Refine Search

New Search

Advanced search

Results: 129

(searched for: doi:10.30822/*)
Page of 13
Articles per Page
by
Show export options
  Select all
ARTEKS, Jurnal Teknik Arsitektur, Volume 4, pp 25-32; doi:10.30822/arteks.v4i1.75

Abstract: Perkembangan pariwisata di kota Yogyakarta saat ini lebih mengarah pada kampung wisata perkotaan yang merupakan dampak dari globalisasi pariwisata. Kegiatan pariwisata di kampung wisata dapat mengakibatkan perubahan baik secara fisik maupun non fisik yang mampu mempengaruhi karateristik kampung tersebut terlebih pada lingkungan kampung Jetisharjo RW 07. Oleh sebab itu perlu dilakukan penelitian dengan pendekatan smart city, khususnya smart environment sebagai studi awal untuk merumuskan strategi perencanaan sebuah lingkungan yang pintar dan berkelanjutan. Penelitian ini dilakukan dengan metode kualitatif, pengambilan data dilakukan melalui data primer dan data sekunder. Data sekunder yang dikumpulkan mencakup dimensi smart city yaitu smart environment. Data primer diperoleh melalui pengamatan di lapangan, berupa foto kondisi pola ruang luar lingkungan kampung wisata Jetisharjo RW 07 dan wawancara dengan masyarakat setempat yang mengurus kampung wisata tersebut. Hasil penilitian ini menunjukan bahwa pengembangan lingkungan kampung wisata Jetisharjo RW 07 tidak hanya dinilai dari teknologi modern, namun lebih pada kapasitas dan partisipasi masyarakat setempat sebagai pelaku dalam pengembangan kampung wisata.
Ai Siti Munawaroh, Rivena Elbes
ARTEKS, Jurnal Teknik Arsitektur, Volume 4, pp 85-98; doi:10.30822/arteks.v4i1.83

Abstract: Bangunan perpustakaan belum memperoleh tempat yang terhormat di lingkungan pemerintah daerah, sekolah, maupun perguruan tinggi. Bangunan perpustakaan pada umumnya tidak diprioritaskan dan berada di tempat yang tidak strategis. Padahal tujuan dari sebuah bangunan adalah mengakomodir aktivitas dan memberikan kenyamanan bagi penggunanya. Untuk itu, perlu adanya penelitian mengenai aspek kenyamanan, terutama kenyamanan termal pada bangunan tersebut. Metode penelitian yang akan digunakan pada penelitian ini adalah dengan melakukan pengukuran langsung pada objek penelitian dan melakukan pembagian kuesioner. Pengukuran langsung dengan menggunakan alat ukur yang sudah disiapkan seperti thermometer, anemometer, dan hygrometer. Disaat yang bersamaan pembagian kuesioner dilakukan kepada para pengunjung. Tujuan dari penelitian ini yaitu ingin mengetahui :1) Tingkat kenyamanan termal pada bangunan PerpustakaanUniversitas Bandar Lampung, dan 2) Aspek-aspek apa saja yang mempengaruhi kenyamanan termal pada bangunan Perpustakaan Universitas Bandar Lampung. Hasil penelitian didapat: 1) Tingkat kenyamanan termal pada bangunan Perpustakaan Universitas Bandar Lampung dapat disimpulkan nyaman, berdasarkan hasil pengukuran suhu, kelembaban, dan kecepatan angin. Berdasarkan hasil nilai persepsi pengunjung yang diperoleh melalui pengisian lembar kuesioner, sebanyak 60% pengunjung berpendapat kondisi nyaman dan 40% berpendapat sangat nyaman. 2) Aspek-aspek yang mempengaruhi kenyamanan termal pada bangunan Perpustakaan Universitas Bandar Lampung berdasarkan hasil pengukuran menggunakan alat ukur dan nilai persepsi menggunakan kuesioner antara lain: a). Suhu b). Kelembaban c). Jumlah pengunjung perpustakaan, dan d). Pakaian yang dikenakan.
ARTEKS, Jurnal Teknik Arsitektur, Volume 4; doi:10.30822/arteks.v4i1.364

Abstract: Writing is an indispensable part of research culture, and publication is one way to disseminate ideas and to push forward the scientific discourse in the pursuit of new knowledge, from theoretical- to praxis- levels. Especially for young scholars, writing and publishing in academic journals shall become a natural habit, not just for chasing credit points or impact factors, but for strengthening the true desire in finding new knowledge, ethically and scientifically. There are four different categories of articles in this issue. First category is on the correlation between ecological-environmental aspects and tourism in rural-traditional contexts, where the writers have shown their critical position towards cultural & natural conservation. Second category is on architectural styles and typology which are more descriptive. Third category is related to the climatic comfort and simulation. And the fourth category is on human activities in urban space. The article by Anna Pudianti and Vincentia Reni Vitasurya is looking into the ecological footprints in relation to village tourism in Yogyakarta from the anthropological perspective. Similar interest to village tourism and cultural-environmental conservation in Nias is shared by Anugerah Septiaman Harefa. Likewise, Rachmat Budihardjo is looking into the impact of tourism to the typological adaptation of the traditional architecture in Bali. Dessy Anggaini and Dwita Hadi Rahmi wrote about “Indisch-style” based on typological inventory in Yogyakarta. Anneke Clauvinia Patriajaya and Yohanes Karyadi Kusliansjah are lamenting on the transformation of urban street character in Surabaya. Tine Abrianti and Purnama Salura wrote the sacred poetic of religious architecture in Jakarta. Rivena Elbes and Ai Siti Munawaroh article is on thermal comfort study on a library building in Lampung. Leonardus Murialdo Fransiskus Purwanto presented his analysis on heat transfer by a thermal simulation software. Finally, Raden Rangga Ilham Irfandian and Herman Wilianto presented their study on lifestyle aspect in urban public space in Bandung. This journal edition demonstrates the diversity of interests and approaches among young scholars. Although the level of criticality and the level of theoretical discourse can still be improved further, but these articles have shown a good promise for a higher level of scholarly pursuits.
Rachmat Budihardjo
ARTEKS, Jurnal Teknik Arsitektur, Volume 4, pp 63-72; doi:10.30822/arteks.v4i1.80

Abstract: Arsitektur Tradisional Bali adalah arsitektur yang tumbuh dan berkembang di tengah-tengah masyarakatnya. Upaya menjaga budaya Bali (termasuk arsitekturnya) sebagai daya tarik (magnet) pariwisata telah dilakukan sejak masa pemerintahan Kolonial Belanda dengan sebutan “Baliseering”, dilanjutkan oleh Pemerintahan Orde Baru melalui “Pariwisata-Budaya” dan yang terakhir memasuki abad ke-21 dengan slogan “Ajeg Bali. Pada saat kini tidak dapat dipungkiri lagi bahwasannya pariwisata menjadi sector komoditas utama Bali dalam upaya pembangunan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat (termasuk keluarga Puri). Puri merupakan istana sekaligus pusat pemerintahan pada era kerajaan di Bali. Puri memiliki esensi dan peran penting pada masyarakatnya sampai saat kini. Beberapa kegiatan wisatawan di dalam puri diantaranya royal wedding, royal dinner, art performance & exhibition, guest house dan lain sebagainya. Kondisi ini mengakibatkan terjadinya suatu adaptasi arsitektur baik pada fungsi, tata ruang maupun bentuk bangunan sesuai dengan kebutuhan wisatawan, sedangkan pada sisi yang lain adanya suatu upaya dari keluarga puri untuk tetap mempertahankan eksistensi arsitektur Bali. Penelitian ini dirancang menggunakan metoda kualitatif dengan pendekatan deskriptif dengan obyek Puri Saren Agung Ubud. Puri sebagai obyek arsitektur di masa lampau dan upaya untuk mempertahankan eksistensinya baik pada masa kini maupun waktu yang akan datang dipandang dapat menjadi topik yang faktual dan menarik bagi pengembangan ilmu pengetahuan arsitektur lokal (tradisional), khususnya terkait dengan perkembangan sosial dan budaya masyarakat Bali.
Tine Abrianti, Sciprofile linkPurnama Salura
ARTEKS, Jurnal Teknik Arsitektur, Volume 4, pp 99-110; doi:10.30822/arteks.v4i1.84

Abstract: Arsitektur Gereja menampilkan ekspresi fungsinya secara berlapis. Lapis pertama dapat ditangkap secara perseptual melalui ekspresinya yang menunjukkan fungsi sakral. Lapis selanjutnya ditangkap secara asosiatif pada ekspresinya yang terpengaruh dari tradisi dan ideologi Gereja. Pada lapis yang tertinggi ekspresi sakral ditampilkan secara puitik. Ekspresi puitik yang tampil dalam arsitektur Gereja sangat mendukung fungsi sakralnya. Sifat puitik yang menggugah perasaan dan membangkitkan imajinasi sangat sesuai dengan fungsi sakral Gereja sebagai sebuah ambang yang menandai perbedaan dunia profan dan sakral, untuk mengantarkan jemaat kepada Allah yang disembahnya. Penelitian ini bertujuan untuk menelusuri seluruh hubungan yang terjalin antara bentuk dan ruang arsitektur Gereja (GPIB) Paulus dengan ekspresi puitik sakral yang ditampilkan. Hasil penelitian diharapkan dapat menambah perbendaharaan konsep tentang arsitektur Gereja serta bagi penelitian-penelitian yang terkait. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pertama, menggambar ulang bangunan GPIB Paulus, untuk mendapat pemahaman bentuk arsitektural yang tepat. Kemudian kedua, menganalisis tampilan bentuk arsitektur gereja. Analisis berlandas pada acuan membaca ekspresi puitik sakral, yang dirumuskan melalui elaborasi konsep lapis makna puitik sakral pada properti dan komposisi arsitektur di setiap lingkup arsitektur, yang meliputi lingkup lingkungan, lingkup tapak, lingkup bentuk bangunan, dan lingkup sosok bangunan. Berdasar hasil analisis dapat ditelusuri konsep lapis makna puitik sakral pada arsitektur Gereja Paulus. Hasil studi menyimpulkan bahwa arsitektur Gereja Paulus dalam lingkup tapak, bentuk, dan sosok bangunan menampilkan ekspresi sakral pada tingkat perseptual dan asosiatif. Dalam lingkup lingkungan arsitektur Gereja (GPIB) Paulus menampilkan ekspresi sakral pada tingkat yang puitik dari bentuk bangunannya. Proporsi atap berbentuk salib dengan menara yang menjulang tampil kontras dalam tatanan bentang alam yang berada di hadapannya, membangkitkan imajinasi tentang kediaman Allah di tempat maha tinggi.
Anugerah Septiaman Harefa
ARTEKS, Jurnal Teknik Arsitektur, Volume 4, pp 57-62; doi:10.30822/arteks.v4i1.79

Abstract: Nias merupakan pulau yang berada disebelah barat Pulau Sumatera, tepatnya di Provinsi Sumatera Utara. Desa Hilinawalo Mazino merupakan desa yang berada di kecamatan Mazino, kabupaten Nias Selatan yang memiliki luas 8,5 kilometer persegi. Desa Hilinawalo Mazino memiliki banyak rumah adat tradisional Nias, namun setelah terjadinya gempa pada tahun 2005 dan kerusakan karena kurangnya perawatan hingga ditinggalkan penghuni, mengakibatkan Desa Hilinawalo Mazino kehilangan beberapa rumah adat mereka. Tujuan studi ini ialah menemukan cara pelestarian untuk mempertahakan keadaan dan kelestarian Desa Hilinawalo Mazino sebagai destinasi wisata berkelanjutan di Kepulauan Nias. Metode pengumpulan data dengan observasi, survei data sekunder dan wawancara. Metode menganalisis data dengan mengolah hasil survei yang didapatkan dengan 4 prinsip Pedoman Pengembangan Desa Wisata. Kesimpulannya, cara pelestarian desa Hilinawalo Mazino sebagai destinasi wisata terwujud dengan 4 prinsip tersebut.
Raden Rangga Ilham Irfandian, Sciprofile linkHerman Wilianto
ARTEKS, Jurnal Teknik Arsitektur, Volume 4, pp 117-128; doi:10.30822/arteks.v4i1.359

Abstract: Perkembangan pembangunan, teknologi dan budaya pada masyarakat perkotaan telah menghasilkan berbagai dampak positif dan negatif, salah satu dampak negatif tersebut adalah menurunnya faktor kesehatan publik dari berkembangnya berbagai penyakit cardiovaskular pada masyarakat perkotaan yang disebabkan oleh minimnya melakukan aktivitas fisik. Berdasarkan fenomena tersebut mulailah berkembang prinsip Desain Aktif. Desain Aktif dapat dipahami sebagai prinsip perancangan pada desain tata fisik lingkungan agar dapat merangsang para penggunanya untuk melakukan aktivitas gerak secara fisik. Prinsip Desain Aktif akan memiliki dampak yang signifikan bagi peningkatan faktor kesehatan publik apabila diterapkan pada titik aktivitas masyarakat kota. Seiring dengan fenomena tersebut, Kota Bandung telah melakukan berbagai revitalisasi pada ruang terbuka publik kota, beberapa berhasil menjadi titik aktivitas masyarakat dalam berolahraga dan berekreasi, salah satunya pada lingkungan disekitar ruang terbuka publik Saparua Park. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif-deskriptif dengan tujuan evaluasi. Penelitian dimulai dengan merumuskan indikator Desain Aktif dari berbagai literartur, kemudian melakukan evaluasi terhadap obyek studi. Menghasilkan pemahaman tentang sejauh mana prinsip Desain Aktif terwujud pada obyek studi, potensi pengembangan kedepan dan perwujudan apa saja yang dapat dijadikan contoh.
Anneke Clauvinia Patriajaya, Sciprofile linkYohanes Karyadi Kusliansjah
ARTEKS, Jurnal Teknik Arsitektur, Volume 4, pp 73-84; doi:10.30822/arteks.v4i1.81

Abstract: Pada umumnya, kota memiliki kawasan yang dikembangkan sebagai pusat aktivitas komersial. Pola perkembangan aktivitas komersial melahirkan tipologi pedestrian shopping street yang mengutamakan pejalan kaki dalam pola dan sistem aktivitasnya. Jalan Tunjungan Surabaya merupakan contoh kawasan perbelanjaan berbasis pejalan kaki yang dikembangkan pada masa pemerintahan Gemeente. Sejalan dengan perkembangan kota Surabaya, keunikan urban artefak kawasan Tunjungan bertransformasi dan kini didominasi bangunan bertingkat serta Jalan Tunjungan berubah menjadi poros kota. Keunikan Jalan Tunjungan yang menjadi daya tarik wisata terancam punah akibat tekanan dan tuntutan perkembangan perekonomian Surabaya. Melalui pendekatan sinkronik-diakronik dengan metode kualitatif-deskriptif, kajian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pola, tipe, dan sistem yang membentuk karakteristik fisik-spasial pedestrian shopping street Jalan Tunjungan yang bertahan, beradaptasi, dan hilang akibat transformasi Surabaya sebagai kota metropolitan. Dari analisa komparasi, ditemukan bahwa yang bertahan hanya pola linearitas tatanan bangunan. Tipe jalan beradaptasi menjadi avenue searah dengan pembagian lajur jelas dengan penambahan sistem perparkiran on site. Selain itu, tipe bangunan beradaptasi menjadi bangunan komersial. Karakteristik arcade di beberapa bangunan hilang, sistem transportasi menghilangkan halte penumpang, jembatan tidak lagi berfungsi, dan juga pola perparkiran menganggu pola pedestrian. Jalan Tunjungan yang dulunya mengedepankan pengalaman berbelanja dan berjalan kaki mengalami degradasi menjadi area shopping street.
Sciprofile linkYusfan Adeputera Yusran, Sebastian Hadinata
ARTEKS, Jurnal Teknik Arsitektur, Volume 4, pp 1-12; doi:10.30822/arteks.v4i1.73

Abstract: Bangunan Hindia Belanda di Indonesia patut dipertahankan karena nilai historis dan aspek arsitekturalnya yang bernilai. Bangunan Hindia Belanda banyak ditemukan di Indonesia serta masih berfungsi, antara lain bangunan GPIB Immanuel di Kota Kediri dikenal sebagai Gereja Merah. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi keaslian bangunan GPIB Immanuel Kota Kediri. Penelitian ini menggunakan Nara Grid sebagai instrumen penilaian, dengan melakukan analisis baik secara kualitatif maupun kuantitatif aspek dan dimensi visual, spasial maupun struktural bangunan GPIB Immanuel Kota Kediri. Aspek visual, spasial dan struktural bangunan GPIB Immanuel Kota Kediri dideskripsikan menggunakan instrumen Nara Grid, selanjutnya diperkuat dengan kuesioner untuk mengetahui kesesuaian pendapat masyarakat terhadap analisis yang telah dilakukan. Berdasarkan hasil analisa, bangunan GPIB Immanuel Kota Kediri memiliki nilai keaslian, walaupun telah terjadi perubahan dan penambahan. Aspek dan dimensi arsitektural pada gereja masih terlihat, sehingga keasliannya perlu dipertahankan.
ARTEKS, Jurnal Teknik Arsitektur, Volume 4, pp 13-24; doi:10.30822/arteks.v4i1.74

Abstract: Masyarakat Pedukuhan Gunungsari, Desa Bejiharjo Kecamatan Karangmojo, Kabupaten Gunungkidul memiliki komunitas kesenian yang disebut paguyuban Reog keprajuritan yang berbeda dengan jenis kesenian Reog Ponorogo yang telah ada. Komunitas kesenian kreatif ini mampu mempersatukan semua elemen masyarakat untuk dapat maju, mandiri, dan tentram. Komunitas Reog mampu membentuk kehidupan sosial yang baik, rukun dan guyub serta memberdayakan bidang ekonomi masyarakat. Komunitas yang terbentuk menciptakan ruang komunal baru dan fenomena ini menyebabkan transformasi spasial atau alih fungsi lahan di Padukuhan Gunungsari. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perubahan fungsi ruang yang terjadi pada rumah tinggal penggiat komunitas Reog di Desa Bejiharjo. Jenis penelitian ini adalah deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Teknik mencari data dengan melakukan observasi langsung, survei mendalam, dokumentasi, wawancara dan studi pustaka. Metode analisis dengan mengkaji data yang didapat berupa kondisi rumah tinggal dengan kegiatan yang dilakukan komunitas Reog. Hasil studi menunjukan bahwa komunitas reog mempunyai potensi yang kuat namun mereka belum mempunyai fasilitas yang mendukung kegiatannya.
Page of 13
Articles per Page
by
Show export options
  Select all