Refine Search

New Search

Results: 44

(searched for: doi:(10.47530/*))
Save to Scifeed
Page of 1
Articles per Page
by
Show export options
  Select all
Dandi Joel Polii, Meyva Polii
EDULEAD: Journal of Christian Education and Leadership, Volume 3, pp 117-132; https://doi.org/10.47530/edulead.v3i1.99

Abstract:
Family resilience in over the last years has received special attention because the high divorce rate in Indonesia to increasing. Many families are unable to maintain family resilience because of various background problems, namely; starting from economic problems, disputes, and third person game in the family. In this case, the Christian family is no exception. This can be seen the data that has been obtained from various research results first. This paper aims to explain how the management of Christian Religious Education on family can maintain family resilience by applying management principles so that families are able to maintain harmonious relationship, children have good spiritual qualities, families become the main protectors through rules and supervision and the establishment of effective communicationthe goals. This research uses description method and literature review. This means that this research will use various literature references that are directly related to describing the benefits of Christian Religious Education management in maintaining family resilience.Abstrak Ketahanan keluarga di tahun-tahun belakangan ini mendapat perhatian khusus oleh karena angka perceraian yang ada di Indonesia terus mengalami peningkatan. Banyak keluarga yang tidak dapat menjaga ketahanan keluarga oleh karena berbagai latar belakang masalah yakni; mulai dari masalah ekonomi, perselisihan, sampai pada adanya orang ketiga di dalam keluarga. Dalam hal ini, keluarga Kristen pun tidak terkecuali. Hal ini bisa dilihat data yang telah ada dari berbagai hasil penelitian terlebih dahulu. Tulisan ini bertujuan untuk memaparkan bagaimana manajemen PAK keluarga dalam dapat menjaga ketahanan keluarga dengan menerapkan prinsip-prinsip manajemen sehingga keluarga mampu menjga hubungan yang harmonis, anak-anak memiliki kualitas rohani yang baik, keluarga menjadi pelindung utama melalui aturan dan pengawasan dan terjalinnya komunikasi yang efektif. Penelitian ini menggunakan metode deskripsi dan kajian literatur. Artinya penelitian ini akan menggunakan berbagai referensi literatur yang bersinggung langsung dengan mendeskripsikan manfaat manajemen PAK dalam menjaga ketahanan keluarga.
Marde Christian Stenly Mawikere
EDULEAD: Journal of Christian Education and Leadership, Volume 3, pp 133-139; https://doi.org/10.47530/edulead.v3i1.91

Abstract:
Learning and learning models are always changing according to the times and changes in social transformation because time always points forward. Even so, the nature and existence of learning cannot be separated from students, teachers and the context. In principle, learning is a process of interaction between students and teachers and the entire context of the existence and life of students and teachers. Learning is also a process that is directed so that learning outcomes can be achieved as well as a behavioral process obtained through a variety of learning experiences. That's why it is important for a teacher to prepare everything related to the learning that will be carried out for students. The preparation starts from Learning Plans or Designs, Learning Models to Learning Evaluations. The substance of all that is what and how to direct students in the learning and learning process so that students will be active, fun, and meaningful when learning. Thus, learning models are important factors that must be identified, applied and developed in supporting a learning process.Abstrak Model-model Belajar dan pembelajaran selalu mengalami perubahan sesuai perkembangan zaman dan perubahan transformasi sosial oleh karena waktu selalu mengarah ke depan. Sekalipun demikian, hakikat dan keberadaan pembelajaran tidak terlepas dari murid, guru dan konteksnya. Pada prinsipnya, pembelajaran merupakan proses interaksi antara murid dan guru serta seluruh konteks keberadaan dan kehidupan murid dan guru. Pembelajaran juga merupakan suatu proses yang diarahkan supaya capaian pembelajaran dapat dicapai sekaligus merupakan proses perilaku yang diperoleh melalui ragam pengalaman belajar. Karena itulah penting bagi seorang guru untuk mempersiapkan segala sesuatu berkaitan dengan pembelajaran yang akan dilaksanakan bagi para murid. Persiapan tersebut mulai dari Rencana atau Desain Pembelajaran, Model-Model Pembelajaran sampai dengan Evaluasi Pembelajaran. Substansi dari semua itu adalah seperti apa dan bagaimana mengarahkan murid dalam proses belajar dan pembelajaran supaya para murid akan aktif, menyenangkan, dan bermakna pada saat belajar. Dengan demikian model-model pembelajaran adalah faktor penting yang harus diidentifikasi, diterapkan dan dikembangkan dalam mendukung suatu proses pembelajaran.
Meilani Meilani, Martina Novalina
EDULEAD: Journal of Christian Education and Leadership, Volume 3, pp 1-12; https://doi.org/10.47530/edulead.v3i1.89

Abstract:
The era of globalization with rapid development and progress in various areas of life has had its own impact on human life, especially teenagers who always want to keep up with the times. The impact of the entry of the world in the life of teenagers not only brings good influences but also bad influences. This paper aims to examine the impact and influence of the process of globalization on adolescents in Indonesia as well as the role of Christian Religious Education (PAK) in educating adolescents based on the verse contained in Proverbs 22:6. The research method used is a descriptive qualitative method by conducting literature research through the excavation of various sources of literature both from the Bible, books, various journals related to PAK for adolescents, the era of globalization, and the exegesis of Proverbs 22:6. The result of this article's research is that teenagers are unstable but already have their own perceptions or thoughts. According to Proverbs 22:6 adolescents are educated according to the path they understand or according to the perception of the teenager himself. PAK is here to educate, direct and build the right habituation so that the thoughts of teenagers who have been illuminated by the truth are the way that is appropriate of him.Abstrak Era globalisasi dengan perkembangan dan kemajuan pesat dalam berbagai bidang kehidupan telah memberi dampak tersendiri bagi kehidupan manusia, terutama remaja yang selalu ingin mengikuti perkembangan zaman. Dampak dari masuknya dunia dalam kehidupan remaja tidak hanya membawa pengaruh baik tetapi juga pengaruh buruk. Tulisan ini bertujuan untuk meneliti dampak dan pengaruh proses globalisasi terhadap anak remaja di Indonesia serta peran Pendidikan Agama Kristen (PAK) dalam mendidik remaja berlandaskan ayat yang terdapat dalam Amsal 22:6. Metode penelitian yang dipakai adalah metode kualitatif deskriptif dengan melakukan penelitian pustaka melalui penggalian berbagai sumber literatur baik dari Alkitab, buku, berbagai jurnal yang berkaitan dengan PAK bagi remaja, era globalisasi, dan eksegesis Amsal 22:6. Hasil dari penelitian artikel ini adalah remaja merupakan pribadi yang labil tetapi sudah memiliki persepsi atau pemikirannya sendiri. Berdasarkan Amsal 22:6 remaja dididik sesuai dengan jalan yang dipahaminya atau menurut persepsi remaja itu sendiri. PAK hadir untuk mendidik, mengarahkan dan membangun pembiasaan yang benar agar pemikiran remaja yang sudah diterangi oleh kebenaran itulah yang menjadi jalan yang patut baginya.
Rida Sinaga, Yulpianita Timbange
EDULEAD: Journal of Christian Education and Leadership, Volume 3, pp 13-30; https://doi.org/10.47530/edulead.v3i1.87

Abstract:
Pada dasarnya semua manusia memiliki kesempatan untuk menjadi kreatif karena manusia memiliki kemampuan itu dalam dirinya. Kesempatan untuk mengaktifkan anak menjadi kreatif yamg seringkali tidak didaptakan anak. Untuk itu penelitian ini berupaya untuk menumbuhkan kemampuan kreativitas anak melalui metode project based learning. Dengan memberikan kesempatan dan simulasi melalui alat bermain yang ada di TK. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan kreativitas anak melalui penggunaan metode project based learning di TK Sion Tridamarsari Terpadu. Metodologi penelitian yang digunakan adalah metodologi penelitian tindakan kelas(PTK) dengan menggunakan tiga siklus penelitian. Setiap siklus dilakukan tiga kali pertemuan. Berdasarkan hasil akhir penelitian menggunakan metode project based learning pada kelompok A di TK Sion Tridamarsari adalah 6 anak mencapai berkembang sesuai harapan (BSH) dan 3 anak mencapai mulai berkembang (MB) dan 1 anak mencapai berkembang sangat baik (BSB). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa metode project based learning dapat digunakan dalam kegiatan pembelajaran untuk meningkatkan kreativitas anak di Taman Kanak-kanak Sion Tridamarsari.
Kosma Manurung
EDULEAD: Journal of Christian Education and Leadership, Volume 3, pp 61-77; https://doi.org/10.47530/edulead.v3i1.95

Abstract:
Independence is very important for a child because independence fosters a sense of responsibility for children, independence bears joy, is closely related to children's emotional social intelligence, and independence contributes well to their future success. Judging from the position, closeness, and authority they have, fathers are considered the most appropriate in teaching this independence. Therefore, the active involvement of fathers is needed and expected. The research of this article is intended to explore the role that fathers can give in order to maximally teach independence to their children. By choosing a qualitative method with a description approach and support from a literature review, it is hoped that it can provide a maximum picture and be able to be accountable academically regarding independence in the biblical picture, the urgency of independence for children both now and in their future, as well as the contribution of fathers in teaching independence. It is concluded that fathers can contribute maximally in teaching independence to children when making it a habit for children, positioning themselves as companions in the learning process, being carried out with sensitivity and being a role model in terms of independence.Abstrak Kemandirian sangat penting bagi seorang anak karena kemandirian menumbuhkan rasa tanggung jawab anak, kemandirian berbuah kegembiraan, terkait erat dengan kecerdasan sosial emosional anak, serta kemandirian bersumbangsih baik pada kesuksesannya di masa depan nanti. Menilik posisi, kedekatan,dan otoritas yang dimilikinya, para ayah dirasa paling tepat dalam mengajarkan kemandirian ini. Maka dari itu keterlibatan aktif para ayah sangat dibutuhkan dan diharapkan. Penelitian artikel ini dimaksudkan ingin menelisik peran yang para ayah bisa berikan agar maksimal mengajarkan kemandirian pada anak. Dengan memilih metode kualitatif dengan pendekatan deskripsi dan sokongan dari kajian literatur diharapkan bisa memberikan gambaran yang maksimal serta mampu dipertanggung jawabkan secara akademik terkait kemandirian dalam gambaran Alkitab, urgensi kemandirian bagi anak baik itu di masa kini ataupun di masa depan mereka, juga kontribusi ayah dalam mengajarkan kemandirian. Disimpulkan bahwa para ayah dapat berkontribusi maksimal dalam mengajarkan kemandirian pada anak ketika menjadikannya sebagai pembiasaan bagi anak, memposisikan dirinya sebagai pendamping dalam proses belajar, dilakukan dengan kepekaan dan menjadi role model dalam hal kemandirian.
Yakub Hendrawan Perangin Angin, Tri Astuti Yeniretnowati
EDULEAD: Journal of Christian Education and Leadership, Volume 3, pp 78-96; https://doi.org/10.47530/edulead.v3i1.93

Abstract:
Penelitian ini difokuskan pada penemuan aspek-aspek yang membentuk kesuksesan kepemimpinan Jonathan Parapak serta kiprahnya baik dalam Keluarga, Gereja, Masyarakat, dan Pemerintah. Metode dalam penelitian ini adalah: Penelitian dengan menggunakan pendekatan Naratif jenis penulisan penulisan Biografi, yang prosesnya dimulai dengan memilih seorang tokoh penting dan melakukan penyelidikan dengan sumber data yang berasal dari wawancara langsung dengan sang tokoh, wawancara dengan informan yang sangat mengenal kepemimpinan tokoh, data sekunder berupa arsip dan buku yang menceritakan kiprah kepemimpinan sang tokoh yang digunakan untuk mengintegrasikan kehidupan sang tokoh serta menentukan konteks kehidupan tokoh yang akan dipakai sebagai konteks penulisan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: Pertama, perjalanan kepemimpinan Kristen sungguh hanya karena kasih karunia Tuhan yang memungkinkan Allah berkarya karena Jonathan Parapak sedari mahasiswa sudah merespon panggilan Allah dengan memilih pola hidup yang holistis sehingga perjalanan kepemimpinan yang dijalaninya dapat mengherankan manusia. Kedua, hampir tidak ada kendala berarti yang dihadapi sekalipun ada beberapa kendala dan kelemahan pribadi yang dimiliki. Ketiga, relevansi, peran dan kontribusi dari kepemimpinan Jonathan Parapak sangat terbukti nyata dan berdampak positif di berbagai area baik kehidupan pribadi, keluarga, gereja, masayarakat dan pemerintah dengan jejak warisan mata air yang bisa terus diverifikasi dan menginspirasi berbagai kalangan. Keempat, faktor-faktor yang mempengaruhi kesuksesan Jonathan Parapak adalah mampu mengelola hidup holistis dalam kasih karunia Allah yang dilakukan secara konsisten dan terus menerus berkelanjutan dalam seluruh tahapan kehidupan sehingga memilih gaya hidup yang saleh, penuh integritas dan kesucian hidup dengan tidak melakukan hal yang tercela dan tidak membiarkan diri dan hati melekat pada kecintaan dunia disertai dengan memaksimalkan sebaik-baiknya pengaruh dari orang tua, keluarga dan semua pihak teristimewa Anne Parapak sang partner setia serta Tuhan sumber utama dan segalanya sehingga mampu memperagakan kepemimpinan hamba, kepemimpinan integritas, dan kepemimpinan efektif sesuai nilai-nilai kebenaran firman Tuhan dan mengharumkan Allah. Kelima, model Kepemimpinan Finishing Well.
Leonardus Rudolf Siby
EDULEAD: Journal of Christian Education and Leadership, Volume 3, pp 97-116; https://doi.org/10.47530/edulead.v3i1.97

Abstract:
This study contains a study of Musa's leadership in building teamwork when a group faces real challenges, based on Ex 17:8-16. This point is important to study in order to provide a biblical basis for the concept and practice of leadership. The method used in this research is library research, using the narrative study according an interpretive journey method. The findings of this study are: first, cooperation can occur as a response to the challenges of an organization or group; second, cooperation is the implementation of the division of tasks based on trust; third, cooperation is the empowerment of all elements of the organization; fourth, cooperation requires foresight and initiative; fifth, the success of a cooperation is not only a matter of leadership, but also of followers; There is a divine dimension to successful collaboration in leadership. This finding differs from the different recommendations based on the recommendations that are mainly based on the same goals, vision, mission, and which are realized through different actions and contributions in the places that are made, based on the division of tasks, responsibilities and authorities that have been and are mutually agreed upon (Moses and Joshua), as well as situational (Aaron and Hur).Abstrak Penelitian ini berisikan kajian terhadap kepemimpinan Musa dalam membangun kerjasama tim ketika sebuah kelompok berhadapan dengan tantangan riil, berdasarkan Kel 17:8-16. Pokok ini penting untuk diteliti guna memberikan landasan Alkitabiah terhadap konsep dan praktik kepemimpinan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kepustakaan, dengan menggunakan metode kajian naratif berdasarkan pola interpretive journey. Adapun temuan penelitian ini adalah: pertama, kerjasama dapat terjadi sebagai respon atas tantangan sebuah organisasi atau kelompok; kedua, kerjasama merupakan implementasi dari pembagian tugas berdasarkan kepercayaan; ketiga, kerjasama merupakan pemberdayaan seluruh elemen organisasi; keempat, kerjasama membutuhkan kejelian dan inisiatif; kelima, keberhasilan sebuah kerjasama bukan hanya soal leadership, tetapi juga followership; keenam, ada dimensi Ilahi dalam keberhasilan kerjasama dalam kepemimpinan. Temuan ini mengarah pada rekomendasi bahwa kerjasama terutama diikat oleh kesamaan visi, misi dan tujuan, yang terwujud melalui tindakan dan kontribusi yang berbeda-beda dalam tempat yang berbeda, berdasarkan pembagian tugas, tanggung jawab dan wewenang yang telah dibuat dan disepakati bersama (Musa dan Yosua), maupun yang terjadi secara situasional (Harun dan Hur).
Julianus Julianus, Ya’Aman Gulo, Tri Murni Situmeang, Shintike Maya, Fransiskus Irwan Widjaja, Talizaro Tafonao
EDULEAD: Journal of Christian Education and Leadership, Volume 3, pp 31-45; https://doi.org/10.47530/edulead.v3i1.86

Abstract:
This article is written The aim of this article is to study about the leadership in family as a place to prepare future Christian leader based on Christian values. It is not easy to be a leader, it takes a process to mentor an excellent leader. Accordingly, the household is an effective place to prepare excellent leader that has Christianity values. Descriptive qualitative method is used to study in this article with a literature study approach, which are trusted sciencetific journal study, books and more sciencetific works those explain about leadership in household as a place to prepare future Christian values based leaders. The result found is teaching love in leadership to children, to emerge responsibility since early stage and to grow the faith of children are the role of parents in preparing the excellent leadership based on Christianity values. This is an effective way can be done by family to train and prepare future Christian based values leaders.
Abstrak Tulisan ini bertujuan untuk mengkaji kepemimpinan dalam keluarga sebagai wadah untuk mempersiapkan pemimpin Kristen yang berdasarkan nilai-nilai Kristen. Menjadi seorang pemimpin bukan hal yang mudah, dibutuhkan proses untuk mendidik seorang pemimpin Kristen yang unggul. Oleh karena itu, keluarga merupakan tempat yang efektif untuk mempersiapkan pemimpin Kristen yang unggul yang sesuai dengan nilai-nilai Kristen. Metode yang digunakan dalam tulisan ini adalah metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi pustaka, yaitu mengkaji literatur dari jurnal ilmiah, buku, dan karya ilmiah yang lain yang terpecaya yang menjelaskan topik tentang kepemimpinan dalam keluarga sebagai wadah untuk mempersiapkan pemimpin Kristen berdasarkan nilai-nilai Kristen. Hasil yang ditemukan adalah salah satu peran keluarga dalam hal ini orang tua untuk mempersiapkan pemimpin Kristen yang unggul berdasarkan nilai-nilai Kristen adalah mengajarkan kasih dalam kepemimpinan kepada anak, menumbuhkan rasa tanggung jawab sejak dini terhadap anak, dan menumbuhkan kedewasaan rohani anak. Hal ini adalah cara yang efektif yang bisa dilakukan oleh keluarga dalam melatih dan mempersiapkan pemimpin Kristen di masa depan yang sesuai dengan nilai-nilai Kristiani.
EDULEAD: Journal of Christian Education and Leadership, Volume 3, pp 46-60; https://doi.org/10.47530/edulead.v3i1.94

Abstract:
Leadership requires leadership skills gained not only through long theories but also life experience. To gain leadership skills through life experience, intelligence is needed, especially when facing problems as well as resilience to live in the midst of these problems. The intelligence in question is Adversity Quotient. Using qualitative methods, especially the approach of literature studies and narrative interpretations, this research will show a Biblical figure, named Yusuf, who has high adversity intelligence, even in the state of intelligence adversity Yusuf is said to be a true Climber. The results showed that through the process of life, Yusuf managed to develop a leadership model based on the principles of LEAD (Listen, Explore, Analyze, Do). Through this principle Joseph was able to survive the struggle, even using the struggle to be a force in developing his leadership pattern. This principle is also what makes Joseph a leader of climbers. But behind all that, Joseph also recognized that his ability to turn struggles into opportunities was a gift that God gave him, so Joseph grew into a humble, forgiving and anticipatory Climber leader.Abstrak Kepemimpinan membutuhkan ketrampilan memimpin yang didapat bukan hanya melalui teori-teori panjangmelainkan juga pengalaman hidup. Untuk memeroleh ketrampilan memimpin melalui pengalaman hidup, dibutuhkan kecerdasan khususnya ketika menghadapi permasalahan sekaligus ketahanan untuk hidup di tengah permasalahan tersebut. Kecerdasan yang dimaksud adalah Adversity Quotient (kecerdasan adversity). Dengan menggunakan metode kualitatif, khususnya pendekatan studi pustaka/literatur dan tafsir narasi, penelitian ini hendak memerlihatkan seorang tokoh Alkitab, bernama Yusuf, yang memiliki kecerdasan adversity tinggi, bahkan dalam tataran kecerdasan adversity Yusuf dikatakan sebagai seorang Climber sejati. Hasil penelitian menunjukkan bahwa melalui proses hidup, Yusuf berhasil mengembangkan model kepemimpinan yang didasarkan pada prinsip LEAD (Listen, Explore, Analyze, Do: mendengar, menggali, menganalisa dan melakukan). Melalui prinsip ini Yusuf dapat bertahan dalam pergumulan, bahkan menggunakan pergumulan tersebut menjadi kekuatan dalam mengembangkan pola kepemimpinannya. Prinsip ini juga yang menjadikan Yusuf sebagai seorang pemimpin Climber. Namun di balik semua itu, Yusuf pun mengakui bahwa kemampuannya mengubah pergumulan menjadi peluang adalah anugerah yang Allah berikan kepadanya, sehingga Yusuf bertumbuh menjadi seorang pemimpin Climber yang rendah hati, pemaaf dan antisipatif.
Astrid Maryam Yvonny Nainupu, I Putu Ayub Darmawan
EDULEAD: Journal of Christian Education and Leadership, Volume 2, pp 172-193; https://doi.org/10.47530/edulead.v2i2.75

Abstract:
The Covid-19 Pandemic period hit Indonesia and affected the learning system in schools. Schools should run distance education. This makes it difficult for teachers in schools, including Christian Religious Education Teachers, to educate children so that their character is formed. The focus of this paper is the efforts of Christian Religious Education Teachers to shape the character of teenagers during the Covid-19 pandemic. The writing uses library research methods and Bible interpretation to provide ideas about efforts to build the character of teenagers during the pandemic. These efforts include making a teaching curriculum based on Bible teaching both doctrinally and practically, which focuses explicitly on the fruit of the Spirit in this discussion. Then apply creative learning methods based on information technology. Teachers can also take an enthusiastic approach to teenagers and become trusted friends simultaneously and guide them based on the truth of God's Word. Teachers also establish communication and provide parenting classes for parents so that parents also have the provision to shape the character of Christ in their children.Abstrak Masa Pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia dan memengaruhi sistem pembelajaran di sekolah. Sekolah harus menjalankan pendidikan jarak jauh. Hal ini menyulitkan para guru di sekolah, termasuk guru Pendidikan Agama Kristen yang tugasnya mendidik anak-anak agar karakter mereka dibentuk. Fokus dari penulisan ini adalah usaha guru Pendidikan Agama Kristen untuk membentuk karakter anak remaja di masa pandemi Covid-19. Penulisan menggunakan metode penelitian pustaka sehingga dapat memberikan gagasan tentang upaya pembentukan karakter anak remaja tetap dapat dilakukan di masa pandemi. Usaha itu antara lain membuat kurikulum pengajaran yang berdasarkan pada pengajaran Alkitab baik secara doktrinal dan praktika yang secara khusus dalam pembahasan penulisan ini berfokus pada buah Roh. Kemudian menerapkan metode pembelajaran yang kreatif yang berbasis teknologi informasi. Guru juga dapat melakukan pendekatan secara intens kepada anak remaja dan menjadi sahabat yang dapat dipercaya sekaligus serta dapat membimbing mereka berdasarkan kebenaran Firman Tuhan. Guru juga menjalin komunikasi dan menyediakan kelas-kelas parenting bagi para orang tua sehingga orang tua juga memiliki bekal untuk membentuk karakter Kristus dalam diri anak mereka.
Paulus Kunto Baskoro
EDULEAD: Journal of Christian Education and Leadership, Volume 2, pp 143-157; https://doi.org/10.47530/edulead.v2i2.68

Abstract:
Leadership is very important. Leadership will grealty affect all aspects of the movement in God’s church. Good leadership will produce an extraornidary movement, but if leadership is not good, it will bring decline in a church. God gives trust to church leaders to bring every church to be more advanced and fruitful for the Kingdom of God. Leadership also affects the character of the congreation. God longs for every congregation in God’s church to have a Christ-like character. But the problem that arises in a leadership is when someone gets trusted to lead in a church, tends to be authoritarian and arbitratry. Do not base leadership with a servant’s heart. The context of this discussion is focused on the example of Jesus in Philippians 2:1-11 who truly has the character of a servant’s heart ministry in the world. This research uses a descriptive literature method, which is to learn about the Theological Review of Servant Leadership According to Philippians 2:1-11 For Congregational Character Building from the point of view of the truth of God’s Word, because the Bible is the standard of life for believers. The aim is that trough this writing, First, servant-hearted leadership becomes the lifestyle of every Christian leader. Second, Christian leaders can impart a good example to every believer according to the example of Jesus. Third, the character of the congregation is getting better. Fourth, God’s church grows to the maximum and can produce futher spiritual leaders who have a servant’s heart.Abstrak Kepemimpinan adalah hal yang sangat penting. Kepemimpinan akan sangat mempengaruhi seluruh aspek kegerakan dalam gereja Tuhan. Kepemimpinan yang baik akan menghasilkan sebuah gerakan yang luar biasa, namun jika kepemimpinan tidak baik, maka akan membawa kemunduran dalam sebuah gereja. Tuhan memberikan kepercayaan kepada para pemimpin gereja untuk membawa setiap gereja menjadi makin lebih maju dan berbuah bagi Kerajaan Allah. Kepemimpinan juga memengaruhi karakter jemaat. Tuhan merindukan setiap jemaat yang ada dalam gereja Tuhan memiliki karakter yang seperti Kristus. Namun problem yang muncul dalam dalam sebuah kepemimpinan adalah ketika seseorang mendapat kepercayaan memimpin dalam sebuah gereja, cenderung otoriter dan semena-mena. Tidak mendasarkan kepemimpinan dengan hati hamba. Konteks pembahasan ini difokuskan kepada teladan Yesus dalam Filipi 2:1-11 yang sungguh memiliki karakter hati hamba dalam pelayanan di dunia. Penelitian ini menggunakan metode diskritif literatur, yaitu mempelajari tentang pribadi Tinjauan Teologis Kepemimpinan Berhati Hamba Menurut Filipi 2:1-11 Bagi Pembentukan Karakter Jemaat dari sudut pandang kebenaran Firman Tuhan, sebab Alkitab adalah standart kehidupan orang percaya. Tujuannya supaya lewat penulisan ini yaitu Pertama, kepemimpinan berhati hamba menjadi gaya hidup setiap pemimpin Kristen. Kedua, pemimpin Kristen dapat mengimpartasikan teladan yang baik bagi setiap orang percaya sesuai dengan teladan Yesus. Ketiga, karakter jemaat menjadi lebih baik. Keempat, gereja Tuhan bertumbuh dengan maksimal dan bisa memunculkan pemimpin-pemimpin rohani selanjutnya yang memiliki hati hamba.
Mikha Agus Widiyanto, Nostry Nostry
EDULEAD: Journal of Christian Education and Leadership, Volume 2, pp 276-286; https://doi.org/10.47530/edulead.v2i2.83

Abstract:
Sunday school teachers have an important role in the children's spiritual formation. Through the right ministry strategy, children could be guided to grow in their spiritual life. This study aimed to examine the effective Sunday school teacher service strategies in increasing the children's spiritual growth. The method used in this research was correlational. The research was conducted at the Indonesian Gospel Kemah Church, Kombeng District and Telen District, East Kutai District. The results showed that the Sunday school teacher service strategy had a significant effect on children's spiritual growth. Through child-centered learning and teaching creatively the Word of God have an impact on children's spiritual growth and improvement
Elia Tambunan
EDULEAD: Journal of Christian Education and Leadership, Volume 2, pp 194-218; https://doi.org/10.47530/edulead.v2i2.81

Abstract:
Innocently, there are scholars of Christian education who see Christian history as clean of political interests an sich. The impact is bad. They have no political analysis competence. In fact, the praxis of education is intertwined with politics. With historical data around the early centuries of Roman Christianity (90-500 A.D), and with historiographical research, it was found that Christian educators also played literacy politics. Pauls writings in New Testament theology, the works of the Bishops, Presbyters, and Deacons, particularly the Roman West and Byzantine East regions under the persecution of several emperors had political tones. The literacy war is the determinant of success in penetrating teachings into the palace circle. Christianity succeeded in overthrowing the ideology of Romanism. Caesar is the guarantee of the freedom of believers in Christ, saving lives from massacre. This paper proposes that learning of political competence and educational literacy are very important at the level of Christian religious higher education and society.Abstrak Dengan polos, ada saja sarjana Pendidikan Kristen yang melihat sejarah agama Kristen bersih dari kepentingan politik secara an sich. Akibatnya buruk. Mereka tidak punya kecakapan analisis politik. Padahal, praksis pendidikan saling menganyam dengan politik. Dengan data sejarah di seputar abad awal kekristenan Romawi (tahun 90-500), dan dengan penelitian historiografi, ditemukan bahwa pendidik Kristen juga memainkan politik literasi. Tulisan Paulus dalam teologi Perjanjian Baru, karya Para Bishop, Presbiter, dan Diaken khususnya wilayah Barat Romawi dan wilayah Timur Bizantium di bawah persekusi beberapa emperor bertonasi politik. Perang literasi menjadi penentu sukses dalam melakukan penetrasi ajaran ke dalam lingkaran istana. Kekristenan sukses menumbangkan ideologi Romanisme. Kaisar adalah jaminan kebebasan orang beriman kepada Kristus, meluputkan nyawa dari pembantaian. Tulisan ini mengusulkan pembelajaran kecakapan politik dan literasi pendidikan sangat penting di aras pendidikan tinggi keagamaan Kristen dan masyarakat.
Ahmad Tabrani, Ida Destariana Harefa
EDULEAD: Journal of Christian Education and Leadership, Volume 2, pp 287-305; https://doi.org/10.47530/edulead.v2i2.82

Abstract:
This research was conducted with a literature review that fully searches for literary sources such as book, research journals related to research topics and several articles and news sources. The analysis is presented descriptively to discuss the condition of Indonesia’s human resources in the midst of changing times and how Christian education can contribute to build innovative human resources. The conclusion is that Christian education not only emphasizes Christian dogmas, but must be able to bring students to understand their vocation and role in society. Christian education not only shapes the character of students, but must develop the potential in students. This can be done if educators see and treat students as individuals who have large amount of potential to be discovered, grateful for and developed. The learning process that is indoctrination must begin to be abandoned and replaced with a learning process that helps students to search and find knowledge. Christian education that applies an empowering learning process by training high-level thinking patterns where the thinking process is analytical, evaluative and creative thinking. Thus students are prepared to have the ability to innovate.
Romini Romini
EDULEAD: Journal of Christian Education and Leadership, Volume 2, pp 219-234; https://doi.org/10.47530/edulead.v2i2.66

Abstract:
This study aims to improve the quality of education in the integrated Pniel Chiristian Kinderagarten to make it more interesting, child-centred learning, and more creative learning, and more creative learning activities. Through implementation of the Beyond Center and Circle Time (BCCT) learning model, it is hoped that it can improve the quality of education in the integrated Peniel Christian Kindergarten. The research method used was school Action Research (PTS) with teacher six apprentices, an six TOT as the research subjects.  Collecting data through observation, interviews, and documentation in the form of records of child development.  Te study was conducted in three cycles.  The results obtained through interview with 5 Kindergarten teacher of peniel stated that: learning activities are more fun, children are more creative and play according to their interests, and children tend to want to try every variety of play facilitatated by the teacher.  Children are seen to be more independent because they do their own activities and children prefer to play in the center, so that children can develop their creativity.  Teachers are also motivated to facilitate in preparing various games, develop children ‘s intellgence based on multiple intelegences, teachers focus more on center, so that it is more fun.   Paring various games, develop children’s intelligence based on multiple intelligences, teachers focus more on one center, so that it is more fun to accompany children ti learn, can make objects around them as a means of learning while playing. The central learning room is equipped with appropriate and supportive play, facilities.  From the 12 training participants stated: through the implementation of learning with beyond Center and circle Time (BCCT), the quality of education in the integrated Pniel Chritian Kindergarten can be increased, so that the Integrated Pniel Christian Kindergarten is chosen to be a Kindergarten pilot at the PESAT Foundation and become a training ground for PESAT kindergarten teachers. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan di TK Kristen Pniel Terpadu agar makin menarik, pembelajaran berpusat pada anak, dan kegiatan pembelajaran makin kreatif. Melalui Implementasi model pembelajaran Beyond Center and Circle Time (BCCT) di harapkan dapat meningkatkan kualitas Pendidikan di TK Kristen Pniel Terpadu. Metode penelitian digunakan dengan Penelitian Tindakan Sekolah (PTS) dengan subyek penelitian lima guru, enam peserta magang, dan enam peserta peserta TOT. Pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi berupa catatan perkembangan anak. Penelitian dilakukan dengan tiga siklus hasil yang diperoleh melalui wawancara kepada 5 guru TK Pniel menyatakan bahwa: kegiatan pembelajaran semakin menyenangkan, anak lebih kreatif dan bermain sesuai minatnya, dan anak cenderung ingin mencoba setiap ragam main yang difasilitasi guru. Anak lebih terlihat kemandiriannya karena melakukan kegiatan sendiri dan anak lebih senang bermain di sentra, sehingga anak dapat mengembangkan kreatifitasnya. Guru pun termotivasi untuk memfasilitasi dalam menyiapkan ragam permainan, mengembangkan kecerdasan anak berdasarkan kecerdasan majemuk, guru lebih fokus di satu sentra, sehingga lebih asyik dalam mendampingi anak belajar, dapat menjadikan benda-benda yang ada disekitar sebagai sarana belajar sambil bermain, ruang belajar/sentra diperlengkapi dengan sarana main yang sesuai dan mendukung. Dari 12 orang peserta training menyatakan: melalui penerapan pembelajaran dengan Beyond Center and Circle Time (BCCT) maka kualitas pendidikan di TK Kristen Pniel Terpadu dapat meningkat, sehingga TK Kristen Pniel Terpadu dipilih menjadi TK percontohan di Yayasan PESAT dan menjadi tempat pelatihan para-guru TK PESAT.
Hasahatan Hutahaean
EDULEAD: Journal of Christian Education and Leadership, Volume 2, pp 312-317; https://doi.org/10.47530/edulead.v2i2.69

Abstract:
Coaching for young people is an investment in the future for a nation, religion, church, and also the future of the world of education. Neglect for the formation of youth means sowing the seeds of destruction in the future. On the one hand, although giving attention and coaching to young people regularly if the content of the coaching material is not based on essence truth and based on Bible truth, this will also result in a misguided future in the nation, religion, church as well as in the world of education. The consequences of that mistake would have to be paid dearly in the future. Therefore it can be said that errors in understanding result in errors in practice. This book gives serious attention to this field by presenting Bible facts ranging from ethics, Christian education to the use of internet media among young people. Understanding the contents of this book will provide true insight on how to give attention and guidance to young people for a bright futureAbstrak Gereja memberikan perhatian pada pendidikan anak dan diwujudkan dalam bentuk pembinaan kategorial anak, pra-remaja, remaja dan dewasa. Hal ini bertujuan agar anak bertumbuh dalam kerohanian yang baik dan benar dan lebih takut pada Tuhan daripada takut pada sesama maupun falsafah hidup dunia yang tidak sesuai dengan pengajaran Alkitab. Buku ini memberikan panduan yang praktis dan mudah dimengerti bagi siapa saja yang terlibat dalam pembinaan kaum muda baik di Gereja maupun komunitas-komunitas dengan basis kaum muda. Penulis Buku biasanya menulis dengan memakai banyak contoh kasus yang telah ada, kemudian menggali Alkitab yang sesuai dengan topik sedang dibahas (studi kasus biasanya sampai 5 kasus), kemudian memberikan pengajaran yang menjadi pokok perhatian penulis. Ada enam belas topik yang dipaparkan penulis dalam buku ini dimana semuanya sangat penting dalam pendidikan agama kristen untuk kategorial anak hingga dewasa. Buku ini cocok untuk pemimpin yang memberikan perhatian dan upayanya untuk membentuk anak menjadi pemimpin masa depan yang tangguh.
Canny Christine, Karnawati Karnawati, Debora Nugrahenny C
EDULEAD: Journal of Christian Education and Leadership, Volume 2, pp 235-250; https://doi.org/10.47530/edulead.v2i2.77

Abstract:
Generation Alfa is the generation born in 2010 to 2025 where technological developments have advanced so that everything can be obtained easily. However, children's enjoyment of gadgets causes children to become more self-centered, anti-social and less confident, making it difficult to get along directly and difficult to be sensitive to other people's feelings and withdraw from social groups. In this case, the family has the task of laying the foundation for children's education, including providing basic social education. This study aims to determine the description of children's social skills and parenting patterns of Generation Alpha children (aged 7-10 years) at the Banyumanik Indonesian Baptist Church. This study uses a qualitative design as an approach that fits the existing problems. Based on the results of the study, it was found that most of the children had social skills towards themselves, others, and academic success. Meanwhile, social skills towards the home environment are still minimal. In terms of parenting, most parents apply democratic parenting which includes love, discipline, teaching, and role models. Abstrak Generasi Alfa adalah generasi yang lahir pada tahun 2010 hingga tahun 2025 di mana perkembangan teknologi sudah maju sehingga segala sesuatu dapat diperoleh dengan mudah. Akan tetapi kesenangan anak dengan gawai menyebabkan anak menjadi pribadi yang lebih mementingkan diri sendiri, anti-sosial dan kurang percaya diri sehingga sulit untuk bergaul secara langsung serta sulit untuk peka terhadap perasaan orang lain serta menarik diri dari kelompok sosial. Dalam hal ini, keluarga memiliki tugas sebagai peletak dasar bagi pendidikan anak termasuk memberikan pendidikan dasar sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran keterampilan sosial anak dan pola asuh orang tua anak Generasi Alfa (usia 7-10 tahun) di Gereja Baptis Indonesia Banyumanik. Penelitian ini menggunakan rancangan kualitatif sebagai pendekatan yang sesuai dengan permasalahan yang ada. Berdasarkan hasil penelitian, ditemukan bahwa sebagian besar anak telah memiliki keterampilan sosial terhadap diri sendiri, orang lain, dan keberhasilan akademik. Sedangkan keterampilan sosial terhadap lingkungan rumah masih minim. Dari segi pola asuh, sebagian besar orang tua menerapkan pola asuh demokratis yang di dalamnya meliputi kasih, disiplin, pengajaran, dan teladan.
Panca Parulian S.
EDULEAD: Journal of Christian Education and Leadership, Volume 2, pp 158-171; https://doi.org/10.47530/edulead.v2i2.80

Abstract:
Leadership always looks at three main aspects: the leader, the follower, and the situation. These three aspects also make leadership theory always tested in new contexts so that experts continue to seek which leadership theory is most effective in specific contexts. This has the consequence of the dominance of research related to leadership in the organizational context, which is also seen in Christian leadership studies in constructing Christian leadership. Analysis of Christian leadership usually focuses on God and one particular character. This article explains that at least three main aspects are needed to examine Christian leadership: theological, leadership process, and reflective. This article offers to read the text in its entirety and pay attention to each of the roles involved. Reading the text of Exodus 1-2 finds the leadership of the minority against the rulers, namely the midwives and Moses: creative disobedience and the death of a vision. Thorough leadership analysis is needed in building Christian leadership. Abstrak Kepemimpinan selalu melihat tiga aspek utama: pemimpin, pengikut, dan situasi. Tiga aspek itu juga yang membuat teori kepemimpinan selalu diuji dalam konteks yang selalu baru, sehingga para ahli terus mengupayakan teori kepemimpinan mana yang paling efektif dalam konteks tertentu. Hal itu memberikan konsekuensi dominasi penelitian terkait kepemimpinan dalam konteks organisasi terlihat juga dalam penelitian-penelitian kepemimpinan Kristen dalam mengonstruksi kepemimpinan Kristen. Analisis kepemimpinan Kristen biasanya terfokus pada Allah dan satu tokoh tertentu saja. Artikel ini memberikan pemahaman setidaknya diperlukan tiga aspek utama untuk mengkaji kepemimpinan Kristen: teologis, proses kepemimpinan, dan reflektif. Artikel ini menawarkan untuk membaca teks secara menyeluruh dan memerhatikan setiap peran yang terlibat. Pembacaan teks Keluaran 1-2 menemukan kepemimpinan dari kaum minoritas terhadap penguasa, yakni para bidan-bidan dan Musa: creative disobedience dan the death of vision. Analisis kepemimpinan yang menyeluruh diperlukan dalam membangun kepemimpinan Kristen.
Nelly Nelly
EDULEAD: Journal of Christian Education and Leadership, Volume 2, pp 306-311; https://doi.org/10.47530/edulead.v2i2.63

Abstract:
One of the teacher's duties is teaching. In order for learning to be carried out well and achieve the expected results, serious and thorough planning is required. Therefore, teachers must master various kinds of learning strategies that are able to create a conducive, effective and efficient learning atmosphere in achieving learning objectives. Learning strategies need to be supported by the motivation of students. The teacher needs to provide a stimulus so that it can generate intrinsic motivation (from within students) and extrinsic (from outside students) so that students want to continue learning, want to excel and want to know the next lesson. Students who are motivated will be able to learn with or without a teacher, are also able to study anywhere and anytime with diligent behavior and hard work to realize their expectations.Abstrak Salah satu tugas guru adalah mengajar. Agar pembelajaran dapat terlaksana dengan baik dan mencapai hasil yang diharapkan, dibutuhkan perencanaan yang serius dan matang. Oleh karenanya, guru harus menguasai berbagai macam strategi pembelajaran yang mampu menciptakan suasana belajar yang kondusif, efektif dan efisien dalam mencapai tujuan pembelajaran. Strategi pembelajaran perlu didukung oleh motivasi peserta didik. Guru perlu memberikan stimulus agar dapat memunculkan motivasi intrinsik (dari dalam diri peserta didik) maupun ekstrinsik (dari luar peserta didik) sehingga siswa ingin terus belajar, ingin berprestasi dan ingin mengetahui pelajaran berikutnya. Peserta didik yang memiliki motivasi akan mampu belajar dengan atau tanpa guru, juga mampu belajar di mana saja dan kapan saja dengan perilaku yang tekun dan kerja keras untuk mewujudkan harapan mereka.
Fredy Simanjuntak, Irfan Feriando Simanjuntak, Fransiskus Irwan Widjaja, Yudhy Sanjaya, Johannes Tarigan
EDULEAD: Journal of Christian Education and Leadership, Volume 2, pp 251-275; https://doi.org/10.47530/edulead.v2i2.79

Abstract:
In the History of Ancient leadership, the Old Testament is a collection of books containing narratives with the largest collection of leadership case studies ever written. The author observes the significance of biblical leadership found throughout scripture because it is rooted in the way God chose to work with mankind. However, the role of leadership is undeniably determining the welfare and glory of those they lead. In this study, the author tries to specifically examine Yusuf's leadership. A leadership pattern that is widely discussed because it is full of spiritual and moral dimensions. The purpose of this study is to provide a historical analysis of (1) Spirituality and morality in Yusuf's leadership. (2) Application of Joseph's Leadership Experience to the Church Today? The method used is descriptive analysis in the book of Genesis 37-50. The result of this research is that Yusuf's leadership can be a model as a good lesson not only for individuals in leadership positions but for all those who want to improve their character.Abstrak Dalam Sejarah kepemimpinan Kuno, kitab Perjanjian Lama merupakan kumpulan kitab yang berisi narasi dengan berbagai kumpulan studi kasus kepemimpinan terbesar yang pernah ditulis. Penulis mengamati signifikansi kepemimpinan alkitabiah ditemukan di seluruh kitab suci karena berakar pada cara Allah memilih untuk bekerja dengan umat manusia. Bagaimanapun peranan kepemimpinan tidak terbantahkan menentukan perihal kesejahteraan maupun kejayaan mereka yang dipimpin. Dalam Penelitian ini penulis mencoba untuk mengkaji secara khusus kepemimpinan Yusuf. Suatu pola kepemimpinan yang banyak dibicarakan karena sarat akan dimensi spiritual dan moralnya. Tujuan penelitian ini untuk memberikan analisis historis mengenai (1) Spiritualitas dan moralitas dalam kepemimpinan Yusuf. (2) Aplikasi dari Pengalaman Kepemimpinan Yusuf Bagi Gereja Di Masa Kini. Metode yang digunakan adalah analisis deskriptif pada kitab Kejadian 37-50. Hasil penelitian ini adalah kepemimpinan Yusuf menjadi model berharga sebagai pelajaran yang baik bukan hanya bagi individu dalam posisi kepemimpinan tetapi semua orang yang ingin meningkatkan karakter mereka.
Paulus Purwoto
EDULEAD: Journal of Christian Education and Leadership, Volume 2, pp 89-101; https://doi.org/10.47530/edulead.v2i1.62

Abstract:
The role of believers and the church in actualizing the mission has a wrong mindset towards the basic concepts of missiology which results in not maximizing the preaching of the good news to others. Some people claim to be Christian but are reluctant to carry out the Great Commission and Paradigm that wrongly denounces the role of believers in evangelizing. For this reason, the church in Christian education is expected to be able to provide understanding to church members to be able to make Christian education the basis and means of evangelism. Using a qualitative descriptive approach, this research can be started by describing the mission and nature of the mission that Christian education must begin with an understanding related to the nature of missiology as the basis and driving force for the mission. Furthermore, the mission in Christian Education must also be a curriculum that is continuously taught to regenerate the Lord's congregation to continue to actualize the mandate of the Great Commission. so that the Church and Mission as a source of actualization can be realized and become the lifestyle of believers as part of the church.AbstrakPeran orang percaya dan gereja dalam mengaktualisasi misi memiliki mindset yang salah terhadap konsep dasar misiologi yang mengakibatkan tidak maksimalnya pemberitaan kabar baik bagi orang lain. Adanya orang yang mengaku Kristen, tetapi enggan untuk melakukan Amanat Agung dan Paradigma yang salah mengakibatkan tidak maksimalnya peran orang percaya dalam menginjil. Untuk itu gereja dalam pendidikan Kristen diharapkan mampu memberikan pemahaman kepada anggota gereja untuk dapat menjadikan pendidikan Kristen sebagai dasar dan sarana penginjilan. Menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif penelitian ini dimulai dengan mendeskripsikan misi dan hakikat misi, selanjutnya pendidikan Kristen yang dimulai dengan pengertian yang berkaitan terhadap konsep dasar Misiologi sebagai motivasi atau penggerak dalam melakukan misi. Dan misi dalam Pendidikan Kristen juga harus menggunakan kurikulum misi yang terus diajarkan untuk meregenerasi jemaat Tuhan untuk terus mengaktualisasi mandat Amanat Agung. sehingga gereja dan misi sebagai sumber Aktualisasi dapat terwujud dan menjadi gaya hidup orang percaya sebagai bagian dari gereja.
Simon Simon
EDULEAD: Journal of Christian Education and Leadership, Volume 2, pp 17-35; https://doi.org/10.47530/edulead.v2i1.60

Abstract:
This article reviews how to base Christian Religious Education on ecological problems. This topic is needed to be discussed because Christianity is often seen as not paying attention to ecological problems. Christianity is considered to be more dominant in paying attention to doctrinal than on ecological issues. Christian religious educators as cognitive and moral stewardship of students are expected to contribute to landing PAK (Christian Education) on the ecological problems that occur. The method used in this paper is descriptive qualitative with a literary approach. The description of this article shows how the role of PAK is seen in ecological problems, of course, PAK teachers teach and develop paradigms of ecological problems among students. PAK teachers teach intermittently about ecological issues with full creativity. The PAK teachers themselves became aware of the actual actions being taken. This issue is important to pay attention to or analyze, so that humans have full awareness in maintaining their environment, so as not to leave a damaged natural heritage in the next generation. Abstrak Artikel ini mengulas bagaimana mendaratkan Pendidikan Agama Kristen pada permasalahan ekologi. Topik ini perlu dibahas karena kekristenan sering dianggap tidak peduli pada masalah-masalah ekologi. Kekristenan dianggap lebih dominan memberi perhatian pada pengajaran dokrinal iman dibandingkan mengenai permasalahan ekologi. Pendidik Agama Kristen sebagai penata kognitif dan penata moralitas nara-didik, diharapkan dapat berkontribusi bagaimana mendaratkan PAK pada permasalahan ekologi yang terjadi. Metode yang digunakan pada tulisan ini tentunya deskriftif kualitatif dengan pendekatan literatur. Uraian dari dari artikel ini bagaimana peran PAK terlihat dalam permasalahan ekologi, tentunya pendidik PAK mengajarkan dan membangun paradigma permasalahan ekologi bagi nara-didik. Pengajar PAK mengajarkan secara berkesinam-bungan mengenai permasalahan ekologi dengan penuh kreativitas. Diri pengajar PAK menjadi teladan dengan adanya tindakan yang nyata diperbuat. Masalah ini penting untuk diperhatikan atau ditelaah, supaya manusia memiliki kesadaran yang penuh dalam menjaga lingkungannya, agar tidak meninggalkan warisan alam yang rusak kepada generasi yang akan datang.
Santosa Santosa
EDULEAD: Journal of Christian Education and Leadership, Volume 2, pp 71-88; https://doi.org/10.47530/edulead.v2i1.61

Abstract:
Technological disruption has an impact on fundamental changes in the order of human life. The disruption of technology has a positive and negative impact on human life. Facing the change and the impact of the technological disruption, the role of parents is very important in shaping leadership in children. This research was conducted by studying literature and text analysis of the Book of Deuteronomy 6:6-9. The results of this study aim to describe the urgency of the role of parents in building children's leadership according to Deuteronomy 6:6-9 in an era of technological disruption. The conclusion is the urgency of the role of parents in building children's leadership in an era of technological disruption according to Deuteronomy 6:6-9, among others: 1) To become spiritual educators of children. 2) Become a role model for spiritual discipline. 3) Discipline the spiritual growth of children. 4) Improve the relationship with children. 5) Give children responsibility for their spiritual growth. 6) Become a role model in healthy social media.AbstrakDisrupsi teknologi berdampak terhadap perubahan tatanan kehidupan manusia secara fundamental. Disrupsi teknologi memberi dampak positif dan negatif bagi kehidupan manusia. Menghadapi perubahan dan dampak akibat disrupsi teknologi, peran orang tua sangat penting dalam membentuk kepemimpinan dalam diri anak. Penelitian ini dilakukan dengan studi literatur dan analisis teks Kitab Ulangan 6: 6-9. Hasil penelitian ini bertujuan mendiskripsikan urgensi peran orang tua membangun kepemimpinan anak menurut Kitab Ulangan 6: 6-9 di era disrupsi teknologi. Diperoleh kesimpulan urgensi peran orang tua membangun kepemimpinan anak di era disrupsi teknologi menurut Ulangan 6: 6-9 antara lain: 1) Menjadi pendidik rohani Anak. 2) Menjadi role model disiplin rohani. 3) Mendisiplin pertumbuhan rohani anak. 4) Meningkatkan relasional dengan anak. 5) Memberi tanggungjawab anak terhadap pertumbuhan rohaninya. 6) Menjadi role model bermedia sosial sehat.
Hery Susanto
EDULEAD: Journal of Christian Education and Leadership, Volume 2, pp 1-16; https://doi.org/10.47530/edulead.v2i1.55

Abstract:
Multicultural Christian education is in line with the diversity that exists in Indonesia. Theologically, Christian education contains elements of knowing God which is universal so that it is not only controlled by the Jews. In the Jewish tradition Christian education was intense, but Jesus extended that teaching beyond the boundaries of Jewish culture and tradition. The culture used is the culture of God's kingdom that puts forward the power of God's government in the world and heaven. In every human culture, there is always room for religiosity, and that is what must be taught. The Lord Jesus teaches anyone to be able to know God's Kingdom and His will in human culture. The method used is a literature qualitative research method by comparing various sources of writing related to multicultural Christian education and its implementation in Christian education in Indonesian culture.AbstrakPendidikan kristiani multikultural sangat sesuai dengan keberagaman yang ada di Indonesia. Secara teologis, pendidikan Kristiani mengandung unsur pengenalan akan Tuhan yang universal sehingga bukan hanya dikuasai oleh orang Yahudi saja. Dalam tradisi Yahudi pendidikan kristiani sangan intens, tetapi Yesus mengembangkan pengajaran itu melampaui batasan budaya dan tradisi Yahudi. Budaya yang digunakan adalah budaya kerajaan Allah yang lebih menekankan kuasa pemerintahan Allah di dalam dunia dan di surga. Setiap budaya manusia selalu memberi ruang bagi religiusitas, dan itulah yang harus diajarkan. Tuhan Yesus mengajarkan kepada siapapun untuk dapat mengenal Kerajaan Allah dan kehendak-Nya dalam budaya manusia. Metode yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif literature dengan membandingkan berbagai sumber tulisan yang terkait dengan pendidikan kristiani multikultur dan implementasinya dalam pendidikan kristiani dalam budaya masyarakat Indonesia.
Ebenhaizer Imanuel Nuban Timo
EDULEAD: Journal of Christian Education and Leadership, Volume 2, pp 36-52; https://doi.org/10.47530/edulead.v2i1.57

Abstract:
Abstrak Penulis mendiskusikan sikap penolakan terhadap kehadiran anak-anak penerima baptisan dalam perayaan Perjamuan Kudus sebagaimana yang dipraktekkan kebanyakan jemaat dalam lingkungan Gereja Kristen Jawa (GKJ). Bertolak dari penelitian terhadap Pokok-Pokok Ajaran (PPA) GKJ, penulis menunjukkan adanya inkonsistensi dalam penerapan PPA-GKJ. Pada satu sisi GKJ memahami Perjamuan Kudus sebagai perlambang kehidupan keluarga Allah. Tetapi pada sisi lain, anak-anak penerima baptisan tidak terhisab dalam keluarga Allah sehingga ditolak kehadirannya dalam Perjamuan Kudus. Ada dua penyebab yang melandasi praktek ini. Pertama, penetapan persyaratan yang terlalu tinggi bagi keikut-sertaan dalam Perjamuan Kudus. Kedua, masih kuat pengaruh paham dalam budaya Jawa tradisional tentang anak-anak sebagai kaum yang tidak bisa disetarakan dengan orang dewasa. Perspektif rangkap dari Roberth Schreiter yakni membuka tradisi gereja dan membuka budaya dipakai penulis untuk memperlihatkan bahwa penolakan terhadap anak-anak dalam Perjamuan Kudus merupakan tindakan yang bertentangan dengan hakikat Perjamuan Kudus. Abstract The author discusses the prohibition of entry of baptized children in the celebration of Holy Communion as practiced by most congregations in Christian Church of Java (Gereja Kristen Jawa/GKJ, Bahasa Indonesia). Drawing from the research conducted on the Principle Teachings (Pokok-Pokok Ajaran/PPA, Bahasa Indonesia) of GKJ, the author explains that there are inconsistencies in the implementation of PPA-GKJ. On one hand, GKJ understands that the Holy Communion is a symbol of life in God’s family. On the other hand, baptized children are not included within God’s family, which is the reason why they are not allowed to attend Holy Communion. There are two main reasons why this happens. First, difficult requirement for the permission to attend Holy Communion. Second, strong traditional Javanese ideology to exclude children from adult activities. The author employs Double perspective from Roberth Schreiter to analyze church tradition and culture to show that excluding children from Holy Communion contrasts to the main essence of Holy Communion.
Aby Gayel, Stimson Hutagalung, Rolyana Ferinia
EDULEAD: Journal of Christian Education and Leadership, Volume 2, pp 102-119; https://doi.org/10.47530/edulead.v2i1.52

Abstract:
The purpose of this study is to obtain a description concerning the application of the right discipline influences and the pastor’s role model towards the faithfulness of the pastor’s children to God. This study uses the descriptive method by giving a questionnaire to the pastor’s children whose parents serve as the pastor at the Jakarta Local Conference Seventh Day Adventist Church with 108 samples of pastor’s children aged from 15 years old randomly determined. The results show that most of the pastor’s children had a good perception of the application of the right discipline that must be started early and the role model of the pastors towards the faithfulness of pastor’s children to God. The expected implication is that the pastor and his whole family can be a good example for the church community in particular so as not to be a bad impact on the spiritual growth of the congregation.AbstrakTujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan deskripsi tentang penerapan disiplin yang benar dan peran keteladanan pendeta terhadap kesetiaan anak-anak pendeta kepada Tuhan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan memberikan angket kepada anak-anak pendeta dimana orang tua mereka melayani di Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh (GMAHK) Konfrens DKI Jakarta dengan sampel 108 orang anak-anak pendeta dengan usia 15 tahun keatas yang ditentukan secara acak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar anak pendeta memiliki persepsi yang baik mengenai penerapan disiplin yang benar yang harus dimulai sejak dini, dan bahwa pendeta harus menunjukan keteladanan melalui pola hidup bukan hanya melalui pengajaran, sehingga melalui penerapan disiplin yang benar dan peran keteladanan seorang pendeta akan mempengaruhi peningkatan kesetiaan anak-anak pendeta kapada Tuhan. Implikasi yang diharapkan adalah agar pendeta dan seluruh keluarganya dapat menjadi teladan yang baik bagi masyarakat gereja secara khusus agar tidak menjadi dampak buruk bagi pertumbuhan kerohanian jemaat.
Yornan Masinambow
EDULEAD: Journal of Christian Education and Leadership, Volume 2, pp 120-136; https://doi.org/10.47530/edulead.v2i1.59

Abstract:
Pendidikan merupakan bagian penting dalam setiap kehidupan dalam hal ini memajukan suatu peradaban manusia. Begitupun di Indonesia dengan kemajemukannya, pendidikan menjadi hal yang penting bagi kemajuan bangsa. Namun, pendidikan di Indonesia masih berpatokan pada corak pendidikan barat. Hal tersebut juga merambah pada Pendidikan agama dalam hal ini Pendidikan Kristen yang secara historis kekristenan berkembang pada waktu zaman penjajahan. Pendidikan Kristen yang hadir berwawasan barat serta bercorak esklusif dalam masyarakat Indonesia yang plural. Oleh karena itu, Pendidikan Kristen perlu untuk mengalami transformasi agar sesuai dengan konteks kebangsaan Indonesia yang majemuk. Artikel ini menggunakan penelitian studi kepustakaan, melalui pengkajian serta perumusan konsep pendidikan kristen yang ditransformasi dalam konteks kebangsaan Indonesia. Melalui paparan dalam pembahasan dapat dikatakan bahwa transformasi Pendidikan Kristen konteks kebangsaan Indonesia bersifat inklusif, dialogis, serta menghargai, menghormati berbagai macam latar belakang budaya lokal, agama di Indonesia. Melalui transformasi, identitas pendidikan kristen menjadi orisinil Indonesia yang menghargai kemajemukan serta tidak lagi terkukung oleh corak doktrinal esklusif barat. Transformasi pendidikan kristen dalam konteks Indonesia juga menekankan nilai Pancasila sebagai identitas bersama dan juga kerukunan sebagai dasar pembelajaran, serta secara teologis menghadirkan cinta kasih bagi sesama dalam pemberitaan Injil.
Linda Zenita Simanjuntak
EDULEAD: Journal of Christian Education and Leadership, Volume 2, pp 137-142; https://doi.org/10.47530/edulead.v2i1.54

Abstract:
Buku ini ditulis secara oleh beberapa dosen yang mengampu kuliah Agama Kristen Protestan di Universitas Sumatera Utara (USU), di Medan. Buku ini memberikan kaidah untuk bertindak secara kristen dalam tatanan etika. Dijelaskan bahwa moralitas yang benar adalah orang kristen yang bertumbuh dalam persekutuan dengan Allah dan firmanNya. Sebab, mempelajari firmanNya mempunyai maksud untuk serupa dengan gambaran Yesus Kristus. Untuk proses belajar mengajar, dari sisi peserta didik, Buku Ajar adalah pegangan dalam pembelajaran untuk tiap-tiap mata kuliah. Buku ajar seperti ini penting untuk menuntun mahasiswa mendalami materi (inquiry) yang menjadi daya tarik tersendiri dengan memeriksa buku-buku referensi yang dicantumkan.
Kosma Manurung
EDULEAD: Journal of Christian Education and Leadership, Volume 2, pp 53-70; https://doi.org/10.47530/edulead.v2i1.53

Abstract:
Children love languages is the language of expression and acceptance of the child. Through this love language, children express themselves and also measure the acceptance they get from the people around them. Every child has their own love language when communicating and parents are expected to understand their children's love language. The purpose of the research in this article is to understand the importance of using the language of love for children in Christian families. This research uses a descriptive method and literature review. The five languages of child love discussed in this article are physical touch, words of affirmation, quality time, acts of service, and gifts. Based on the results of this study, children's love language is important to be understood by parents because it is a medium for children's communication. By understanding the language of love for children, parents are expected to be able to prevent various crimes so that family harmony is maintained. Besides, understanding the children's love language will be able to increase the child's potential and become a family that other families can follow. Abstrak Bahasa cinta anak adalah bahasa ekspresi dan penerimaan anak. Melalui bahasa cinta ini anak-anak mengekspresikan dirinya sekaligus juga mengukur penerimaan yang dia dapat dari orang-orang disekitarnya. Setiap anak memiliki bahasa cintanya sendiri ketika berkomunikasi dan para orang tua diharapkan memahami bahasa cinta anak mereka. Adapun tujuan dari penelitian artikel ini adalah ingin memaknai arti penting penggunaan bahasa cinta anak dalam keluarga Kristen. Penelitian ini menggunakan metode deskripsi dan kajian literatur. Kelima bahasa cinta anak yang dibahas dalam artikel ini adalah sentuhan fisik, kata-kata peneguhan, waktu berkualitas, tindakan melayani dan hadiah. Berdasarkan hasil penelitian ini bahasa cinta anak penting untuk dipahami oleh para orang tua karena itu adalah media berkomunikasi anak. Dengan memahami bahasa cinta anak para orang tua diharapkan bisa mencegah berbagai kejahatan sehingga keharmonisan keluarga terjaga. Selain itu pemahaman bahasa cinta anak akan bisa meningkatkan potensi diri anak, dan menjadi keluarga yang bisa diteladani oleh keluarga lainnya.
Marde Christian Stenly Mawikere
EDULEAD: Journal of Christian Education and Leadership, Volume 1, pp 232-236; https://doi.org/10.47530/edulead.v1i2.49

Abstract:
The development of education displayed by the rapid growth in science and technology has become a tremendous blessing and benefit for humans and the universe. However, this is not directly proportional to the attitudes, emotions and dispositions of humans who are held hostage in various evil behaviors that harm fellow humans and the universe. This is realized because there is an imbalance between education which only emphasizes wisdom or controls the human brain, but is not accompanied by the formation of spirituality, character building and life experiences that are consistent with what is learned rationally. Awareness of the significance and urgency of character education in Indonesia, this book was born to revive the importance of the world and nuances of education that touch humans as a whole with the concept of moral, moral attitude, and moral behavior in human self. Thus, it will stimulate the world of education to pay attention to human transformation holistically.AbstrakPerkembangan pendidikan yang ditampilkan dengan pertumbuhan pesat dalam ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi berkat dan manfaat yang dahsyat bagi manusia dan alam semesta. Akan tetapi hal itu tidak berbanding lurus dengan sikap, emosi dan watak manusia yang tersandera dalam berbagai perilaku kejahatan yang merugikan sesama manusia dan alam semesta. Hal ini disadari oleh karena adanya ketimpangan antara pendidikan yang hanya menekankan hikmat atau mengasa otak manusia, namun tidak dibarengi dengan formasi spiritualitas, pembentukan karakter dan pengalaman hidup yang konsisten dengan apa yang dipelajari secara rasional. Kesadaran akan siginifikansi dan urgensi pendidikan karakter di Indonesia, maka buku ini lahir untuk membangkitkan kembali pentingnya dunia dan nuansa pendidikan yang menyentuh manusia secara utuh dengan konsep moral (moral knonwing), sikap moral (moral felling), dan perilaku moral (moral behavior) dalam diri manusia. Dengan demikian akan merangsang dunia pendidikan untuk memperhatikan transformasi manusia secara holistik.
Suhadi Suhadi, Yonatan Alex Arifianto
EDULEAD: Journal of Christian Education and Leadership, Volume 1, pp 129-147; https://doi.org/10.47530/edulead.v1i2.32

Abstract:
Real leadership begins with the person of a leader with a servant's heart, then is revealed to be outside serving others. It is Jesus who is a model role model for Christian leaders, so that Christian leaders are given the ability by God to bring about changes as God wants. Christian leaders are able to bring change for the better, more useful to God and others, because Christian leaders are agents of change in this Melenial era, who bring generations to understand new literacy and are not technology blind. This writing uses a literature research method with a descriptive qualitative approach, so that it can describe Christian leaders, by dividing the understanding of leaders specifically in Christian leadership. So that they can qualify Christian leaders and make leadership an agent of change in the ways and steps that Christian leaders take to become agents of change. Christian leadership can be a reference for advancing the millennial generation and being a role model through agents of change who can bring technology to become a necessity today Abstrak Kepemimpinan yang sesungguhnya dimulai dari diri pribadi seorang pemimpin dengan hati seorang hamba, kemudian dinyatakan keluar untuk melayani orang lain. Yesuslah yang menjadi model teladan bagi pemimpin Kristen, sehingga pemimpin Kristen diberikan kemampuan oleh Allah untuk membawa perubahan sesuai yang dikehendaki oleh Allah. Pemimpin Kristen mampu membawa perubahan kearah yang lebih baik, lebih berfaidah bagi Allah dan sesamanya, karena pemimpin Kristen adalah agen perubahan di era Melenial ini, yang membawa generasi mengerti literasi baru dan tidak buta teknologi. Kepemimpinan Kristen dapat menjadi acuan untuk memajukan semangat melalui agen perubahan yang dapat membawa teknologi menjadi sebuah kebutuhan ini yang menjadi tujuan penulis dengan menggunakan kajian pustaka dan literature yang mendukung diharapkan artikel ini menjadi acuan pemimpin Kristen.
Alfons Renaldo Tampenawas, Erna Ngala, Maria Taliwuna
EDULEAD: Journal of Christian Education and Leadership, Volume 1, pp 214-231; https://doi.org/10.47530/edulead.v1i2.44

Abstract:
This article uses a qualitative method with a literature studi approach that discusses the example of Jesus for Christian teachers based on the Gospel of Matthew. A Christian teacher has a responsibility in teaching. The example of Jesus is the basis for the Christian teacher’s life in teaching. This article aims to look at how Jesus taught and set the example in the Gospel of Matthew and how it applies to Christian teacher today. The results of this study indicate that Jesus lived His teachings and became an example or pattern for His disciples, so that this study is expected to become a basis for every Christian teacher today to love the life of Jesus Christ and make Jesus the main principle of exemplary.AbstrakArtikel ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi literatur yang membahas keteladanan Yesus bagi guru Kristen berdasarkan Injil Matius. Seorang guru Kristen memiliki tanggungjawab dalam pengajarannya. Keteladanan Yesus menjadi dasar untuk kehidupan guru Kristen dalam hal pengajaran. Artikel ini bertujuan untuk melihat bagaiamana Yesus mengajar dan memberikan teladan di dalam injil Matius dan implementasinya bagi guru Kristen masa kini. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa Yesus menghidupi pengajaranNya serta menjadi teladan atau pola bagi murid-muridNya, sehingga kajian ini diharapkan bisa menjadi suatu landasan bagi setiap guru Kristen di masa kini untuk menghidupi kehidupan Yesus Kritus dan menjadikan Yesus sebagai prinsip utama keteladanan.
Syukbertien Kariani Lombu, Eny Suprihatin
EDULEAD: Journal of Christian Education and Leadership, Volume 1, pp 114-128; https://doi.org/10.47530/edulead.v1i2.31

Abstract:
The research entitled The Study of the Development of Patience of Children 4-5 Years through Queuing Culture at Bina Kasih Terpadu Kindergarten, Rumah Sumbul Village, Sibolangit District, Deli Serdang Regency, North Sumatra Province, aims to explore the results of queuing cultural habituation for Kindergarten A students in terms of development. patience. This type of research is field research (field research) using qualitative descriptive methods, which try to reveal the facts as they are. Qualitative research is an indepth study. Field research steps were carried out using descriptive data in the form of written and spoken words, observations of behavior and phenomena. Qualitative research emphasizes the meaning, reasoning, and definition of certain situations in certain contexts. Researching everyday life. The study was conducted on 9 children. From observations, it appears that children push each other and overtake when getting off the school bus, push friends when shaking hands with the teacher, place shoes carelessly on the shelf when entering class, run while washing their hands and run around on the bus when they come home from school. Therefore it is interesting to study the development of patience for children aged 4-5 years through the habit of queuing. Data were collected through observation, interviews and documentation. The habit of queuing starts at 08:00 WIB when the children get off the bus, at 08:30 WIB when entering class, at 10:30 WIB when washing their hands and at 11:00 WIB when the children take the bus back home. The results showed that through habituation queuing was able to develop patience in Bina Kasih Terpadu Kindergarten children group A. The conclusion was that children's patience could be developed through habituation. In this case it is the cultural habituation of queuing.AbstrakPenelitian dengan judul Studi Tentang Perkembangan Kesabaran Anak 4-5 Tahun Melalui Budaya Antre di TK Bina Kasih Terpadu, Desa Rumah Sumbul, Kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang, Provinsi Sumatera Utara, bertujuan untuk mendalami hasil pembiasaan budaya antre bagi siswa TK A dalam hal perkembangan kesabaran. Jenis penelitian ini adalah Penelitian lapangan (field research) menggunakan metode deskriptif kualitatif, yang berusaha mengungkapkan fakta apa adanya. Penelitian kualitatif merupakan penyelidikan mendalam (indepth study). Dilakukan langkah-langkah penelitian lapangan menggunakan data deskriptif berupa kata-kata tertulis maupun lisan, pengamatan perilaku serta fenomena-fenomena. Penelitian kualitatif memberikan penekanan pada makna, penalaran, definisi situasi tertentu dalam konteks tertentu. Meneliti kehidupan sehari-hari. Penelitian dilakukan pada 9 anak. Dari pengamatan tampak anak saling dorong dan mendahului saat turun dari bus sekolah, mendorong teman saat bersalaman dengan guru, meletakkan sepatu dengan sembarangan di rak ketika masuk kelas, berlari saat mencuci tangan dan berlarian naik bus saat pulang sekolah. Oleh sebab itu menarik untuk diteliti perkembangan kesabaran anak usia 4-5 tahun melalui pembiasaan antre. Data dikumpulkan melalui pengamatan, wawancara dan dokumentasi. Pembiasaan antre dilakukan mulai jam 08:00 WIB saat anak-anak turun dari bus, jam 08:30 WIB saat masuk dalam kelas, jam 10:30 WIB saat mencuci tangan dan jam 11:00 WIB saat anak-anak naik bus pulang ke rumah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa melalui pembiasaan antre mampu mengembangkan kesabaran pada anak TK Bina Kasih Terpadu kelompok A. Kesimpulannya adalah bahwa kesabaran anak dapat dikembangkan dengan jalan pembiasaan. Dalam hal ini adalah pembiasaan budaya antre.
Wisnu Prabowo
EDULEAD: Journal of Christian Education and Leadership, Volume 1, pp 162-179; https://doi.org/10.47530/edulead.v1i2.39

Abstract:
Christian leadership is an important thing that must be prepared properly. Christian values must be a value that differentiates them from other leadership values. A Christian leader is not just an ordinary leadership role. Christian leaders must also be able to prepare a leadership successor. In the leadership of Imam Eli, Samuel was the successor to the leadership chosen by God. Samuel was a stranger to Imam Eli, but God prepared Samuel to be the successor of Imam Eli's leadership. This study is a qualitative study using the literature study method. This study examines the attitudes and roles of Elkanah and Hannah as parents in Samuel's childhood life. The results obtained are: First, parents who are obedient and loyal to God have an important role in the early stages of forming a Christian leader. Second, parents must take care and must prepare each child properly in order to be able to serve God and to become a Christian leader. After caring for and preparing a child, parents must also give consent for their child to serve God. Christian leadership is not formed in an instant way, but is formed when prospective Christian leaders are young.AbstrakKepemimpinan kristen adalah hal penting yang harus dipersiapkan dengan baik. Nilai-nilai kekristenan harus menjadi nilai yang membedakan dengan nilai kepemimpinan yang lainnya. Seorang pemimpin kristen bukan hanya sekedar menjalankan peran kepemimpinan yang biasa saja. Pemimpin kristen juga harus mampu menyiapkan seorang penerus kepemimpinan. Di dalam kepemimpinan Imam Eli, Samuel adalah penerus kepemimpinan yang dipilih Tuhan. Samuel adalah orang asing bagi Imam Eli, tetapi Tuhan menyiapkan Samuel untukbisa menjadi penerus kepemimpinan Imam Eli. Kajian ini merupakan penelitian kualitatif yang menggunakan metode studi pustaka. Kajian ini meneliti sikap dan peran Elkana dan Hana sebagai orang tua di dalam kehidupan masa kanak-kanak Samuel. Hasil kajian yang diperoleh adalah: Pertama, orang tua yang taat dan setia kepada Tuhan mempunyai peran penting di dalam tahap awal pembentukan seorang pemimpin kristen. Kedua, orang tua harus merawat dan harus mempersiapkan setiap anaknya dengan baik dengan tujuan untuk bisa melayani Tuhan dan untuk menjadi seorang pemimpin kristen. Setelah merawat dan mempersiapkan seorang anak, orang tua juga harus memberi persetujuan kepada anaknya untuk bisa melayani Tuhan. Kepemimpinan kristen tidak dibentuk dengan cara instant, tetapi dibentuk sejak calon pemimpin kristen berusia kanak-kanak.
, Hesti Arista Dara
EDULEAD: Journal of Christian Education and Leadership, Volume 1, pp 92-107; https://doi.org/10.47530/edulead.v1i1.22

Abstract:
This research examines the learning model used by Jesus when preaching or teaching specifically found in Matthew 7: 24-29. There are several methods that Jesus uses in this section, namely: the lecture method, the method of storytelling and the method of parable. These methods were quite successful in Jesus' teaching as evidenced by the large number of followers who were amazed at him. In this study, we want to find out how the influence of the application of the method Jesus used on student learning outcomes. The method used in this study is a quantitative method with survey techniques. The research population was all of the ninth grade students in SMP Negeri 12 Kota Kupang with a total sample of 30 students. Data analysis was performed using statistical techniques with data analysis processes namely Descriptive Analysis, Test Requirements Analysis and Hypothesis Test. The results showed that the application of the Learning Method used by Jesus in Matthew 7: 24-29 had an effect on student learning outcomes at SMP Negeri 12 Kota Kupang by 40%.
Marde Christian Stenly Mawikere
EDULEAD: Journal of Christian Education and Leadership, Volume 1, pp 108-113; https://doi.org/10.47530/edulead.v1i1.15

Abstract:
Judul Buku : Fondasi Pendidikan Kristen; Suatu Pengantar Dalam Perspektif Injili Judul Asli : Foundational Issues in Christian Education Pengarang : Robert W. Pazmino Penerbit : Sekolah Tinggi Teologi Bandung dan PT BPK Gunung Mulia, Jakarta, Cetakan ke 1, 2012 Format Buku : viii + 392 Halaman
Elia Tambunan
EDULEAD: Journal of Christian Education and Leadership, Volume 1, pp 56-76; https://doi.org/10.47530/edulead.v1i1.27

Abstract:
Abstraksi Tulisan ini menunjukkan kontribusi sosial Pendidikan kaum urban dengan mengambil contoh Jungle School Salatiga. Dengan meneliti sejumlah literatur tentang pembelajaran transformatif bagi orang dewasa, data empiris terlihat bagaimana STT sebaiknya memperlihatkan aspek dan karakter sosial dalam proses dan lulusan. Kontribusi teoritis tulisan ini memperluas teori pembelajaran transformatif menjadi pendidikan progresif yang memiliki kebermanfaatan. Sedangkan praktisnya ialah praksis pendidikan urban yang dikelola lulusan hadir dalam paradox Jawa Tengah, dilema modernisasi dan urbanisasi kota jajahan di Indonesia yang mengalami persaingan pendidikan dan segregasi kehidupan kota. Kata Kunci: Pendidikan Urban Progresif, Paradoks Jawa Tengah, Kontribusi Sosial, Jungle School, Lulusan STT. Abstract Paper shows the social contribution of urban Education by examining the Salatiga Jungle School. By reading the literatures on transformative learning for adults, empirical data, it is examining how theological seminary performing the aspects and social character in learning process and outcomes. Paper contribution is enlarging the transformative theory into progressive education that has benefits. The practical contribution is presenting the praxis urban education in the paradox of Central Java, the dilemma of modernization and urbanization of the Indonesian colonies city which increases the education competition and segregation city life. Keywords: Progressive Urban Education, Central Java Paradox, Social Contributions, Jungle School School, Theological Graduates.
Ahmad Tabrani
EDULEAD: Journal of Christian Education and Leadership, Volume 1, pp 77-91; https://doi.org/10.47530/edulead.v1i1.23

Abstract:
Abstrak Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan deskripsi tentang persepsi pengaruh kepemimpinan dan mentoring yang diterima oleh para pemimpin tingkat menengah Yayasan Pelayanan Desa Terpadu terhadap motivasi mereka dalam melakukan tugas-tugas pelayanan. Penelitian ini menggunakan metode survei dengan memberikan angket instrumen kepada pemimpin tingkat menengah Yayasan Pelayanan Desa Terpadu yang tersebar dari berbagai daerah di Indonesia dengan sampel 60 orang yang ditentukan secara acak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar para pemimpin tingkat menengah Yayasan Pelayanan Desa Terpadu memiliki persepsi dalam kategori sangat baik dan baik terhadap pengaruh kepemimpinan dan mentoring yang mereka terima dari para pemimpin dan mentor mereka. Sebagian besar memiliki motivasi sangat baik dan baik dalam melakukan tugas-tugasnya dan menyatakan bahwa pengaruh kepemimpinan dan mentoring yang mereka terima berpengaruh terhadap motivasi mereka dalam melakukan tugas-tugasnya. Kata kunci: kepemimpinan, mentoring, motivasi abstract The purpose of this study is to obtain a description of the perception of leadership and mentoring influences received by the middle-level leaders of PESAT in carrying out service tasks. This study uses a survey method by giving questionnaires to middle-level PESAT foundation leaders from various regions in Indonesia with a sample of 60 randomly determined people. The results show that most of the middle-level leaders of PESAT have a perception of the excellent and good category of leadership and mentoring they received from their leaders and mentors. Most of them have very good dan good motivation in carrying out their duties and stated that the influences their motivation in carrying out their duties Keywords: Leadership, Mentoring, Motivation
Eny Suprihatin, Desti Rosita
EDULEAD: Journal of Christian Education and Leadership, Volume 1, pp 34-55; https://doi.org/10.47530/edulead.v1i1.17

Abstract:
Independence is the attitude of life needed for the progress of a nation. An independent human being is able to mature to face the challenges of the times. Independence cannot happen instantly, it needs to be familiarized. The right time for habituation is early age. Research on the application of Scaffolding learning techniques as an effort to increase the learning independence of children aged 5-6 years, using the Classroom Action Research methodology conducted at Kadasituru Integrated Christian Kindergarten. The research model used is the Kurt Lewin model. Four stages are carried out: planning, implementing, observing and reflecting. The result is a significant increase in the improvement of children's learning independence. Initial observation of the level of independence of 17 research subjects the average score was 6.61% in the category of Not Developing (BB). After taking action in four cycles, children's learning independence significantly increased the average score of 98.52% to meet the criteria of Very Good Development (BSB).
Sudiria Hura, Marde Christian Stenly Mawikere
EDULEAD: Journal of Christian Education and Leadership, Volume 1, pp 15-33; https://doi.org/10.47530/edulead.v1i1.12

Abstract:
Abstrak Studi ini merupakan Kajian Biblika Mengenai Pendidikan Anak dan Hakikat Pendidikan Anak Usia Dini. Pengkajian Alkitab amat penting karena Alkitab menyatakan bahwaanak-anak adalah subyek pelayanan dan masa yang menentukan dalam pengenalan akan Tuhan dan pertumbuhan iman menuju masa dewasa. Pada hakekatnya dalam dunia pendidikan, kategori anak usia dini adalah masa usia emas (golden age) untuk menanamkan nilai-nilai rohani dan pembentukan karakter serta memperkenalkan mereka dengan pengetahuan dan keterampilan dengan sederhana. Adapun penelitian ini dilakukan dengan metode deskriptif yang dibangun dari penelitian literatur, dalam hal ini literature mengenai kajian Alkitab dan kajian teoritis yang berkaitan dengan pendidikan anak usia dini. Hasil studi memperlihatkan bahwa pendekatan proses pembelajaran yang relevan kepada anak usia dini tidak sekedar mengikuti teori-teori pembelajaran sekuler yang cenderung menekankan pengetahuan dan ketrampilans eorang guru/pendidik, kurikulum dan bahan pelajaran atau sarana yang canggih sertafasilitas belajar yang memadai melainkan penting sekaliadanya dasar-dasar FirmanTuhan (Alkitab) yang menjadi pedoman utama. Dengan demikian, satuan PAUD dan para guru dapat mempertimbangkan untuk menggunakan prinsip dan metode yang relevan dengan memberikan penekanan bahwa anak-anak usia dini sebagai subyek pendidikan yang perlu diberikan rangsangan untuk menolong mereka bertumbuh dengan utuh (holistic) baik rohani, karakter, pengetahuan dan keterampilan dalam perspektif Kristen.
Romini Romini, Ida Destariana Harefa
EDULEAD: Journal of Christian Education and Leadership, Volume 1, pp 1-14; https://doi.org/10.47530/edulead.v1i1.8

Abstract:
Perkembangan spiritual anak-anak Future Center berusia 7-9 tahun di Buluh Awar masih belum berkembang dengan baik, karena beberapa faktor antara lingkungan keluarga dan layanan guru Future Center yang masih monoton. Pembelajaran yang kurang menarik terutama ketika melakukan kegiatan pengembangan spiritual,seperti guru hanya bercerita dan tidak menggunakan alat peraga. Sehingga penelitian ini berjudul "Manfaat menggunakan Alkitab bergambar pada perkembangan spiritual anak-anak Future Center berusia 7-9 tahun di Buluh Awar". Dengan rumusan masalahnya: Bagaimana cara menggunakan , Bagaimana perkembangan spiritual anak-anak Future Center, dan apakah manfaat menggunakan Alkitab bergambar bagi perkembangan rohani anak-anak masa future center di Buluh Awar? Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif dengan mengumpulkan data melalui observasi dan wawancara. Dari hasil pengamatan dan wawancara, setelah penggunaan Alkitab bergambar, Spiritualitas anak dapat berkembang dengan baik lewat penerapan penggunaan Alkitab bergambar, dapat diperoleh melalui pengamatan dengan kriteria: kategori tidak berkembang 0 , cukup berkembang 1 anak , berkembang 6 anak termasuk dan 10 kategori anak-anak yang sangat berkembang. Hasil dari wawancara tentang manfaat penggunaan Alkitab bergambar untuk perkembangan spiritual anak-anak di Future Center berusia 7-9 tahun di Buluh Awar menemukan bahwa lebih mudah bagi anak-anak untuk membaca dan memahami Firman Tuhan, belajar manfaat dari Alkitab bergambar untuk perkembangan spiritual, tidak monoton, serta spiritualitas yang berkembang mempengaruhi nilai karakter dari anak-anak. Dari pencapaian ini menunjukkan bahwa hasil akhir penelitian tentang manfaat penggunaan Alkitab bergambar terhadap kerohanian anak usia yaitu anak mampu memiliki pengaruh positif terhadap perkembangan spiritual anak.
Page of 1
Articles per Page
by
Show export options
  Select all
Back to Top Top