Mulawarman Pharmaceuticals Conferences

Conference Information
Name: Mulawarman Pharmaceuticals Conferences

Latest articles from this conference

Yuli Permatasari, Lizma Febrina, Arsyik Ibrahim
Mulawarman Pharmaceuticals Conferences, Volume 2, pp 62-66; https://doi.org/10.25026/mpc.v2i1.41

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas infusa daun tapak dara (Catharanthus roseus L.) terhadap penurunan kadar glukosa darah pada tikus putih. Penelitian ini merupakan desain eksperimental laboratorium dengan menggunakan tikus putih sebanyak 15 ekor yang diinduksi aloksan 120 mg/kgBB setiap dua hari sekali secara intraperitonial. Tikus dibagi menjadi lima kelompok, antara lain kelompok kontrol negatif (Aquades), kelompok kontrol positif (Glibenklamid), serta kelompok uji yang diberikan infusa daun tapak dara 25%, 45% dan 65%. Data hasil penurunan kadar glukosa darah dianalisis dengan menggunakan uji ANOVA dua arah dan terdapat perbedaan yang sangat signifikan antar kelompok uji sehingga dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Jujur Duncan (BNJD). Hasil penelitian menunjukkan infusa daun tapak dara pada konsentrasi 25%, 45% dan 65% memberikan aktivitas terhadap penurunan kadar glukosa darah pada tikus putih.
Anintia Nitami Faradillah, , Laode Rijai
Mulawarman Pharmaceuticals Conferences, Volume 2, pp 176-182; https://doi.org/10.25026/mpc.v2i1.57

Abstract:
Berbagai macam jenis virus, bakteri dan jamur menempel pada tangan setiap harinya melalui kontak fisik. Untuk mencegah penyebaran virus, bakteri dan jamur, salah satu cara yang paling tepat adalah mencuci tangan dengan sabun dan air bersih. Seiring meningkatnya kesadaran masyarakat akan kebersihan, maka mencuci tangan merupakan suatu kebutuhan. Tetapi tidak semua tempat menyediakan air bersih yang dapat digunakan untuk mencuci tangan. Muncul produk inovasi pembersih tangan yang sering disebut hand sanitizer. Gel merupakan salah satu bentuk sediaan yang digemari sebagai hand sanitizer. Daun alamanda telah diuji aktivitas antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan bakteri Pseudomonas aeruginosa dan fraksi n-Butanol menunjukkan ativitas antibakteri terbaik pada konsentrasi 4%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri fraksi n-Butanol daun alamanda setelah diformulasi menjadi sediaan gel antispetik. Pengujian aktivitas antibakteri sediaan gel antiseptik dilakukan dengan metode difusi agar menggunakan bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fraksi n-butanol sebelum diformulasi menghasilkan aktivitas yang lebih baik dibandingkan setelah diformulasikan menjadi sediaan gel antiseptik.
Septi Anggraini, Nur Mita, Arsyik Ibrahim
Proceeding of Mulawarman Pharmaceuticals Conferences, Volume 2, pp 8-15; https://doi.org/10.25026/mpc.v2i1.32

Abstract:
Cempedak (Artocarpus champeden Spreng) merupakan tumbuhan asli Indonesia. Ekstrak etil asetat daun cempedak memiliki aktivitas antioksidan dengan nilai IC50 sebesar 4,282 ppm. Tujuan penelitian ini adalah untuk memanfaatkan ekstrak etil asetat daun cempedak sebagai bahan utama dalam pembuatan sediaan krim antioksidan. Krim diformulasi dengan membandingkan konsentrasi ekstrak etil asetat daun Cempedak yaitu 1,6%, 0,16% dan 0,016%.. Evaluasi fisik meliputi uji organoleptis, homogenitas, pH, daya sebar, viskositas, tipe emulsi dan uji stabilitas dengan metode Freeze Thaw. Hasil yang diperoleh sediaan krim terbaik adalah sediaan krim dengan konsentrasi ekstrak sebesar 0,016% dengan nilai IC50 sebesar 5,91 ppm sebelum penyimpanan dan 10,57 ppm setelah penyimpanan.
Eko Nur Setiawan, Nur Mita, Arsyik Ibrahim
Mulawarman Pharmaceuticals Conferences, Volume 2, pp 82-88; https://doi.org/10.25026/mpc.v2i1.44

Abstract:
Telah dilakukan penelitian “Karakterisasi dan Identifiksi Metabolit Sekunder Isolat Jamur Endofit Daun Sukun (Artocarpus Altilis)”. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui karakterisasi isolat jamur endofit yang diisolasi dari daun sukun dan golongan metabolit sekunder yang dimiliki oleh isolat jamur endofit tersebut. Karakterisasi isolat jamur endofit dilakukan secara makroskopis dan mikroskopis. Untuk identifikasi metabolit sekunder isolat jamur endofit dilakukan dengan uji reaksi kimia dan metode KLT (Kromatografi Lapis Tipis) dengan pereaksi semprot spesifik. Hasil penelitian menunjukkan adanya dua isolat jamur endofit (IFE1P dan IFE2HK) dari daun sukun. Hasil karakterisasi secara makroskopis menunjukkan, bahwa pada isolat IFE1P memiliki koloni berwarna putih dengan tekstur granular, permukaan berbentuk konsentris dan elevasi halus serta bentuk penonjolan timbul. Secara mikroskopis isolat IFE1P memiliki hifa aseptat dengan hialin, konidia dan konidiofor. Pengamatan secara makroskopis menunjukan, bahwa pada isolat IFE2HK memiliki koloni berwarna hijau kehitaman dengan tekstur menyerupai beludru, berbentuk bulat dengan tepi bergelombang dan elevasi halus dengan penonjolan berbentuk bukit. Secara mikroskopis isolat IFE2HK memiliki hifa septat berbentuk rhizoid dan terdapat konidiospora. Kedua isolat jamur endofit memiliki metabolit sekunder yang hampir serupa seperti tanaman inangnya, yaitu flavonoid, polifenol, triterpen, dan steroid. Senyawa saponin hanya terdapat pada isolat IFE1P dan tidak teridentifikasi pada isolat IFE2HK.
Triska Gea Ambasalu, Mirhansyah Ardana, Muhammad Amir Masruhim
Proceeding of Mulawarman Pharmaceuticals Conferences, Volume 2, pp 1-7; https://doi.org/10.25026/mpc.v2i1.31

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek antiinflamasi ekstrak bunga bugenvil terhadap edema buatan pada tikus Wistar dan mengetahui dosis ekstrak etanol bunga bugenvil yang paling efektif terhadap penurunan volume edema tikus jantan yang diinduksi karagenan 1 %. Subjek penelitian ini adalah 15 ekor tikus jantan galur Wistar yang dibagi menjadi 5 kelompok; kontrol negatif (NaCMC 0,5 %), kontrol positif (Natrium diklofenak 0,9 mg/kgBB), kelompok perlakuan (200mg/kgBB, 250mg/kgBB, 300mg/kgBB), diberikan secara oral. Telapak kaki belakang kanan tikus disuntikkan secara subkutan karagenan 1% untuk memicu inflamasi. Pengukuran volume edema dilakukan dengan menggunakan pletismometer dalam selang waktu 30 menit selama 330 menit. Data selanjutnya dianalisis menggunakan ANAVA dua arah dan dilakukan uji lanjutan dengan menggunakan analisis Tukey. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol bunga bugenvil mampu menurunkan volume edema pada kaki tikus putih galur wistar yang diinduksi karagenan 1 % dan dosis efektif ekstrak bunga bugenvil sebagai antiinflamasi adalah pada dosis 250 mg/kgBB. Selanjutnya dilakukan uji potensi ekstrak bunga bugenvil dosis 250 mg/kgBB dengan kontrol positif menggunakan uji t dan terlihat bahwa terdapat perbedaan yang nyata pada pemberian ekstrak bunga bugenvil 250 mg/kgBB dengan kontrol positif.
Nurul Annisa, Risna Agustina
Proceeding of Mulawarman Pharmaceuticals Conferences, Volume 2, pp 35-38; https://doi.org/10.25026/mpc.v2i1.36

Abstract:
Banyak faktor yang mengakibatkan target terapi tidak tercapai dalam suatu pengobatan, salah satunya adalah terjadinya interaksi obat-obat. Hipertensi merupakan penyakit dengan kemungkinan besar komplikasi yang akan berdampak dalam penggunaan obat yang kompleks atau polifarmasi serta penggunaannya dalam jangka waktu yang panjang sehingga meningkatkan pula risiko terjadinya interaksi obat-obat. Interaksi obat-obat didentifikasi untuk mengetahui pengaruhnya terhadap pencapaian target terapi hipertensi. Studi kohort retrospektif ini dianalisis dengan chi-square. Hasil analisis menunjukkan bahwa interaksi obat-obat yang didentifikasi melalui drugs.com database memberikan pengaruh yang signifikan terhadap tercapainya target terapi hipertensi (<140/90 mmHg) terhadap penurunan tekanan darah sistol (p value 0,03) dan diastol (p value 0,01). Pasien yang mengalami interaksi obat-obat berisiko mengalami tekanan darah sistol tidak terkontrol (≥140 mmHg) sebesar 3,30 kali lebih besar dibandingkan pasien yang di dalam terapinya tidak mengalami interaksi obat-obat (95% CI 1,10-9,86). Pasien yang mengalami interaksi obat-obat berisiko mengalami tekanan darah diastol tidak terkontrol (≥90 mmHg) sebesar 4,00 kali lebih besar dibandingkan pasien yang di dalam terapinya tidak mengalami interaksi obat-obat (95% CI 1,33-12,03). Dibutuhkan penelitian lain yang serupa dengan jumlah subjek yang lebih banyak dan data dikumpulkan secara prospektif untuk mengetahui interaksi obat-obat aktual.
Femy Linggi Allo, Lizma Febrina, Laode Rijai
Mulawarman Pharmaceuticals Conferences, Volume 2, pp 142-149; https://doi.org/10.25026/mpc.v2i1.52

Abstract:
Karamunting merupakan tumbuhan yang dapat tumbuh liar dan berlimpah di seluruh daerah tropis. Daun karamunting telah diketahui memiliki khasiat sebagai antibakteri. Salah satu cara pemanfaatan yang dapat dilakukan adalah dengan mengaplikasikan ekstrak etanol daun karamunting dalam produk sabun cair. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak etanol daun karamunting dan sediaan sabun dengan bahan aktif ekstrak etanol daun karamunting khususnya terhadap bakteri Escherichia coli dan Staphylococcus aureus. Pengujian aktivitas antibakteri dilakukan dengan metode difusi agar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas antibakteri ekstrak etanol daun karamunting dengan konsentrasi 1%, 2%, 3%, 4% dan 5% terhadap bakteri Escherichia coli dan Staphylococcus aureus memiliki respon hambatan pertumbuhan termasuk dalam kategori lemah sampai sedang dengan zona hambat dan zona bunuh antara 1-10 mm. Sedangkan aktivitas antibakteri sediaan sabun cair dengan bahan aktif ekstrak etanol daun karamunting memiliki respon hambat yang lebih besar dibandingkan sediaan sabun cair tanpa bahan aktif ekstrak etanol daun karamunting.
Back to Top Top