Refine Search

New Search

Results: 225

(searched for: doi:(10.30822/*))
Save to Scifeed
Page of 5
Articles per Page
by
Show export options
  Select all
Ferdi Jehalut
JAP UNWIRA, Volume 3, pp 95-106; doi:10.30822/jap.v3i2.863

The publisher has not yet granted permission to display this abstract.
Hendrik Saku Bouk
JAP UNWIRA, Volume 3, pp 130-140; doi:10.30822/jap.v3i2.867

The publisher has not yet granted permission to display this abstract.
Peter Tan
JAP UNWIRA, Volume 3, pp 80-94; doi:10.30822/jap.v3i2.862

The publisher has not yet granted permission to display this abstract.
Yohanes Wahyu Prasetyo
JAP UNWIRA, Volume 3, pp 107-114; doi:10.30822/jap.v3i2.864

The publisher has not yet granted permission to display this abstract.
Mikhael Feka, Dwityas Witarti Rabawati, Yohanes Arman, Egidius Taemenas
JAP UNWIRA, Volume 3, pp 115-129; doi:10.30822/jap.v3i2.865

The publisher has not yet granted permission to display this abstract.
Florianus Aloysius Nay, Osniman Paulina Maure
Asimtot : Jurnal Kependidikan Matematika, Volume 2, pp 177-192; doi:10.30822/asimtot.v2i2.775

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pemahaman konsep siswa setelah mengikuti pembelajaran matematika pada topik aljabar menggunakan media pembelajaran virtual manipulative. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskiptif. Penelitian ini dilaksanakan di SMP Santo Aloysius Turi Sleman Yogyakarta. Subjek pada penelitian ini terdiri atas siswa kelas VIIA dengan jumlah 24 siswa dan diambil 3 siswa untuk diwawancarai. Subjek dikelompokkan dalam kategori jawaban yang rendah, sedang, dan tinggi. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan tes tertulis dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa dengan kemampuan rendah memenuhi indikator pemahaman konsep yaitu menyajikan konsep dalam berbagai bentuk representasi matematis, dan menggunakan, memanfaatkan, dan memilih prosedur atau operasi tertentu dalam menyelesaikan masalah, siswa dengan kemampuan sedang dapat memenuhi indikator pemahaman konsep yaitu menyajikan konsep dalam berbagai bentuk representasi matematis, dan menggunakan, memanfaatkan, dan memilih prosedur atau operasi tertentu dalam menyelesaikan masalah. Siswa dengan kemampuan tinggi memenuhi indikator pemahaman konsep yaitu menyatakan ulang setiap konsep, mengklasifikasikan konsep menurut sifat-sifat tertentu (sesuai dengan konsepnya), menyajikan konsep dalam berbagai bentuk representasi matematis, dan menggunakan, memanfaatkan, dan memilih prosedur atau operasi tertentu dalam menyelesaikan masalah
Yustina Dwi Astuti, Zacharias Angelius Krisna Wara Sabon
Asimtot : Jurnal Kependidikan Matematika, Volume 2, pp 91-102; doi:10.30822/asimtot.v2i2.766

Abstract:
Tujuan dari penelitian ini yaitu mendeskripsikan kemampuan literasi matematikamahasiswa dalam penyelesaian soal Higher Order Thinking Skills (HOTS) ditinjau pada Level 5 PISA. Jenis penelitian yang digunakan adalah deskripsi kualitatif. Subjek dalam penelitian ini adalah mahasiswa semester 5, sebanyak 16 mahasiswa. Instrumen penelitian yang digunakan adalah soal tes dengan indikator HOTS pada level 5. Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dimana hasil dari penelitian ini mendeskripsikan secara rinci untuk menjawab tujuan dari penelitian. Berdasarkan tujuan penelitian yang telah dirumuskan, diperoleh hasil dari penelitian ini yaitu: melalui hasil deskripsi proses berpikir subjek dan hasil analisis ketercapaian indikator HOTS, soal dengan tingkat kesulitan tinggi yang berada pada level 5 belum dapat diselesaikan oleh ke 16 subjek penelitian. Dari 16 subjek tersebut, peneliti melakukan reduksi data berdasarkan proses pengerjaan yang dilakukan sehingga menghasilkan empat kelompok jawaban yang berbeda. Pada soal HOTS level 5 terdapat tujuh mahasiswa yang memiliki kemampuan matematika PISA yakni S2, S5, S7,S9, S13, S11, dan S16 yang memenuhi keempat indikator.
Inevaropa Helni Taek, Michael Fernandez, Meryani Lakapu
Asimtot : Jurnal Kependidikan Matematika, Volume 2, pp 169-176; doi:10.30822/asimtot.v2i2.774

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe SDM terhadap prestasi belajar matematika siswa pada pokok bahasan gabungan dan irisan dua himpunan tahun ajaran 2019/2020. Penelitian ini dilaksanakan di salah satu SMP Negeri di Kabupaten Kupang dengan populasi kelas VII sebanyak dua kelas. Sampel dari penelitian ini adalah kelas VII A yang berjumlah 24 orang yang dipilih secara acak dari populasi dengan teknik simple random sampling. Instrumen dalam penelitian ini yait tes prestasi belajar berbentuk pilihan ganda sebanyak 30 butir soal. Teknik analisis data yang digunakan adalah statistik parametrik yang menggunakan bantuan program SPSS 22. Berdasarkan hasil uji-t menunjukan = 18,159 > = 2,069 dengan taraf signifikansi 5% yang berarti H0 ditolak dan H1 diterima. Jadi dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh yang signifikan pada model pembelajaran kooperatif tipe SDM terhadap prestasi belajar matematika siswa SMP
Patrisius Afrisno Udil, Oktovianus Nyongki Amsikan
Asimtot : Jurnal Kependidikan Matematika, Volume 2, pp 139-152; doi:10.30822/asimtot.v2i2.770

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis miskonsepsi siswa dalam menyelesaikan soal-soal pola bilangan dengan menggunakan Certainty of Response Index(CRI). Analisis miskonsepsi dengan CRI ini dimaksudkan untuk mengidentifikasi apakah siswa mengalami miskonsepsi dan sekaligus membedakannya secara jelas dengan siswa yang tidak tahu konsep dan tahu konsep. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Subjek penelitian adalah siswa kelas VIII SMPN Loro Tuan yang berjumlah 14 siswa dan objek penelitiannya adalah miskonsepsi siswa dalam menyelesaikan soal-soal pola bilangan. Instrumen yang digunakan untuk mendapatkan data antara lain tes matematika yang disertai CRI dan pedoman wawancara. Analisis data dilakukan secara deskriptif untuk mengungkap sebaran siswa yang mengalami miskonsepsi baik secara klasikal maupun individual pada setiap indikator soal yang diujikan. Kemudian analisis dilanjutkan dengan wawancara dan analisis jawaban subjek yang mengalami miskonsepsi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat miskonsepsi siswa pada setiap indikator soal yang diujikan. Secara individual tedapat sebanyak 78,57% siswa mengalami miskonsepsi minimal pada satu indikator soal yang diujikan, dengan rincian 36% pada indikator soal nomor 1, 29% pada indikator soal nomor 2, 43% pada indikator soal nomor 3, dan 50% untuk indikator soal nomor 4. Secara klasikal disimpulkan juga adanya miskonsepsi siswa dalam menyelesaikan soal pola bilangan yang diberikan. Hal ini terlihat dari tingginya persentase siswa yang menjawab salah dengan rerata CRI yang tinggi juga pada setiap soal yang diujikan. Hasil penelitian ini juga menemukan bahwa miskonsepsi yang dialami siswa didasari oleh beberapa hal yaitu (1) pra-konsepsi, (2) kesalahan memahami makna kata, (3) simplifikasi, dan (4) tekanan aspek praktis.
Rosalia Fransiska Ina Ledun, Agapitus H. Kaluge, Aloysius Joakim Fernandez
Asimtot : Jurnal Kependidikan Matematika, Volume 2, pp 153-160; doi:10.30822/asimtot.v2i2.771

Abstract:
Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengaruh kemandirian belajar dan minat belajar siswa SMA. Jenis dari penelitian ini yaitu penelitian kuantitatif dengan menggunakan analisis regresi berganda. Sampel dalam penelitian ini kelas XI IIS yang berjumlah 34 orang yang dipilih secara acak. Jenis datanya yaitu data primer. Alat pengumpulan data yang digunakan yaitu angket dan tes prestasi belajar matematika. Teknis analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis regresi ganda. Berdasarkan hasil uji parsial pada kemandirian belajar menunjukkan bahwa sehingga kemandirian belajar mempunyai pengaruh terhadap prestasi belajar matematika dan pada minat belajar diperoleh sehingga ada pengaruh yang tidak signifikan minat belajar terhadap prestasi belajar matematika. Selanjutnya, pada uji secara simultan menunjukkan bahwa maka terdapat pengaruh simultan pada kemandirian belajar dan minat belajar terhadap prestasi belajar matematika. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh kemandirian belajar dan minat belajar terhadap prestasi belajar matematika
Yafet Kala Pandu, Suwarsono
Asimtot : Jurnal Kependidikan Matematika, Volume 2, pp 115-128; doi:10.30822/asimtot.v2i2.768

Abstract:
Tujuan penelitian ini adalah (1) mengetahui aspek-aspek matematika yang terkandung dalam moko sebagai mas kawin di Alor (2) mengetahui sejarah serta makna penggunaan moko sebagai mas kawin di Alor. Jenis penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan etnografi. Subjek dalam penelitian ini adalah masyarakat Alor yang mana diwakili oleh 2 orang warga yang merupakan tua adat. Objek dalam penelitian ini adalah sejarah dan makna moko, aspek-aspek matematika yang terkandung dalam moko tersebut. Hasil penelitian menunjukan bahwa (1) sejarah penggunaan moko sebagai belis di masyarakat alor berasal dari budaya Dongson yang berpusat di Vietnam Utara. Penggunaan moko sebagai belis dalam kehidupan masyarakat Alor adalah sebagai tradisi nenek moyang yang telah melakukan sumpah dan komitmen sebagai mahar atau mas kawin. Makna Penggunaan moko sebagai Belis adalah sebagai sakralitas perkawinan, sosial, identitas masyarakat Alor, konservasi. (2) Aspek-aspek matematika yang terkandung dalam moko sebagai belis di masyarakat alor adalah menghitung, mengukur, mendesain, locating dan playing. Ditemukan konsep-konsep matematika sebagai pola dalam membuat moko. Konsep matematika yang terkandung dalam moko adalah tabung, lingkarang, belah ketupat. Hal ini menunjukan bahwa matematika tumbuh dan berkembang dalam keteraturan adat masyarakat tertentu yang disebut dengan istilah etnomatematika. Konsep matematika pada moko dapat digunakan dalam proses pembelajaran dan juga untuk memperkenalkan budaya, diharapkan juga cara penerapan proses pembelajaran berbasis budaya.
Paskalia Yasinta, Etriana Meirista, Abdul Rahman Taufik
Asimtot : Jurnal Kependidikan Matematika, Volume 2, pp 129-138; doi:10.30822/asimtot.v2i2.769

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) yang diterapkan dalam pembelajaran matematika dengan menggunakan studi literatur. Sumber data dalam penelitian ini ditempuh melalui riset kepustakaan murni berupa data sekunder dengan mengkaji sumber-sumber tertulis seperti jurnal-jurnal ilmiah. Teknik analisis data dalam penelitian ini melalui beberapa tahap, yaitu meringkas data, menarik berbagai topik pembahasan, mengembangkan data berdasarkan kepentingannya, melakukan cross check, memaparkan hasil yang telah dihimpun dan menarik kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) pada tahapan pembelajaran memiliki relevansi dengan indikator kemampuan berpikir kritis matematis, yaitu mampu menganalisis, merumuskan pokok permasalahan, menentukan strategi, memeriksa kembali dan menyimpulkan masalah yang diberikan. Selain itu jika dikaitkan dengan kategori PAM, kategori siswa berkemampuan tinggi memberikan kontribusi peningkatan kemampuan berpikir kritis matematis lebih tinggi bila dibandingkan dengan kategori siswa kemampuan sedang maupun siswa kemampuan rendah. Selanjutnya jika dikaitkan dengan tingkat pendidikan, kemampuan berpikir kritis matematis siswa SMP dan SMA melalui pendekatan CTL mengalami peningkatan kemampuan berpikir kritis matematis yang cukup baik. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pendekatan CTL mampu meningkatkan kemampuan berpikir kritis matematis saat diterapkan dalam pembelajaran matematika
Maria G Taimenas, Oktovianus Mamoh, Kondradus Y. Klau
Asimtot : Jurnal Kependidikan Matematika, Volume 2, pp 161-168; doi:10.30822/asimtot.v2i2.773

Abstract:
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan kemampuan berpikir kritis matematis siswa kelas VIII SMPK St. Yosef Noemuti ditinjau dari gaya belajar . Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan menggunakan pendekatan kualitatif, subjek dalam penelitian ini adalah 3 orang siswa, setiap gaya belajar diwakili 1 siswa. Instrumen yang dipakai berupa pernyataan angket,soal tes dan data hasil wawancara. Data yang diperoleh diambil dari lembar pernyataan angket gaya belajar, lembar tes kemampuan berpikir kritis dan wawancara. Berdasarkan analisis data dapat disimpulkan:1) Kemampuanberpikir kritis siswa dengan gaya belajar visual mampu merumuskan pokok-pokok permasalahan dan mengungkap fakta yang ada, mampu mengungkapkan argumen secara logis namun, kurang mampu mendeteksi bias dengan sudut pandang yang berbeda, dan dapat menarik kesimpulan. 2) Kemampuan berpikir kritis siswa dengan gaya belajar auditori mampu merumuskan pokok-pokok permasalahan dan mengungkap fakta yang ada mengungkapkan argumen secara logis, kurang mampu mendeteksi bias dengan sudut pandang yang berbeda, danmampu menarik kesimpulan. 3) Kemampuan berpikir kritis siswa dengan gaya belajar kinestetikmampu merumuskan pokok-pokok permasalahan dan mengungkap fakta yang ada, mampu mengungkapkan argumen secara logis,mampu mendeteksi bias dengan sudut pandang yang berbeda, dan mampu menarik kesimpulan. Hal ini menunjukan bahwa kemampuan berpikir kritis yang paling bagus adalah siswa dengan gaya belajar kinestetik
M Arrasikh Hidayatullah, Muhammad Win Afgani, Harisman Nizar
Asimtot : Jurnal Kependidikan Matematika, Volume 2, pp 103-114; doi:10.30822/asimtot.v2i2.767

Abstract:
Riset ini bertujuan untuk menghasilkan media pembelajaran yang valid dan praktis terhadap hasil belajar. Penelitian ini terdiri dari dua tahapan, yaitu tahap preliminary dan tahap prototyping. Tahap preliminary terdiri dari tahap persiapan dan pendesainan, sedangkan tahap prototyping menggunakan desain penelitian Tessmer terdiri dari evaluasi formatif yang meliputi self evaluation, one-to-one, expert review. Teknik pengumpulan data yang digunakan meliputi angket, wawancara, dokumentasi. Kevalidan media diperoleh berdasarkan hasil validasi yang telah dilakukan dengan validator pada tahapan expert review. Validator menyimpulkaan bahwa media pembelajaran yang di kembangkan ini telah baik dari segi konten, desain, kualitas teknis dan menyatakan layak untuk diujicobakan. Kepraktisan dari media dinilai dari hasil angket respon siswa dan wawancara pada tahap one-to-one. Siswa menyatakan bahwa media mudah digunakan, membantu siswa untuk menguasai materi kekongruenan dan kesebangunan, dan tertarik untuk menggunakan media pembelajaran.
Indah Kartika Sari, Wiendu Nuryanti, Ikaputra
ARTEKS : Jurnal Teknik Arsitektur, Volume 5, pp 431-440; doi:10.30822/arteks.v5i3.575

Abstract:
At the beginning of the 20th century, the terms genotype and phenotype in biology were adopted into architecture. In the science of architecture genotype was an abstract relational model that governs the arrangement of space, and the principle of organizing space while phenotype was a physical form of architecture. Genotype passed from generation to generation thus informing an identity in the community. The development of globalization and the environment can influence the identity of architectural diversity in each region. Vulnerability in the transformation of architectural forms can have an impact on identities that can survive or disappear. Malay traditional houses in West Kalimantan are on stilts and are located on the riverside. the sample used is a traditional Malay house around the palace in West Kalimantan with a sample of 8 cities and uses 69 sample houses. The method in this study uses the Levi Strauss structuralism and configuration space. External structure analysis has an informed of variation phenotype. through configuration space to finding archetypes. Then, continue to inner structure analysis to finding genotype from that archetype. The result from this study found the value and meanings of principle and arrangement space in traditional Malay house in West Kalimantan in the form of zoning of men and women as well as clean and dirty zones which have always been passed down from generation to generation.
Stephanus Evert Indrawan, Gervasius Herry Purwoko, Tri Noviyanto P. Utomo
ARTEKS : Jurnal Teknik Arsitektur, Volume 5, pp 347-358; doi:10.30822/arteks.v5i3.488

Abstract:
Indonesia is located in a geographic area that is prone to disasters; thus, it is necessary to raise awareness about the science of disaster mitigation, including the provision of safe/suitable temporary shelter/building facilities for victims. In a number of disasters, it can be seen that confusion and access to the affected transportation will lead to difficulties in delivering disaster relief and supporting equipment to build post-disaster facilities. Therefore, we need a construction system that is easily assembled, stable, and easy to carry. In this case, the designer uses one type of shell structure, i.e. Minimum Surface principle which is the basis of the Inflatable Structure or Pneumatic Structure. By developing lightweight structures that refer to this principle, the designer can process architectural forms that are lighter and more stable. In this paper, the discussion is limited to the use of materials made from plywood based on the principle of Minimal Surface structure because this material is easily obtained and processed. The research questions of this study are how to create a fast raft construction system for post-disaster needs with plywood base material and how to process the connection system or plywood construction to have structural capability. © 2020 Stephanus Evert Indrawan, Gervasius Herry Purwoko, Tri Noviyanto P. Utomo
Apridus Kefas Lapenangga, Donatus Ara Kian, Benediktus Boli
ARTEKS : Jurnal Teknik Arsitektur, Volume 5, pp 469-478; doi:10.30822/arteks.v5i3.601

Abstract:
Ume kbubu, as the traditional house of the Fatumnasi community, is a cultural product from local wisdom which has continually been adapted to the environment to ensure its sustainability. This research was, therefore, conducted to explore the principles of sustainable architecture in ume kbubu using an explorative approach with an ethnographic design applied to obtain necessary information from the objects of study such as the houses of the Village Head and the leader of Hamlet 1 in Fatumnasi village which were determined using a purposive sampling technique. The data were obtained through observation, interviews, and literature study and the results showed the ume kbubu’s sustainability is due to its long adaptation and natural selection for years which makes it a sustainable architecture and was also found to fulfill the three elements required which are economic, social and environmental.
Dalhar Susanto, Widyarko, Nisrina Dewi Salsabila
ARTEKS : Jurnal Teknik Arsitektur, Volume 5, pp 409-420; doi:10.30822/arteks.v5i3.563

Abstract:
Urban kampung in Indonesia has the characteristics of a high population density living in a limited amount of land. Residents of an urban kampung require a space that can be used together to carry out communal activities. However, the limited amount of land in a kampung causes these activities to occupy whatever land is available which often has uncertain ownership status. A team from the Department of Architecture UI built 'Popsyandu' shelter in Kampung Palsigunung, Depok, West Java, using the 'flexible architecture' approach to respond to the needs and issues of the kampung. Using qualitative methods and data collection through observation and interview, this paper attempts to discuss the application of flexible architecture in the design of 'Popsyandu'. The result shows that the application of 'flexible architecture' approach is difficult to be comprehended by the residents of the kampung, even though the designers tried to involve the residents during the design and construction process. Therefore, the authors conclude that in adopting a flexible architecture to respond to certain issues, the designer must consider the capabilities of the user instead of just following the theories stated beforehand. © 2020 Dalhar Susanto, Widyarko, Nisrina Dewi Salsabila
Dyah Kusuma Wardhani, Susan, Michelle Anastasia, Michele Julian Setiando
ARTEKS : Jurnal Teknik Arsitektur, Volume 5, pp 441-448; doi:10.30822/arteks.v5i3.582

Abstract:
Greenship Interior Space is a rating tool used in ensuring more sustainable and healthy indoor space with the focus on the health and comfort of the users thermally, visually, and acoustically. It is important to study this concept further to ensure a healthier workspace where most workers spend 80-90% of their time. This is necessary because a well-designed Indoor Health and Comfort has the ability to prevent the emergence of Sick Building Syndrome and increase employee productivity. This research was conducted using the Ciputra University workplace as a case study. Moreover, a descriptive quantitative approach was implemented with data collected through observation, interviews, and field measurements. The results showed the possibility of optimizing the visual comfort and outside view in the workplace to obtain the appropriate level of illumination and to improve workers’ productivity. This, therefore, means, a workplace needs to address the environmentally and socially conscious behavior and also support employee performance in order to improve productivity in line with the strategies of a green workplace.
Rumiati Rosaline Tobing, Andi Kumala Sakti, Hanny
ARTEKS : Jurnal Teknik Arsitektur, Volume 5, pp 459-468; doi:10.30822/arteks.v5i3.599

Abstract:
Toba Lake is one of Indonesia's most priority destinations included in the UNESCO Global Geopark. This makes it increasingly famous, necessitating its continued maintenance and preservation. Tourism is one of the economic sources of revenue in Indonesia. Since 2019, the government is determined to increase revenue from the tourism sector, with a target of 20 million tourists. The development of priority destinations influences environmental and socio-cultural maintenance and provides economic opportunities to local tourism village communities. The Huta Siallagan area of Samosir Regency is a village known for the beginning of the law enforcement civilization in Samosir. This tourist village has a stone trials site aged about 500 years, as one of the cultural attractions. The Stone Trial has been maintained for hundreds of years, becoming an interest to tourists, and one of the historical sites included in the Toba Caldera Geopark's geo- site. As a result, its sustainability needs to be maintained. The Samosir Regency Government is implementing the sustainability of tourism. This study showed a a survival aspect from an architectural viewpoint, reflected in the form of Huta Siallagan. The study aimed to determine the survival value in Huta Siallagan. A case study was used to explore architecture, tradition and life due to society's cultural aspects.
Nita Dwi Estika, Yudhistira Kusuma, Dewi Retno Prameswari, Iwan Sudradjat
ARTEKS : Jurnal Teknik Arsitektur, Volume 5, pp 339-346; doi:10.30822/arteks.v5i3.487

Abstract:
Contemporary architects highlight past ideas and present new manifestos often perceived as utopian. Bjarke Ingels introduced hedonistic sustainability in response to the demand for environmentally friendly and sustainable living through different perspectives. This paper comprehensively explains the concept of hedonistic sustainability through the designs of Bjarke Ingels, a contemporary architect. Literature from various sources is examined to describe Bjarke Ingels' idea. Hedonistic sustainability combines sustainable ideas, fun, and community. Bjarke Ingels's architectural design is applied through simulation and an ironic approach. Its representation facilitates the exploration of the design objects planned concretely. The idea of playful and communality was raised through the design that accommodates various user activities. Bjarke Ingels's idea is expected to contribute to the knowledge and contemporary architecture design process in Indonesia. © 2020 Nita Dwi Estika, Yudhistira Kusuma, Dewi Retno Prameswari, Iwan Sudradjat
Yohanes Basuki Dwisusanto, Hermawan
ARTEKS : Jurnal Teknik Arsitektur, Volume 5, pp 479-488; doi:10.30822/arteks.v5i3.609

Abstract:
Spatial patterns are formed based on local wisdom and Karangtengah Hamlet settlement which is located in the cold climate of the mountainous area in Banjarnegara Regency, Central Java has been discovered to have a uniqueness in using the fireplace as the center of its activities. Therefore, this research was conducted to uncover the basic concept of fireplace-based house spatial pattern in this settlement using a qualitative method which involves combining interview, observation, and documentation. The process also involved using 33 houses as the case study with the criterion for selection being the active use of the fireplace. The results showed the placement of fireplace in these houses was influenced by the kinship system and the purpose was to have spatial patterns designed to reduce migration from these settlements to cities.
Dhini Dewiyanti Tantarto, Dianna Astrid Hertoery
ARTEKS : Jurnal Teknik Arsitektur, Volume 5, pp 359-372; doi:10.30822/arteks.v5i3.504

Abstract:
Playing is one of the activities naturally possessed by children from childhood and elements of learning have been observed to be in playing and vice versa. For example, traditional games have philosophical values with moral messages but they have been replaced by games prioritizing technological advancements over time. This has reduced the familiarity of many children with traditional games in recent times. Meanwhile, the reduction in the quantity and quality of play and public open space for children is often considered one of the factors causing the extinction of traditional games. The availability of an adequate environment including play areas or playground aids children's development. This paper discusses the traditional games known by the present generation and the role of space in sustaining them with the focus on West Java. The study was conducted through observation and distribution of questionnaires to children aged 6-12 years living in Bandung city and some urban settlements. The results provided an overview of the types of traditional games known by the children, the space they favored, and its role in their willingness to play. © 2020 Dhini Dewiyanti Tantarto, Dianna Astrid Hertoery
ARTEKS : Jurnal Teknik Arsitektur, Volume 5, pp 329-330; doi:10.30822/arteks.v5i3.665

Abstract:
ARTEKS : Jurnal Teknik Arsitektur, volume 5, issue 3, December 2020 presents the fifteen on the conception of research results, which defined architecture as an inseparable coin related to "doing" and "being". The implication of the fifteen articles in the ARTEKS : Jurnal Teknik Arsitektur, volume 5 issue 3, December 2020 is that architecture is a relation and not a subject, object, doing, or being.
Alan Darma Saputra, Rahadhian Prajudi Herwindo, Yohanes Karyadi Kusliansjah
ARTEKS : Jurnal Teknik Arsitektur, Volume 5, pp 391-400; doi:10.30822/arteks.v5i3.540

Abstract:
Bali Island is a famous tourist destination in the world and this has made it a gathering hub and multicultural meeting center for tourists from several countries, thereby, raising concern on the possibility of the area losing its traditional Balinese architecture. It is necessary to make adjustments by adopting the shape of the old Balinese building. This means the emergence of new functions is not a taboo but a new design challenge, therefore, the traditional Balinese architecture and theater provisions were combined to produce a neo-vernacular architecture by using descriptive qualitative method. This led to the application of Asta Kosala-kosali in the theater space, modification on the roof, body and legs shape of the Balinese building, and the integration of the construction system and materials in the Balinese theater architecture. © 2020 Alan Darma Saputra, Rahadhian Prajudi Herwindo, Yohanes Karyadi Kusliansjah
Johannes Adiyanto
ARTEKS : Jurnal Teknik Arsitektur, Volume 5, pp 331-338; doi:10.30822/arteks.v5i3.465

Abstract:
Architectures in Indonesia are often identified as 'unique' compared to European and American constructions. They are referred to as Wastuwidya by Mangunwijaya and Nusantara by Prijotomo. This paper, therefore, aimed to examine the reasons for the perceived similar principles between the Indonesian architectures and those in Europe or America and also reviewed the architecture in the country beyond the identity. This involved the application of a historical approach with synchronous-diachronic methods to determine the significance of a historical timeline and its architectural content. The results showed the country’s modern architecture is associated with the foreign entry, its climate, and socio-cultural conditions, and also perceived as a sign of certain political powers presented during the Daendels and Sukarno era. Indonesian and European/American architectural designs were also observed to have different entry processes. Therefore, modern architecture should be perceived as a process rather than a product. © 2020 Johannes Adiyanto
Lydia Dewi Setiawan, Purnama Salura, Bachtiar Fauzy
ARTEKS : Jurnal Teknik Arsitektur, Volume 5, pp 373-390; doi:10.30822/arteks.v5i3.536

Abstract:
Globalization is being experienced throughout the world with its impact also observed in architecture, even in traditional villages of Indonesia. Some of them have, however, been able to maintain their identity such as the mass-space pattern of the customary village of Bali Aga Mountains in Bali which is discovered not to have changed. This research was, therefore, conducted to determine the relationship between the activities of the traditional society and their mass-space patterns using the customary village of Bali Aga Tenganan Pegringsingan as the case study. This involved the selection of respondents purposively and collection of data using cross sections by identifying unchanged buildings, taking photos, videos, drones, and through direct interviews in the field. The data obtained were analyzed qualitatively based on structuring theory or ordering principles and the results confirmed the mass-space pattern in Tenganan Pegringsingan village was built due to the close relations with the traditional activities of the society. The findings can be used in developing architecture by local governments as policymakers as well as academic architects and practitioners, and the wider society. © 2020 Lydia Dewi Setiawan, Purnama Salura, Bachtiar Fauzy
Mohammad Imran, Novita Shamin, Rahmi Budi As'Adiyah
ARTEKS : Jurnal Teknik Arsitektur, Volume 5, pp 421-430; doi:10.30822/arteks.v5i3.564

Abstract:
Global warming increases the overall temperature of the earth's surface and leads to climate change. Therefore, it plays an important impact on human life, especially in the architecture field. This study aims to identify the rise in environmental temperature due to parked cars with running engines and the use of paving blocks as heat-reducing material. This is a quantitative research with data collected and measured directly in the field, before being processed and explored of natural and waste materials in the laboratory. The results showed: (1) an increase in environmental temperature of ± 34.80C - 39.40C, or 50C to 100C due to parked cars with running engines, (2) the use of rectangular and hexagon paving blocks as heat-reducing material. Therefore, the increase in environmental temperature is reduced by the use of paving blocks, which comprises of basic (cement, sand, and water), natural (grass and fibers), and recycled materials (sawdust and styrofoam).
Agung Murti Nugroho
ARTEKS : Jurnal Teknik Arsitektur, Volume 5, pp 401-408; doi:10.30822/arteks.v5i3.551

Abstract:
The city's thermal environment plays an important role in achieving comfort and quality of life, especially during the current global pandemic. Meanwhile, reduction in the green areas has been observed to be continuously causing climate change in cities and one of the proposed solutions to this is by developing a greening system for buildings. This paper, therefore, assessed the ability of vertical garden to decrease air and surface temperatures as well as CO2 levels. The research involved field measurements of these parameters both inside and outside the building along with the modification of the vertical garden distance at 0.5 m and 1 m as well as the plant type including red spinach or amaranthus hybridus, mustard or brassica juncea, celery or apium graveolens linn, and cat's whiskers or orthosiphon spicatus. The results showed an average decrease of 0.75°C in air temperature, 16.4ºC in surface temperature, and 58.8 ppm in CO2 levels. Moreover, a maximum reduction of 6ºC was achieved in air temperature with red spinach plants at 0.5 m, 26.3ºC in surface temperature by the Rred spinach plant, and 124 ppm in CO2 levels by celery plants. In conclusion, a closer distance and darker color of the leaves as well as the red spinach species were found to be the main consideration in the application of vertical gardens in urban homes due to their ability to reduce the temperature on the limited land. © 2020 Agung Murti Nugroho
Williams Barnabas Qurix, Rahila Gugule Doshu
ARTEKS : Jurnal Teknik Arsitektur, Volume 5, pp 449-458; doi:10.30822/arteks.v5i3.596

Abstract:
The past ten years (2010- 2020), an overwhelming number of buildings (forty-eight) have collapsed in Nigerian urban cities, with about 77% rise from the previous decade. To address this menace, the study aimed at exploring major causes of building collapse in Nigeria as perceived by building industry professionals, policy makers and the public; with a view of establishing effective ways for mitigation. The primary data were obtained from Questionnaires and field observations while secondary data were obtained from textbooks, Journal articles and newspapers. The results revealed that factors such as change of use for building without following professional protocols is a major cause of building collapse. Poor supervision or lack of supervision by qualified professionals; substandard materials, structural failure; government controlling agency not monitoring projects and standards are compromised, a significant amount (27.7%) of collapse cases recorded during constructions. Other factors include faulty architectural and engineering designs; clients not ready to pay for quality jobs and contractors cut corners for profit. The study recommends use of Building Information Modelling to predict behaviour of buildings under various loading and environmental conditions. Also, only certified professionals should carry out design and supervision of projects. Further research should evaluate the role of technology on existing buildings to check the level of safety for occupants’ in such buildings.
Okto Kosat
Lumen Veritatis: Jurnal Filsafat dan Teologi, Volume 11, pp 1-2; doi:10.30822/lumenveritatis.v11i1.694

Abstract:
Lumen Veritatis edisi Oktober 2020 hadir dan teramu dalam rangkaian pemahaman akan iman dan pengetahuan. Wacana dasar yang tersaji melalui karya-karya para penulis, mulai dari Kitab Suci sebagai sumber keberimanan, Teologi sebagai tonggak, diikuti praktek-praktek teoritikal yang humanis, merupakan penyataan dari sebuah ekspresi pengetahuan. Di dalamnya, manusia yang melakukan pencaharian menyadari keterbatasan akan pengetahuannya, jika tanpa iman yang menyelamatkan. Rangkaian kisah kebesaran kasih Allah yang mengungkapkan hakekat-Nya yang hakiki telah tercurahkan sejak penciptaan manusia dengan segala kelengkapan akal budi dan kehendaknya yang bebas, supaya manusia dapat mengambil bagian dalam kehidupan-Nya yang ilahi dan bahagia. Dan kisah pencurahkan kasih ini telah teralami dalam seluruh perjalanan hidup bangsa Israel sebagai bangsa pilihan. Demikian kasih Allah, dialami seutuhnya, tetapi tidak terselami segala rencana kasih-Nya. Demi membina dan mempertahankan kehidupan iman, manusia hanya mampu mengekspresikan ketaatannya pada kasih Allah yang tidak terselami.
Giovanni A. L. Arum
Lumen Veritatis: Jurnal Filsafat dan Teologi, Volume 11, pp 37-64; doi:10.30822/lumenveritatis.v11i1.702

Abstract:
Mario F. Lawi is one of the most popular young poet in the Indonesian Literary. He is well-known as the “biblical poet” who constantly explores biblical theme in a large number of his poems. This research elaborates biblical imagination as a form of a personal living faith and finds its relevance to the kerygmatic-preaching by the literature. This analysis uses the combination of three theories, i.e: the theory of intertextual semiotics by Michael Riffaterre from literature perspective, the theory of theological aesthetics by Hans Urs von Balhtasar from theology perspective and the concept of the kerygmatic-preaching from “The Letter of His Holiness Pope John Paul II to the Artists” by kergygmatic-preaching perspective. The result of this qualitative research i.e: 1) All of the biblical imagination in Mario’s poems have their references or allusions from the Bible text as their hipogram, 2) By theological aesthetics perspective, biblical imagination which is used by Mario in his biblical poems could be considered as a personal living faith, 3) The biblical imagination in Mario’s poems gives an altenative relevance to the kerygmatic-preaching ad intra (to the Christian readers) and ad exrtra (to the non-christian readers).
Oktovianus Naif
Lumen Veritatis: Jurnal Filsafat dan Teologi, Volume 11, pp 107-126; doi:10.30822/lumenveritatis.v11i1.708

Abstract:
Man and woman are created in God’s image so they have desire to know their Creator and they also need God in their lives which causes the desire to know Him. The desire in question, then, is a desire to understand God. For the desire is prior to knowing and it is compatible with not knowing. It is true if we say that man’s unrestricted desire to know is mated to a limited capacity to attain knowledge about Him.For its finiteness human capabilitycould not get hold of a complete knowledge of God.In knowing God and aknowledging Him as Being of beings, human beings must be aware of his ignorance that is “the only true wisdom is in knowing I know nothing.” God, therefore, takes the first step to contact with human beings, then He reveals Himself, He gives Himself to be known and He makes Himself known by human beings. This is a self-manifestation of Someone to someone. Revelation is due to the intiative of God that is God reveals Himself, when He wills, to whom He wills and because He wills. God’s revelation illuminates the intellectual capabilityof humans so that human beings are able to know Him and aknowledge Him and talk about Him as Being of beings. Knowledge of God is called theology. Ultimately, theology is about God in Himself. Thus, theology is the peak of knowledge and the fullness of gnosis since it was brought about under the guidance of the Spirit.So, we could say, God makes knowledge possible for human beings and God is really the Possibler of knowledge and aknowledge of Himself.
Lumen Veritatis: Jurnal Filsafat dan Teologi, Volume 11, pp 89-106; doi:10.30822/lumenveritatis.v11i1.707

Abstract:
Two political economy thoughts that dominated the 19th and 20th centuries are liberalism and socialism. These two great ideologies originate from a philosophy that emphasizes individuality (liberalism) and another philosophy that emphasizes collectivity (socialism). These two ideologies face each other and have produced a world socio-economic order for approximately two centuries, where the influence we still experience today in Indonesia and that is what appears in the constitution of the Republic of Indonesia. Starting from the socio-economic order stated in the constitution, in the following we can review three fundamental political characteristics of the nation, namely the ideology of the nation state, the Pancasila State, and the unitary state. The existence of these three political entities - if we really examine the constitutional normative message about the national economy and social welfare - can only be guaranteed by cooperatives. Cooperatives as the pillars of the national economy can shape and guarantee the three Indonesian political characteristics.
Calestino Victor Mussomar
Lumen Veritatis: Jurnal Filsafat dan Teologi, Volume 11, pp 77-88; doi:10.30822/lumenveritatis.v11i1.704

Abstract:
The aim of this article is to propose a theoretical reflection of the urgent contextualization of Human Rights in African countries. As we know, Human Rights are transversal, that every people are a consequence of historical, social and political contexts. This article tries to defend that it is possible to avoid Western imperialism in the name of Human Rights with its form of universalism. For Africa, the context of Ubuntu is a good alternative.
Lumen Veritatis: Jurnal Filsafat dan Teologi, Volume 11, pp 19-36; doi:10.30822/lumenveritatis.v11i1.697

Abstract:
There is a line of titles of Saint Mary mentioned by Pope Francis in his published encyclicals and apostolic exortations. However, we summarize them into seven new titles, namely, Saint Mary is the daughter of Zion, mother, queen, woman, star, bride, and the spring of happiness for the little people. We consider that the number seven title has opened the minds of the faithful about the joy of believing in the Triune God who saves the world and the significant role of Saint Mary in the success of this exalted work. The recognition of the seven new titles aims to support the understanding of the faith of the Catholic faithful in the Blessed Mary as Mother of God and Virgin. Apart from that, another goal is that the quality of the Church's faith in the virginity of Saint Mary and her mother of God will be strengthened. What kind of quality do you want to affirm? What he wants to affirm is the quality of the Church's faith which is rooted in the past of the Old Testament, which is flourishing and expanding in the present, and which will bear fruit to await eternal happiness in the future (eschatological). Thus, the seven new titles of Saint Mary can reveal the faith of the Church to live at all times.
Lumen Veritatis: Jurnal Filsafat dan Teologi, Volume 11, pp 65-76; doi:10.30822/lumenveritatis.v11i1.703

Abstract:
Karl Rahner made a major contribution to the trinitarian theology in this post-modern era. He has attempted to reconcile the classical doctrine of the Trinity with contemporary thought. Rahner spoke about the topic of the oneness and triadity of God. Regarding the oneness of God, Rahner did not speak about the one ousia / divine essence, but rather the unity or perichoresis of the three divine persons. What is called God here, is not the essence of divinity but the Father who is the source of the Son and the Holy Spirit. Furthermore, Rahner emphasizes the identification and relationship between the immanent Trinity and the economic Trinity which according to him is the important point in the theology of the Trinity. Consequently, the only starting point for developing a theology of the Trinity is the history of our experience with God, in which God reveals Himself in two ways, namely through the Word and the Spirit. This article presents Karl Rahner's thoughts on the Trinity and its relevance to human life. First of all, the author describes about the place of Trinitarian theology in the general framework of Rahner's anthropological theology. Next, it discussed his thoughts on the Trinity itself and at the end, the relevance of the Trinity to human life. This relevance becomes evident in Rahner's thought about the communication of God to man in the form of His Word and Spirit.
, Siprianus S. Senda
Lumen Veritatis: Jurnal Filsafat dan Teologi, Volume 11, pp 3-18; doi:10.30822/lumenveritatis.v11i1.695

Abstract:
Underscrutinized psalms of 93, 100, 121, 126 and 128 are underlaying and performing the very essence of the God of Israel as the merciful, loving and liberating God. Nothing is to lose with the God of Israel. The essence of the God of Israel as the eternal King (Ps.93), the faithful Keepguarder (Ps. 121) and the Hope of Israel (126) provokes and invites the people of Israel to hail and to adore Him in His Holy Place (Ps. 100) in order to get and to inherit His plentiful Blessings (Ps. 128). In other words, those who have the holy fear to God and faithfully obeying His commandments deserve God’s blessings. On these theological perspectives we have investigated the Catholic parishioners and its leaders of St. Peter and Paul’s half Parish - Oesapa, to find out howfar they have performed and embodied the mercy of God and obeying His commandments. And they are making effort and advancing in serving the Church and obeying the God’s commandments.
Sri Yuliani, Gagoek Hardiman, Erni Setyowati
ARTEKS : Jurnal Teknik Arsitektur, Volume 5, pp 245-254; doi:10.30822/arteks.v5i2.395

Abstract:
Penelitian atap hijau telah berkembang pada berbagai ragam disiplin ilmu secara mendunia. Namun informasi penelitian dengan tema atap hijau di Indonesia masih terbatas diperoleh, termasuk dari disiplin ilmu arsitektur. Oleh karenanya, sangat penting mengidentifikasi pemetaan penelitian atap hijau dari sudut pandang arsitektur. Tujuan penelitian mengidentifikasi kebaruan penelitian atap hijau yang berpeluang dilakukan di Indonesia. Metode penelitian dengan menggunakan kajian literatur berdasarkan pemetaan melalui Vosviewer dilanjutkan dengan melakukan analisis isi pada sejumlah teori yang telah mengerucut. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa penelitian atap hijau dari sudut pandang arsitektur, masih berpeluang pada penelitian yang menggunakan parameter lokasi berbasis iklim dan kriteria kepadatan, fungsi obyek hunian, inovasi bahan dan teknologi atap hijau yang aplikatif digunakan masyarakat Indonesia.
Alfanadi Agung Setiyawan, Suzanna Ratih Sari, Agung Budi Sardjono
ARTEKS : Jurnal Teknik Arsitektur, Volume 5, pp 287-296; doi:10.30822/arteks.v5i2.436

Abstract:
Trotoar adalah salah satu prasarana yang penting guna menunjang perkembangan dan efektivitas segala kegiatan pada skala kawasan. Keberadaan trotoar memiliki fungsi utama yakni mewadahi aktivitas berjalan kaki manusia, dengan tidak melupakan fungsi tambahan sebagai penghubung elemen transportasi perkotaan. Akan tetapi pada kenyataannya trotoar memiliki fungsi ganda, selain untuk berjalan kaki dimanfaatkan juga untuk sarana berdagang PKL (pedagang kaki lima). Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengungkap keterkaitan antara persepsi atribut yang ditunjukkan dengan bagaimana para PKL berperilaku, dengan latar seting trotoar koridor jalan Pandanaran Semarang. Terdapat dugaan bahwa objek street furniture memiliki kekuatan properti yang mampu mewadahi tuntutan atribut para PKL. Untuk menjawab dugaan tersebut digunakanlah kuesioner tertutup dan metode Person Centered Mapping untuk memperoleh data statistik maupun data gambar rekaman perilaku PKL dalam berdagang di trotoar. Data yang didapat kemudian dianalisis menggunakan metode analisis statistik deskriptif. Dimulai dari klasifikasi sesuai persepsi berupa minat, tujuan, dan harapan diikuti oleh atribut yang memiliki relevansi dengan seting trotoar antara lain visibilitas, aksesibilitas, keamanan, dan adaptabilitas.
Denny Huldiansyah, Tarcicius Yoyok Wahyu Subroto
ARTEKS : Jurnal Teknik Arsitektur, Volume 5, pp 173-184; doi:10.30822/arteks.v5i2.248

Abstract:
Masjid Pathok Negara Babadan merupakan salah satu dari empat Masjid Pathok Negara yang berperan sebagai batas Timur Negara di masa Kesultanan Yogyakarta. Masjid Pathok Negara Babadan telah mengalami berbagai macam perubahan fisik, khususnya pada ruang-ruang yang ada saat ini. Akan tetapi, dibalik perubahan-perubahan tersebut terdapat ruang yang keberadaannya selalu konsisten sejak masjid pertama kali berdiri hingga sekarang ini. Hal ini memunculkan pertanyaan-pertanyaan seperti apa saja ruang yang konsisten di dalam Masjid Pathok Negara Babadan dan apa yang mempengaruhi konsistensi dari ruang tersebut. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif-deskriptif dalam mengumpulkan data dan informasi-informasi mengenai perkembangan denah dan ruang-ruang di Masjid Pathok Negara Babadan. Analisis dilakukan dengan menggunakan metode diakronik dan sistem Koordinat Kartesian/Cartesian Coordinate System (CCS). Temuan penelitian ini mengungkapkan bahwa keberadaan ruang pangimaman, liwan, dan pawestren merupakan ruang yang konsisten di dalam Masjid Pathok Negara Babadan. Konsistensi ruang-ruang tersebut dipengaruhi faktor otoritas keraton sebagai pemilik utama masjid-masjid kesultanan (kagungan dalem), termasuk di dalamnya Masjid Pathok Negara Babadan. © 2020 Denny Huldiansyah, Tarcicius Yoyok Wahyu Subroto
Roqim Azyan Kemas, Yohannes Firzal, Mira Dharma Susilawaty
ARTEKS : Jurnal Teknik Arsitektur, Volume 5, pp 229-234; doi:10.30822/arteks.v5i2.391

Abstract:
Tembilahan dikenal sebagai Negeri Hamparan Kelapa Dunia mempunyai kerajinan yang berbahan baku kelapa, baik itu dari batok, batang, dan bahkan dari sabut kelapa. Potensi kerajinan berbahan baku kelapa di Kabupaten Indragiri Hilir belum mendapat respon yang positif dari masyarakat karena masih kuatnya persaingan dengan produksi produk-produk berbahan baku lainnya, padahal kelapa merupakan salah satu potensi terbesar yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan ekonomi daerah. Untuk menunjang berkembangnya kerajinan berbahan baku kelapa, maka diperlukanlah Coconut Center yang dapat mewadahi berbagai macam kegiatan yang berkaitan dengan kelapa seperti pusat kerajinan tangan dan pengembangan kelapa. Dengan menggunakan metode primer berupa survei, serta berbagai sumber literatur sebagai metode sekunder. Pada perancangan arsitektur Coconut Center ini akan digunakan pendekatan tema Arsitektur Biomimetika yang pada dasarnya menggunakan alam sebagai model dan acuan dalam ide-ide perancangan, kiranya dapat memperkuat aspek alam pada objek rancangan yang mengacu pada fungsi Kerajinan, penelitian, produksi, edukasi, dan rekreasi. © 2020 Kemas Roqim Azyan, Yohannes Firzal, Mira Dharma Susilawaty
Santoni, Fransisca Yongsie, Evian Devi
ARTEKS : Jurnal Teknik Arsitektur, Volume 5, pp 205-218; doi:10.30822/arteks.v5i2.380

Abstract:
Penelitian ini dilatar belakangi oleh wadah yang disediakan pemerintah bagi lansia sebagian besar adalah panti jompo yang fasilitasnya kurang. Saat ini diperlukan sarana alternatif hunian kedua bagi lansia yang memberikan fasilitas rekreasi untuk memantau kesehatan mental dan fisik para lansia serta pelayanan umum. Penelitian ini berfokus pada lingkungan panti jompo, bangunan panti jompo dan tempat rekreasi lansia pada panti jompo. Teori yang digunakan adalah teori lansia, psikologis lansia, rekreasi, rekreasi lansia, perancangan panti jompo, dan tempat rekreasi. Variabel yang digunakan adalah lansia, panti jompo, dan rekreasi. Berdasarkan rumusan teori yang telah dilakukan maka kriteria yang akan diuji pada studi kasus mengenai aspek lingkungan panti jompo adalah jalur masuk tapak dan bangunan, area kedatangan, taman rekreasi pasif dan aktif, area bercocok tanam dan sirkulasi pedestrian. Pada aspek bangunan panti jompo akan dijui kriteria area komunal, area servis, loading dan staf, sirkulasi bangunan, unit kamar dan blakon, dan ruang duduk dan pantry. Sedangkan pada aspek tempat rekreasi untuk lansia maka akan diteliti mengenai pemilihan tema, pola sirkulasi, pengolahan ruang, kegiatan dan fasilitas dan bentuk ruang. Studi kasus yang akan digunakan ialah Sasana Tresna Werdha Karya Bhakti Ria Pembangunan dan Panti Werdha Wisma Mulia. Penelitian pada aspek lingkungan menunjukkan bahwa Panti Werdha Wisma Mulia lebih mendukung pergerakan dan psikologis lansia untuk beraktivitas secara mandiri karena lingkungan yang tidak terlalu besar jika dibandingkan dengan Sasana Tresna Werdha Karya Bhakti Ria Pembangunan. Jika pada aspek bangunan Sasana Tresna Werdha Karya Bhakti Ria Pembangunan memiliki ruang-ruang pendukung dan kamar yang lebih memadai, sirkulasi bangunan pun dapat diakses secara keseluruhan oleh lansia, sedangkan Panti Werdha Wisma Mulia hanya memiliki fasilitas seadanya. Pada aspek tempat rekreasi keduanya memiliki kelebihan, Sasana Tresna Werdha Karya Bhakti Ria Pembangunan memiliki banyak ruang dan kegiatan untuk aktivitas lansia dalam jumlah besar, sedangkan Panti Werdha Wisma Mulia meski dengan taman yang kecil dan ruang serbaguna yang tidak terlalu besar namun cukup dalam menjawab kebutuhan lansia sebagai tempat rekreasi. © 2020 Santoni, Francisca Yongsie, Evian Devi
Gina Liana Wati, Anisa
ARTEKS : Jurnal Teknik Arsitektur, Volume 5, pp 185-196; doi:10.30822/arteks.v5i2.366

Abstract:
Arsitektur organik merupakan konsep arsitektur yang selaras dengan alam dan terintegrasi dengan tapak melalui visualisasi. Terdapat delapan konsep dasar yang dijadikan acuan dalam mendesain bangunan berkonsep arsitektur organik yaitu, building as nature, continous present, form follows flow, of the people, of the hill, of the material, youthful and unexpected, living music.Penerapan arsitektur organik pada kawasan agrowisata modern dapat menghidupkan suasana kawasan agrowisata modern, sehingga meningkatkan daya tarik kawasan agrowisata modern tersebut. Penelitian ini menggunakan metode deduktif untuk mengetahui lebih dalam mengenai penerapan arsitektur organik pada kawasan Kuntum Farmfield. Analisis dilakukan secara deskriptif kualitatif menggunakan teori delapan konsep arsitektur organik. Kesimpulan yang didapatkan adalah konsep arsitektur organik dapat diterapkan pada kawasan agrowisata modern, antara lain mengaplikasikan gubahan massa terbuka dan bentuk menyerupai organisme, menghadirkan unsur alam, dan menjadikan alam itu bagian dari desain merupakan penerapan konsep building is nature. Form follows flow diterapkan pada kawasan agrowisata modern dengan mendesain sisi terpanjang bangunan mengarah ke Utara dan Selatan, mendesain bangunan dengan bukaan, serta mendesain area terbuka mengarah ke lingkungan alam. Of the people diterapkan pada kawasan agrowisata modern dengan memberikan ruang yang cukup bagi pengunjung untuk berinteraksi dengan hewan dan mendesain bangunan dengan ruang terbuka yang dapat menampung orang banyak. © 2020 Anisa, Gina Liana Wati
Muhammad Hidayat, Budi Prayitno, Dwita Hadi Ratmi
ARTEKS : Jurnal Teknik Arsitektur, Volume 5, pp 277-286; doi:10.30822/arteks.v5i2.405

Abstract:
Sejak awal berdirinya kota, masyarakat Pontianak merupakan masyarakat multietnik yang multikultur, tercermin dari perwujudan akulturasi arsitektur rumah tradisionalnya yang tersebar di wilayah cikal bakal kota Pontianak, yang saat ini masih bisa dijumpai. Sejarah budaya multikultur sudah terjadi sejak masa awal terbentuknya kesultanan Pontianak, sebagaia wujud hasil integrasi budaya dari beragam etnis tertentu. Penelitian ini dimaksudkan untuk mengkaji lebih jauh, tentang akulturasi religi yang menyertai perwujudan akulturasi etnik pada wujud arsitektur vernakular rumah Melayu Pontianak. Melayu di sini adalah sebuah perwujudan diaspora antar etnis yang memiliki kesamaan keyakinan iman Islam. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif-deskriptif dengan pendekatan studi kasus atas 30 sampel terpilih. Analisis dilakukan didasarkan, sejauhmana kekuatan sistem religi dari tiap etnik yang berakulturasi, dengan merujuk pada sejarah perkembangan dakwah Islam di Pontianak khususnya dan di Kalimantan Barat pada umumnya. Penelitian menghasilkan temuan bahwa akulturasi religi dalam perwujudan arsitektur vernakular Melayu Pontianak terjadi dalam bentuk saling toleransi antar religiusitas Islam dari masing-masing etnik (akulturasi-separatif), dalam dasar wujud akulturasi elemen fisik yang bersifat menghargai otoritas vernakularitas Bugis (akulturasi integratif-asimilatif) dalam mewujudkan rumah Melayu Pontianak. Diharapkan hasil kajian ini makin memperkaya anasir utama tentang arsitektur vernakular rumah Melayu Pontianak, dan makin memberikan gambaran tentang kekayaan Budaya Melayu Pontianak.
Bintang Padu Prakoso, Herman Wilianto
ARTEKS : Jurnal Teknik Arsitektur, Volume 5, pp 165-172; doi:10.30822/arteks.v5i2.219

Abstract:
Masyarakat Jawa memiliki falsafah hidup yang unik. Falsafah hidup masyarakat Jawa dikenal sebagai ajaran kejawen. Falsafah kejawen diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dan dimanifestasikan dalam simbol-simbol dan ritual pada hunian. Bagi masyarakat Jawa, rumah tidak dianggap sebagai tempat tinggal semata, namun rumah juga menjadi tempat perwujudan banyak simbol atau ritual yang memberi dorongan bagi pemiliknya. Penelitian mengenai rumah adat Jawa memang sudah sering dilakukan, namun banyak dari hasil penelitian lebih menekankan aspek fisik. Sedangkan masyarakat Jawa tradisional yang mengacu pada falsafah kejawen memahami realitas secara intuitif, tidak terbatas pada wujud fisiknya saja. Untuk memahami isu dari penelitian ini secara mendalam observasi lapangnan dilakukan untuk periode waktu tertentu menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, rumah bagi masyarakat Jawa merupakan perpaduan jagad ageng dan jagat alit. Omah yang berasal dari kata "Om" sebagai bapak angkasa dan "Mah" lemah atau tanah merupakan ibu bumi. Omah bagi masyarakat Jawa merupakan manifestasi dari makro kosmos dan mikro kosmos. © 2020 Bintang Padu Prakoso, Herman Wilianto
Nino Ardhiansyah
ARTEKS : Jurnal Teknik Arsitektur, Volume 5, pp 197-204; doi:10.30822/arteks.v5i2.372

Abstract:
Identitas ruang yang dimiliki oleh sebuah kota dapat ditunjukkan melalui kota yang bersih, sehat, dan tertata. Kota yang bersih, tertata dan bebas dari vandalisme mampu memenuhi standar identitas kota. Pelaku aksi vandalisme yang semakin tidak terkontrol mencoreng keistimewaan Yogyakarta sebagai kota pelajar dan kota budaya. Aksi grafiti tagging dilakukan dengan cara menuliskan nama geng/kelompok pada media/bangunan di ruang publik dengan menggunakan cat semprot sebagai wujud eksistensi. Grafiti tagging akan menimbulkan polusi visual yang merusak keistimewaan Kota Yogyakarta. Fenomena merebaknya graffiti tagging menyebabkan permasalahan pada visualisasi representasi Kota Yogyakarta. Tujuan Penelitian ini mengidentifikasi faktor – faktor setting fisik yang mempengaruhi aktifitas grafiti tagging di Kota Yogyakarta serta memberikan gagasan melalui penyusunan Urban Design Guideline terkait permasalahan grafiti tagging sebagai bentuk vandalisme yang terjadi di Kota Yogyakarta. Metode Penelitian ini mengkaji setting fisik dan aktivitas pada koridor Jalan AM Sangaji. Koridor jalan ini merupakan bagian dari sumbu imajiner Kota Yogyakarta namun sering menjadi lokasi aksi vandalisme. Pengumpulan data dilakukan melalui survey dan studi pustaka terkait fungsi bangunan, massa, ketinggian bangunan, warna, transparansi dan setback. Hasil identifikasi kemudian dianalisis berdasarkan masing-masing elemen yang dijadikan variabel penelitian untuk menemukan kriteria bangunan yang cenderung menjadi objek vandalisme. Hasil studi menunjukkan lokasi yang sering dijadikan aksi grafiti tagging yaitu tempat tempat yang berada pada jalan utama. Faktor setting fisik yang paling berpengaruh terhadap aksi vandalisme yaitu vegetasi yang kurang, massa bangunan yang kecil, transparansi yang kurang, dan dimensi setback yang sempit. © 2020 Nino Ardhiansyah
Agus Setiawan, Ikaputra
ARTEKS : Jurnal Teknik Arsitektur, Volume 5, pp 255-264; doi:10.30822/arteks.v5i2.402

Abstract:
Pengembangan kawasan berbasis transit atau transit oriented development (TOD) adalah konsep untuk menjawab permasalahan terkait minimnya penggunaan moda transportasi publik yang terjadi di kawasan perkotaan. Kondisi empiris dikawasan stasiun Maguwo belum menerapkan prinsip TOD khususnya terkait aspek densitas dan diversitas, yang berakibat terhadap rendahnya intensitas pemanfaatan transportasi publik khususnya kereta api, berdasar kondisi tersebut perlu dilakukan penataan kembali dengan menerapkan prinsip TOD. Penataan kawasan stasiun Maguwo dengan konsep TOD diawali dengan tinjauan kondisi eksisting dan tipologi TOD yang ideal untuk diterapkan dikawasan stasiun Maguwo, temuan kesenjangan antara kondisi eksisting dengan tipologi TOD yang ideal untuk diterapkan, serta rekomendasi untuk menyelesaikan kesenjangan tersebut, akan menjadi masukan dalam proses perencanaan desain kawasan TOD. Penelitian menggunakan metode deduktif kuantitatif dan kualitatif dengan variabel penelitian meliputi karakter pengembangan kawasan, ragam dan intensitas pemanfaatan ruang. Hasil penelitian menunjukan tipologi TOD yang ideal diterapkan di kawasan stasiun Maguwo adalah tipologi TOD sub kota. Kesenjangan antara kondisi eksisting dengan standar tipologi TOD sub kota adalah pada kurangnya jumlah unit hunian dan rendahnya intensitas pemanfaatan ruang meliputi kepadatan bangunan, kepadatan unit hunian, dan kepadatan populasi, sehingga desain kawasan nantinya perlu menambahkan jumlah unit hunian dan meningkatkan angka intensitas kepadatan bangunan agar sesuai dengan standar tipologi TOD sub kota. © 2020 Agus Setiawan, Ikaputra
Page of 5
Articles per Page
by
Show export options
  Select all
Back to Top Top