Refine Search

New Search

Results in Jurnal Farmagazine: 66

(searched for: container_group_id:107757)
Page of 2
Articles per Page
by
Show export options
  Select all
Rosario Trijuliamos Manalu, Harfiana Safitri, Hesti Paramita Sari, Rheamanda Devina, Irnawati Irnawati, Eni Asmarizah Liliwana
Published: 30 August 2021
Jurnal Farmagazine, Volume 8, pp 1-7; https://doi.org/10.47653/farm.v8i2.548

Abstract:
COVID-19 adalah penyakit pernapasan akibat virus yang menyebabkan keadaan darurat kesehatan global dan diumumkan sebagai penyakit pandemi oleh Organisasi Kesehatan Dunia. Kurangnya molekul obat tertentu atau strategi pengobatan untuk melawan penyakit ini membuatnya semakin parah. Oleh karena itu, molekul obat yang efektif sangat dibutuhkan untuk melawan COVID-19. Protease utama (Mpro) dari SARS CoV 2, komponen kunci dari replikasi virus ini, dianggap sebagai target utama pengembangan obat anti-COVID-19. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui apakah senyawa yang ada di dalam tumbuhan Camellia sinensis berpotensi sebagai obat COVID-19. Jenis penelitian adalah in silico menggunakan metode molecular docking. Hasil studi ini menunjukkan bahwa dari 8 senyawa aktif, CG (Catechin gallat) dan ECG (Epicatechin gallate) menunjukkan potensi untuk diteliti lebih lanjut, karena potensi aktivitasnya lebih kuat dibandingkan dengan senyawa pembanding Remdesivir, dengan score masing-masing -111,407 dan -111.391. Selain itu juga melakukan visualisasi residu setiap senyawa yang ada pada tumbuhan Camellia sinensis dengan Reseptor SARS-CoV-2 menggunakan Webserver PLIP. Sebanyak 5 senyawa aktif dari tanaman Camellia sinensis disaring melalui penapisan berdasarkan parameter Lipinski’s Rule of Five dan prediksi ADMET menggunakan pkCSM. Potensi inhibisi SARS-CoV-2 oleh Catechin gallat dan Epicatechin gallat dari penelitian ini dapat menjadi titik awal dalam proses pengembangan obat terapi COVID-19 dari senyawa bahan alam.
Lirih Indriarini, Dyah Rahmasari, Mega Savira, Dinda Ayu S.A., Yoga Nur Bayu A., Uswatun Chasanah
Published: 30 August 2021
Jurnal Farmagazine, Volume 8, pp 20-25; https://doi.org/10.47653/farm.v8i2.550

Abstract:
Kulit jeruk (Citrus sinensis (L.) Osbeck) merupakan limbah organik yang merupakan sumber antioksidan polifenol yang baik dan berpotensi sebagai tabir surya. Bahan ini mengandung senyawa yang dapat melindungi kulit dari efek radiasi ultraviolet. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan dan mengetahui aktivitas antioksidan dan nilai Sun Protecting Factor (SPF) ekstrak kulit jeruk pada sediaan nanogel. Ekstrak kulit jeruk diperoleh dengan cara maserasi menggunakan etanol 96% kemudian diformulasikan menjadi nanogel dengan variasi konsentrasi 1%, 3%, dan 5%. Dilakukan pengujian sifat fisikokimia, seperti ukuran partikel, indeks polidispersitas (PDI), potensial zeta, organoleptik, homogenitas, pH, dan viskositas. Selanjutnya dilakukan uji aktivitas antioksidan menggunakan metode DPPH (2,2-diphenyl-1-picrylhydrazyl), dan proteksi UV (Ultraviolet) ditentukan berdasarkan penentuan nilai SPF yang dilakukan pada panjang gelombang 290-320 nm dengan interval 5nm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sediaan dengan konsentrasi ekstrak 1%, 3%, dan 5% memiliki ukuran partikel berturut-turut 303,63 nm ± 6,22; 404,53 nm ± 14,48; 261,75 nm ± 31,47. Aktivitas antioksidan dari sediaan ditentukan dengan nilai persen penghambatan, yaitu, 34,78%±11,35; 39,72%±6,73; dan 55,07%±7,90; sedangkan untuk nilai SPF didapatkan masing-masing formula adalah 14,94; 17,30; dan 18,75. Berdasarkan hasil yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa sediaan nanogel ekstrak kulit jeruk termasuk dalam perlindungan tabir surya pada kategori sedang.
Selpina Kurniasih, Jaka Supriyanta, Ari Amanda Hasibuan
Published: 30 August 2021
Jurnal Farmagazine, Volume 8, pp 59-63; https://doi.org/10.47653/farm.v8i2.558

Abstract:
Kinerja adalah sesuatu yang dicapai, prestasi yang diperlihatkan atau kemampuan kerja. Balanced Scorecard merupakan sebuah sistem manajemen yang bertujuan untuk mengimplementasikan strategi, mengukur kinerja dengan mengggunakan empat perspektif yaitu keuangan, pelanggan, pelayanan dan pertumbuhan & pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kinerja dari Instalasi Farmasi di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Tangerang dan dilakukan pada bulan Januari 2020. Metode yang digunakan adalah metode Balanced Scoreecard berdasarkan perspektif pelanggan dan pertumbuhan & pembelajaran. Analisis data menggunakan analisis deskriptif yaitu mendeskripsikan data hasil kuisioner pasien, jumlah total pasien, jumlah pasien baru, jumlah pasien lama, kuisioner karyawan, jumlah total karyawan, jumlah karyawan keluar dan absensi karyawan. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa pada perspektif pelanggan dengan indikator kepuasan pasien menunjukan pada Indeks Kepuasan 8.506 dengan kategori sangat puas, retensi pasien 68%, akuisi pasien 31%. Berdasarkan perspektif pertumbuhan dan pembelajaran menunjukan kepuasan karyawan pada Indeks Kepuasan 322 dengan kategori puas, retensi karyawan 0%, tingkat produktivitas 0,00. Kinerja Instalasi Farmasi berdasarkan perspektif pelanggan sudah baik. Berdasarkan perspektif pertumbuhan dan pembelajaran sudah baik.
Rizki Nur Azmi, Dwi Lestari, Dia Urahman, Sellania Tifana
Published: 30 August 2021
Jurnal Farmagazine, Volume 8, pp 8-12; https://doi.org/10.47653/farm.v8i2.547

Abstract:
Penyakit tidak menular menjadi penyakit tersering yang diderita kelompok geriatrik. Hipertensi masuk dalam sepuluh penyakit terbanyak pada geriatrik. Kepatuhan merupakan penentu utama efektivitas pengobatan penyakit dengan terapi jangka Panjang seperti hipertensi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan kepatuhan dengan outcome therapy antihipertensi pada geriatrik di Panti Sosial Tresna Werdha Nirwana Puri Samarinda. Penelitian dilakukan pada bulan Juni – Juli 2020 dengan desain penelitian cross sectional. Pengukuran kepatuhan menggunakan kuesioner medication adherence rating scale (MARS). Outcome therapy dinyatakan tercapai jika tekanan darah < 150/90 mmHg. Hasil penelitian ditemukan sebanyak 62,5% responden memiliki kepatuhan yang rendah terhadap terapinya. Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara kepatuhan dengan outcome therapy (nilai p 0,325), namun responden yang memiliki kepatuhan tinggi lebih banyak mencapai target outcome therapy-nya (55,6%) dibandingkan yang tidak mencapai target.
Debby Juliadi, Rr. Asih Juanita
Published: 28 February 2022
Jurnal Farmagazine, Volume 9, pp 71-77; https://doi.org/10.47653/farm.v9i1.576

Abstract:
Pegagan (Centella asiatica (L.) Urb.) merupakan tanaman yang dapat dimanfaatkan sebagai kosmetika. Herba pegagan mengandung senyawa triterpenoid saponin salah satunya asiatikosida yang berkhasiat sebagai antioksidan yang dapat membantu pertumbuhan kolagen pada kulit dengan maksud mengurangi keriput dan menghilangkan bintik hitam pada wajah. Niasinamida adalah vitamin B3 yang dapat memberikan efek pencerah dan pelembab pada kulit. Masker gel merupakan salah satu kosmetika dengan bentuk sediaan setengah padat yang aman digunakan pada kulit yang berjerawat, selain itu masker gel mudah merata apabila dioleskan pada kulit, memberikan sensasi menyejukkan, dan tidak menimbulkan bekas di kulit. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan formula masker gel kombinasi ekstrak etanol herba pegagan dan niasinamida yang memiliki mutu fisik yang baik dan untuk mengetahui stabilitas selama penyimpanan. Penelitian ini bersifat eksperimental yang dilakukan di laboratorium dan bertujuan sebagai pengembangan yaitu dibuat sediaan masker gel dan diuji mutu fisik dari sediaan tersebut. Pengujian yang dilakukan meliputi organoleptis, homogenitas, pH, daya sebar, dan uji sineresis yang kemudian dianalisis dengan cara deskriptif. Proses pembuatan ekstrak kental herba pegagan dilakukan dengan metode maserasi. Masker gel dibuat dengan kombinasi ekstrak kental herba pegagan dan niasinamida dengan variasi karbomer 1%, 1,5%, dan 2% kemudian diuji mutu fisiknya selama 4 minggu. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sediaan masker gel kombinasi ekstrak etanol herba pegagan dan niasinamida dengan variasi karbomer 1% (formula 1) dan 1,5% (formula 2) menghasilkan mutu fisik yang baik dilihat dari pengujian organoleptis, homogenitas, pH, daya sebar, dan uji sineresis, serta formula 1 dan 2 tersebut stabil selama penyimpanan 4 minggu.
Yulia Indah Widianti, Supadmi Woro
Published: 30 August 2021
Jurnal Farmagazine, Volume 8, pp 37-43; https://doi.org/10.47653/farm.v8i2.551

Abstract:
Penyakit ginjal kronik (PGK) merupakan penurunan fungsi ginjal secara progesif dan sudah berlangsung lama. Pada pasien PGK membutuhkan terapi yang tepat dan aman untuk mencegah terjadinya akumulasi obat akibat gangguan ekskresi obat melalui ginjal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik pasien PGK, golongan obat, jenis obat dan obat yang bersifat kontraindikasi pada pasien PGK di instalasi Rawat Inap RS PKU Muhammadiyah Gamping. Metode penelitian yang digunakan adalah metode observasional deskriptif dengan mendeskripsikan karakteristik dan penggunaan obat pasien PGK. Pengambilan data secara retrospektif meliputi penggunaan obat dan data rekam medik pasien PGK di instalasi rawat inap PKU Muhammadiyah Gamping tahun 2019. Jumlah sampel di tentukan dengan rumus slovin diperoleh 41 rekam medik pasien PGK dengan teknik purposive sampling sesuai dengan kriteria inklusi pasien. Data dianalisis dengan cara deskriptif dalam bentuk persentase meliputi karakteristik pasien, golongan obat, jenis obat dan obat yang dikontraindikasikan terhadap pasien PGK. Hasil penelitian dari 41 pasien menunjukan bahwa karakteristik dengan persentase tertinggi berdasarkan usia adalah 45-59 tahun 20 pasien (48,78%), jenis kelamin laki-laki 28 pasien (68,29%). Berdasarkan penyakit penyerta yaitu hipertensi 14 pasien (34,14%), jumlah penggunaan obat terbanyak yaitu 6-10 obat (39,02%). Pada golongan dan jenis obat terbanyak yaitu sistem kardiovaskular dan hematopoietik terdapat 100 jumlah pemberian (32,78%). Penggunaan obat yang dikontraindikasikan pada pasien PGK adalah ketorolac, asam mefenamat dan spironolactone. Kesimpulan penelitian ini adalah penggunaan obat yang bersifat kontraindikasi yaitu ketorolac, asam mefenamat dan spironolactone.
Mohammad Zaky, Nita Rusdiana, Ayunda Darmawati
Published: 30 August 2021
Jurnal Farmagazine, Volume 8, pp 26-36; https://doi.org/10.47653/farm.v8i2.556

Abstract:
Antioksidan dapat ditemukan dalam berbagai tumbuhan, salah satunya adalah daun belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi L.). Daun belimbing wuluh memiliki kandungan alkaloid, flavonoid, tanin, saponin dan steroid. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sifat fisik sediaan gel dan aktivitas sediaan gel ekstrak etanol 70% daun belimbing wuluh terhadap penangkal radikal bebas. Jenis penelitian ini yaitu penelitian secara eksperimental dengan analisis secara deskriptif. Pembuatan ekstrak daun belimbing wuluh dilakukan dengan metode maserasi, yang kemudian digunakan sebagai zat aktif pada sediaan gel antioksidan dengan konsentrasi FI 5%, FII 10% dan FIII 15%. Hasil evaluasi fisik sediaan menyatakan bahwa semua sediaan gel memenuhi persyaratan mutu fisik yaitu berwarna hijau kecoklatan, berbentuk semi padat, berbau khas ekstrak daun belimbing wuluh, homogen, viskositas 42309 – 63733 cps, pH 4,2-6,5, daya sebar 5,1-6,4 cm, daya lekat 5,71-7,80 detik, hanya pada FIII (15%) memiliki sifat fisik yang kurang homogen. Aktivitas antioksidan gel pada konsentrasi 5%, 10% dan 15% mempunyai nilai IC50 berturut-turut 118,38 ppm; 94,16 ppm; dan 89,12 ppm. Hasil penelitian menunjukkan sediaan gel antioksidan ekstrak etanol 70% daun belimbing wuluh memiliki sifat fisik yang baik pada formula ke II dan pada formula III memiliki sifat antioksidan yang paling kuat yaitu 89,12 ppm.
Pande Raditya Perdana
Published: 28 February 2022
Jurnal Farmagazine, Volume 9, pp 50-54; https://doi.org/10.47653/farm.v9i1.545

Abstract:
ABSTRAK Benda asing yang masuk kedalam tubuh secara molekuler atau selular dapat menimbulkan berbagai macam penyakit yang merugikan, sehingga diperlukan senyawa yang dapat meningkatkan sistem pertahanan atau kekebalan tubuh untuk mengenali benda-benda asing atau sel abnomal yang merugikan tubuh kita. Imunomodulator adalah suatu senyawa yang dapat meningkatkan fungsi sistem imun pada manusia. Fungsi dari imunodulator adalah untuk memperbaiki sistem imun tubuh dengan cara mengembalikan fungsi sistem imun. Herba meniran (Phyllanthus niruri) merupakan tanaman obat potensial yang memiliki potensi dimanfaatkan sebgai imunomodulator. Aktivitas imunomodulator dari tanaman meniran diperoleh dari kandungan senyawa flavonoid. Tujuan artikel review ini dilakukan untuk melihat potensi imunomodulator dari herba meniran. Review artikel ini dibuat dengan metode studi literatur dari kumpulan jurnal-jurnal nasional maupun jurnal internasional. Berbagai penelitian yang telah diperoleh menunjukan bahwa ektrsk herba meniran memiliki potensi sebgai peningkat imunitas tubuh alami karena memiliki senyawa yang berperan yaitu senyawa flavonoid seperti kuersetin, kuersitrin, isokuersitrin, astragalin, dan rutin yang berfungsi sebagai imunomodulator. Kata Kunci: Imunomodulator, Phyllanthus niruri, Flavonoid
Delta Baharyati, Komar Ruslan Wirasutisna, Rika Hartati
Published: 28 February 2022
Jurnal Farmagazine, Volume 9, pp 55-62; https://doi.org/10.47653/farm.v9i1.553

Abstract:
Radikal bebas merupakan salah satu faktor penyebab penyakit degeneratif dalam tubuh meningkat. Paparan radikal bebas yang berlebihan membuat tubuh membutuhkan antioksidan dari luar. Daun biola (Ficus lyrata Warb.) memiliki aktivitas antioksidan. Tujuan penelitian untuk menentukan aktivitas antioksidan ekstrak, fraksi dan subfraksi daun biola dengan metode peredaman 2,2-difenil-1-pikrilhidrazil (DPPH). Metode ektraksi dengan cara maserasi menggunakan pelarut etanol 96%. Fraksinasi dilakukan dengan cara ekstrasi cair-cair menggunakan tiga pelarut dengan tingkat kepolaran meningkat, yaitu n-heksana, etil asetat, dan air-etanol, serta di pantau dengan kromatografi lapis tipis (KLT) dan di uji aktivitas antioksidan. Fraksinasi terpilih disederhanakan dengan kromatografi kolom sistem elusi gradient dan diuji aktivitas antioksidan. Hasil aktivitas antioksidan yang paling kuat ditunjukkan oleh fraksi etil asetat dengan nilai IC50 sebesar 9,31±0,304 µg/ml.
Arini Aprilliani, Jaka Supriyanta, Lailatul Badriah
Published: 28 February 2022
Jurnal Farmagazine, Volume 9, pp 20-28; https://doi.org/10.47653/farm.v9i1.596

Abstract:
Mentimun (Cucumis sativus L.) merupakan bahan alami yang dapat digunakan sebagai kesehatan untuk mengatasi permasalahan pada kulit kecantikan dan dimanfaatkan sebagai antioksidan. Metabolit sekunder yang dimiliki buah Mentimun tersebut seperti flavonoid, saponin, dan alkaloid. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai IC50 pada ekstrak buah mentimun menggunakan metode DPPH. Jenis penelitian ini yaitu secara eksperimental. Pembuatan ekstrak buah mentimun dilakukan dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 70%. ekstrak buah mentimun diformulasikan dalam empat formula sediaan handbody lotion dengan konsentrasi F0 0%, FI 0,5%, F2 1%, F3 1,5% dan F4 dengan Vitamin C 1% sebagai kontrol positif. Uji evaluasi fisik menunjukkan hasil yang memenuhi persyaratan fisik lotion (organoleptis, homogen, daya sebar, daya lekat, viskositas, pH, tipe lotion dan uji hedonik). Aktivitas antioksidan handbodylotion ekstrak buah mentimun dengan konsentrasi 0,5%, 1% dan 1,5% mempunyai nilai IC50 berturut-turut 101,019 ppm; 95,656 ppm; dan 91,657 ppm. Kesimpulan penelitian ini yang memiliki aktivitas antioksidan paling tinggi yaitu formula ke tiga dengan konsnetrasi 1,5% sebesar 91,657 ppm.
Khalish Arsy Al Khairy Siregar, Novia Misnawati Aisyiyah, Paula Mariana Kustiawan
Published: 30 August 2021
Jurnal Farmagazine, Volume 8, pp 13-19; https://doi.org/10.47653/farm.v8i2.549

Abstract:
Di masa pandemi ini, masyarakat cenderung mengkonsumsi minuman herbal untuk menjaga sistem imun. Salah satu tumbuhan yang sering digunakan masyarakat lokal sebagai minuman herbal adalah tumbuhan lakum (Cayratia folia). Tumbuhan lakum memiliki berbagai aktivitas antioksidan dan imunomodulator. Kandungan utama tumbuhan lakum adalah flavonoid. Pelarut yang paling banyak digunakan sebagai pelarut ekstrak tumbuhan lakum yaitu etanol, air dan metanol. Pada review ini, data primer dikumpulkan dengan secara online, berupa jurnal nasional maupun jurnal internasional. Hasil yang didapatkan dari beberapa jurnal dan sumber lainnya dapat diketahui potensi imunomodulator dari tumbuhan lakum.
Adam Syah, Puspita Septie Dianita, Herma Fanani Agusta
Published: 28 February 2022
Jurnal Farmagazine, Volume 9, pp 1-9; https://doi.org/10.47653/farm.v9i1.540

Abstract:
Tanaman pepaya (Carica papaya L.) memiliki potensi terhadap proses penyembuhan luka meliputi luka lecet, luka sayat, luka bakar, luka tusuk. Proses penyembuhan luka memiliki 3 fase proses yaitu fase inflamasi, fase proliferasi, dan fase maturasi. Studi ini bertujuan untuk memberikan differensiasi bentuk literature farmasi khususnya pada pengobatan luka serta meningkatkan pemanfaaatan tanaman papaya (Carica papaya L.) menjadi sediaan obat herbal terstandar atau bahkan fitofarmaka dimasa yang akan datang. Artikel ini membahas tentang efektivitas tanaman pepaya (Carica papaya L.) terhadap penyembuhan luka melalui sebuah narrative review, dari database Google Scholar yang terbit 5 tahun terakhir (2016-2020). Hasil review 10 paper dinyatakan bahwa tanaman pepaya (Carica papaya L.) mengandung berbagai macam senyawa antara lain enzim papain, saponin, flavonoid yang berperan terhadap proses penyembuhan luka. Data dalam review menunjukkan bahwa pemberian tanaman pepaya (Carica papaya L.) yang meliputi bagian getah, batang, biji, dan daun mempunyai efektivitas yang baik terhadap proses penyembuhan luka dan memiliki aktivitas antibakteri penyebab infeksi luka.
Mohammad Zaky, Dina Pratiwi, Mianah Mianah
Published: 28 February 2022
Jurnal Farmagazine, Volume 9, pp 10-19; https://doi.org/10.47653/farm.v9i1.594

Abstract:
Daun Tanaman keji beling (Strobilanthes crispa (L.) Blume memiliki kandungan flavonoid, alkaloid dan tanin. Kandungan senyawa flavonoid yang terdapat pada daun keji beling diketahui dapat berperan sebagai antioksidan alami. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sifat fisik lotion dan pada konsentrasi berapakah sediaan lotion ekstrak etanol 70% daun keji beling (Strobilanthes crispa (L.) Blume) mempunyai aktivitas paling optimal sebagai antioksidan. Jenis penelitian ini yaitu penelitian secara eksperimental dengan analisis secara deskriptif. Pembuatan ekstrak daun keji beling dilakukan dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 70%. Bahan aktif yang digunakan dalam pembuatan lotion adalah ekstrak daun keji beling (Strobilanthes crispa (L.) Blume) dengan variasi konsentrasi F0 0%, FI 1%, FII 2%, FIII 3% dan FIV (Kontrol positif). Semua formula sediaan lotion diuji evaluasi fisik meliputi (pengamatan organoleptis, homogenitas, viskositas, pH, daya sebar, daya lekat, tipe emulsi o/w atau w/o dan hedonik) serta pengujian aktivitas antioksidan. Hasil evaluasi fisik sediaan menyatakan bahwa semua sediaan lotion memenuhi persyaratan mutu fisik yaitu berwarna hijau kecoklatan, berbentuk kental, berbau khas ekstrak daun keji beling, homogen,viskositas 3887– 6017 cps, pH 5,1- 6,9, daya sebar 5,6-5,9 cm, daya lekat 5,9-6,4 detik, tipe lotion o/w (minyak dalam air) dan tes hedonik menunjukkan bahwa responden menyukai warna yang menarik, bau harum, dan tekstur dari lotion. Kesimpulan Ekstrak daun keji beling dapat dibuat sedian lotion dengan berbagai macam konsentrasi. Aktivitas antioksidan lotion ditentukan dengan menghitung nilai IC50. Aktivitas antioksidan lotion pada konsentrasi 1%, 2% dan 3% mempunyai nilai IC50 berturut-turut 151,64 ppm; 101,61 ppm; dan 84,57 ppm.
Mega Yulia, Milla Herdina, Dwi Mulyani
Published: 28 February 2022
Jurnal Farmagazine, Volume 9, pp 44-49; https://doi.org/10.47653/farm.v9i1.587

Abstract:
Daun sirih merah (Piper crocatum) merupakan salah satu tanaman herba yang memiliki banyak khasiat diantaranya adalah sebagai antibakteri. Potensi antibakteri daun sirih merah tersebut dapat dikembangkan manjadi beberapa produk, salah satunya adalah sabun padat. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan formula sabun padat yang baik dari minyak VCO dengan penambahan ekstrak etanol daun sirih merah. Metode yang digunakan merupakan metode eksperimental dengan mengkombinasikan ekstrak daun sirih merah sebagai zat berkhasiat. Dari 560 g simplisia daun sirih merah kering didapatkan ekstrak sebanyak 63,206 g dengan rendemen 11,28%. Ekstrak yang didapat kemudian diformulasi menjadi sabun padat dengan konsentrasi ekstrak 0% (F0), 1 % (FI), 2% (FII) , dan 3 % (FIII). Evaluasi fisik yang dilakukan terhadap 4 formula meliputi uji organoleptik, uji pH, uji kadar air, dan uji stabilitas busa. Hasil pengujian menunjukan organoleptis dan pH memenuhi standar persyaratan mutu sabun padat yang telah ditetapkan SNI 3532-2016.
Israa Mohamed Shamkh, Dina Pratiwi, Mohammed F. Abo El Magd, Ahmed Salih El Faki
Published: 30 August 2021
Jurnal Farmagazine, Volume 8, pp 44-51; https://doi.org/10.47653/farm.v8i2.546

Abstract:
Puccinia graminis f. sp. tritici (Pgt) and P. triticina (Pt), the causal agents of stem and leaf rust, respectively form new physiological races that significantly reduce growth and yield of wheat cultivars. Therefore, seeking for exploring if there an inhibition effect of the Nano Composites compound on leaf and stem rust to regulation, inhibition and treatment leaf and stem wheat rust objectives to continuously produce new wheat pesticides resistant to stem and leaf rust. The aim of the study was to finding natural and Nano compounds to control, treatment and regulation of wheat rust. In this study we used molecular modeling and docking for the two vital proteins in stem and leaf wheat rust MAP kinase 1 [Puccinia triticina] and PGTG Puccinia graminis f. sp. Tritici. In the silico analysis, the two vital proteins activity is suppressed and inhibited In this work the chitosan and chitosan –Cu which selected for the study are considered as safe compounds the compounds showed interaction with the MAPK1 and PGAT proteins Thus the bioactive compounds that are interacting with the target can be used as a potent inhibitor to block the action of our proteins.
Zaenal Fanani, Yayuk Mundriyastutik, Rika Murharyanti, Bonita Anzila Desi
Published: 28 February 2022
Jurnal Farmagazine, Volume 9, pp 29-34; https://doi.org/10.47653/farm.v9i1.562

Abstract:
Kulit manggis (Garcinia mangostana L.) mengandung α-mangostin yang dapat membiosintesis AgNP, dikarakterisasi dengan UV-Vis untuk mengetahui optical properties dan PSA untuk mengetahui distribusi ukuran partikel. Nanoperak diformulasikan dalam bentuk serum AgNP dalam 4 formula dengan variasi konsentrasi AgNP. Sediaan disimpan selama 14 hari untuk mengetahui pengaruh dari waktu penyimpanan. Penelitian ini bertujuan untuk mensintesis AgNP dari larutan AgNO3 dengan menggunakan bioreduktor dekokta kulit manggis serta mengetahui pengaruh konsentrasi AgNP terhadap mutu fisik serum meliputi organoleptis, pH, viskositas, dan homogenitas. Penelitian ini menggunakan desain true experimental yang menghasilkan data kualitatif dan kuantitatif. Analisis kuantitatif dengan metode Shapiro-Wilk Test, uji ANOVA dua arah (α = 0,05), dan analisis Post Hoc dengan uji Tukey. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan antara perbedaan variasi konsentrasi zat aktif AgNP, terhadap mutu fisik serum. Selain itu, pengaruh dari waktu penyimpanan selama 14 hari tidak mempengaruhi stabilitas sarum. Dekokta kulit kulit mampu membiosintesis AgNP dengan karakteristik  439-441 nm dan distribusi ukuran 110,1 ± 4,33 nm. Variasi konsentrasi AgNP dalam serum mampu mempengaruhi mutu fisik sediaan baik organoleptis, pH, dan viskositas, serta tidak mempengaruhi homogenitas. Keempat formula dengan zat aktif AgNP hasil biosintesis memenuhi kriteria serum yang baik dengan waku penyimpanan 14 hari.
Meta Safitri, Mohammad Zaky, Shinta Chaerani
Published: 28 February 2022
Jurnal Farmagazine, Volume 9, pp 35-43; https://doi.org/10.47653/farm.v9i1.597

Abstract:
ABSTRAK Biji alpukat (Persea americana Mill)memiliki kandungan metabolit sekunder berupa alkaloid, flavonoid, tanin dan saponin yang berkhasiat sebagai antibakteri. Ekstrak biji alpukat (Persea americana Mill) diformulasikan dalam bentuk sabun cair wajah untuk mempermudah pengaplikasian. Sabun cair wajah ekstrak biji alpukat (Persea americana Mill) dapat digunakan untuk mencegah timbulnya jerawat yang disebabkan Bakteri Staphylococcus aureus. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui evaluasi fisik sediaan sabun cair wajah dari ekstrak biji alpukat (Persea americana Mill) dan aktivitas antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus aureus. Metode pembuatan ekstrak biji alpukat (Persea americana Mill) dibuat dengan cara maserasi menggunakan pelarut etanol 96%. Selanjutnya, diformulasikan menjadi sediaan sabun cair wajah yang terdiri dari 4 formula sabun cair wajah dengan variasi konsentrasi yaitu F1(0%), F2(10%), F3(15%), dan F4(20%) lalu dilakukkan evaluasi fisik sediaan meliputi pemeriksaan organoleptis (warna, bau, bentuk), penentuan nilai pH, tinggi busa, viskositas, pengujian homogenitas dan uji hedonik serta dilanjutkan pengujiaan aktivitas antibakteri sabun cair wajah dengan metode difusi sumuran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sabun cair wajah yang dihasilkan berbentuk kental, berwarna coklat kemerahan, berbau khas biji alpukat, menghasilkan pH sebesar 7, 6,9, 6,7 dan sabun cair ekstrak biji alpukat (Persea americana Mill) memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus aureus.
Diana Sylvia, Vira Apriliana, La Ode Akbar Rasydy
Published: 30 August 2021
Jurnal Farmagazine, Volume 8, pp 64-72; https://doi.org/10.47653/farm.v8i2.557

Abstract:
Protein merupakan salah satu makronutrisi yang memilki peranan penting dalam pembentukan biomolekul. Protein dapat ditemukan dalam berbagai tumbuhan, salah satunya adalah daun jambu biji. Daun jambu biji mempunyai manfaat bagi kesehatan yaitu sebagai antiinflamasi, antidiare, analgesik, antibakteri, antidiabetes, antihipertensi, mengurangi demam dan penambah trombosit. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat apakah terdapat kandungan protein pada daun jambu biji (Psidium guajava L.) dan berapa besar kandungan protein daun jambu biji tersebut. Parameter yang digunakan yaitu uji kualitatif dan uji kuantitatif, pada uji kualitatif dilakukan dengan menggunakan metode biuret untuk mengetahui ada atau tidaknya kandungan protein pada daun jambu biji, sedangkan uji kuantitatif dilakukan dengan metode kjeldahl dan Spektrofotometri Uv-Vis untuk mengetahui kadar protein yang terdapat pada daun jambu biji tersebut. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa terdapat kandungan daun jambu biji dengan uji biuret, dan pada metode kjeldahl diperoleh kadar protein rata-rata 0,131% pada daun jambu biji tua dan diperoleh rata-rata 0,113% pada daun jambu biji muda, sedangkan pada metode Spektrofotometri Uv-Vis diperoleh rata-rata pada daun jambu biji tua sebesar 0,142% dan daun jambu biji muda sebesar 0,053%.
Arini Aprilliani, Nuriyatul Fhatonah, Noval Adi Ashari
Published: 30 August 2021
Jurnal Farmagazine, Volume 8, pp 52-58; https://doi.org/10.47653/farm.v8i2.564

Abstract:
Daun dewa(Gynura pseudochina (L.) DC.) merupakan tanaman yang digunakan secara turun menurun oleh masyarakat. Kandungan senyawa yang terdapat pada daun dewa salah satunya yaitu flavonoid yang mempunyai aktivitas biologis sebagai antiinflamasi luka bakar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas antiinflamasi, konsentrasi optimal, dan perbandingannya dengan kontrol positif dari ekstrak etanol 70% daun dewa. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan rancangan penelitian acak lengkap. Metode yang digunakan untuk uji antiinflamasi luka bakar yaitu dengan mengukur luas kesembuhan luka bakar yang diukur dengan jangka sorong berskala 0,01mm. Hewan uji yang digunakan yaitu tikus putih jantan galur Wistar, Tikus dibagi menjadi 5 kelompok. kemudian dianalisis secara statistik dengan one way ANOVA. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa dosis ekstrak etanol 70% daun dewa dapat memberikan efektivitas sebagai antiinflamasi luka bakar terhadap tikus dan konsentrasi optimal sebagai antiinflamasi luka bakar yaitu pada konsentrasi 15%. Berdasarkan data hasil uji aktivitas antiinflamasi luka bakar dianalisis dengan metode one way ANOVA dan dilanjutkan dengan uji post hoc diperoleh hasil p.< 0,05 yang menunjukkan bahwa ada perbedaan yang signifikan terhadap persentase kesembuhan luka dan rata-rata kesembuhan luas luka bakar tikus pada kelima kelompok sehingga dapat disimpulkan ekstrak daun dewa memiliki efektivitas antiinflamasi luka bakar terhadap tikus putih jantan galur wistar.
Erni Rustiani, Kyky Widayanti, Cantika Zaddana
Published: 28 February 2022
Jurnal Farmagazine, Volume 9, pp 63-70; https://doi.org/10.47653/farm.v9i1.578

Abstract:
Tanaman kelor (Moringa oleifera) memiliki kandungan flavonoid yang berkhasiat sebagai antiulcer/ anti tukak lambung. Katekin gambir termasuk kedalam senyawa polifenol golongan flavonoid yang berpotensi sebagai antibakteri terutama bakteri H. phylori. Ekstrak daun kelor dan katekin gambir dikombinasikan menjadi sediaan tablet kunyah untuk meningkatkan efek farmakologisnya. Penelitian bertujuan untuk menentukan formulasi terbaik sediaan tablet kunyah kombinasi ekstrak daun kelor dan katekin gambir dengan perbedaan jenis pengikat, serta kadar flavonoid pada ekstrak daun kelor dan kadar katekin pada sediaan tablet kunyah. Tablet kunyah dibuat sebanyak 5 formula dengan metode granulasi basah menggunakan jenis pengikat yang berbeda yaitu F1 gelatin (5%), F2 PVP K-30 (1%), F3 methocel E-5 (4%), amprotab (5%) dan F5 eudragit E-100 (5%). Evaluasi granul meliputi uji laju alir, sudut istirahat, indeks kompresibilitas serta rasio hausner. Parameter evaluasi mutu tablet meliputi uji organoleptik, keseragaman ukuran, keseragaman bobot, kekerasan dan kerapuhan tablet serta penetapan kadar flavonoid serta katekin pada sediaan tablet kunyah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelima formula tablet kunyah ekstrak daun kelor dan katekin gambir memenuhi persyaratan seluruh parameter evaluasi granul maupun tablet. Kadar flavonoid dengan penanda kuersetin dalam ekstrak daun kelor yaitu 5,82% dan tablet kunyah range 5,31 – 5,37%. Sedangkan kadar katekin pada tablet kunyah dengan range 93,77 - 94,95%. Tablet kunyah kombinasi ekstrak daun kelor dan katekin gambir dengan pengikat gelatin 5% (Formula 1) memiliki sifat fisik dan mutu tablet terbaik.
Dina Pratiwi
Published: 27 February 2021
Jurnal Farmagazine, Volume 8, pp 61-65; https://doi.org/10.47653/farm.v8i1.533

Abstract:
Diabetes Melitus adalah penyakit kronis serius di Indonesia yang disebabkan oleh pankreas tidak menghasilkan cukup insulin atau ketika tubuh tidak dapat secara efektif menggunakan insulin. Salah satu tanaman yang berpotensi sebagai antidiabetes yaitu ciplukan (Physalis Angulata Linn.). Tujuan dari penelitian ini yaitu ingin mengetahui nilai energi bebas ikatan (ΔG) senyawa-senyawa yang berasal dari tanaman ciplukan (Physalis Angulata Linn.) pada reseptor PPAR-𝛾. Pada penelitian ini digunakan metode molecular docking menggunakan AutoDock 4.2.6. Hasil docking menunjukkan nilai energi bebas ikatan (ΔG) senyawa aktif dari tanaman ciplukan (Physalis angulata Linn.) terhadap reseptor PPAR-𝛾 yaitu 4,7-didehydrophysalin B memiliki nilai energi bebas ikatan (ΔG) -6,39 kcal/mol, Physagulin-F memiliki nilai energi bebas ikatan (ΔG) -10,10 kcal/mol, Physordinose B memiliki nilai energi bebas ikatan (ΔG) -5,92 kcal/mol, dan rutin memiliki nilai energi bebas ikatan (ΔG) -6,97 kcal/mol. Nilai energi bebas ikatan (ΔG) senyawa aktif terbaik dari tanaman ciplukan (Physalis angulata Linn.) terhadap reseptor PPAR-𝛾 yaitu Physagulin-F dengan nilai energi bebas ikatan (ΔG) -10,10 kcal/mol dan dapat berinteraksi lebih baik dibanding obat antidiabetes Thiazolinedione yang memiliki nilai energi bebas ikatan (ΔG) -7,99 kcal/mol.
La Ode Akbar Rasydy, Diana Sylvia, Zenniah Anggraeni Zein
Published: 27 February 2021
Jurnal Farmagazine, Volume 8, pp 66-74; https://doi.org/10.47653/farm.v8i1.535

Abstract:
Indonesia merupakan negara dengan konsumsi beras terbesar setelah Banglades yang merupakan sebagai makanan pokok. Mutu beras dapat dilihat dari aktivitas budidaya padi tergantung pada proses penanaman dan lingkungan sekitar, seperti penggunaan pupuk anorganik, kualitas tanah, cuaca serta air yang tercemar oleh limbah industri juga dapat berpotensi dalam pencemaran bahan-bahan berbahaya bagi kesehatan manusia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menentukan kandungan logam Kadmium (Cd), Tembaga (Cu), Merkuri (Hg), Timbal (Pb) dan Besi (Fe) pada 3 sampel beras yang ditanam di daerah Industri Karet Mekar Jaya. Sampel beras yang diambil dari hulu, tengah dan hilir persawaan disekitar industri dianalisis menggunakan metode Spektrofotometri Serapan Atom (SSA) dan pengujian dilakukan dengan 2 pengulangan. Dari hasil penelitian analisis logam Cd, Cu, Hg, Pb dan Fe yang diperoleh, sampel beras hanya mengandung logam Cu dan Fe, sedangkan logam Cd, Hg dan Pb tidak dapat terdeteksi. Logam Cu yang terkandung pada beras dipersawahan tersebut pada daerah hulu, tengah dan hilir berturut-turut 4,765; 4,73 dan 4,13 mg/kg sedangkan logam Fe berturut-turut 6,8; 5,76 dan 5,025 mg/kg. Kesimpulan yang diperoleh bahwa pada sampel beras 1, 2 dan 3 tidak terdeteksi logam Cd, Hg dan Pb, kadar logam Cu masih dalam batas aman menurut BPOM no 03725/B/SK/VII/89 sedangkan kadar logam Fe yang diperoleh melebihi batas aman menurut Permenkes no 492/MENKES/Per/IV/2010.
Dyah Aryantini
Published: 27 February 2021
Jurnal Farmagazine, Volume 8, pp 54-60; https://doi.org/10.47653/farm.v8i1.537

Abstract:
Tanaman daun kupu-kupu (Bauhinia purpurea L.) adalah tanaman yang banyak ditemukan sebagai perindang di jalanan dan belum banyak dieksplorasi. Tanaman ini diketahui mengandung senyawa aktif seperti flavonoid, fenol, dan tanin yang kaya akan manfaat salah satunya sebagai antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antioksidan dan kandungan senyawa tannin total ekstrak etanol daun kupu-kupu. Ekstraksi dilakukan dengan cara maserasi dan remaserasi menggunakan pelarut etanol 96%. Skrining fitokimia dan analisis KLT secara kualitatif dilakukan untuk mengetahui adanya senyawa flavonoid, fenol. Pengujian aktivitas antioksidan dengan metode DPPH menggunakan konsentrasi 10, 50, 100, 150, dan 200 ppm, sedangkan penetapan kandungan senyawa tanin total ditetapkan secara spektrofotometri menggunakan asam galat sebagai standar. Hasil penelitian menunjukkan ekstrak mengandung senyawa flavonoid dan fenol, sedangkan hasil KLT ekstrak dengan standar asam galat belum menunjukkan pemisahan yang berarti karena terjadi tailing. Pengujian aktivitas antioksidan dengan metode DPPH memberikan hasil IC50 706 ± 1,52 ppm. Hasil uji kandungan senyawa tannin total ekstrak daun kupu-kupu adalah 33,3± 0,58 mg GAE/g ekstrak. Kesimpulan penelitian ini adalah bahwa aktivitas antioksidan ekstrak etanol daun kupu-kupu masuk dalam kategori lemah karena IC50 yang diperoleh lebih dari 200 ppm dan kandungan senyawa tannin total dalam setiap gram ekstrak adalah 33,3± 0,58 mg ekuivalen dengan tiap gram asam galat
Meta Safitri, Febriyani Kholifah, Saru Noliqo Rangkuti
Published: 27 February 2021
Jurnal Farmagazine, Volume 8, pp 32-38; https://doi.org/10.47653/farm.v8i1.528

Abstract:
Konstipasi merupakan ketidakmampuan melakukan evakuasi tinja secara sempurna yaitu berkurangnya frekuensi buang air besar dari biasanya. Salah satu tanaman yang dimanfaatkan sebagai obat tradisional dan berefek laksatif adalah Daun ketepeng cina (Cassia Aalata linn). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui khasiat laksatif infusa daun ketepeng cina. Percobaan ini dilakukan terhadap 25 ekor tikus yang dibagi menjadi lima kelompok dan 5 ekor tiap kelompok. Kelompok I sebagai kontrol negatif diberikan Na.CMC 0,5% dan kelompok II sebagai kontrol positif diberikan Dulcolactol 10 gram/15 ml, sedangkan Kelompok III, IV, V diberikan infusa daun ketepeng cina dengan konsentrasi 54,6 mg / 200 gr BB; 109,2 mg / 200 gr BB dan 218,4 mg / gr BB. Pengujian aktivitas laksatif menggunakan metode transit intestinal yaitu mengevaluasi rasio dari panjang usus yang dilalui oleh marker norit terhadap panjang usus keseluruhan. Hasil penelitian menunjukkan infusa daun ketepeng cina mempunyai efek laksatif dan mengandung senyawa golongan alkaloid, flavonoid, tanin, saponin, steroid, terpenoid, glikosida, fenolik dan antrakuin. Kemampuan efek laksatif paling terbesar ditunjukkan pada dosis III sebesar 16,08%. Berdasarkan hasil statistik uji post hoc bahwa perlakuan dosis I, II dan III setara dengan kelompok kontrol positif p >0,05 yang artinya semua dosis perlakuan memiliki efek laksatif.
Aurelia Da Silva Sequeira Fraga, Nur Oktavia, Reginardis Ariarce Mulia
Published: 27 February 2021
Jurnal Farmagazine, Volume 8, pp 17-24; https://doi.org/10.47653/farm.v8i1.530

Abstract:
Tuberkulosis merupakan suatu penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis dan menyerang organ paru yang biasa disebut TB paru. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran penggunaan obat anti tuberkulosis pada pasien baru tuberkulosis paru yang dievaluasi berdasarkan tepat dosis, tepat lama pengobatan, kesesuaian penatalaksanaan efek samping OAT, dan hasil pengobatan di Puskesmas Oebobo. Penelitian ini merupakan penelitian observasional yang bersifat deskriptif dengan pengambilan data secara retrospektif. Teknik pengambilan sampel dilakukan menggunakan teknik total sampling dengan jumlah sampel yang didapat sebesar 68 pasien yang merupakan pasien baru dan terdiagnosa tuberkulosis paru BTA positif dan negatif dengan penggunaan Obat Anti Tuberkulosis (OAT). Hasil penelitian menggambarkan bahwa OAT yang digunakan adalah OAT KDT kategori 1 dengan rasionalitas penggunaan OAT yaitu tepat dosis (100%), tepat lama pengobatan (94,11%) dan penatalaksanaan terhadap efek samping OAT KDT kategori 1 belum sesuai dengan pedoman Kemenkes tahun 2014 serta data hasil pengobatan pasien terdiri atas pasien sembuh (57,35%), pasien pengobatan lengkap (36,76%), pasien putus berobat (0,00%), pasien gagal pengobatan (0,00%), pasien meninggal (4,41%) dan tidak dievaluasi (1,47%). Kesimpulan pada penelitian ini, pengobatan untuk pasien baru TB paru sudah sesuai.
Abdul Aziz Setiawan, Jaka Supriyanta, Nurul Aini Wahidah
Published: 27 February 2021
Jurnal Farmagazine, Volume 8, pp 46-53; https://doi.org/10.47653/farm.v8i1.532

Abstract:
Pemasaran farmasi adalah suatu sub-spesialis pemasaran dimana pharmaceutical care diaktualisasikan. Orientasi pemasaran farmasi tidak hanya terbatas pada produk tetapi justru memberikan perhatian yang besar pada layanan farmasi yang prima. Ini mengindikasikan bahwa eksistensi pemasaran farmasi adalah memberi kepuasan atas kebutuhan dan keinginan pasien, bukan hanya sekedar menjual produk untuk meraih keuntungan yang sebesar-besarnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat keputusan pasien dalam memilih obat parasetamol anak di Apotek Wilayah Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang berdasarkan produk (product), harga(price), tempat (place), dan promosi (promotion). Penelitian ini merupakan penelitian dengan jenis data yaitu data kuantitatif dan menggunakan instrumen kuesioner sebayak 100 responden yang memenuhi kriteria inklusi yaitu yang mampu berkomunikasi dengan baik, melihat dan membaca dengan baik, dan berusia lebih dari 12 tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada variabel produk sebanyak 77% responden menyatakan setuju, variabel harga sebanyak 84% responden menyatakan setuju, variabel tempat sebanyak 86% responden menyatakan setuju, dan variabel promosi sebanyak 44% responden menyatakan setuju terhadap tahap keputusan pasien dalam membeli obat parasetamol anak di apotek kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang. Kesimpulan penelitian ini berdasarkan persamaan linier variabel tempat dan promosi mempengaruhi keputusan pasien dalam membeli obat parasetamol anak.
Sefi Megawati, Reni Rahmawati, Nuriyatul Fhatonah
Published: 27 February 2021
Jurnal Farmagazine, Volume 8, pp 39-45; https://doi.org/10.47653/farm.v8i1.531

Abstract:
Stroke merupakan suatu kondisi emergensi terjadinya defisit neurologis fokal maupun global yang disebabkan adanya gangguan pembuluh darah otak, baik berupa penyumbatan atau pecahnya pembuluh darah yang lebih dari 24 jam. Antiplatelet merupakan salah satu terapi yang digunakan untuk penderita stroke iskemik yang bekerja dengan cara menghambat agregasi trombosit.Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pola penggunaan obat antiplatelet dan mengevaluasi penggunaan obat antiplatelet pada pasien stroke iskemik yang ditinjau dari parameter tepat pasien, tepat obat, tepat indikasi dan tepat dosis. Peneltian ini dilakukan di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang tahun 2019 dan merupakan penelitian observasional dengan pengambilan data dilakukan secara retrospektif dan dianalisis secara deskriptif. Pengambilan sampel sebanyak 78 pasien dengan menggunakan metode purposive sampling. Hasil penelitian evaluasi penggunaan antiplatelet kombinasi (aspilet dan klopidogrel) 65,38%, terapi tunggal aspilet 30,76% dan terapi tunggal klopidogrel 3,84%. Evaluasi tepat pasien tepat pasien 96,15%, tepat obat 96,15%, tepat indikasi 100% dan tepat dosis 100%. Kesimpulan penelitian ini penggunaan antiplatelet yang paling banyak digunakan adalah kombinasi aspilet dengan klopidogrel. Penggunaan antiplatelet belum memenuhi kriteria tepat obat dan tepat pasien.
Ni Made Santi
Published: 27 February 2021
Jurnal Farmagazine, Volume 8, pp 25-31; https://doi.org/10.47653/farm.v8i1.534

Abstract:
Produksi radikal bebas yang melebihi kebutuhan akan menimbulkan berbagai penyakit degeneratif, sehingga diperlukan senyawa yang bersifat sebagai antioksidan. Antioksidan merupakan suatu senyawa yang mampu menghambat kerusakan akibat oksidasi radikal bebas. Senyawa antioksidan alami dapat bersumber dari beberapa tanaman, salah satunya yaitu bunga gemitir (Tagetes erecta Linn.). Aktivitas antioksidan ekstrak bunga gemitir disebabkan karena keberadaan senyawa flavonoid, fenolik, dan karotenoid. Tujuan artikel review ini adalah untuk mengetahui manfaat bunga gemitir sebagai antioksidan. Review artikel ini dibuat dengan metode studi literatur, yaitu dengan menggunakan artikel penelitian terdahulu yang diperoleh melalui proses pencarian literatur terkait manfaat ekstrak bunga gemitir sebagai antioksidan. Berbagai penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa ekstrak bunga gemitir memiliki aktivitas sebagai antioksidan alami dan beberapa senyawa yang berperan yaitu flavonoid (kuersetagetin), fenolik, dan karotenoid (lutein).
Jaka Supriyanta, Nita Rusdiana, Putri Dyah Kumala
Published: 27 February 2021
Jurnal Farmagazine, Volume 8, pp 8-16; https://doi.org/10.47653/farm.v8i1.527

Abstract:
Sabun adalah campuran senyawa natrium atau kalium dengan asam lemak yang berisi sedikit komponen asam miristat atau laurat. Sabun transparan merupakan salah satu inovasi produk menjadikan sabun lebih menarik. Minyak atsiri daun jeruk limau dapat menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik fisik sediaan sabun padat transparan minyak atsiri daun jeruk limau dan aktivitas antibakteri terbaik terhadap Staphylococcus aureus. Sampel berupa daun jeruk limau yang dibuat menjadi minyak atsiri dengan metode destilasi uap air. Selanjutnya, dibuat sediaan sabun padat transparan dan diformulasikan menjadi lima formula dengan konsentrasi minyak atsiri daun jeruk limau 0%; 0,04%; 0,2%; 1%; dan 5%. Kelima sabun padat transparan yang dihasilkan kemudian dibandingkan sifat fisik dan aktivitas antibakteri dengan sabun padat transparan antibakteri di pasaran. Hasil penelitian menunjukkan penggunaan minyak atsiri daun jeruk limau dengan jumlah yang berbeda pada setiap formula dapat menghasilkan sabun padat transparan dengan pH 10-11 dan tidak berpengaruh terhadap kemampuan sabun membentuk dan mempertahkan busa yaitu 64,45%. Peningkatan konsentrasi minyak atsiri daun jeruk limau pada setiap formula dapat mempengaruhi bau yaitu khas daun jeruk limau dan warna yaitu kuning. Aktifitas antibakteri terbaik terhadap Staphylococcus aureus pada konsentrasi 5% yaitu 25,56 mm.
Ni Nyoman Sri Mas Hartini, Bisma Nugraha, Akhmad Priyadi
Published: 27 February 2021
Jurnal Farmagazine, Volume 8, pp 1-7; https://doi.org/10.47653/farm.v8i1.526

Abstract:
Jumlah penduduk di Indonesia terus meningkat, hingga tahun 2018 jumlahnya tercatat 265 juta jiwa. Hal inilah yang mendorong pemerintah membentuk program Keluarga Berencana (KB) untuk menekan pertumbuhan penduduk, salah satunya dengan menggunakan alat kontrasepsi jangka panjang dan obat (MKJP). Namun faktanya, wanita usia subur (WUS) pengguna kontrasepsi jangka pendek lebih banyak dibandingkan dengan pengguna jangka panjang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat pengetahuan, persepsi, dan sikap serta hubungan faktor-faktor tersebut pada WUS pengguna alat kontrasepsi jangka pendek terhadap penerapan MKJP serta hubungan faktor tersebut di Kecamatan Cigugur Kabupaten Kuningan Jawa Barat Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitik dengan pendekatan cross-sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah wanita usia subur yang menggunakan metode kontrasepsi jangka pendek. Metode pengambilan sampel yang digunakan adalah teknik accidental sampling dan diperoleh sampel sebanyak 362 responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan WUS pengguna kontrasepsi jangka pendek tentang kontrasepsi jangka panjang (MKJP) berada pada kategori baik (77,47%), persepsi WUS dalam kategori positif (76,21%) dan sikap WUS berada pada kategori positif (73,02%). Hubungan antara pengetahuan dengan persepsi maupun sikap memiliki kekuatan yang lemah, artinya dapat dikatakan pengetahuan mengenai MKJP pengaruhnya sangat kecil terhadap persepsi dan sikap pemilihan kontrasepsi MKJP.
Vini Noviani, Shelly Thauresia, Partomuan Simanjuntak
Published: 1 February 2019
Jurnal Farmagazine, Volume 6, pp 22-28; https://doi.org/10.47653/farm.v6i1.524

Abstract:
Produk kosmetik untuk memecahkan masalah kerontokan rambut serta kebotakan banyak dikembangkan berasal dari produk sintesis yang dapat menimbulkan efek samping. Hasil penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun teh hijau (Camellia sinensis L.) meningkatkan laju pertumbuhan rambut. Tujuan penelitian ini untuk menguji aktivitas penumbuh rambut yang mengandung fraksi air dan fraksi etil asetat yang mengandung flavonoid dari ekstrak etnaol daun teh hijau. Ekstrak diperoleh dengan cara maserasi menggunakan etanol 70% kemudian dilanjutkan partisi menggunakan pelarut n-heksan, etil asetat dan air sehingga diperoleh fraksi n-heksan, etil asetat dan air. Sediaan uji dibuat dengan memvariasikan konsentrasi fraksi etil asetat dan fraksi air (konsentrasi 1% dan 4%) yang mengandung flavonoid. Hasil menunjukkan bahwa fraksi air 4% yang mengandung flavonoid memiliki aktivitas pertumbuhan rambut yang paling baik.Konsentrasi terbaik selanjutnya dibuat sediaan tonik rambut dengan bahan tambahan etanol 96%, propilen glikol, phenoxyethanol dan aquadest. Hasil uji aktivitas menunjukkan bahwa tonik rambut mempunyai aktivitas yang tidak berbeda dengan kontrol positif mulai pada minggu ke 1 sampai minggu ke 4.Sediaan tonik rambut tidak mengiritasi pada uji menggunakan kelinci. Hasil uji cemaran mikroba dengan metode Angka Lempeng Total sebelum dan sesudah uji stabilitas selama 1 bulan adalah 0 koloni/ml sehingga memenuhi persyaratan sediaan kosmetik < 108.
Jaka Supriyanta, Ghita Ananda El-Haque, Trisna Lestari
Published: 26 August 2020
Jurnal Farmagazine, Volume 7, pp 14-19; https://doi.org/10.47653/farm.v7i2.183

Abstract:
Distribusi obat merupakan suatu proses yang penting dalam menjaga efikasi, keamanan, dan kualitas suatu obat, pedoman Cara Distribusi Obat yang Baik (CDOB) perlu diterapkan pada fasilitas Apotek agar mutu obat dapat terjamin sampai ke tangan pasien. CDOB adalah cara distribusi atau penyaluran obat dan atau bahan obat yang bertujuan memastikan mutu sepanjang jalur distribusi atau penyaluran sesuai persyaratan dan tujuan penggunaannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kesesuaian pendistribusian obat di Apotek Wilayah Kecamatan Cikupa Kabupaten Tangerang berdasarkan Peraturan Kepala BPOM Nomor HK.03.1.34.11.12.7542 Tahun 2012. Metode penelitian bersifat deskriptif dengan memberikan kuisioner ke Apotek yang ada di Wilayah Kecamatan Cikupa Kabupaten Tangerang yang meliputi aspek profil sarana, bangunan dan peralatan, pengadaan, penerimaan dan penyimpanan, penyaluran, penanganan produk kembali dan kadaluarsa, dan pemusnahan. Berdasarkan hasil penelitian pelaksanaan CDOB kesesuaian dengan Peraturan Kepala BPOM Nomor HK.03.1.34.11.12.7542 Tahun 2012 di Apotek Wilayah Kecamatan Cikupa, pada aspek profil sarana sebesar 77,3%, aspek bangunan dan peralatan sebesar 83,3 %, aspek pengadaan sebesar 72.2%, aspek penerimaan dan penyimpanan sebesar 91,1 %, aspek penyaluran sebesar 44,4 %, aspek penanganan produk kembalian dan kadaluarsa sebesar 73,3%, dan aspek pemusnahan sebesar 68,3%. Kata Kunci: Cara Distribusi Obat yang Baik, Apotek, Kecamatan Cikupa
Asep Roni, Zahra Sayyidatunnisa, Wempi Budiana
Published: 1 February 2019
Jurnal Farmagazine, Volume 6, pp 19-24; https://doi.org/10.47653/farm.v6i1.126

Abstract:
Meski pemanfaatan tanaman sebagai bahan obat telah dilakukan sejak dulu, namun hingga sekarang belum semua tumbuhan telah diketahui potensinya sebagai tanaman obat.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktifitas dan senyawa antibakteri dari daun dan batang tanaman gandaria (Bouea macrophylla Griff)., metodelogi yang di unakan meliputi Ekstraksi dilakukan secara bertingkat dengan metode refluks dengan Uji aktivitas antibakteri dilakukan dengan metode mikrodilusi dan bioautografi terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli. Hasil pengujian menunjukkan nilai KHM ekstrak n-heksana ektrak etil asetat, dan ektrak methanol daun gandaria terhadap Staphylococcus aureus 128 µg/mL, dan nilai KHM pada ekstrak n-heksana batang gandaria yaitu 64 µg/mL, hasil pengujian terhadap bakteri Escherichia coli menunjukan nilai KHM dari ekstrak n-heksana, ekstrak etil asetat dan ekstrak methanol daun gandaria secara berturut-turut yaitu 128 µg/mL, 16 µg/mL dan 16 µg/mL. Hasil tersebut menunjukan ekstrak yang paling aktif yaitu ekstrak etil dan ekstrak methanol batang gandaria. Hasil pengujian bioautografi terhadap ekstrak batang dan daun gandaria menunjukan senyawa fenolat yang diduga sebagai senyawa aktif antibakteri. Kata kunci: Antibakteri, Bioautografi, Bouea macrophylla, Mikrodilusi
Arini Aprilliani, Hilda Damayanti, Zenith Putri Dewianti
Published: 1 August 2019
Jurnal Farmagazine, Volume 6, pp 27-31; https://doi.org/10.47653/farm.v6i2.139

Abstract:
Temu giring merupakan tumbuhan asli Indonesia yang banyak digunakan sebagai obat tradisional terutama sebagai perawatan kulit. Review artikel ini berfokus pada studi pengobatan tradisional dan farmakologi dari temu giring yang diharapkan dapat digunakan sebagai sumber informasi dan dapat mendukung pengembangan obat tradisional kedepannya. Review artikel ini berdasarkan studi literature dari beberapa publikasi ilmiah pada jurnal nasional dan internasional. Hasil yang didapatkan dari beberapa studi menunjukan bahwa temu giring sering dimanfaatkan dalam penggunaan tradisional sebagai Obat batuk, disentri, demam, angin duduk, radang vagina, pelangsing, mengembalikan stamina, perawatan tubuh pasca melahirkan, anthelmentik dan perawatan kulit, dan juga memiliki aktivitas farmakologi sebagai Antidiabetes, antiaging, antibakteri, aktivitas sitotoksik, antiinflamasi dan antihiperlipidemia. Kata Kunci: Temu giring, Curcuma heyneana, obat tradisional, aktivitas farmakologi
Hilda Damayanti, Zenith Putri Dewianti, Arini Aprilliani
Published: 1 August 2019
Jurnal Farmagazine, Volume 6, pp 32-38; https://doi.org/10.47653/farm.v6i2.138

Abstract:
Sistem penghantaran obat transdermal proniosom dapat menjadi sistem penghantaran yang potensial yang dapat digunakan secara luas oleh beberapa zat aktif. Proniosom merupakan suatu vesikel yang dibuat dari surfaktan dalam bentuk serbuk kering ataupun liquid kristalin padat yang dapat menjerat senyawa obat yang polar maupun non polar. Keunggulan proniosom yaitu dapat mencegah ketidakstabilan fisik seperti sedimentasi, agitasi, fusi dan kebocoran, menghindari degradasi (hidrolisis dan oxidase) dan dapat meningkatkan kecepatan menembus barrier kulit. Metode pembuatan Pronisom bentuk liquid kristalindilakukan dengan metode co-aservatif dengan mencampurkan surfaktan, alkohol dan fase air. Review artikel ini menyajikan teknik preparasi proniosom beserta formula terbaik dari beberapa zat aktif diantaranya Ondansetron Hidroklorida, Simvastatin, Nisoldipine, Nipedipine, Levonorgestrel, Estradiol, Captoprildan Tenoxicam. Sistem pengantaran transdermal proniosom perlu terus di kembangkan sesuai dengan zat aktifnya. Sistem ini menjadi sebuah gerbang untuk penelitian di masa depan untuk pengobatan khususnya di Indonesia. Kata Kunci :Proniosom, Sistem Penghantaran Transdermal
La Ode Akbar Rasydy, Jaka Supriyanta, Dwi Novita
Published: 1 August 2019
Jurnal Farmagazine, Volume 6, pp 18-26; https://doi.org/10.47653/farm.v6i2.142

Abstract:
Radiasi ultraviolet (UV) masih merupakan penyebab utama terjadinya kanker kulit, sehingga dipasaran banyak beredar sediaan krim atau gel yang berisi UV-filter. Oktil-metoksisinamat dan avobenzon adalah contoh zat aktif UV-filter. Berdasarkan Peraturan Kepala Badan Pengawasan Obat dan Kosmetik konsentrasi maksimum oktil metoksisinamat yang diizinkan sebagai sediaan kosmetik tabir surya adalah 10% dan untuk avobenzon sebesar 3%. Penelitian ini bertujuan untuk menetapkan kadar oktil metoksisinamat dan avobenzon dalam sedian gel tabir surya yang beredar di Kota Bandung dan menilai apakah sediaan tersebut memenuhi persyaratan tersebut diatas atau tidak. Penetapan kadar ini dilakukan dengan metode kromatografi cair kinerja tinggi (KCKT). Hasil penelitian menunjukan persamaan regresi linier oktil metoksisinamat y = 1634,7x + 8500,8 dengan R² = 0,9962; dengan nilai BD dan BK, 0,694 bpj dan 2,314 bpj. Persamaan linier untuk avobenzon yaitu y = 4329,9x +9268,5 dengan R2 = 0,9912, dengan nilai BD dan BK, 1,058 bpj dan 3,527 bpj. Validasi metode analisis dengan sampel simulasi meliputi akurasi menunjukkan persen perolehan kembali untuk konsentrasi sampel simulasi 80%; 100% dan 120% masing-masing adalah 102,011%; 112,368%; 108,490% untuk oktil metoksisinamat dan 81,722%; 98,01%; 117,8% untuk avobenzon. Presisi menunjukan keterulangan hasil pengukuran, untuk oktil metoksisinamat dan avobenson diperoleh nilai %RSD sebesar 1,641% dan 1,946%. Berdasarkan data penetapan kadar, maka ketiga sampel gel yang diteliti mengandung oktil metoksisinamat dan avobenzon dalam batas aman. Kata Kunci: Oktil metoksisinamat, avobenzon, tabir surya, UV-filter
Purwaniati Purwaniati, Ahmad Rijalul Arif, Anne Yuliantini
Published: 11 February 2020
Jurnal Farmagazine, Volume 7, pp 18-23; https://doi.org/10.47653/farm.v7i1.157

Abstract:
Antosianin merupakan pigmen alami yang termasuk golongan flavonoid. Bunga telang mempunyai kandungan antosianin yang cukup tinggi, sehingga di masyarakat terdapat berbagai sediaan yang dibuat dari bunga telang. Antosianin dapat diekstraksi dengan melakukan penyeduhan dengan menggunakan air menyesuaikan perlakuan dari masyarakat dalam mengonsumsi sediaan bunga telang itu sendiri. penelitian ini bertujuan untuk menentukan kondisi optimum penyeduhan bunga telang segar maupun sediaannya. Kemudian, dilakukan penetapan kadar antosianin dengan menggunakan metode pH diferensial. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa kadar antosianin ekstrak bunga telang segar lebih besar daripada sediaannya, kecuali pada sediaan yang dibuat serbuk (tea bag). Bentuk serbuk menyebabkan luas permukaan bidang sentuh lebih besar, sehingga kandungan antosianin total yang terekstraksi juga lebih besar. Kadar antosianin total yang dapat terekstraksi juga dipengaruhi oleh suhu, semakin besar suhu air yang digunakan untuk mengekstraksi, maka semakin besar kadar antosianin yang terekstraksi. Namun air yang mendidih (perebusan) menyebabkan degradasi antosianin. Kata Kunci: Antosianin, Bunga telang, Clitoria ternatea, Kadar Antosianin Total
Wahyu Fajar, Tri Mulyani
Published: 11 February 2020
Jurnal Farmagazine, Volume 7, pp 58-65; https://doi.org/10.47653/farm.v7i1.156

Abstract:
Buah Tiin adalah salah satu tanaman yang disebutkan al-Quran yang termuat di dalam Surah At-Tiin, hal ini memberikan isyarat bahwa dibalik kalimat sumpah Allah SWT kepada buah Tiin tersirat khasiat atau manfaat dari tanaman tersebut. Tiin (Ficus carica L.) (Moraceae) adalah tanaman yang sangat penting dalam pengobatan tradisional Arab karena sifat terapeutiknya. Penelitian ini dilakukan untuk memberikan kontribusi pada pengetahuan tentang etnofarmakologis dari tanaman ini. Penelitian ini menggambarkan senyawa fitokimia dan sifat etnofarmakologis dari tanaman F. carica yang telah digunakan dalam pengobatan tradisional selama beberapa dekade. Kandungan kimia terbesar dalam F carica. L yang telah diteliti adalah polifenol dan flavonoid. Senyawa bioaktif dalam tanaman tiin memiliki beragam aktivitas biologis. Dalam pengobatan tradisional, dilaporkan bahwa F. carica digunakan sebagai obat untuk bisul, gangguan pencernaan dan diare, sedangkan dalam beberapa penelitian ilmiah yang telah dilakukan menunjukkan bahwa tiin memiliki aktivitas farmakologis yang luas diantaranya, antibakteri, antioksidan, antitumor, serta agen anti-inflamasi. Kata Kunci: Qasam, Tafsir Ilmi, Etnofarmakologi, Ficus carica L
Ni Nyoman Sri Mas Hartini, Indah Febriyanti Amir, Rizki Siti Nurfitria
Published: 11 February 2020
Jurnal Farmagazine, Volume 7, pp 24-31; https://doi.org/10.47653/farm.v7i1.158

Abstract:
Badan Pusat Statistik Indonesia menyatakan bahwa selama satu bulan terakhir di tahun 2014 sekitar 20,99% Penduduk Indonesia memilih melakukan swamedikasi. Penelitian di Nigeria menunjukkan sebanyak 375 dari 518 wanita hamil (72,4%) melakukan swamedikasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan, gambaran dan perilaku penggunaan juga hubungan antara tingkat pengetahuan penggunaan obat non resep pada ibu hamil dengan dengan perilaku penggunaannya di Desa Jatimulyo Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan pendekatan cross-sectional dan data disajikan dalam bentuk deskriptif kuantitatif dan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 94 ibu hamil, sebanyak 56 orang menggunakan obat tanpa resep (59,57 %). Obat yang paling banyak digunakan yaitu parasetamol 28,57%. Tingkat pengetahuan ibu hamil dalam kategori cukup baik (68,95%). Tingkat perilaku penggunaan obat non resep dalam kategori baik (78,53%), dan terdapat hubungan positif antara tingkat pengetahuan dan perilaku penggunaan obat non resep dengan nilai signifikansi 0,001. Kata Kunci: Ibu Hamil, Obat Non Resep, Swamedikasi
Siti Mayholida, Zennith Putri Dewianti, Diana Sylvia
Published: 26 August 2020
Jurnal Farmagazine, Volume 7, pp 1-6; https://doi.org/10.47653/farm.v7i2.283

Abstract:
ABSTRAK Kerang hijau sangat digemari oleh masyarakat karena harga yang lebih murah dari ikan. Kualitas kerang hijau dapat menurun jika ada pencemaran logam berat seperti timbal dan kadmium dalam perairan yang mempunyai dampak buruk bagi kesehatan manusia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar timbal dan kadmium pada kerang hijau (Perna viridis L.) di perairan kabupaten Tangerang menggunakan metode spektrofotometri serapan atom. Sampel yang dianalisis sebanyak 6 sampel kerang hijau sebelum dan sesudah perebusan. Hasil analisis kandungan timbal dan kadmium pada kerang hijau di perairan kabupaten Tangerang yaitu tidak terdeteksi adanya kandungan timbal dan kadmium didalamnya, tetapi untuk mengetahui perairan yang menghasilkan hasil analisis terbesar maka harus dihitung hasil konsenterasi sebenarnya yang dihasilkan dan hasil rata-rata konsenterasi yaitu analisis timbal pada kerang hijau di perairan Kronjo 0,1695, Tanjung Kait -0,1288 dan Cituis -0,08065 mg/kg. Sedangkan untuk nilai rata-rata konsenterasi Kadmium pada perairan Kronjo -0,6699 mg/kg, Tanjung Kait -0,5052 dan Cituis -0,4280 mg/kg. Sedangkan hasil sesudah perebusan pada kerang hijau yaitu hasil rata-rata analisis timbal pada perairan Kronjo 0,15558 mg/kg, Tanjung Kait 0,1998 dan Cituis -0,09997 mg/kg, sedangkan dalam analisis Kadmium yaitu perairan Kronjo -0,5868, Tanjung kait -0,5943 dan Cituis -0,658 mg/kg. Kata Kunci : Kerang hijau (Perna viridis L.), Pencemaran, Spektofotometri Serapan Atom (SSA)
Widia Novietaningtyas, Selpina Kurniasih, Nuriyatul Fhatonah
Published: 26 August 2020
Jurnal Farmagazine, Volume 7, pp 68-74; https://doi.org/10.47653/farm.v7i2.425

Abstract:
Sectio Caesarea (SC) adalah persalinan buatan, janin dilahirkan melalui insisi pada dinding abdomen (lapartomi) dan dinding uterus/ rahim (histerektomi), dengan syarat rahim dalam keadaan utuh serta berat janin lebih dari 500 gram. Angka kelahiran dengan metode operasi sesar berdasarkan data Riskesdas tahun 2013 sebesar 9,8% dari total 49.603 kelahiran sepanjang tahun 2010 sampai dengan 2013. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola penggunaan obat antibiotik profilaksis pada pasien operasi sesar, serta mengevaluasi berdasarkan tepat obat, tepat dosis dan tepat waktu pemberian. Jenis Penelitian ini adalah non eksperimental dengan metode kuantitatif yang bersifat deskriptif dan berupa data retrospektif dilakukan melalui rekam medik pasien operasi sesar tahun 2018 dengan jumlah pasien 95 pasien yang dibandingkan dengan Pedoman Penggunaan Antibiotik Profilaksis RSUD Kab Tangerang dan ASHP 2012. Hasil penelitian menunjukan pola penggunaan obat antibiotik profilaksis pada pasien operasi sesar yaitu dengan terapi tunggal Sefotaksim (97,89%) dan terapi tunggal Seftriakson (2,11%). Evaluasi Penggunaan Obat Antibiotik Profilaksis pada Pasien Operasi Sesar yaitu tepat obat (100%), tepat dosis (100%) dan tepat waktu pemberian (3,16%). Kata Kunci: Antibiotik Profilaksis, Evaluasi Penggunaan Obat
Pipit Novita, Winasih Rachmawati
Published: 1 August 2019
Jurnal Farmagazine, Volume 6, pp 47-56; https://doi.org/10.47653/farm.v6i2.136

Abstract:
Radiasi ultraviolet (UV) masih merupakan penyebab utama terjadinya kanker kulit, sehingga dipasaran banyak beredar sediaan krim atau gel yang berisi UV-filter. Oktil-metoksisinamat dan avobenzon adalah contoh zat aktif UV-filter. Berdasarkan Peraturan Kepala Badan Pengawasan Obat dan Kosmetik konsentrasi maksimum oktil metoksisinamat yang diizinkan sebagai sediaan kosmetik tabir surya adalah 10% dan untuk avobenzon sebesar 3%. Penelitian ini bertujuan untuk menetapkan kadar oktil metoksisinamat dan avobenzon dalam sedian gel tabir surya yang beredar di Kota Bandung dan menilai apakah sediaan tersebut memenuhi persyaratan tersebut diatas atau tidak. Penetapan kadar ini dilakukan dengan metode kromatografi cair kinerja tinggi (KCKT). Hasil penelitian menunjukan persamaan regresi linier oktil metoksisinamat y = 1634,7x + 8500,8 dengan R² = 0,9962; dengan nilai BD dan BK, 0,694 bpj dan 2,314 bpj. Persamaan linier untuk avobenzon yaitu y = 4329,9x +9268,5 dengan R2 = 0,9912, dengan nilai BD dan BK, 1,058 bpj dan 3,527 bpj. Validasi metode analisis dengan sampel simulasi meliputi akurasi menunjukkan persen perolehan kembali untuk konsentrasi sampel simulasi 80%; 100% dan 120% masing-masing adalah 102,011%; 112,368%; 108,490% untuk oktil metoksisinamat dan 81,722%; 98,01%; 117,8% untuk avobenzon. Presisi menunjukan keterulangan hasil pengukuran, untuk oktil metoksisinamat dan avobenson diperoleh nilai %RSD sebesar 1,641% dan 1,946%. Berdasarkan data penetapan kadar, maka ketiga sampel gel yang diteliti mengandung oktil metoksisinamat dan avobenzon dalam batas aman. Kata Kunci: Oktil metoksisinamat, avobenzon, tabir surya, UV-filter
Shinta Chaerani, Nur’Afifah Husniah Fadla
Published: 1 February 2019
Jurnal Farmagazine, Volume 6, pp 1-8; https://doi.org/10.47653/farm.v6i1.125

Abstract:
Agen pemutih kulit biasanya bekerja dengan mengurangi pigmen melanin yang merupakan sumber utama warna kulit dengan menghambat kerja enzim tirosinase. Enzim tirosinase adalah target yang menarik untuk pengembangan agen pemutih kulit. Studi in silico enzim tirosinase pada manusia masih terbatas dilakukan, dimana struktur 3D dari enzim tirosinase untuk manusia belum tersedia secara eksperimental. Penelitian ini bertujuan untuk memprediksi struktur 3D dari enzim tirosinase menggunakan program Swiss-Model® . Pembuatan model menggunakan metode homology modelinguntuk memprediksi struktur 3D dari enzim tirosinase manusia. Pembuatan model enzim tirosinase pada manusia menggunakan template 5m8q dengan kesamaan 45%. Struktur 3D dari enzim tirosinase yang dihasilkan dari Swiss-Model® diperoleh skor QMEAN -2,95 yang menunjukkan kualitas model yang baik. Hasil evaluasi dan optimisasi kualitas model diperoleh dengan mengevaluasi nilai clashscore, persentase residu pada daerah yang tidak diizinkan, residu dengan skor rata-rata 3D-1D≥0,2 dan nilai skor model molprobity memenuhi persyaratan model yang baik. Kata kunci: Tirosinase, Homology Modeling, Swiss-Model
Debby Debby Juliadi, Rr. Asih Juanita
Published: 11 February 2020
Jurnal Farmagazine, Volume 7, pp 37-44; https://doi.org/10.47653/farm.v7i1.153

Abstract:
Pengujian potensi ekstrak buah takokak dilakukan dengan menggunakan spektrofotometri UV-Vis. Ekstraksi menggunakan metode Maserasi kemudian dipekatkan dengan rotary evaporator. Ekstrak kemusian di skrining fitokimia untuk mengetahui adanya senyawa tanin dan flavonoid kemudian dibuat dalam bentuk sediaan krim serta diuji mutu fisiknya baik dari homogenitas, pH, tipe emulsi dan stabilitas krim. Ekstrak buah takokak dan krim ekstrak buah takokak diukur serapannya setiap 5 nm pada rentang panjang gelombang 290 – 400 nm. Dari hasil penelitian diperoleh ekstrak dan krim ekstrak buah takokak hanya mampu memberikan nilai SPF minimal yaitu 2,199 pada ekstrak dengan konsentrasi 400 ppm, 2,615 pada ekstrak dengan konsentrasi 500 ppm dan 2,118 pada krim dengan konsentrasi 500 ppm, bila dilihat dari persentase eritema baik ekstrak ataupun krim belum memberikan perlindungan dari paparan sinar UVB, dilihat dari persentase transmisi pigmentasi baik ekstrak maupun krim memiliki kemampuan extra protection yang artinya ekstrak dan sediaan tersebut mampu menyerap hingga 85% sinar UVA. Kata Kunci: Buah Takokak, Tanin, Flavonoid, Potensi Foto Protektor
Sulistiorini Indriaty, Deni Firmansyah, Putri Sabhika Imany
Published: 1 August 2019
Jurnal Farmagazine, Volume 6, pp 1-9; https://doi.org/10.47653/farm.v6i2.141

Abstract:
Temu giring (Curcuma heyneana) mempunyai aktivitas sebagai antibakteri terhadap Staphylococcus aureus dengan konsentrasi 1%.Temu giring juga banyak digunakan untuk menghaluskan kulit.Penambahan surfaktan yaitu cocamidopropyl betain dapat memberikan stabilitas busa yang baik pada sabun mandi cair. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah ekstrak etanol temu giring dapat diformulasikan ke dalam sediaan sabun mandi cair dan bagaimana stabilitas sabun dengan menggunakan cocamidopropyl betain konsentrasi 1,6% dan 3,2%. Sabun mandi cair dibuat dalam 2 formula yaitu formula I dengan cocamidopropyl betain konsentrasi 1,6% dan formula II dengancocamidopropyl betain konsentrasi 3,2%. Uji stabilitas dilakukan dengan metode manipulasi suhu yaitu pada suhu ±4°C, ±25°C, dan ±40°C.Pengujian sabun mandi cair meliputi organoleptik, pH, uji homogenitas, uji tinggi dan kestabilan busa. Hasil penelitian menunjukan bahwa ekstrak etanol temu giring dapat dibuat menjadi sediaan sabun mandi cair, ke-2 formula stabil pada penyimpanan suhu ±4°C dan ±25°C, tetapi tidak stabil dalam penyimpanan pada suhu ±40°C, stabilitas busa formula I pada hari k-28 pada ketiga suhu penyimpanan berkisar antara 80% - 100%, dan stabilitas busa formula II pada hari ke-0 hingga hari ke-28 pada ketiga suhu penyimpanan berkisar antara 72% - 100%. Dari penelitian yang dilakukan dapat disimpulkan ekstrak etanol temu giring dapat dibuat menjadi sediaan sabun mandi cair. Sediaan sabun mandi cair untuk ke-4 Formula stabil pada penyimpanan suhu ±4°C dan ±25°C, tetapi tidak stabil pada penyimpanan suhu ±40°C dengan karakter formula 1 dan 2 bentuknya semi padat, warna kuning pucat, bau oleum citri dan pH 10 dan stabilitas busa antara 70-100%. Kata kunci: Sabun mandi cair, ekstrak etanol temu giring, uji stabilitas, cocamidopropyl betain
Zenith Putri Dewianti, Arini Aprillian, Hilda Damayanti
Published: 1 August 2019
Jurnal Farmagazine, Volume 6, pp 66-71; https://doi.org/10.47653/farm.v6i2.133

Abstract:
Hampir 56% dari obat-obatan yang dipasarkan dan digunakan adalah senyawa kiral, dan88% diantaranya masih merupakan suatu rasemat.Aktivitas anti-bakteri dari (S)-ofloksasin (levofloksasin) adalah 8-128 kali lebih tinggi dari (R)-ofloksasin, yang dapat berbahaya bagi fungsi hati dan ginjal jika diberikan dalam bentuk rasemat sehingga perlu untuk menetapkan metode yang tepat dalam mendapatkan enansiomer tunggal.Metode kromatografi cair dapat digunakan untuk memisahkan enansiomer baik secara tidak langsung dengan reagen derivatisasi kiral atau penambahan fase gerak kiral,maupun dengan fase diam kiral. Metode ini telah dikembangkan sejak lama sebagai pemisahan senyawa kiral fluorokuinolon menggunakan berbagai pendekatan yang berbeda.Review artikel ini menyajikan perbandingan metode pemisahan enansiomer ofloksasin menggunakan kromatografi cairdiantaranya metode fase diam kiral dan fase gerak kiral dengan penambahan penukar ligan/siklodekstrin. Kata Kunci :Kromatografi Cair, Ofloksasin, Pemisahan Enansiomer
Rr. Asih Juanita, Debby Juliadi
Published: 11 February 2020
Jurnal Farmagazine, Volume 7, pp 51-57; https://doi.org/10.47653/farm.v7i1.154

Abstract:
Paparan sinar matahari berlebih menyebabkan masalah kulit kemerahan, peradangan, bahkan kanker kulit. Cara melindungi kulit dari sinar matahari yaitu menggunakan tabir surya. Daun ceremai (Phyllanthus acidus L.) mengandung flavonoid dan tanin yang dapat dimanfaatkan sebagai tabir surya. Tujuan penelitian adalah mengetahui potensi tabir surya sediaan krim ekstrak etanol daun ceremai (Phyllanthus acidus L.) dengan metode spektrofotometri UV-Vis. Potensi tabir surya ditentukan berdasarkan nilai persen transmisi eritema (%Te), persen transmisi pigmentasi (%Tp) dan nilai SPF. Dari penelitian, diperoleh potensi tabir surya berdasarkan %Te konsentrasi 250 ppm dan 300 ppm termasuk kategori regular suntan. Berdasarkan nilai %Tp pada konsentrasi 100 ppm hingga 300 ppm memberikan perlindungan total terhadap paparan sinar UV-A. Berdasarkan nilai SPF, krim pada konsentrasi 100 ppm dan 150 ppm termasuk kategori proteksi minimal (SPF 2,597 dan 3,624), konsentrasi 200 ppm proteksi sedang (SPF 5,129), konsentrasi 250 ppm proteksi ekstra (SPF 7,201), dan konsentrasi 300 ppm proteksi maksimal (SPF 10,225). Kata Kunci: Daun Ceremai, Flavonoid, Tanin, Potensi Tabir Surya
Abdul Aziz Setiawan, Endang Sunariyanti, Anggiselina Gustiningtyas
Published: 1 February 2019
Jurnal Farmagazine, Volume 6, pp 32-41; https://doi.org/10.47653/farm.v6i1.130

Abstract:
Kunyit putih (Curcuma zedoaria) merupakan salah satu tanaman yang dapat dimanfaatkan sebagai obat tradisional dan pembuatan sediaan gel serta mengandung berbagai senyawa metabolit yang memiliki efektivitas sebagai antimikroba. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas antibakteri dari sediaan gel antiseptik ekstrak etanol 96% rimpang kunyit putih stabilitas yang paling baik. Sampel yang digunakan adalah serbuk rimpang kunyit putih yang diekstraksi menggunakan etanol 96% dengan metode maserasi dan dilakukan pemekatan rotary evaporator, selanjutnya digunakan dalam pembuatan sediaan gel dan uji efektivitas antibakteri. Uji efektivitas dilakukan dengan metode disc diffusion Kirby-Bauer terhadap bakteri Staphylococcus aureus. Kelompok uji efektivitas gel terdiri dari dettol antiseptik sebagai kontrol positif, F10%, F28%, F310%, F412%. Uji stabilitas dilakukan pengamatan organoleptis, daya sebar, daya lekat, dan pH. Hasil uji stabilitas menunjukkan sediaan gel F2 8% mengalami perubahan yang kecil, sehingga stabilitas sediaan gel F2 8% lebih baik dibandingkan sediaan lainnya. Hasil uji efektivitas menunjukkan gel antiseptik tidak terdapat zona bening disekitar kertas cakram, sedangkan pada dettol terdapat zona bening disekitar kertas cakram. Dari data tersebut dapat isimpulkan bahwa sediaan gel antiseptik ekstrak rimpang kunyit putih tidak memiliki efektivitas antibakteri terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus. Kata kunci : Ekstrak rimpang kunyit putih, Gel antiseptik, Antibakteri, Staphylococcus aureus
Sefi Megawati, Trisna Lestari, Wahyu Laras Setyani
Published: 1 August 2019
Jurnal Farmagazine, Volume 6, pp 10-17; https://doi.org/10.47653/farm.v6i2.140

Abstract:
Penyakit jantung merupakan penyakit utama penyebab kematian, angka kematian terbesar di dunia disebabkan oleh penyakit jantung dan stroke menurut WHO 2016. Perdarahan sering terjadi pada pasien jantung yang mendapatkan terapi warfarin oral, penggunaan antikoagulan harus diimbangi dengan pemeriksaan INR. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbaikan hasil INR setelah pemberian warfarin oral dengan berbagai dosis serta frekuensi terjadinya kasus perdarahan akibat terapi warfarin oral. Metode penelitian ini bersifat deskriptif yang dilakukan secara retrospektif menggunakan data lengkap pasien berupa diagnosa penyakit, dosis penggunaan warfarin, serta hasil pemeriksaan laboratorium. Berdasarkan hasil penelitian terdapat perbaikan hasil INR setelah pemberian warfarin oral dengan 27% pasien yang mencapai target nilai INR 2-3 dan sebanyak 48% pasien yang tidak mencapai target nilai INR 2-3. Kasus perdarahan yang terjadi pada pasien jantung akibat pemberian warfarin oral sebanyak 2%. Kata Kunci: Penyakit Jantung, Perdarahan, Nilai INR, Warfarin oral
La Ode Akbar Rasydy, Banu Kuncoro, Muhammad Yusuf Hasibuan
Published: 11 February 2020
Jurnal Farmagazine, Volume 7, pp 45-50; https://doi.org/10.47653/farm.v7i1.150

Abstract:
Daun dan Batang serai wangi (Cymbopogon nardus L.) merupakan tanaman yang memiliki kandungan geraniol dan sitronelal yang berfungsi sebagai antinyamuk. Penelitian ini bertujuan untuk memformulasikan sediaan spray antinyamuk dari tanaman serai wangi (Cymbopogon nardus L.) dengan menggunakan metode destilasi yang akan diujikan terhadap aktivitas nyamuk Culex s.p. Bahan yang digunakan dalam pembuatan spray adalah minyak atsiri daun dan batang serai wangi (Cymbopogon nardus L.) dengan variasi konsentrasi 0%, 5%, 10% dan 15%. Semua formula sediaan spray diuji stabilitas meliputi (pH dan viskositas) serta efektivitas terhahap nyamuk Culex s.p. Dari hasil pengujian pH dan viskositas menunjukan bahwa pH sesuai dengan standar pH pada kulit dan memiliki viskositas yang cukup baik. Hasil dari efektifitas sediaan spray menyatakan bahwa pada sediaan spray dengan konsentrasi ekstrak 15% memiliki daya tolak nyamuk yang cukup efektif. Kata Kunci: Spray Antinyamuk, Minyak Atsiri Serai Wangi (Cymbopogon nardus L.), Nyamuk Culex
Page of 2
Articles per Page
by
Show export options
  Select all
Back to Top Top