Refine Search

New Search

Results: 344

(searched for: doi:(10.30959/*))
Save to Scifeed
Page of 35
Articles per Page
by
Show export options
  Select all
Lia Nuralia, Iim Imadudin
Patanjala : Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya, Volume 12, pp 177-193; doi:10.30959/patanjala.v12i2.641

Abstract:
Perkebunan Sedep di Bandung Jawa Barat masih mempertahankan bangunan lama dan artefak perkebunan zaman Belanda, yaitu Rumah Administratur, bekas Rumah Bilyar, Prasasti dan Meja Bilyar. Artefak perkebunan tersebut menjadi simbol kuasa yang memiliki nilai-nilai budaya. Apa dan bagaimana simbol kuasa dan nilai-nilai budaya tersebut, menjadi permasalahan pokok, yang dikaji menggunakan metode desk research dengan pendekatan simbol kuasa Pierre F. Bourdieu. Simbol kuasa Bourdieu terdiri dari field, habbitus, dan capital. Hasil yang diperoleh adalah simbol kuasa Rumah ADM ditunjukan dalam bahasa nonverbal berupa tata letak bangunan dan tata ruang dalam (field); status sosial penghuni rumah serta bentuk dan arsitektur rumah (habitus); serta pemilik dan pengelola perusahaan perkebunan (capital). Simbol kuasa Prasasti ditunjukkan oleh inskripsi (habitus), bentuk dan bahan (capital), serta ruang (field). Makna simbolik artefak perkebunan mencerminkan nilai-nilai budaya kolonial perkebunan, seperti nilai kemanusiaan, kerja keras, dan disiplin berdasarkan konsep habitus Bourdieu (kelas sosial, jenis kelamin, dan kelompok usia).
Patanjala : Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya, Volume 12, pp 159-176; doi:10.30959/patanjala.v12i2.571

Abstract:
Pada periode akhir masa kolonial Belanda di Hindia, justru semakin banyak turis yang berkunjung. Priangan yang merupakan primadona kunjungan wisata pada masa itu, tentunya harus menata diri sebagai persiapan menyambut dan melayani para turis yang berkunjung. Akomodasi penginapan dalam dunia pariwisata adalah hal yang pokok untuk tersedia dan memadai di lokasi-lokasi yang akan dituju oleh para turis. Berbagai kisah menarik mengenai perkembangan akomodasi penginapan membawa nilai positif bagi para turis yang berkunjung ke Priangan berdasarkan sumber-sumber yang ditemukan oleh penulis. Maka, untuk menjabarkan persoalan tersebut dibutuhkan kajian historis dengan menggunakan metode sejarah, terdiri atas heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Berdasarkan penelitian yang dilakukan ini, bahwa pariwisata baru mulai menggeliat ketika memasuki akhir dari Abad ke-19 dimana Pesanggrahan dan Hotel semakin berkembang sebagai jawaban untuk memenuhi kebutuhan penginapan bagi para turis. Setidak-tidaknya dari berbagai sumber yang coba penulis baca dan telaah dapat menjelaskan mengenai perkembangan akomodasi penginapan pariwisata pada masa kolonial Hindia Belanda. During the late Dutch colonial period in the Dutch East Indies, more and more tourists visited. As a result, Priangan, which was the most favorite tourist destination at that time, certainly had to manage itself better to serve the tourist visits. Therefore, the availability of adequate lodging accommodation in the world of tourism was a mandatory requirement, especially in tourist destinations. Referring the sources found by the author, there are various interesting stories about the development of lodging accommodation with a positive impact on tourists in Priangan. To describe this problem, a historical study is needed using the historical method consisting of heuristics, criticism, interpretation, and historiography. Based on the research conducted, it was revealed that tourism in Priangan first began to grow towards the end of the 19th century as indicated by the growing number of guest houses and hotels in response to meet the lodging needs of tourists. The results of the analysis of various sources used as a reference in this study indicate that the development of tourism accommodation during the Dutch East Indies colonial had a positive impact on the progress of tourism in Priangan.
Lasmiyati Lasmiyati
Patanjala : Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya, Volume 12, pp 261-276; doi:10.30959/patanjala.v12i2.633

Abstract:
Penelitian tentang Sugra dilakukan dengan tujuan untuk mengenang tokoh perintis tarling di Indramayu yang selama ini kurang dikenal di kalangan luas. Penelitian ini menggunakan metode sejarah dengan pendekatan sejarah biografi. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, studi lapangan, dan studi pustaka. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini menunjukkan bahwa tokoh tarling di Indramayu dibedakan menjadi dua: tokoh perintis dan tokoh pengembang. Tokoh perintis adalah Sugra. Ia hanya menekuni kesenian tarling di wilayah Indramayu, walaupun pernah bermain tarling di Cirebon. Tokoh pengembang adalah mereka yang mampu mengembangkan kesenian tarling ke Cirebon, walaupun mereka berasal dari Indramayu. Walaupun Sugra hanya bermain tarling di Indramayu, masyarakat Indramayu tetap menganggap Sugra sebagai perintis tarling. Sugra juga mampu mengajak pemuda Kepandean untuk bermain tarling, walaupun peralatannya masih sederhana. Tugu tarling didirikan di tempat Sugra merintis kesenian tarling. Nama Sugra pun diabadikan menjadi nama gedung kesenian Mama Soegra dan rumah seni Griya Sugra.The study on Sugra was carried out with the aim of perpetuating the existence of the Indramayu tarling music pioneer for the reason of his less well-known. It used the historical methods with a biographical historical approach. The data was collected by means of interviews, field studies, and literature studies. Studies have shown that the leading figures of tarling music in Indramayu involved the pioneer and the settlers. The pioneer was Sugra. He devoted himself to his work as a tarling musician in Indramayu. Furthermore, he also promoted tarling music in Cirebon. Moreover, settlers were generally those originating from Indramayu and were considered as the key musicians in the development of tarling music in Cirebon. Despite Sugra’s stage was limited in Indramayu, the locals still consider him as the pioneer of tarling. With his simple musical instruments, he visited a group of youths in Kepandean sub-district, playing music, and conducting sing-alongs. A monument forming tarling musical performance was erected in Indramayu to his memory. His name was even continued in that of two art galleries Mama Soegra and Griya Sugra.
Tisna Prabasmoro, Trisna Gumilar, Ladinata Ladinata
Patanjala : Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya, Volume 12, pp 243-259; doi:10.30959/patanjala.v12i2.598

Abstract:
Makanan adalah salah satu simbol yang dapat secara menonjol merepresentasi identitas pribadi dan kelompok dan membentuk keunikan serta rasa kebersamaan dan keterikatan anggota dalam kelompok yang lebih besar. Masing-masing individu meleburkan diri mereka ke dalam komunitas dan masyarakat dengan mengupayakan (re)konstruksi diri. Artikel ini berhipotesis bahwa pendukung Persib—yang secara umum dikenal dengan nama bobotoh—terus-menerus mencari cara baru untuk dapat mengekspresikan identitas mereka. Menggunakan kajian-kajian identitas yang berhubungan dengan persepsi akan tempat atau a sense of place, budaya kuliner, ruang fisik, pilihan dan gaya hidup, artikel ini membahas peran rumah makan yang berhubungan dengan Persib, dan menyoroti kemungkinan implikasi dari kegiatan makan bobotoh di rumah makan-rumah makan tersebut. Berfokus pada bagaimana Pawon Sunda Buhun Bobotoh dan 1933 Dapur dan Kopi—dua tempat makan dengan keunikan berbeda—turut me(re)konstruksi identitas bobotoh, artikel ini berargumen bahwa bobotoh juga mengandalkan kegiatan mengonsumsi makanan yang terkait dengan Persib/bobotoh untuk mengekspresikan, memelihara dan bahkan memperkuat identitas pribadi dan kolektif mereka. Food is a symbol that can prominently represent personal and group identity and form uniqueness and a sense of bonding among members of a larger group. Individuals conform themselves to communities and society through self-(re)constructing efforts. The article hypothesizes that Persib’s supporters—commonly known as bobotoh—have continuously sought new ways to express their identity. Employing identity theories related to a sense of place, culinary culture, physical space, choices, and lifestyle, the article examines the roles of Persib-related eateries and highlights the possible implications of bobotoh’s dining out. Focusing on how Pawon Sunda Buhun Bobotoh and 1933 Dapur dan Kopi—two significantly different eating places—contribute to bobotoh’s self identity (re)construction, the article argues that bobotoh also rely on consuming food as a Persib/bobotoh-related activities to express, retain and even strengthen their personal and collective identity.
Rismawidiawati Rusli
Patanjala : Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya, Volume 12, pp 211-226; doi:10.30959/patanjala.v12i2.617

Abstract:
Artikel ini bertujuan untuk menulis sejarah pembentukan Kabupaten Luwu Utara dari perspektif aktor yang terlibat pada proses pembentukan tersebut. Tulisan ini menggunakan metode sejarah, dan hasil penelitian menunjukkan bahwa upaya pembentukan Kabupaten Luwu Utara bukan hanya sekali ini muncul, tapi keinginan tersebut sudah sejak lama diperjuangkan. Usaha tersebut dimulai sejak 1959, diulang kembali pada 1966, dan akhirnya pada 1999 Kabupaten Luwu Utara terbentuk. Pembentukan Luwu Utara adalah berkat perjuangan masyarakat Luwu Utara yang terdiri dari berbagai unsur, unsur mahasiswa yang tergabung pada Forum Komunikasi Mahasiswa Luwu Utara, unsur masyarakat biasa bahkan unsur pemerintah. Cepatnya proses pembentukan Luwu Utara pada 1999 ini berkat politik lobbying yang dilakukan oleh Ryass Rasyid yang memiliki kedekatan khusus dengan Lutfi A. Mutty (Dirjen PUOD). Alasan Utama pembentukan Kabupaten Luwu Utara tidak hanya dikarenakan pertimbangan desentralisasi, demokratisasi dan good governance, serta kalkulasi ekonomis namun juga karena kepentingan aktor-aktor dibaliknya. The study aims to reveal the history of the formation of the North Luwu District based on the perspective of the actors who were directly involved in the formation process. This research, which uses the historical method, shows the results of the research that the efforts to form the North Luwu District have been pursued for a long time. The effort, which had been started since 1959, was re-submitted in 1966, and finally in 1999 the North Luwu District was successfully formed. The formation of North Luwu District was the result of support from the North Luwu communities which consisted of various elements, such as elements of students who were members of the North Luwu Student Communication Forum, elements of societies, and even elements of the government. The process of formation the North Luwu District in 1999 proceeded rapidly because of political lobbying approached by Ryass Rasyid towards Director General for PUOD Lutfi A. Mutty. The main reasons behind the formation of the North Luwu District was not only due to the considerations of decentralization, the democratization and the good governance, as well as the economic calculations but also because of the interests of the actors behind it.
Patanjala : Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya, Volume 12, pp 141-157; doi:10.30959/patanjala.v12i2.595

Abstract:
This article discusses the entertainment world of the Minangkabau people in the Dutch colonial epoch. The world of entertainment is constructed using the historical method through the collection of written sources particularly contemporary newspapers and is equipped with books in the form of memoirs and autobiographies. The data obtained are then criticized and synchronized to produce historiography. The results show that the entertainment that developed in Minangkabau is identified into two namely traditional entertainment and modern entertainment. The traditional entertainment is entertainment that has been passed down from the Minangkabau culture, while modern entertainment is entertainment influenced by the West.Artikel ini menjelaskan tentang dunia hiburan masyarakat Minangkabau pada masa kolonial Belanda. Dunia Hiburan dikontruksi menggunakan metode sejarah melalui pengumpulan sumber-sumber tertulis terutama koran-koran yang terbit sezaman serta dilengkapi dengan buku- buku berupa memoar dan autobiografi. Data yang diperoleh kemudian dikritisi dan dikronologikan sehingga menghasilkan historiografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hiburan yang berkembang di Minangkabau terpola menjadi dua yakni hiburan tradisional dan hiburan modern, dimana hiburan tradisional merupakan hiburan yang telah turun temurun dari budaya masyarakat Minangkabau, sedangkan hiburan modern merupakan hiburan pengaruh Barat.
Arief Dwinanto
Patanjala : Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya, Volume 12, pp 309-311; doi:10.30959/patanjala.v12i2.681

Patanjala : Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya, Volume 12, pp 293-308; doi:10.30959/patanjala.v12i2.644

Abstract:
Masyarakat nelayan di Kabupaten Lampung Selatan sebagian besar berasal dari tanah Jawa yang datang ke Lampung dengan berbagai cara. Salah satunya melalui program transmigrasi yang dilakukan sejak zaman penjajahan. Selain melakukan aktivitas sebagai nelayan, aktivitas budaya juga menjadi bagian dari kehidupan masyarakat nelayan tersebut, salah satunya adalah Ruwat Laut. Setelah dilaksanakan selama bertahun-tahun, Ruwat Laut berganti nama menjadi Syukuran Laut. Perubahan nama tersebut menjadi hal menarik untuk diteliti. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Hasil yang diperoleh adalah bahwa pergantian nama dari Ruwat Laut menjadi Syukuran Laut disebabkan kekurangan dana dan perbedaan persepsi antara adat masyarakat dari tanah Jawa dengan adat masyarakat Lampung. Syukuran Laut dilakukan dengan meniadakan tahapan tradisi yang dianggap menjadi penyebab Ruwat Laut tidak terlaksana, yaitu pelarungan kepala kerbau, pertunjukan wayang golek, dan berbagai jenis kegiatan yang membutuhkan dana cukup besar.The fishermen communities in South Lampung Regency were once mostly the Javanese who migrated to settle in Lampung in various ways. One of those was through the transmigration program since the colonial era. It was one rewarding way in which many of those have migrated since the era. In addition to doing their activities as the fishermen, they have also carried on their cultural activities as a part of their fishermen life community, that is, Ruwat Laut. After being carried out for years, Ruwat Laut was renamed Syukuran Laut. The name change is interesting for a research. The study was conducted by using a descriptive method with qualitative approach. The studies reveal that the change name was due to lack of funding and perceptual difference between customs of Java and customs of Lampung. Syukuran Laut is carried out without those traditions that once prevented Ruwat Laut, namely buffalo head offering, puppet show, and various types of activities with substantial funds.
Patanjala : Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya, Volume 12, pp 195-209; doi:10.30959/patanjala.v12i2.643

Abstract:
Gula merupakan salah satu komoditas perdagangan penting pada masa kolonial Belanda. Hasil yang berlimpah tidak diimbangi dengan ketersediaan angkutan barang. Minimnya volume angkut dan lamanya waktu tempuh merupakan permasalahan yang dihadapi pengusaha gula. Pengembangan moda transportasi kereta api menjadi jawaban atas permasalahan tersebut. Daya angkut besar dengan waktu tempuh yang lebih cepat menjadi kelebihannya. Tujuan penelitian ini adalah menguraikan peranan kereta api dalam pengangkutan gula ke pelabuhan di Karesidenan Cirebon. Metode yang dipergunakan, deskriptif analisis. Data dikumpulkan melalui kegiatan studi pustaka dan pengamatan lapangan. Hasil penelitian menunjukkan, jalur kereta api di Karesidenan Cirebon merupakan bagian dari jalur Semarang – Cirebon yang dibangun oleh NV. SCS. Tinggalan perkeretaapian di jalur tersebut menunjukkan terdapat persimpangan ke pabrik gula dari stasiun terdekat. Kesimpulan, pembangunan perkeretaapian di Cirebon pada awalnya ditujukan sebagai angkutan komoditas gula. Sugar was one of the important trade commodities during the Dutch occupation. The abundant production of sugar disproportionated to the availability of freight transportation. Its consequences, the sugar company was hampered by both the low volumes and and the slow journey time of transported goods. As a result, the development of modes of transport was the solution needed. It would provide the solution based on the maximum payload and highest average speeds. The purpose of this study is to describe the role of railways in transporting sugar industry to the port in the Cirebon Residency. The research method used in the study is descriptive analysis. Research data were derived from library study, and field observations. The results of the study have shown that the railway line in Cirebon Residency was actually a part of the Semarang - Cirebon railway line built by NV. SCS. The disused railroad indicate clearly that there was an intersection to the sugar company from the nearest train station. It concluded that the railway construction in Cirebon was initially intended as the sugar transportation.
Busro Busro , Ai Yeni Yuliyanti, Abdul Syukur , Rifki Rosyad
Patanjala : Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya, Volume 12, pp 227-242; doi:10.30959/patanjala.v12i2.636

Abstract:
Indonesia is very famous for its rich culture. Cirebon as one of the districts in West Java is also very thick with its culture. This article discusses one of the cultures in Kedungsana Village Cirebon, the phenomenon of ritual slametan Memitu. The purpose of this study is to examine the practice of ritual slametan Memitu carried out by Kedungsana community together with its theological dimensions. The research subjects were the community of Kedungsana Village, Plumbon District, Cirebon Regency. The process of collecting data through direct observation and to get deep information in interviews, we use a purposive sampling technique. The results of the study found that the purpose of carrying out the ritual slametan Memitu was as a manifestation of gratitude for all the favors that had been given from the "Invisible Power" and also the hope of the smooth birth process. Express gratitude and the request is addressed to those considered to have the power to determine the smooth process of birth. In ritual slametan Memitu, there are theological dimensions that can be identified as belief in Invisible Substance and values for living in harmony together among residents of Kedungsana Village community. The theological dimensions in the earth alms ritual have been developed in such a way as to be in line with the development of social reality.Indonesia sangat terkenal dengan kekayan kebudayannya. Cirebon sebagai salah satu kabupaten di Jawa Barat juga sangat kental dengan budayanya. Artikel ini membahas salah satu budaya di Desa Kedungsana Cirebon yaitu fenomena tradisi ritual slametan Memitu. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk meneliti praktek ritual Memitu yang dilakukan oleh masyarakat Kedungsana bersama dengan dimensi-dimensi teologisnya. Subjek penelitian adalah komunitas masyarakat Desa Kedungsana Kecamatan Plumbon Kabupaten Cirebon. Proses pengumpulan data dilakukan dengan observasi langsung, untuk pendalaman dilakukan wawancara dengan teknik purposive sampling. Hasil penelitian ditemukan bahwa tujuan dilaksanakannya ritual slametan Memitu adalah sebagai manifestasi syukur atas segala nikmat yang telah diberikan dari “Kekuatan Tak Terlihat” dan juga pengharapan kelancaran proses kelahiran. Ungkapan rasa syukur dan permohonan tersebut ditujukan kepada yang diyakini memiliki kekuatan untuk menentukan kelancaran proses kelahiran. Dalam ritual slametan Memitu terdapat dimensi-dimensi teologi yang dapat diidentifikasi sebagai kepercayaan terhadap Zat Yang Gaib dan nilai-nilai untuk hidup rukun berdampingan antar-warga masyarakat Kelurahan Kedungsana. Dimensi-dimensi teologis dalam ritual sedekah bumi ini telah dikembangkan sedemikian rupa agar sejalan dengan perkembangan realitas sosial.
Page of 35
Articles per Page
by
Show export options
  Select all
Back to Top Top