Refine Search

New Search

Advanced search

Results: 4,503

(searched for: doi:(10.29244/*))
Save to Scifeed
Page of 451
Articles per Page
by
Show export options
  Select all
Lindawati Kartika, Indri Rizky Seventia
Jurnal Manajemen dan Organisasi, Volume 11, pp 115-124; doi:10.29244/jmo.v11i2.30601

Abstract:
The function of organizational culture is to engage all components of the organization, determining identity, energy injections, motivators, and can be used as guidelines for members of the organization. Organizational Culture is one of the key successes of BPPI in the assessment of PMPRB. The purpose of this research is to answer: (1) How the realization and expected of organizational culture at BPPI Ministry of Industry? (2) How is the leadership style of BPPI leadership of the Ministry of Industry that is analyzed through the perception of leaders and employees by Using Management Skill Assessment Instrument (MSAI)? (3) How recommendations are given regarding managerial implications of organizational culture and leadership style that need to be improved Upgrade to BPPI. The Research results of the organization BPPI Ministry of Industry realization is more likely to dominate to Clan culture and hierarchy. While the expected culture of BPPI Ministry of Industry to be more likely to dominate to Clan culture and Adhocracy.
Ahmad Farhan, Yopi Ilhamsyah, Akhyar
Published: 30 September 2020
Agromet, Volume 34, pp 100-109; doi:10.29244/j.agromet.34.2.100-109

Abstract:
Irrigation in Tanoh Abee is used for agricultural activities especially during the second planting season during dry season. However, the availability of irrigation water is controlled by total rainfall received. An accurate prediction of rainfall, which traditionally used “keneunong” local wisdom, is urgently required. The objective of the study is to obtain the best predictor of seasonal rainfall based on the Pacific sea surface temperature (SST) anomaly and the monthly lead time of prediction. We employed monthly rainfall from six stations surrounding the study area and combined with principal component analysis to eliminate rainfall autocorrelation. Seasonal rainfall (quarterly average) was calculated from monthly data. The results showed that 1-month lead time strongly correlated to seasonal rainfall in Tanoh Abee (r
Sayful Amri, Faiz Rohman Fajary, Tri Wahyu Hadi
Published: 28 September 2020
Agromet, Volume 34, pp 89-99; doi:10.29244/j.agromet.34.2.89-99

Abstract:
This study aims to modify the idea of ​​WK99-analyzing the existence of signature in wave-number and frequency spectrum when the analyzed Outgoing Longwave Radiation (OLR) data is associated with a unique phenomenon in Maritime Continent (MC), Borneo vortex (BV). Although BV is often related to easterly equatorial wave disturbances, there was no specific study to examine its behavior in the spectral domain. The purpose of this study is to develop a method to diagnose certain signatures of BV through spectrum analysis of OLR data when BV occurs. In contrast to previous studies, to present the unique phenomenon in MC as a target for diagnostics, spectrum analysis is performed by Spherical Harmonics (SH). The results of the OLR data spectrum comparison when BV occurs with the OLR data spectrum when BV does not occur that in the anti-symmetrical component when BV occurs, the tropical depression-mixed Rossby gravity (TD-MRG) wave spectrum is stronger, especially in zonal wave-numbers 5 to 10 and frequencies 0.12 to 0.2. Similar to the anti-symmetrical component, the TD-MRG spectrum of the symmetrical component is also stronger at zonal wave-numbers 5 to 10 and frequencies 0.12 to 0.2. Moreover, the westward-propagating inertio-gravity (WIG) wave spectrum in the symmetrical component is also stronger at the time of BV than when there is no BV, especially at zonal wave-numbers 7 to 13 and frequencies 0.38 to 0.5. It can be concluded that when BV occurs, equatorial waves that propagate to the west, especially the types of TD-MRG and WIG waves are stronger than when BV did not occur. The results of durational grouped spectrum analysis of OLR data when BV occurs indicate that the longer the duration of BV occurs, the stronger the spectrum of TD-MRG and WIG wave types gets.
Edi Victara Tinambunan, Muhammad Findi, Yeti Lis Purnamadewi
JURNAL EKONOMI DAN KEBIJAKAN PEMBANGUNAN, Volume 8, pp 20-42; doi:10.29244/jekp.v8i1.29447

Abstract:
Kemiskinan merupakan masalah sosial yang masih belum terselesaikan. Salah satu cara untuk mengatasi kemiskinan adalah melalui pembangunan infrastruktur yang merata dan tepat sasaran di seluruh Indonesia. Studi ini menganalisis pengaruh pengembangan infrastruktur terhadap kemiskinan melalui pertumbuhan ekonomi di Pulau Jawa dan luar Pulau Jawa. Alat analisis dalam penelitian ini menggunakan panel simultan dan tipologi klassen yang dilengkapi dengan 2 persamaan struktural. Hasil analisis studi ini menunjukkan bahwa infrastruktur listrik, pendidikan, transportasi dan air memengaruhi pertumbuhan ekonomi Pulau Jawa. Sementara itu, infrastruktur pendidikan, listrik, kesehatan dan transportasi memengaruhi pertumbuhan ekonomi di luar Pulau Jawa. Variabel populasi dan pertumbuhan ekonomi sama-sama memengaruhi kemiskinan di Pulau Jawa dan luar Pulau Jawa.
Hendra Andy Mulia Panjaitan, Sri Mulatsih, Wiwiek Rindayati
JURNAL EKONOMI DAN KEBIJAKAN PEMBANGUNAN, Volume 8, pp 43-61; doi:10.29244/jekp.v8i1.29898

Abstract:
Pembangunan infrastruktur merupakan aspek penting dalam peningkatan pertumbuhan ekonomi karena dapat menciptakan lapangan kerja baru, penurunan tingkat kemiskinan dan peningkatan pendapatan perkapita. Pertumbuhan inklusif merupakan bagian dari pertumbuhan ekonomi berkelanjutan sebagaimana tercantum dalam kesepakatan global mengenai Sustainable Development Goals (SDGs), yaitu pertumbuhan ekonomi yang dapat menciptakan pemerataan, menurunkan kemiskinan dan pengangguran, serta mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih cepat. Penelitian ini melakukan analisis mengenai dampak pembangunan infrastruktur terhadap pertumbuhan ekonomi inklusif di Provinsi Sumatera Utara. Estimasi parameter yang digunakan adalah two-stages least square (2SLS). Data yang digunakan adalah 33 kabupaten/kota di Provinsi Sumatera Utara pada periode 2013-2017. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan PDRB tidak inklusif, karena dapat meningkatkan GINI di Sumatera Utara.
Nisrina Rofifah, Widyastutik
JURNAL EKONOMI DAN KEBIJAKAN PEMBANGUNAN, Volume 8, pp 75-83; doi:10.29244/jekp.v8i1.29899

Abstract:
APEC (Asia-Pasific Economic Cooporation) merupakan kerjasama ekonomi antara 21 negara anggota yang dibentuk pada tahun 1989 dengan tujuan memperkuat pertumbuhan ekonomi kawasan. Perdagangan di sektor jasa merupakan salah satu fokus ruang lingkup kerjasama ekonomi APEC. Salah satu sektor jasa yang memiliki peran penting adalah sektor telekomunikasi, yang merupakan ”a set backbone” dari sektor jasa. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi impor jasa telekomunikasi serta mengestimasi ekuivalen tarif untuk melihat seberapa besar hambatan perdagangan jasa pada masing-masing negara APEC. Metode penelitian yang digunakan adalah gravity model dengan regresi data panel. Hasil penelitian menunjukkan faktor-faktor yang signifikan memengaruhi nilai impor jasa telekomunikasi di negara APEC adalah PDB riil, jarak, kesamaan bahasa, dan kesamaan sejarah kolonial. PDB riil negara importir maupun eksportir berpengaruh positif begitupun dengan bahasa dan sejarah kolonial. Sementara itu, jarak berpengaruh negatif terhadap nilai impor jasa telekomunikasi di negara APEC. Estimasi ekuivalen tarif menunjukan bahwa Meksiko, Filipina, Peru dan Selandia Baru merupakan negara yang memilki hambatan perdagangan paling tinggi, sedangkan Singapura memiliki rata-rata nilai ekuivalen tarif terendah diantara negara-negara APEC.
Dian Verawati Panjaitan, Tanti Novianti, Muhammad Fazri, Sri Retno Wahyu Nugraheni
JURNAL EKONOMI DAN KEBIJAKAN PEMBANGUNAN, Volume 8, pp 1-19; doi:10.29244/jekp.v8i1.29468

Abstract:
Kesenjangan harga merupakan masalah penting bagi Indonesia karena biaya transportasi dan biaya produksi. Harga cabai dan bawang merah relatif berfluktuasi antar waktu dan antar wilayah. Keduanya memiliki peran penting untuk dikonsumsi dan digunakan dalam industri makanan dan non-makanan. Pemerintah telah menerapkan beberapa kebijakan untuk mengurangi perbedaan harga antar daerah seperti tol laut dan infrastruktur: jalan, jembatan, dan sistem irigasi yang menggunakan dana desa. Studi ini meneliti hubungan atau kolerasi antara dana desa dengan perbedaan harga terhadap perbedaan harga di pasar cabai dan bawang merah di tingkat provinsi. Temuan menunjukan bahwa kesenjangan harga antar provinsi masih terjadi, terutama di wilayah timur dan barat. Papua adalah provinsi dengan harga cabai merah dan bawang merah tertinggi. Studi ini juga menemukan tidak ada korelasi antara dana desa dengan disparitas harga bawang merah dan cabai merah.
Siti Khamila Dewi, Sahara, Sri Mulatsih
JURNAL EKONOMI DAN KEBIJAKAN PEMBANGUNAN, Volume 8, pp 84-100; doi:10.29244/jekp.v8i1.29879

Abstract:
Indonesia terlibat aktif dalam jejaring kerjasama Free Trade Area (FTA), salah satunya dengan menjadi anggota pada ASEAN-China FTA atau dikenal juga dengan ACFTA. Studi ini bertujuan untuk menganalisis faktor yang memengaruhi nilai impor Indonesia dan mengetahui dampak ACFTA terhadap trade creation dan trade diversion Indonesia. Penelitian menggunakan pendekatan model panel data dengan data sekunder selama periode tahun 2000 hingga 2018 yang dikumpulkan dari WITS, WORLD BANK, UNCTAD, dan CEPII. Hasil empiris menunjukkan bahwa setelah ACFTA diberlakukan, nilai impor Indonesia dari negara-negara anggota ACFTA mengalami kenaikan. Nilai impor Indonesia secara signifikan dipengaruhi secara positif oleh GDP per kapita Indonesia, GDP per kapita mitra dagang (negara ACFTA+3), dan jarak ekonomi antar negara. Sementara nilai tukar riil antar negara berpengaruh negatif terhadap nilai impor Indonesia. Secara keseluruhan Indonesia diduga mengalami kerugian dari adanya ACFTA akibat terjadinya trade diversion dari negara non-anggota ke negara-negara anggota di wilayah ACFTA +3.
Ikhsan Margo Pangestu
JURNAL EKONOMI DAN KEBIJAKAN PEMBANGUNAN, Volume 8, pp 62-74; doi:10.29244/jekp.v8i1.26691

Abstract:
Seiring dengan membaiknya angka persentase kemiskinan dan tingkat pengangguran terbuka pada tingkat nasional, masih terdapat pekerjaan rumah yang besar terkait dengan disparitas antar daerah. Pada satu sisi, persebaran angka pengangguran antar provinsi cenderung merata, tetapi disisi lain angka kemiskinan menunjukkan hal sebaliknya yaitu masih banyak provinsi yang memiliki angka kemiskinan cukup tinggi. Kondisi ini memberikan indikasi adanya fenomena pekerja miskin. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari fenomena pekerja miskin serta melihat pengaruh faktor kebijakan dana desa, investasi, dan ketenagakerjaan terhadap pekerja miskin pada tahun 2015-2018. Metode analisis dilakukan dengan analisis deskriptif dan inferensia menggunakan regresi data panel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persebaran angka pekerja miskin menurut provinsi menunjukkan kondisi yang beragam dan cenderung tidak merata dimana masih banyak daerah yang memiliki angka pengangguran rendah tetapi angka pekerja miskinnya cenderung tinggi. Studi ini juga menemukan bahwa program dana desa, persentase pekerja formal, dan tingkat setengah pengangguran berpengaruh signifikan terhadap jumlah pekerja miskin.
Sarah Hanifa, Nia Rosiana
Published: 10 September 2020
Forum Agribisnis, Volume 10, pp 118-130; doi:10.29244/fagb.10.2.118-130

Abstract:
Crystal sugar has a high potency to develop because of the growing demand for crystal sugar on a local and international scale. CV Agroberdikari is a company that produces crystal sugar in Kebumen District. The company needs investment to develop a development that increases the production of crystal sugar. Feasibility analysis needs to be done to see whether or not the business is executed when the company is developing based on non-financial aspects and financial aspects. Aspects assessed on non-financial aspects are market aspects, technical aspects, management and legal aspects, social and economic aspects, and environmental aspects. Assessment on financial aspects based on investment criteria of NPV, Net B/C, IRR and Payback Period and sensitivity analysis. Analysis results of non-financial aspects that the business is declared worthy to run. Analysis of financial aspects under normal conditions resulted in NPV Rp 708.012.338, Net B/C 2,64, IRR 29 per cent and PP 5,7 years. In development, conditions produce NPV Rp 1.003.257.059, Net B/C 3,74, IRR 45 per cent, and PP 4,9 year. The results of financial analysis can be stated that business development is worthy to run. The results of sensitivity analytic showed that the price increase of raw materials was more sensitive than the decrease in sugar production. Companies need to increase the number of suppliers of raw materials and add investment goods to increase consumer demand can be fulfilled and anticipate the increase of raw material prices.
Page of 451
Articles per Page
by
Show export options
  Select all
Back to Top Top