Refine Search

New Search

Advanced search

Results: 1,328

(searched for: doi:(10.30598/*))
Save to Scifeed
Page of 133
Articles per Page
by
Show export options
  Select all
Mahfudz Reza Fahlevi
BAREKENG: Jurnal Ilmu Matematika dan Terapan, Volume 14, pp 473-480; doi:10.30598/barekengvol14iss3pp473-480

Abstract:
The axioms of fields satisfy over sets of numbers such as Q, R, and C. Generally, a set of matrix is not commutative for binary multiplication properties, such that cannot satisfy of field axioms. In this paper we will discuss circulant matrix set [CIRCn(a)] which satisfy the commutative properties of multiplication, then it will be shown that the definition of a field is satisfied by circulant matrix [CIRCn*(a)] . This can provide new perspective on a field formed by matrix.
Nur Inayah, Muhammad Manaqib, Nina Fitriyati, Ikhwal Yupinto
BAREKENG: Jurnal Ilmu Matematika dan Terapan, Volume 14, pp 461-472; doi:10.30598/barekengvol14iss3pp461-472

Abstract:
Penelitian ini mengembangkan model penyebaran penyakit tuberkulosis menggunakan model SIR yang ditambahkan dengan faktor penggunaan masker medis. Pembentukan model diawali dengan membuat diagram kompartemen alur penyebaran penyakit tuberkulosis melalui kontak antar individu dengan menggunakan masker medis. Kemudian dibentuk sistem persamaan diferensial nonlinear berdasarkan diagram kompartemen tersebut. Berdasarkan sistem tersebut, dicari titik ekuilibrium bebas penyakit, titik ekuilibrium endemik, dan bilangan reproduksi dasar (R0). Analisis kestabilan titik ekuilibrium bebas penyakit menggunakan linierisasi dan titik ekuilibrium bebas penyakit yang diperoleh bersifat stabil asimtotik saat (R01). Hal ini berarti penyakit tuberkulosis akan menjadi endemik.
Meli Pranata, Dian Anggraini, Deden Makbuloh, Achi Rinaldi
BAREKENG: Jurnal Ilmu Matematika dan Terapan, Volume 14, pp 425-434; doi:10.30598/barekengvol14iss3pp425-434

Abstract:
Tindak kriminal adalah kejahatan yang melanggar undang-undang suatu Negara atau melanggar norma yang berlaku dalam masyarakat. Pencurian merupakan salah satu bentuk dari perbuatan tindak kriminal. Dampak yang ditimbulkan dari adanya pencurian adalah perasaan kurang aman, takut, dan tenang. Salah satu model yang digunakan untuk memprediksi jumlah kasus pencurian yaitu model time series. Model time series adalah serangkaian nilai pengamatan yang diambil selama periode waktu tertentu. Pada umumnya, dalam interval-interval yang sama panjang, (Spuege & Stephens, 2004). Penelitian ini bertujuan memodelkan data tindak kriminal yang terjadi di Lampung Utara dengan model Autoregressive (AR), Moving Average (MA), dan Autoregressive Integrated Moving Average (ARIMA). Selanjutnya dari model terbaik akan digunakan untuk peramalan 6 bulan kedepan. Hasil penelitian model AR , model AR , model MA , ARIMA , dan model ARIMA . Model MA memiliki koefisien parameter yang signifikan, memenuhi uji diagnostic tidak adanya residual pada model dan memiliki nilai RMSE dan AIC terkecil dengan nilai RMSE sebesar dan nilai AIC sebesar . Hasil prediksi model MA untuk 6 bulan ke depan cenderung mendatar.
Bib Paruhum Silalahi, Silviana Eka Pertiwi, Hidayatul Mayyani, Nur Aliatiningtyas
BAREKENG: Jurnal Ilmu Matematika dan Terapan, Volume 14, pp 435-446; doi:10.30598/barekengvol14iss3pp435-446

Abstract:
Manajemen pemasaran adalah suatu kegiatan untuk merencanakan serta mengorganisasi kegiatan pemasaran agar tercapai tujuan organisasi atau perusahaan secara efisien dan efektif. Masalah muncul bila terdapat beberapa atau banyak proyek berbeda yang dapat diimplementasikan sebagai proyek pemasaran perusahaan. Proyek-proyek ini biasanya dikategorikan oleh beberapa tujuan. Tujuan-tujuan ini dapat saling melengkapi ataupun saling bertentangan. Pada pengoperasiannya, pembuat keputusan akan dituntut untuk memilih dan menentukan proyek yang tepat untuk mencapai target. Dalam tulisan ini dibahas model pemrograman dengan menggunakan pendekatan zero-one goal programming, suatu pemilihan proyek pemasaran untuk memenuhi banyak tujuan dan kendala serta kemudian diberikan contoh implementasinya. Pembahasan dan implementasi mencakup goal programming kategori: nonpreemptive goal programming dan preemptive goal programming.
Koko Hermanto, Silvia Firda Utami, Ryan Suarantalla
BAREKENG: Jurnal Ilmu Matematika dan Terapan, Volume 14, pp 447-460; doi:10.30598/barekengvol14iss3pp447-460

Abstract:
The area of the Batu Bulan dam is less than 183 hectares with a capacity of 15 liters per second, the largest dam on the island of Sumbawa, located in Batu Bulan village, Moyo Hulu sub-district, Sumbawa regency, West Nusa Tenggara. Batu Bulan Dam is planned to be able to meet the irrigation needs, raw water, and has a potential for hydroelectric power plants. Considering the latter plans and the limited water supply from the dam, it is necessary to have a study for the optimization of the Dam's water allocation. By this study, the water allocation can be optimized and the planting patterns are managed. This is the objective of this research, namely the optimization of Batu Bulan Dam waters allocation for irrigation utilization, which is expected to improve dam operation patterns, to obtain the best cropping patterns and to obtain optimum benefits of rice and corn plants planted in the irrigation area. One method that can be used to solve the water allocation problem is linear programming with the objective is maximizing total profits and the constraints is water availability and land area.
Rini Yanti, Hermina Nurdiawati, Muhammad N Cahyanto, Yudi Pranoto
AGRITEKNO: Jurnal Teknologi Pertanian, Volume 9, pp 72-80; doi:10.30598/jagritekno.2020.9.2.72

Abstract:
Aspergillus flavus and A. parasiticus are food spoilage fungi and produce aflatoxin that causes serious food safety problems. The antifungal agent is needed to control these fungi. This study aimed to determine the component of lemongrass essential oil and to test the oil’s ability to inhibit the growth of A. flavus and A. parasiticus. Five variations in the concentration of lemongrass oil were tested separately on A. flavus and A. parasiticus and, fungal growth was observed for 7 days. The results of the identification of the essential oil components using GC-MS showed that lemongrass essential oil has the main components of citral (53.77%) and z-citral (34.05%). Lemongrass essential oil with various concentrations (0.01%; 0.02%; 0.04% and 0.08%) showed the ability to inhibit the growth of A. flavus and A. parasiticus and the concentration of 0.08% indicated that lemongrass oil could inhibit the growth of both fungi for 100% during 7 days of observation. Keywords: antifungal, aflatoxin, citral, essential oil, lemongrass oil ABSTRAK Aspergillus flavus dan A. parasiticus merupakan jamur yang banyak ditemukan mengkontaminasi pangan. Kedua jamur tersebut menghasilkan aflatoksin, yang berbahaya bagi kesehatan manusia, sehingga diperlukan anti-jamur untuk mengendalikan pertumbuhannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komponen minyak atsri serai (Cymbopogon citratus) dan menguji kemampuan minyak tersebut sebagai penghambat pertumbuhan A. flavus dan A. parasiticus. Lima variasi konsentrasi minyak serai diujikan secara terpisah pada A. flavus dan A. parasiticus dan dilakukan pengamatan pertumbuhan jamur selama 7 hari. Hasil identifikasi komponen minyak atsiri menggunakan GC-MS menunjukkan bahwa minyak atsri serai memiliki komponen utama citral (53,77%) dan z-citral (34,05%). Minyak atsiri serai dengan berbagai konsentrasi (0,01%; 0,02%; 0,04% dan 0,08%) menunjukkan kemampuan menghambat pertumbuhan A. flavus dan A. parasiticus dan konsentrasi 0,08 % menunjukkan bahwa minyak serai mampu menghambat pertumbuhan kedua jamur sebesar 100 % selama 7 hari pengamatan Kata kunci: antijamur, aflatoksin, minyak atsiri, minyak serai, sitral
Mulono Apriyanto, Yoyon Riono, Rujiah Rujiah
AGRITEKNO: Jurnal Teknologi Pertanian, Volume 9, pp 64-71; doi:10.30598/jagritekno.2020.9.2.64

Abstract:
This study aimed to determine the effect of microbial populations on the quality of the cocoa beans produced. This research used unfermented cocoa beans and was then referenced by adding inoculum. Three fermentation techniques were applied in this research. First, control (A0), without the addition of inoculum. Second, S. cerevisiae inoculum (FNCC 3056), L. lactis (FNC 0086), and A. aceti (FNCC 0016), each around 108 cfu / g is given simultaneously at the beginning of fermentation (A1). Third, the gradual administration of S. cerevisiae inoculum (FNCC 3056) at the beginning of fermentation, L. lactis (FNC 0086) at 24 hours, and A. aceti (FNCC 0016) at 48 hours with the same microbial population as the second treatment (A3). Fermentation was carried out for five days. The results showed that after being rehydrated as much as 50% weight of the produced dried material, the cocoa beans' composition could be used as a fermentation substrate. The highest population of S. cerevisiae, L. lactis, and A. aceti from three treatments was observed at 24, 48, and 72 hours of fermentation. Keywords: cocoa beans quality, inoculum, re-fermentation, unfermented ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh populasi mikroba terhadap kualitas biji kakao yang dihasilkan. Penelitian ini menggunakan biji kakao yang tidak difermentasi dan kemudian direferensikan dengan penambahan inokulum. Tahapan penelitian yang dilakukan adalah sebagai berikut fermentasi biji kakao dengan 3 variasi teknik fermentasi yaitu perlakuan pertama (A0) tanpa penambahan inokulum (kontrol), kedua (A1) menggunakan inokulum S. cerevisiae (FNCC 3056), L. lactis (FNC 0086) dan A. aceti (FNCC 0016), masing-masing sekitar 108 cfu/g diberikan secara bersamaan pada awal fermentasi, ketiga (A2) pemberian bertahap inokulum S. cerevisiae (FNCC 3056) pada awal fermentasi, L. lactis (FNC 0086) pada 24 jam dan A. aceti (FNCC 0016) pada 48 jam dengan populasi mikroba sama dengan perlakuan kedua. Fermentasi dilakukan selama 5 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setelah direhidrasi sebanyak 50% dari berat bahan yang dihasilkan komposisi biji kakao dapat digunakan sebagai substrat fermentasi. Populasi S. cerevisiae, L. lactis dan A. aceti tertinggi dari tiga perlakuan pada 24, 48 dan 72 jam fermentasi. Kata kunci: inokulum, kualitas, re-fermentasi, tanpa fermentasi
Dece E Sahertian, Deli Wakano, Tati Telussa
AGRITEKNO: Jurnal Teknologi Pertanian, Volume 9, pp 58-63; doi:10.30598/jagritekno.2020.9.2.58

Abstract:
The nutritional content of banana fruit peel is complete, such as carbohydrates, fats, proteins, calcium, phosphorus, iron, vitamin B, vitamin C, and water. These nutrients can be used as a source of energy and antibodies to the human body. A significant amount of banana peel will result from the home industry and factory when the banana is processed. The peel's ratio to the flesh of the banana is 1.2:1.6. Hence it should be considered for its further utilization. If the peel is not utilized correctly, it will be a source of pollutants. This study aimed to determine the proximate value of the tongka langit banana peel fruit at several maturity stages. The results showed that the tongka langit banana's unripe peel had a protein, fat, and carbohydrate content of 0.49%, 1.33%, and 3.23%. At the physiologically ripen stage, the peel had a protein value of 0.62%, fat of 1.68%, and carbohydrate of 3.23%, while for the peel of ripening fruit had a protein value of 0.86%, fat of 1.80%, and carbohydrate of 4.88%. The more ripen is the tongka langit banana fruit, the higher was the protein, fat, and carbohydrate content of the peel. Keywords: maturity fruit level, peel fruit, tongka langit banana ABSTRAK Kandungan gizi kulit buah pisang cukup lengkap, seperti karbohidrat, lemak, protein, kalsium, fosfor, zat besi, vitamin B, vitamin C dan air. Unsur-unsur gizi inilah yang dapat digunakan sebagai sumber energi dan antibodi bagi tubuh manusia. Pengolahan daging buah pisang sebagai produk olahan makanan pada industri rumahan maupun pabrik, dan tentu saja dari hasil produksi ini akan meninggalkan kulit buah pisang yang sangat banyak. Dengan jumlah produksi dan konsumsi buah pisang yang banyak akan menghasilkan kulit buah pisang yang banyak pula. Perbandingan antara kulit dan daging adalah 1,2 : 1,6 sehingga perlu dipikirkan pemanfaatannya. Kulit buah pisang yang tidak dimanfaatkan dan diberdayakan dengan benar akan menjadi sumber pencemar. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui nilai proksimat kulit buah pisang tongka langit (Musa troglodytarum L.) pada beberapa tingkat kematangan buah. Hasil yang dicapai adalah pada kulit buah pisang tongka langit mentah memiliki nilai protein sebesar 0,49%, lemak sebesar 1,33% dan karbohidrat sebesar 3,23%. Pada kulit buah pisang tongka langit mengkal memiliki kandungan protein sebesar 0,62%, lemak sebesar 1,68% dan karbohidrat sebesar 3,23%, sedangkan untuk kulit buah pisang tongka langit matang memiliki kandungan protein sebesar 0,86%, lemak 1,80% dan karbohidrat sebesar 4,88%. Semakin matang buah pisang tongka langit, maka kandungan proksimat (protein, lemak dan karbohidrat) juga semakin tinggi. Kata Kunci: kulit buah, pisang tongka langit, tingkat kematangan buah
Rachel Breemer, Trisonda Sigmarlatu, Febby J Polnaya
AGRITEKNO: Jurnal Teknologi Pertanian, Volume 9, pp 88-95; doi:10.30598/jagritekno.2020.9.2.88

Abstract:
This study aimed to characterize phosphate-modified buru hotong flour modified used sodium tripolyphosphate (STPP). Buru hotong flour was phosphorylated at 45°C with STPP concentration of 10, 15.20, and 25% for 30 minutes. Observations were conducted on the physicochemical properties of native buru hotong flour and its derivatives, including phosphorus levels, degree of substitution (DS), moisture content, ash content, swelling power, solubility, and amylose content. The results showed that the phosphorus content of buru hotong phosphate flour increased (0.023-0.077%) with the DS ranged between 0.001-0.004. Phosphorus and DS levels indicated the substitution of phosphate groups. Substituted phosphate groups increased the moisture content (6.92-10.23%), ash content (0.37-0.84%), swelling power (10.16-15.63%), solubility (29.22-46.2%), and amylose content (26.29-29.37%) of buru hotong phosphate flour compared with native flour. The characteristics of phosphate hotong flour were different from their native. The higher the concentration of STPP, all of the variables were increases. Keywords: sodium tripolyphosphate, buru hotong phosphate flour, physicochemical properties ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengkarakterisasi tepung buru hotong fosfat yang dimodifikasi dengan menggunakan sodium tripolyphosphate (STPP). Tepung buru hotong difosforilasi pada suhu 45oC dengan konsentrasi STPP 10, 15, 20 dan 25% selama 30 menit. Pengamatan dilakukan terhadap sifat fisiko-kimia tepung buru hotong alami dan derivatnya, meliputi kadar fosfor, derajat substitusi (DS), kadar air, kadar abu, daya gelembung, daya larut, dan kadar amilosa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar fosfor tepung buru hotong fosfat meningkat (0,023-0,077%) dengan kisaran DS antara 0,001-0,004. Kadar fosfor dan DS menunjukkan terjadinya substitusi gugus fosfat. Tersubstitusinya gugus fosfat menyebabkan meningkatnya kadar air (6,92-10,23%), kadar abu (0,37-0,84%), daya gelembung (10,16-15,63%), daya larut (29,22-46,2%) dan kadar amilosa (26,29-29,37%) tepung buru hotong fosfat dibandingkan dengan tepung buru hotong alami. Karakteristik tepung buru hotong fosfat berbeda dengan tepung alaminya. Semakin tinggi konsentrasi STPP maka setiap peubah yang dialami mengalami peningkatan. Kata kunci: Sodium tripolyphosphate, tepung buru hotong fosfat, sifat-sifat fisiko-kimia
Helen C D Tuhumury, Agustina Souripet, Michael Warlauw
AGRITEKNO: Jurnal Teknologi Pertanian, Volume 9, pp 48-57; doi:10.30598/jagritekno.2020.9.2.48

Abstract:
This research was aimed to determine the effect of different tongka langit banana puree concentration on the physical, chemical, and sensory characteristics of muffin and determine the exact concentration of muffin with the best quality. A complete randomized experimental design with four levels of concentrations, i.e. 0% (control), 70%, 80%, and 90% was applied in this research. Results showed that the best physical, chemical, and sensory properties of muffins were obtained with the addition of 80% tongka langit banana puree. A muffin with this respective concentration had an expansion volume of 118%, moisture, ash, vitamin, and total sugar contents of 26.09%, 1.56%, 0.60%, and 15.10%, subsequently. Based on its sensory characteristics, muffin with 80% banana puree was mostly preferred by panelists on aroma and overall likeness. The sensory characteristics of tongka langit banana were also maintained in the muffin. Keywords: muffin, physicochemical, sensory, tongka langit banana puree ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pengaruh konsentrasi puree pisang tongka langit terhadap karakteristik fisik, kimia dan organoleptik muffin dan menentukan konsentrasi puree yang tepat yang menghasilkan muffin dengan karakteristik terbaik. Rancangan Acak Lengkap dengan faktor tunggal konsentrasi puree pisang tongka langit dengan level 0% (kontrol), 70%, 80%, dan 90% digunakan dalam penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa puree dengan konsentrasi 80% merupakan perlakuan yang tepat untuk menghasilkan muffin dengan karakteristik terbaik secara fisik, kimia dan organoleptik. Muffin dengan puree pisang tongka langit 80% memiliki volume pengembangan 118%, kadar air 26,09%, kadar abu 1,56%, kadar vitamin C 0,60%, total gula 15,10% dan lebih disukai panelis pada kategori aroma dan overall serta lebih mempertahankan karakteristik pisang tongka langit pada muffin. Kata Kunci: fisikokimia, muffin, organoleptik, puree pisang tongka langit
Page of 133
Articles per Page
by
Show export options
  Select all
Back to Top Top