalan pelat 100% saat hogging. Momen lentur vertikal yang diperoleh adalah 4,46 x 1011 N.mm pada kondisi hogging dan -4,66 x 1011 N.mm pada kondisi sagging. Kemudian pada kondisi hogging, momen ultimate terbesar adalah 1,196 x 1012 N.mm dengan safety factor 2,68 pada ketebalan pelat 100% dan momen ultimate terkecil adalah 8,687 x 1011 N.mm dengan safety factor 1,95 pada ketebalan pelat 75%. Pada kondisi sagging, momen ultimate terbesar adalah -9,882 x 1011 N.mm dengan safety factor 2,12 pada ketebalan pelat 100% dan momen ultimate terkecil adalah -6,271 x 1011 N.mm dengan safety factor 1,34 pada ketebalan pelat 75%.
Heni Siswanti, Muhammad Musta'In
Wave: Jurnal Ilmiah Teknologi Maritim, Volume 16, pp 33-42; https://doi.org/10.29122/jurnalwave.v16i1.5411

Abstract:
Penggunaan plat sandwich pada struktur kapal semakin meluas. Steel based hybrid sandwich banyak digunakan sebagai alternatif pengganti plat baja berpenegar. Plat sandwich ini terdiri dari faceplate berupa baja dan core material berupa matriks polyurethane elastomer. Perbedaan karakteristik pada dua material penyusun plat sandwich tersebut menyebabkan beberapa permasalahan. Salah satu permasalahan yang mungkin terjadi adalah kerusakan retak pada core material, yang menyebabkan lepasnya faceplate dari core-nya. Hal ini terjadi karena core material yang berupa matriks polyurethane relatif getas (brittle), sehingga rentan mengalami kerusakan ketika terkena pembebanan lebih atau berulang. Pada penelitian ini dilakukan analisis stress dan deformasi yang terjadi pada plat sandwich struktur geladak kapal, yang memiliki kerusakan retak pada core yang menyebabkan lepasnya lapisan faceplate dari core materialnya. Kerusakan core ini diasumsikan merepresentasikan retak mode I pada mekanika kepecahan. Analisis dilakukan dengan metode elemen hingga dengan bantuan software komputer. Beberapa model dengan variasi panjang keretakan dianalisis, untuk melihat pengaruh panjang keretakan terhadap stress, deformasi dan faktor intensitas stress pada model tersebut. Serta dievaluasi nilai panjang retak minimal saat mulai terjadinya perambatan retak. Hasil analisis menunjukkan bahwa tegangan maksimum (von misses) mengalami kenaikan secara linear dan signifikan terhadap kenaikan panjang keretakan. Tegangan maksimum pada kondisi utuh terjadi pada ujung-ujung kondisi batas jepit (fixed), sementara pada model dengan kerusakan berada pada sisi yang tidak mengalami keretakan. Deformasi juga mengalami kenaikan yang linear dan signifikan seiring dengan kenaikan panjang keretakan. Posisi deformasi maksimum berada pada ujung retakan. Nilai critical stress intensity factor (KIC) pada model adalah 6,90 dan panjang retak gagal (af) adalah 12,2 mm. Artinya perambatan retak akan terjadi ketika panjang retak mencapai 12,2 mm.
Erifive Pranatal, R. Puranggo Ganjar Widityo, Fitria Fresty Lungari
Wave: Jurnal Ilmiah Teknologi Maritim, Volume 16, pp 1-8; https://doi.org/10.29122/jurnalwave.v16i1.5041

Abstract:
Pemilihan sudut deadrise pada planinghull dan pengaruh pada kurva beban propeler dilakukan untuk memberikan gambaran yang jelas terhadap pemilihan mesin utama dan kecepatan kapal. Sehingga, tujuan penelitian ini adalah bagaimana pengaruh sudut deadrise terhadap kurva beban propeler. Sudut deadrise yang dipilih antara lain 7°, 10°, 13°, dan 18°. Metode yang digunakan adalah pendekatan teoretis dengan bantuan data series seperti data Propeller Wagenigen B-Series. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan tahanan karena perbedaan sudut deadrise mempengaruhi kurva beban propeler dengan nilai persentase perbedaan yang hampir sama. Perbedaan persentase nilai tahanan masing-masing sudut deadrise adalah 0,057% (rata-rata selisih tahanan yaitu 33 N) dan perbedaan daya propeler hanya berkisar 0,05%. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa perbedaan sudut deadrise pada penelitian ini memberikan pengaruh yang hampir sama dengan perbedaan nilai tahanan kapalnya.
Sapto Wiratno Satoto, Naufal Abdurrahman Prasetyo, Nurul Ulfah, Muhammad Nurmansyah, Dwiky Pangestu, Muhammad Fauzan Nurja Hafizhsyach, Muslim Syaifullah Rifai, Danang Ariyanto, Eko Wahyu Haryanto, Lutfi Maulana
Wave: Jurnal Ilmiah Teknologi Maritim, Volume 16, pp 23-32; https://doi.org/10.29122/jurnalwave.v16i1.5375

Abstract:
Kapal ambulan generasi kedua merupakan kapal yang dikembangkan dari desan model kapal generasi pertama. Pengembangan kapal ini bertujuan utuk memaksimalkan fungsi dan pelayan dari kapal ambulan generasi pertama. Area pelayanan kapal ambulan meliputi perairan Sekupang dan belakang Padang di Kota Batam. Dengan adanya pengembangan desain dan area pelayaran ini diharapkan akan meningkatnya taraf kesehatan masyarakat. Tujuan dari penulisan penelitian ini adalah membuat suatu desain baru kapal ambulan yang dituangakan dalam bentuk rencana umum kapal. Rencana umum kapal merupakan sebuah gambar yang menunjukkan gambaran kapal 2 dimensi yang meliputi pengaturan ruangan, penggambaran tangka-tangki dan peletakan perlengkapan kapal. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah denga menggunakan metode kapal pembanding dan melakukan percobaan dengan menggunakan perangkat lunak. Dari penelitain yang dilakukan didapatkan sebuah rencana umum kapal dengan tipe lambung kapal dengan jumlah dua (katamaran) Beberapa pengembangan yang dilakukan terkait dengan penambahan jumlah pasien dan penunggu pasien, penambahan luas ruangan kapal dan kapasitas kapal serta perubahan lambung kapal
Arief Syarifuddin, Erdina Arianti, Rosi Dwi Yulfani, Fariz Maulana Noor, Anauta Lungiding Angga Risdianto, M Mustain
Wave: Jurnal Ilmiah Teknologi Maritim, Volume 15, pp 61-74; https://doi.org/10.29122/jurnalwave.v15i2.5090

Abstract:
Kinerja sistem tambat Kapal Isap Produksi (KIP) timah sangat dipengaruhi oleh tension dari tali tambat dan offset yang dialami oleh struktur. Analisis pada sistem tambat untuk penelitian ini dilakukan dengan variasi sudut sebar tali tambat (30°, 45°, dan 60°) dan variasi panjang tali yaitu dengan diperpendek 0.2 m dan diperpanjang 0.2 m. Hasil yang diperoleh dari analisis yang dilakukan adalah respon gerak dari KIP timah dalam gerakan vertikal dan horizontal sudah cukup bagus. Variasi sudut sebar tali 30° menghasilkan tension maksimum paling baik, dengan tension maksimum sebesar 451.35 kN akibat arah pembebanan 90° di fairlead. Pada variasi panjang tali, adanya penambahan panjang 0.2 m, sudut sebar 30°, arah pembebanan 90° di fairlead merupakan yang terbaik dengan tension maksimum sebesar 449.30 kN. Tension maksimum yang dihasilkan masih dalam batas yang diijinkan API RP 2SK. Offset maksimum yang dihasilkan juga masih dalam batas aman yang diijinkan oleh API RP 16Q, dengan offset sumbu-x terbesar 0.228 m akibat arah pembebanan 135° dan sumbu-y sebesar 0.566 m akibat arah pembebanan 90°.
Madi Madi, Risfihan Rafi, Muhammad Mukti Asyidiqi, Hasbiyalloh Hasbiyalloh, Arif Ronaldo
Wave: Jurnal Ilmiah Teknologi Maritim, Volume 15, pp 85-90; https://doi.org/10.29122/jurnalwave.v15i2.4954

Abstract:
Indonesia mempunyai potensi energi arus laut sebesar 17.989 MW, yang telah diratifikasi oleh Asosiasi Energi Laut Indonesisa (ASELI) pada tahun 2014. Hasil survei tersebut menunjukan bahwa kecepatan arus laut di Indonesia tergolong rendah, namun potensinya sangat besar. Potensi tersebut belum dimanfaatkan secara optimal untuk menutupi kekurangan rasio elektrifikasi di Indonesia. Adapun dalam memanfaatkannya dibutuhkan teknologi turbin untuk mengkonversi menjadi energi listrik. Turbin yang dapat bekerja pada kecepatan arus rendah adalah tipe vertikal sudu lurus, namun efisiensi yang dihasilkan masih cukup rendah. Sehinngga, penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan performa turbin arus laut tipe vertikal dengan menambahkan water flow deflector. Prinsip kerja deflector berdasarkan Hukum Kontinuitas, yang mana dengan memperkecil luas permukaan input maka arus laut yang mengenai turbin akan meningkat sehingga menghasikan putaran dan torsi yang lebih besar. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah, eksperimen karena lebih mendekati dengan kondisi aktual. Hasil akhir penelitian ini telah menunjukkan bahwa, water flow deflector telah meningkatkan performa turbin sebesar ....%. Sehingga, water flow deflector sangat direkomendasikan untuk diterapkan di wilayah perairan Indonesia yang cenderung berkecepatan arus rendah.
Eka Wahyu Ardhi, Triwilaswandio Wuruk Pribadi, Riza Alfian Arief Wardana
Wave: Jurnal Ilmiah Teknologi Maritim, Volume 15, pp 91-102; https://doi.org/10.29122/jurnalwave.v15i2.4840

Abstract:
Kapal Ro-Ro penyeberangan di Indonesia menjadikan ukuran GT sebagai patokan untuk menentukan kapasitas kendaraan yang dapat diangkut oleh kapal. Namun, ukuran GT yang digunakan belum bisa merepresentasikan kapasitas angkut sebuah kapal Ro-Ro penyeberangan, karena nilai jual kapal penyebrangan berupa luasan main deck/car deck dan berat muatan. Ukuran lane meter digunakan untuk menentukan kapasitas kendaraan yang dapat diangkut oleh kapal Ro-Ro penyeberangan. Lane meter merupakan suatu metode untuk mengukur kapasitas ruangan kapal Ro-Ro, di mana setiap unit ruang diwakili oleh panjang dan lebar dek yang secara umum memiliki ukuran 1 x 2 meter. Analisis korelasi antara ukuran utama kapal dilakukan, karena lane meter belum pernah diterapkan di Indonesia. Ukuran lane meter yang digunakan berdasarkan penerapan yang ada di Eropa dan ukuran kendaraan yang diangkut berdasarkan aturan pemerintah Indonesia. Lane meter yang digunakan dalam perbandingan adalah lane meter dengan ukuran lebar 3 meter. Perbandingan antara jumlah kapasitas kendaraan berdasarkan kapasitas lane meter dengan kapasitas saat ini menghasilkan rata-rata selisih sebesar 33, sehingga kapasitas angkut kendaraan setelah diterapkannya lane meter menjadi 67%. Load factor rata-rata seluruh kapal yang beroperasi adalah 41%, yang bernilai lebih rendah dari kapasitas rata-rata lane meter yang diestimasikan, sehingga penerapan ukuran lane meter tidak mempengaruhi tarif yang berlaku.
Ahmad Yasim, Robertus Sidartawan, Puranggo Ganjar Widityo, Ramli Firdaus Kusnadi
Wave: Jurnal Ilmiah Teknologi Maritim, Volume 15, pp 53-60; https://doi.org/10.29122/jurnalwave.v15i02.4749

Abstract:
Masyarakat nelayan merupakan salah satu bagian masyarakat Indonesia yang hidup dengan mengelola potensi sumberdaya perikanan. Salah satu pemukiman masyarakat nelayan dengan populasi tinggi berada di Kecamatan Puger, Kabupaten Jember. Berdasarkan hasil survey lapangan pada 24 Juli 2020 diketahui bahwa penghasilan nelayan tradisional di Desa Puger Wetan rata-rata hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan harian dan bahkan cenderung sulit saat menghadapi masa paceklik ikan atau cuaca buruk. Oleh karena itu, diperlukan upaya nyata dalam meningkatkan hasil tangkapan nelayan kecil dengan memanfaatkan teknologi modern seperti fish finder. Fish finder adalah alat pendeteksi sehingga memudahkan nelayan mengetahui lokasi kerumunan ikan. Metode pengabdian yang dilakukan antara lain, survey lapangan kemudian sosialisasi dan pelatihan penggunaan fish finder. Setelah itu, tim melakukan monitoring penggunaan fish finder selama 3 bulan yang dimuali dari Desember 2020 hingga Februari 2021. Sayangnya pengambilan data kurang maksimal dikarenakan nelayan tidak rutin melaut akibat cuaca buruk. Hasil tangkapan nelayan menggunakan fish finder mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan hasil tangkapan tahun sebelumnya. Presentase peningkatan hasil tangkapan pada periode bulan I (Desember 2020) adalah 24%, periode bulan II (Januari 2021) adalah 27% dan periode bulan III (Februari 2021) adalah 32%. Peningkatan hasil tangkapan berbanding lurus dengan peningkatan pendapatan nelayan yang mana pada periode I terjadi peningkatan pendapatan sebesar Rp. 552.000, periode II sebesar Rp. 496.000 dan periode III sebesar Rp. 876.000.
Ismail Ali Hajar Aswad Ali, Haryo Dwito Armono, Shade Rahmawati, Asfarur Ridlwan, Rizki Mendung Ariefianto
Wave: Jurnal Ilmiah Teknologi Maritim, Volume 15, pp 75-84; https://doi.org/10.29122/jurnalwave.v15i2.4958

Abstract:
Perairan barat Provinsi Lampung merupakan salah satu lokasi yang diperkirakan memiliki potensi energi gelombang yang cukup besar. Namun, minimnya informasi tentang titik potensial energi gelombang laut yang lebih rinci membuat kawasan ini belum dapat dieksplorasi dengan baik. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan tinggi gelombang signifikan (Hs) yang merupakan salah satu variabel utama dalam menentukan energi gelombang laut di perairan barat Provinsi Lampung. Studi ini dilakukan melalui pemodelan numerik menggunakan model SWAN pada software Delft3D-WAVE dengan input model gelombang yang bersumber dari data ECMWF-Era 5 di laut lepas. Hasil pemodelan numerik menunjukkan gelombang signifikan terbesar terjadi pada musim barat dengan nilai 1,25-2,975 m. Sedangkan tinggi gelombang signifikan terkecil terjadi pada musim timur dengan nilai 0,941-2,079 m. Verifikasi hasil tersebut terhadap data AVISO menghasilkan nilai MAPE sebesar 16,355%, koefisien korelasi sebesar 0,8691, RMSE berkisar 0,277 m yang menunjukkan validasi yang baik dan memuaskan.
Amalia Ika Wulandari, Alamsyah, Cindy Lionita Agusty
Wave: Jurnal Ilmiah Teknologi Maritim, Volume 15, pp 45-52; https://doi.org/10.29122/jurnalwave.v15i1.4782

Abstract:
Tegangan dan regangan merupakan suatu hal yang krusial pada kekuatan kapal, hal ini menjadi sangat penting untuk mengetahui beban maksimal yang bisa diterima oleh kapal karena antara kedua hal tersebut saling berkaitan, alasan keselematan juga menjadi satu hal mengapa tegangan regangan patut untuk diketahui. Pada penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tegangan regangan maksimum kapal dengan variasi ketebalan pelat 100%, 90%, 80% dan 60%, menggunakan metode yakni Finite Element Method. Hasil penelitian didapatkan nilai tegangan maximum pada ketebalan 100% yaitu 312.539 N/mm2 dengan regangan maximum yang dihasilkan yaitu 1,48 x 10-3. ,  untuk ketebalan 90% dihasilkan tegangan maximum sebesar 353.47 N/mm2 dan regangan maximum yang dihasilkan yaitu 1,68 x 10-3. , keteblan 80% tegangan maximum yang dihasilkan sebesar 617.78 N/mm2 dengan regangan maximum yang dihasilkan yaitu 0,29 x 10-3., ketebalan 60% tegangan maximum yang dikeluarkan sebesar 820.03 N/mm2 dengan regangan maximum yang dikeluarkan yaitu 0.39 x 10-3 . Untuk pelat 100% dan 90% tidak melebihi tegangan izin, sedangkan untuk pelat 80% dan 60% melebihi tegangan izin.
Nurman Firdaus Firdaus, Eko Budi Djatmiko, Rudi Walujo Prastianto, Muhammad Fajariansyah Ismail
Wave: Jurnal Ilmiah Teknologi Maritim, Volume 15, pp 31-44; https://doi.org/10.29122/jurnalwave.v15i1.4893

Abstract:
Penerapan floating crane barge memiliki potensi besar untuk operasi pengangkatan struktur dalam mendukung decommissioning anjungan lepas pantai pasca operasi. Respon gerak floating crane barge dalam perairan bergelombang selama operasi pengangkatan struktur di laut menjadi faktor penting dalam menunjang operasional yang aman. Pada penelitian ini, respon gerak dinamis floating crane barge terhadap gelombang dilakukan dengan simulasi eksperimen di laboratorium maneuvering ocean basin. Model uji barge yang dilengkapi dengan struktur crane boom sederhana dibuat dengan perbandingan skala 1:28. Respon gerak model uji dievaluasi dengan kondisi gelombang reguler dan gelombang irreguler. Karakteristik gerak amplitudo dijasikan dalam grafik RAO yang mana hasilnya menunjukkan kesesuaian antara gelombang reguler dan irreguler. Respon gerak terhadap gelombang acak mengalami peningkatan secara signifikan terjadi dari kondisi gelombang Hs = 0.50 m, Tp = 4.00 s ke kondisi gelombang Hs = 1.00 m, Tp = 5.50 s untuk heave sebesar 2.8 kali, untuk roll sebesar 2.5 kali dan untuk pitch sebesar 1.5 kali.
Muhammad Sawal Baital Baital, Kusnindar Priohutomo, Jatmika Prajayastanda, Solichin Djazuli Sa'Id
Wave: Jurnal Ilmiah Teknologi Maritim, Volume 15, pp 21-30; https://doi.org/10.29122/jurnalwave.v15i1.4759

Abstract:
This study is to investigate propulsion efficiency due to changes in draught of ship using data series and theoretical approach. A hard chain rescue boat with triplet screw was used for the study and to examine the effect of thrust deduction factor and wake fraction due to changes in draught of ship and its relevance to propulsion efficiency by observing hull and propeller interaction based on openwater test by Wageningen Data Series with cavitations analysis has been neglected. The study is done using hydrodynamics analysis for planning hull and using intersection between thrust characteristic curve with openwater test data series for fixed pitch propeller. The result indicated that the changes in ship draught are very influential on the changes in thrust deduction factor and wake fraction value which is one of the contributing factor to change the propulsion efficiency value 1% - 5%.
Alamsyah Alam, Rodlian Jamal Ikhwani, Taufik Hidayat, Suardi
Wave: Jurnal Ilmiah Teknologi Maritim, Volume 15, pp 1-10; https://doi.org/10.29122/jurnalwave.v15i1.4719

Abstract:
Penggunaan baja untuk menggantikan kayu Bitti sebagai bahan konstruksi gading kapal kayu dinilai tidak praktis karena melalui proses pembentukan dan pemeliharaan, sehingga penggunaan bahan lain seperti FRP sangat penting. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ukuran dan bentuk penampang bahan FRP yang sesuai sebagai pengganti gading kayu ditinjau dari segi kekuatan. Metode yang digunakan yaitu elemen hingga (FEM) dan dianalisis menggunakan metode eksperimen numerik pada software. Penelitian ini bersifat kualitatif dengan mengoptimalkan bahan FRP dengan bentuk penampang I beam, I beam+flange, box of hole beam, T beam, dan U beam+flange sebagai pengganti bahan kayu Bitti. Hasil penelitian menunjukkan gading kayu Bitti memiliki elastisitas (E) = 9534.02 MPa dan momen inersia penampang (I) = 2197x104 mm4 terjadi tegangan maksimum (?k) = 7.682 N/mm2 dan lendutan maksimum (?) = 0.1 mm, untuk faktor keamanan gading kayu Bitti (Sf) = 1.28, sedangkan bahan FRP pengganti gading kayu dengan nilai (E) = 69000 MPa dapat digunakan penampang I beam dengan nilai I = 316x104 mm4, I beam+flange dengan nilai I = 288x104 mm4, box of hole beam dengan nilai I = 317x104 mm4, T Beam dengan nilai I = 478 x104 mm4, serta U beam+flange dengan nilai I = 375x104 mm4, terjadi tegangan maksimum (?k) = 52.00 N/mm2 dengan lendutan maksimum (?) < 0.082 mm dan faktor keamanan (Sf) = 1.28. Bahan FRP pengganti kayu gading membutuhkan momen inersia penampang sebesar 1/7~1/5 kali lebih kecil dari momen inersia penampang kayu gading dengan elastisitas tujuh kali lebih besar dari kayu gading. Nilai ini dapat dijadikan patokan untuk ukuran kapal di atas ataupun di bawah 70 GT ketika akan menggunakan bahan FRP sebagai pengganti gading kayu.
Ahmad Yasim Ahmad Yasim, Robertoes Koekoeh Koentjoro Wibowo, Kusnindar Priohutomo
Wave: Jurnal Ilmiah Teknologi Maritim, Volume 15, pp 11-20; https://doi.org/10.29122/jurnalwave.v15i1.4724

Abstract:
Sinkroniasasi antara lambung, mesin utama dan propeller pada kapal perikanan 5 GT pasca reparasi perlu dikaji untuk memperoleh kecepatan dan mengotimalkan performa kapal. Penelitian diawali dengan memprediksi hambatan kapal menggunakan metode Van Oortmersen kemudian menganalisa sinkronisasi mesin dan propeller serta tahap akhir dilakukan optimasi. Hasil penelitian didapatkan sinkronisasi mesin dan propeller memenuhi kriteria dimana = = 1.98 kN, Ae/Aomin 0.44 < Ae/Aoprop 0.55, dan Faktor Load propeller 1.77 < Faktor Load mesin 2.91. Lebih lanjut, diketahui bahwa kapal memiliki kecepatan 7.3 knot yang mana telah memenuhi kecepatan desain yaitu berkisar 7-9 knot. Optimasi engine-propeller matching dilakukan dengan mengubah gearbox dari rasio 2.5 menjadi 2.2 namun hasilnya hanya menambah kecepatan sebesar 0.4 knot sehingga dinilai komposisi terbaik adalah mempertahankan mesin dan sistem penggerak kapal yang telah ada.
Erifive Pranatal
Wave: Jurnal Ilmiah Teknologi Maritim, Volume 14, pp 61-72; https://doi.org/10.29122/jurnalwave.v14i2.4454

Abstract:
Perancang kapal berusaha untuk memperoleh stabilitas dan seakeeping yang baik terlebih untuk kapal cepat bertipe planning hull. Tipe ini memiliki deadrise sehingga lambungnya bentuk ‘V’ sehingga tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh besar sudut deadrise terhadap stabilitas dan seakeeping. Objek penelian adalah kapal planning hull Series 62: parent model 4677-1. Metode penelitian menggunakan simulasi komputer dengan bantuan software dan perhitungan stabilitas tersebut dibandingkan dengan metode Krylov II. Hasil penelitian menyatakan bahwa tiga variasi deadrise yaitu 10°, 13°, dan 18°, sudut deadrise yang kecil memberikan stabilitas yang baik tetapi mengurangi olah gerak kapal (seakeeping) sedangkan sudut deadrise yang besar akan mengurangi kemampuan stabilitas kapal tetapi memiliki seakeeping yang baik. Ketiga model tersebut sama-sama memenuhi regulasi stabilitas IMO. Sehingga besar sudut deadrise yang direkomendarikan untuk penelitian ini adalah 13°.
Randy Hedva Rakasiwa Rumbawa, Ali Azhar, Kusnindar Priohutomo
Wave: Jurnal Ilmiah Teknologi Maritim, Volume 14, pp 43-49; https://doi.org/10.29122/jurnalwave.v14i2.4030

Abstract:
Kapal pengangkut ikan hidup merupakan salah satu alat transportasi yang digunakan selama proses ekspor maupun domestik dan bertujuan untuk mempertahankan ikan dalam keadaan tetap hidup. Muatan utama kapal pengangkut ikan hidup (KPIH) adalah air dan ikan yang berenang bebas didalamnya dan muatan cair dalam ruang muat dapat bergerak bebas, sehingga terjadi free surface effect (FSE). Paper ini bertujuan untuk menghitung dan mensimulasikan stabilitas kapal pengangkut ikan hidup dan muatan berupa cairan, sehingga dapat diketahui stabilitas kapal berdasarkan muatannya. Analisa stabilitas berdasarkan variasi muatan menggunakan software Maxsurf. Hasil dari analisa stabilitas berdasarkan variasi muatan pada ruang muat 0%, 25%, 50%, 75%, 95% dengan variasi volume FOT dan FWT 25%, 50%, 75%, 100% adalah stabilitas kapal tidak layak untuk FOT dan FWT
Arief Syarifuddin, Tristiandinda Permata, Erdina Arianti, Kusnindar Priohutomo, Taufan Prasetyo
Wave: Jurnal Ilmiah Teknologi Maritim, Volume 14, pp 51-60; https://doi.org/10.29122/jurnalwave.v14i2.4450

Abstract:
Pulau Madura sebagai salah satu wilayah di Indonesia dengan produksi garam yang cukup tinggi, memiliki potensi untuk bisa meningkatkan produksi garamnya, demi menunjang kebutuhan swasembada garam nasional. Salah satu upaya yang dilakukan dalam meningkatkan produksi garam di pulau Madura adalah dengan membuat tambak garam lepas pantai. Pengembangan tambak garam lepas pantai tentu menjadi tantangan tersendiri, karena memperhitungkan banyak faktor, salah satunya adalah faktor lingkungan yaitu arus, angin, dan gelombang. Penelitian ini akan membahas tentang barge atau tongkang yang dijadikan sebagai tambak garam lepas pantai. Analisis difokuskan kepada respon gerak yang dihasilkan oleh barge berupa grafik RAO (Response Amplitude Operator). Analisis untuk RAO pada penelitian menghasilkan gerakan barge yang cukup baik. Gerakan vertikal barge pada kondisi muatan penuh menghasilkan nilai terbesar sebagai berikut : heave bernilai 0,863 m/m pada arah pembebanan 90° dan frekuensi 0,2 rad/sec; roll bernilai 5,674 deg/m pada arah 45° dengan frekuensi 0.4 rad/sec; sedangkan untuk pitch bernilai 0,917 deg/m akibat arah pembebanan 180° dan frekuensi 0,2 rad/sec. Gerakan vertikal barge penting untuk diperhatikan karena memberikan pengaruh yang lebih dominan dibandingkan gerakan horizontal (surge, sway, dan yaw) terhadap stabilitas kapal dan kelaiklautan kapal (seaworthiness).
, Samsu Dlukha Nurcholik
Wave: Jurnal Ilmiah Teknologi Maritim, Volume 14, pp 1-8; https://doi.org/10.29122/jurnalwave.v14i1.3952

Abstract:
The paper discusses the significance of different types of skegs in a barge toward the pressure, fluid velocity and the ship’s total resistance. There are three kinds of skeg configurations: barge without skegs, skegs without deflection, and skegs with deflection. The barge was towed with forward speed were ranging across 3 knots – 9 knots. The simulations were conducted using an open-source RANS (Reynold Averaged Numerical Simulation) CFD code Open-FOAM. The simulations show that the skegs raise the barge’s resistance. The skegs with deflection have a bigger resistance amplification compared to skegs without deflection.
Amalia Ika Wulandari Wulandari, Wira Setiawan Setiawan, Taufik Hidayat Hidayat, Arman Fauzi Fauzi
Wave: Jurnal Ilmiah Teknologi Maritim, Volume 14; https://doi.org/10.29122/jurnalwave.v14i1.4087

Abstract:
Jumlah sampah yang dibawa ke Tempat Pembungan Akhir (TPA) Manggar Balikpapan saat ini mencapai 305 m3 perharinya. Lebih dari itu, sering pula dijumpai sampah-sampah yang masih tersebar di muara-muara sungai,pelabuhan dan kawasan perairan lain yang tidak diketahui jumlahnya salah satunya di Sungai Klandasan Hilir. Maka masalah yang muncul adalah bagaimana mendesain suatu kapal yang dapat mengatasi penumpukan sampah di perairan sungai dan berapa ukuran utama yang sesuai untuk perairan sungai diKalimantan. solusi yang dapat digunakan untuk mengatasi penumpukan sampah yang ada disungai yaitu dengan menggunakan bantuan Trash Skimmer Boat. Work Boat ini adalah salah satu jenis dari kapal khusus yang difungsikan untuk melakukan pengambilan sampah perairan baik sungai, danau, laut maupun kanal. Menggunakan metode Parent Design Approach dan dengan bantuan Software Maxsurf maka diperoleh ukuran utama sebesar LOA = 3 m, B = 2 m, T = 0,37 m, H = 0,7 m, B1 = 0,962 m, dan v = 6 knots. Bentuk dasar dari Trash Skimmer Boat ini berlambung pontoon catamaran yang dilengkapi dengan bak sampah dengan kapasitas 1 m3 dan Setelah dilakukan survey data sampah, disarankan kapal ini dioperasikan sekali dalam seminggu selama 1 jam dengan fasilitas tambahan yaitu 1 bak penampungan sampah dan 1 unit mini portable crane dengan kapasitas angkut sebesar 300 kg yang diletakkan pada dermaga titik akhir penampungan sampah dari sungai. Kata kunci: Sampah,Sungai Klandasan Hilir, Trash Skimmer Boat
Wibowo Harso Nugroho
Wave: Jurnal Ilmiah Teknologi Maritim, Volume 3, pp 1-8; https://doi.org/10.29122/jurnalwave.v3i1.4105

Abstract:
Penulisan ini bertujuan untuk memperlihatkan kemungkinan penggunaan dari suatu desain alat peredam getaran yang dikendalikan secara aktif untuk mengurangi atau bahkan secara ideal menghilangkan getaran struktur kapal. Hal yang penting dari sistem kendali ini adalah kemampuan untuk merasakan respon dan bereaksi terhadap respon tersebut sesuai dengan yang diinginkan. Dalam penulisan ini secara numerik kemampuan tersebut akan ditampilkan dengan penggunaan sensor dan aktuator yang berasal dari satu jenis material cerdas ( smart material) yaitu Lead Zirconate Titanate (PZT). Material ini dikatakan cerdas karena PZT ini akan menghasilkan beda potensial jika diberi gayamekanik dan juga sebaliknya jika diberi beda potensial akan menghasilkan gaya mekanik berupa regangan atau “strain”. Pada kasus getaran struktur kapal ini hipotesa yang akan diuji adalah kesanggupan sistem kendali dengan penggunaan pasangan sensor – aktuator PZT untuk meredam getaran struktur yang terjadi.
Mochammad Guruh, Muhammad Ali Mudhoffar, Ronny Wicaksono
Wave: Jurnal Ilmiah Teknologi Maritim, Volume 3, pp 24-28; https://doi.org/10.29122/jurnalwave.v3i1.4109

Abstract:
Sephull Bubble Vessel adalah kapal dengan pelumasan udara yaitu kapal dengan injeksi udara di bagian bawahnya, disain kapal ini untuk mendapatkan sebuah kapal dengan kemampuan berlayar dengankecepatan tinggi dengan konsumsi bahan bakar yang minimal. Untuk mendapatkan performance kapal yang optimal maka kapal tersebut dilengkapi dengan sistem navigasi , penerangan, instrumentasi ukurdan sistem air bubble sistem. Untuk mengoperasikan peralatan yang ada pada kapal sephull bubble vessel tersebut dibutuhkan dua jenis sumber tegangan, yaitu sumber tegangan DC dan sumber tegangan AC. Pada paper ini akan dibahas perancangan sistem kelistrikan pada prototipe SepHull Bubble Vessel sebelum prototype kapal tersebut dibangun.
Helmi Arif Asmajuna, Murdjito Murdjito,
Wave: Jurnal Ilmiah Teknologi Maritim, Volume 13, pp 47-60; https://doi.org/10.29122/jurnalwave.v13i2.3782

Abstract:
Aktivitas instalasi pipa bawah laut memerlukan tingkat keandalan yang tinggi agar tidak mengalami kegagalan. Maka dari itu banyak faktor harus dipertimbangkan saat proses desain sebelum kegiatan instalasi. Metode instalasi adalah salah satu faktor utama yang harus dipertimbangkan. Terkait dengan itu kajian tentang pengaruh konfigurasi penambatan terhadap tegangan pipa dan operabilitas pada saat instalasi pipa bawah laut menggunakan pipelay barge dengan fixed stinger telah dilakukan. Kajian meninjau 4 konfigurasi catenary spread mooring yang berbeda, yakni 4 tali, 8 tali, 6 tali (4 depan dan 2 belakang), dan 6 tali (2 depan dan 4 belakang) dengan dan tanpa pengaturan pretension. Dengan mempertim­bangkan tegangan yang terjadi, konfigurasi yang menggunakan pengaturan pretension akan lebih aman digunakan dan memenuhi kriteria DNV OSF-101 dan API RP2SK, di mana tegangan pipa maksimal yang terjadi 391.5 MPa dan mooring tension 730 kN. Selanjutnya, semua konfigurasi yang menggunakan pengaturan pretension memiliki nilai operabilitas mencapai 100%. Dari seluruh konfigurasi yang dievaluasi, konfigurasi 4 tali direkomendasikan untuk digunakan, dengan mem­pertimbangkan aspek tegangan yang terjadi, operabilitas, jumlah tali, serta waktu operasi dan biaya.
Danang Ariyanto, Sapto Wiratno Satoto
Wave: Jurnal Ilmiah Teknologi Maritim, Volume 13, pp 61-68; https://doi.org/10.29122/jurnalwave.v13i2.3866

Abstract:
Energi terbarukan dan energi yang berkelanjutan adalah isu yang selalu dibahas dalam konferensi tingkat lokal dan dunia. Isu lingkungan tersebut diangkat guna tetap menjaga bumi sebagi tempat tinggal ini tetap terjaga dalam waktu yang lama. Pemanfaatan energi tersebut dalam banyak sektor menjadi semacam keharusan yang akan membawa dampak kepada kebaikan. Sektor wisata merupakan salah satu sektor yang dekat dan ungkin bisa berefek luas karena di sektor wisata tersebut orang akan datang dari berbagai tempat untuk kemudian menemukan sebuah hal baru di tempat yang mereka kunjungi. Kepulauan Riau yang berbatasan langsung dengan luar negeri memiliki potensi yang besar untuk menjadi mengenalkan pemanfaatan teknologi terbarukan di sektor wisata salah satunya dengan membuat kapal wisata dengan suplai tenaga berasal dari energi terbarukan dan berkelanjutan tersebut tersebut
Ulil Amriardi, Ign Sumanta Buana
Wave: Jurnal Ilmiah Teknologi Maritim, Volume 13, pp 69-82; https://doi.org/10.29122/jurnalwave.v13i2.3789

Abstract:
Angkutan Penyeberangan di Kuala Tungkal – Dabo Singkep sangat penting, karena berperan penting sebagai penghubung utama antara kedua pulau tersebut dengan wilayah di sekitarnya. Permasalahan muncul ketika kapal menjalani perawatan tahunan (docking) dan sewaktu-waktu kapal mengalami kerusakan, sehingga layanan penyeberangan terhenti dan terputus. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan mencari bagaimana cara mempertahankan layanan angkutan penyeberangan disaat kapal penyeberangan di lintasan Kuala Tungkal – Dabo Singkep tidak beroperasi. Selain itu penelitian ini juga bertujuan untuk mencari alternatif pengoperasian kapal yang dapat memaksimalkan waktu operasional kapal. Penelitian ini dilakukan dengan menganalisis pola operasi kapal penyeberangan di sekitar kedua lintasan tersebut. Skenario yang dikembangkan adalah dengan memperhatikan batasan waktu dan jarak tempuh di rute yang ada. Skenario yang terpilih adalah dengan mengoperasikan KMP Kundur yang semula beroperasi di lintasan Tanjung Pinang – Dabo Singkep menjadi Tanjung Pinang – Dabo Singkep – Kuala Tungkal. Skenario ini dapat dipakai untuk menggantikan KMP Sembilang saat tidak beroperasi. Biaya operasional kapal pengganti ini adalah sebesar Rp.57.587.626,- per round trip.
Ponco Siwindarto, Fadila Norasarin Eritha, M. Aswin
Wave: Jurnal Ilmiah Teknologi Maritim, Volume 13, pp 83-90; https://doi.org/10.29122/jurnalwave.v13i2.3883

Abstract:
Maneuvering kapal merupakan karakteristik dari sebuah kapal. Uji manever kapal sangat penting dan salah satu pengujiannya adalah zigzag. Jurnal ini menyodorkan salah satu sistem kontrol pada maneuvering kapal menggunakan NI SB-RIO yang memiliki dimensi kecil dan terkategori ringan dibandingkan pendahulunya. Perancangan sistem autopilot ini divalidasi melalui simulasi uji zigzag model kapal dan dari hasil validasi ini didapatkan bahwa sistem kontrol ini berfungsi dan mampu melakukan lintasan zig-zag sesuai yang diharapkan.
Arfis Maydino Firmansyah Putra, Tris Handoyo,
Wave: Jurnal Ilmiah Teknologi Maritim, Volume 13, pp 37-46; https://doi.org/10.29122/jurnalwave.v13i1.3496

Abstract:
Revitalisasi peralatan di Kapal Riset Baruna Jaya I dilaksanakan oleh Balai Teksurla BPPT dalam rangka meningkatkan kualitas pelayanan survei hidrografi. Salah satu peralatan yang direvitalisasi adalah Multibeam Echosounder (MBES) untuk laut dalam. Peralatan ini dapat berfungsi untuk pemetaan dasar laut dengan kedalaman sampai dengan 11.000 m dan merupakan yang pertama dimiliki oleh Pemerintah Indonesia. Dalam prosesnya MBES membutuhkan suatu dudukan di badan kapal sehingga peralatan dapat tersambung secara langsung dengan operator diatas kapal. Pada riset ini dibuat desain konstruksi dudukan MBES yang memenuhi kriteria kekuatan konstruksi berdasarkan peraturan class Biro Klasifikasi Indonesia (BKI) menggunakan metode elemen hingga (Finite Element Method – FEM). Terdapat 3 (tiga) kondisi pembebanan dalam analisis numerik FEM ini, yaitu: Kondisi A (pembebanan hidrostatik), Kondisi B (pembebanan sensor) dan Kondisi C (pembebanan hidrostatik dan sensor). Hasil dari perhitungan menggunakan FEM pada riset ini menunjukkan bahwa von missess stress yang dihasilkan pada kondisi pembebanan A, B dan C adalah 63,20 Mpa, 3,39 Mpa dan 63,9 Mpa, dimana nilai tegangan yang dihasilkan dari analisa FEM lebih kecil dari tegangan izin yang disyaratkan oleh BKI yaitu 180 Mpa. Hasil riset menunjukkan bahwa desain struktur Transducer Fairing Construction memenuhi desain tegangan ijin dari peraturan klas BKI, yang menunjukkan bahwa fairing MBES cukup aman secara konstruksi bila dipasang di lambung KR Baruna Jaya I.Kata kunci: KR Baruna Jaya, Multibeam Echosounder (MBES), stress analysis, Metode Elemen Hingga (FEM)
, Raka Whibiseno
Wave: Jurnal Ilmiah Teknologi Maritim, Volume 13; https://doi.org/10.29122/jurnalwave.v13i1.3513

Abstract:
Pekerjaan reparasi kapal memiliki item pekerjaan yang harus diselesaikan, yang ditulis di dalam work order. Jumlah uang yang dibayarkan berdasar pada item pekerjaan yang telah diselesaikan dalam bentuk persentase. Galangan di Indonesia umumnya menggunakan metode konvensional yang dapat menimbulkan perbedaan pendapat antara pihak owner dan galangan. Divisi PPIC PT. Meranti Nusa Bahari merancang metode untuk menghitung persentase pekerjaan dengan hasil yang transparan. Pada penelitian ini dilakukan perancangan metode yang memiliki hasil transparan dan berbentuk sederhana dengan menggabungkan metode konvensional dengan metode PPIC PT. Meranti Nusa Bahari. Perancangan metode perhitungan persentase pekerjaan ini dilakukan pada studi kasus pekerjaan reparasi BG. Merry. Metode ini dirancang dengan menulis program sesuai dengan perhitungan persentase yang dirancang oleh divisi PPIC PT. Meranti Nusa Bahari dan disusun secara sederhana seperti metode konvensional dengan menggunakan fuzzy logic. Fuzzy logic merupakan metode pemrograman untuk melakukan analisa pada suatu data dengan memproses data atau nilai-nilai yang rumit dan mengubahnya menjadi kesimpulan atau output yang mudah diterima dan ditafsirkan manusia. Simulasi perhitungan persentase pekerjaan dilakukan pada nilai 25%. Hasil perbandingan persentase pekerjaan metode rancangan PPIC PT. Meranti Nusa Bahari, metode konvensional dan metode fuzzy logic adalah: 25,32%, 28,10% dan 25,54%. Dari penelitian didapatkan bahwa metode perhitungan persentase yang dirancang menggunakan fuzzy logic dapat menghasilkan nilai persentase yang transparan dan berbentuk sederhana.
Riyan Abdillah Takdir, I Gusti Ngurah Sumanta Buana
Wave: Jurnal Ilmiah Teknologi Maritim, Volume 13; https://doi.org/10.29122/jurnalwave.v13i1.3576

Abstract:
The increase in cargo flows that are not supported by adequate port facilities has hampered the Nusantara Kendari Port logistics process. The port development strategy by relocating Nusantara port functions to Bungkutoko Port is considered a solution to the limitations of the Nusantara Port. The purpose of this study was to analyze the impact of the planned transfer of the port by observing several performance indicators. The port performance indicators used were yard occupancy ratio (YOR), berth occupancy ratio (BOR) and shed occupancy ratio (SOR). The results showed that the Nusantara Port performance indicator values before the relocation were 118.57% for YOR of container, 24.3% for YOR of general cargo, 62.55% for SOR of general cargo, 17.71% for BOR of passengers and 76.91% for BOR of container and general cargo. Whereas after the relocation there were several performance indicator values that did not reach operational performance standards. Those values were 75.37% for BOR of container in 2028, 70.96% for YOR of container in 2033 and 67.21% for SOR of general cargo in 2021. Based on the results, it was concluded that an alternative development strategy was necessary to optimize the value of Kendari Port performance indicators.
Agus Lubis Fitriansyah, Heri Supomo
Wave: Jurnal Ilmiah Teknologi Maritim, Volume 13; https://doi.org/10.29122/jurnalwave.v13i1.3583

Abstract:
The government through the Ministry of Marine and Fisheries offers assistance of fishing vessel to achieve fisheries production targets. This procurement plan must be supported by the ability and selection of the right shipyard. Beacuse the information of the capability and capacity of fiber shipyards in Indonesia is unclear, so the realization of the procurement of fishing vessel in previous years did not met the planned targets. The purpose of this study was to analyze shipyard capacity to meet the planned procurement of KKP fishing vessels grant in 2019. First classification of fishing vessels is based on the size of each GT, which is
Amalia Ika Wulandari, Nurmawati Nurmawati, Anggoronadhi Dianiswara
Wave: Jurnal Ilmiah Teknologi Maritim, Volume 13; https://doi.org/10.29122/jurnalwave.v13i1.3460

Abstract:
Para perancang struktur kapal dapat menentukan jarak gading yang optimal dengan batasan resiko tekuk pada pelat. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui beban batas lateral pada masing-masing jarak gading sehingga dapat diketahui resiko tekuk yang terjadi pada pelat. Tekuk adalah suatu ragam kegagalan yang diakibatkan oleh ketidakstabilan suatu elemen struktur yang diepengaruhi oleh aksi beban. Kegagalan yang diakibatkan oleh ketidakstabilan dapat terjadi pada berbagai material. Pada saat tekuk terjadi, taraf gaya internal dapat sangat rendah. Fenomena tekuk berkaitan dengan kekakuan elemen struktur. Kekuatan tekuk pada setiap bagian struktur dapat dievalusi dengan menggunakan konsep tegangan tekuk kritis. Besarnya tegangan tekuk kritis berhubungan dengan persamaan klasik tekuk Euler dan bergantung pada apakah tekuk ini terjadi pada kondisi elastis dan tidak elastis. Penurunan beban berbanding terbalik dengan kenaikan jarak gading,semakin jauh jarak gading maka semakin kecil beban yang dibutuhkan agar pelat mengalami tekuk.
Dian Purnamasari, Aab. Dinariyana, Meitha Soetardjo
Wave: Jurnal Ilmiah Teknologi Maritim, Volume 4, pp 21-28; https://doi.org/10.29122/jurnalwave.v4i1.3537

Abstract:
Uji tahanan yang dilakukan di tangki tarik memiliki kesalahan (ketidakpastian) pada hasil. Analisa ketidakpastian dapat digunakan untuk mengevaluasi kualitas data percobaan dan menyediakan perkiraan kuantitatif kesalahan percobaan. Metodologi analisa ketidakpastian, prosedur, dan hasil disajikan untuk uji tahanan model kapal LCT 1000 DWT skala (λ) 15 dengan ukuran model kapal L = 3,997 M, B = 1000 M, T = 0,167 M, WSA = 4,089 M2, Prosedur dirangkum dan mengikuti International Towing Tank Conference (ITTC) Kualitas Manual Prosedur. Hasil penelitian menunjukkan nilai ketidakpastian sebesar 1,27% dari kecepatan 1,3271 m/s dan nilai ketidakpastian sebesar 4,79% dari tahanan 1,2771 kg.Keywords : Uncertainty analysis, Procedures, Ship model test.
Mochammad Nasir, Mochammad Ali Mudhoffar
Wave: Jurnal Ilmiah Teknologi Maritim, Volume 4, pp 29-34; https://doi.org/10.29122/jurnalwave.v4i1.3540

Abstract:
Sephull Bubble Vessel adalah kapal dengan pelumasan udara yaitu kapal dengan injeksi udara di bagian bawahnya, disain kapal ini untuk mendapatkan sebuah kapal dengan kemampuan berlayar dengan kecepatan tinggi dengan konsumsi bahan bakar yang minimal. Untuk mengetahui Efesiensi bahan bakar ini, dilakukan perbandingan konsumsi bahan bakar pada saat kapal beroperasi dengan menggunakan sistem pelumasan udara dengan tanpa menggunakan sistem pelumasan udara. Pada saat ini masih menggunakan cara manual dengan mengukur sisa bensin setiap selesai dilakukan uji coba pada kedua kondisi tersebut. Dalam kesempatan ini akan dirancang Sistem Monitoring Volume Bahan Bakar pada Prototype Sephull Bubble Vessel, dengan sistem ini maka untuk mengetahui efesiensi penggunaan bahan bakar bisa diketahui dengan mudah. Perancangan sitem ini menggunakan sensor Universal Fuel Sender, output dari sensor tersebut akan diolah oleh Mikrokontroller AT-Mega 8535 dan volume bahan bakar akan ditampilkan melalui tampilan LCD 16x2. Volume bahan bakar ini juga dapat diMonitoring melalui komputer dengan menggunakan program LabView sehingga data volume bahan bakar dapat disimpan dalam sebuah file komputer.Keywords : Universal Fuel Sender; AT-Mega 8535; LabView
Meitha Soetardjo, Dian Purnamasari
Wave: Jurnal Ilmiah Teknologi Maritim, Volume 4, pp 35-42; https://doi.org/10.29122/jurnalwave.v4i1.3538

Abstract:
Bantu Hidro-Oceanography (BHO) adalah salah satu satuan bantu dalam bidang survei Hidro-Oceanography yang termasuk dalam susunan tempur pendukung (Supporting Force). Untuk kepentingan tersebut maka preliminary design kapal Hidro-Oceanography dilaksanakan sebagai langkah awal dalam perencanaan dan pengadaan kapal Hidro-Oceanography untuk mengkaji karakteristik umum desain yaitu hidrostatik dan stabilitas sehingga aspek kelayakan kapal dapat terpenuhi. Analisa hasil kajian kinerja kapal Hidro-Oceanography dipersiapkan untuk pengujian tahanan/resistance model kapal.Keywords : Preliminary design1, Hydrostatic2, Stability3
Dany Hendrik Priatno, Samudro
Wave: Jurnal Ilmiah Teknologi Maritim, Volume 4, pp 12-20; https://doi.org/10.29122/jurnalwave.v4i1.3539

Abstract:
Keterbatasan sarana dan prasarana transportasi di wilayah pulau-pulau terpencil masih menjadi kendala dalam mengembangkan sektor transportasi di wilayah tersebut. Di sisi lain, wilayah ini diharapkan dapat menjadi faktor pemicu dalam peningkatan perekonomian, membuka keterisolasian, dan menjaga stabilitas dan keamanan wilayah. Pola penerapan jaringan transportasi angkutan laut dengan sistem subsidi (angkutan laut perintis) dari pemerintah sudah berjalan meski dengan berbagai kendala yang memerlukan pemikiran dan solusi tepat dalam mendukung program transportasi angkutan laut bersubsidi tersebut dalam hal efektifitas angkutan, efisiensi dan pemerataan dalam pemanfaatannya. Keterbatasan pelayanan pada rute operasional angkutan laut perintis dapat dijembatani dengan menerapkan konsep pengumpan (feeder) regular pada titik – titik singgah kapal perintis, sehingga dengan demikian rute eksisting angkutan laut perintis dapat tetap dioptimalkan, tanpa menambah jumlah titik singgah (yang berarti menambah time voyage), bahkan hal ini dapat mengurangi jumlah titik singgah kapal perintis laut. Simulasi penerapan konsep feeder pada jalur angkutan laut perintis dilakukan dan dilengkapi dengan kajian kebutuhan desain sarana kapal feeder perintis yang tepat untuk mendukung konsep sistem feeder tersebut.Keywords : feeders pioneer, operational simulation, design feeder vessel
Andi Jamaluddin
Wave: Jurnal Ilmiah Teknologi Maritim, Volume 4, pp 6-11; https://doi.org/10.29122/jurnalwave.v4i1.3541

Abstract:
Pola gelombang yang ditimbulkan oleh lambung kapal yang melaju sangat penting ketika mempertimbangkan kualitas desain lambung dan prediksi hambatan. Makalah ini membahas kajian pola gelombang sekitar monohull (demihull) dan lambung ganda (catamaran) dengan jarak lambung bervariasi. Estimasi numerik hambatan dan interaksi gelombang kapal yang dihasilkan dilakukan dengan menerapkan teknik-teknik numerik untuk menghitung pola gelombang timbul dan hambatannya, dengan permukaan air tenang. Hasil perhitungan numerik untuk kedua demihull dan catamaran dibandingkan dan dibahas secara rinci.Keywords : Twin hull, Wave pattern, Resistance, Simulation
Ahmad Syafiul Mujahid, Wibowo Harso Nugroho
Wave: Jurnal Ilmiah Teknologi Maritim, Volume 4, pp 1-5; https://doi.org/10.29122/jurnalwave.v4i1.3536

Abstract:
Perhitungan dengan pemodelan Submerged Floating Tunnel (SFT) dengan menggunakan perangkat lunak berbasis metode elemen hingga. Analisa struktur terowongan apung menggunakan prinsip kerja dengan mendiskripsikan seluruh beban (force) pada SFT berupa beban internal dan eksternal yang bekerja akan diperoleh momen reaksi yang terjadi sepanjang badan SFT, dengan mengetahui luas penampang melintang SFT maka dapat diperoleh bending stress di seluruh badan SFT.Keywords : submerged floating tunnel (SFT), bending stress, structural analysis
M. Ridwan Utina
Wave: Jurnal Ilmiah Teknologi Maritim, Volume 5, pp 67-72; https://doi.org/10.29122/jurnalwave.v5i2.3526

Abstract:
Salah satu yang menjadi perhatian penting bagi seorang desainer dan operator kapal adalah bagaimana perilaku kapal di laut dalam kaitan dengan kecepatan kapal yang tetap pada kondisi gelombang. Kondisi laut yang bergelombang dapat menyebabkan terjadinya gerakan kapal dan pada gilirannya gerakan kapal akan menimbulkan tahanan tambahan. JIka masih tersedia kelebihan tenaga mesin, kapal dapat berlayar pada kecepatan tetap. Namun, sampai saat ini tahanan tambahan sering digunakan dalam penambahan tenaga mesin antara 15 dan 30 persen dari tahanan pada kondisi air tenang. Evaluasi yang berkaitan dengan tenaga tambahan, yang dapat dipertanggunjawabkan, dapat diperoleh dari uji model atau metode numerik. Tulisan ini mendiskusikan tentang pengaruh gelombang tidak teratur pada tahanan tambahan pada Kapal Patroli Cepat melalui uji model. Keywords : Added Resistance, Engine Power, Irregular Wave.
Dian Purnamasari
Wave: Jurnal Ilmiah Teknologi Maritim, Volume 5, pp 44-48; https://doi.org/10.29122/jurnalwave.v5i2.3525

Abstract:
Analisa data eksperimen umumnya menggunakan statistik untuk mengukur perbedaan. Misalnya , untuk melihat apakah ada perbedaan sebelum perlakuan dan setelah perlakuan. Dari analisa ketidakpastianpada empat variable yang merupakan sumber kesalahan percobaan resistance model kapal LCT 1000 DWT dimana nilai ketidakpastian resistance menunjukkan nilai terbesar dibandingkan dengan variabel lain, evaluasi terhadap elemen bias yang mempengaruhi nilai ketidakpastian resistance , yaitu nilai bias yang terbesar adalah bias kalibrasi, Setelah mendapat nilai bias kalibrasi yang baru dilaksanakan yaitu 0,0121 serta perhitungan Mean/ rata-rata dan variansi untuk memastikan adanya perbedaan nilai kalibrasiresistance dynamometer terhadap hasil resistance , dari penurunan nilai bias kalibrasi tersebut mempengaruhi nilai ketidakpastian resistance yang cukup signifikan.Keywords : Uncertainty analysis, Bias calibration, Mean, Varian.
Teddy S. Setiahardja
Wave: Jurnal Ilmiah Teknologi Maritim, Volume 4, pp 66-70; https://doi.org/10.29122/jurnalwave.v4i2.3531

Abstract:
Pengujian tahanan kapal yang biasa dilakukan di laboratorium hidrodinamika pada umumnya menggunakan dinamometer pengukur tahanan yang sudah terintegrasi dalam sistem peralatan di kolam uji (Towing Tank). Terkait dengan pengujian tahanan model yang khusus seperti model kendaraan tempur amphibi, dilakukan perancangan dan pengembangan alat ukur tahanan model berbasis loadcelluntuk memenuhi situasi dan kondisi model tersebut. Validasi dan verifikasi alat ukur tahanan dilakukan dengan langsung melakukan pengujian terhadap model fisik kendaraan tempur amphibi yang mempunyai skala 1:3, data hasil pengukuran dibandingkan dengan data yang diperoleh dari simulasi atau perhitungan secara numerik. Adanya perbedaan data hasil pengujian model fisik sebesar 1,71% dengan data perhitungan numerik menunjukkan bahwa alat uji tahanan yang dikembangkan dapat diandalkan dan digunakan untuk pengujian-pengujian tahanan model berikutnya.Keywords : Ship Resistance testing, Measuring Resistance, loadcell, numeric Calculation.
Mochammad Nasir, M. Ali Mudhoffar
Wave: Jurnal Ilmiah Teknologi Maritim, Volume 4, pp 55-61; https://doi.org/10.29122/jurnalwave.v4i2.3533

Abstract:
Sephull Bubble Vessel adalah kapal dengan pelumasan udara yaitu kapal dengan injeksi udara di bagian bawahnya, disain kapal ini untuk mendapatkan sebuah kapal dengan kemampuan berlayar dengan kecepatan tinggi dengan konsumsi bahan bakar yang minimal. Untuk mendapatkan performance yang optimal, maka tekanan pada air bubble system harus diatur pada tekanan optimal yang dapat menghasilkan sistem pelumasan udara yang menghasilkan kinerja optimal. Untuk mendapatkan tekanan optimal perlu dilakukan uji coba air bubble system pada beberapa variasi tekanan, kecepatan kapal dan posisi air bubble system. Dalam kesempatan ini akan dirancang Sistem MonitoringAir bubble system pada Prototype Sephull Bubble Vessel, dengan menggunakanPressure sensor Autonics PSA-1. pressure sensor ini mampu mengukur tekanan sampai 10 bar. Analog Output sensor akan dijadikan input pada Analog Input NI-USB 6216 yang akan merubah signal analog sensor menjadi sinyal digital sehingga data tersebut dapat disimpan dalam sebuah file dengan menggunakan program akuisisi data dengan program LabView.Keywords : Pressure Sensor; Air Bubble system; NI-USB 6216.
Totok Triputrastyo Murwatono, Irfan Eko Sandjaja
Wave: Jurnal Ilmiah Teknologi Maritim, Volume 4, pp 61-65; https://doi.org/10.29122/jurnalwave.v4i2.3529

Abstract:
Kapal Sep-Hull adalah kapal dengan menggunakan tipe Surface Effect Planning Hull, mempunyaidua bentuk “ V ” hull dan flat hull pada bagian tengahnya. Namun ini adalah bentuk badan kapal yang biasa dan sudah banyak, yang istimewa dari kapal ini adalah teknologi yang digunakan yaitu teknologiair lubrication ( teknologi pelumasan udara ). Melalui uji coba pada prototipe kapal ini dilakukan observasi tentang efektifitas teknologi pelumasan udara terhadap penghematan bahan bakar. Uji coba dilakukan dengan mengasumsikan indikator mesin ( trottle ) pada posisi tetap, pengukuran kecepatan dan konsumsi bahan bakar pada waktu pelayaran bervariasi serta pada dua kondisi yaitu berlayar tanpa teknologi pelumasan udara dan kondisi menggunakan teknologi tersebut. Dari hasil uji coba diperoleh informasi bahwa terdapat peningkatan kecepatan hingga 25 % dan pada saat yang lain diperoleh informasi bahwa terjadi penghematan bahan bakar hingga 13,34 %.Keywords : Surface Planning Hull, air lubrication technology, Fuel consumption
Budi Setyo Prasodjo, Wahyu Dwi Aristanto, Dhani Fayumi Ashyar
Wave: Jurnal Ilmiah Teknologi Maritim, Volume 5, pp 62-66; https://doi.org/10.29122/jurnalwave.v5i2.3528

Abstract:
Kapal AHT dalam operasi di laut lepas, biasanya juga akan melakukan pekerjaan lifting operation. Kapal akan oleng karena kegiatan lifting tersebut, dimana biasanya cargo diangkat dengan crane, dan karena titik berat beban cargo punya lengan moment terhadap titik tangkap pondasi crane dikapal, maka lengan momen ini akan memberikan tambahan momen ke kapal. Gerakan oleng kapal ini akan bertambah, karena dalam operasi dilaut lepas, kapal akan menerima gaya lingkungan dari luar yang berupa gaya gelombang, angin dan arus. Sehingga stabilitas Kapal AHT harus memenuhi tidak saja criteria stabilitas intact, akan tetapi juga harus memenuhi kriteria stabilitas saat melakukan lifting. Dalam paper ini, dibahas mengenai Stability dari sebuah kapal AHT dengan ukuran tipikal 5000 BHP saat intact, dan saat operasi lifting memakai crane dengan cargo seberat sekitar 2 tons di laut lepas dengan mengacu standard.Keyword : Stability, AHT Vessel, Intact Stability, Lifting Stability
Cahyadi Sugeng Jati Mintarso
Wave: Jurnal Ilmiah Teknologi Maritim, Volume 5, pp 57-61; https://doi.org/10.29122/jurnalwave.v5i2.3523

Abstract:
Aneka ragam hias yang menghiasi kapal tradisional adalah sangat menarik, salah satunya adalah pemasangan susunan bambu yang berupa lonjoran empat sampai lima batang bambu yang berwarna-warni pada perahu penangkap ikan jenis golekan (payangan). Ragam hias tersebut menguatkan kesan megah pada perahu yang mempunyai perbandingan L/B kecil ini. Akan tetapi dari segi kapasitas muatan, ragam hias itu sangat tidak menguntungkan karena berat susunan bambu yang beratnya 400 – 500 kg itu mengurangi daya muat kapal. Dari segi stabilitas pemasangan bambu ini menjadikan titik berat kapal meninggi yang akhirnya mengurangi stabilitas kapal. Untuk itu perlu adanya sosialisasi pemakaian ragam hias alternatif pada perahu penangkap jenis golekan yang lebih menguntungkan. Namun dalam pengembangan kapal penangkap ikan tradisional harus tetap memperhatikan kelekatan pengaruh sosial budaya masyarakat dan lingkungan daerah setempat.Keywords : Ornamental, Social and Cultural, draft, Stability
Meitha Soetardjo, Dian Purnamasari
Wave: Jurnal Ilmiah Teknologi Maritim, Volume 5, pp 49-56; https://doi.org/10.29122/jurnalwave.v5i2.3524

Abstract:
Kapal hidro-oceanography dituntut mampu melaksanakan operasi diberbagai medan perairan, oleh karena itu penting merumuskan technical requirement yang didasarkan pada pertimbangan teknis yaitu dengan mengkaji kecepatan, power dan karaktristik gelombang permukaan yang terjadi pada kapal bantu hidro-oceanography dengan menerapkan teknik numerik untuk menghitung kecepatan, power dan menganalisa gelombang. Metode yang dipilih untuk menghitung besarnya tahanan dan power dari beberapa variasi metode. Dari metode Holtrop diperoleh tabel input untuk hullspeed, tabel output untuk hullspeed pada rentang kecepatan 12-14 KNOTS. Dari tabel-tabel tersebut dapat kita analisis gelombang untuk kecepatan 12 KNOTS dan 14 KNOTS.Keywords: speed, power, wave.
Page of 3
Articles per Page
by
Show export options
  Select all
Back to Top Top