Refine Search

New Search

Results in Indonesian Journal of Midwifery (ijm): 94

(searched for: container_group_id:102748)
Page of 2
Articles per Page
by
Show export options
  Select all
Moneca Diah L, Risma Aliviani Putri, Fiktina V
Indonesian Journal of Midwifery (ijm), Volume 5; https://doi.org/10.35473/ijm.v5i1.1543

Abstract:
Breastfeeding self efficacy is the self-confidence that mothers have in terms of breastfeeding that can predict whether the mother will decide to breastfeed, how much effort is made to breastfeed, whether to have a constructive or destructive mindset and how to respond to various problems and difficulties during breastfeeding. Research shows that breastfeeding self-efficacy is an important factor associated with the initiation, duration and exclusion of breastfeeding. The purpose of this study was to analyze factors associated with breastfeeding self efficacy in postpartum mothers. The study was conducted at PMB Ignasia Tripuji Astuti, S.ST. Keb, Kandangan Village bawen district of Semarang regency. Research design using analytical surveys with a sample of 30 postpartum mothers. Data analysis with descriptive analysis methods The results of the Chi Square test obtained a p-value of 1,000, because the p-value of 1,000>α (0.05), then there was no significant association between maternal age and breastfeeding self efficacy. Chi Square test results obtained a p-value of 0.011. Because of p-value 0.011<α (0.05), there is a significant relationship between parity and breastfeeding self efficacy in PMB Ignasia Tripuji Astuti, S.ST. Keb Kandangan Village. The odd ratio is 10.83. This suggests that primipara mothers have a 10.83 times greater risk of having low breastfeeding self efficacy, compared to multipara mothers. The conclusion of this study in maternal age showed no association with breast feeding self efficacy of postpartum mothers while parity showed there was a significant association to breastfeeding self efficacy of postpartum mothers in PMB Ignasia Tripuji Astuti, S.ST. KebAbstrak Breastfeeding self efficacy merupakan keyakinan diri yang dimiliki oleh ibu dalam hal menyusui yang dapat memprediksi apakah ibu akan memutuskan untuk menyusui, sebesar apa upaya yang dilakukan untuk menyusui, apakah mempunyai pola pikir yang membangun atau merusak dan bagaimana cara merespon berbagai masalah dan kesulitan selama menyusui. Penelitian menunjukan bahwa breastfeeding self efficacy adalah faktor penting yang berhubungan dengan inisiasi, durasi dan keeksklusifan menyusui. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis faktor yang berhubungan dengan breastfeeding self efficacy pada ibu postpartum. Penelitian ini dilaksanakan di PMB Ignasia Tripuji Astuti, S.ST.Keb, Desa Kandangan Kecamatan Bawen Kabupaten Semarang. Desain penelitian menggunakan survei analitik dengan sampel 30 ibu postpartum. Analisis data dengan metode descriptive analysis Hasil penelitian didapatkan uji Chi Square diperoleh p-value sebesar 1,000, karena p-value 1,000>α (0,05), maka tidak ada hubungan secara signifikan antara umur ibu dengan breastfeeding self efficacy. Hasil uji Chi Square diperoleh p-value sebesar 0,011. Oleh karena p-value 0,011<α (0,05), maka ada hubungan secara signifikan antara paritas dengan breastfeeding self efficacydi PMB Ignasia Tripuji Astuti, S.ST.Keb Desa Kandangan. Hasil nilai Odd Rasio diperoleh sebesar 10,83. Ini menunjukkan bahwa ibu primipara memiliki resiko 10,83 kali lebih besar memiliki breastfeeding self efficacy rendah, dibandingkan ibu multipara Simpulan dari penelitian ini usia ibu menunjukkan tidak ada hubungan dengan breast feeding Self Efficacy ibu postpartum sedangkan paritas menunjukan ada hubungan yang signifikan terhadap Breastfeeding Self Efficacy ibu postpartum di PMB Ignasia Tripuji Astuti, S.ST.Keb.
Hanny Desmiati, Nuntarsih Nuntarsih, Happy Novriyanti Purwadi
Indonesian Journal of Midwifery (ijm), Volume 5; https://doi.org/10.35473/ijm.v5i1.1290

Abstract:
The government's efforts in dealing with the population growth rate in Indonesia is to hold it a national family planning program. The most effective method of birth control is a Long Term Contraception Method (LTM). LTM consumption in Indonesia is still less attractive to spouses of fertile age (EFA) and tends to decrease. This thesis aims to determine the factors associated with the use of Long-Term Contraception Method (LTM) at the District Health Center Mount Sindur Year 2017. The study design was cross-sectional with quantitative and qualitative approach using primary data with a total sample of 154 women of childbearing age. Data analysis by multivariate analyzes.The results obtained by the use of LTM in Gunung Sindur District Health Clinics in 2020 amounted to 31.2%. There is a relationship (p≤0,05) between education, occupation, number of children born alive, knowledge, attitudes, the role of health professionals, counseling, support a husband, a source of information. There is no relationship (p≥0,05) between age, number of children desired, a history of previous use of contraception, access to the location of health facilities, the role of neighbors / friends, the role of cadres. The most dominant factor in the use of LTM are resources with OR = 14.8, meaning that getting resources WUS has a 14.8 times greater chance of taking LTM compared WUS uninformed.Abstrak Upaya pemerintah dalam menangani laju pertumbuhan penduduk di Indonesia adalah dengan mengadakannya program KB nasional. Metode KB yang paling efektif adalah Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP). Pemakaian MKJP di Indonesia masih kurang diminati oleh Pasangan Usia Subur (PUS) dan cenderung menurun. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan pemakaian Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) di Puskesmas Kecamatan Gunung Sindur Tahun 2020 .Desain penelitian adalah cross sectional dengan pendekatan mixed method menggunakan data primer dengan jumlah sampel sebanyak 154 wanita usia subur. Teknik analisa data dengan multivariat. Hasil penelitian diperoleh pemakaian MKJP di Puskesmas Kecamatan Gunung Sindur tahun 2017 sebesar 31,2%. Ada hubungan (p≤0,05) antara pendidikan, pekerjaan, jumlah anak lahir hidup, pengetahuan, sikap, peran tenaga kesehatan, konseling, dukungan suami, sumber informasi. Tidak ada hubungan (p≥0,05) antara umur, jumlah anak yang diinginkan, riwayat pemakaian kontrasepsi sebelumnya, akses lokasi fasilitas kesehatan, peran tetangga/ teman, peran kader. Faktor paling dominan dalam pemakaian MKJP adalah sumber informasi dengan nilai OR=14,8, artinya WUS yang mendapatkan sumber informasi mempunyai peluang 14,8 kali lebih besar memakai MKJP dibandingkan WUS yang tidak mendapatkan informasi.
Isri Nasifah, Kartika Sari, Rini Susanti
Indonesian Journal of Midwifery (ijm), Volume 5; https://doi.org/10.35473/ijm.v5i1.1535

Abstract:
The nursing intervention to prepare for labor is physical exercise, such as prenatal gentle yoga. The yoga movements taught have been formulated in such a way that they are safe for pregnant women and provide optimal benefits for the health of mothers and children. Prenatal gentle yoga is a means to learn about the health of pregnant women, in a face-to-face form aimed at increasing knowledge and skills regarding pregnancy, childbirth, postpartum care and newborn care. And can be used to keep the progress of labor going properly. This study was to determine the description of the progress of labor in the control group, the description of the progress of labor in the treatment group and the effect of prenatal gentle yoga on the progress of labor. Methods: This study used a quasi-experimental research (Quasi Experimental) with Post-test Only Control Group Design. This study was conducted on pregnant women with a gestational age of 32-36 weeks (6 weeks before delivery) divided into a control group of 20 women giving birth and a treatment group of 20 women giving birth. To assess the progress of labor using a partograph observation sheet. Results: Prenatal Gentel Yoga has an effect on the progress of labor. There is an effect of Prenatal Gentel Yoga on the progress of labor. Further research with different methods is urgently needed for the effectiveness of prenatal gentle yoga on physical and psychological responses to childbirth. AbstrakIntervensi asuhan yang dilakukan untuk persiapan persalinan adalah latihan fisik, seperti prenatal gentle yoga. Gerakan yoga yang diajarkan telah di formulasi sedemikian rupa sehingga aman dilakukan untuk ibu hamil dan memberikan manfaat yang optimal bagi kesehatan ibu dan anak. Prenatal gentle yoga merupakan sarana untuk belajar tentang kesehatan ibu hamil, dalam bentuk tatap muka yang bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan mengenai kehamilan, persalinan, perawatan nifas dan perawatan bayi baru lahir. Serta dapat digunakan untuk menjaga kemajuan persalinan berjalan semestinya. Tujuan: penelitian ini adalah mengetahui gambaran kemajuan persalinan pada kelompok kontrol, gambaran kemajuan persalinan pada kelompok perlakuan dan pengaruh prenatal gentle yoga terhadap kemajuan persalinan. Penelitian ini menggunakan penelitian eksperimen semu (Quasi Experimental) dengan rancangan Post-test Only Control Group Design. Penelitian ini dilakukan pada ibu hamil dengan usia kehamilan 32-36 minggu (6 minggu sebelum persalinan) terbagi dalam kelompok kontrol sejumlah 20 ibu melahirkan dan kelompok perlakuan sejumlah 20 ibu melahirkan. Untuk menilai kemajuan persalinan menggunakan lembar observasi partograf. Prenatal gentel yoga berpengaruh terhadap kemajuan persalinan Kesimpulan: Terdapat pengaruh Prenatal gentle Yoga terhadap kemajuan persalinan. Penelitian lebih lanjut dengan metode yang berbeda sangat diperlukan untuk efektifitas prenatal gentle yoga terhadap respon fisik dan psikologi menghadapi persalinan
Baiq Ricca Afrida, Nurul Hikmah Annisa, Ni Putu Aryani, Susilia Idyawati
Indonesian Journal of Midwifery (ijm), Volume 5; https://doi.org/10.35473/ijm.v5i1.1499

Abstract:
Anemia in pregnancy is often caused by iron deficiency and is a type of anemia whose treatment is relatively easy and inexpensive. Anemia in pregnancy is a national problem because it reflects the value of the socio-economic welfare of the community, and has a very large influence on the quality of human resources. Based on the target data for pregnant women at the Dasan Public Health Center, within one year there were 1,056 pregnant women and 25 people who experienced anemia during pregnancy. This study aims to provide an overview of anemia in pregnant women related to the Gestational Distance, data processing using the frequency distribution on each variable. The result of the study was based on the total number of pregnant women in January – December 2021 as many as 1.056 there were 25 women (2,3%) experiencing anemia and 1031 women (97,63%) not having anemia. The description of anemic pregnant women related to. The description of anemic pregnant women that is related to the distance between pregnancy is 11 women (44%) experience high risk and 14 women (56%) not experiencing high risk in pregnancy with anemia, while anemia based on maternal parity, in low-risk parity (≥4) there are 6 patients (24%) while the high-risk parity (<4) is 19 patients (76%), from this study it can be concluded that there is an incidence of anemia according to the distance between pregnancy and maternal parity with more low risk are more when compare to the Gestational Distance and maternal parity high riskAbstrakAnemia pada kehamilan sering disebabkan oleh karena kekurangan zat besi, dan merupakan jenis anemia yang pengobatannya relative midah dan murah. Anemia pada kehamilan merupakan masalah nasional karena mencerminkan nilai kesejahteraan social ekonomi masyarakat, dan pengaruhnya sangat besar terhadap kualitas sumber daya manusia. Berdasarkan data sasaran ibu hamil dipuskesmas dasan dalam kurun waktu satu tahun terdapat 1.056 orang ibu hamil dan terdapat 25 orang yang mengalami anemia pada kehamilan. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran anemia pada ibu hamil yang berkaitan dengan jarak kehamilan, pengolahan data menggunakan distribusi frekuensi pada masing- masing variable. Hasil penelitian ini terdapat total jumlah ibu hamil pada januari – desember 2021 sejumlah 1.056 terdapat 25 orang (2,37%) mengalami anemia dan 1031 orang (97,63%) tidak mengalami anemia. Gambaran ibu hamil anemia yang berkaitan dengan jarak kehamilan terdapat 11 orang (44%) mengalami resiko tinggi dan 14 orang (56 %) tidak mengalami resiko tinggi pada kehamilan dengan anemia sedangnkan anemia berdasarkan paritas ibu Pada paritas dengan resiko rendah (≥4) terdapat 6 orang penderita (24%) sedangkan paritas denga resiko tinggi (<4) terdapat 19 orang (76%) , dari penelitian ini dapat disimpulkan Terdapat kejadian anemia menurut jarak kehamilan dan paritas ibu dengan resiko rendah lebih banyak bila dibandingkan dengan jarak kehamilan dan paritas ibu yang resiko tinggi
Ni Nyoman Ayu Desy Sekarini, Putu Irma Pratiwi, Luh Nik Armini
Indonesian Journal of Midwifery (ijm), Volume 5; https://doi.org/10.35473/ijm.v5i1.1536

Abstract:
During the Covid-19 pandemic, it had an impact on the health, economy and tourism sectors. During this pandemic, it is also estimated that the number of poverty rates will increase to 12.4%. This also indirectly affects the fulfillment of nutrition, especially toddlers, so it is estimated that there will be an increase in cases of undernourished children under five, which is 15%, which means that there will also be an increase in stunting cases. In the context of preventing and controlling malnutrition and stunting during the COVID-19 pandemic, it requires the participation of families, especially parents of toddlers as the frontline in family health. The purpose of this study was to determine the relationship between the role of parents and the growth of toddlers (0-59 months) during the Covid-19 pandemic. The type of research is quantitative research with analytic design and cross-sectional approach. The sample used is toddlers aged 0-59 months in the Sukasada Strait Village, Buleleng, with a total of 108 respondents and using a sampling technique that is simple random sampling. Data collection is done directly by giving a questionnaire on the role of parents in the growth of toddlers. Furthermore, measurements of height/length and weight of toddlers were carried out. The type of data used is primary data with ordinal scale and the data is analyzed univariate and bevariate. The results of the analysis showed that under five with good nutrition 88 (81.5%), excess nutrition 10 (9.3%), undernutrition 6 (5.6%) and malnutrition 4 (3.7%). Toddlers with a normal height of 91 (84.3%), toddlers with stunting 14 (13%), several stunted 2 (1.9) and height 1 (0.9%). The statistical test results obtained that there was a relationship between the role of parents and the nutritional status of toddlers (p value = 0.025) and there was a relationship between the role of parents and stunting status in toddlers (p value = 0.047). Involving parents is very important in efforts to prevent and treat wasting and stunting in toddlers Abstrak Pada masa pandemi Covid-19 menimbulkan dampak pada sektor kesehatan, perekonomian dan pariwisata. Pada masa pandemic ini juga diperkirakan jumlah angka kemiskinan meningkat menjadi 12,4%. Hal ini juga secara tidak langsung berpengaruh pada pemenuhan gizi khususnya balita, sehingga diperkirakan terjadi peningkatan kasus balita kurang gizi yaitu 15%, yang artinya juga terjadi peningkatan kasus stunting. Dalam rangka pencegahan dan pengendalian kurang gizi dan stunting pada masa pandemic covid-19, memerlukan peran serta keluarga khususnya orang tua balita sebagai garda terdepan dalam kesehatan keluarga. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui hubungan peran orang tua dengan pertumbuhan balita (0-59 bulan) pada masa pandemi Covid-19. Jenis penelitian yaitu penelitian kuantitatif dengan rancangan analitik dan pendekatan crossectional. Sampel yang digunakan yaitu balita usia 0-59 bulan di Desa Selat Sukasada Buleleng sejumlah 108 responden dan menggunakan teknik pengambilan sampel yaitu simple random sampling. Pengumpulan data dilakukan secara langsung dengan memberikan kuisioner peran orang tua dalam pertumbuhan balita. Selanjutnya dilakukan pengukuran tinggi/panjang badan serta berat badan balita. Jenis data yang digunakan yaitu data primer dengan skala ordinal dan data dianalisis univariat dan bivariat. Hasil analisis diperoleh balita dengan gizi baik 88 (81,5%), gizi berlebih 10 (9,3%), gizi kurang 6 (5,6%) dan gizi buruk 4 (3,7%). Balita yang memiliki tinggi badan normal 91 (84,3%), balita dengan stunting 14 (13%), several stunted 2 (1,9) dan tinggi 1 (0,9%). Hasil uji statistik diperoleh terdapat hubungan peran orang tua dengan status gizi balita (p-value = 0,025) serta terdapat hubungan antara peran orang tua dengans status stunting pada balita (p-value = 0,047). Melibatkan orang tua merupakan hal yang sangat penting dalam upaya pencegahan dan penanganan wasting dan stunting pada balita.
Meta Rosdiana, Rina Puspita
Indonesian Journal of Midwifery (ijm), Volume 5; https://doi.org/10.35473/ijm.v5i1.1269

Abstract:
During the COVID-19 pandemic, health care resources were used to obtain masks, virology services, personal protective equipment, ventilators, building a special covid field hospital, and morgues. Emergency COVID-19 care takes up the time, resources, and space that would normally be used for routine care. The loss of reproductive health services, which some governments consider unimportant, poses significant challenges for health care providers and women of reproductive age. During the lockdown period, working from home, isolation, and other restrictions have hampered access to health services including contraceptive services. These factors can cause millions of unplanned pregnancies, millions of unsafe abortions and result in thousands of deaths. In 2010-2014, an estimated 44% of pregnancies worldwide were not undesirable and this figure could increase during the COVID-19 pandemic. People are afraid to come to the hospital or health care center cause of contracting COVID-19. This is not much different from the number of family planning acceptors in the maternity hospital and independent practice midwives, which makes mothers afraid to get midwifery services, especially for women who accept hormonal family planning, which has short-term effectiveness, which requires the acceptor to return to a health care provider. This research is to find out the difference in the number of hormonal family planning acceptors during the pre-pandemic, pandemic, and New Normal periods at the Citra Palembang Maternity Hospital. A cross-sectional design, the sample of this study is all the number of hormonal family planning acceptors in the pre-pandemic, pandemic, and New Normal period at the Citra Palembang Maternity Hospital in the period 12th December 2019-27th August 2020. Pre-pandemic is the normal period before the COVID-19 pandemic in Indonesia (during the pandemic 12th December 2019 to 1st March 2020. (79 days). The pandemic started when the Indonesian president first announced the first case of COVID-19 in Indonesia on March 2nd, 2020. The pre-pandemic period is from March 2nd to May 19th, 2020. (79 days). New normal Started when the Indonesian government issued a health protocol for the New Normal situation on May 20th, 2020, through the Decree of the Minister of Health. May 20th, 2020, to August 27th, 2020. (79 days). Data of family planning acceptors in pre-pandemic, 124 oral acceptors, 317 acceptors as 1-month injections, 419 acceptors as 3-months injections, and 16 implant acceptors. During the pandemic, 30 oral acceptors, 80 acceptors 1-month injections, 90 acceptors as 3-months injections, and 4 implant acceptors. New normal COVID-19, 45 oral acceptors, 100 acceptors as 1-month injections, 100 acceptors as 3-month injections, and 3 implant acceptors. This study concludes that all hormonal family planning visits decrease during the pandemic, this is because of the COVID-19 pandemic, people are reluctant to leave the house because of the risk of contracting COVID-19, especially to come to health service providers.Abstrak Masa pandemi COVID-19 sumber daya perawatan kesehatan digunakan untuk mendapatkan masker, layanan virologi, alat pelindung diri, ventilator, membangun rumah sakit lapangan khusus COVID-19, dan kamar mayat. Perawatan darurat COVID-19 menyita waktu, sumber daya, dan tempat yang biasanya digunakan untuk perawatan rutin. Selama masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), bekerja dari rumah, isolasi, dan pembatasan lainnya telah menghambat akses pelayanan kesehatan termasuk layanan kontrasepsi. Pada 2010-2014, diperkirakan 44% kehamilan di seluruh dunia tidak diinginkan dan angka ini dapat meningkat selama masa pandemi COVID-19. Pandemi di Indonesia membuat kekhawatiran masyarakat untuk datang ke fasilitas kesehatan. karena takut tertular COVID-19. Perlu diberikan edukasi kesehatan yang tepat dan lengkap agar masyarakat yang memang membutuhkan layanan kesehatan non COVID-19 tidak takut berobat ke pelayanan kesehataan. Hal tersebut tidak jauh berbeda dengan jumlah akseptor KB pada rumah bersalin dan bidan praktek mandiri yang membuat ibu takut untuk mendapatkan pelayanan kebidanan, khususnya bagi wanita akseptor KB hormonal. Terlebih untuk KB hormonal yang memiliki jangka efektivitas pendek yang mengharuskan akseptor untuk kembali lagi ke penyedia layanan kesehatan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perbedaan jumlah akseptor kb hormonal pada masa sebelum pandemi, pandemi dan New Normal COVID-19 di Rumah Bersalin Citra Palembang. Desain penelitian cross sectional, sampel penelitian ini adalah semua jumlah akseptor KB Hormonal pada masa sebelum pandemi, pandemi dan New Normal COVID-19 di Rumah Bersalin Citra Palembang pada rentang waktu 12 Desember 2019- 27 Agustus 2020. Sebelum pandemi bila melakukan kunjungan KB pada 12 Desember 2019 sd 1 Maret 2020. Masa Pandemi, bila melakukan kunjungan KB pada 2 Maret sd 19 Mei 2020. New normal COVID-19, bila melakukan kunjungan KB pada 20 mei 2020 sd 27 Agustus 2020. Data akseptor KB sebelum pandemi, pil 124 akseptor, KB 1 bulan 317 akseptor, KB 3 bulan sebanyak 419 akseptor, dan akseptor KB implan 16 akseptor. Masa pandemi, PIL 30 akseptor, KB 1 bulan 80 akseptor, akseptor KB 3 Bulan 90 akseptor, dan akseptor KB implan 4 akseptor. Masa new normal COVID-19, pil 45 akseptor, akseptor KB 1 bulan 100 akseptor, akseptor KB 3 Bulan sebanyak 100 akseptor, dan akseptor KB implan 3 akseptor. Kesimpulan hasil penelitian ini memiliki hasil yang seragam yakni bahwa semua kunjungan KB hormonal menurun pada masa pandemi, hal ini karena keadaan pandemi COVID-19 masyarakat membatasi diri keluar rumah karena beresiko tertular COVID-19, terlebih untuk datang ke penyediaa layanan kesehatan.
Nurul Hikmah Annisa, Baiq Ricca Afrida, Ni Putu Aryani, Susilia Idyawati
Indonesian Journal of Midwifery (ijm), Volume 5; https://doi.org/10.35473/ijm.v5i1.1498

Abstract:
Family planning is a national scale program to reduce the birth rate and control the population in a country. This method is very effective for both delaying, spacing or terminating pregnancy. Therefore, the government is trying to increase the use of long-term contraceptive methods (MKJP) but in fact there are more users of Non-MKJP contraception than the use of Long-Term Contraceptive Methods (MKJP). The background of holding this "MKJP" counseling is that in fact there are still many people who do not fully understand what MKJP (Long Term Contraceptive Method) is. The purpose of this activity is to increase the knowledge and interest of participants regarding Long Term Contraception Methods. Of the 26 PUS attending the counseling, 15 people (58.00%) had less knowledge about MKJP and 11 people (42.00%) had good knowledge about MKJP. The material presented is the understanding, benefits, limitations, targets, time of use, advantages and side effects of each type of long-term contraceptive. The method used is a questionnaire. After the presentation of the material, there was a question and answer session where all participants were given the opportunity to ask questions related to the material and tell their experiences in using contraceptives. In addition to the question and answer session after the delivery of the material, a questionnaire was given. The results obtained after this activity were the participants' knowledge and understanding of the Long-Term Contraceptive Method. After being given counseling there was an increase, namely 24 people (92.3%) had good knowledge after being given counseling while 2 people (7.7) mothers had less knowledge after being given counseling. Therefore, with the extension of this family planning program as an effort to increase public knowledge and awareness about the importance of making the family planning program (KB) a success.Family planning is a national scale program to reduce the birth rate and control the population in a country. This method is very effective for delaying, spacing or terminating pregnancy. Therefore, the government is trying to increase the use of long-term contraceptive methods (MKJP) but in fact the use of Non-MKJP contraceptives is more than the use of long-term contraceptive methods (MKJP). The background of holding this "MKJP" counseling is that in fact there are still many people who do not fully understand what MKJP (Long Term Contraceptive Method) is. The purpose of this activity is to increase the knowledge and interest of participants regarding Long Term Contraception Methods. Of the 26 PUS who delivered counseling, 15 people (58.00%) had poor knowledge about MKJP and 11 people (42.00%) had good knowledge about MKJP. The material presented is the understanding, benefits, limitations, targets, time of use, advantages and side effects of each type of long-term contraceptive. The media used in this research is Power Point. The method used is a questionnaire with a checklist. After sending the material, there was a question and answer session where all participants were given the opportunity to ask questions related to the material and tell their experiences in using contraceptives. In addition to the question and answer session after the delivery of the material, a questionnaire was given. The results obtained after this activity were the participants' knowledge and understanding of the Long Term Contraception Method. After being given counseling, 24 people (92.3%) had good knowledge after being given counseling, 2 people (7.7) mothers had less knowledge after being given counseling. Therefore, with the extension of this family planning program as an effort to increase public knowledge and awareness about the importance of the success of the family planning program (KB).AbstrakKeluarga berencana adalah program skala nasional untuk menekan angka kelahiran dan mengendalikan penduduk di suatu Negara. Metode ini sangat efektif digunakan baik untuk menunda, menjarangkan ataupun menghentikan kehamilan. Oleh karena itu pemerintah berusaha untuk meningkatkan penggunaa metode kontrasepsi jangka panjang (MKJP) tetapi faktanya pemakai kontrasepsi Non MKJP lebih banyak dibandingkan pemakain Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP). Latar belakang diadakannya penyuluhan “MKJP” ini adalah bahwa faktanya masih banyak orang yang belum mengetahui secara keseluruhan tentang apa itu MKJP (Metode Kontrasepsi Jangka Panjang). Tujuan dilakukan kegiatan ini yaitu meningkatkan pengetahuan dan minat peserta mengenai Metode Kontrasepsi Jangka Panjang. Dari 26 PUS yang menghadari penyuluhan yang memiliki pengetahuan kurang tentang MKJP yaitu 15 orang (58,00%) dan yang mempunyai penegtahuan baik tentang MKJP yaitu 11 orang (42,00%). Materi yang disajikan yaitu pengertian, manfaat, keterbatasan, sasaran, waktu penggunaan, kelebihan dan efek samping tentang masing-masing jenis alat kontrasepsi jangka panjang. Media yang digunakan dalam penelitian ini adalah Power Point. Metode yang digunakan yaitu kuesioner dengan ceklist. Setelah penyampaian materi dilanjutkan sesi tanya jawab dimana semua peserta di berikan kesempatan untuk bertanya terkait materi dan menceritakan pengalamannya dalam penggunaan alat kontrasepsi. Selain sesi tanya jawab setelah penyampaian materi diberikan kuesioner. Hasil yang di dapatkan setelah kegiatan ini yaitu pengetahuan dan pemahaman peserta mengenai tentang Metode Kontrasepsi Jangka Panjang. Setelah diberikan penyuluhan terdapat peningkatan yaitu 24 orang (92,3%) memiliki pengetahuan yang baik setelah diberikan penyuluhan sedangkan 2 orang (7,7) ibu memiliki pengetahuan kurang setelah diberikan penyuluhan. Oleh karena itu, dengan adanya penyuluhan program keluarga berencana ini sebagai upaya meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat tentang pentingnya untuk mensukseskan program keluarga berencana (KB).
Noviyati Rahardjo Putri, Riza Amalia, Iffah Indri Kusmawati
Indonesian Journal of Midwifery (ijm), Volume 5; https://doi.org/10.35473/ijm.v5i1.1427

Abstract:
During pregnancy, there are physiological changes in the mother's physical and psychology due to the growth and development of the fetus and preparation for childbirth. These changes make pregnant women vulnerable to conditions of stress, anxiety and other complaints related to psychological health. Pregnant women with psychological health disorders are at risk for premature birth, low birth weight, prolonged labor duration, immune disorders, postpartum depression, etc. Maternity Class is a training program to deal with childbirth under the supervision and guidance of an experienced obstetrician or midwife with the aim of preparing pregnant women physically and mentally. This type of research is a systematic review with the method used is PRISMA (Preferred Reporting Items for Systematic Review). Data is accessed from various database sources such as; Google Scholar, PubMed, Science Direct, Sage Pud, ProQuest. The literature reviewed in the range of 2011 to 2020 which is original research is experimental research by design; randomized controlled trial, quasi-experimental, and pre-experimental. There are 9 articles resears that in accordance. The research subjects were pregnant women. The result of a systematic review is that participation in classes for pregnant women can reduce levels of stress, fear, and pain when compared to mothers who do not attend classes for pregnant women. Classes for pregnant women can improve labor preparation, reduce postpartum trauma and postpartum stress. The implementation of classes for pregnant women by presenting age-appropriate material can increase correct knowledge and reduce misinformation. The conclusion from this systematic review is that pregnant women's classes are an appropriate educational tool for pregnant women, namely by providing information according to the needs of pregnant women, intervention in emotional and motivational aspects so that pregnant women can empower themselves.Abstrak Selama kehamilan, terjadi perubahan fisiologi pada fisik dan psikologi ibu akibat adanya tumbuh kembang janin dan persiapan persalinan. Perubahan tersebut membuat ibu hamil rentan pada kondisi stres, kecemasan dan keluhan lain terkait dengan kesehatan psikologi. Ibu hamil dengan gangguan kesehatan psikologi berisiko mengalami kelahiran prematur, lahir dengan berat yang rendah, perpanjangan durasi persalinan, gangguan kekebalan tubuh, depresi postpartum, dll. Kelas Ibu Hamil merupakan program pelatihan untuk menghadapi kelahiran di bawah pengawasan dan bimbingan dokter kandungan atau bidan yang sudah berpengalaman dengan tujuan untuk mempersiapkan diri pada ibu hamil secara fisik dan mental. Jenis penelitian merupakan systematic review dengan metode yang digunakan adalah PRISMA (Preferred Reporting Items for Systematic Reviews). Data diakses dari berbagai sumber database seperti; Google Scholar, PubMed, Science Direct, Sage Pud, ProQuest. Literatur dikaji dalam rentang tahun 2011 hingga 2020 yang merupakan riset asli penelitian eksperimental dengan desain; randomized controlled trial, quasy experiment, dan pra experiment. Artikel penelitian yang sesuai sejumlah 9 artikel. Subjek penelitian adalah ibu hamil. Hasil dari systematic review adalah partisipasi pada kelas ibu hamil dapat menurunkan tingkat stres, kecemasan, ketakutan, dan nyeri apabila dibandingkan dengan ibu yang tidak mengikuti kelas ibu hamil. Kelas ibu hamil dapat meningkatkan persiapan persalinan, menurunkan trauma pascapersalinan dan stres postpartum. Pelaksanaan kelas ibu hamil dengan pemberian materi yang disesuaikan umur kehamilan dapat meningkatkan pengetahuan yang benar dan mengurangi disinformasi.Kesimpulan dari systematic review ini adalah kelas ibu hamil merupakan sarana edukasi yang tepat untuk ibu hamil yaitu dengan pemberian informasi yang sesuai kebutuhan ibu hamil, intervensi aspek emosional dan motivasi agar ibu hamil dapat memberdayakan diri.
Ari Andayani, Rini Susanti, Kartika Sari
Indonesian Journal of Midwifery (ijm), Volume 5; https://doi.org/10.35473/ijm.v5i1.1491

Abstract:
The incidence of dysmenorrhea in adolescents in Asia is 74.5%. In Hispanic adolescent girls, the prevalence of dysmenorrhea is 85%. Meanwhile, the incidence rate in Indonesia is 55%. Seeing these data, it can be interpreted that almost all women have experienced dysmenorrhea. Reducing menstrual pain can use various alternatives including hypnotherapy. The advantage of hypnotherapy is that it can overcome physical problems such as reducing excessive pain intensity, and can make the body relax. Hypnotherapy is one therapy by giving suggestions that are expected to reduce the scale of menstrual pain. This study aims to determine the effect of hypnotherapy on the reduction of menstrual pain. This study uses a quasi-experimental research (quasi-experimental) with a one group pre test post test design. The sample in this study was 16 students who experienced menstrual pain and the treatment time of each sample was 30 minutes a day. There is an effect of hypnotherapy on the reduction of menstrual pain with a value of 0.000 (P value <0.05) and a Z value of -3.654. It is expected that students can know and be able to apply hypnotherapy as a therapy to reduce menstrual pain.AbstrakAngka kejadian dismenorea pada remaja di Asia adalah 74.5%. Pada remaja putri hispanic prevalensi dismenore sebesar 85%. Sedangkan angka kejadian di Indonesia adalah 55%. Melihat data tersebut, dapat diartikan bahwa hampir semua wanita pernah mengalami dismenore. Mengurangi nyeri menstruasi dapat menggunakan berbagai alternatif diantaranya hipnoterapi. Keunggulan dari hipnoterapi yaitu dapat mengatasi masalah fisik seperti mengurangi intensitas nyeri yang berlebihan, serta dapat membuat tubuh menjadi rileks. Hipnoterapi merupakan salah satu terapi dengan memberikan sugesti diharapkan dapat menurunkan skala nyeri menstruasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh hipnoterapi terhadap penurunan nyeri menstruasi. Penelitian ini menggunakan penelitian eksperimen semu (Quasi eksperiment) dengan rancangan one group pre test post test design. Sampel pada penelitian ini 16 siswa yang mengalami nyeri menstruasi dan waktu perlakuan masing-masing sampel 30 menit dalam sehari. Ada pengaruh hipnoterapi terhadap penurunan nyeri menstruasi dengan nilai α sebesar 0,000 (nilai P < 0,05) dan nilai Z -3.654. Diharapkan siswa dapat mengetahui dan dapat menerapkan hipnoterapi sebagai salah satu terapi untuk mengurangi nyeri menstruasi.
Eva Hotmaria Simanjuntak, Yunida Turisna Simanjuntak, Roselina Situmorang
Indonesian Journal of Midwifery (ijm), Volume 5; https://doi.org/10.35473/ijm.v5i1.1006

Abstract:
Adherence in administering advanced Measles Rubella (MR) Immunization in the Work Area of the Niaga Kesiangan Health Center is still low. The low compliance in giving advanced Measles Rubella (MR) Immunization in the Work Area of the Naga Kesiangan Health Center is related to the knowledge and perceptions of the mother. This study aims to determine the relationship between knowledge and perceptions of mothers with adherence to the provision of advanced Measles Rubella (MR) immunization in the Work Area of the Puskesmas Naga Kesiangan. This type of research is analytic survey research with cross sectional design. The population in this study were all mothers who have toddlers aged 18-25 months in the working area of the Naga Kesiangan Health Center, totaling 151 people with a sample of 60 people. Collecting data with primary and secondary data and analyzed by statistical test Chi Square with a confidence level of 95%. The results showed that there was a relationship between maternal knowledge and adherence in the provision of advanced Measles Rubella (MR) Immunization in the Puskesmas Naga Kesiangan Work Area and there was a relationship between maternal perception and adherence to advanced Measles Rubella (MR) immunization in the Puskesmas Naga Kesiangan Work Area. It is recommended that mothers in the working area of the Naga Kesiangan Health Center need to increase their knowledge about the provision of further Measles Rubella (MR) immunization by following counseling held by health workers and seeking information about advanced Measles Rubella (MR) immunization and to health workers in the Work Area of the Naga Kesiangan Health Center. improve maternal understanding of continued Measles Rubella (MR) Immunization and improve maternal perceptions in an effort to increase compliance with continued Measles Rubella (MR) immunization.Abstrak Kepatuhan dalam pemberian Imunisasi Measles Rubella (MR) lanjutan di Wilayah Kerja Puskesmas Niaga Kesiangan masih rendah. Rendahnya kepatuhan dalam pemberian Imunisasi Measles Rubella (MR) lanjutan di Wilayah Kerja Puskesmas Naga Kesiangan terkait dengan pengetahuan dan persepsi ibu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan persepsi ibu dengan kepatuhan dalam pemberian imunisasi Measles Rubella (MR) lanjutan di Wilayah Kerja Puskesmas Naga Kesiangan. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian survei analitik dengan desain cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu yang memiliki Balita usia 18-25 bulan di wilayah Kerja Puskesmas Naga Kesiangan yang berjumlah 151 orang dengan sampel sebanyak 60 orang, dengan teknik simple random sampling. Pengumpulan data dengan data primer dan sekunder dan dianalisis dengan uji statistik chi Square dengan tingkat kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan pengetahuan ibu dengan kepatuhan dalam pemberian Imunisasi Measles Rubella (MR) lanjutan di Wilayah Kerja Puskesmas Naga Kesiangan dan terdapat hubungan persepsi ibu dengan kepatuhan dalam pemberian Imunisasi Measles Rubella (MR) lanjutan di Wilayah Kerja Puskesmas Naga Kesiangan. Disarankan kepada ibu di Wilayah Kerja Puskesmas Naga Kesiangan perlu meningkatkan pengetahuan tentang pemberian Imunisasi Measles Rubella (MR) lanjutan dengan mengikuti penyuluhan yang diadakan petugas kesehatan dan mencari informasi tentang imunisasi Measles Rubella (MR) lanjutan dan kepada tenaga kesehatan di Wilayah Kerja Puskesmas Naga Kesiangan perlu meningkatkan pemahaman ibu tentang pemberian imunisasi Measles Rubella (MR) lanjutan dan meningkatkan persepsi ibu dalam upaya peningkatan kepatuhan pemberian imunisasi Measles Rubella (MR) lanjutan.
Qomariyah Qomariyah, Kristina Maharani, Agnes Isti Harjanti
Indonesian Journal of Midwifery (ijm), Volume 5; https://doi.org/10.35473/ijm.v5i1.1173

Abstract:
Family planning is an action that helps individuals or married couples to get certain objectives to avoid unwanted births, regulate the interval between pregnancies, control the time and birth in a husband and wife relationship and determine the number of children in the family (Manuaba, 2015). Data obtained at the Karang Ayu Public Health Center in 2018 showed that as many as 98% or 490 users of hormonal contraception, while only 2% or 10 mothers used non-hormonal contraception. The increase in family planning acceptors is not known what is the basis for mothers choosing contraception. The purpose of this study is to know the factors that influence family planning acceptors in choosing contraception at Karang Ayu Health Center Semarang.This study uses a quantitative design. Quantitative design is used to determine the factors of knowledge, education, age and husband's support. The research used is descriptive analysis with a cross sectional approach, meaning that the measurement of variables is only done once at a time (Hidayat, 2009). The population in this study is the entire research subject to be studied, the population in this study are all mothers who use family planning and are registered as residents of the area at the research location at Karang Ayu Health Center.From the results of this study, it was found that there were 4 factors that influenced family planning acceptors in choosing contraception, namely the age factor, education factor, knowledge factor, and husband's support factor. There was no significant effect on knowledge, education, age and husband's support with the choice of contraception with a value (P > 0.1) at Karangayu Public Health Center Semarang.Based on the results of the study, the suggestion put forward is that health workers are more active in conducting counseling, information, and education activities for mothers so that they can provide more comprehensive services in increasing maternal awareness of family planning.Abstrak Keluarga berencana merupakan tindakan yang membantu individu atau pasangan suami istri untuk mendapatkan objektif tertentu menghindari kelahiran yang tidak di inginkan, mengatur interval diantara kehamilan, mengontrol waktu dan kelahiran dalam hubungan suami istri dan menetukan jumlah anak dalam keluarga (Manuaba,2015). Data yang didapatkan pada puskesmas Karang Ayu tahun 2018 yang menunjukan bahwa sebanyak 98% atau 490 pengguna kontrasepsi hormonal, sedangkan pengguna kontrasepsi non hormonal hanya 2% atau 10 ibu yang menggunakan. Meningkatnya akseptor KB tidak di ketahui apa yang menjadi dasar ibu memilih kontrasepsi dari fenomena yang terjadi ibu mengalami kesulitan dalam menentukan pilihan jenis kontrasepsi yang akan digunakan. Tujuan penelitian ini yaitu Diketahuinya faktor-faktor yang mempengaruhi akseptor KB dalam memilih Kontrasepsi di Puskesmas Karang Ayu Semarang.Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif. Desain kuantitatif digunakan untuk mengetahui faktor pengetahuan, pendidikan, umur dan dukungan suami. Penelitian yang digunakan adalah analisis deskriptif dengan pendekatan cross sectional artinya pengukuran variabel hanya dilakukan satu kali pada satu saat (Hidayat, 2009). Populasi dalam penelitian ini adalah keseluruhan subyek penelitian yang akan diteliti, populasi dalam penelitian ini adalah semua ibu yang menggunakan KB dan tercatat sebagai penduduk wilayah di lokasi penelitian di Puskesmas Karang Ayu.Dari hasil penelitian ini didapatkan ada 4 faktor yang mempengaruhi akseptor KB dalam mrmilih kontrasepsi yaitu faktor Umur, faktor pendidikan, faktor pengetahuan, dan faktor dukungan suami. Tidak terdapat pengaruh yang signifikan terhadp pengetahuan, pendidikan, umur dan dukungan suami dengan pemilihan kontrasepsi dengan nilai (P > 0,1) di Puskesmas Karangayu Semarang.Berdasarkan hasil penelitian, saran yang diajukan adalah petugas kesehatan lebih aktif melakukan kegiatan konseling, informasi, dan edukasi kepada ibu sehingga dapat memberikan pelayanan yang lebih komprehensif dalam meningkatkan kesadaran ibu dalam ber KB.
Cahya Ningrum, Mas Ruroh, Purbo Wati
Published: 30 September 2021
Indonesian Journal of Midwifery (ijm), Volume 4; https://doi.org/10.35473/ijm.v4i2.832

Abstract:
Toddlers are a group that is prone to nutritional disorders. At this time, conditions in the under-five group still experience various health and nutrition problems, which are indicated by the high rate of neonatal mortality, the prevalence of undernutrition (BW / U) and stunting (TB / U) in children under five, and lack of vitamin A in children. toddler. This study generally aims to analyze the knowledgeof health cadres about the nutritional status of toddlers before and after being given training.This study is a pre-experimental design with One group pre-post design. Subjects The population in this study were all 23 health cadres of Gogik village with total sampling. This study uses primary data sources, namely the results of measuring the knowledge of health cadres about the nutritional status of children under five. Based on the normality of the Shapiro-Wilk data, the predan post test score data was not normal (<0.05), then data transformation was carried out but the data remained abnormal. So that the different test uses the Wilcoxon Test. The results of the research before being given training The knowledge of respondents about the nutritional status of children under five was 60% in the good category and the remaining 40% in the sufficient category. After being given cadre training, the results showed that there was an increase in the category of knowledge both in respondents 85% and respondents with sufficient categories in 15%. The Wilcoxon test of knowledge before and after being given cadre training showed that there was 1 respondent with decreased knowledge, 11 respondents with increased knowledge and 8 respondents with fixed knowledge. With a p value of 0.004 (<0.05) which means that there are differences in knowledge before and after being given training. Cadre training is effective as an effort to increase the knowledge of toddler cadres in Gogik village Abstrak Balita merupakan kelompok yang cukup rawan untuk terjadi gangguan gizi. Pada saat ini, kondisi pada kelompok balita masih mengalami berbagai masalah kesehatan dan gizi, yang ditandai dengan masih tingginya angka kematian neonatal, prevalensi gizi kurang (BB/U) dan pendek (TB/U) pada anak balita, serta kurang vitamin A pada anak balita. Pengetahun kader merupakan salah satu aspek penting dalam upaya peningkatan status gizi balita. Penelitian ini secara umum bertujuan untuk menganalisis pengetahuan kader kesehatan tentang status gizi pada balita sebelum dan setelah di berikan pelatihan. Penelitian ini merupakan penelitian pre experiment design dengan rancangan One group pre-post,Subjek Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh kader kesehatan kelurahan Gogik berjumlah 23 orang dengan total sampling.Penelitian ini menggunakan sumber data primer yaitu hasil pengukuran kader kesehatan tentang status gizi balita. Berdasarkan uji normalitas data Shapiro-Wilk, data skor pre dan post tes tidak normal (< 0,05), kemudian telah dilakukan transformasi data tetapi data tetaptidak normal. Sehingga uji beda menggunakan Uji Wilcoxon. Hasil penelitian sebelum di berikan pelatihan Pengetahuan responden tentang status gizi balita 60% dalam kategori baik dan sisanya 40% dalam kategori cukup. Setelah di berikan pelatihan kader, di dapat hasil terdapat peningkatan kategori pengetahuan baik pada responden 85% dan responden dengan kategori cukup 15%. Uji wilcoxon pengetahuan sebelum dan setelah di berikan pelatihan kader menunjukan bahwa didapatkan 1 responden dengan pengetahuan menurun, terdapat 11 responden dengan pengetahuan meningkat dan 8 responden dengan pengetahuan tetap. Dengan p value 0,004(<0,05) yang berarti terdapat perbedaan pengetahuan sebelum dan sesudah di berikan pelatiahan. Pelatihan kader efektif sebagaai upaya peningkatan pengetahuan kader balita di kelurahan Gogik
Chairunnisa Minarni Alamsyah, Mieke Hemiawati Satari, Anita Rahmawati
Published: 30 September 2021
Indonesian Journal of Midwifery (ijm), Volume 4; https://doi.org/10.35473/ijm.v4i2.776

Abstract:
Childhood sex education is the process of giving an understanding to the child about his body condition, the opposite sex and understanding how to avoid sexual violence. Knowledge and attitudes of parents about early childhood sex education will influence parenting life. Flashcard KIPAS Anak (Instant Sex Education Card for Children) can be used as a means to convey messages widely to mothers. This study aimed to determine the effectiveness of flashcard in improving mother's knowledge and attitudes on early childhood sex education. The study used quasi-experimental one group pre-test and post-test design with the intervention using flashcard. Samples in this study were 65 of mothers who have preschool children aged 4-6 years and sampling by simple random sampling. The instrument was a knowledge and attitude questionnaire. Flashcard is validated by 1 media expert and 1 psychologist. The Wilcoxon test, there was a significant difference in mother’s knowledge and attitude on sex education of preschool children after intervention using flashcard (p value <0.001 and p<0.001). There is no significant increase of knowledge on the characteristics of age and education of mothers. Significant increasing knowledge on maternal employment with p<0,05. The correlation between attitude and age, occupation and education there were no significant differences. There was a significant increase in the knowledge and attitudes of mothers regarding early childhood sex education after the use of flashcard (KIPAS Anak). Abstrak Pendidikan seks anak usia dini adalah proses memberikan pemahaman kepada anak tentang kondisi tubuhnya, lawan jenis, dan memahami cara menghindari kekerasan seksual. Pengetahuan dan sikap orang tua tentang pendidikan seks anak usia dini akan mempengaruhi pola asuh dalam kehidupan sehari-hari. Flashcard KIPAS Anak (Kartu Pendidikan Seks Instan Anak) dapat digunakan sebagai sarana penyampaian pesan kepada para ibu secara luas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keefektifan penerapan flashcard dalam meningkatkan pengetahuan dan sikap ibu tentang pendidikan seks anak usia dini. Penelitian ini menggunakan quasi-eksperimental one group pre-test dan post-test design dengan perlakuan menggunakan flashcard. Sampel dalam penelitian ini adalah 65 ibu yang memiliki anak prasekolah usia 4-6 tahun dan pengambilan sampel menggunakan teknik simple random sampling. Instrumen penelitian yang digunakan adalah kuesioner pengetahuan dan sikap. Flashcard divalidasi oleh 1 ahli media dan 1 psikolog. Uji statistik menggunakan Wilcoxon, terdapat perbedaan yang signifikan pada pengetahuan dan sikap ibu tentang pendidikan seks anak usia dini setelah perlakuan menggunakan flashcard (p value <0.001 dan p <0.001). Tidak ada peningkatan pengetahuan yang signifikan pada variabel karakteristik usia dan pendidikan ibu. Peningkatan pengetahuan yang signifikan terjadi pada variabel pekerjaan ibu dengan p <0,05. Hubungan antara sikap dan usia, pekerjaan dan pendidikan ibu tidak terdapat perbedaan yang signifikan. Terdapat peningkatan yang signifikan pada pengetahuan dan sikap ibu tentang pendidikan seks anak usia dini setelah penggunaan flashcard (KIPAS Anak).
Ida Sofiyanti, Heni Setyowati
Published: 30 September 2021
Indonesian Journal of Midwifery (ijm), Volume 4; https://doi.org/10.35473/ijm.v4i2.1236

Abstract:
Based on Riskesdas 2018, 29.9% of Infants Under Two Years (Baduta) experienced very short and short nutrition. Still based on the results of the 2018 Riskesdas, there is a comparison of child development in children aged 36-59 months in Indonesia with a total development index of 88.3%, of which 64.6% is literate, 97.8% is physical, 69.9% is social-emotional, and 95. 2% learning. The ability and development of children need to be stimulated so that children can grow and develop optimally and according to their age. Stimulation is stimulation (sight, speech, hearing, touch) that comes from the child's environment. Children who get directed stimulation will develop faster than children who do not even get stimulation. Various efforts have been made to provide stimulation to children, one of which is by using Yoga activities. This study aims to determine the effect of yoga on children on learning concentration of preschool age children. The population and sample in this study were students in class A and class B with a total of 30 students, 15 students for the experimental group, and 15 students for the control group. This study uses a quasi-experimental research (Quasi Experimental) design used Non Equevalent Control Grub Design. The parametric hypothesis test used is the dependent t-test because the data is normally distributed. The test results stated that there were differences in the level of concentration in learning after being given yoga treatment for children for one monthAbstrak Berdasarkan Riskesdas 2018, 29,9 % Bayi Bawah Dua Tahun (Baduta) mengalami gizi sangat pendek dan pendek. Masih berdasarkan hasil Riskesdas 2018 didapatkan perbandingan perkembangan anak pada anak usia 36-59 bulan di Indonesia dengan total indeks perkembangan 88,3 %, dimana 64,6 % literasi, 97,8 % fisik, 69,9 % social emosional, dan 95,2 % learning. Kemampuan dan tumbuh kembang anak perlu diberikan stimulasi agar anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal dan sesuai umurnya. Stimulasi adalah perangsangan (penglihatan, bicara, pendengaran, perabaan) yang datang dari lingkungan anak. Anak yang mendapat stimulasi yang terarah akan lebih cepat berkembang dibandingkan anak yang kurang bahkan tidak mendapat stimulasi. Berbagai upaya yang dilakukan untuk memberikan stimulasi kepada anak salah satunya dengan mengunakan kegiatan Yoga. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh yoga pada anak terhadap konsentrasi belajar anak usia Prasekolah. Populasi dan Sampel dalam penelitian ini adalah Siswa kelas A dan Kelas B sejumlah 30 siswa dimana 15 siswa untuk kelompok eksperimen, dan 15 siswa untuk kelompok kontrol. Penelitian ini menggunakan penelitian eksperimen semu (Quasi Experimental) desain yang digunakan Non Equevalent Control Grub Design. Uji hipotesis parametrik yang digunakan adalah uji dependent t-test karena data berdistribusi normal. Hasil uji menyatakan ada perbedaan tingkat konsentrasi belajar setelah diberikan perlakuan yoga anak selama satu bulan.
Nova Yulianti, Rindi Komala Dewi, Hasan Salim
Published: 30 September 2021
Indonesian Journal of Midwifery (ijm), Volume 4; https://doi.org/10.35473/ijm.v4i2.1131

Abstract:
According to the Republik of Indonesia Ministry of Health in 2013, maternal deaths occurs a lot at home. The death in health facilities are happen in reference cases. The deaths occur in tbe referral case because the distance too the hospital is >5km by 30%. One of wisdom Republik of Indonesia Ministry of Health in effort to reduce maternal and infant mortality is Jaminan Persalinan (Jampersal) and effective referral in cases of complication. This study uses descriptive analytical methods and uses secondary data. Determination of samples using random sampling techniques, and based on Slovin formula totaling 82 samples. The most referrals came from Puskesmas with 63% samples, 76 patients with standard referral, reference time >60 minutes is 49 samples, referral flow procedures with direct contact criteria as many 76 samples, complications of Prelabor Rupture of Membrane had a total sample of 26 samples, the most normal delivery assistance measures were carried out with a total of 31 samples, aterm gestational age amounted to 68 samples, 20-35 years old maternal age group is 64 samples, multigravida as many as 48 samples, non-nearmiss mothers numbered 80 samples, Apgar’s Scores of baby with Normally there are 75 samples Abstrak Jumlah kematian yang terjadi pada ibu dirujuk karena jarak tempat tinggal ke rumah sakit >5 km sebanyak 30%. Salah satu kebijakan Kementerian Kesehatan RI dalam upaya menurunkan kematian ibu dan bayi adalah Jaminan Persalinan (Jampersal) dan terlaksananya rujukan yang efektif pada kasus komplikasi. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitik bivariat, dengan design cross sectional. Pengumpulan data menggunakan data sekunder. Penentuan sampel menggunakan teknik random sampling, didapatkan jumlah sebanyak 82 sampel. Rujukan paling banyak berasal dari puskesmas dengan jumlah 63 sampel (76,8%), pasien dengan kelengkapan standar merujuk sebanyak 76 sampel (92,7%), waktu merujuk >60 menit yakni sebanyak 49 sampel (59,8%), Prosedur alur rujukan dengan kriteria langsung menghubungi sebanyak 76 sampel (92,7%), komplikasi Ketuban Pecah Dini memiliki jumlah sampel sebanyak 26 sampel (31,7%), tindakan pertolongan persalinan normal paling banyak dilakukan dengan jumlah 31 sampel (37,8%), Usia Kehamilan Aterm berjumlah 68 sampel (82,9%), kelompok Usia Ibu 20-35 tahun berjumlah 64 sampel (78%), Multigravida sebanyak 48 sampel (58,5%), keadaan ibu tidak nearmiss berjumlah 80 sampel (97,6%), Apgar Score Bayi dengan kriteria normal berjumlah 75 sampel (91,5%). Rujukan yang dilakukan pada fasilitas primer sudah dilakukan sesuai standar namun masih ada beberapa data yang kurang lengkap, diharapkan dapat lebih meningkatkan kualitas pelayanan system rujukan.
Nurma Ika Zuliyanti, Ulfah Hidayati
Published: 30 September 2021
Indonesian Journal of Midwifery (ijm), Volume 4; https://doi.org/10.35473/ijm.v4i2.1000

Abstract:
Cadre is one part of the community where voluntarily in the implementation of the posyandu. the success of posyandu in improving the health of mothers, infants, toddlers, and EFA is influenced by the performance of cadres. The purpose of this study is to determine the effect of age and incentives on the performance of cadres. The study was conducted on 200 cadres in 25 posyandu in Purworejo Regency and was selected using simple random sampling. This type of research uses observational analytics using cross-sectional techniques. The independent variables are age and incentives. The dependent variable is the performance of cadres. Collecting data using a questionnaire. Data processing used the chi square test with SPSS version 21 application. The results showed that there was a significant effect of age on the performance of cadres with the possibility of performing well 3.35 times. There is a significant effect of getting incentives on the performance of cadres with the possibility of performing well 2.09 times. Abstrak Kader salah satu bagian dari masyarakat dimana secara sukarela dalam penyelenggaraan posyandu. keberhasilan posyandu dalam peningkatan kesehatan ibu, bayi, balita, dan PUS dipengaruhi oleh kinerja kader. Tujuan dalam penelitian ini agar diketahuinya pengaruh usia dan insentif terhadap kinerja kader. Penelitian dilakukan pada 200 kader yang berada di 25 posyandu di Kabupaten Purworejo dan dipilih menggunakan simple random sampling. Jenis penelitian menggunakan analitik observasional menggunakan teknik potong lintang. Variabel bebas adalah usia dan insentif. Variabel terikat adalah kinerja kader. Pengumpulan data menggunakan kuesioner. Pengolahan data menggunakan uji chi-square dengan aplikasi SPSS versi 21. Hasil penelitian menunjukan terdapat pengaruh yang signifikan usia terhadap kinerja kader dengan kemungkinan berkinerja baik 3.35 kali. Terdapat pengaruh yang signifikan mendapatkan insentif terhadap kinerja kader dengan kemungkinan berkinerja baik 2.09 kali.
Herni Johan, Siti Noorbaya, Siti Saidah
Published: 30 September 2021
Indonesian Journal of Midwifery (ijm), Volume 4; https://doi.org/10.35473/ijm.v4i2.1066

Abstract:
Research on the Effect of Smart Educational Audio Visual Media (AVES) on Learning Outcomes of Basic Practice Skills for Midwifery Students, is a research on the development of teaching media designed to be the main supporting tool for learning basic midwifery practice in practicing clinical skills and improving student learning outcomes. Midwifery program education requires graduates to be skilled in carrying out their professional duties as skilled midwives and declared competent after they pass the national competency exam. The purpose of this study was to determine the effect of smart educational audio visual media (AVES) on learning outcomes of students' basic skills in midwifery practice. This research method uses an experimental method with the research design that will be used is a pre-experimental design type one group pretest-posttest design. The population in this study were all 87 students of midwifery class XIII and XIV. The sampling technique is non-probability sampling with a purposive sampling model, as many as 28 students. The results of this study are that the data obtained, that tcount = 2.310 > ttable = 2.0555 with a significance of 0.029 <0.05, then H0 is rejected and H1 is accepted. the researchers can conclude that there is a positive and significant influence between Smart Audio Visual Education Media on Learning Outcomes of Basic Skills Practice of Midwifery Students
Nurul Hikmah Annisa, Zurriyatun Thoyibah, Haryani Haryani, Sri Hardiani
Published: 30 September 2021
Indonesian Journal of Midwifery (ijm), Volume 4; https://doi.org/10.35473/ijm.v4i2.1096

Abstract:
The IDHS shows a decrease in the percentage of unmet need for women aged 15-49 years who need family planning services, from 12.7% in 1991 to 8.5% in 2012. However, this percentage has not been able to reach the target of unmet need in the 2014 RPJMN of 6. 5%. According to the 2014 Indonesian Health Profile, the use of the IUD as a contraceptive device in Indonesia is still relatively low at 11.07% of all contraceptive use. Contraception is one method to reduce AKI. Data from the Indonesian Demographic Health Survey in 2012 shows that the trend in the use of contraceptives or the contraceptive prevalence rate (CPR) in Indonesia from 1991 to 2012 tends to increase, while the trend of the total fertility rate (TFR) tends to decrease. An Intrauterine Contraceptive Device (IUD) is a device made of a safe material (plastic which is sometimes wrapped in copper) and is inserted into the uterus by a trained midwife or doctor. Intrauterine contraception is a long-term contraceptive (10 years) and has a high effectiveness to space the birth of children. Intrauterine contraception (IUD) type CuT-380A is a long-term contraceptive that has a high effectiveness for spacing the births of children which has side effects such as heavier and longer menstrual bleeding patterns. The purpose of the study was to determine the characteristics of the menstrual pattern of mothers using intrauterine devices in the Lingkar Asri Housing, West Lombok in 2020. This study was a descriptive research design with a cross sectional survey approach. or data collection all at once. The population and sample in this study were mothers who used Cu-T 380A intrauterine devices after 3 months of use, which were recorded in the register book, amounting to 30 respondents. Sampling was done with a total sampling approach. The results showed that after 3 months of using contraceptives, 50% of respondents experienced heavy menstruation, 66.7% of respondents experienced bleeding for 1 week, 43.3% of respondents experienced spotting, 43.4% of respondents experienced blood such as spotting. . Based on these results, it can be concluded that there are side effects that often occur in the use of copper-type intrauterine devices such as menstrual patterns in the form of a large number of menstruation and using 2-4 sanitary napkins / day, the duration of the blood for 1 week, the color of the blood is red, and the shape of the blood is red. blood such as spots or spots. Suggestions for health workers, must explain to prospective contraceptive acceptors that there are side effects from using intrauterine contraceptives related to menstrual patterns. Abstrak SDKI menunjukkan adanya penurunan persentase unmet need pada wanita usia 15-49 tahun yang membutuhkan pelayanan KB, yaitu 12,7% pada 1991 menjadi 8,5% pada 2012. Walaupun demikian persentase ini belum dapat mencapai target unmet need pada RPJMN 2014 sebesar 6,5%. Menurut Profil Kesehatan Indonesia tahun 2014, penggunaan IUD sebagai alat kontrasepsi di Indonesia relatif masih sangat rendah yakni 11,07% dari seluruh pemakaian alat kontrasepsi. Kontrasepsi merupakan salah satu metode untuk menurunkan AKI. Data Survei Demografi Kesehatan Indonesia tahun 2012 menunjukkan tren prevalensi penggunaan kontrasepsi atau contraceptive prevalence rate (CPR) di Indonesia tahun 1991-2012 cenderung meningkat, sementara tren angka fertilitas total atau total fertility rate (TFR) cenderung menurun. Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR) adalah suatu alat yang terbuat dari bahan yang aman (plastik yang kadang dililit oleh tembaga) dan dimasukkan kedalam rahim oleh bidan atau dokter yang terlatih. Alat kontrasepsi dalam rahim merupakan alat kontrasepsi jangka panjang (10 tahun) dan memiliki evektifitas tinggi untuk menjarangkan kelahiran anak. Alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR) jenis CuT-380A merupakan alat kontrasepsi jangka panjang yang memiliki efektifitas tinggi untuk menjarangkan kelahiran anak yang memiliki efek samping seperti pola perdarahan menstruasi lebih banyak dan lebih lama. Tujuan penelitian untuk mengetahui karakteristik pola haid ibu pengguna alat kontrasepsi dalam rahim di Perumahan Lingkar Asri Lombok Barat Tahun 2020. Penelitian ini merupakan desain penelitian deskriptif dengan pendekatan survey cross sectional bertujuan untuk mengetahuai karakteristik pola haid ibu pengguna alat kontrasepsi dalam rahim, dengan cara pendekatan observasi atau pengumpulan data sekaligus pada suatu saat. Populasi dan Sampel dalam penelitian ini adalah ibu pengguna alat kontrasepsi dalam rahim jenis Cu-T 380A setelah 3 bulan pemakaian yang tercatat dalam buku register berjumlah 30 responden. Pengumpulan sampel dilakukan dengan pendekatan total sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setelah 3 bulan pemakaian alat konrasepsi 50% responden mengalami haid menjadi banyak, 66,7% responden mengalami perdarahan selama 1 minggu, 43,3% responden mengalami bercak / spotting, 43,4% responden mengalami darah seperti bercak / spotting. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa ada efek samping yang sering terjadi pada pemakaian alat kontrasepsi dalam rahim jenis tembaga seperti pola haid berupa jumlah haid menjadi banyak dan menggunakan 2-4 pembalut / hari, lamanya darah terjadi selama 1 minggu, warna darah merah, dan bentuk darah seperti bercak atau spotting. Saran bagi petugas kesehatan, harus menjelaskan kepada calon aseptor kontrasepsi bahwa ada efek samping dari pemakaian kontrasepsi dalam rahim terkait dengan pola haid.
Siti Noorbaya, Herni Johan, Nurhayati Nurhayati
Published: 30 September 2021
Indonesian Journal of Midwifery (ijm), Volume 4; https://doi.org/10.35473/ijm.v4i2.1064

Abstract:
The research "The Effect of RAPCOV Nineteen Screening Education on Knowledge of Covid 19 Infection" is a research on the development of a health promotion program designed to provide information and education to the public. Rapid tests are part of the initial screening for Covid 19. However, there are still many people who do not understand about Covid 19 infection and lack of knowledge about the benefits and objectives of rapid tests. It is undeniable that when a rapid test is carried out, there will be rejection from the community, this is still a lack of education or socialization and clear information. In addition, some people assume that everyone who has a Reactive rapid test result is definitely positive for Covid 19. As health workers and educators in the Front Guard, they must have good communication skills and be able to take a character-based persuasive approach. The purpose of this study was to determine the effect of RAPCOV Nineteen Screening Education on public knowledge of Covid 19 infection in the working area of the South Sempaja Health Center. In this study, the method used was pre-experimental with a posttest only control group design. The population in this study was 370 people, with a sample of 34 people selected based on cluster random sampling. The results of this study are knowledge about Covid 19 infection before being given RAPCOV Nineteen Screening Education which is classified as good by 32.4% and after being given RAPCOV Nineteen Screening education there is an increase in knowledge of 97.1%. There is a significant effect of RAPCOV Nineteen Screening Education on knowledge of Covid 19 infection before and after the intervention with p value = 0.555 (α > 0.05).Abstrak Covid-19 menjadi salah satu masalah kesehatan dunia sejak bulan Januari 2020. Pada 3 Mei 2020 kasus Covid-19 terkonfirmasi 3.272.202 kasus dan 230.104 angka kematian yang menimpa 215 negara. Virus Corona adalah virus RNA untai positif yang beruntai tunggal yang tidak tersegmentasi. Virus-virus corona termasuk dalam ordo Nidovirales, keluarga Coronaviridae, dan sub-keluarga Orthocoronavirinae, yang dibagi menjadi kelompok (marga) α, β, γ, dan δ sesuai dengan karakteristik serotipik dan genomiknya. Salah satu cara untuk mencegah penularan Covid-19 ini adalah dengan memberikan pendidikan kesehatan kepada masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh antara variabel independent dan dependent sebelum dan sesudah diberikan perlakuan. Penelitian inimenggunakan desain penelitian ini yaitu one group pre-post test design dengan 35 responden yang dipilih menggunakan teknik Non- probability sampling yakni Purposive sampling. Instrumen dalam penelitian ini adalah SAP dan kuesioner menggunakan pengukuran “skala ordinal”. Variabel penelitian ini adalah Variabel independen adalah pendidikan kesehatan Variabel dependen adalah pengetahuan pencegahan Covid-19. Untuk analisis bivariate menggunakan uji statistik Wilcoxon signed ranks test dengan nilai signifikan < (α=0,05) kemudian dianalisis menggunakan aplikasi pendukung SPSS.Hasil akhirZhitung = -5,155aAsymp. Sig. (2-tailed) = 0,000,ini berarti hasil akhir nilai signifikan < 0,05 yakni ada pengaruh signifikan sebelum dan sesudah dilakukan pendidikan kesehatan. Kesimpulan Terdapat pengaruh pendidikan kesehatan terhadap pengetahuan pencegahan pencegahan infeksi Covid-19 di Kelurahan Sempaja Selatan, Samarinda.
Haryani Haryani, Zurriyatun Thoyibah, Sri Hardiani, Zuhratul Hajri
Published: 30 September 2021
Indonesian Journal of Midwifery (ijm), Volume 4; https://doi.org/10.35473/ijm.v4i2.859

Abstract:
Acute Respiratory Infection (ARI) is one of the health problems in developing countries because of the high morbidity and mortality due to ARI in children under five. ARI is included in the top 10 disease category in NTB with the highest number of visits, namely 174,213. There are 3 risk factors for ARI, namely environmental factors, individual child factors and behavioral factors. Behavioral factors can be changed by increasing knowledge through health education. This study aims to determine the effect of health education on the physical environment of the house on the incidence of ARI in toddlers. The research design used was pre-experiment with the One Group Pretest-Posttest Design approach. The population in this study were all mothers who have toddlers aged 0-59 months with a sample size of 20 people obtained using purposive sampling technique. Collecting data using a questionnaire and observation sheet.Data analysis using Paired T-Test. The results showed the total score before being given health education was a mean of 4.2500 with a standard deviation of 0.96655 and a p-value of 0.000 and the incidence of ARI was 20 people (100%). While the total score after being given health education was a mean of 6.3000 with a standard deviation of 1.12858 and a p-value of 0.000 and the incidence of ARI was 7 people (35%). Based on these results, it can be concluded that there is an effect of health education on the physical environment of the house on the incidence of ARI in children under five in the work area of the Ampenan Community Health Center, Ampenan Village, Karang Ujung Environment.AbstrakInfeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) merupakan salah satu masalah kesehatan di negara berkembang karena tingginya angka kesakitan dan kematian akibat ISPA pada balita. Penyakit ISPA masuk dalam kategori 10 penyakit terbanyak di NTB dengan jumlah kunjungan tertinggi yaitu 174.213. Terdapat 3 faktor resiko terjadinya ISPA yaitu faktor lingkungan, faktor individu anak dan faktor perilaku. Faktor perilaku dapat diubah dengan peningkatan pengetahuan melalui pendidikan kesehatan.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pendidikan kesehatan tentang lingkungan fisik rumah terhadap kejadian ISPA pada balita. Desain penelitian yang digunakan adalah Pre-Eksperimental designs dengan pendekatan One Group Pretest-Posttest Design. Penelitian dilakukan di Wilayah Kerja Puskesmas Ampenan Kelurahan Ampenan Lingkungan Karang Ujung, Kota Mataram. pada 8 Maret – 15 Mei 2019. Populasi dalam penelitian ini adalah semua ibu yang mempunyai balita berusia 0-59 bulan dengan jumlah sampel 20 orang yang didapat menggunakan teknik Purposive Sampling. Pengumpulan data menggunakan kuesioner dan lembar observasi. Analisis data menggunakan Paired T-Test. Hail penelitian menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan dari sebelum diberikannya pendidikan kesehatan dan setelah ddiberikannya pendidikan kesehatan engan kejadian ISPA pada balita dengan hasil yaitu dari kejadian ISPA sebanyak 20 orang (100%) menjadi sebanyak 7 orang (35%). Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh pendidikan kesehatan tentang lingkungan fisik rumah terhadap kejadian ISPA pada balita di wilayah kerja Puskesmas Ampenan Lingkungan Karang Ujung.
Restu Octasila, Reni Nofita, Siti Dariyani
Indonesian Journal of Midwifery (ijm), Volume 3; https://doi.org/10.35473/ijm.v3i1.379

Abstract:
Background Pregnancy is a special condition for a woman as a prospective mother, because during pregnancy there will be many changes both physical, social and mental changes. During pregnancy there can also be things that cause a high-risk pregnancy especially those associated with anemia. This ignorance is one of the reasons for the lack of supporting media information related to the practice of how to consume FE tablets correctly. This study generally aims to analyze the level of understanding of mothers about how to consume FE tablets and compile an effective video information media for pregnant women about the practice of FE Tablet consumption patterns, so that it can effectively improve mothers' understanding of FE tablet consumption patterns practices that can meet FE's needs to you during pregnancy. In line with the objectives to be achieved in this study, this research uses the action research method. This method was chosen because in the first phase, research will be carried out on the condition and level of understanding of pregnant women regarding the practice of correct consumption patterns of FE tablets. Furthermore, in the second phase, an implementation / action will be carried out to implement and test the application and effectiveness of the use of information media in the form of video provided in Puskesmas Cisoka Kabupaten Tangerang. Research TKT at level 3. Results Increased knowledge of pregnant women before being given health education 42 to 65. Increased knowledge of pregnant women before being given video-based educational media 43 to 76. The targeted output in this study is to produce a video-based educational media that will increasing the percentage of regular consumption of Fe tablets in pregnant women can be accessed through in https://www.youtube.com/watch?v=MIFi0y4KjCc The conclusion in this study is the analys of media needed to increase the knowledge of pregnant women about the consumption patterns of Fe tablets that are adequate to reduce the risk of anemia in pregnant women. Significant increase in knowledge of pregnant women (P. value 0.001). The advice given to the providers of care (Midwives) is to use video-based educational media as an alternative media for health education.
Nurul Hikmah Annisa, Susilia Idyawati, Yadul Ulya
Indonesian Journal of Midwifery (ijm), Volume 3; https://doi.org/10.35473/ijm.v3i1.417

Abstract:
Tanda-tanda bahaya bayi baru lahir merupakan suatu gejala yang dapat mengancam kesehatan bayi, bahkan dapat mengakibatkan kematian. Pola penyakit penyebab kematian neonatal adalah infeksi (32%), asfiksia (29%), komplikasi prematuritas (24%), kelainan bawaan (10%), dan lain-lain (5%). Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengetahuan dan sikap ibu primigravida terhadap tanda-tanda bahaya bayi baru lahir di Puskesmas Gerung Tahun 2019. Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif dengan pendekatan metode pengambilan sampel accidental sampling, dengan besar sampel sebanyak 84 orang. Dari hasil penelitian diperoleh mayoritas ibu berumur antara 21-29 tahun yaitu sebanyak 67 orang (79,8%), pendidikan ibu terbanyak SMA yaitu sebanyak 34 orang (40,5%), pekerjaan ibu terbanyak sebagai ibu rumah tangga yaitu sebanyak 51 orang (60,7%). Berdasarkan pengetahuan ibu primigravida mayoritas berpengetahuan kurang yaitu sebanyak 37 orang (44,0%). Berdasarkan sikap, sebagian besar ibu primigravida bersikap positif terhadap tanda-tanda bahaya bayi baru lahir yaitu sebanyak 81 orang (96,4%). Dengan demikian, diharapkan kerjasama yang baik antar tim petugas kesehatan untuk mengadakan kegiatan-kegiatan penyuluhan kesehatan tentang tanda-tanda bahaya bayi baru lahir untuk memberikan pengetahuan dan sikap yang baik terhadap tanda-tanda bahaya bayi baru lahir.
Dewi Susanti, Harmiyati Harmiyati
Indonesian Journal of Midwifery (ijm), Volume 3; https://doi.org/10.35473/ijm.v3i1.328

Abstract:
LATAR BELAKANG: Status gizi ibu hamil sangat berpengaruh terhadap perkembangan janin dikandungnya. Ibu hamil dengan status gizi kurang beresiko mengalami komplikasi seperti anemia, perdarahan, berat badan tidak bertambah secara normal selama kehamilan dan penyakit infeksi (Devgun p, 2014). Khasiat madu sebagai suplemen untuk meningkatkan berat badan memberikan hasil yang positif, dimana ditemukan peningkatan berat badan yang signifikan pada anak-anak yang diberikan suplementasi madu yang dikombinasikan dengan temulawak (Yasin 2009).TUJUAN: mengetahui efektifitas konsumsi madu terhadap peningkatan status gizi ibu hamil KEKMETODE: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan quasi-experimental design. Sampel penelitian berjumlah 32 orang ya g terdiri dari dua kelompok (control dan perlakuan)HASIL PENELITIAN: uji t test menunjukkan nilai p value untuk berat badan adalah 0,016 < 0,05 yang artinya ada pengaruh konsumsi madu terhadap berat badan ibu hamil KEK. SIMPULAN: ibu hamil yang mengkonsumsi madu memiliki pertambahan berat badan yang lebih baik disanding ibu hamil KEKyang tidak mengkonsumsi madu. Kata kunci: madu, berat badan, ibu hamil, KEK
Dorsinta Siallagan, Desi Rusiana, Ela Susilawati
Indonesian Journal of Midwifery (ijm), Volume 4; https://doi.org/10.35473/ijm.v4i1.668

Abstract:
The problem of stunting is one of the nutritional problems faced in the world, especially in poor and developing countries. Toddlers with stunting are more at risk of having a low Intelligence Quotient compared to toddlers who are growing well. In 2018, the prevalence of stunting in Tangerang Regency (38%) was higher than the national prevalence (30.8%). This study aims to determine the most dominant factor in the incidence of stunting in the Tangerang District Public Health Center. The research method used was descriptive analytic with a cross sectional study approach. Research Location at the Rajeg Community Health Center, Tangerang Regency. The population in this study were all toddlers who were stunting as many as 211 and a sample of 138 respondents. Sampling using accidental sampling technique. The results showed that stunting was very short at 28.2%. Bivariate analysis using the Chi-Square test. There was a significant relationship between age (p = 0.000), knowledge (p = 0.000), history of ANC (p = 0.023), LBW (p = 0.005) exclusive breastfeeding (p = 0.001), dietary habits (p = 0.005) and history of disease (p = 0.005) with incidence of stunting. The multivariate results showed that the most dominant factor in the incidence of stunting was the high risk age at pregnancy with an OR of 9,333. It is hoped that government programs through related agencies, health workers provide counseling about high-risk age during pregnancy, run the 4T program so that women do not get pregnant when they are too young, too old, too close to birth distances and too many children, other government programs such as Age Maturation Marriage
Ari Widyaningsih, Isfaizah Isfaizah
Indonesian Journal of Midwifery (ijm), Volume 3; https://doi.org/10.35473/ijm.v3i1.345

Abstract:
Salah satu penyakit tidak menular yang banyak ditemukan pada masyarakat saat ini salah satunya adalah hipertensi yang diawali pre-hipertensi. World Health Organization (WHO) mencatat pada tahun 2012 sedikitnya 839 juta kasus hipertensi, diperkirakan menjadi 1,15 milyar pada tahun 2025 atau sekitar 29% dari total penduduk dunia, dimana penderitanya lebih banyak pada wanita (30%) dibanding pria (29%). Beberapa faktor risiko lain juga berkontribusi terhadap kenaikan tekanan darah pada wanita, diantaranya riwayat hipertensi, karakteristik seseorang (usia, jenis kelamin, ras), gaya hidup yang di dalamnya termasuk pola konsumsi lemak dan garam tinggi, makan secara berlebihan hingga mengakibatkan obesitas, kebiasaan merokok dan minum alkohol, kurang konsumsi sayuran dan buah, aktivitas fisik, pekerjaan, kualitas tidur, konsumsi kopi, stress, penggunaan alat kontrasepsi hormonal, status gizi dan obesitas sentral. Perubahan tekanan darah tinggi dapat terjadi pada 5% pemakaian kontrasepsi hormonal. Tekanan darah akan meningkat secara bertahap dan tidak akan menetap. Wanita yang memakai kontrasepsi selama 5 tahun atau lebih, frekuensi perubahan tekanan darah tinggi meningkat 2 sampai 3 kali dari pada tidak memakai alat kontrasepsi hormonal. Resiko terjadinya tekanan darah tinggi akan meningkat dengan bertambahnya umur, lama pemakaian kontrasepsi dan bertambahnya berat badan. Berdasarkan uraian di atas, peneliti tertarik melakukkan penelitian tentang. Faktor – faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Hipertensi pada Akseptor KB Suntik. Penelitian ini merupakan analitik korelasi dengan pendekatan cross-sectional study dengan teknik pengambilan sampel accidental sampling dan uji chi square pada analisa datanya.
Cahya Ningrum, Masruroh Masruroh
Indonesian Journal of Midwifery (ijm), Volume 3; https://doi.org/10.35473/ijm.v3i1.315

Abstract:
Kosmetik telah menjadi bagian terpenting dari kehidupan wanita. Banyak wanita usia subur menggunakan beragam kosmetik untuk menunjang penampilannya, agar lebih menarik. Bahan kimia atau zat tertentu dalam kosmetik dan produk kecantikan dapat membahayakan kesuburan perempuan. Beberapa zat kimia dalam kosmetik seperti cat kuku, krim anti penuaan dini mengandung zat kimia dalam jumlah besar, dapat menyebabkan efek negatif pada kesuburan perempuan. Paparan zat kimia yang terlalu sering dan kuat akan menyebabkan gangguan ovarium dalam menghasilkan sel telur yang sehat, meningkatkan risiko keguguran dan bahkan menyebabkan ketidaksuburan. Penelitian ini secara umum bertujuan untuk menganalisis pengetahuan wanita usia subur tentang bahan kosmetik berbahaya pada kesuburan. Penelitian ini dilakukan di klinik kecantikan Kanaya Ungaran. Sampel dalam penelitian ini adalah total populasi yaitu seluruh Wanita Usia Subur pengguna kosmetik di klinik kanaya Ungaran selama periode kunjungan bulan april – mei 2019 sejumlah 22 responden. Penelitian ini termasuk jenis penelitian deskriptif kuantitatif yaitu peneltian yang dilakukan satu kali pengukuran dalam satu kali waktu. Penelitian ini menggunakan sumber data primer yaitu hasil pengukuran pengetahuan tentang bahaya kosmetik terhadap kesuburan pada Wanita Usia Subur di klinik kanaya Ungaran.Sebagian besar responden berusia 20-35 tahun sebesar 86,4%, dengan pendidikan sebagian besar SMA sejumlah 19 responden (86,4%) dan status pekerjaan responden sebagian besar adalah bekerja sebesar 86,4%. Sedangkan untuk pengetahuan responden sebagian besar adalah cukup yaitu 86,4%.Hasil penelitian menunjukan bahwa sebagian besar responden mendapatkan hasil dengan kategori pengetahuan cukup yaitu sebanyak 19 responden atau 86,4% dan responden dengan kategori pengetahuan baik sebesar 13.6%.
Stephanie Sorta Llyod, Eva Purwaningsih, Siti Noorbaya
Published: 26 September 2020
Indonesian Journal of Midwifery (ijm), Volume 3; https://doi.org/10.35473/ijm.v3i2.615

Abstract:
Postpartum depression is depression experienced by mothers during childbirth which begins with fatigue, rest or sleep disturbances, a feeling of not being able to take care of their babies, a feeling of excessive joy due to a baby being born and stress symptoms. One of the efforts to reduce it is educational intervention for early detection of postpartum depression (D3). This study used a Quasi Experiment with a pre and posttest approach with control group. Researchers used an untreated control group as a comparison to determine whether the differences in postpartum depression in the intervention group with the control group were caused by the treatment given D3 intervention. The population in this study were all 110 mothers who had given birth at Aminah Amin's Maternity Clinic. The sample of this study was 60 respondents respectively 30 control group respondents and 30 treatment group respondents. The results showed that there were 48.4% of mothers suffering from postpartum depression after the D3 education intervention there was a decrease in postpartum depression by 65%. The result of the Pair-Test test shows that there is a difference in postpartum depression in mothers with D3 educational interventions with mothers who are not given D3 educational interventions with a sig.0.011 (p˂0.05) value and based on the Logistic Regression Test shows there is no relationship between age and work towards depression. postpartum and there was a significant influence on maternal education (p = 0.003), maternal parity (p = 0.016) and husband support (p = 0.000) on postpartum depression. The need to increase health education for postpartum mothers and provide education on early detection of depression (D3) to husbands and families as companions for the mother during childbirth until the postpartum period
Mariza Mustika Dewi, Dyah Ayu Wulandari, Anita Indra Afriani, Rizqitha Rizqitha, Meika Jaya Rochmana, Ardhita Listya Fitriani, Susanti Susanti
Published: 26 September 2020
Indonesian Journal of Midwifery (ijm), Volume 3; https://doi.org/10.35473/ijm.v3i2.573

Abstract:
Wanita yang sedang dalam masa nifas memerlukan asuhan diantaranya memberikan pendidikan kesehatan pada ibu berkaitan dengan gizi, menyusui, pemberian imunisasi pada bayinya, perawatan bayi sehat, dan KB (Keluarga Berencana). Kontrasepsi mantap wanita (tubektomi) adalah tindakan pada kedua saluran telur wanita yang mengakibatkan wanita tersebut tidak akan mendapat keturunan lagi. Efektifitas kontrasepsi mantap wanita yang baik tidak berbanding lurus dengan pengetahuan ibu nifas. Kurangnya minat ibu nifas dalam keikutsertaan kontrasepsi mantap wanita di wilayah kerja BPM Sri Margi Subekti Desa Jampiroso Kabupaten Temanggung menyebabkan angka kontrasepsi Mantap Wanita rendah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengekplorasi pengetahuan, minat, dukungan, dan hambatan ibu nifas tentang kontrasepsi mantap wanita. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Data diperoleh melalui wawancara mendalam. Jumlah partisipan 5 ibu nifas yang berusia lebih dari 26 tahun, memiliki anak lebih dari 2, tidak ada kontra indikasi mengikuti kontrasepsi mantap wanita, serta dalam masa nifas yaitu kurang dari 42 hari. Pengetahuan ibu nifas tentang kerugian dan efek samping dari kontrasepsi mantap wanita masih belum maksimal. Dua dari lima partisipan berminat mengikuti kontrasepsi mantap wanita, tiga lainnya tidak berminat. Dukungan yang diberikan oleh ibu nifas berasal dari suami, keluarga, anak tertua, teman, maupun bidan. Hambatan yang dilalui ibu nifas berasal dari diri sendiri dan suami.
Sundari Sundari, Yulia Nur Khayati
Indonesian Journal of Midwifery (ijm), Volume 3; https://doi.org/10.35473/ijm.v3i1.343

Abstract:
Abstrak Menurut Badan Penelitiandan Pengembangan Kesehatan dalam Riset Kesehatan Dasar 2013 tercatat jumlah balita di Indonesia sebanyak 26,7 juta. Dari jumlah tersebut 17,9% atau 4,7 juta balita menderita gizi kurang dan 5,4% atau 1,3 juta balita menderita gizi buruk. Gizi kurang berdampak langsung terhadap kesakitan, kematian dan juga berdampak terhadap pertumbuhan, perkembangan intelektual dan produktivitas.. Dampak lain dari gizi kurang adalah menurunkan produktivitas yang diperkirakan antara 20-30%. Penelitian ini bertujuan untuk meneliti hubungan faktor pengetahuan ibu tentang gizi seimbang dengan status gizi balita.Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif korelatif dengan pendekatan crossectional. Penelitian dilaksanakan bulan Juni-Agustus 2019 di wilayah Desa Gogik, Kec. Ungaran Barat Kab. Semarang. Sampel dipilih dengan teknik Prposif sampling sebesar 80 ibu dan 80 balita berumur 13-60 bulan. Variabel bebas: pengetahuan. Variabel terikat: status gizi. Teknik pengumpulan data menggunakan kuesioner. Analisis data yang digunakan adalah Chi square.Hasil penelitian menunjukkan karakteristik subjek penelitian sebagian besar dalam kategori usia reproduksi sehat yaitu 68 (85%), sebanyak 53 (66%) adalah bekerja, sebanyak 39(48,8%) memiliki tingkat pendidikan dasar dan sebanyak 44 (55%) memiliki pendapatan kurang dari UMR. Sebanyak 39 (48,8%) subjek penelitian memiliki tingkat pengetahuan tentang gizi balita dalam kategori baik, sebanyak 58 (72.5%) subjek penelitian memiliki status gizi dalam kategori normal. Secara statistik terdapat hubungan signifikan antara pengetahuan ibu tentang gizi dengan status gizi balita dengan nilai p = 0.000 < dari 0.05.Sebagian besar subjek penelitian memiliki tingkat pengetahuan dalam kategori baik, dan sebagian besar subjek penelitian memiliki status gizi dalam kategori normal. Terdapat hubungan signifikan antara pengetahuan ibu tentang gizi dengan status gizi balita.Kata Kunci : Pengetahuan, Gizi seimbang, Status Gizi, Balita
Shinta Amelia Astuti, Fitra Juwita, Anidaul Fajriyah
Published: 26 September 2020
Indonesian Journal of Midwifery (ijm), Volume 3; https://doi.org/10.35473/ijm.v3i2.618

Abstract:
Seperti semua otot lainnya, otot rahim berkontraksi dan rileks. Selama menstruasi kontraksi lebih kuat, kontraksi disebabkan oleh peningkatan produksi prostaglandin selama menstruasi. Kandungan curcumine pada kunyit dan anthocyanin pada asam jawa akan menghambat reaksi cyclooxygenase (COX) sehingga mengurangi terjadinya inflamasi sehingga mengurangi kontraksi uterus yang menyebabkan nyeri haid. Penelitian ini untuk mengetahui pengaruh pemberian kunyit asam terhadap penurunan intensitas nyeri haid. Penelitian ini menggunakan desain penelitian quasy eksperiment dengan rancangan pretest-posttest with control group design. Besarnya sampel adalah 14 remaja. Analisis data menggunakan uji statistik Wilcoxon. Pemberian kunyit asam berpengaruh secara signifikan terhadap penurunan intensitas nyeri haid dengan p-value 0,001. Pemberian kunyit asam terbukti dapat menurunkan intesitas nyeri karena mengurangi pelepasan prostaglandin saat menstruasi.remaja putri yang mengalami nyeri haid dapat mengonsumsi minuman herbal kunyit asam untuk mengurangi intesitas nyeri.
Hamdiah Hamdiah, Tupur Tanuadike, Evi Sulfianti
Indonesian Journal of Midwifery (ijm), Volume 3; https://doi.org/10.35473/ijm.v3i1.418

Abstract:
Kematian maternal merupakan salah satu indicator keberhasilan program kesehatan ibu. World Health Organization (WHO) memperkirakan ada 800 perempuan setiap harinya yang meninggal akibat komplikasi kehamilan dan proses melahirkan.Senam hamil merupakan terapi latihan berupa aktivitas atau gerak bagi ibu hamil agar ibu mampu mempersiapkan diri berupa fisik maupun psikologis dalam kehamilan dan proses kelahiran. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh senam hamil terhadap nyeri punggung ibu hamil trimester III di Klinik Etam Tahun 2019. Jenis penelitian yang digunakan adalah Quasi Eksperimen dengan Desain non equivalent control group dengan jumlah sampel 20 Responden pada kelompok intervensi dan control masing-masing 10 orang. Hasil analisis data menggunakan uji Mann Whitney. Hasil penelitian didapatkan pada kelompok intervensi ibu hamil sebelum dilakukan senam hamil didapatkan nyeri punggung dengan rata-rata 3.7 dan kelompok control 3.2. Sedangkan pada kelompok intervensi ibu hamil sesudah dilakukan senam hamil didapatkan nyeri punggung dengan rata-rata 0 dan kelompok control 3. Dengan pengujian hipotesis dengan uji non parametric menunjukan nilai p= 0.009 < α 0,05, dengan demikian hipotesa yang menyatakan bahwa Ha diterima dan menolak Ho. Maka dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh nyeri punggug pada ibu hamil setelah melakukan senam hamil.
Sri Hardiani, Haryani Haryani, Nurul Hikmah Annisa, Zurriyatun Thoyibah, Humaediah Lestari
Indonesian Journal of Midwifery (ijm), Volume 4; https://doi.org/10.35473/ijm.v4i1.860

Abstract:
Kebudayaan sebagai konsep dasar dapat menjelaskan kaitan dengan gejala-gejala sosial dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan kesehatan maupun non kesehatan yang terkait seperti pelayanan kontrasepsi dan keluarga berencana. Sehubungan dengan hal tersebut, gagasan-gagasan budaya dapat menjelaskan hubungan timbale balik antara gejala sosial dan pelayanan kesehatan (kalangie, 1994 dalam sirait (2012)).Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan nilai sosial budaya dengan penggunaan kontrasepsi di Wilayah Kerja Puskesmas Bonjeruk Kabupaten Lombok Tengah. Penelitian ini merupakan jenis penelitian observasional dengan rancangan Cross Sectional Study. Populasi dalam penelitian ini adalah wanita kawin usia dini yang berada di Wilayah Kerja Puskesmas Bonjeruk Kabupaten Lombok Tengah menggunakan teknik stratifide propotional random sampling. Data sebanyak 179 responden dengan menggunakan perhitungan jumlah sampel Lameshow. Data dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner dan wawancara. Data dianalisis secara univariat dengan distribusi frekuensi, bivariat dengan menggunakan uji chi square dan multivariat dengan regresi logistik berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada analisis bivariat, variabel nilai sosial budaya signifikan berhubungan dengan penggunaan kontrasepsi yaitu (p<0,05).
Ni Ketut Erawati
Published: 26 September 2020
Indonesian Journal of Midwifery (ijm), Volume 3; https://doi.org/10.35473/ijm.v3i2.563

Abstract:
Kompetensi bidan yang utama adalah memberikan asuhan kepada kliennya baik sebagai individu, keluarga dan masyarakat. Salah satu faktor yang mempengaruhi baik tidaknya seorang bidan dalam melaksanakan kompetensinya adalah kecerdasan emosional. Hal tersebut perlu digali termasuk bagi seorang calon bidan, karena akan berpengaruh pada pengelolaan emosinya. Sampai saat ini di Prodi D3 Kebidanan Universitas Pendidikan Ganesha belum pernah dilakukan survey tentang kecerdasan emosional mahasiswa. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui gambaran kecerdasan emosional mahasiswa kebidanan. Penelitian ini berjenis penelitian deskriptif dengan pendekatan crossectional. Data kecerdasan emosional mahasiswa didapatkan dengan menggunakan instrumen kuesioner kecerdasan emosional yang terdiri dari 30 butir pernyataan positif dan negatif. Instrumen ini dikembangkan sendiri oleh peneliti dengan melalui uji validitas internal Gregory. Sampel penelitiannya adalah mahasiswa kebidanan semester IV yang berjumlah 42 orang dan diambil dengan teknik total sampling. Data yang diperoleh kemudian diolah dan disajikan dengan statistik deskriptif distribusi frekuensi. Hasil penelitian menunjukkan 7.14% kecerdasan emosional mahasiswa terkategori sangat tinggi, 11.9% terkategori tinggi, 35.71% terkategori cukup, 14.29% terkategori rendah dan 30.95% terkategori sangat rendah. Jadi dapat disimpulkan bahwa kecerdasan emosional mahasiswa sebagian besar berada pada kategori cukup. Dari hasil tersebut diharapkan ada upaya dari institusi untuk meningkatkan kecerdasan emosional mahasiswa salah satunya mengembangkan perangkat pembelajaran dengan memperhatikan kecerdasan emosional sehingga dapat meningkatkan kompetensi mahasiswa.
Isfaizah Isfaizah, Ari Widyaningsih
Indonesian Journal of Midwifery (ijm), Volume 4; https://doi.org/10.35473/ijm.v4i1.894

Abstract:
AbstrakLatar Belakang: Obesitas di Indonesia mengancam anak dan remaja, dimana obesitas sentral pada remaja umur ≥15 tahun meningkat dari 26,6% (2013) menjadi 31% (2018). Obesitas berdampak secara fisiologis dalam meningkatnya penyakit cardiovaskler seperti hipertensi. Indeks Massa Tubuh (IMT) merupakan alat skrinning untuk pengukuran jumlah lemak pada anak dan remaja yang paling mudah, sederhana dan akurat dalam mendeteksi adanya gizi lebih pada remaja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan IMT dengan kenaikan tekanan darah pada remaja di SMK NU Ungaran.Metode: Desain penelitian ini adalah analitik observasional dengan pendekatan kasus control dengan perbandingan 1:1. Populasi seluruh remaja di SMK NU UNgaran sebanyak 327 siswa, pengambilan sampel dengan purposive sampling dengan memperhatikan kriteria inklusi dan eksklusi. Kelompok kasus adalah remaja dengan tekanan darah pre-hipertensi sebanyak 40 responden dan kelompok control remaja dengan tekanan darah normal sebanyak 40 responden. Analisis data menggunakan analisis univariat dan bivariate dengan Chi-Square.Hasil: Analisis univariat diperoleh 50% responden memiliki IMT normal, rerata TD systole vs diastole (116.51 mmHg vs 74.67 mmHg). Ada hubungan yang signifikan antara IMT dengan tekanan darah pada remaja di SMK NU Ungaran (p<0.001, OR:5.571, CI 95%= 2.119 s/d 14.647).Kesimpulan: Remaja yang IMT berlebih akan meningkatkan resiko kenaikan tekanan darah sebesar 5.57 kali dibandingkan dengan remaja yang memiliki IMT normal. Perlu dilakukannya edukasi dan pemantauan status gizi pada remaja serta pengukuran tekanan darah secara berkala untuk mencegah terjadinya pre hipertensi pada usia remaja.Kata Kunci : Indeks Massa Tubuh (IMT), Tekanan Darah
Lia Agustin, Dian Rahmawati
Indonesian Journal of Midwifery (ijm), Volume 4; https://doi.org/10.35473/ijm.v4i1.715

Abstract:
Latar Belakang : Stunting adalah kondisi tubuh anak yang pendek akibat dari kekurangan gizi yang kronis. Kegagalan pertumbuhan dan perkembangan yang dialami oleh balita disebabkan karena berbagai faktor seperti kemiskinan, kurangnya kesadaran akan kesehatan, kecukupan gizi yang kurang dan juga pola asuh yang kurang benar. Dampak yang timbulkan akibat dari stunting yaitu pada menurunya tingkat kecerdasan dan kerentanan terhadap penyakit. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis pendapatan keluarga dengan kejadian stunting Subjek dan Metode: Jenis penelitian ini adalah analitik observasional dengan pendekatan case control. Populasi penelitian adalah seluruh balita usia 24-59 bulan di Desa Bangkok Kecamatan. Gurah Kabupaten Kediri pada bulan Agustus 2020. Dengan tehnik Fixed Disease Sampling didapatkan sampel 25 balita stunting usia 24-59 bulan sebagai kelompok kasus dan 25 balita normal usia 24-59 bulan sebagai kelompok kontrol. Variabel dependen adalah kejadian stunting, sedangkan variabel independen adalah pendapatan keluarga. Pengukuran stunting berdasarkan pengukuran Tinggi Badan/Umur yang dikonversikan dalam Z-score. Pengukuran pendapatan keluarga dengan kuesioner dan wawancara. Data yang terkumpul kemudian dianalisis dengan uji Fisher’s exact test.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa 76% keluarga balita stunting memiliki pendapatan dibawah Upah minimum regional , sedangkan keluarga yang tidak stunting sebanyak 36% memiliki pendapatan dibawah UMR. Secara statistik pendapatan keluarga berhubungan dengan kejadian stunting p=0.001 (OR=5.63;CI 95% 1.65 hingga 19.23).Kesimpulan: Pendapatan keluarga berhubungan dengan kejadian stunting. Keluarga dengan pendapatan kurang dari Upah Minimum Regional memiliki kemungkinan 6 kali mengalami stunting.
Reni Nofita, Nuntarsih Nuntarsih, Dorsinta Siallagan
Published: 26 September 2020
Indonesian Journal of Midwifery (ijm), Volume 3; https://doi.org/10.35473/ijm.v3i2.625

Abstract:
The policy of early initiation of breastfeeding has been socialized in Indonesia since August 2007 (Roesli, 2008). The World Health Organization (WHO) has recommended that all babies get colostrum, namely breast milk on the first and second days to fight various infections and get exclusive breastfeeding for 6 months (Ministry of Health 2012). The IMD implementation policy is also expected to reduce infant mortality (IMD). In infant mortality, 40% occurs in the first month of life and early initiation of breastfeeding can reduce these risk factors for death, thereby reducing 22% for 28-day infant mortality. The research design was a cross sectional study using primary data (questionnaire). This sample uses accidental sampling method. The results showed that of the 87 respondents at Puskesmas Palmerah, the age of 20-35 years old mothers who had good knowledge about IMD were 30 respondents (34.5%), respondents with high education (SMA-PT) had good knowledge about IMD as many as 51 respondents ( 58.62%), respondents who work and have good knowledge about IMD are 24 respondents (27.59%), respondents who are experienced and have good knowledge about IMD are 42 respondents (48.28%), respondents who receive information and have Good knowledge about IMD was 69 (79.31%), while the related variables included age, education and experience with a P value of 0.384 greater than α, namely 0.05. Conclusion. Characteristics of age, education level, experience are closely related to the knowledge possessed by pregnant women, especially those related to knowledge of IMD. Meanwhile, the factor that is not related to the success of IMD is the source of information. Suggestion. There needs to be an effort to do outreach activities on Early Initiation of Breastfeeding (IMD) or supporting facilities to increase the knowledge of pregnant women, especially in the third timester.Keywords: Knowledge, IMD, Characteristics
Purwaningtias Budi Utami, Irfan Irfan, Siti Noorbaya
Published: 26 September 2020
Indonesian Journal of Midwifery (ijm), Volume 3; https://doi.org/10.35473/ijm.v3i2.623

Abstract:
Postpartum, also called the puerperium or puerperium, is the time since the baby is born and the placenta is separated from the uterus until the next 6 (six) weeks, accompanied by the recovery of the organs associated with the womb, which have undergone changes related to childbirth. The changes that occur during the puerperium include all systems including the reproductive organs such as the uterus and vulva, from physiological to pathological changes as a result of complications during the puerperium. Complications of the puerperium are abnormal conditions during the puerperium caused by the entry of germs to the genetalia during labor and the puerperium, one of the complications of the puerperium, namely a rupture, is also called a perineal tear or laceration. This study aims to analyze the effectiveness of giving boiled snakehead fish on the healing of perineal lacerations in postpartum mothers in Samarinda City. In this study, the authors used a quasi-experimental method with a post-test only control group design in which the measurement of variables was given a special intervention, namely giving 100 g of steamed fish a day for 10 days, then observing its effect on post-partum maternal wound healing. As a comparison, also a control group without treatment with inclusion and exclusion criteria. The research location is at Kartika Jaya Clinic, Samarinda City. In this study, the samples were selected using purposive sampling. Data collection methods used in two ways, namely through interviews and observations. The test used Mann Whitney. The results of data analysis using the Mann-Whitney obtained the sig (2-tiled) value of 0.000 <0.05 with the average healing time of the experimental group was 7 days. Meanwhile, the average healing time for the control group was 10 days. So it can be concluded that there is an effect of giving steamed cork fish on the healing of perineal lacerations in postpartum mothers with a difference of 3.2 days. The conclusion of this study is that the administration of steamed snakehead fish is more effective in treating perineal lacerations of postpartum mothers. Student competency results obtained through the pre-test and post-test showed that the difference between the pre-test and the final test for the two groups was significantly different. This is indicated by the results of the t test obtained by t count = 0.001
Fauziah Fauziah, Fitriana Fitriana, Siti Noorbaya
Published: 26 September 2020
Indonesian Journal of Midwifery (ijm), Volume 3; https://doi.org/10.35473/ijm.v3i2.622

Abstract:
Postpartum, also called the puerperium or puerperium, is the time since the baby is born and the placenta is separated from the uterus until the next 6 (six) weeks, accompanied by the recovery of the organs associated with the womb, which have undergone changes related to childbirth. The changes that occur during the puerperium include all systems including the reproductive organs such as the uterus and vulva, from physiological to pathological changes as a result of complications during the puerperium. Complications of the puerperium are abnormal conditions during the puerperium caused by the entry of germs to the genetalia during labor and the puerperium, one of the complications of the puerperium, namely a rupture, is also called a perineal tear or laceration. This study aims to analyze the effectiveness of giving boiled snakehead fish on the healing of perineal lacerations in postpartum mothers in Samarinda City. In this study, the authors used a quasi-experimental method with a post-test only control group design in which the measurement of variables was given a special intervention, namely giving 100 g of steamed fish a day for 10 days, then observing its effect on post-partum maternal wound healing. As a comparison, also a control group without treatment with inclusion and exclusion criteria. The research location is at Kartika Jaya Clinic, Samarinda City. In this study, the samples were selected using purposive sampling. Data collection methods used in two ways, namely through interviews and observations. The test used Mann Whitney. The results of data analysis using the Mann-Whitney obtained the sig (2-tiled) value of 0.000 <0.05 with the average healing time of the experimental group was 7 days. Meanwhile, the average healing time for the control group was 10 days. So it can be concluded that there is an effect of giving steamed cork fish on the healing of perineal lacerations in postpartum mothers with a difference of 3.2 days. The conclusion of this study is that the administration of steamed snakehead fish is more effective in treating perineal lacerations of postpartum mothers
Siti Dariyani, Reni Nofita, Mardi Yana
Indonesian Journal of Midwifery (ijm), Volume 4; https://doi.org/10.35473/ijm.v4i1.682

Abstract:
Pregnancy and childbirth are inseparable chain reactions in a normal woman's life. To undergo a safe and comfortable pregnancy, pregnant women must be able to manage their body, mind and spirit holistically during pregnancy. (Kuswandi,2013) Changes in the safety and comfort of pregnant women are closely related to physical and psychological changes. (Prawiroharjo,2015) To reduce the physical and psychological complaints of mothers during pregnancy, what can be done by including the mother in pregnancy exercise classes, Prenatal yoga is a type of exercise that is good for pregnant women to do. Practicing yoga means that pregnant women practice physical postures, breathing techniques, and meditation.Based on the data obtained at Pamulang Health Center, from 684 pregnant women during January to April, only 20% of pregnant women attended the pregnancy class provided by the puskesmas, the remaining 80% of pregnant women were not involved in gymnastics classes at all. The absence of pregnant women is due to busyness and unsuitable schedules. The general objective of this study is to develop audiovisual self-training media for basic prenatal yoga and to test its effectiveness.The research method is action research. The first stage will conduct a study of the condition and level of needs of pregnant women about basic prenatal yoga. The second stage will be the process of making audiovisual media for basic prenatal yoga self-training. The third stage is testing the effectiveness of the media. The results showed that 60% of respondents did not know well what Prenatal Yoga was, pre-intervention described the mean score of physiological comfort during pregnancy of 56.1 with a range of values ranging from a score of 35-77. The mean value obtained post intervention was 48.4 with scores ranging from 30-70. p value of 0,000. Thus, it is known that there is a significant relationship between prenatal yoga movements and physiological comfort during pregnancy.
Hapsari Windayanti, Fitria Primi Astuti, Ida Sofiyanti
Published: 26 September 2020
Indonesian Journal of Midwifery (ijm), Volume 3; https://doi.org/10.35473/ijm.v3i2.631

Abstract:
Masa nifas adalah masa adaptasi ibu setelah hamil dan persalinan. Adaptasi ini menyebabkan perubahan yang dapat menjadi ketidaknyamanan. Ketidaknyamanan yang dapat dialami diantaranya kecemasan dalam menyusui dan gangguan tidur. Tantangan ibu menyusui adalah ibu merasa ASI-nya tidak cukup untuk bayinya sehingga menjadi penghambat dalam menyusui. Menyusui dapat menyebabkan gangguan pada kebutuhan istirahat ibu selama periode postpartum. Masalah tersebut muncul disebabkan ibu sering terbangun dikarenakan bayi menangis, bayi tidur tidak nyenyak, dan proses menyusui. Pada saat postpartum, ibu membutuhkan istirahat ataupun tidur yang mencukupi. Cara untuk mengatasi gangguan/masalah istirahat pada ibu nifas dan menyusui dapat dengan terapi non farmakologi. Salah satu yang dapat dilakukan yaitu dengan melakukan modifikasi perilaku dan lingkungan yaitu memberikan sugesti melalui hipnoterapi. Hipnoterapi yang bisa diberikan untuk ibu di masa nifas dan menyusui yaitu hypnobreastfeeding. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan sebelum dan setelah hypnobreastfeeding terhadap kualitas tidur pada ibu menyusui. Metode penelitian menggunakan eksperimen semu dengan rancangan One Group Pre-test dan Post-test, sebanyak 30 responden ibu menyusui. Pengukuran kualitas tidur menggunakan kuesioner PSQI. Normalitas data menggunakan Shaprowilk (sampel < 50) didapatkan p-Value (0,001) < 0,05, sehingga untuk analisis data menggunakan uji Wilcoxon. Hasil olah data dengan Uji Wilcoxon didapatkan nilai p value (0,006) kurang dari 0,05 yang berarti ada perbedaan kualitas tidur ibu menyusui sebelum dan sesudah diberikan hypnobreastfeeding. Hypnobreastfeeding merupakan pemberian sugesti. Proses tersebut dengan cara memberikan stimulasi ke otak untuk melepaskan neurotransmitter/senyawa kimiawi yang terdapat di otak, enchephalin dan endorphin berfungsi dapat meningkatkan perasaan bahagia sehingga mengubah penerimaan seseorang terhadap kondisi yang dialami saat ini.
Luh Ari Arini
Published: 26 September 2020
Indonesian Journal of Midwifery (ijm), Volume 3; https://doi.org/10.35473/ijm.v3i2.567

Abstract:
Menopause is a period where the reproductive cycle has stopped in women and is characterized by a permanent menstrual cessation, due to a decrease in the function of reproductive organs such as the ovaries as a sex steroid hormone (estrogen and progesterone) which plays an important role in the reproductive cycle. The decrease in hormones during menopause causes problems in sexual function such as decreased interest in sexual relations due to vaginal lubrication problems, this can be overcome by doing light physical exercise. Light exercise or physical activity when entering menopause is known to have a positive effect on the quality of life of menopause, including on sexual function. The purpose of this study was to determine differences in sexual function between menopausal women who exercise or do physical activity and who do not exercise. This research method is a conceptual study or literature study from previous research relating to exercise and sexual function at menopause. The results of the study showed that menopausal women who routinely exercise or physical activity, their sexual function is better than those that are not, it is known that menopausal women feel very satisfied with their sexual lives and have no problems during intercourse with their partners. Menopausal women have to exercise regularly, besides consuming healthy foods with balanced nutrition, because the more frequent and regular exercise, the sexual life of menoapause women will be much better.
Luh Nik Armini, Ni Komang Sulyastini
Published: 26 September 2020
Indonesian Journal of Midwifery (ijm), Volume 3; https://doi.org/10.35473/ijm.v3i2.629

Abstract:
Kesejahteraan suatu negara diukur melalui kesehatan ibu dan anak. Kematian yang terjadi di Indonesia masih cenderung lebih tinggi jika dibandingkan dengan kematian ibu yang terjadi di negara maju maupun negara di ASEAN. Kematian ibu sekitar 90% banyak terjadi saat atau segera setelah proses persalinan dengan penyebab tertingginya sejak satu dekade terakhir karena perdarahan. Buleleng sebagai penyumbang terbesar kematian ibu di Provinsi Bali selama tiga tahun berturut-turut. Desa Patas yang berada di kabupaten buleleng merupakan desa penyumbang terbesar kehamilan risiko tinggi akibat faktor umur dan jarak kelahiran. Penelitian ini dilakukan guna mendeskripsikan persalinan dengan fakto risiko umur di Desa Patas selama Tahun 2018- Bulan Agustus 2020. Penelitian dilakukan dengan menggunakan data sekunder yang diambil dari register persalinan Desa Patas. Sampel penelitian adalah ibu bersalin dengan faktor risiko tinggi umur dan tercatat di register persalinan bidan di Desa Patas. Hasil penelitian yang didapatkan yaitu persalinan dengan faktor risiko tinggi umur sebanyak 22,1%. Persalinan dengan faktor risiko tinggi umur di Desa Patas sebagian besar ditemukan pada ibu multigravida sebanyak 68,2%, persalinan terbanyak di lakukan di Praktek Mandiri Bidan sebesar 71,1%, persalinan berlangsung secara spontan 72,9% dan komplikasi persalinan yang dialami 15,8%. Persalinan dengan faktor risiko tinggi karena umur merupakan salah satu dari empat terlalu yang merupakan penyebab tidak langsung kematian ibu. Promosi kesehatan, peningkatan kualitas pemeriksaan kehamilan, peningkatan cakupan KB pada WUS merupakan salah satu upaya untuk menurunkan faktor risiko tinggi karena umur.
Vistra Veftisia, Luvi Dian Afriyani
Indonesian Journal of Midwifery (ijm), Volume 4; https://doi.org/10.35473/ijm.v4i1.893

Abstract:
Tingkat kecemasan, dan depresi ibu hamil semakin akut dan intensif seiring dengan mendekatnya kelahiran bayi. Kecemasan sangat berpengaruh terhadap kesejahteraan ibu hamil maupun janin yang didalam kandungan. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui tingakat kecemasan, stress dan depresi pada ibu hamil TM II dan TM III. Metode penelitian menggunakan desain deskriptif kuantitatif dengan rancangan cross sectional. Populasi dalam penelitian adalah ibu hamil di PMB ibu Alam Kota Salatiga sebanyak 40 orang. Dengan teknik purposive sampling sampel 32 ibu hamil trimester II dan III. Alat pengumpulan kuesioner DASS 42. Analisa data menggunakan menggunakan tendensi sentral. Hasil penelitian didapatkan kecemasan ringan (11, 03), stress ringan (12, 81), depresi ringan (11, 25)
Meika Jaya Rochkmana, Susanti Susanti, Ardhita Listya Fitrini
Published: 26 September 2020
Indonesian Journal of Midwifery (ijm), Volume 3; https://doi.org/10.35473/ijm.v3i2.596

Abstract:
Kanker serviks adalah penyebab kanker paling umum kematian dikalangan wanita di negara berkembang. Angka kematian kanker serviks juga meerupakan indikator keberhasilan kesehatan, Delapan puluh lima persen (85%) diantaranya ada di negara berkembang, kurang pengetahuann, keinginan, dukungan lingkungan. Penyebab kanker serviks 70% dari Human Papilloma Virus (HPV) tipe 16 dan 18. Tujuan Tinjaukan pustaka ini bertujuan untuk membahas faktor-faktor yang berpengaruh terhadap keikutsertaan wanita usia subur dalam skrinning kanker serviks. Metode tinjauan pustaka ini mengunakan literature review. Pencarian sistematis dari artikel yang relevan di Pubmed, Proquest, Science Direct, google schoolar dan portal garuda dengan publikasi dari tahun 2010 sampai dengan 2020. Hasil dan Pembahasan pengetahuan bagus tidak menjamin bahwa skrinning kanker serviks akan dilakukan. Dukungan lingkungan akan membantu WUS dalam meyakinkan diri untuk melakukan skrinning. Penggunakan media edukasi sangat membantu dalam menyampaikan informasi agar lebih menarik, dan kelompok konsultasi kesehatan sangat berpengaruh karena akan bertukar pengalaman dari yang sudah pernah melakukan skrinning kanker serviks.Kesimpulan skrinning kanker serviks yang dilakukan oleh WUS dipengaruhi dari banyak aspek tidak hanya dari dalam diri sendiri namun aspek dukungan dari lingkungan dan petugas kesehatan juga sangat berpengaruh. Media edukasi seperti poster, film, booklet, dan audiovisual lainnya juga berpengaruh terhadap minat WUS untuk melakukan skrinning kanker serviks.
Yadul Ulya, Nurul Hikmah Annisa, Susilia Idyawati
Indonesian Journal of Midwifery (ijm), Volume 4; https://doi.org/10.35473/ijm.v4i1.845

Abstract:
WHO menyebutkan salah satu penyebab perdarahan setelah melahirkan ialah retensio placenta. Retensio plasenta merupakan komplikasi persalinan di negara berkembang sebesar 2-3% pada persalinan pervaginam. Faktor predisposisi lain yang turut memengaruhi terjadinya retensio plasenta adalah umur, paritas, uterus terlalu besar, jarak kehamilan yang pendek, dan sosial ekonomi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktorumur dan paritas dengan kejadian retensio plasenta di Rumah Sakit Umum Daerah Kota Mataram. Penelitian ini merupakan penelitian analitik kuantitatif dengan pendekatan cross sectional, dengan populasi seluruh ibu bersalin dengan kejadian retensio plasenta sebanyak 37 orang berdasarkan catatan rekam medis di Rumah Sakit Umum Daerah Kota Mataram dari bulan Oktober tahun 2019 sampai dengan Januari tahun 2020. Pengambilan sampel menggunakan total population. Hasil penelitian menunjukkan tidak adanya hubungan bermakna antara usia ibu dengan kejadian retensio placenta (p value 0,458) meskipun secara teoritis mengatkan bahwa kejadian retensio placenta berkaitan dengan usia ibu. Untuk variabel paritas, hasil uji bivariat antara variabel paritas dengan kejadian retensio plasenta diperoleh p value 0,458 yang memiliki arti bahwa secara statistik tidak ditemukannya hubungan antara kedua variabel tersebut. Kesimpulan dari penilitian ini adalah karaktristik responden dalam penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut: dari 37 orang responden mayoritas berumur antara 20 sampai 35 tahun dan mayoritas tidak paritas kurang dari 3 kali. Tidak ada hubungan faktor usia dan paritas terhadap kejadian retensio plasenta dengan p value = 0,458. Dari penelitian ini diharapkan kepada tenaga kesehatan untuk selalu memberikan edukasi dalam mencegah terjadinya retensio plasenta terutama pada pasien yang beresiko.
Farida Tandi Bara, Febriani Tandipasang
Published: 26 September 2020
Indonesian Journal of Midwifery (ijm), Volume 3; https://doi.org/10.35473/ijm.v3i2.591

Abstract:
Tumbuh kembang anak yang optimal akan menentukan status anak kedepannya. Pada periode anak, nutrisi dan stimulasi berperan untuk membantu anak mencapai kemampuan optimalnya. Peran ibu sangat strategis untuk memenuhi kebutuhan nutrisi dan stimulasi seorang anak. Deteksi dini perkembangan menggunakan KPSP merupakan suatu cara untuk mengetahui perkembangan anak sehinga jika terdapat penyimpangan dapat dikoreksi sedini mungkin. Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan umur, pekerjaan dan pendidikan ibu dengan hasil pemeriksaan KPSP di Puskesmas Ma’rang. Jenis penelitian deskriptif dengan menggunakan rancangan cross sectional study. Penelitian menggunakan data sekunder tahun 2019, sampel 68 anak yang merupakan total populasi. Data diolah dan dianalisa menggunakan uji chi-sguare dan menghitung OR masing masing variable. Dari hasil penelitian diperoleh p value = 0.57 dimana p > α (α = 0.05) tidak ada hubungan signifikan antara pekerjaan ibu dengan perkembangan anak dengan nilai OR = 0.174 (0.029 – 1.042) CI 95%, pekerjaan ibu bukan merupakan factor risiko perkembangan anak. Tidak ada hubungan signifikan antara usia ibu dengan perkembangan anak dengan nilai r value = 0.543 dan OR = 1.571 (0.160 - 15.465), Usia ibu bukan merupakan factor risiko perkembangan anak. Tidak ada hubungan signifikan antara pendidikan ibu dengan perkembangan anak r value = 0.084dan OR = 7.250 (1.004-2.341) dengan CI 95% maka pendidikan ibu merupakan faktor risiko perkembangan anak.
Happy Novriyanti Purwadi, Hanny Desmiati, Nuntarsih Nuntarsih
Indonesian Journal of Midwifery (ijm), Volume 4; https://doi.org/10.35473/ijm.v4i1.767

Abstract:
Based on data from the SDKI, the Maternal Mortality Rate (MMR) in Indonesia is still quite high, namely 359 per 100,000 live births1, and the results of the Inter-Census Population Survey show a decrease to 305 per 100,0002, this result is still quite far considering the Sustainable Development Goals (SDGs) target, namely reduce maternal mortality to below 70 per 100,000 target by 20303. The diversity of causes of maternal mortality and differences in regional characteristics make it necessary to make policies and plans to reduce MMR. AKI is an indicator of maternal health status. McCharty and Maine suggest 3 factors that influence maternal mortality, namely the near determinant, the intermediate determinant and the distant determinant.This research uses analytical research method, using secondary data, this method was chosen because in the first stage research will be conducted on the determinants of maternal mortality, then in the second stage an analysis will be carried out (analytic) to determine the determinants that have the most influence on maternal mortality in Tangerang Regency.There is a relationship between parity and maternal mortality with a p value of 0.025; OR = 5.667, which means that parity has 5.6 times the maternal mortality. There is a relationship between Ante Natal Care (ANC) examination and maternal mortality with a p value of 0.004; OR = 8,889 which means that ANC examination has 8.8 times of maternal mortality. There is a relationship between complications and maternal death with a p value of 0.019; OR = 7.5, which means that complications have 7.5 times the death rate and husband's work with maternal mortality p value 0.035; OR = 0.117. Thus parity, ANC examination, complications and husband's occupation have an effect on the determinants of maternal mortality.
Vistra Veftisia, Heni Hirawati Pranoto
Indonesian Journal of Midwifery (ijm), Volume 3; https://doi.org/10.35473/ijm.v3i1.344

Abstract:
Stimulasi perkembangan anak tidak berjalan dengan baik, kurangnya stimulasi perkembangan yang dilakukan ibu dikarenakan faktor pendidikan ibu, tidak tersedia sarana untuk menstimulasi, masih percaya mitos yang menyatakan bahwa setiap anak akan berkembang dengan sendirinya, persepsi ibu tentang stimulasi perkembangan anak yang kurang benar, kurangnya informasi tentang stimulasi perkembangan anak yang di dapat dari tenaga kesehatan, karena tenaga kesehatan lebih fokus dalam pemantaun pertumbuhan anak. Mengetahui Hubungan Persepsi Ibu Tentang Stimulasi Perkembangan Anak Dengan Stimulasi Perkembangan Batita Pada Ibu Yang Memiliki Batita Di Desa Gogik Kabupaten SemarangPenelitian menggunakan desain analitik correlationl dengan pendekatan cross sectional. Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 52 responden dengan pengambilan sampel menggunakan Purposive sampling. Analisis bivariat menggunakan uji chi Square. Terdapat hubungan yang signifikan antara persepsi ibu tentang stimulasi perkembangan anak dengan stimulasi perkembangan batita pada ibu yang memiliki mabatita (p=0.002). Tenaga Kesehatan Hendaknnya dalam memberikan asuhan kepada anak tidak hanya berfokus pada pertumbuhan anak saja tetapi juga memberikan asuhan untuk perkembangan anak terutama terkait stimulasi perkembangan anak.
Risma Aliviani Putri, Puji Lestari
Indonesian Journal of Midwifery (ijm), Volume 3; https://doi.org/10.35473/ijm.v3i1.310

Abstract:
Laserasi atau robekan jalan lahir adalah robekan yang terjadi di garis tengah dan bisa menjadi luas apabila kepala janin lahir terlalu cepat saat persalinan, sudut arkus pubis lebih kecil daripada biasa, kepala janin melewati panggul dengan ukuran yang lebih besar. Banyaknya kasus laserasi jalan lahir pada ibu dengan persalinan normal menimbulkan upaya untuk menekan bahkan mencegah terjadinya kasus tersebut agar tidan meningkatkan Angka Kematian Ibu (AKI).Tujuan penelitian ini untuk menganalisis faktor apa saja yang mempengaruhi terjadinya laserasi jalan lahir pada ibu bersalin normal di PMB Sri Harti, Banyu Biru Kab. Semarang.Populasi dalam penelitian ini adalah ibu bersalin tahun 2018 di PMB Sri Harti Banyu Biru. Pengambilan sampel menggunakan Total Sampling dengan teknik pengumpulan data yang digunakan adalah data ibu bersalin yang mengalami laserasi di tahun 2018. Analisis Data menggunakan uji statistik Non parametrik yaitu Chi square.Hasil uji chi square pada paritas ibu dan faktor jarak kelahiran didapatkan hasil nilai p value 0.05 sehingga tidak ada hubungan yang signifikan terhadap kejadian laserasi jalan lahir
Page of 2
Articles per Page
by
Show export options
  Select all
Back to Top Top