Refine Search

New Search

Advanced search

Results: 43

(searched for: doi:(10.33104/*))
Save to Scifeed
Page of 5
Articles per Page
by
Show export options
  Select all
Justus Elisa Loppies, Medan Yumas, Endang Sri Rejeki
Jurnal Industri Hasil Perkebunan, Volume 13, pp 129-137; doi:10.33104/jihp.v13i2.4337

Abstract:
Ringkasan. Penyangraian merupakan salah satu tahapan dalam proses pengolahan kopi dan kakao, tujuannya adalah untuk memperoleh hasil sangrai bji kopi dan kakao dengan citarasa dan aroma khas. Umumnya proses penyangraian menggunakan sistem pembakaran onvensional yang tidak efisien dan tidak terkontrol sehingga berdampak pada produk akhir. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan instalasi regulator otomatis untuk tungku penyangraian biji-bijian khusus untuk kopi dan kakao. Model tungku bakar yang dikembangkan terdiri dari tiga bagian utama yaitu sistem perapian, sistem pengendali bahan bakar dan sistem pengendali suhu. Ketiga bagian ini terkonstruksi dalam suatu sistem dan bekerja secara terintegrasi untuk menghasilkan suatu sistem pembakaran yang terkontrol pada berbagai level suhu dalam suatu proses penyangraian. Hasil percobaan tanpa bahan penyangrai menunjukkan bahwa tungku penyangraian dengan sistem regulator otomatis dapat beroperasi secara konsisten pada suhu 100 – 220 0C dengan bias suhu 1 – 3 0C. Aplikasi pada proses penyangraian biji kopi 10 kg selama 9 – 40 menit menunjukkan stabilitas dan konsistensi pada suhu 160, 180, 200 dan 220 0C (bias 2 – 3 0C) dengan kadar air masing-masing 4,15 ; 2,31; 1,86 dan 1,27 % . Penyangraian biji kakao selama 45 menit pada suhu 120 dan 140 0C (bias 1 0C) memiliki kadar air masing-masing 3,15 dan 2,89 % . Hasil sangrai memiliki warna, citarasa dan aroma khas. Efisiensi energi sekitar 50 % dibanding konsumsi energi pada proses penyangraian konvensional..Kata Kunci : istalasi regulator otomatis, tungku penyangraian, sistem kontrol, biji kopi dan kakao.
Gemah Delti, Salengke Salengke, Rindam Latief
Jurnal Industri Hasil Perkebunan, Volume 13, pp 139-149; doi:10.33104/jihp.v13i2.4132

Abstract:
Produk yang diteliti adalah prosedur operasional baku untuk produksi jagung marning dan analisis ekonomi dari keripik jagung ketan. Saat ini, IKM Makmur Bersama tidak memiliki SOP yang merupakan hambatan bagi keberlanjutan produksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan Prosedur Operasional Baku (POB) untuk proses produksi jagung marning dan untuk menganalisis kelayakan industri keripik jagung ketan dalam hal aspek tekno ekonomi. Metode pengumpulan data adalah deskriptif kuantitatif dan studi kepustakaan. Data digunakan untuk memformulasikan POB dan menganalisis aspek tekno ekonomi untuk produk keripik jagung ketan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ketersediaan POB untuk produksi jagung marning penting untuk keamanan produk dan keberlanjutannya. Untuk itu, penelitian ini telah memformulasikan POB yang dapat digunakan sebagai panduan dalam proses produksi. Hasil analisis ekonomi pada kelayakan keripik jagung ketan menunjukkan bahwa produk ini layak secara ekonomi.
Wahyuni Daming, Sitti Ramlah
Jurnal Industri Hasil Perkebunan, Volume 13, pp 87-93; doi:10.33104/jihp.v13i2.4081

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan nutrisi dan keberterimaan jipang-cokelat yang diolah masing-masing dari beras ketan hitam dan beras ketan putih. Cokelat yang digunakan sebagai bahan substitusi pengganti gula merah, adalah cokelat susu. Beras ketannya disiapkan sebagai beras ketan goreng. Adonan dibuat dengan komposisi beras ketan konstan 160 g, sedangkan cokelat susu masing-masing 80 g, 160 g, dan 240 g. Hasil penelitian menunjukkan produk jipang-cokelat dari beras ketan hitam, kadar lemak, protein, dan karbohidratnya berada pada kisaran masing-masing 39,00 – 55,18 %, 7,67 - 13,67 % dan 37,09 - 39,12 %. Sedangkan yang dari beras ketan putih masing- masing 34,62 – 39,76 %, 7,47 – 13,47 %, dan 37,14 - 38,75 %. Skor keberterimaan panelis terhadap produk berada pada kisaran 2,9 - 3,7 untuk produk dari beras ketan hitam, dan pada kisaran 2,6 - 3,0 untuk produk dari beras ketan putih (dengan rentang skor 1-4)Kata Kunci : jipang- cokelat, nutrisi, keberterimaan produk.
Sciprofile linkAndi Suryanto, Zakir Sabara, Hardi Ismail, Andi Artiningsih, Wahyuni Daming, Almukmin Almukmin
Jurnal Industri Hasil Perkebunan, Volume 13, pp 71-74; doi:10.33104/jihp.v13i2.3903

Abstract:
Abstrak, Biodiesel dapat dibuat melalui reaksi transesterifikasi minyak nabati seperti minyak jarak pagar dengan metanol. Minyak jarak pagar memiliki peotensi yang lebih besar bila dibandingkan dengan minyak nabati lainnya karena minyak jarak sangat mudah dikembangkan dan tidak terlalu lama.Gelombang mikro dapat digunakan sebagai pemanas yang sangat efektif sehingga tidak memerlukan penggunaan katalis yang banyak. Tujuan penelitian ini adalah mempelajari pengaruh penggunaan gelombang mikro pada pembuatan metil ester menggunakan katalis KOH konsentrasi rendah. Perolehaan yield dari minyak biji kapuk dengan katalis KOH pada konsentrasi 0,25 % (b/b), waktu reaksi 5 menit ratio molar 1:12 dengan daya microwave 600 watt. Hasil analisis beberapa parameter terhadap produk biodiesel menunjukkan sudah memenuhi spesifikasi berdasarkan Standar Nasional Indonesia (SNI-04-7182-2006).Keyword : biodiesel, transesterifikasi, minyak biji kapuk, microwave.
R. R. Utami
Jurnal Industri Hasil Perkebunan, Volume 13, pp 75-85; doi:10.33104/jihp.v13i2.4062

Abstract:
The main cocoa antioxidant compounds are flavanols that consist of monomer (epicatechin and catechin) and oligomers from dimers to decamers (procyanidin), with small quantity of anthocyanin (cyaniding glucoside) and flavonol (quercetin glycoside). Cocoa processing stages that affect antioxidant compounds changes atre fermentation and roasting. Fermentation causes decrease of polyphenol content due to polyphenols diffusion out of the cotyledons, furthermore polyphenols undergo oxidation and condensation. Roasting temperature more than 70oC cause loss of (+)-catechin. During roasting, protein that bounded to the cell wall (cellulose and pectin) undergo Maillard reaction where its products potentially as antioxidants. This study is useful to know the proper of cocoa beans processing so antioxidant content can be maximized.
Sitti Ramlah, Alfrida Lullung Sampe Barra
Jurnal Industri Hasil Perkebunan, Volume 13, pp 117-125; doi:10.33104/jihp.v13i2.4188

Abstract:
Cokelat putih merupakan satu-satunya cokelat yang menggunakan bahan baku utama lemak kakao. Deodorisasi pada pengolahan lemak kakao adalah suatu tahap proses pemurnian minyak yang bertujuan untuk menghilangkan bau dan rasa yang tidak enak dalam minyak lemak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik dan citarasa cokelat putih dari lemak kakao non deodorisasi dan deodorisasi . Formula pengolahan cokelat putih pada penelitian ini mengacu kepada Becket (2009). Cokelat putih pada penelitian ini menggunakan dua jenis lemak kakao yaitu lemak kakao non deodorisasi (A1) dan lemak kakao deodorisasi (A2) dan dibuat dengan dua tingkat kualitas berdasarkan jumlah lemak kakao yang digunakan, yaitu 22 % (B1) dan 30 %(B2). Parameter uji yang digunakan pada penelitian ini adalah : Kadar Air, Kadar Gula, Kadar lemak, Kadar Asam Lemak Bebas (FFA), Titik Leleh , Uji Mikrobiologi, Uji Organoleptik citarasa (panelis tidak terlatih dan panelis terlatih ), Asam Lemak, Asam Amino.Hasil penelitian Dari hasil penelitian diperoleh bahwa cokelat putih yang diolah dari lemak kakao non deodorisasi mempunyai karakteristik mutu ; kadar air 1,46 – 1,52 %, kadar gula 48,25 – 55,76 %, kadar lemak 31,99 - 37,79 %, FFA 1,53 – 1,58 %, titik leleh 42 – 51 oC, sedangkan cokelat putih yang diolah dari lemak kakao deodorisasi mempunyai kadar air 1,62 – 2,73 %, kadar gula 48,84 – 54,85 %, kadar lemak 32,61 – 36,14 %, FFA 1,11 – 1,15 %, titik leleh 40 – 49 oC. Cokelat putih dari lemak kakao non deodorisasi dan deodorisasi mempunyai tingkat keterterimaan citarasa kategori “good”.Kata Kunci : Cokelat putih, non deodorisasi, deodorisasi, karakteristik, citarasa.
Imran Thamrin, Muh Ruslan Yunus, Alfrida Lulung Sampe Barra
Jurnal Industri Hasil Perkebunan, Volume 13, pp 151-157; doi:10.33104/jihp.v13i2.4222

Abstract:
This work deals with design of a simple vibrating table prototype for chocolate moulding. Designed for small scale and home made chocolate industry, the main components of the equipment are a 50 x 40 cm vibration table, a 1 HP vibration electric motor, four 7 inch dia. rubber vibration supports, a vibration control system with frequrecies from 0 to 50 Hz, and a frame. The table heigh is 60 cm. Experiments for chocolate moulding using the equipment were conducted to form 2 x 15 pieces of chocolate bars (weighted 22 gram) from dark and milk chocolates, respectively. Vibration frequencies were set from 20 to 50 Hz and durations from 2 to 20 minutes of vibration. Sensory evaluation indicated the high integrity and fine shape levels of the moulded chocolate were given at minimum 40 Hz and 2 minutes and at 35 Hz and minimum 5 minutes of vibration using dark chocolate (107.68 ps in viscociity), and at minimum 40 Hz and 5 minutes and at 45 Hz and minimum 4 minutes of vibration using milk chocolate-1 (115.23 ps in viscocity)Key words : simple vibrating table, chocolate moulding
Aneke Rintiasti, Raflin Fauzi
Jurnal Industri Hasil Perkebunan, Volume 13, pp 95-105; doi:10.33104/jihp.v13i2.4139

Abstract:
Ekspor produk non migas Indonesia salah satunya berasal dari industry perkebunan. Industri perkebunan tentunya tidak dapat dipisahkan dengan pengolahan lahan perkebunan Oleh karena itu perlu digali pola dan rule informasi sebagai pengetahuan pakar dengan inputan parameter-parameter kondisi lahan untuk menentukan tanaman industry yang paling cocok ditanam pada lahan tersebut melalui proses Data Mining. Lahan tanaman Industri yang diteliti dalam penelitian ini terdiri dari lahan cengkeh, lahan kopi robusta, lahan kopi arabika, lahan tebu, lahan kakao dan lahan Teh. Dari setiap tanaman industri digunakan 15 (lima belas) parameter sebagai syarat tumbuh optimal serta sebagai target pencocokan dengan karakteristik lahan dilapangan. Syarat tumbuh dan karakteristik tanah setiap tanaman industry memiliki nilai yang berbeda-beda. Nilai-nilai syarat tumbuh tersebut merupakan data yang akan diolah dalam Data Mining dengan dipetakan kedalam pohon keputusan mengunakan aplikasi WEKA dengan metode C45 dan forward chaining. Pada pohon keputusan ini akan didapatkan rule yang lebih sederhana, sehingga dapat digunakan untuk menyusun pertanyaan dan memberikan jawaban layaknya seorang pakar. Pohon keputusan berhasil didapatkan untuk 6 (enam) tanaman industri dengan Kappa Statistic bernilai 1 yang berarti dapat dipercaya. Pertanyaan yang dihasilkan oleh pohon keputusan telah disederhanakan dari 15 (lima belas) parameter menjadi hanya 5 (lima) parameter kunci yaitu : intensitas penyinaran, pH tanah, jenis tanah, curah hujan, bulan kering. Parameter kunci ini muncul sesuai dengan tujuan pohon keputusan menyederhanakan rule, karena pakar tidak perlu menanyakan semua parameter untuk mendapatkan kesimpulan.
Rosniati Kasim, Kalsum Kalsum
Jurnal Industri Hasil Perkebunan, Volume 13, pp 107-116; doi:10.33104/jihp.v13i2.4157

Abstract:
Penelitian pengolahan kakao bubuk dari biji kakao fermentasi dan tanpa fermentasi sebagai sediaan bahan pangan fungsional telah dilakukan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kandungan senyawa fungsional (polifenol dan asam amino) dari biji kakao fermentasi, tanpa fermentasi, kakao bubuk yang diolah dari biji kakao (fermentasi – sangrai) serta dari biji kakao (tanpa fermentasi - tanpa sangrai). Penelitian ini terdiri dari 4 perlakuan yaitu : A (biji kakao fermentasi), B (biji kakao tanpa fermentasi), C (Kakao bubuk tanpa fermentasi – tanpa sangrai), dan D (Kakao bubuk fermentasi – sangrai). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan biji kakao tanpa fermentasi mempunyai kandungan polifenol lebih tinggi yaitu 15,09 % dibanding biji kakao fermentasi yaitu 13,95 %. Demikian pula perlakuan kakao bubuk dari (biji kakao tanpa fermentasi – tanpa sangrai) mempunyai kandungan polifenol lebih tinggi yaitu 14,03 % dibanding kakao bubuk dari (biji kakao efermentasi – sangrai) yaitu 11,60 %. Sedangkan perlakuan biji kakao tanpa fermentasi mempunyai kandungan asam amino lebih rendah yaitu 8,55 % dibanding biji kakao fermentasi yaitu 9,26 %. Demikian pula perlakuan kakao bubuk dari (biji kakao tanpa fermentasi – tanpa sangrai) mempunyai kandungan asam amino lebih rendah yaitu 16,81 % dibanding kakao bubuk dari (biji kakao fermentasi – sangrai) yaitu 21,99 %. Kata Kunci : Biji kakao fermentasi dan tanpa fermentasi, kakao bubuk, polifenol, dan asam amino.
Agus Sudibyo
Jurnal Industri Hasil Perkebunan, Volume 13, pp 19-36; doi:10.33104/jihp.v13i1.3698

Abstract:
In recent times, there has been growing recognition of the key role of foods and beverage in disease prevention and treatment. Rapidly increasing knowledge on nutrition, medicine, and plant biotechnology has dramatically changed the concepts about food, health and agriculture, and brought in revolution of them. Research currently underway at academic, industry and government facilities will reveal how a myriad of substances can be used as functional food components. Thus natural bioactive compounds include a broad diversity of structures and functionalities that provide an excellent pool of molecules for the production of nutraceuticals, functional foods, and food addives. This review attempts to display about research and development of functional beverages and designing functional beverages and the formula for beverage success.Keywords: designing, functional beverages, lessons learned, highlighting, research and development.
Page of 5
Articles per Page
by
Show export options
  Select all
Back to Top Top