Refine Search

New Search

Advanced search

Results: 116

(searched for: doi:10.30822/*)
Page of 12
Articles per Page
by
Show export options
  Select all
Sciprofile linkHutauruk A Jb, Situmorang Adi
Asimtot : Jurnal Kependidikan Matematika, Volume 1, pp 77-84; doi:10.30822/asimtot.v1i2.272

Abstract: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif deskriptif yang mendeskripsikan kemampuan matematis mahasiswa prodi pendidikan matematika FKIP UHN dalam menyelesaikan soal matematika sekolah setingkat SMP dan SMA. Subjek penelitian terdiri dari mahasiswa prodi pendidikan matematia FKIP yang diwakili oleh satu grup untuk setiap angkatan, dengan total sampel sebanyak 76 orang mahasiswa yang mengerjakan soal setingkat SMP dan 76 orang mahasiswa yang mengerjakan soal setingkat SMA.. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) kemampuan mahasiswa prodi pendidikan matematika FKIP UHN dalam menyelesaikan soal matematika sekolah setingkat SMP dan SMA masih sangat rendah, (2) skor maksimal yang diperoleh mahasiswa dalam mengerjakan soal matematika sekolah masih belum cukup memuaskan, sedangkan skor minimal yang diperoleh mahasiswa menunjukkan bahwa mahasiswa masih belum menguasai matematika sekolah, dan (3) mayoritas mahasiwa masih memiliki kemampuan yang berada di bawah skor 50 dari skor maksimal 100. Ketidakmampuan mahasiswa menyelesaikan soal matematika sekolah merupakan gambaran ketidakmampuan mahasiswa dalam menguasai materi matematika sekolah.
Patrisius Udil
Asimtot : Jurnal Kependidikan Matematika, Volume 1, pp 85-91; doi:10.30822/asimtot.v1i2.273

Abstract: Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi berbagai variasi level kecemasan matematika yang terjadi berdasarkan domain dan aspek kecemasan yang diteliti. Domain yang dimaksud meliputi domain psikologis-emosional, kognitif, dan fisiologis. Sementara aspek yang dilihat mencakup kompetensi matematika dan kompetensi mengajar. Penelitian ini dilakukan pada mahasiswa semester 1 program studi PGSD Universitas Nusa Cendana yang terdiri dari 84 mahasiswa. Data penelitian meliputi hasil skala kecemasan matematika, wawancara, dan observasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum kecemasan matematika mahasiswa teridentifikasi pada level sedang. Kecemasan matematika mahasiswa teridentifikasi pada level tinggi pada domain psikologis-emosional dan kognitif, sedangkan pada domain fisiologis teridentifikasi pada level sedang. Pada aspek kompetensi kompetensi matematika kecemasan matematika mahasiswa berada pada level sedang, sedangkan pada kompetensi mengajar teridentifikasi pada level tinggi. Lebih lanjut, kecemasan matematika mahasiswa pada domain psikologis-emosional teridentifikasi pada level tinggi untuk kedua aspek yang diteliti. Sementara kecemasan matematika mahasiswa pada domain kognitif teridentikasi tinggi untuk aspek kompetensi mengajar, tetapi sedang untuk aspek kompetensi matematika. Pada domain fisiologis kecemasan matematika mahasiswa teridentifikasi sedang untuk kedua aspek yang diteliti.
Asimtot : Jurnal Kependidikan Matematika, Volume 1, pp 93-104; doi:10.30822/asimtot.v1i2.274

Abstract: Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan lintasan belajar untuk membelajarkan materi himpunan menggunakan model Problem Based Learning (PBL). Penelitian ini dilaksanakan di SMP Kanisius Kalasan Yogyakarta pada bulan Septemeber-Desember 2018. Jenis penelitian ini merupakan penelitian desain. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIIC (kelas uji coba) dan siswa kelas VIIA (kelas penelitian). Hasil penelitian menunjukan bahwa:lintasan belajar dengan model PBL sebagai berikut: (a) Peneliti menyampaikan tujuan pembelajaran dan agar siswa dapat mengatur strategi dalam menyelesaikan masalah sesuai tujuan pembelajaran dan peneliti memberikan masalah nyata secara lisan dengan konteks didalam kelas tentang operasi himpunan (irisan dan gabungan); (b) Peneliti membentuk siswa dalam kelompok dan memberikan masalah terkait materi operasi himpunan (irisan dan gabungan); (c) Selanjutnya peneliti mendampingi siswa; (d) Setelah siswa selesai menyelesaikan masalah, selanjutnya dipresentasikan (e) Kemudian peneliti dan siswa mengevaluasi proses penyelesaian masalah oleh siswa. (f) Selanjutnya peneliti memberikan tes yang berkaitan dengan masalah nyata terkait dengan materi operasi himpunan (irisan dan gabungan) untuk dianalisis berdasarkan kemampuan pemecahan masalah siswa.
Asimtot : Jurnal Kependidikan Matematika, Volume 1, pp 105-110; doi:10.30822/asimtot.v1i2.275

Abstract: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan model pembelajaran Open-Ended dan pengaruhnya terhadap prestasi belajar matematika siswa pada sub pokok bahasan segiempat di SMPN Kupang Tengah tahun ajaran2018/2019. Penelitian ini dilakukan oleh siswa kelas VII SMPN Kupang Tengah yang berjumlah 21 orang siswa yang dipilih secara acak dari 4 kelas yang tersedia.Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini yaitu observasi dan tes prestasi belajar matematika siswa sebayak 3 butir soal berbentuk isian.Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu hasil observasi,hasil wawancara,pencapaian indikator dan uji-t. Berdasarkan hasil observasi, hasil wawancara, dan pencapaian indikator, diperoleh prestasi belajar matematika siswa tergolong sangat baik. Sedangkan berdasarkan perhitungan uji-t menunjukan t hitung = 10, 742dan t table = 2,085 pada taraf signifikani 5% yang berarti t hitung > t tabel , Maka Ho ditolak dan Ha diterima. Sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa ada pengaruh yang signifikan pada pengunaan model pembelajaran Open-Ended terhadap prestasi belajar matematika siswa SMP.
Asimtot : Jurnal Kependidikan Matematika, Volume 1, pp 127-132; doi:10.30822/asimtot.v1i2.278

Abstract: Dalam kehidupan sehari – hari, maka akan ditemukan banyak daerah. Ada daerah yang beraturan dan ada daerah yang tidak beraturan. Daerah yang beraturan dapat dengan mudah untuk mencari luas daerahnya dikarenakan hanya menggunakan rumus yang berlaku pada daerah tersebut, sedangkan pada daerah tidak beraturan akan sangat sulit untuk menentukan luasnya dikarenakan tidak ada rumus baku untuk menentukan luasnya. Untuk daerah yang tidak beraturan, maka ada daerah yang dibatasi sebuah fungsi dan fungsinya sudah diketahui, maka akan digunakan perhitungan integral secara biasa. Akan tetapi apabila daerah yang tidak beraturan tersebut tidak diketahui daerah yang membatasinya, maka akan sulit dalam menentukan luas daerahnya tersebut. Salah satu cara yang dapat digunakan, yaitu dengan menggunakan integrasi numerik, di mana digunakan metode segiempat (rectangle rule) dikarenakan hanya memerlukan titik – titik koordinat , di mana menyatakan panjang dan lebar dari sebuah segiempat dengan menyatakan jumlahnya pias yang berbentuk segiempat
Maure Osniman, Sciprofile linkRudhito Marcellinus
Asimtot : Jurnal Kependidikan Matematika, Volume 1, pp 139-146; doi:10.30822/asimtot.v1i2.280

Abstract: Sistem antrian sering ditemukan dalam suatu pelayanan fasilitas publik diantaranya pelayanan penerbitan Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP) Bahan Berbahaya. Dalam proses penerbitan SIUP Bahan Berbahaya terdapat berbagai tahapan yang harus dilalui pihak pengizin. Dengan demikian, semakin banyak pihak pengizin usaha yang datang dapat menyebabkan antrian semakin panjang. Antrian yang panjang ini dapat berdampak buruk bagi para pelayan maupun pihak yang membutuhkan pelayanan. Oleh sebab itu, kinerja pelayanan tersebut perlu dioptimalkan diantaranya dengan menganalisa perilaku dan kestabilan sistem antrian tersebut. Proses analisa perilaku dan kestabilan suatu sistem antrian pelayanan dapat dilakukan apabila sistem antrian tersebut telah dimodelkan dengan menggunakan aljabar max-plus. Pada paper ini, penulis menfokuskan penelitian ini untuk memodelkan sistem antrian pembuatan SIUP Bahan Berbahaya dengan menggunakan aljabar max-plus. Metode penelitian yang digunakan penulis adalah studi literatur. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa aljabar max-plus dapat digunakan untuk memodelkan sistem antrian pelayanan penerbitan SIUP Bahan Berbahaya. Pemodelan ini menghasilkan suatu matriks dari suatu keadaan tertentu
Darmayasa Jero, Pangaribuan Yopani
Asimtot : Jurnal Kependidikan Matematika, Volume 1, pp 133-137; doi:10.30822/asimtot.v1i2.279

Abstract: Penelitian ini merupakan penelitian studi kasus. Fokus pada penelitian ini adalah kemampuan siswa untuk mengajukkan masalah (soal) matematika dalam proses belajar mengajar matematika. Unit analisis dari penelitian ini adalah siswa kelas IX-6 SMP N 12 Tarakan yang sedang belajar matematika. Subjek penelitian yaitu 4 siswa yang dianggap mampu dan memiliki ketertarikan terhadap pelajaran matematika. Setelah dilakukan pengamatan berperanserta, wawancara tidak terstruktur, dan analisis dokumentasi diperoleh temuan bahwa keempat siswa belum terbiasa mengajukkan (membuat) soal matematika sendiri. Mereka masih bergantung pada soal yang ada pada buku paket atau soal yang ditulis oleh guru matematika di papan tulis.
Barreto Maria, Djong Kristoforus
Asimtot : Jurnal Kependidikan Matematika, Volume 1, pp 119-126; doi:10.30822/asimtot.v1i2.277

Abstract: Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kesulitan belajar siswa SMP dalam memecahkan masalah soal sistem persamaan linear dua variabel kelas VIII SMP Negeri 3 Kupang Tengah. Penelitan ini merupakan penelitian deskriptif dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Subyek penelitian adalah 2 siswa yang dipilih dari 25 siswa. Subyek penelitian ini dipilih menggunakan pemilihan sampel bertujuan (purposive sample) dimana kedua siswa tersebut masing-masing dengan kemampuan sedang dan rendah. Teknik pengumpulan data yang digunakan tes pemecahan masalah, wawancara dan dokumentasi. Langkah-langkah dalam analisis data adalah indikator Polya, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian dipaparkan sebagai berikut: (a) siswa dengan tingkat kemampuan sedang dalam memecahkan masalah sesuai tahap Polya mampu memahami masalah, akan tetapi siswa belum mampu menyusun rencana penyelesaian, melaksanakan rencana penyelesaian. Namun dalam memeriksa kembali hasil siswa masih meyakinkan diri bahwa hasil pekerjaanya sudah benar. (b) siswa dengan tingkah kemampuan rendah dalam memechkan masalah sesuai dengan tahap Polya mampu memahami masalah, akan tetapi siswa belum mampu menyusun rencana penyelesaian, melaksanakan rencana penyelesaian. Namun dalam memeriksa kembali hasil siswa masih meyakinkan diri bahwa hasil pekerjaanya sudah benar. Hal ini disebabkan siswa tidak mampu membuat konsep-konsep yang berkaitan dengan soal yang diberikan, dan menyusun langkah-langkah penyelesaian yang berkaitan dengan soal yang diberikan agar soal dapat diselesaikan secara sistematis
Sciprofile linkChaidir Putria, Darmayasa Jero
Asimtot : Jurnal Kependidikan Matematika, Volume 1, pp 111-118; doi:10.30822/asimtot.v1i2.276

Abstract: Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa adanya pengaruh yang signifikan antara Self-Regulated Learning terhadap hasil belajar matematika siswa. Permasalahannya, dari hasil studi pendahuluan ditemukan banyak siswa yang tidak memiliki Self-Regulated Learning yang bagus, khususnya kelas VIII SMP Negeri 2 Tarakan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menemukan bagaimana siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Tarakan melatih Self-Regulated Learning dalam belajar matematika pada aspek Motivasi. Jenis penelitian yang digunakan adalah studi kasus dengan pendekatan kualitatif. Penelitian dilaksanakan di SMP Negeri 2 Tarakan dengan subjek penelitian siswa kelas VIII sebanyak 4 orang yang dipilih menggunakan purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara, dan analisis dokumentasi yang kemudian ditulis dalam catatan lapangan. Data hasil penelitian kemudian direduksi, disajikan, dan ditarik kesimpulan. Berdasarkan hasil penelitian, maka diperoleh bahwa keempat siswa tersebut melatih Self-Regulated Learning dalam belajar matematika pada aspek motivasi dengan cara: 1) menjaga semangat dan keyakinan diri dalam belajar matematika; dan 2) berbagi pengetahuan matematika dengan menjadi tutor sebaya.
Herman P. Panda
Lumen Veritatis: Jurnal Filsafat dan Teologi, Volume 10, pp 1-12; doi:10.30822/lumenveritatis.v10i1.205

Abstract: In this article the author presents the views of the Catholic Church herself about the identity of Catholic schools. This view is spread in a number of Church documents both issued by the Vatican II and by the Pope and Roman Dicasteries. According to this view, Catholic schools have a basic call to educate children and young people to become individuals who have integrity, wisdom and firm faith. For this reason, every Catholic School must continue to maintain a supernatural vision, a strong anthropological foundation, an integral education, the spirit of unity and togetherness of all those involved in the educational process and sustained by the living testimony of the teachers.
Page of 12
Articles per Page
by
Show export options
  Select all